010 Tentang Istinjak – FIQH Populer Terjemah FATHUL MU’IN

FIQH Populer
Terjemah Fath-ul-Mu‘in
Penulis: Syaikh Zainuddin bin ‘Abdul-‘Aziz al-Malibari
(Judul Asli: Fatḥ-ul-Mu’īni Bi Syarḥi Qurrat-il-‘Aini Bi Muhimmāt-id-Dīn)

Penerjemah: M. Fikril Hakim, S.H.I. dan Abu Sholahuddin.
Penerbit: Lirboyo Press.

 TENTANG ISTINJĀ’

 

(تَتِمَّةٌ) يَجِبُ الْاِسْتِنْجَاءُ مِنْ كُلِّ خَارِجٍ مُلَوَّثٍ بِمَاءٍ وَ يَكْفِيْ فِيْهِ غَلَبَةُ ظَنٍّ زَوَالِ النَّجَاسَةِ وَ لَا يُسَنُّ حَيْنَئِذٍ شَمُّ يَدِهِ وَ يَنْبَغِيْ الْاِسْتِرْخَاءُ لِئَلَّا يَبْقَى أَثَرُهَا فِيْ تَضَاعِيْفَ شَرَجِ الْمَقْعَدَةِ أَوْ بِثَلَاثِ مَسْحَاتٍ تَعُمُّ الْمَحَلَّ فِيْ كُلِّ مَرَّةٍ مَعَ تَنْقِيَةٍ بِجَامِدٍ قَالِعٍ وَ يُنْدَبُ لِدَاخِلِ الْخَلَاءِ أَنْ يُقَدِّمَ يَسَارَهُ وَ يَمِيْنَهُ لِانْصِرَافِهِ بِعَكْسِ الْمَسْجِدِ وَ يُنْحِيْ مَا عَلَيْهِ مُعَظَّمٌ مِنْ قُرْآنٍ وَ اسْمٍ نَبِيٍّ أَوْ مَلَكٍ وَ لَوْ مُشْتَرَكًا كَعَزِيْزٍ وَ أَحْمَدَ إِنْ قَصَدَ بِهِ مُعَظَّمٌ وَ يَسْكُتَ حَالَ خُرُوْجِ خَارِجٍ وَ لَوْ عَنْ غَيْرِ ذِكْرٍ وَ فِيْ غَيْرِ حَالِ الْخُرُوْجِ عَنْ ذِكْرٍ وَ يَبْعُدَ وَ يَسْتَتِرَ وَ أَنْ لَا يَقْضِيَ حَاجَتَهُ فِيْ مَاءٍ مُبَاحٍ رَاكِدٍ مَا لَمْ يَسْتَبْحِرْ وَ مُتَحَدَّثٍ غَيْرِ مَمْلُوْكٍ لِأَحَدٍ وَ طَرِيْقٍ وَ قِيْلَ يَحْرُمُ التَّغَوُّطُ فِيْهَا وَ تَحْتَ مُثْمِرٍ بِمِلْكِهِ أَوْ مَمْلُوْكٍ عُلِمَ رِضَا مَالِكِهِ وَ إِلَّا حَرُمَ وَ لَا يَسْتَقْبِلَ عَيْنَ الْقِبْلَةِ وَ لَا يَسْتَدْبِرَهَا وَ يَحْرُمَانِ فِيْ غَيْرِ الْمُعَدِّ وَ حَيْثُ لَا سَاتِرَ فَلَوِ اسْتَقْبَلَهَا بِصَدْرِهِ وَ حَوَّلَ فَرْجَهُ عَنْهَا ثُمَّ بَالَ لَمْ يَضُرَّ بِخِلَافِ عَكْسِهِ وَ لَا يَسْتَاكَ وَ لَا يَبْزُقَ فِيْ بَوْلِهِ وَ أَنْ يَقُوْلَ عِنْدَ دُخُوْلِهِ: اللهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْخُبُثِ وَ الْخَبَائِثِ، وَ الْخُرُوْجِ: غُفْرَانَكَ، الْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أَذْهَبَ عَنِّيْ الْأَذَى وَ عَافَانِيْ. وَ بَعْدَ الْاِسْتِنْجَاءِ: اللهُمَّ طَهِّرْ قَلْبِيْ مِنَ النِّفَاقِ وَ حِصِّنْ فَرْجِيْ مِنَ الْفَوَاحِشِ. قَالَ الْبَغَوِيُّ: لَوْ شَكَّ بَعْدَ الْاِسْتِنْجَاءِ هَلْ غَسَلَ ذَكَرَهُ لَمْ تَلْزَمْهُ إِعَادَتُهُ.

Wajib melakukan istinjā’ atau cebok (1) dari setiap hal yang keluar (dari kelamin) yang melumuri dengan menggunakan ari. Dicukupkan dalam istinjā’ praduga halangnya najis (2) dan dengan demikian tidak disunnahkan mencium bau tangannya. Wajib untuk mengendorkan anggota badan agar bekas yang berada pada lipatan-lipatan tepian luang dubur tidak tersisa. Atau dengan menggunakan tiga usapan benda padat yang dapat menghilangkan najis, yang masing-masing usapan dapat merata serta dapat membersihkannya. (3). Disunnahkan bagi orang yang akan masuk WC untuk mendahulukan kaki kiri dan keluar dengan mendahulukan kaki kanan. Tata cara ini kebalikan saat akan masuk masjid. (4). Dan disunnahkan untuk menyingkirkan setiap hal yang diagungkan dari al-Qur’ān (5) dan nama nabi atau malaikat, walaupun nama itu digunakan untuk orang lain seperti nama ‘Azīz dan Aḥmad, jika nama-nama tersebut dikehendaki sebagai nama yang agung. Disunnahkan pula untuk diam pada saat kotoran sedang keluar sekalipun bukan berupa dzikir, dan jika selain keadaan itu hendaknya meninggalkan dzikir. Disunnahkan untuk mengambil tempat yang jauh dari manusia (6) dan membuat penutup. Hendaknya tidak membuang hajat di perairan umum yang tidak mengalir selama jumlahnya tidak banyak, tidak di tempat perbincangan milik umum, di jalan – ada pendapat mengatakan haram hukumnya membuang hajat di jalanan -, di bawah pohon miliknya yang dapat berbuah, (7) atau milik orang lain yang sudah diketahui kerelaannya. Bila belum diketahui kerelaannya maka hukumnya haram. Hendaknya tidak menghadap qiblat ataupun membelakanginya, dan kedua hal tersebut haram bila dilakukan di selain tempat yang telah disediakan sekira tidak ada penutupnya. (8) Jika dadanya dihadapkan ke arah qiblat, sedang alat kelaminnya dipalingkan dari arah itu kemudian kencing maka hal tersebut tidak masalah. Lain halnya jika melakukan kebalikan hal itu. Disunnahkan untuk tidak bersiwak, (9) tidak meludai kencingnya, (10)

 

Berdoa saat masuk WC:

Ya Allah, sesungguhnya aku meminta perlindungan kepada-Mu dari syaithan jantan dan betina.

Saat keluar dengan doa:

Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan penyakit dariku dan telah memberikan kesehatan kepadaku.

dan setelah istinjā’ berdoa:

Ya Allah, sucikanlah hatiku dari sifat munafiq dan jagalah kemaluanku dari perbuatan keji.

Imām Baghawī mengatakan: Jikalau seseorang ragu setelah istinjā’ apakah dzakarnya telah dibasuh?, maka tidak wajib baginya untuk mengulangi membasuhnya.

 

Catatan:

1). Namun kewajiban ini tidaklah segera, akan tetapi ketika akan melaksanakan shalat saja. I‘ānah Thālibīn Juz 1, hal. 128 Darul Fikr.

2). Tanda dari hilangnya najis adalah tampak terasa kasar setelah halus bagi lelaki dan tampak halus setelah kasar bagi wanita. I‘ānah Thālibīn Juz 1, hal. 128 Darul Fikr.

3). Sekira tinggal kasar yang tidak dapat bersih kecuali dengan air. I‘ānah Thālibīn Juz 1, hal. 129 Darul Fikr.

4). Untuk tempat yang tidak mulia juga tidak kotor seperti rumah, maka hukumnya disamakan dengan masjid. I‘ānah Thālibīn Juz 1, hal. 129 Darul Fikr.

5). Imām al-Adrā’ī mengatakan bahwa hukumnya haram memasukkan mushḥaf dan sejenisnya ke dalam ruangan WC tanpa ada darurat. I‘ānah Thālibīn Juz 1, hal. 129 Darul Fikr.

6). Sekira orang lain tidak mendengar suaranya dan baunya. I‘ānah Thālibīn Juz 1, hal. 130 Darul Fikr.

7). Untuk menjaga agar buah yang jatuh tidak terkena najis tersebut. I‘ānah Thālibīn Juz 1, hal. 131 Darul Fikr.

8). Dengan tinggi 2/3 hasta lebih dan dekatnya orang yang membuang hajat dari penutup tersebut tidak kurang dari 3 hasta.

9). Sebab hal itu dapat menyebabkan menjadi pelupa. I‘ānah Thālibīn Juz 1, hal. 132 Darul Fikr.

10). Sebab hal itu menyebabkan menjadi waswas dan kuningnya gigi. I‘ānah Thālibīn Juz 1, hal. 132 Darul Fikr.

Dapatkan Notifikasi Hati Senang

Masukkan email Anda untuk mengetahui tentang artikel terbaru.

Klik untuk mendapatkan notifikasi push tentang artikel terbaru.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lewat ke baris perkakas