007-9 Tahapan Puji & Syukur | Minhaj-ul-Abidin

Dari Buku:

Minhajul ‘Abidin
Oleh: Imam al-Ghazali

Penerjemah: Moh. Syamsi Hasan
Penerbit: Penerbit Amalia Surabaya

Rangkaian Pos: 007 Tahapan Puji & Syukur | Minhaj-ul-Abidin
  1. 1.007-1 Tahapan Puji & Syukur | Minhaj-ul-Abidin
  2. 2.007-2 Tahapan Puji & Syukur | Minhaj-ul-Abidin
  3. 3.007-3 Tahapan Puji & Syukur | Minhaj-ul-Abidin
  4. 4.007-4 Tahapan Puji & Syukur | Minhaj-ul-Abidin
  5. 5.007-5 Tahapan Puji & Syukur | Minhaj-ul-Abidin
  6. 6.007-6 Tahapan Puji & Syukur | Minhaj-ul-Abidin
  7. 7.007-7 Tahapan Puji & Syukur | Minhaj-ul-Abidin
  8. 8.007-8 Tahapan Puji & Syukur | Minhaj-ul-Abidin
  9. 9.Anda Sedang Membaca: 007-9 Tahapan Puji & Syukur | Minhaj-ul-Abidin
  10. 10.007-10 Tahapan Puji & Syukur (10/10) | Minhaj-ul-Abidin

Selanjutnya, aku renungkan apa yang diberikan Allah kepada seorang hamba, yang benar-benar taat dan berkhidmat kepada Allah s.w.t. yang menempuh jalan ini, sepanjang umurnya, ternyata secara garis besar aku menemukan empat puluh mahkota kebesaran dan kemuliaan; dua puluh kemuliaan di dunia, dan dua puluh kemuliaan di akhirat.

Dua puluh kenikmatan di dunia itu, ialah:

1. Allah berkenan menyebut-nyebut dan memujinya. Sungguh mulia orang yang disebut-sebut dan dipuji Allah, Tuhan semesta alam.

2. Disanjung dan diagungkan oleh Allah. Seandainya anda disanjung dan diagungkan oleh manusia yang lemah seperti anda saja, tentu anda merasa mulia, apalagi kalau disanjung oleh Dzāt yang menguasai orang-orang dahulu dan orang-orang kemudian.

3. Ia dicintai oleh Allah. Seandainya anda dicintai oleh kepala desa atau bupati, tentu anda merasa lebih unggul dibanding dengan lainnya. Lalu bagaimana jika anda dicintai oleh Tuhan semesta alam.

4. Allah senantiasa memelihara dan mengatur persoalannya.

5. Segala rezekinya ditanggung oleh Allah. Rezeki selalu digiring ke hadapannya, tanpa kesulitan dan bersusah payah.

6. Mendapatkan pertolongan Allah dari segala niat buruk musuh dan setiap kejahatan yang mengancamnya.

7. Hatinya ditentramkan oleh Allah, sehingga tidak merasa takut dalam situasi dan kondisi apapun.

8. Derajat kemuliaannya terangkat. Kemuliaannya tidak pernah ternoda dengan berkhidmat kepada dunia, makhluk dan ahli dunia. Bahkan merasa tidak senang jika dilayani oleh raja dunia dan pembesar-pembesarnya.

9. Luhur cita-citanya. Tidak mau dirinya bergelimang dunia atau akrab dengan ahli dunia. Juga tidak mau menengok kepada gemerlapnya dunia dan permainan kesia-siaannya. Sebagaimana keengganan orang yang sempurna akalnya dari tempat permainan anak-anak dan wanita.

10. Kekayaan hati. Ia menjadi merasa lebih kaya daripada semua orang yang kaya harta. Hatinya lapang, tidak terkejut atas terjadinya suatu kejadian dan tidak berkeluh kesah di kala menghadapi kesulitan.

11. Terangnya nūr dalam hatinya. Sebab nūr itu, ia dapat mengetahui ilmu-ilmu, rahasia-rahasia dan hikmah-hikmah Allah yang tidak bisa diketahui oleh orang lain, kecuali dengan berpayah-payah dan menghabiskan umur.

12. Lapang dada dan ikhlas menerima segala cobaan dunia dan musibah yang terjadi akibat kelakuan dan kejahatan manusia.

13. Dihormati dan disegani masyarakat. Mempunyai pengaruh besar di masyarakat. Orang-orang baik dan orang-orang jahat memuliakannya. Semua orang jahat seperti Fir‘aun dan orang-orang sombong menjadi takut kepadanya.

14. Dicintai masyarakat. Allah menjadikan hati masyarakat merasa cinta kepadanya. Semua orang mengagungkan dan memuliakannya.

15. Segala sesuatunya mengandung berkah secara umum, baik bicaranya, diri dan pekerjaannya, pakaian dan tempatnya, sampai tanah yang pernah diinjak pun diambil berkah, juga tempat yang diduduki dan manusia yang pernah berkumpul dengannya.

16. Dataran dan lautan ditundukkan untuknya, hingga seandainya ia menginginkan berjalan di awang-awang atau berjalan di atas air atau menempuh jalan seberapa pun jauhnya, bisa berhasil dalam waktu yang sangat singkat.

17. Binatang buas, binatang melata dan sebagainya ditundukkan untuknya. Semuanya merasa nyaman dan senang berkumpul dengannya.

18. Dapat menguasa kunci perbendaharaan harta bumi. Di mana pun ia memukulkan tangannya, maka ia bisa memperoleh gudang harta, jika ia menghendaki, Seandainya ia menjejakkan kakinya ke tanah, maka dapat keluar sumber air yang menakjubkan dari tanah itu, bila ia membutuhkan. Di mana saja ia berhenti, bisa mendapatkan makanan yang terwujud seketika, kalau ia menghendaki.

19. Menjadi panutan masyarakat dan mempunyai kedudukan luhur di pintu Dzat yang menguasai keagungan. Orang-orang menjadikannya sebagai wasīlah kepada Allah, dengan melanyani hamba ini. Dan orang-orang mengharapkan berhasilnya hajat mereka kepada Allah, dengan wasīlah kedudukan dan berkah hamba Allah yang saleh semacam ini.

20. Allah berkenan mengabulkan doanya. Apa saja yang ia minta, niscaya akan diberi. Syafa‘atnya diterima. Jika bersumpah atas nama Allah, pasti Allah meluluskan apa yang ia kehendaki. Sampai ada juga yang seandainya ia menunjuk gunung agar runtuh, gunung itu benar-benar akan runtuh. Jadi, ia tidak lagi membutuhkan doa dengan lisan. Seandainya hatinya terlintas menginginkan sesuatu, tentu terwujud, tidak lagi perlu menggunakan isyarat.

Adapun dua puluh kemuliaan di akhirat, ialah:

21. Dimudahkan sakarat-ul-maut-nya (detik-detik menjelang kematian). Sakarat-ul-maut adalah sesuatu yang paling dikuatirkan oleh para nabi, sehingga mereka pun senantiasa memohon dimudahkan sakarat-ul-maut-nya. Ada nabi yang melaluinya seperti meneguk air.

Firman Allah s.w.t.:

الَّذِيْنَ تَتَوَفَّاهُمُ الْمَلآئِكَةُ طَيِّبِيْنَ

Artinya:

(Yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik.” (an-Naḥl: 32).

22. Tetap dalam ma‘rifat dan iman. Kedua hal inilah yang membuatnya tidak merasa takut dan terkejut. Dan ketakutan akan keduanya terlepas, yang membuatnya menangis karena takut kepada Allah.

Allah s.w.t. berfirman:

يُثَبِّتُ اللهُ الَّذِيْنَ آمَنُوْا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَ فِي الآخِرَةِ

Artinya:

Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat.” (Ibrāhīm: 27).

23. Allah melimpahkan kebahagiaan, kenikmatan dan berita gembira, juga keridhaan, sehingga ia merasa aman.

Allah s.w.t. berfirman:

أَلاَّ تَخَافُوْا وَ لاَ تَحْزَنُوْا وَ أَبْشِرُوْا بِالْجَنَّةِ الَّتِيْ كُنْتُمْ تُوْعَدُوْنَ

Artinya:

Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah dengan surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.” (Fushshilāt: 30).

Sehingga, ia tidak akan merasa takut terhadap apa yang akan dihadapinya kelak di akhirat, dan tidak pula merasa bersedih terhadap apa yang ia tinggalkan di dunia.

24. Kekal di dalam surga dan bersanding dengan Allah Yang Maha Penyayang.

25. Rohnya berkilauan, dibawa naik oleh malaikat langit dan bumi dengan dimuliakan, diberi kelembutan dan kenikmatan. Sedangkan jasadnya, dihormati dan dimuliakan jenazah. Orang-orang saling berebut untuk menshalatkan jenazahnya, dan mereka bersegera merawatnya dengan mengharapkan pahala yang besar dari Allah dengan sebab mengurusi jenazahnya.

26. Dapat menjawab pertanyaan kubur dengan lancar dan benar, sehingga terbebas dari siksa kubur.

27. Dilapangkan dan diterangi kuburnya. Ia berada di pertamanan surga sampai hari kiamat.

28. Tenang dan mulia rohnya, diletakkan di tembolok burung hijau berkumpul dengan saudara-saudaranya yang saleh dengan gembira dan suka cita, sebab karunia Allah yang dianugerahkan kepadanya.

29. Dihimpun ke padang Maḥsyar dengan mulia dan memakai mahkota dan mengendarai Burāq.

30. Raut wajahnya putih berseri-seri.

Allah s.w.t. berfirman:

وُجُوْهٌ يَوْمَئِذٍ نَّاضِرَةٌ، إِلى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ

Artinya:

Wajah-wajah (orang-orang mu’min) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat.” (al-Qiyāmah: 22-23).

Dan firman-Nya:

وُجُوْهٌ يَوْمَئِذٍ مُّسْفِرَةٌ، ضَاحِكَةٌ مُّسْتَبْشِرَةٌ

Artinya:

Banyak muka pada hari itu berseri-seri, tertawa dan gembira ria.” (‘Abasa: 38-39).

31. Selamat dari kedahsyatan situasi hari kiamat.

Allah s.w.t. berfirman:

أَمْ مَّنْ يَأْتِيْ آمِنًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Artinya:

Ataukah orang-orang yang datang dengan aman sentosa pada hari kiamat.” (Fushshilāt: 40).

32. Menerima buku catatan ‘amal dari sebelah kanan, bahkan ada yang dianggap cukup buku catatan ‘amalnya dengan melihat depannya saja.

33. Diringankan hisabnya, bahkan ada yang tidak dihisab sama sekali.

34. Berat timbangan ‘amal kebaikannya, bahkan ada yang sama sekali tidak ditimbang.

35. Bisa sampai ke telaga Nabi Muḥammad s.a.w. dan meminum airnya, sehingga tidak akan merasa dahaga selamanya.

36. Mampu melewati Shirāth (jembatan) dan selamat dari neraka. Bahkan sebagian dari kekasih Allah ada yang sama sekali tidak mendengar bergolaknya api neraka. Mereka berada dalam kekekalan kenikmatan yang menyenangkannya. Bahkan api neraka pun menjadi meredup karenanya.

37. Diizinkan memberikan syafa‘at kepada orang-orang mu’min di pelataran hari kiamat, di bawah syafa‘at para nabi dan rasul.

38. Memperoleh kerajaan yang kekal dalam surga.

39. Mendapatkan keridhaan yang agung dari Allah.

40. Bisa berjumpa dengan Allah, Tuhannya orang-orang dahulu dan orang-orang kemudian. Yang keagungan-Nya tidak bisa dibayangkan dan tidak pula ada kata-kata yang bisa menjelaskan.

Selanjutnya, aku katakan bahwa hitungan tersebut hanyalah menurut pemahaman dan puncak ilmuku dengan segala keterbatasan dan kekurangannya. Meskipun demikian, aku telah menerangkannya secara garis besar, ringkas dan pokok-pokok permasalahannya. Seandainya aku menjelaskan secara detail dan terperinci mengenai sebagian dari kekeramtan kekasih Allah itu, maka kitab ini tidaklah sanggup memuatnya.

Bukankah anda tahu bahwa aku menjadikan satu kerajaan keabadian sebagai satu bagian? Seandainya aku merincinya, maka dapat terpecah menjadi empat puluh karamah, misalnya macam bidadari, perumahannya yang indah, pakaian yang bagus dan sebagainya.

Kemudian, masing-masing karamah itu memuat perincian yang tidak bisa diketahui oleh siapapun, kecuali oleh Allah Yang Maha Mengetahui perkara yang tersembunyi dan perkara yang nyata.

Allah s.w.t. berfirma:

فَلاَ تَعْلَمُ نَفْسٌ مَّا أُخْفِيَ لَهُمْ مِّنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ

Artinya:

Seorang pun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka, yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata.” (as-Sajdah: 17).

Rasūlullāh s.a.w. bersabda:

خُلِقَ فِيْهَا مَا لاَ عَيْنٌ رَأَتْ وَ لاَ أُذُنٌ سَمِعَتْ وَ لاَ خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ

Di surga itu, diciptakan (kesenangan dan kenikmatan) apa saja yang belum pernah dilihat mata manusia, belum pernah terdengar oleh telinga manusia, dan belum pernah terlintas di hati manusia.

Mengenai firman Allah s.w.t.:

لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ أَنْ تَنْفَدَ كَلِمَاتُ رَبِّيْ

Artinya:

Sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku.” (al-Kahfi: 109).

Para ulama ahli tafsir memberikan penafsiran bahwa kalimat-kalimat Tuhan ini adalah kalimat-kalimat yang difirmankan Allah kepada ahli surga dengan penuh kelembutan dan kemuliaan.

Akan halnya keadaan kenikmatan surga, sebagai manusia biasa, mampukah kita mencapai sebagian saja di antara sejuta bagian dari keadaan itu? Bagaimana mungkin ilmu makhluk bisa meliputi dan mengetahui sebagian saja dari hal itu? Tidak akan mampu! Dengan segala kekurangan dan keterbatasannya manusia tidak akan dapat mencapainya. Kondisinya adalah sebagaimana keadaannya sendiri. Keagungan kenikmatan itu, semata-mata anugerah Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui, Maha Pemurah lagi Maha Dahulu. Untuk mencapai kedudukan yang agung ini, sebagai hamba Allah kita harus ber‘amal dan beribadah dengan sungguh-sungguh, mencurahkan segala potensi untuk mengabdi dan berbakti kepada-Nya. Meskipun demikian, kita juga harus tahu bahwa apa yang kita kerjakan dengan sungguh-sungguh itu, amatlah sedikit bila dibandingkan dengan apa yang disediakan Allah.

Dapatkan Notifikasi Hati Senang

Masukkan email Anda untuk mengetahui tentang artikel terbaru.

Klik untuk mendapatkan notifikasi push tentang artikel terbaru.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *