Hati Senang

004 Perihal Wudhu’ – Kifayat-ul-Akhyar (Bagian 3)

KIFĀYAT-UL-AKHYĀR
(Kelengkapan Orang Shalih)
Oleh: Imam Taqiyuddin Abu Bakar Bin Muhamamd al-Husaini


Bahagian Pertama
Penerjemah: K.H. Syarifuddin Anwar, K.H. Mishbah Mushthafa
Penerbit: BINA IMAN

Rangkaian Pos: 004 Perihal Wudhu' - Kifayat-ul-Akhyar
  1. 1.004 Perihal Wudhu’ – Kifayat-ul-Akhyar (Bagian 1)
  2. 2.004 Perihal Wudhu’ – Kifayat-ul-Akhyar (Bagian 2)
  3. 3.Anda Sedang Membaca: 004 Perihal Wudhu’ – Kifayat-ul-Akhyar (Bagian 3)
Waktu baca : ≈ 4 menit

Berkata Syaikh Abū Syuja‘:

(وَ الْخَامِسُ: غُسْلُ الرِّجْلَيْنِ مَعَ الْكَعْبَيْنِ).

[Kelima: membasuh kedua kaki beserta mata kakinya].

Sebab firman Allah s.w.t.:

وَ أَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ.

Dan hendaklah kamu membasuh kedua kakimu sampai dengan kedua mata kaki.

(al-Mā’idah: 6).

Kalau menurut qirā’ah yang membaca nashab lafazh arjula, kewajiban membasuh kaki sudah nyata. Takdirnya: Waghsilu arjulakan. Kalau menurut qirā’ah yang membaca jarr “arjulikum”, maka sunnat Rasūlullāh telah menunjukkan kewajiban membasuh. Andaikata mengusap kaki diperbolehkan, tentu Rasūlullāh s.a.w. sudah menerangkan, walaupun hanya sekali, sebagaimana yang telah dilakukan oleh Nabi pada selain membasuh kedua kaki ini.

Imām Nawawī di dalam Syaraḥ Muslim berkata: Para Ulama sudah sepakat mengenai apa yang dimaksud dengan kedua mata kaki, yaitu dua tulang yang tampak menonjol di antara betis dan telapak kaki, dan pada tiap-tiap sebelah kaki terdapat dua mata kaki. Orang-orang dari golongan Rāfidhah telah menyimpang dari memaksudkan ayat ini, semoga Allah ta‘ālā mengeji (to degrade; despise; revile; abuse – dari kata: keji) pendapat golongan Rāfidhah itu. Mereka mengatakan: Pada setiap sebelah kaki terdapat hanya satu mata kaki, yaitu tulang yang terdapat pada punggung telapak kaki. Demikian ini telah diberitakan dari Muḥammad bin Ḥasan. Akan tetapi ini tidak benar. Ḥujjah yang digunakan oleh para Ulama yang menetapkan bahwa pada setiap kaki terdapat dua mata kaki, ialah apa yang telah mereka nukil dari Ulama Ahli Lughat (bahasa) dan Ahli ilmu Isytiqāq. Hadits shaḥīḥ yang kita bahas di sini juga telah menunjukkan bahwa para setiap sebelah kaki terdapat dua mata kaki. Sebab di dalam Hadits tersebut ada kata-kata:

فَغَسَلَ رِجلَهُ الْيُمْنَى إِلَى الْكَعْبَيْنِ، وَ رِجْلَهُ الْيُسْرَى كَذَالِكَ.

Lalu beliau membasuh kakinya yang kanan hingga kedua mata kaki dan begitu juga beliau membasuh kakinya yang kiri.

Jadi Hadits ini telah menetapkan dua mata kaki pada setiap kaki.

Aku hendak katakan: Haditsnya an-Nu‘mān bin Basyīr r.a. sudah jelas mengandung arti bahwa setiap kaki terdapat dua mata kaki. An-Nu‘mān berkata: Rasūlullāh s.a.w. mengatakan kepada kita:

أَقِيْمُوْا صُفُوْفَكُمْ، فَرَأَيْتُ الرَّجُلَ مِنَّا يُلْصِقُ مِنْكَبَهُ بِمِنْكَبِ صَاحِبِهِ وَ كَعْبَهُ بِكَعْبِهِ.

Rapikan barisanmu! Lalu aku melihat setiap seorang di antara kita merapatkan bahunya pada bahu temannya, dan merapatkan mata kakinya pada mata kaki temannya.

(Riwayat Bukhārī).

Sudah maklum bahwa yang dimaksud Hadis tersebut ialah mata kaki yang berupa tulang persendian kaki. Dan tidak cocok, kalau mata kaki di situ adalah mata kaki yang terdapat pada punggung telapak kaki. Wallāhu a‘lam.

Dan ketahuilah, bahwa membasuh kaki sampai dengan kedua mata kaki itu wajib, jika orangnya tidak bermaksud mengusap muzah (semacam sepatu – khuffain)). Bacaan jarr pada lafazh arjulikum, itu barangkali diperuntukkan bagi orang yang mengusap kedua muzah-nya. Orang yang berwudhu’ wajib membasuh seluruh kedua kakinya dengan air. Dan air tersebut juga harus mereka ke semua kulit dan rambut, sehingga wajib pula membasuh kulit yang pecah-pecah.

Andaikata ada orang meletakkan lilin atau pacar di celah-celah kulit kaki yang pecah-pecah itu, maka wudhū’nya tidak sah, dan shalatnya juga tidak sah. Jadi lilin dan pacar itu harus dihilangkan dahulu. Demikian juga harus menghilangkan tahi nyamuk manakala orang itu bangun dari tidurnya. Maka dari itu, hendaklah orang mau menjaga hal-hal yang seumpama tahi nyamuk tersebut. Jadi andaikata orang itu berwudhū’ lalu lupa menghilangkan tahi nyamuk itu, dan baru diketahuinya sesudah berwudhū’, maka ia wajib mencuci tempat tahi itu dan kembali mencuci anggota sesudahnya lagi. Dan wajib pula ia mengulangi shalatnya. Wallāhu a‘lam.

 

Cabang Permasalahan

Andaikata ada orang yang terkumpul padanya hadats kecil, yaitu wudhū’, dan hadats besar, yaitu mandi, maka ada khilāf yang tersebar di antara para Ulama, dan qaul yang shaḥīḥ dan sudah difatwakan, cukup membasuh (mandi) seluruh tubuhnya dengan niat mandi. Tidak wajib mengumpulkan wudhū’nya dan mandinya, dan tidak pula wajib tertib dalam wudhū’ dan mandinya.

 

Berkata Syaikh Abū Syuja‘:

(وَ التَّرْتِيْبُ عَلَى مَا ذَكَرْنَاهُ).

[Keenam: Ialah tertib].

Kefardhuan tertib ini juga diambil dari ayat al-Qur’ān, yaitu apabila kita katakan wāw-nya lafazh yang di-‘athaf-kan tersebut bermakna tertib. Dan apabila tidak, maka kefardhuan tertib diambil dari perbuatan dan sabda Rasūlullāh s.a.w. Sebab tidak pernah terdengar oleh kita, melainkan wudhū’nya Nabi pasti dengan cara tertib.

Selain daripada itu, Rasūlullāh s.a.w. pernah bersabda seusainya dari wudhū’:

هذَا وُضُوْءٌ لَا يَقْبَلُ اللهُ الصَّلَاةَ إِلَّا بِهِ.

Inilah wudhu’, yang mana Allah tidak akan menerima shalat seseorang kecuali dengan wudhu’ yang seperti ini.”

(Rawayat Bukhārī).

Lain daripada itu, wudhū’ itu termasuk ibadah yang apabila dalam keadaan ‘udzur, dikembalikan pada separuhnya (yaitu tayammum). Jadi dalam wudhū’, diwajibkan tertib sebagaimana dalam shalat. Maka seandainya orang yang berwudhū’ lupa menjalankan tertib. Wudhū’nya tidak sah, sebagaimana halnya kalau orang lupa membaca al-Fātiḥah di dalam shalat atau lupa bahwa ada najis pada tubuhnya.

 

Cabang Permasalahan

Seseorang yang kelaminnya selalu mengeluarkan sesuatu yang basah, dan yang basah itu mungkin saja air mani dan mungkin saja air madzi, dan orang itu tidak tahu persis apa itu mani atau madzi. Apa yang menjadi kewajiban orang tersebut? Ada khilāf yang tersebar di antara para ulama. Khilāf ini sudah saya tulis di dalam salah satu kitab karanganku, lebih dari tiga belas qaul; dari qaul yang rājiḥ di dalam kitabnya Imām Rāfi‘ī dan kitab ar-Raudhah, orang tersebut boleh memilih. Memilih mani lalu mandi, dan boleh memilih madzi lalu mencuci cairan yang terkena pada itu menganggap madzi, dan kemudian berwudhū’, berarti di sudah memenuhi sesuatu yang membutuhkan wudhū’. Jadi hadats kecilnya hilang, sementara hadats besarnya masih tetap diragukan. Padahal asalnya, hadats besar tidak ada. Demikian juga apabila orang tersebut mandi.

Ada yang mengatakan: Orangnya wajib berhati-hati. Sebab orang tersebut yakin dirinya menanggung salah satu dari dua hadats dan dia tidak boleh lepas dari tanggungan itu kecuali dengan yakin pula, yaitu dengan berhati-hati. Seperti, kalau orang itu mempunyai tanggungan satu shalat di antara dua shalat, dan dia tidak mengetahui dengan nyata shalat yang mana satu yang menjadi tanggungannya, orang yang demikian wajib mengerjakan kedua-dua shalat sekali. Qaul ini kuat, dan diunggulkan oleh Imām Nawawī raḥimahullāh di dalam syarah kitab at-Tanbīh dan kitab Ru’ūs-ul-Masā’īl karangan beliau. Wallāhu a‘lam.

Bagikan:

Tinggalkan Pesan

avatar
Lewat ke baris perkakas