05-5 Kemampuan Berbicara dan Menulis – Desain Ilahi

DESAIN ILAHI
Dalil Keterciptaan Alam

Diterjemahkan dari Chance or Creation: God’s Design in the Universe
Karangan: Abū ‘Utsmān al-Jāhiz

Penerjemah: Satrio Wahono
Penerbit: PT SERAMBI ILMU SEMESTA

(Diketik oleh: IBU DWI WIDY)

Rangkaian Pos: 005 Manusia - Desain Ilahi
  1. 1.05-1 Dari Rahim Hingga Pubertas – Desain Ilahi
  2. 2.05-2 Indra & Deprivasi – Desain Ilahi
  3. 3.05-3 Tujuan Indra & Organ Manusia – Desain Ilahi
  4. 4.05-4 Tangisan Bayi – Desain Ilahi
  5. 5.Anda Sedang Membaca: 05-5 Kemampuan Berbicara dan Menulis – Desain Ilahi
  6. 6.05-6 Perbekalan Bagi Kebutuhan Manusia – Desain Ilahi

KEMAMPUAN BERBICARA DAN MENULIS

Pikirkanlah rahmat Tuhan ketika memberikan manusia kemampuan bicara sebagai sarana mengekspresikan diri dan memahami komunikasi dengan orang lain. Tanpa fakultas ini, manusia akan seperti binatang. Ia tidak akan bisa memberikan informasi tentang diri mereka atau memahami informasi dari orang lain. Demikian pula, manfaat kemampuan menulis. Ia adalah sarana mencatat pengetahuan dari leluhur kita demi kepentingan generasi penerus, semua sain dan kesusasteraan, kesepakatan dan kalkulasi. Tanpa tulisan, informasi tentang seluruh generasi akan hilang, literatur akan musnah, dan kehidupan manusia serta seluruh tatanan dunia akan terguncang hebat.

Anda bisa saja menyangkal bahwa tulisan dan ucapan adalah aktivitas-aktivitas yang bisa disusun manusia dengan kecerdasannya sendiri; jadi, ia bukan sesuatu yang alami dalam diri manusia; keduanya keahlian yang bisa dipelajari manusia melalui interkasi sosial, dan karena itulah bahasa dan tulisan manusia berbeda-beda antar pelbagai bangsa; padahal, suatu fitrah tentunya tidak akan berbeda. Untuk menjawab hal ini, saya katakan bahwa meskipun manusia itu khas dalam tindakannya, tetap saja kekhasan itu merupakan pemberian Tuhan. Jika manusia tidak memiliki kecerdasan untuk belajar atau tidak memiliki lidah, ia tidak akan mampu mengucapkan suatu kata. Tanpa tangan atau jari, dia tidak akan mampu menulis sesuatu pun. Hal ini jelas jika kita bandingkan dengan binatang yang tidak bisa berbicara dan menulis.

APA YANG DIKETAHUI MANUSIA

Pikirkanlah pengetahuan yang diberikan dan yang tidak diberikan kepada manusia. Manusia diberikan segala sesuatu yang cocok untuk agama dan kehidupannya. Bagian yang memperbaiki keragaman adalah pengetahuan mengenai Sang Pencipta beserta bukti, indikasi dan tanda-tanda yang ada dalam penciptaan. Pengetahuan lebih jauh tentang kewajiban sosial diberikan supaya manusia bisa berlaku adil terhadap sesamanya dan berlaku baik kepada orang tuanya, supaya menepati janji, supaya berbagi dengan teman dan orang yang membutuhkannya, serta banyak hal lain serupa, yaitu pengetahuan tentang sesuatu yang bisa ditemukan pada diri orang dalam berbagai bangsa. Demikian juga, manusia dikaruniakan pengetahuan untuk kebutuhan duniawi mereka, seperti pengetahuan mengenai pertanian, bercocok tanam, beternak, menggali air, obat, tambang intan, berlayar, menyelam dalam laut; keahlian pertukangan; segala jenis perdagangan dan mata pencarian, dan hal lain yang berguna untuk hidup di dunia. Manusia telah diberikan semua pengetahuan itu untuk menyempurnakan kehidupan duniawi dan religius mereka. Di sisi lain, manusia dihindarkan pula dari pengetahuan yang tidak penting buat mereka. Pengetahuan yang tidak bisa diketahui fitrah mereka. Contoh pengetahuan ini adalah pengetahuan tentang Yang Ghaib, pengetahuan tentang masa depan, dan sebagian pengetahuan masa lampau, pengetahuan tentang benda-benda langit, benda-benda di bawah bumi, benda-benda dalam kedalaman samudra dan berbagai belahan dunia, pengetahuan mengenai apa yang ada di rahim dan pengetahuan tentang hal-hal lain yang sengaja disembunyikan dari manusia. Ketika orang mengaku memiliki pengetahuan seperti itu, klaim-klaim itu cacat karena adanya kesalahan prediksi dan fakta. Pikirkanlah betapa baiknya manusia hanya diberikan pengetahuan yang penting bagi kehidupan duniawi dan religius mereka serta ditutupi dari pengetahuan lain yang tidak bermanfaat. Karena itu, manusia bisa memahami status dan ketidaksempurnaan mereka.

APA YANG DISEMBUNYIKAN DARI MANUSIA

Salah satu yang disembunyikan dari manusia adalah usia hidup mereka. Jika seseorang tahu bahwa usianya pendek, dia tidak akan pernah menikmati hidup, ia senantiasa menanti kematian. Dia akan menjadi seperti seseorang yang kekayaannya hampir habis, karena takut ditimpa kemiskinan, kekhawatiran seseorang akan usia hidupnya lebih buruk dibandingkan kekhawatiran kehilangan uang. Sebab, jika kehilangan uang, ia bisa menghibur diri dengan mengatakan bahwa suatu saat dia akan memperolehnya kembali. Tapi, jika dia tahu kapan akan mati, dia pasti akan putus asa. Di sisi lain, jika seseorang tahu bahwa usianya panjang, dia akan memuaskan diri bersenang-senang dan melakukan kejahatan, karena dalam pertimbangannya, dia nanti bisa bertobat di penghujung hidupnya. Tuhan tidak akan menerima sikap semacam itu. Bandingkanlah hal ini dengan seorang budak yang membuat jengkel majikannya selama setahun, dan hanya menyenangkan sang majikannya dalam satu hari atau satu bulan. Majikannya tentu tidak akan senang dengan perilaku ini. Dia hanya akan menganggap sang budak itu baik jika sang budak memiliki niatan tulus untuk mengabdi setiap saat.

Jika Anda bertanya, “Bukankah benar bahwa tobatnya bisa diterima pada detik-detik akhir usianya? Saya menjawab, “ketidaktaatan itu terjadi karena manusia dikuasai nafsu, sehingga hidup dan tobatnya pun tidak direncanakan sedemikian rupa. Tuhan akan memaafkan dan mengampuninya dengan keagungan-Nya karena Dia tahu betapa rapuhnya manusia. Tapi, seseorang yang berencana membangkang kepada Tuhan sesukanya untuk kemudian bertobat, dia berarti berusaha menipu. Dia yang tak pernah lengah, yaitu dengan bersenang-senang sesuka hati dan berjanji kemudian untuk bertobat. Dia malah mungkin tidak akan memenuhi janji tersebut karena biasanya sulit menghentikan kesenangan dan bertobat di usia tua ketika tubuh sudah lemah. Orang sering kali menunda-nunda tobat hingga kematian menghampiri atau karena ada beberapa faktor penghambat, sehingga akhirnya mereka meninggal tanpa bertobat. Manusia seperti ini bagaikan penghutang yang sebenarnya bisa membayar hutangnya, namun terus menundanya hingga jatuh tempo, sedangkan pada saat itu uangnya sudah habis dan utang itupun tak terbayar. Jadi, hal terbaik bagi manusia adalah selalu merasa diri mereka akan mati, sehingga mereka dapat menahan diri dari dosa dan selalu melakukan kebaikan.

Jika Anda membantah, “Mengapa kita temui banyak orang melanggar larangan, meskipun mereka tidak mengetahui usia mereka dan meskipun mereka tahu bakal mati?” kami menjawab,. “Ini memang khas sifat manusia. Sifat suka bermain-main dan keras hati telah menghalangi mereka untuk bertobat dan menghindari dosa. Perilaku semacam itu, bukanlah dikarenakan buruknya perencanaan. Dokter bisa meresepkan obat demi kesembuhan pasien, tapi jika pasien itu tidak sembuh-sembuh karena ia tidak mentaati instruksi si dokter serta selalu melanggar pantangannya, hal ini bukanlah kesalahan si dokter, melainkan kesalahan si pasien yang bandel. Jika manusia, yang tidak tahu kapan mereka akan mati, tidak bertobat dari dosa, mereka akan cenderung – karena tahu bakal hidup panjang – melakukan pelanggaran yang paling parah. Jadi, menyadari bahwa kematian itu bisa datang setiap saat adalah lebih baik ketimbang yakin bahwa dia akan berusia panjang. Lagi pula kesadaran akan kematian – meskipun sebagian orang mengabaikannya sehingga tidak mampu memetik manfaat darinya – biasanya dimiliki orang yang selalu berusaha taat beramal saleh dan mendermakan harta berharga mereka kepada fakir miskin. Tidaklah adil jika mereka yang memetik hikmah dari kondisi ini dibuat menderita, sedangkan orang lain yang membuang kesempatan itu dibuat bahagia.

BERKATA BENAR DAN BERBOHONG

Renungkanlah sifat-sifat pernyataan: kebenaran bercampur dengan kebohongan. Jika semua pernyataan benar, semua manusia akan menjadi nabi. Sedangkan jika semua pernyataan itu bohong, pernyataan itu tidak akan berguna, dangkal dan tak bermakna. Maka, pernyataan itu ada yang benar supaya manusia bisa mendapat manfaat dari nasihat yang benar atau memperoleh perlindungan dari bencana, dan ada juga yang salah supaya manusia tidak semata mengandalkan pernyataan itu.

Dapatkan Notifikasi Hati Senang

Masukkan email Anda untuk mengetahui tentang artikel terbaru.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *