03-1 Hal-hal yang Berkaitan dengan Ibadah Puasa – Sudah Sahkah Puasa Anda? (1/2)

SUDAH SAHKAH PUASA ANDA?
 
Penulis: Ust. Segaf Hasan Baharun, S. HI.

 
Penerbit: YAYASAN PONDOK PESANTREN DARULLUGHAH WADDA‘WAH

Rangkaian Pos: 03 Hal-hal yang Berkaitan dengan Ibadah Puasa - Sudah Sahkah Puasa Anda?
  1. 1.Anda Sedang Membaca: 03-1 Hal-hal yang Berkaitan dengan Ibadah Puasa – Sudah Sahkah Puasa Anda? (1/2)
  2. 2.03-2 Hal-hal yang Berkaitan dengan Ibadah Puasa – Sudah Sahkah Puasa Anda? (2/2)

BAB III

HAL-HAL YANG BERKAITAN DENGAN IBADAH PUASA

 

A. Perkara-perkara Yang Tidak Membatalkan Puasa.

  1. Melakukan sesuatu yang membatalkan puasa karena lupa bahwa dia sedang berpuasa, seperti makan, minum dan lain-lain. Maka puasanya tidak batal dengan hal tersebut, baik makan sedikit atau banyak.
  2. Melakukan sesuatu yang membatalkan puasa karena tidak tahu hukumnya seperti bersenggama pada siang Ramadhān, karena tidak tahu hal itu membatalkan puasa. Maka tidak batal puasanya itu. Akan tetapi tidak semua orang jahil dimaafkan oleh syara‘ (agama), kecuali orang jahil yang ma‘dzūr yaitu orang yang baru masuk Islam dan belum sempat mempelajari tentang ibadah puasa, atau yang hidup jauh dari ‘Ulamā’, maka dua orang ini yang dimaksud dengan jāhil ma‘dzūr (orang bodoh yang dimaafkan) dan jarang adanya.
  3. Melakukan perkara yang membatalkan puasa karena dipaksa maka tidak batal puasanya, akan tetapi orang dipaksa itu dimaafkan dalam bab ini dan lainnya dalam syarī‘at Islam jika memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
  1. Paksaan itu sifatnya hal yang spontan, lain halnya jika dipaksa makan di waktu yang akan datang lalu dia makan sekarang, maka batal puasanya.
  2. Orang yang memaksa itu mempunyai kemampuan untuk melaksanakan ancamannya jika tidak dituruti, lain halnya jika anak kecil yang memaksa.
  3. Orang yang dipaksa menyangka apabila tidak dituruti kemauannya ia akan membuktikan ancamannya.
  4. Tidak tampak pada orang yang dipaksa itu ikhtiar ketika melakukannya, seperti dipaksa makan satu buah dia makan dua atau tiga buah maka batallah puasa.
  1. Masuknya air ludah yang bercampur dengan sedikit sisa makanan, setelah berusaha untuk mengeluarkannya dari mulut, maka tidak batal puasanya dengan hal tersebut.
  2. Debu jalanan yang masuk ke dalam perut tidak membatalkan puasa, baik sedikit atau banyak dengan syarat tidak najis dan tidak disengaja.
  3. Bubuk tepung yang masuk sendiri ke dalam perut dan yang serupa dengannya, juga tidak membatalkan puasa.
  4. Binatang-binatang kecil yang masuk ke dalam perut seperti lalat yang terbang atau nyamuk dan yang semisalnya, dan jika masuk maka tidak boleh dikeluarkan dengan sengaja, karena hal itu akan membatalkan puasa, kecuali jika hal itu membahayakannya atau sangat mengganggunya, maka boleh dikeluarkan dan wajib mengqadha’ hari tersebut, karena batal puasanya.
  5. Bagi orang yang punya penyakit ambeien (wasir) apabila keluar wasir ketika buang air besar, lalu masuk kembali, baik disengaja atau tidak, tidak membatalkan puasanya.

 

B. Hari-hari Yang Diharamkan Untuk Berpuasa.

Di antara syarat sahnya ibadah puasa adalah hari yang kita ingin berpuasa pada hari itu bukan hari-hari yang haram kita berpuasa.

Oleh karenanya penting kiranya diketahui hari-hari yang haram kita berpuasa. Adapun hari-hari tersebut adalah sebagai berikut:

1. Hari Raya ‘Īd-ul-Fithri dan ‘Īd-ul-Adhḥā.

Hari raya ‘Īd-ul-Fithri yaitu tanggal 1 Syawwāl dan ‘Īd-ul-Adhḥā pada tanggal 10 Dzul-Hijjah adalah dua hari raya yang haram kita berpuasa pada dua hari tersebut, berdasarkan hadits Rasūl s.a.w.:

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ (ص) نَهَى عَنْ صِيَامِ يَوْمَيْنِ يَوْمَ فِطْرٍ وَ يَوْمِ أَضْحَى.(متفق عليه)

Artinya:

Bahwasanya Rasūlullāh s.a.w. melarang untuk berpuasa pada dua hari yaitu hari raya ‘Īd-ul-Fithri dan ‘Īd-ul-Adhḥā.” (Muttafaqun ‘Alaih).

Sedangkan hikmahnya adalah karena pada dua hari itu kita berada dalam jamuan Allah, maka tidak pantas jika berpuasa. Pada dua hari tersebut adalah hari-hari di mana orang bersilaturrahmi kepada kerabat mereka yang biasanya ada jamuan makanan yang disuguhkan oleh kerabat tersebut, sehingga akan menyinggung perasaan mereka jika kita berpuasa.

Pada dua hari itu, biasanya disunnahkan untuk bersenang-senang dan bermain-main bersama keluarga, maka akan tidak menyenangkan jika melalui hari tersebut dengan puasa. Apalagi pada hari raya ‘Īd-ul-Fithri di mana hari-hari sebelumnya dilalui dengan puasa. Jika dia berpuasa pada hari raya tersebut, seakan keterusan dari puasa sebelumnya.

Itulah di antara hikmah mengapa agama mengharamkan kita berpuasa pada dua hari tersebut.

2. Hari-hari Tasyrīq.

Hari-hari Tasyrīq adalah tanggal 11, 12, 13 bulan Dzul-Ḥijjah. Diharamkan puasa pada hari itu berdasarkan sabda Rasūl s.a.w.:

أَنَّ النَّبِيَّ (ص) قَالَ: أَيَّامُ مِنَى أَيَّامُ أَكْلٍ وَ شُرْبٍ وَ ذِكْرِ اللهِ تَعَالَى (رواه مسلم)

Artinya:

Bahwasanya Rasūl s.a.w. bersabda: Hari-hari Minā adalah hari-hari untuk makan dan minum dan hari-hari untuk berdzikir kepada Allah.” (HR. Muslim).

Sedangkan hari-hari tersebut dinamakan hari-hari Tasyrīq dikarenakan pada hari-hari tersebut banyak sekali daging sembelihan korban dan fidyah, sehingga untuk menjaga agar daging-daging tersebut tidak rusak, maka mereka menjemur daging-daging tersebut untuk dijadikan dendeng. Jadi arti tasyrīq adalah menjemur.

3. Hari Syakk.

Yang dimaksud dengan hari syakk adalah tanggal 30 Sya‘bān, di mana pada hari itu tidak ada pengumuman dari pemerintah bahwa hari itu tanggal satu Ramadhān, akan tetapi ada yang menyaksikan bulan. Akan tetapi tidak diterima kesaksiannya, karena tidak memenuhi syarat ‘adl syahadah, misalnya yang menyaksikan seorang wanita, anak kecil atau orang fasik berdasarkan hadits Rasūl s.a.w.:

مَنْ صَامَ يَوْمَ الشَّكِّ فَقَدْ عَصَى أَبَا الْقَاسِمِ. (رواه أصحاب الأربعة)

Artinya:

Barang siapa berpuasa pada hari syakk, maka dia telah melanggari perintah Abul-Qāsim s.a.w.

4. Paruh Kedua Dari Bulan Sya‘bān.

Berpuasa pada paruh kedua dari bulan Sya‘bān hukumnya haram berdasarkan sabda Rasūl s.a.w.:

إِذَا انْتَصَفَ شَعْبَانُ فَلَا تَصُوْمُوْا.

Artinya:

Jika sudah masuk paruh kedua dari bulan Sya‘bān, maka janganlah kalian berpuasa.

Dan yang dimaksud paruh kedua adalah tanggal 16, 17, 18 sampai akhir bulan. Akan tetapi jika berpuasa pada hari-hari itu, begitu pula hari syakk, untuk mengerjakan puasa wajib, misalnya qadhā’ puasa Ramadhān, kaffārah dan lain-lain, atau sudah terbiasa setiap Senin Kamis berpuasa, atau berpuasa Daud, atau juga jika disambung dengan hari sebelumnya, misalnya puasa hari 15, maka boleh puasa hari keenambelas dan seterusnya. Maka puasa-puasa tersebut di atas tidak haram pada hari-hari itu.

 

C. Sunnah-sunnah Ibadah Puasa.

1. Menyegerakan Berbuka Puasa.

Jika sudah pasti masuknya waktu maghrib dengan mendengar suara adzan atau dengan menyaksikan sendiri terbenamnya matahari, maka disunnahkan untuk segera berbuka. Sebagaimana sabda Rasūlullāh s.a.w. yang diriwayatkan Imām Bukhārī dan Imām Muslim:

عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ (ص) قَالَ النَّبِيُّ (ص): لَا يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ. (متفق عليه).

Yang artinya:

Manusia itu masih dalam keadaan baik selama mereka mempercepat buka puasa.” (Muttafaqun ‘Alaih).

Dan jika masih ragu, apakah sudah masuk waktunya berbuka atau belum, maka haram hukumnya berbuka, sampai dia betul-betul yakin masuknya waktu maghrib. Dan makruh hukumnya mengakhirkan berbuka, jika dia meyakini bahwa dalam hal itu ada fadhilahnya.

2. Makan Sahur.

Sebagaimana sabda Rasūlullāh s.a.w. yang diriwayatkan Imām Bukhārī dan Imām Muslim:

عَنْ أَنَسٍ (ر) قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ (ص): تَسَحَّرُوْا فَإِنَّ فِي السَّحُوْرِ بَرَكَةً. (متفق عليه).

Yang artinya:

“Dari Anas r.a. berkata: Bersabda Rasūlullāh s.a.w.: “Bersahurlah kalian, karena di dalam sahur itu ada keberkahan.” (Muttafaqun ‘Alaih).

Disunnahkan di dalam makan sahur untuk diakhirkan, sehingga mendekati waktu fajar shadiq dengan jarak waktu kira-kira satu jam. Hal itu akan menguatkan stamina di dalam menunaikan ibadah puasa. Sebagaimana sabda Rasūlullāh s.a.w. yang diriwayatkan oleh Imām Aḥmad:

لَا تَزَالُ أُمَّتِيْ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ وَ أَخَّرُوا السَّحُوْرَ. (رواه الإمام أحمد)

Yang artinya:

Umatku masih dalam keadaan baik selama mereka mempercepat buka puasa dan mengakhirkan makan sahur.” (HR. Imām Aḥmad).

Adapun syarat mengakhirkan makan sahur adalah tidak membawanya dalam keraguan. Karena jika ragu dalam hal itu, apakah masih ada waktu bersahur atau tidak, maka yang lebih baik meninggalkan makan sahur, karena sabda Rasūlullāh s.a.w.:

عَنْ أَبِيْ مُحَمَّدٍ الْحَسَنِ بْنِ عَلِيِّ بْنِ أَبِيْ طَالِبٍ (ر) عَنْهُمَا عَنِ النَّبِيِّ (ص) قَالَ: دَعْ مَا يَرِيْبُكَ إِلَى مَا لَا يَرِيْبُكَ. (رواه الترمذي و النسائي)

Yang artinya:

Tinggalkan sesuatu yang engkau ragu di dalam hal itu, untuk setiap yang tidak ragu di dalamnya.” (HR. Tirmidzī dan an-Nasā’ī).

Juga sunnah bagi orang yang makan sahur kira-kira seperempat jam sebelum fajar, untuk imsāk (berjaga-jaga) agar tidak makan sesuatu setelah terbitnya fajar shādiq.

3. Berbuka dengan Buah Kurma.

Ketika berbuka puasa, disunnahkan untuk berbuka dengan buah kurma. Sebagaimana sabda Rasūlullāh s.a.w. yang diriwayatkan oleh Imām Tirmidzī:

إِذَا أَفْطَرَ أَحَدُكُمْ فَلْيُفْطِرْ عَلَى تَمْرٍ فَإِنْ لَمْ يَجِدْ فَلْيُفْطِرْ عَلَى مَاءٍ فَإِنَّهُ طُهُوْرٌ. (رواه الترمذي).

Yang artinya:

Jika ingin berbuka puasa salah satu di antara kamu maka berbukalah dengan buah kurma kalau tidak ada maka berbukalah dengan air, karena sesungguhnya air itu suci.” (HR. Tirmidzī).

Hikmah syara‘ memerintahkan kita berbuka dengan buah kurma adalah karena buah kurma itu dapat mengembalikan kekuatan mata yang melemah disebabkan puasa. Dan jika tidak ada buah kurma dapat berbuka dengan sesuatu yang rasanya manis, atau berbuka dengan air.

Dapatkan Notifikasi Hati Senang

Masukkan email Anda untuk mengetahui tentang artikel terbaru.

Klik untuk mendapatkan notifikasi push tentang artikel terbaru.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *