01 Kisah Nabi Adam A.S. – Kisah 25 Nabi & Rasul (1/2)

KISAH 25 NABI DAN RASŪL
Diserti Dalil-dalil al-Qur’ān
 
Penyusun: Mahfan, S.Pd.
Penerbit: SANDRO JAYA

Rangkaian Pos: 01 Kisah Nabi Adam A.S. - Kisah 25 Nabi & Rasul
  1. 1.Anda Sedang Membaca: 01 Kisah Nabi Adam A.S. – Kisah 25 Nabi & Rasul (1/2)
  2. 2.01 Kisah Nabi Adam A.S. – Godaan Iblis dan Turunnya Adam ke Bumi – Kisah 25 Nabi & Rasul (2/3)
  3. 3.01 Kisah Nabi Adam A.S. – Qabil & Habil dan Perkawinan di Zaman Nabi Adam – Kisah 25 Nabi & Rasul (3/3)

1. KISAH NABI ĀDAM A.S.

Sebelum Nabi Ādam diciptakan. Allah menciptakan langit dan bumi beserta segala isinya. Langit dan bumi oleh Allah diciptakan dalam waktu enam hari atau masa. Sedangkan satu hari atau satu masa di sisi Tuhan sama dengan seribu tahun menurut perhitungan manusia. Allah Maha Kuasa apabila menghendaki sesuatu cukup berfirman: “Kun” (Jadilah!) maka jadilah apa yang diinginkan-Nya.

Asal Mula Malaikat.

Sesudah menciptakan langit dan bumi Allah menciptakan makhluk yang bernama malaikat. Malaikat dibuat dari nur atau cahaya Malaikat diciptakan sebagai makhluk yang tunduk patuh senantiasa berbakti kepada-Nya. Sama sekali tidak pernah durhaka kepada-Nya.

Malaikat tidak mempunyai nafsu, tidak makan dan tidak tidur, tidak melakukan perbuatan dosa. Tidak berjenis laki-laki atau perempuan dan mempunyai alam tersendiri yaitu alam ghaib yang tidak dapat dilihat manusia.

Jinn dan Iblīs.

Jinn dan Iblīs diciptakan dari api yang sangat panas, sebelum manusia.

وَ الْجَانَّ خَلَقْنَاهُ مِنْ قَبْلُ مِنْ نَارِ السَّمُوْمِ.

Artinya:

Dan Kami telah menciptakan jinn sebelum (Ādam) dari api yang sangat panas.” (QS. al-Ḥijr: 27).

Ia mempunyai jenis kelamin laki-laki dan perempuan. Jinn ada yang patuh dan ada yang ingkar kepada perintah Tuhan. Jinn yang ingkar dan membangkang perintah Allah disebut Iblīs dan syaithan.

Iblīs dan keturunannya adalah makhluk yang sangat durhaka dan jahat. Tidak ada kebaikannya sama sekali. Pekerjaan Iblīs dan syaithan adalah menggoda manusia agar tersesat dan jatuh dalam lembah dosa.

Permintaan Iblīs untuk hidup di dunia sampai hari kiamat dikabulkan Allah. Sebab dahulu Iblīs adalah makhluk yang pernah patuh kepada Allah. Jadi perpanjangan umur bagi Iblīs hingga hari kiamat adalah sebagai balasan bagi kebaikannya di masa lalu sebelum diciptakan Nabi Ādam. Setelah Nabi Ādam diciptakan oleh Allah, Iblīs menjadi makhluk pembangkang.

Penciptaan Nabi Ādam a.s.

Sesudah langit dan bumi, malaikat dan jinn atau Iblīs diciptakan. Maka Allah hendak menciptakan makhluk yang akan diperintah untuk mengelola bumi, yaitu Ādam. Kisah penciptaan Ādam diawali dengan dialog antara Allah dan para malaikat-Nya. Allah s.w.t. memberitahukan kepada para malaikat bahwa ia akan menciptakan khalifah di muka bumi.

Para malaikat mengira lalai dalam menjalankan tugasnya maka mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menciptakan manusia? Padahal mereka hanya akan berbuat kerusakan di atas bumi. Mereka akan saling bermusuhan dan berbunuhan. Bukankah kami para malaikat senantiasa patuh dan mengagungkan nama-Mu?”

Untuk melenyapkan kekuatan para malaikat itu; Allah kemudian berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” Para malaikat bungkam mendengar penegasan Allah itu. Bukankah Allah Maha Mengetahui atas segala sesuatu? Hal ini disebutkan dalam al-Qur’ān:

وَ إِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلآئِكَةِ إِنِّيْ جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيْفَةً قَالُوْا أَتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيْهَا وَ يَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَ نَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَ نُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّيْ أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ

Artinya:

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.” (QS. al-Baqarah: 30).

Demikianlah Allah kemudian menciptakan Ādam dari tanah liat dan lumpur hitam. Setelah terbentuk kemudian dimasukkan roh ke dalamnya. Ādam pun kemudian hidup. Bisa berdiri tegak. Ādam adalah manusia pertama sekaligus sebagai nabi pertama di muka bumi. Setelah penciptaan Ādam, Allah memerintahkan para malaikat untuk bersujud atau menghormat kepada Ādam. Para malaikat pun bersujud sebagai pernyataan hormat dan ucapan selamat atas terciptanya Ādam.

Hanya Iblīs yang tidak mau bersujud. Ia membangkang perintah Allah. Allah bertanya: “Apakah yang membuat engkau tidak mau bersujud kepada Ādam?” “Saya lebih baik dari Ādam. Engkau ciptakan saya dari api sedangkan Ādam hanya dari segumpal tanah” kata Iblīs menyombongkan diri.

Yang berpendpat api lebi baik daripada tanah adalah Iblīs sendiri. Padahal hanya Tuhanlah yang Maha Tahu siapa yang lebih mulia di antara makhluk ciptaan-Nya.

Allah murka mendengar jawaban Iblīs: “Hai Iblīs keluarlah engkau dari surga. Sungguh tidak patut kau tinggal di sini lagi dan terkutuklah engkau selama-lamanya!” Iblīs berkata: “Wahai Tuhan! Engkau kutuk dan Engkau usir aku dari surga karena Ādam. Saya rela. Tapi kabulkanlah permohonan saya untuk hidup lama hingga hari kiamat nanti.

Permohonan Iblīs dikabulkan bahwa ia akan dibiarkan hidup sampai hari kiamat tiba. Iblīs kemudian bersumpah: “Ya, Tuhan karena Engkau telah menghukum saya sebagai yang tersesat; maka saya akan menghalang-halangi Ādam dan keturunannya dari jalan-Mu yang lurus. Saya akan mendatangi untuk menggoda mereka dari muka dan belakang, dari kiri dan dari kanan!”

Itulah sumpah Iblīs. Ia bertekad akan menyesatkan Ādam dan keturunannya agar mereka menjauhi perintah Tuhan berbuat kekacauan di muka bumi, saling bermusuhan dan berbunuhan satu sama lain.

Allah menceritakan hal ini dalam al-Qur’ān dengan firman-Nya:

وَ الْجَآنَّ خَلَقْنَاهُ مِنْ قَبْلُ مِنْ نَّارِ السَّمُوْمِ. وَ إِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلآئِكَةِ إِنِّيْ خَالِقٌ بَشَرًا مِّنْ صَلْصَالٍ مِّنْ حَمَإٍ مَّسْنُوْنٍ. فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَ نَفَخْتُ فِيْهِ مِنْ رُّوْحِيْ فَقَعُوْا لَهُ سَاجِدِيْنَ. فَسَجَدَ الْمَلآئِكَةُ كُلُّهُمْ أَجْمَعُوْنَ. إِلَّا إِبْلِيْسَ أَبى أَنْ يَكُوْنَ مَعَ السَّاجِدِيْنَ. قَالَ يَا إِبْلِيْسُ مَا لَكَ أَلَّا تَكُوْنَ مَعَ السَّاجِدِيْنَ. قَالَ لَمْ أَكُنْ لِأَسْجُدَ لِبَشَرٍ خَلَقْتَهُ مِنْ صَلْصَالٍ مِّنْ حَمَإٍ مَّسْنُوْنٍ. قَالَ فَاخْرُجْ مِنْهَا فَإِنَّكَ رَجِيْمٌ. وَ إِنَّ عَلَيْكَ اللَّعْنَةَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. قَالَ رَبِّ فَأَنْظِرْنِيْ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُوْنَ. قَالَ فَإِنَّكَ مِنَ الْمُنْظَرِيْنَ. إِلَى يَوْمِ الْوَقْتِ الْمَعْلُوْمِ. قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِيْ لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الْأَرْضِ وَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِيْنَ. إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِيْنَ.

Artinya:

Dan Kami telah menciptakan jinn sebelum (Ādam) dari api yang sangat panas. Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan) Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud. Maka bersujudlah para malaikat itu semuanya bersama-sama, kecuali Iblīs. Ia enggan ikut bersama-sama (malaikat) yang sujud itu. Allah berfirman: “Hai Iblīs, apa sebabnya kamu tidak (ikut sujud) bersama-sama mereka yang sujud itu?” Berkata Iblīs: “Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada manusia yang Engkau telah menciptakannya dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk”. Allah berfirman: “Keluarlah dari surga, karena sesungguhnya kamu terkutuk, dan sesungguhnya kutukan itu tetap menimpamu sampai hari kiamat”. Berkata Iblīs: “Ya Tuhanku, (kalau begitu) maka beri tangguhlah kepadaku sampai hari (manusia) dibangkitkan”. Allah berfirman: “(Kalau begitu) maka sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh, sampai hari (suatu) waktu yang telah ditentukan” Iblīs berkata: “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka”.” (QS. al-Ḥijr: 27-40).

Ādam Diajari Berbagai Macam Ilmu Pengetahuan.

Allah menciptakan Ādam sebagai khalifah di muka bumi. Tentunya seorang khalifah harus berilmu pengetahuan yang luas. Oleh karena itu, setelah penciptaannya, Ādam a.s. diajari oleh Allah berbagai macam ilmu pengetahuan sebagai bekal dalam rangka mengemban amanah ilahi menegakkan kalimat-Nya di muka bumi.

Allah mula-mula mengajarkan kepada Ādam nama-nama benda yang dilihatnya, karena itu adalah pengetahuan pokok yang nanti diperlakukannya untuk mengatur dan memelihara bumi.

Kepada para malaikat, Allah ingin membuktikan kemampuan Ādam a.s. untuk mengatur dan memelihara bumi. Allah berfirman kepada para malaikat: “Sebutkanlah kepada-Ku nama-nama benda itu!” Malaikat menjawab: “Maha Suci Engkau, ya Allah. Tidak ada yang kami ketahui selain apa yang Engkau ajarkan kepada kami. Hanya Engkaulah yang mengetahui segala-galanya.” Lalu Allah berfirman kepada Ādam a.s.: “Hai Ādam, berlitahukanlah kepada mereka nama benda-benda itu!”

Ādam kemudian menyebut nama benda-benda yang diketahuinya. Para malaikat kagum. Mereka memberi hormat sehormat-hormatnya. “Bukankah sudah Kukatakan, Aku mengetahui rahasia langit dan bumi? Aku lebih mengetahui apa yang tidak kamu ketahui?” Firman Allah kepada para malaikat. Para malaikat lalu memuja dan mengagungkan Allah, mereka semakin menaruh hormat kepada Ādam. Ternyata Ādam telah mengetahui apa yang belum mereka ketahui. Allah menegaskan hal ini dalam firman-Nya:

وَ عَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلآئِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُوْنِيْ بِأَسْمَاءِ هؤُلآءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِيْنَ. قَالُوْا سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيْمُ الْحَكِيْمُ

Artinya:

Dan Dia mengajarkan kepada Ādam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar!” Mereka menjawab: “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. al-Baqarah: 31-32).

Allah kemudian memberikan Ādam sebuah tempat yang nyaman dan sentosa yaitu surga. Tempat itu indah permai, segala kebutuhan hidup telah bersedia. Kebun surga penuh dengan buah-buahan yang rasanya lezat, air sungainya jernih dan berbau harum, pohon, tumbuhan dan rumput seperti ditata rapi, teduh dan nyaman sekali.

Sebenarnya tempat itu sangat menyenangkan, Ādam berkeliling menjelajahi kebun-kebun dan taman-taman, tapi ia merasa kesepian karena tidak mempunyai kawan.

Diciptakannya Hawa Sebagai Pendamping Ādam

Ādam merasa kesepian karena tak mempunyai teman atau pasangan. Padahal ia melihat semua binatang yang ada di surga itu hidup berpasang-pasangan.

Rasa sepi dan sedih membuatnya letih. Ādam pun tertidur pulas di bawah pohon yang teduh. Allah Maha Tahu, Ia mengetahui pula yang tergerak di hati Ādam yaitu ingin mempunyai teman. Maka selagi Ādam tidur, Allah menciptakan manusia lagi yang diambil dari tulang tusuk Ādam sendiri. Manusia itu lain jenisnya dengan Ādam. Ia adalah seorang wanita. Dan dinamakan Ḥawwā’.

Ketika Ādam bangun dari tidurnya, iapun terkejut. Ādam mengusap-usap matanya, seakan tak percaya. Ia melihat seseorang duduk di sampingnya. Wanita itu indah, cantik dan menakjubkan. “Siapakah engkau? Mengapa berada di sini?” tanya Ādam. Dengan tersenyum Ḥawwā’ menjawab: “Aku adalah Ḥawwā’ yang diciptakan untuk menjadi teman hidupmu.”

Betapa gembira hati Ādam mendengar jawaban itu. Ia memuji dan bersyukur kepada Allah yang telah mengabulkan keinginannya sehingga ia tidak merasa kesepian lagi. Allah berfirman dalam al-Qur’ān:

هُوَ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَ جَعَلَ مِنْهَا زَوْجَهَا لِيَسْكُنَ إِلَيْهَا.

Artinya:

Dialah Yang menciptakan kamu dari diri (nafsu) yang satu dan daripadanya Dia menciptakan istrinya, agar dia merasa senang kepadanya.” (QS. al-A‘rāf: 189).

Surga Tempat Tinggal Ādam.

Para ulama berbeda pendapat mengenai surga yang disebutkan dalam al-Qur’ān di mana Allah menempatkan Ādam dan dari sana Ādam disuruh turun, apakah berada di langit atau di bumi.

Pendapat yang unggul adalah, bahwa surga ini berada di bumi, karena Allah s.w.t. menciptakan Ādam sebagai khalifah di bumi. Kemudian Allah menggambarkan surga yang dijanjikan di langit sebagai surga Khuldi. Andaikata surga itu yang menjadi tempat kediaman Ādam, tidaklah Iblīs berani berkata kepada Ādam sebagaimana firman Allah:

فَوَسْوَسَ إِلَيْهِ الشَّيْطَانُ قَالَ يَا آدَمُ هَلْ أَدُلُّكَ عَلَى شَجَرَةِ الْخُلْدِ وَ مُلْكٍ لَا يَبْلَى.

Artinya:

Kemudian syaithan membisikkan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata: “Hai Ādam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa?” (QS. Thāhā: 120).

Surga Khuldi adalah tempat kenikmatan dan bukan tempat paksaan atau larangan, sedang Allah telah memaksa Ādam dan Ḥawwā’ agar tidak makan buah khuldi. Surga Khuldi yang berada di langit adalah tempat kekekalan bagi siapa yang masuk ke dalamnya, disediakan bagi orang yang bertaqwa.

Ādam dan Ḥawwā’ dikeluarkan dari surga di mana mereka berada, pastilah surga itu bukan yang dijanjikan di dalam al-Qur’ān bagi kaum mu’minin. Karena surga yang disediakan bagi orang mu’min adalah surga yang kekal, dalam arti penghuninya tidak akan keluar darinya.

Alasan lainnya adalah, bahwa Iblīs ketika menolak untuk sujud, ia pun dikutuk dan dikeluarkan dari surga, maka seandainya ini adalah surga Khuldi, tentulah Iblīs yang mendapatkan kemarahan Allah tidak bisa masuk kembali untuk menggoda Ādam dan Ḥawwā’.

Jadi jelaslah bahwa surga yang diperuntukkan Allah bagi Ādam bukanlah surga khuldi yang berada di langit, dan bukan tidak mungkin bahwa surga yang diperuntukkan Allah bagi Ādam letaknya tinggi di atas tempat-tempat lain di bumi dan mempunyai pohon-pohon, buah-buahan dan naungan-naungan serta kenikmatan, sebagaimana yang digambarkan Allah dengan firman-Nya:

إِنَّ لَكَ أَلَّا تَجُوْعَ فِيْهَا وَ لَا تَعْرَى. وَ إِنَّكَ لَا تَظْمَؤُوْا فِيْهَا وَ لَا تَضْحَى.

Artinya:

Sesungguhnya kamu tidak akan kelaparan di dalamnya dan tidak akan telanjang dan sesungguhnya kamu tidak akan merasa dahaga dan tidak (pula) akan ditimpa panas matahari di dalamnya.” (QS. Thāhā: 118-119),

Dari ayat di atas jelaslah bahwa dalam surga yang kekal (khuldi) penghuninya tidak akan merasa lapar dan dahaga, tidak akan telanjang dan terkena panas matahari. Nabi Ādam pada saat di surga di mana ia ditempatkan oleh Allah, merasa lapar dan dahaga, serta terlepas pakaiannya telanjang) setelah makan buah khuldi.

Pendapat lain mengatakan bahwa surga tempat Nabi Ādam berada, adalah surga khuldi dan berada di langit berdalil pada firman Allah s.w.t.:

قُلْنَا اهْبِطُوْا مِنْهَا جَمِيْعًا.

Artinya:

Kami berfirman: “Turunlah kamu semua dari surga itu!” (QS. al-Baqarah: 38).

Namun, makna dari kata “Ihbithū” dapat berarti “berpindah”, atau “pergi” sebagaimana tersebut dalam firman Allah:

اِهْبِطُوْا مِصْرًا فَإِنَّ لَكُمْ مَا سَأَلْتُمْ.

Artinya:

Pergilah kamu ke suatu kota, pasti kamu memperoleh apa yang kamu minta.” (QS. al-Baqarah: 61).

Dapatkan Notifikasi Hati Senang

Masukkan email Anda untuk mengetahui tentang artikel terbaru.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *