006-1 Tahapan Penoda & Perusak Ibadah | Minhaj-ul-Abidin

Dari Buku:

Minhajul ‘Abidin
Oleh: Imam al-Ghazali

Penerjemah: Moh. Syamsi Hasan
Penerbit: Penerbit Amalia Surabaya

Rangkaian Pos: 006 Tahapan Penoda & Perusak Ibadah | Minhaj-ul-Abidin
  1. 1.Anda Sedang Membaca: 006-1 Tahapan Penoda & Perusak Ibadah | Minhaj-ul-Abidin
  2. 2.006-2 Tahapan Penoda & Perusak Ibadah | Minhaj-ul-Abidin
  3. 3.006-3 Tahapan Penoda & Perusak Ibadah | Minhaj-ul-Abidin
  4. 4.006-4 Tahapan Penoda & Perusak Ibadah | Minhaj-ul-Abidin
  5. 5.006-5 Tahapan Penoda & Perusak Ibadah | Minhaj-ul-Abidin
  6. 6.006-6 Tahapan Penoda & Perusak Ibadah | Minhaj-ul-Abidin
  7. 7.006-7 Tahapan Penoda & Perusak Ibadah | Minhaj-ul-Abidin
  8. 8.006-8 Tahapan Penoda & Perusak Ibadah | Minhaj-ul-Abidin
  9. 9.006-9 Tahapan Penoda & Perusak Ibadah | Minhaj-ul-Abidin
  10. 10.006-10 Tahapan Penoda & Perusak Ibadah | Minhaj-ul-Abidin

BAB VI

TAHAPAN PENODA DAN PERUSAK IBADAH

 

Wahai saudaraku, selanjutnya – semoga Allah mengokohkan komitmen kita dan memberikan sebaik-baik petunjuk-Nya kepada kita – setelah jalan ibadah anda benar dan lurus serta istiqāmah dalam menjalaninya, maka menjaga ‘amal ibadah anda dari perkara yang bisa mengotori dan merusakkannya, menjadi keharusan bagi anda. Oleh sebab itu anda berkewajiban menunaikan dan membangun ibadah anda dengan tulus ikhlas, ingat akan karunia Allah dan menjauhi yang sebaliknya. Yang demikian itu, karena dua hal, yaitu:

Pertama: Karena di dalam ikhlas terdapat faedah dikabulkannya ‘amal oleh Allah dan memperoleh keberuntungan mendapatkan pahala dari Allah. Tanpa keikhlasan, ‘amal anda ditolak dan hilang semua pahala ‘amal anda atau sebagiannya. Atas dasar hadits masyhur yang diriwayatkan dari Nabi s.a.w., sesungguhnya Allah s.w.t. berfirman dalam hadits qudsi:

أَنَا أَغْنَى الْأَغَنِيَاءِ عَنِ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلاً فَأَشْرَكَ فِيْهِ غَيْرِيْ فَنَصِيْبِيْ لَهُ فَإِنِّيْ لاَ أَقْبَلُ إِلاَّ مَا كَانَ لِيْ خَالِصًا.

Artinya:

Aku paling tidak butuh sekutu. Baranga siapa melakukan suatu ‘amal, lalu dalam ber‘amal itu ia menyekutukan dengan selain-Ku, maka berarti bagian-Ku untuk sekutu itu. Sesungguhnya, aku tidak akan menerima selain ‘amal yang dilakukan secara ikhlas hanya untuk-Ku.

Ada yang mengatakan, bahwa ketika hamba itu meminta pahala ‘amalnya, pada hari kiamat kelak, Allah s.w.t. menyatakan: “Apakah belum diperluas posisi dan kedudukan bagi anda? Apakah anda belum dijadikan sebagai pemimpin di dunia? Apakah tidak dimurahkan perniagaan anda? Dan belumkah anda dimuliakan?

Apa yang telah kusebutkan dan yang semisalnya merupakan perkara yang mengkhawatirkan dan mengandung risiko yang sangat berbahaya.

Aku katakan, di antara bahaya riyā’ adalah dipermalukan dengan terbukanya dua ‘aib dan tertimpa dua musibah.

Adapun tersiarnya dua ‘aib yang mempermalukan itu, ialah:

1. Terbukannya rahasia (‘aib), dipermalukan dan dicela di hadapan para malaikat. Seperti diriwayatkan, bahwa ketika malaikat naik ke langit membawa ‘amal seorang hamba dengan bangga, ternyata Allah s.w.t. berfirman:

رُدُّوْهُ إِلَىَ سِجِّيْنِ فَإِنَّهُ لَمْ يُرِدْنِيْ

Artinya:

Lemparkan ‘amalnya ke neraka Sijjīn, karena ia ber‘amal tidak menghendaki Aku.”

Maka, dengan perlakukan terhadap ‘amalnya itu ia menjadi dipermalukan di hadapan para malaikat.

2. Terbukanya ‘aib secara terang-terangan, di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat kelak. Diriwayatakan dari Nabi s.a.w., bahwa beliau bersabda:

إِنَّ الْمُرَائِى يُنَادَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِأَرْبَعَةِ أَسْمَاءَ: يَا كَافِرُ يَا فَاجِرُ يَا غَادِرُ يَا خَاسِرُ ضُلَّ سَعْيُكَ وَ بَطَلَ أَجْرُكَ فَلاَ خَلاَقَ لَكَ الْيَوْمَ الْتَمِسِ الأَجْرَ مِمَّنْ كُنْتَ تَعْمَلُ لَهُ يَا مُخَادِعُ

Artinya:

Orang yang riya’, kelak pada hari kiamat akan dipanggil dengan empat nama: Hai kafir! Hai orang durhaka! Hai penipu! Hai orang yang merugi! ‘Amal anda adalah sesat dan pahala anda batal. Carilah pahala dari orang yang baginya anda ber‘amal, hai pembohong!

Diriwayatkan, kelak pada hari kiamat akan ada panggilan yang terdengar oleh seluruh makhluk: “Mana orang yang dulu beribadah karena manusia? Ambillah pahala anda dari orang, yang baginya anda ber‘amal. Sebab, Aku tidak akan menerima ‘amal yang bercampur dengan sesuatu.”

Adapun dua musibah itu, ialah:

1. Tidak dapat masuk surga. Sebagaimana diterangkan dalam hadits Nabi s.a.w.:

إِنَّ الْجَنَّةَ تَكَلَّمَتْ وَ قَالَتْ: أَنَا حَرَامٌ عَلَى كُلِّ بَخِيْلٍ وَ مُرَاءٍ

Artinya:

Sesungguhnya, surga akan berbicara dan berkata: Aku haram bagi orang yang bakhil dan orang yang riya’.

Hadits ini mengandung dua makna. Pertama, yang dimaksud orang bakhil di sini adalah bakhil dalam mengucapkan sebaik-baik ucapan, yaitu: Lā ilāha illallāh muḥammad-ur-rasūlullāh (Tiada tuhan selain Allah, Nabi Muḥammad adalah utusan Allah). Riyā’ semacam ini adalah yang terkeji, dan orang yang melakukan riyā’ ini dia adalah munafik yang melakukan riyā’ dengan iman dan ketauhidannya.

Makna kedua, adalah orang yang tidak mau berhenti dari sifat bakhil dan riyā’, serta tidak menjaga diri. Maka, orang semacam ini, akan mendapatkan dua bahaya:

A. Pada saatnya akan disusul oleh kekejiannya, sehingga terjerumus ke dalam kekafiran, dan tidak mengdapatkan surga sama sekali.

B. Tercabutnya iman, yang menyebabkannya masuk ke dalam neraka.

Kita memohon perlindungan kepada Allah dari kerasnya kemurkaan-Nya.

2. Masuk neraka. Hal ini, karena adanya hadits yang diriwayatkan dari Abū Hurairah r.a. bahwa Nabi s.a.w. bersabda:

أًوَّلُ مَنْ يُدْعَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ رَجُلٌ قَدْ جَمَعَ الْقُرْآنَ وَ رَجُلٌ قَدْ قَاتَلَ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ وَ رَجُلٌ كَثِيْرُ الْمَالِ فَيَقُوْلُ اللهُ تَعَالَى لِلْقَارِئِ أَلَمْ أُعَلِّمْكَ مَا أَنْزَلْتُ عَلَى رَسُوْلِيْ؟ فَيَقُوْلُ: بَلَى يَا رَبِّ. فَيَقُوْلُ: مَاذَا عَمِلْتَ فِيْمَا عَلِمْتَ؟ فَيَقُوْلُ: يَا رَبِّ قُمْتُ بِهِ آنَاءَ اللَّيْلِ وَ أَطْرَافَ النَّهَارِ. فَيَقُوْلُ اللهُ: كَذَبْتَ وَ تَقُوْلُ الْمَلاَئِكَةُ كَذَبْتَ. فَيَقُوْلُ اللهُ سْبْحَانَهُ: بَلْ أَرَدْتَ أَنْ يُقَالُ فُلاَنٌ قَارِئٌ، فَقَدْ قِيْلَ ذلِكَ. وَ يُؤْتِيْ بِصَاحِبِ الْمَالِ فَيَقُوْلُ لَهُ: أَلَم أُوَسِّعْ عَلَيْكَ حَتَّى لَمْ أَدَعْكَ تَحْتَاجُ إِلَى أَحَدٍ فَيَقُوْلُ: بَلَى يَا رَبِّ. فَيَقُوْلُ: فَمَا عَمِلْتَ فِيْمَا آتَيْتُكَ؟ فَيَقُوْلَ: كُنْتُ أَصِلُ الرَّحِمَ وَ أَتَصَدَّقَ فَيَقُوْلُ اللهُ وَ يُؤْتَى بِالَّذِيْ قُتِلَ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ فَيَقُوْلُ اللهِ: مَا فَعَلْتَ؟ فَيَقُوْلُ: أُمِرْتُ بِالْجِهَادِ فِيْ سَبِيْلِكَ فَقَاتَلْتُ حَتَّى قُتِلْتُ فَيَقُوْلُ اللهُ تَعَالَى: كَذَبْتَ. وَ يَقُوْلُ الْمَلاَئِكَةُ كَذَبْتَ وَ يَقُوْلُ اللهُ: بَلْ أَرَدْتَ أَنْ يُقَالَ فُلاَنٌ جَرِيْءٌ وَ شُجَاعٌ فَقَدْ قِيْلَ ذلِكَ.

Artinya:

Orang yang pertama kali dipanggil pada hari kiamat adalah orang yang hafal al-Qur’ān; lalu orang yang terbunuh dalam perang sabilillah; dan orang yang memiliki banyak harta (kaya). Kepada orang yang hafal al-Qur’ān, Allah berfirman: “Tidakkah Aku telah mengajarkan kepada anda tentang apa yang Aku turunkan kepada utusan-Ku?” Ia menjawab: “Benar, ya Tuhanku.” Allah berfirman: “Apakah yang anda perbuat dengan ilmu yang anda miliki? Ia menjawab: “Ya Tuhanku, saya menunaikan (membaca) al-Qur’ān itu di tengah malam dan di ujung siang.” Allah berfirman: “Anda berdusta”. Para malaikat juga berkata: “Kamu berdusta”. Lalu Allah berfirman: “Tidak, sebenarnya anda membacanya dengan maksud agar dikatakan: “Si Fulan ahli baca al-Qur’ān.” Dan memang telah dikatakan demikian itu.” Berikutnya, giliran orang kaya dihadapkan kepada Allah, lalu kepadanya Allah berfirman: “Tidakkah Aku telah memberikan kekayaan kepada anda, hingga anda tidak butuh lagi kepada orang lain?” Ia menjawab: “Benar, ya Tuhanku.” Lalu Allah berfirman: “Anda gunakan untuk apa kekayaan yang Aku berikan?” Ia menjawab: “Saya gunakan untuk menyambung tali persaudaraan dan bersedekah.” Allah berfirman: “Anda berdusta.” Dan para malaikat juga berkata: “Anda berdusta.” Lalu Allah berfirman: “Tidak, tetapi anda ingin dikatakan sebagai orang yang dermawan.” Selanjutnya, giliran orang yang terbunuh dalam perang fi sabilillah dihadapkan kepada Allah. Lalu Allah berfirman: “Apa yang telah anda perbuat?” Ia menwajab: “Saya diperintahkan berperang di jalan-Mu, maka sayapun ikut berperang, hingga saya terbunuh.” Allah berfirman: “Anda berdusta.” Dan para malaikat juga berkata: “Anda berdusta”. Kemudian Allah berfirman: “Tidak, tetapi anda cuma ingin agar dikatakan: “Si Fulan itu pemberani.” Dan yang demikian itu, memang telah terjadi.

Abū Hurairah berkata: “Kemudian, Rasūlullāh s.a.w. menepuk lututku sambil bersabda:

يَا أَبَا هُرَيْرَةَ أُولئِكَ أَوَّلُ خَلْقِ اللهِ تُشْعَرُ بِهِمْ نَارُ جَهَنَّمَ

Artinya:

Hai Abū Hurairah, mereka itulah makhluk Allah yang pertama kali dibakar neraka Jahannam.

Dari Ibnu ‘Abbās r.a., ia berkata: “Aku pernah mendengar Rasūlullāh s.a.w. bersabda:

إِنَّ النَّارَ وَ أَهْلُهَا يَعِجُّوْنَ مِنْ أَهْلِ الرِّيَاءِ قِيْلَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ وَ كَيْفَ تَعِجُّ النَّارُ قَالَ: مِنْ حَرِّ النَّارِ الَّتِيْ يُعَذِّبُونَ بِهَا

Artinya:

Sesungguhnya neraka dan penduduknya menjerit-jerit karena orang ahli riyā’. Ditanyakan: “Ya Rasūlullāh, bagaimana jeritan neraka itu?” beliau menjawab: “Karena panasnya api neraka yang digunakan untuk menyiksa mereka.

Terbukanya ‘aib yang memalukan ini, sebagai pelajaran bagi orang-orang yang berpikir. Allah adalah Tuhan Pemberi pertolongan dan hidāyah yang sebaik-baiknya.

Dapatkan Notifikasi Hati Senang

Masukkan email Anda untuk mengetahui tentang artikel terbaru.

Klik untuk mendapatkan notifikasi push tentang artikel terbaru.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *