06 Penundaan Terkabulnya Doa – Mutu Manikam dari Kitab al-Hikam

Mutu Manikan dari Kitab al-Hikam

MUTU MANIKAM
Dari
KITAB AL-ḤIKAM

(Judul Asli: Al-Ḥikam)
Karya: Syaikh Aḥmad bin Muḥammad ‘Athā’illāh
Pensyarah: Syaikh Muḥammad bin Ibrāhim Ibnu ‘Ibād (atau ‘Abbād).
 
Penyadur: Djamaluddin Ahmad al-Buny
Penerbit: Mutiara Ilmu Surabaya

BAB 6

Penjelasan Tentang

PENUNDAAN TERKABULNYA DOA

 

6. لَا يَكُنْ تَأَخُّرُ أَمَدِ الْعَطَاءِ مَعَ الْاِلْحَاحِ فِي الدُّعَاءِ مُوْجِبًا لِيَأْسِكَ فَهُوَ ضَمِنَ لَكَ الْإِجَابَةَ فِيْمَا يَخْتَارُهُ لَكَ لَا فِيْمَا تَخْتَارُ لِنَفْسِكَ وَ فِي الْوَقْتِ الَّذِيْ يُرِيْدُ لَا فِي الْوَقْتِ الَّذِيْ تُرِيْدُ

Belum terkabulnya doa si hamba, setelah berusaha berulang-ulang berdoa penuh harapan, jangan sampai berputus asa, karena belum terkabulnya doa kita. Sebab Allah s.w.t. telah memberi jaminan diterimanya doa setiap hamba Allah, menurut pilihan dan ketentuan Allah sendiri, bukan atas pilihan dan kemauan si hamba, atau menurut waktu yang dikehendaki hamba, akan tetapi Allah s.w.t. telah menetapkan kapan dan di saat apa doa seorang hamba diterima oleh-Nya.

Berdoa kepada Allah, tidak cukup hanya sekali, tetapi harus berkali-kali. Kita boleh saja merajuk dalam doa. Boleh berkeluh kesah kepada Allah atas derita-derita kita. Boleh pula menyampaikan rasa senang dan gembira dengan penuh syukur atas semua yang telah dikabulkan Allah.

Syarat diterimanya suatu doa, apabila dilaksanakan dengan penuh harapan dan tidak terputus asa. Karena jelas tidak semua permohonan yang disampaikan kepada Allah s.w.t. itu langsung dikabulkan. Tidak cepatnya sautu doa itu dikabulkan Allah s.w.t., bukan berarti Allah menolak doa hamba-Nya. Karena Allah s.w.t. telah memberi jaminan bahwasanya setiap doa akan diterima. Allah s.w.t. mengingatkan: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan doamu.” (al-Baqarah: 172).

Allah s.w.t. adalah Rabb Yang Maha Mengetahui akan kondisi hamba-hambaNya. Kapan dan bilamana Allah mengabulkan permohonan si hamba. Namun demikian terkabulnya doa, tidaklah terikat dengan kemauan si hamba akan tetapi lebih terikat dengan kehendak dan rencana Allah s.w.t. Seperti dijelaskan dalam firman Allah s.w.t. dalam Surat al-Baqarah ayat 172, yang artinya kurang lebih: “Apabila hamba-hambaKu menanyakan tentang Aku, sesungguhnya Aku ini dekat. Aku akan menjawab pertanyaan orang yang memohon kepada-Ku apabila ia berdoa.”

Dari sahabat Jābir r.a. bahwasanya Nabi Muḥammad s.a.w. bersabda: “Tiada seorang hamba yang meminta dengan suatu permohonan, melainkan Allah akan memberi apa yang ia minta, jika ia menahan diri dari suatu perbuatan maksiat, Allah s.w.t. akan menyelamatkan dirinya dari bahaya, atau diampuni dosa-dosanya. Selama si hamba tidak berdoa kepada perbuatan (‘amal) yang mendekatkan diri kepada dosa, atau berdoa agar terputus dari persaudaraan dengan karib kerabatnya.

Syarat diterimanya doa:

  1. Berdoa dengan sepenuh hati dan bersifat tulus.
  2. Bersih dari dosa-dosa yang menghambat lancarnya doa.
  3. Memulai doa dengan ḥamdalah (mengucapkan sifat-sifat Allah dalam asmā’-ul-ḥusnā), dan ditutup dengan mengucapkan kalimat “subḥāna rabbika rabb-il-‘izzati ‘ammā yashifūn wa salāmun ‘alal-mursalīna wal-ḥamdulillāhi rabb-il-‘ālamīn.”
  4. Penuh harapan agar doanya dikabulkan oleh Allah s.w.t.
  5. Tidak tergesa-gesa mengucapkan kalimat doa.
  6. Menanti dengan sabar, sehingga Allah mengabulkan doanya.

Kapan doa seorang hamba dikabulkan oleh Allah s.w.t. Suatu doa yang telah dipanjatkan kepada Allah s.w.t. dengan jaminan bahwasanya setiap doa hamba yang mukmin pasti akan diterima oleh Allah s.w.t., dalam waktu yang telah ditetapkan. Atau Allah s.w.t. menunda mengabulkan doa, yang akan diperkenankan dalam waktu lain. Apabila doa seorang hamba belum dikabulkan di masa hidupnya, maka doa itu akan dipetik hasilnya di alam akhirat. Atau akan menjadi sebab diampuninya dosa-dosa seorang hamba.

Berdoalah karena doa adalah perisai yang akan memberi dorongan bagi seorang hamba, di saat ia sangat memerlukan pertolongan Allah s.w.t., kebutuhan manusia kepada Allah, dan merasakan kekurangan dan keterbatasan dirinya, akan menempatkan doa sebagai suatu yang benar-benar sangat bernilai bagi manusia.

Syaikh Aḥmad ‘Athā’illāh mengingatkan:

7. لَا يُشَكِّكَنَّكَ فِي الْوَعْدِ عَدَمُ وُقُوْعِ الْمَوْعُوْدِ وَ إِنْ تَعَيَّنَ زَمَنُهُ لِئَلَّا يَكُوْنَ ذلِكَ قَدْحًا فِيْ بَصِيْرَتِكَ وَ إِخْمَادًا لِنُوْرِ سَرِيْرَتِكَ

Janganlah menjadikan seseorang ragu terhadap janji Allah, sebab sebelum terpenuhnya janji tersebut, walaupun pada saat yang sangat diperlukan. Karena meragukan janji Allah, akan menjadi sebab si hamba menjadi redup iman penglihatan mata hatinya, dan memadamkan cahaya jiwanya.

Apa yang telah dijanjikan Allah kepada manusia tidak perlu diragukan. Karena hati yang ragu akan membawa akibat rusaknya iman dan lenyapnya sinar Allah dari hati kita. Oleh sebab itu, maka seorang mukmin hendaklah meyakini dengan sepenuh hati, bahwa yang telah dijanjikan Allah, pasti akan diterima oleh si hamba.

Allah s.w.t. adalah al-Khāliq yang Maha Kuasa, serta mengetahui kapan dan bilamana permintaan seorang hamba akan diberikan. Seorang hamba berhadapan dengan janji Allah wajib bersifat tenang dan istiqāmah. Artinya, tidak selalu bimbang dan ragu. Karena perasaan seperti ini menunjukkan kelemahan iman.

Hubungan hamba dengan al-Khāliq, adalah hubungan yang sangat dekat sekali. Akrabnya hubungan ini diibaratkan dekatnya urat kuduk dengan tengkuk kita sendiri. Oleh karena hubungan yang sangat erat ini, maka seorang hamba dapat berdialog langsung kepada Allah, dalam upaya mendengar langsung, dan merasakan langsung, anugerah-anugerah besar dari Allah, yang kadang-kadang secara implisit dapat dirasakan oleh si hamba.

Manusia dalam hubungan dengan Allah, tidaklah semata-mata karena ia tahu Allah itu wujud, akan tetapi dalam hubungan selanjutnya manusia mampu berhubungan dengan Allah melalui “bashīrah”, yakni mata hati rohaninya,

Uraian berikut pada bab selanjutnya akan dimaklumi, bagaimana manusia menggunakan bashīrahnya, mengenal dan berhubungan dengan Allah s.w.t.

Dalam pada itu, Allah s.w.t. akan terus-menerus menguji tingkat iman manusia. Kemampuan hamba menghadapi segala peristiwa dan keteguhan dirinya mempertahankan keimanannya. Ujian dari Allah akan menentukan pula tingkat iman seorang hamba, bahkan akan menyempurnakan keimanan sang hamba.

Di atas segala hal yang diharapkan oleh si hamba dari Allah s.w.t., maka si hamba tetap mempunyai kewajiban melaksanakan tugas ibadahnya, dan tetap mengagungkan Allah s.w.t. sendiri, tidak menyerikatkan Allah dengan yang selain-Nya.

Sifat ragu dan syak kepada Allah s.w.t., apabila tidak berhati-hati, akan membawa akibat seorang hamba melewati batas-batas yang tidak boleh ia langgar. Batas-batas itu adalah akidah yang meliputi sifat-sifat dan Dzāt Allah s.w.t. Syak, akan membuat orang lupa, bahwa Allah s.w.t. adalah Dzāt yang Maha Mengetahui, Maha Berilmu, Maha Kaya, serta Maha Mulia, lagi ‘Adil Bijaksana.

Sifat-sifat kesempurnaan Allah s.w.t. yang tidak sama dengan sifat manusia yang pelupa, tidak mengetahui, tidak berkuasa, tidak adil adalah suatu pertanda lengkap, bahwa Allah yang memiliki sifat kesempurnaan, akan menetapi janji-Nya kepada manusia.

Manusia beriman yang dilengkapi dengan indera rasa dan pikir, adalah anugerah Allah, agar manusia memanfaatkan seluruh indera jasmaninya untuk memahami Allah s.w.t. dalam melaksanakannya tugas hidupnya dan menempa keimanannya sepanjang anugerah itu dimilikinya.

Dapatkan Notifikasi Hati Senang

Masukkan email Anda untuk mengetahui tentang artikel terbaru.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *