006-7 Tahapan Penoda & Perusak Ibadah | Minhaj-ul-Abidin

Dari Buku:

Minhajul ‘Abidin
Oleh: Imam al-Ghazali

Penerjemah: Moh. Syamsi Hasan
Penerbit: Penerbit Amalia Surabaya

Rangkaian Pos: 006 Tahapan Penoda & Perusak Ibadah | Minhaj-ul-Abidin
  1. 1.006-1 Tahapan Penoda & Perusak Ibadah | Minhaj-ul-Abidin
  2. 2.006-2 Tahapan Penoda & Perusak Ibadah | Minhaj-ul-Abidin
  3. 3.006-3 Tahapan Penoda & Perusak Ibadah | Minhaj-ul-Abidin
  4. 4.006-4 Tahapan Penoda & Perusak Ibadah | Minhaj-ul-Abidin
  5. 5.006-5 Tahapan Penoda & Perusak Ibadah | Minhaj-ul-Abidin
  6. 6.006-6 Tahapan Penoda & Perusak Ibadah | Minhaj-ul-Abidin
  7. 7.Anda Sedang Membaca: 006-7 Tahapan Penoda & Perusak Ibadah | Minhaj-ul-Abidin
  8. 8.006-8 Tahapan Penoda & Perusak Ibadah | Minhaj-ul-Abidin
  9. 9.006-9 Tahapan Penoda & Perusak Ibadah | Minhaj-ul-Abidin
  10. 10.006-10 Tahapan Penoda & Perusak Ibadah | Minhaj-ul-Abidin

(Pasal): Pada sisi lain, seorang raja besar, ketika mengizinkan rakyatnya menyampaikan hadiah kepadanya, tentu akan berdatangan menghadap kepadanya, para pemimpin, pembesar dan orang-orang kaya, masing-masing membawa beragam hadiah berupa permata, barang-barang simpanan berharga atau jenis barang yang paling bagus.

Dan seandainya juga ada seorang pedagang sayur datang dengan membawa seikat sayur, atau seorang desa membawa sekeranjang anggur yang harganya hanya beberapa rupiah, tetapi ia terus saja masuk ikut berdesakan menghadap raja di sela-sela orang-orang kaya, para pembesar dan para pemuka yang membawa berbagai hadiah istimewa dan sangat berharga, namun meskipun demikian sang raja mau menerima pedagang sayur dan petani anggur itu, bahkan memperhatikannya dengan pandangan menerima ridha, serta memerintahkan agar penjual sayur ini dan petani anggur itu diberi pakaian yang indah-indah dan dimuliakan. Apakah yang demikian ini bukan merupakan puncak karunia dan kemuliaan?

Selanjutnya, ketika orang fakir yang menghadiahkan sayur itu mengungkit-ungkit pemberiannya kepada sang raja dan mengagumi hadiahnya serta melupakan karunia sang raja, tidakkah orang semacam ini disebut sebagai orang gila yang sudah rusak akalnya, atau orang bodoh yang tidak bermoral karena ketololannya yang sangat besar.

Sekarang, adalah menjadi sebuah keharusan, ketika anda mengerjakan dua rakaat shalat malam karena Allah. Seusai shalat lakukan perenungan, betapa banyak orang-orang yang selalu istiqamah, para shiddiqin, orang-orang bertakwa yang mengerjakan shalat malam itu, yang tersebar di seluruh penjuru dunia, baik di darat, laut, dan di gunung-gunung dan di manapun mereka berada. Pula saat itu mereka hadir di depan pintu gerbang Allah, dengan dzikir melafalkan kalimat suci diiringi tetesan air mata, hati yang bersih, tulus ikhlas serta penuh ketakwaan.

Sementara shalat anda, meskipun anda mengerjakannya dengan bersungguh-sungguh, sebaik-baiknya dan keikhlasan yang anda usahakan, boleh jadi tidak layak dipersembahkan kepada Allah Yang Maha Agung. Bisa jadi persembahan anda itu tidak jelas terlihat, bila dibanding dengan ibadah-ibadah lain yang dipersembahkan di sana, di hadapan-Nya.

Bagaimana tidak mungkin? Sementara shalat yang anda persembahkan itu, anda melakukannya dengan hati yang lalai, bercampur dengan berbagai cacat, kondisi badan yang terlumuri najis dan dosa-dosa, serta lisan beletotan (kurang jelas, berantakan dan susah difahami), dengan berbagai macam maksiat dan omong kosong. Bagaimana bisa dikatakan layak dan patut, shalat yang demikian dipersembahkan ke hadhirat Allah, Tuhan Yang Maha Agung?

Guruku berkata: “Wahai orang yang berakal, renungkanlah apakah sudah patut shalat yang anda mempersembahkan ke langit, sebagaimana anda mengirimkan hidangan ke rumah orang-orang kaya?

Abū Bakar al-Warrāq berkata: “Tiada yang patut ketika anda selesai mengerjakan shalat melainkan seharusnya anda merasa malu dan rasa malu itu semestinya lebih besar daripada seorang wanita sehabis berzina.

Kemudian, Allah Yang Maha Pemurah, semata hanya karena kemurahan dan kemuliaan-Nya, berkenan menganggap besar kadar shalat dua rakaat itu dan berkenan memberi janji pahala besar bagi hamba-Nya. Anda bisa mengerjakan shalat itu pun karena petunjuk-Nya dan kemudahan yang diberikan oleh-Nya. Namun mengapa anda masih saja mengagumi dan membangga-banggakan ‘amal anda dan melupakan karunia-Nya?

Sungguh merupakan sebuah tindakan yang sangat mengherankan, hal semacam itu hampir-hampir tidak akan mungkin terjadi, kecuali dari orang bodoh yang sama sekali tidak mempunyai pikiran, atau dari orang lalai yang tidak lagi memiliki ingatan, atau dari orang yang hatinya mati, yang sama sekali tidak terlintas kehendak baik di dalamnya. Demikianlah, semoga Allah memberikan sebaik-baik kecukupan kepada kita, dengan anugerah dan kemuliaan-Nya.

 

(Pasal): Selanjutnya, bangun dan bangkitlah wahai saudaraku, dari tidur anda untuk menempuh tahapan dan tanjakan ini. Jika tidak, anda pasti merugi. Karena, tanjakan ini merupakan tahapan yang paling sulit dan berat, paling pahit, dan besar bahayanya. Sebab, semua buah dari tahapan demi tahapan yang telah berhasil anda lewati, pada akhirnya terbentur tahapan ini. Jika anda berhasil melampaui tahapan ini, tentu anda memperoleh keuntungan yang besar. Tetapi jika terjadi sebaliknya, maka usaha anda sia-sia, harapan menjadi hampa dan umur pun habis tiada guna.

Pada dasarnya, semua persoalan dalam tahapan ini, kiranya dapatlah disimpulkan pada tiga perkara berikut, yaitu:

1. Persoalan dalam tahap ini sangat rumit.

2. Kerugiannya sangat tinggi.

3. Kekhawatiran akan kecelakaannya begitu besar.

Mengapa tahapan ini begitu rumit dan sangat sulit? Sebab perjalanan riyā’ dan ‘ujub dalam menyusup ke dalam amal, sangat halus. Sehingga, hampir tidak ada yang menyadarinya, kecuali orang yang sangat alim dalam masalah agama, yang senantiasa waspada dan selalu terjaga mata hatinya. Sementara orang yang bodoh, suka main-main, pelupa dan senang tidur, ia tidak akan mengetahui jalannya riyā’ dan ‘ujub yang sangat halus ini.

Aku pernah mendengar sebagian ulama kita di kota Nīsyāpūr bercerita bahwa ‘Athā’ as-Sulamī pernah menenun kainnya dengan sebaik-baiknya dan serapi-rapinya. Setelah selesai, tenunan itu dibawanya ke pasar untuk ditawarkan dan dijual. Seorang pedagang kami menawar dengan harga sangat rendah, sambil mengatakan bahwa kain itu banyak cacatnya. Oleh ‘Athā’, kain diambil kembali lalu ia duduk tercenung sambil menangis tersedu-sedu. Melihat pemandangan itu, calon pembeli kain tersebut menyesal dan meminta maaf kepada ‘Athā’ serta bersedia membeli kain itu dengan harga berapa saja yang dikehendaki ‘Athā’. Tetapi ‘Athā’ menjawab: “Aku menangis bukan seperti yang ada dalam dugaan anda. Aku hanyalah seorang buruh tenun. Aku sudah bersungguh-sungguh dalam menenunnya, merapikan dan membaguskannya, sehingga aku menyangka tidak ada lagi cacatnya. Tetapi, setelah kuperlihatkan kepada yang ahli tenun, baru aku mengetahui cacatnya yang semula tidak aku ketahui. Lalu, bagaimana dengan ‘amal-‘amal kita ini, jika kelak di hari kiamat diajukan ke hadapan Allah, kemudian ternyata cacat dan kekurangannya begitu mencolok, sementara ketika di dunia kita tidak mengetahuinya.”

Sebagian orang-orang saleh berkata: “Pada suatu malam, di waktu sahur, aku berada di dalam kamar dekat jalan raya. Aku membaca surat Thāhā. Setelah selesai, aku tidur sejenak. Dalam tidurku itu, aku bermimpi ada seseorang turun dari langit dengan membawa lembaran. Kemudian lembaran itu dibuka di hadapanku. Aku lihat di dalamnya terdapat surat Thāhā yang baru saja aku baca. Di bawah tiap-tiap kalimat surat Thāhā, ada ketetapan sepuluh kebaikan, kecuali satu kalimat yang di bawahnya masih kosong. Aku pun bertanya: “Kalimat ini sudah kubaca, kenapa tidak ada pahalanya dan tidak diakui?” Orang itu menjawab: “Benar, kalimat itu sudah anda baca dan sudah pula kutulis. Tetapi aku mendengar ada panggilan dari arah ‘Arasy: “Hapuskan kalimat itu dan hapuskan pula pahalanya!” Maka aku pun menghapusnya.”

Dalam tidurku itu, aku menangis seraya bertanya: “Mengapa bisa demikian?” Orang itu menjawab: “Ketika anda membaca kalimat itu, ada orang lewat di jalan. Kemudian anda memperkeras suara dengan maksud riyā’ agar terdengar olehnya, sehingga hilanglah pahala kalimat itu.”

Adapun mengenai kerugian yang besar dalam tahapan ini, adalah karena ‘ujub dan riyā’ merupakan bahaya yang sangat besar, yang bisa terjadi sekejap saja, kadang-kadang dapat merusak ibadah yang telah dilakukan selama tujuh puluh tahun.

Aku katakan, hendaklah orang yang berakal sehat merenungkan kalam ini. Bukankah merupakan fitnah besar, orang yang berpayah-payah beribadah selama tujuh puluh tahun, tidak membuat permohonannya dikabulkan. Sementara di sisi lain merenung sesaat saja, ternyata perenungan itu, lebih utama menurut Allah dibanding ibadah tujuh puluh tahun? Maka meninggalkan perenungan semacam itu, tanpa ada keperluan lain, sungguh merupakan kerugian yang amat besar. Maka melalaikan perenungan sebentar saja, amatlah banyak kerugian yang ditanggungnya. Renungkanlah persoalan yang penting dan bernilai ini, dengan mengambil langkah-langkah strategis untuk meraih keberuntungan yang besar.

Dalam konteks ini, bagi orang yang memiliki kecerdasan dan waspada, tentu benar-benar memperhatikan dengan ketajaman penglihatan kema‘rifatannya terhadap persoalan yang sedemikian dalam dan penuh rahasia ini. Penjagaan dan pemeliharaan ‘amal merupakan faktor yang tidak kalah pentingnya dengan melakukan ‘amal itu sendiri.

Mereka berkata: “Faktor penentunya adalah kemurnian ‘amal bukan terletak pada kuantitasnya.” Mereka juga berkata: “Sebutir pertama lebih baik dan berharga dibanding dengan seribu butir kerikil.”

Sementara orang yang masih dangkal ilmu serta pikirannya dalam masalah ini, tentu tidak mengerti apa maknanya. Juga akan melalaikan berbagai cacat dan penyakit yang ada dalam hatinya. Mereka hanya sibuk memayahkan diri dengan rukuk, sujud, tidak makan, tidak minum dan sebagainya. Mereka terbujuk dengan banyaknya ‘amal tanpa memandang kepada karunia Allah serta kejernihan ibadahnya. Tidak ada gunanya onggokan barang yang tidak ada kualitasnya, tidak pula tiang yang tinggi, jika pondasinya rapuh.

Tidak ada yang mau berpikir dan mengetahui masalah ini, melainkan hanyalah orang-orang yang berilmu, orang-orang yang memiliki kewaskitaan, yang ma‘rifat kepada Allah. Semoga Allah melimpahkan rahmat, hidayah, kepada kita, berkat anugerah kemuliaan-Nya.

Sedangkan mengenai besarnya bahaya dalam tahapan ini, dapat dilihat dari berbagai sudut, salah satunya adalah bahwa sesungguhnya Tuhan yang kita sembah adalah Allah, Dia-lah Raja yang keagungan-Nya dan kebesaran-Nya tiada terbatas. Ia telah memberikan berbagai kenikmatan yang tidak terhitung banyak dan besarnya kepada kita. Sedangkan diri kita penuh dengan cacat terselubung, dengan segala sifat kehinaan dan cenderung distruktif yang sangat dikhawatirkan akan menjerumuskan.

Jika anda terseret oleh nafsu, terperosok ke dalam dosa, maka anda perlu keluar daripadanya, dengan melakukan amal yang baik dan bersih. Maka anda selamat dari aib dan nafsu yang senantiasa cenderung kepada keburukan dan selalu mengajak berbuat jahat. Sehingga ibadah anda pantas dipersembahkan kepada Tuhan semesta alam, Allah Yang Maha Agung, Maha Besar, Maha Pemurah. Dengan begitu ibadah anda akan diridhai dan diterima oleh-Nya. Jika tidak, maka anda akan kehilangan keuntungan yang besar, tidak seorang pun akan rela kehilangan keuntungan itu, bahkan bisa jadi anda menerima bencana besar yang tidak akan sanggup anda pikul, lantaran ‘amalan yang demikian itu. Sungguh, hal ini merupakan perkara besar yang sangat penting.

Dapatkan Notifikasi Hati Senang

Masukkan email Anda untuk mengetahui tentang artikel terbaru.

Klik untuk mendapatkan notifikasi push tentang artikel terbaru.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *