006-8 Tahapan Penoda & Perusak Ibadah | Minhaj-ul-Abidin

Dari Buku:

Minhajul ‘Abidin
Oleh: Imam al-Ghazali

Penerjemah: Moh. Syamsi Hasan
Penerbit: Penerbit Amalia Surabaya

Rangkaian Pos: 006 Tahapan Penoda & Perusak Ibadah | Minhaj-ul-Abidin
  1. 1.006-1 Tahapan Penoda & Perusak Ibadah | Minhaj-ul-Abidin
  2. 2.006-2 Tahapan Penoda & Perusak Ibadah | Minhaj-ul-Abidin
  3. 3.006-3 Tahapan Penoda & Perusak Ibadah | Minhaj-ul-Abidin
  4. 4.006-4 Tahapan Penoda & Perusak Ibadah | Minhaj-ul-Abidin
  5. 5.006-5 Tahapan Penoda & Perusak Ibadah | Minhaj-ul-Abidin
  6. 6.006-6 Tahapan Penoda & Perusak Ibadah | Minhaj-ul-Abidin
  7. 7.006-7 Tahapan Penoda & Perusak Ibadah | Minhaj-ul-Abidin
  8. 8.Anda Sedang Membaca: 006-8 Tahapan Penoda & Perusak Ibadah | Minhaj-ul-Abidin
  9. 9.006-9 Tahapan Penoda & Perusak Ibadah | Minhaj-ul-Abidin
  10. 10.006-10 Tahapan Penoda & Perusak Ibadah | Minhaj-ul-Abidin

Kemegahan dan keagungan Sang Maharaja (Allah s.w.t.) dapatlah diketahui bahwa para Malaikat Muqarrabīn yang baik-baik, berkhidmat kepada-Nya siang dan malam. Sehingga di antara mereka ada yang sejak diciptakan selamanya berdiri berkhidmat menghadap Allah; ada yang ruku‘; ada pula yang sujud; membaca tasbih dan tahlil selama-lamanya. Mereka tiada pernah berhenti berkhidmat menjalankan tugas Allah s.w.t. Yang berdiri merasa belum sempurna berdirinya dalam berkhidmat kepada Allah, begitu pula yang ruku‘, yang sujud, yang membaca tasbih dan yang membaca tahlil belum menyempurnakan tahlilnya, sudah tersusul tiupan sangkakala Malaikat Israfil, sehingga membuat mereka semua mati.

Setelah mereka selesai berkhidmat menjalankan tugas yang agung ini, mereka semua berseru: “Maha Suci Engkau, ya Allah, kami tidak bisa menyembah kepada-Mu dengan ibadah yang sebenar-benarnya.

Adalah Rasūlullāh s.a.w. sebaik-baik manusia, yang paling mengetahui di antara makhluk dan paling utama, beliau berkata:

لاَ أُحْصِيْ ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ

Artinya:

Aku tidak mampu menghitung pujian kepada-Mu, sebagaimana Engkau memuji Dzāt-Mu Sendiri.

Nabi s.a.w. juga bersabda: “Aku tidak sanggup menyampaikan pujian kepada-Mu yang menjadi hak-Mu, apalagi hendak beribadah kepada-Mu menurut hak-Mu.

Beliau juga bersabda:

لَيْسَ أَحَدٌ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ بِعَمَلِهِ. قَالُوْا: وَ لاَ أَنْتَ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: وَ لاَ أَنَا إِلاَّ أَنْ يَتَغَمَّدَنِيَ اللهُ بِرَحْمَتِهِ

Artinya:

Tidak seorangpun yang masuk surga sebab ‘amalnya.” Para sahabat bertanya: “Tidak pula anda, ya Rasūlullāh?” Beliau bersabda: “Ya, aku pun demikian. Kecuali jika Allah melingkupiku dengan rahmat-Nya.

Adapun mengenai nikmat dan anugerah Allah yang diberikan kepada kita, sebagaimana firman Allah s.w.t.:

وَ إِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَةَ اللهِ لاَ تُحْصُوْهَا

Artinya:

Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak dapat menentukan jumlahnya.” (an-Naḥl: 18).

Menurut suatu riwayat, bahwa manusia pada hari kiamat, akan dihimpun menurut tiga kategori buku catatan ‘amal, yaitu: Buku catatan kebaikan; buku catatan kejahatan; dan buku catatan nikmat. Catatan kebaikan dibandingkan dengan nikmat Allah, setiap kebaikan didatangkan, pasti didatangkan pula nikmat, sebagai bandingannya. Sehingga kebaikan itu tertutup oleh nikmat Allah. Sedangkan catatan laku jahat dan dosanya tetap. Selanjutnya hal itu terserah Allah, akan diampuni atau tidak, kehendak Allah yang menentukan.”

Mengenai karakter jahat nafsu dan bahaya-bahaya, telah aku jelaskan dalam bab nafsu. Perkara yang mengkhawatirkan bagi seorang hamba adalah kosongnya nilai keutamaan dan pahala ibadah yang dilakukan. Jangan sampai ia beribadah puluhan tahun lamanya tetapi lengah atas cacat dan sifat buruk yang ada pada dirinya. Sehingga tidak satu ibadah pun yang diridhai dan diterima oleh Allah. Bahkan kadang-kadang ibadah yang dikerjakan bertahun-tahun itu rusak seluruhnya hanya dalam waktu sekejap.

Dan yang lebih mengkhawatirkan daripada hal tersebut, adalah ketika Allah memandang seorang hamba, sementara ia sedang berbuat riyā’ pada manusia dalam peribadatan dan khidmatnya. Secara lahiriah ia menjalankan ibadat untuk Allah, tetapi batinnya ditujukan untuk makhluk, sehingga akhirnya Allah mengusirnya, dan tidak lagi memperhatikannya. Semoga Allah melindungi kita dari riyā’ yang sangat berbahaya itu.

Aku pernah mendengar seorang ulama menceritakan tentang Ḥasan Bashrī, bahwa ia pernah melihat Ḥasan dalam mimpi sesudah beliau wafat. Dalam mimpinya itu, ia bertanya kepada Ḥasan mengenai keadaan dirinya. Ḥasan Bashrī menjawab: “Aku dihadapkan kepada Allah dan ditanya: “Hai Ḥasan, ingatkah anda ketika pada suatu hari anda shalat di masjid, diperhatikan banyak orang, lantas anda memperbaiki shalat anda? Maka seandainya pada awal shalat itu kamu tidak murni untuk-Ku, niscaya hari ini Aku mengusirmu dari pintu-Ku dan Aku putuskan sama sekali hubungan anda dengan-Ku.”

Jadi, bila persoalannya sedemikian pelik, sulit dan mendalam, maka bagi orang-orang yang waspada tentu merasa khawatir terhadap diri mereka ketika beribadah, sampai-sampai sebagian dari mereka ada yang menghindar dari penglihatan manusia dalam semua ‘amalnya.

Diriwayatkan, bahwa Rābi‘ah berkata: “‘Amalku yang tampak, tidak ada yang aku hitung.” Ulama lain berkata: “Sembunyikanlah kebaikan anda, sebagaimana anda menyembunyikan keburukan anda.” Ada pula yang berkata: “Apabila anda dapat menyembunyikan ‘amal baik anda, maka lakukanlah itu.

Diceritakan pula, bahwa Rābi‘ah pernah ditanya: “Dengan sebab apa anda banyak berharap kepada Allah?” Ia menjawab: “Dengan memutus harapan dari sebagian besar ‘amalku.

Diceritakan, bahwa Muḥammad bin Wasī‘ pernah berkumpul dengan Mālik bin Dīnār. Mālik berkata: “Tiada pilihan lain, selain taat kepada Allah atau neraka.” Muḥammad bin Wasī‘ menjawab: “Tiada ada lagi, kecuali rahmat Allah atau neraka.” Mālik bin Dīnār berkata: “Alangkah perlunya aku berguru kepada orang seperti anda

Abū Yazīd Busthāmī berkata: “Selama tiga puluh tahun aku merasa sulit beribadah. Aku pernah bermimpi ada orang yang berkata kepadaku: “Hai Abū Yazīd, gudang Allah telah penuh dengan ibadah. Jika anda menginginkan sampai kepada-Nya, hendaklah anda menampakkan kehinaan dan sangat membutuhkan anugerah dan rahmat Allah.

Aku juga pernah mendengar Ustādz Abū Ḥasan bercerita dari Ustādz Abū Fadhl yang berkata: “Aku tahu, taat yang aku kerjakan ini tidak diterima Allah s.w.t.” Mendengar itu ada yang bertanya: “Bagaimana bisa anda mengetahui, bahwa ‘amalan-‘amalan anda tidak diterima Allah?” Beliau menjawab: “Sebab aku tahu bagaimana harus taat, sehingga dikabulkan. Dan aku menyadari bahwa aku tidak memenuhi syarat-syarat untuk terkabulnya, maka aku tahu ‘amalku tidak diterima.” Ditanyakan lagi: “Jika demikian, mengapa anda kerjakan juga?” Beliau menjawab: “tentu saja aku berharap, siapa tahu suatu hari Allah berkenan memperbaiki diriku, sehingga nafsu ini menjadi terbiasa dengan ‘amal baik. Sehingga aku tidak lagi harus membiasakannya dari awal.”

Demikianlah keadaan para ulama besar, orang-orang ahli mujāhadah, dan ahli menghadapai perkara yang mengkhawatirkan. Maka, jadilah anda seperti yang dikatakan penyair:

Carilah untuk dirimu

teman selain yang menyebabkan putus asa

dan menyia-nyiakan semua harapan.

Jauh lamun mengejar pemimpin terhormat

lumpuhkan nafsu

usaha pengejaran jadi terbantu.

Dapatkan Notifikasi Hati Senang

Masukkan email Anda untuk mengetahui tentang artikel terbaru.

Klik untuk mendapatkan notifikasi push tentang artikel terbaru.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lewat ke baris perkakas