006 Perihal Istinja’ (Cebok) – Kifayat-ul-Akhyar (1/2)

KIFĀYAT-UL-AKHYĀR
(Kelengkapan Orang Shalih)
Oleh: Imam Taqiyuddin Abu Bakar Bin Muhamamd al-Husaini

Bahagian Pertama
Penerjemah: K.H. Syarifuddin Anwar, K.H. Mishbah Mushthafa
Penerbit: BINA IMAN

Rangkaian Pos: 006 Perihal Istinja' (Cebok) - Kifayat-ul-Akhyar

[Fasal]

Perihal Istinjā’ (Cebok)

Berkata Syaikh Abū Syuja‘:

(فَصْلٌ: وَ الْاِسْتِنْجَاءُ وَاجِبٌ مِنَ الْبَوْلِ وَ الْغَائِطِ.)

[Istinjā’ atau cebok itu wajib dengan sebab kencing atau sebab berak].

Dalil wajibnya istinjā’ ialah sabda Nabi Muḥammad s.a.w.:

وَ لْيَسْتَنْجِ بِثَلَاثَةِ أَحْجَارٍ.

Dan hendaklah bersuci dengan tiga buah batu.

Sabda Nabi ini merupakan perintah, sedangkan perintah, menurut lahirnya menunjukkan wajib.

Diriwayatkan dari ‘Ā’isyah r.a. bahwa Rasūlullāh s.a.w. telah berkata:

إِذَا ذَهَبَ أَحَدُكُمْ إِلَى الْغَائِطِ فَلْيَذهَبْ مَعَهُ ثَلَاثَةُ أَحْجَارٍ يَسْتَطِيْبُ بِهِنَّ فَإِنَّهَا تُجْرِيْءُ عَنْهُ.

Jika kamu pergi ke kakus (jamban), hendaklah membawa tiga buah batu untuk bersuci dengannya, sesungguhnya memakai membersihkan dengannya.

Hadits ini diriwayatkan oleh Abū Dāūd, Imām Aḥmad, ad-Dāruqathnī dan Ibnu Mājah dengan isnād yang ḥasan lagi shaḥīḥ.

Kata pengarang “dengan sebab kencing atau sebab berak” dapat ditarik kesimpulan bahwa bersuci itu tidak wajib, oleh sebab angin (kentut). Bahkan Para Ulama Madzhab Syāfi‘ī berkata: Tidak disunnatkan. Dan al-Jurjānī berkata: Makrūh, Dan bahkan Syaikh Nashr berkata: Bercebok dengan sebab kentut itu bid‘ah, dan orangnya berdosa dengan sebab ceboknya itu. Imam Nawawī berkata di dalam Syaraḥ al-Muhadzdzab: Kata Syaikh Nashr “bid‘ah”, itu shaḥīḥ. Akan tetapi kalau dikatakan “berdosa”, itu tidak benar. Kecuali jika orangnya meyakinkan “wajib”-nya padahal ia tahu bahwa bercebok (dengan sebab kentut) itu tidak wajib.

Ibnu Rif‘ah berkata: Apabila di tempat keluarnya kentut ada basah-basahnya, sebaiknya ada khilaf dalam masalah wajibnya cebok, berdasarkan pada najisnya asap (angin) najis. Sebagaimana apa yang dikatakan serupa itu, yaitu mengenai najisnya pakaian yang basah karena kentut. Kemudian Ibnu Rif‘ah berkata: Boleh dijawab, bahwa kentut itu tidak dapat melebihi apa yang tertinggal di tempat najis, sesudah cebok dengan batu.

 

Berkata Syaikh Abū Syuja‘:

(وَ الْأَفْضَلُ أَنْ يَسْتَجْمِرَ بِالْأَحْجَارِ، ثُمَّ يُتْبِعَهَا بِالْمَاءِ. وَ يَجُوْزُ أَنْ يَقْتَصِرَ عَلَى الْمَاءِ أَوْ عَلَى ثَلَاثَةِ أَحْجَارٍ يُنْقِيْ بِهِنَّ الْمَحِلَّ، وَ إِذَا أَرَادَ الْاِقْتِصَارَ عَلَى أَحَدِهِمَا فَالْمَاءُ أَفْضَلُ.)

[Yang lebih utama hendaknya bercebok dengan menggunakan batu, kemudian diikuti dengan air. Orang yang cebok, boleh hanya menggunakan air saja tanpa batu, dan boleh menggunakan batu saja tanpa air. Akan tetapi, batu yang banyaknya tiga itu harus dapat membersihkan tempat najisnya. Jika hendak meringkaskan, maka yang lebih utama di antara keduanya ialah menggunakan air].

Yang lebih utama di dalam istinja’ hendaknya cebok dengan batu dan cebok dengan air atau yang semisalnya. Sebab Allah ta‘ālā memuji-muji orang ahli Quba’ sebab mereka mahu menghimpunkan batu dan air, dan Allah menurunkan ayat untuk ahli Quba’, sedang Dia sebenar-benarnya Dzāt yang berfirman:

فِيْهِ رِجَالٌ يُحِبُّوْنَ أَنْ يَتَطَهَّرُوْا، وَ اللهُ يُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِيْنَ.

Di dalam masjid itu, ada orang-orang yang senang bersuci, dan Allah mencintai orang-orang yang bersuci.” (at-Taubah: 109).

Dilihat dari segi arti, mengumpulkan air dan batu itu gunanya, batu untuk menghilangkan dzāt najis dan air untuk menghilangkan bekas najis, sehingga tempatnya tidak lagi berlumuran najis. Oleh karena itulah, batu didahulukan dan air dikemudiankan. Kemudian, sesuai dengan kehendak ta‘līl (alasan), maka dalam hal ini, bercebok dengan batu tidak diharuskan suci batunya, karena akan dibalas dengan air. Demikian ini diterangkan oleh al-‘Ijlī dan dinukil dari Imām Ghazālī.

Ketahuilah, bahwa Hadits di atas adalah Hadits yang dianggap dha‘īf oleh para Ulama. Oleh al-Bazzār, Hadits tersebut diberitakan dengan isnād yang dha‘īf. Hadits itu berbunyi demikian:

فَسَأَلَهُمُ النَّبِيُّ (ص) عَنْ ذلِكَ، فَقَالُوْا: تُتْبِعُ الْحِجَارَةَ الْمَاءَ.

Maka Nabi menanyakan apa yang dibuat (bersuci oleh ahli Quba’), dan mereka menjawab: Kita bercebok dengan batu dulu, kemudian dengan air.

Di dalam Syaraḥ al-Muhadzdzab, Imām Nawawī mengingkari riwayat ini, dan beliau berkata: Begitulah riwayatnya yang diberitakan oleh orang fuqahā’ di dalam kitab-kitab mereka, padahal Hadits ini tidak ada asal-usulnya di dalam kitab-kitab Hadits. Akan tetapi yang diterangkan di dalam kitab Hadits itu demikian: “Kami selalu bercebok dengan air”. Di situ tidak disebutkan: “Bersama batu.” Seperti inilah riwayat sebagian jama‘ah. Di antaranya ialah Imām Aḥmad dan Ibnu Khuzaimah.

Andaikata orang itu meringkaskan ceboknya dengan air saja, niscaya sudah cukup, sebab air dapat menghilangkan dzāt serta bekas najis. Bercebok dengan air itu lebih utama, jika orangnya menghendaki bercebok dengan salah satunya. Orang yang bercebok dengan batu, boleh meringkaskan dengan tiga buah batu atau dengan sebuah batu yang mempunyai bucu tiga.

Kewajiban bercebok dengan batu itu ialah tiga usapan. Jika sudah bersih dengan tiga usapan itu, berarti sudah maklum. Akan tetapi jika belum bersih dengan tiga usapan, maka wajib menambahi hingga menjadi bersih. Dan disunnatkan dengan hitungan yang gasal.

Ketahuilah, bahwa segala sesuatu yang sama dengan batu, boleh digunakan untuk bercebok. Tetapi ada syaratnya, yaitu harus suci. Jadi andaikata bercebok dengan batu yang najis, wajib mengulangi lagi dengan air, menurut qaul yang shaḥīḥ.

Syarat yang kedua, benda yang digunakan untuk bercebok harus dapat melenyapkan atau menanggalkan najis dan harus dapat menyerap najis. Jadi tidak cukup bercebok dengan kaca atau bambu atau pasir yang lembut. Boleh bercebok dengan tanah yang keras. Jadi kalau bercebok dengan benda yang tidak dapat menanggalkan najis, maka adalah tidak mencukupi. Seumpama orang itu bercebok dengan benda (bukan air) yang basah, berupa batu atau lainnya, tidak mencukupi, menurut qaul yang shaḥīḥ.

Syarat yang ketiga, benda yang digunakan untuk bercebok itu bukan berupa benda yang dimuliakan. Jadi tidak boleh bercebok dengan penganan seperti roti atau tulang. Dan tidak boleh bercebok dengan sebagian anggota tubuhnya sendiri, seperti bercebok dengan tangannya sendiri atau dengan tangannya orang lain. Juga tidak diperbolehkan memakai bagian dari tubuh hewan yang masih bersambung, seperti ekornya. Sebab bagian tubuh hewan dimuliakan. Jika ada menggunakan benda yang dimuliakan untuk bercebok, dia berdosa dan tidak mencukupi menurut qaul yang shaḥīḥ. Tetapi jika diikuti dengan batu, ceboknya cukup, dengan syarat najisnya belum berpindah dari tempat yang semula. Adapun bercebok dengan kulit binatang, menurut qaul yang azhhar jika kulitnya sudah disamak boleh untuk bersuci. Dan kalau belum, tidak boleh. Kemudian, selain syarat-syarat di muka, disyaratkan lagi hendaknya tahinya belum kering. Jika yang keluar itu sudah kering, maka wajib bercebok menggunakan air. Sebab najisnya tidak boleh dihilangkan dengan batu.

 

Berkata Syaikh Abū Syuja‘:

(وَ يَجْتَنِبُ اسْتَقْبَالَ الْقِبْلَةِ وَ اسْتِدْبَارَهَا فِي الصَّحْرَاءِ)

[Qadh-il-ḥājat (orang yang berak atau kencing) hendaklah menjauhi menghadap arah kiblat dan membelakanginya, jika ia berak (qadhā’ ḥājat) di tempat yang terbuka (lapang)].

Apabila orang itu hendak qadhā’ ḥājat (berak atau kencing) haram menghadap ke arah kiblat atau membelakanginya, jika tidak ditutup dengan sesuatu yang boleh dianggap cukup. Rasūlullāh s.a.w. bersabda:

إِذَا أَتَيْتُمُ الْغَائِطَ فَلَا تَسْتَقْبِلُوا الْقِبْلَةَ وَ لَا تَسْتَدْبِرُوْهَا بِبُوْلٍ وَ لَا غَائِطٍ، وَ لكِنْ شَرِّقُوْا أَوْ غَرِّبُوْا.

Apabila kamu mendatangi tempat kencing atau berak, janganlah menghadap ke arah kiblat dan jangan pula membelakanginya. Tetapi menghadaplah ke timur atau ke barat.” (Riwayat Bukhārī dan Muslim).

Hadits ini berisi larangan. Jadi menurut lahir Hadits, haram hukumnya (menghadap atau membelakangi kiblat).

Para Ulama saling berbeda pendapat mengenai ‘illat dilarangnya menghadap arah kiblat dan membelakanginya. Ada yang mengatakan: Sebab tempat yang terbuka itu tidak pernah sepi dari orang yang shalat, yaitu para malaikat atau jin atau manusia, sehingga kadang-kadang melihat farjinya orang yang qadha’ hajat, yang menyebabkan hatinya menjadi tidak enak. Di dalam Syaraḥ-nya kitab Tanbīh, Imām Nawawī berkata: Ta‘līl ini dha‘īf. Ta‘līl yang shaḥīḥ, yaitu apa yang diterangkan oleh al-Qādhī Ḥusain, al-Baghawī, ar-Ruyānī dan lain-lain, yaitu bahwa arah kiblat itu diagung-agungkan. Jadi wajib menjaga keagunan arah kiblat di tempat terbuka. Jika berada di suatu bangunan, diberi kemudahan, sebab sulit (menghindarinya). Wallāhu a‘lam.

Aku berkata: Ta‘līl ini dikuatkan oleh Syaikh Taqiyyuddīn Ibnu Daqīq-il-‘Īd, dan beliau menjadikan ḥujjah Haditsnya Surāqah bin Mālik r.a. Beliau berkata: Aku mendengar Rasūlullāh s.a.w. telah bersabda:

إِذَا أَتَى أَحَدُكُمُ الْبَوْلَ فَلْيُكْرِمْ قِبْلَةَ اللهِ عَزَّ وَ جَلَّ فَلَا يَسْتَقْبِلِ الْقِبْلَةَ.

Apabila seseorang kamu mendatangi tempat kencing (atau berak), hendaklah memuliakan kiblat Allah ‘azza wa jalla janganlah menghadap ke kiblat.

Ibnu Daqīq-il-‘Īd berkata: Hadits ini terang dan jelas dalam masalah ta‘līl yang telah saya sebutkan tadi. Wallāhu a‘lam.

Imām Nawawī berkata: Jika di muka orang itu ada tutup/dinding yang tingginya kira-kira dua pertiga dzirā‘ (hasta) dan jarak orang itu dengan tutup itu ada tiga dzirā‘, maka boleh menghadap ke arah kiblat atau membelakangkinya. Baik berada di dalam bangunan maupun di tempat terbuka (lapang). Keterangan ini adalah keterangan yang shaḥīḥ. Sebagian Ulama ada yang memastikan haramnya menghadap atau membelakangi kiblat jika di tempat terbuka secara mutlak. Demikian kata Imām Nawawī di dalam Syaraḥ al-Muhadzdzab. Wallāhu a‘lam.

Kata pengarang: “Di tempat yang terbuka”, mengecualikan tempat yang tidak terbuka. Jadi tidak haram menghadap kiblat atau membelakanginya jika tempatnya di dalam bangunan. Ibnu ‘Umar berkata: Aku pernah naik ke atas rumahku, kemudian aku melihat Rasūlullāh s.a.w. berjongkok di atas dua batu bata merah (yang masih mentah) dalam keadaan menghadap kibat Bait-ul-Maqdis. Di dalam riwayat Imām Bukhārī kalimahnya begini: “Aku melihatnya (Rasūlullāh) membelakangi kiblat menghadap ke arah Syam.” Wallāhu a‘lam.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

You have to agree to the comment policy.