05-6 Perbekalan Bagi Kebutuhan Manusia – Desain Ilahi

DESAIN ILAHI
Dalil Keterciptaan Alam

Diterjemahkan dari Chance or Creation: God’s Design in the Universe
Karangan: Abū ‘Utsmān al-Jāhiz

Penerjemah: Satrio Wahono
Penerbit: PT SERAMBI ILMU SEMESTA

(Diketik oleh: IBU DWI WIDY)

Rangkaian Pos: 005 Manusia - Desain Ilahi
  1. 1.05-1 Dari Rahim Hingga Pubertas – Desain Ilahi
  2. 2.05-2 Indra & Deprivasi – Desain Ilahi
  3. 3.05-3 Tujuan Indra & Organ Manusia – Desain Ilahi
  4. 4.05-4 Tangisan Bayi – Desain Ilahi
  5. 5.05-5 Kemampuan Berbicara dan Menulis – Desain Ilahi
  6. 6.Anda Sedang Membaca: 05-6 Perbekalan Bagi Kebutuhan Manusia – Desain Ilahi

PERBEKALAN BAGI KEBUTUHAN MANUSIA

Pikirkanlah semua sumber daya alam bagi manusia: tanah untuk pembangunan, besi untuk industri, kayu untuk perahu, batu untuk menggiling, tembaga untuk jambangan, perak untuk mata uang, permata sebagai harta kekayaan, tepung untuk kebutuhan gizi, buah untuk cuci mulut, daging untuk makan, burung untuk santapan lezat, obat untuk penyembuh, binatang untuk membawa beban berat, kayu bakar untuk bahan bakar, abu untuk gips, kotoran untuk pupuk, dan banyak bahan berguna lainnya. Pikirkanlah: jika seseorang memasuki sebuah rumah, dan dia mendapati lemari dipenuhi segala keperluan manusia dan segala sesuatu di rumah itu sudah disiapkan untuk tujuan manusia, bisakah dia membayangkan semua ini terjadi tanpa direncanakan? Bagaimana kemudian manusia bisa berhujjah menentang adanya perencanaan bagi dunia beserta segala isinya?

PERBEKALAN YANG MENUNTUT KERJA

Renungkanlah rencana Tuhan yang terlihat dalam cara sumber daya ini disediakan bagi manusia. Tepung diciptakan sebagai bahan makanan manusia, namun manusia tetap harus mengolahnya hingga menjadi bahan makanan. Katun dan wol diciptakan untuk pakaian manusia asalkan dipintal dan ditenun. Pohon diciptakan untuk menghasilkan buah bagi manusia, asalkan ditanam, disiram dan dirawat. Obat-obatan dan mineral diciptakan sebagai obat bagi manusia, asalkan diambil, dicampur dan diramu. Ada banyak lagi contoh lain.

Lihatlah bagaimana manusia tidak terbebani dengan tugas menciptakan benda-benda. Manusia hanya dituntut mengolah benda-benda itu, karena itulah yang terbaik bagi mereka; jika manusia tidak perlu bekerja, seluruh bumi tidak akan mampu menolerir keserakahan manusia yang bisa jadi justru merusak diri mereka sendiri. Jika segala kebutuhan manusia diberikan, mereka tidak akan merasakan kebahagiaan dan kenikmatan dalam hidup ini. Tidakkah Anda sadar bahwa jika seseorang bertamu dan diberikan semua makan dan kebutuhannya, ia akan menjadi malas dan tidak mau bekerja? Betapa buruknya nanti jika segala kebutuhan manusia diberikan sepanjang hidupnya? Cara paling baik supaya semua sumber daya ini tersedia bagi manusia adalah membuat manusia bekerja supaya tidak timbul kesombongan dan keserakahan yang membuat manusia malas, kerja mencegah manusia untuk berupaya menggapai sesuatu yang mustahil dan tidak menguntungkan.

Dalam aforismenya, Ardasyir menuturkan bahwa roti dan air adalah inti kehidupan manusia. Pernyataan ini benar. Tetapi, renungkanlah proporsi dua elemen penting ini, kebutuhan manusia terhadap air lebih besar dari kebutuhannya terhadap roti. Manusia perlu air untuk minum, mandi, mencuci baju dan perabot, untuk memandikan binatang, dan untuk menyirami tanaman. Karena itu, air disediakan secara gratis, sehingga manusia tidak perlu repot mencari dan membayar untuk mendapatkannya. Di sisi lain, roti itu terbatas jumlahnya dan tidak bisa diperoleh tanpa kerja. Demikianlah supaya manusia bisa tercegah dari bahaya kecerobohan dan kemalasan.

Belumkah Anda memahami mengapa ketika masih muda dan berpikiran pendek, anak-anak dipercayakan kepada seorang guru? Hal itu karena sang guru akan mendidik anak-anak  itu supaya mereka terhindar dari berbuat ceroboh yang bisa mencelakakan diri mereka dan keluarga mereka. Inilah sifat manusia: jika dibiarkan tidak memiliki kesibukan, mereka tidak hanya akan melakukan kecerobohan, melainkan juga akan terlibat dalam tindakan-tindakan yang  bisa membahayakan diri mereka dan kerabat mereka. Lihatlah, misalnya perilaku orang yang hidup dalam kelebihan dan kemewahan.

Jika manusia tidak diuji dengan penderitaan fisik, akankah mereka berhenti dari perbuatan keji? Maukah mereka merendahkan diri di hadapan Tuhan dan berbuat baik kepada orang lain? Bukankah Anda menyaksikan bahwa ketika ditimpa rasa sakit, manusia akan tunduk dan rendah hati? Mereka akan berjuang mendapatkan kesehatan dan kesejahteraan dari Tuhan, dan menjadi ringan dalam beramal. Jika manusia tidak merasa sakit ketika dipukul, bagaimana aparat hukum bisa menghukum penyimpangan dan membuat jera sang pelaku kejahatan. Bagaimana anak-anak bisa mempelajari berbagai bidang dan keahlian? Bagaimana budak bisa dipaksa tunduk dan menaati majikan mereka? Bukankah hal ini alasan yang tepat untuk menyanggah pendapat orang-orang yang seperti kaum Manikean, menolak adanya rasa sakit dan penderitaan serta menyangkal adanya Tuhan dan tatanan ilahiah?

PERLUNYA PRIA DAN WANITA

Bukankah proses prekreasi semua species binatang akan berakhir jika semuanya jantan atau semuanya betina? Makhluk diciptakan jantan dan betina supaya terus bereproduksi. Jika Anda melihat lukisan pria di tembok kemudian ada orang datang dan berkata kepada Anda bahwa gambar itu muncul sendiri tanpa ada yang membuatnya, bukankah Anda segera mengusir orang aneh tersebut? Bila seseorang menepis bahwa lukisan itu ada secara kebetulan, bagaimana mungkin ia tidak akan menepis bahwa manusia, makhluk hidup yang rasional, tercipta secara kebetulan?

BATAS PERTUMBUHAN

Kalau bukan karena rencana Tuhan mengapa binatang yang selalu makan tubuhnya tidak terus tumbuh, melainkan berhenti pada batas tertentu? Setiap species binatang telah ditentukan ukurannya. Binatang tidak akan tumbuh atau menyusut melebihi ukuran itu; ia tumbuh hingga batas yang telah ditentukan dan kemudian berhenti, kendatipun ia terus makan. Jika terus tumbuh, binatang akan menjadi terlalu besar dan tidak terbatas ukurannya. Begitu pula tubuh manusia. Bila terlalu besar, ia akan sulit bergerak, dan melakukan aktivitas-aktivitas ringan. Selain itu, ia juga akan sulit mencari pakaian, seprei dan selimut yang pas. Semua kesulitan ini hilang dengan berhentinya pertumbuhan saat mencapai ukuran yang pas.

MENGAPA MANUSIA TIDAK DICIPTAKAN SERUPA

Mengapa – tidak seperti burung, binatang dan makhluk lainnya – manusia tidak diciptakan serupa? Amatilah sekelompok rusa atau burung belibis. Betapa keduanya serupa sehingga Anda sulit membedakan mereka. Tetapi, bentuk dan penampilan manusia begitu berbeda. Hampir tidak ada dua orang yang begitu identik. Alasannya, manusia perlu berinteraksi satu sama lain dan ia harus saling mengenal berdasarkan ciri-ciri dan pakaian mereka. Sedangkan binatang tidak memerlukan interaksi; oleh karena itu, ia tidak perlu mengenali satu sama lain sebagai pribadi lewat penampilan fisiknya. Tidakkah Anda lihat betapa burung-burung dan binatang-binatang bias itu diuntungkan dengan keserupaan mereka? Situasinya berbeda dengan manusia – saudara kembar memang terkadang mirip, sehingga menyulitkan orang yang berurusan dengan mereka: milik si kembar yang satu bisa keliru diberikan kepada si kembar yang lain. Atau si kembar yang satu dihukum karena kesalahan si kembar yang lain. Jika orang yang bernama sama terkadang mengalami masalah yang sama, apalagi mereka yang berperawakan serupa. Siapa bisa memikirkan sedetail itu dan membikin susunan sempurna selain Dia yang kebijaksanaan-Nya meliputi segala sesuatu, sesuatu yang sulit dijangkau oleh pikiran kita.

JENGGOT UNTUK PRIA, MUKA HALUS UNTUK WANITA

Ketika pria dan wanita mencapai tahap kematangan fisik, mereka memiliki rambut kelamin. Mengapa pria memiliki jenggot dan wanita tidak? Sebab, Tuhan menentukan bahwa pria harus melindungi dan mengawasi wanita, dan seorang wanita akan menjadi istri seorang pria yang disukainya. Jenggot memberikan kesan berwibawa dan memukau pada penampilan pria. Sementara wanita tidak berjenggot supaya wajahnya tetap segar dan cantik, dengan demikian menarik perhatian untuk dijadikan pasangan. Bukankah sudah jelas penciptaan itu menunjukkan keseimbangan sempurna, yaitu dengan memberikan dan tidak memberikan sesuatu berdasarkan manfaat dan tujuannya.

Dapatkan Notifikasi Hati Senang

Masukkan email Anda untuk mengetahui tentang artikel terbaru.

Klik untuk mendapatkan notifikasi push tentang artikel terbaru.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *