Hati Senang

004 Perihal Wudhu’ – Kifayat-ul-Akhyar (Bagian 2)

KIFĀYAT-UL-AKHYĀR
(Kelengkapan Orang Shalih)
Oleh: Imam Taqiyuddin Abu Bakar Bin Muhamamd al-Husaini


Bahagian Pertama
Penerjemah: K.H. Syarifuddin Anwar, K.H. Mishbah Mushthafa
Penerbit: BINA IMAN

Rangkaian Pos: 004 Perihal Wudhu' - Kifayat-ul-Akhyar
  1. 1.004 Perihal Wudhu’ – Kifayat-ul-Akhyar (Bagian 1)
  2. 2.Anda Sedang Membaca: 004 Perihal Wudhu’ – Kifayat-ul-Akhyar (Bagian 2)
  3. 3.004 Perihal Wudhu’ – Kifayat-ul-Akhyar (Bagian 3)

Berkata Syaikh Abū Syuja‘:

(وَ غَسْلُ الْوَجْهِ).

[Kedua: Membasuh muka (wajah)].

Membasuh muka adalah permulaan rukun wudhū’ yang jelas (tampak di mata). Allah s.w.t. berfirman:

إِذَا قُلْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوْا وُجُوْهَكُمْ.

Apabila kamu hendak mengerjakan shalat, basuhlah mukamu.

(al-Mā’idah: 6).

Dalam membasuh muka, diwajibkan meratakan air. Batas-batas muka ialah mulai dari permulaan bidang dahi hingga hujung dagu untuk ukuran panjang muka. Dan mulai dari telinga yang satu sampai ke telinga yang lain untuk ukuran lebarnya. Tempat mengerik rambut yang ada di kanan kiri dahi tidak termasuk muka. Kedua pelipis tidak termasuk muka menurut qaul yang shaḥīḥ, tersebut di dalam Syaraḥ al-Raudhah. Namun Imām Rāfi‘ī di dalam kitab al-Muḥarrar me-rājiḥ-kan adanya pelipis dua itu termasuk bagian dari muka (wajah).

Kemudian, rambut yang tumbuh pada wajah itu ada dua macam:

  1. Rambut yang tidak keluar dari perbatasan wajah.
  2. Rambut yang keluar dari perbatasan wajah.

Rambut yang tidak keluar dari batas muka, ada kalanya yang langka tebalnya dan ada kalanya yang tidak langka tebalnya. Rambut yang langka tebalnya seperti rambut alis (kanan dan kiri), bulu mata, kumis (kanan dan kiri), dan rambut yang tumbuh pada kedua belah pipi bagian tepi, yaitu yang berhadapan dengan kedua belah telinga, antara pelipis dan rambut cambang. Rambut-rambut tersebut wajib dibasuh semua, luar dan dalamnya dengan menyertakan kulit yang di bawahnya, walaupun lebat. Sebab semua rambut tersebut termasuk bagian dari wajah (muka).

Rambut cambang, jika jarang (tidak lebat), kedua-duanya wajib dibasuh, luar dan dalamnya beserta kulitnya. Dan jika tebal (lebat), wajib dibasuh luarnya saja menurut qaul yang azhhar.

Andaikata sebagian dari rambut cambang itu jarang dan sebagian lagi tebal, menurut qaul yang rājiḥ, rambut yang jarang hukumnya sama seperti hukum rambut yang semuanya jarang, dan rambut yang tebal hukumnya sama seperti hukum rambut yang semuanya lebat. Ukuran mengenai tebal dan jarangnya rambut ada khilāf. Yang shaḥīḥ yaitu: Rambut jarang ialah rambut yang kulitnya dapat dilihat dalam majlis omong-omong (perbicaraan). Rambut tebal ialah rambut yang tiada kelihatan oleh pandangan mata pada kulit yang ditumbuhinya.

Macam rambut yang kedua ialah rambut yang keluar dari batas wajah, yaitu rambut jenggot, rambut cambang, rambut kepala, rambut yang tumbuh di tepi pipi (di hadapan telinga), dan rambut pucuknya kumis, yang memanjang maupun yang melebar. Menurut qaul yang rājiḥ, wajib membasuh luarnya saja. Sebab dengan membasuh luarnya saja sudah boleh digunakan untuk bertatap muka dengan orang lain. Ada yang mengatakan: Tidak diwajibkan membasuhnya, sebab rambut-rambut tersebut sudah keluar dari batas-batas wajah.

Imām Nawawī di dalam tambahannya pada kitab ar-Raudhah berkata: Wajib membasuh sebagian dari kepala, leher dan bawah dagu bersamaan dengan membasuh mukanya. Maksudnya agar nyata pemerataan airnya. Andaikata seseorang dipotong hidungnya atau mulutnya, ia wajib membasuh apa yang kelihatan dari bekas pemotongan itu, sama ada dalam berwudhu’ ataupun mandinya, menurut qaul yang shaḥīḥ. Sebab apa yang tampak itu telah berubah menjadi bagian luarnya wajah. Juga wajib membasuh apa yang tampak kemerah-merahan pada kedua bibirnya. Dan di-sunnat-kan hendaknya mengambil air untuk wudhū’ dengan kedua-dua belah tangan.

 

Berkata Syaikh Abū Syuja‘:

(وَ غَسْلُ الْيَدَيْنِ مَعَ الْمِرْفَقَيْنِ).

[Ketiga: Membasuh kedua tangan beserta sikunya].

Sebab firman Allah ta‘ālā:

وَ أَيْدِيْكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ.

Dan hendaknya kamu membasuh kedua tanganmu beserta sikunya.”

(al-Mā’idah: 6).

Lafazh ilā itu ada yang menggunakan arti mushāḥabah (serta), seperti lafazh ilā yang terdapat di dalam firman Allah:

مَنْ أَنْصَارِيْ إِلَى اللهِ.

Siapakah yang akan menjadi para penolongku beserta Allah.”

(Āli ‘Imrān: 52).

Dalil bahwa ilā di atas menggunakan arti mushāḥabah (serta), yaitu Hadits yang diriwayatkan dari sahabat Jābir r.a. Beliau berkata:

رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ (ص) يُدِيْرُ الْمَاءَ عَلَى الْمَرَافِقِ.

Aku pernah melihat Rasūlullāh s.a.w. memutar-mutarkan air pada siku tangannya.

Hadits ini diceritakan oleh ad-Dāraquthnī dan al-Baihaqī, dan kedua orang ini tidak menganggap dha‘īf pada Hadits di atas. Dan diberitakan bahwa Rasūlullāh s.a.w. pernah memutar-mutarkan air pada siku tangannya dan bersabda: Inilah wudhū’, yang mana Allah tidak akan menerima shalat seseorang kecuali dengan wudhū’ yang seperti ini.

Orang yang berwudhū’ wajib meratakan air ke seluruh rambut dan kulit, sehingga sekiranya di bawah kukunya terdapat kotoran yang boleh menghalang-halangi sampai air pada kulit itu, maka wudhū’nya tidak sah. Dan shalatnya menjadi batal karenanya. Wallāhu a‘lam.

 

Berkata Syaikh Abū Syuja‘:

(وَ مَسْحُ بَعْضِ الرَّأْسِ).

[Keempat: Mengusap sebagian kepala].

Sebab firman Allah s.w.t.:

وَ امْسَحُوْا بِرُؤُسِكُمْ.

Dan usaplah kepalamu.”

(al-Mā’idah: 6).

Yang dimaksud ayat ini, bukannya mengusap keseluruhan kepala. Sebab ada sebuah Hadits yang diberitakan dari sahabat al-Mughīrah r.a. bahwa Rasūlullāh s.a.w. pernah berwudhu’ dan mengusap ubun-ubunnya serta sorban dan kedua muzah-nya (semacam sepatu tinggi). Hadits ini diriwayatkan oleh Imām Muslim.

Lain daripada itu, orang yang melalukan tangannya di atas kepala anak yatim, boleh juga dikatakan: Mengusap kepalanya.

Oleh karena itu, yang menjadi kewajiban dalam berwudhū’ ialah apa saja yang boleh disebut masḥi (mengusap), walaupun hanya sebagian dari sehelai rambut atau sekedar tempat rambut dari kulit kepalanya. Adapun syaratnya rambut yang diusap, haruslah rambut yang tidak keluar dari batas kepala seandainya orang tersebut memanjangkan rambutnya karena keriting.

Menurut qaul yang shaḥīḥ, tidak mengapa andaikata rambut yang dipanjangkan itu melewati batas kepala. Andaikata seseorang itu membasuh kepala sebagai ganti mengusap kepala, atau memercikkan air di kepala tadi tetapi airnya tidak mengalir, atau meletakkan tangannya yang sudah ada airnya tetapi tidak menjalankan tangannya, maka mencukupilah wudhū’nya menurut qaul yang shaḥīḥ.

Imām Nawawī di dalam tambahannya pada kitab ar-Raudhah berkata: Mengusap kepala tidak semestinya menggunakan tangan. Akan tetapi boleh menggunakan kayu atau sobekan kain dan lain-lain. Andaikata orang lain yang mengusap kepalanya, sudah cukup. Orang perempuan dalam masalah mengusap kepala ini, sama dengan orang lelaki.

Langganan buletin Hati Senang

Masukkan email Anda untuk mengetahui tentang artikel terbaru di hatisenang.com

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lewat ke baris perkakas