001 Syarah Hikmah Ke-1 – Syarah al-Hikam – KH. Sholeh Darat

شَرْحَ
AL-HIKAM
Oleh: KH. SHOLEH DARAT
Maha Guru Para Ulama Besar Nusantara
(1820-1903 M.)

Penerjemah: Miftahul Ulum, Agustin Mufarohah
Penerbit: Penerbit Sahifa

Syarah al-Hikam

KH. Sholeh Darat
[Ditulis tahun 1868]

الحمد لله رب العالمين، و الصلاة و السلام على سيدنا و مولانا محمد سيد الأنبياء و المرسلين، و على آله و أصحابه أجمعين. أما بعد.

Kitab ini adalah kitab ringkasan dari Matan al-Ḥikam karya Syaikh al-‘Allāmah al-‘Ārif Billāh Syaikh Aḥmad bin ‘Athā’illāh. Saya sengaja meringkas sekira 2/3 (137 hikmah dari 264 hikmah) dari kitab aslinya supaya dapat mempermudah masyarakat awam untuk memahaminya. Kitab ini saya terjemahkan ke dalam bahasa Jawa agar lebih mempermudah pemahaman orang yang mempelajarinya. Penerjemahan ini dimulai pada tahun 1289 H. Semoga bermanfaat bagi segenap kaum muslimin.

 

SYARAH HIKMAH KE-1

 

مِنْ عَلَامَاتِ الْاِعْتِمَادِ عَلَى الْعَمَلِ نُقْصَانُ الرَّجَاءِ عِنْدَ وُجُوْدِ الزَّلَلِ

Di antara tanda-tanda bahwa seseorang bertumpu pada kekuatan amal usahanya ialah kurangnya pengharapan (terhadap rahmat anugerah Allah) ketika terjadi padanya suatu kesalahan atau dosa.”

Ketahuilah wahai Sālik (11), bahwasanya wajib bagi orang mu’min yang shādiq (22) untuk berpegang teguh pada Allah s.w.t. semata. Yakni, jangan sekali-kali kamu bersandar diri pada selain Allah. Ilmu dan amal ibadahmu itu tidak bisa dijadikan pengharapan. Jangan pernah sekali-kali membuat keyakinan di dalam hatimu bahwa amal ibadahmu bisa memasukkanmu ke dalam surga, menyelamatkan dari api neraka, serta menjadikan wushūl (sampai) kepada Allah. Hal itu tidak bisa benar-benar tidak bisa.

Apakah kamu tidak mengetahui kisah Pendeta Bal‘am bin Ba‘ura dan Qārūn yang keduanya adalah ahli ibadah? Qārūn merupakan ulama Bani Isrā’īl, tetapi saat menghadapi ajal keduanya mati dalam keadaan kafir. Apakah kamu tidak mengetahui kisah Sayyidah ‘Ā’isyah binti Muzāhim, walaupun beliau menjadi istri Fir‘aun, beliau adalah kekasih Allah s.w.t. bahkan beliau akan menjadi istri Rasūlullāh s.a.w. besok di surga.

Akhirnya, baik iman ataupun kufur, masuk surga atau masuk neraka, itu semua adalah berkat fadhal (karunia) dan keadilan dari Allah s.w.t. semata. Sama sekali bukan dikarenakan ketaatan dan kemaksiatan setiap insan. Yang benar adalah, ketaatan dan kemaksiatan itu menjadi sebab dan menjadi tanda bagi orang yang akan masuk surga atau masuk neraka, tetapi kesemuanya tidak dapat memberi akibat atau dampak.

Wahai murīd (33), ambillah ibarat dari kisah putra Nabi Nūḥ a.s. dan kisah istri Nabi Lūth a.s. yang keduanya mati dalam keadaan kafir. Tegasnya, orang tua tidak bisa menjamin anaknya, suami tidak bisa menolong istrinya dari siksa Allah s.w.t. walaupun keduanya adalah seorang nabi. Bahkan, wajib baginya berpegang teguh kepada Allah s.w.t., bukan kepada yang lain.

Saat kamu, hai orang yang berakal, sudah mengetahuinya, maka bersandarlah kamu pada Allah s.w.t. semata dalam segala keadaan, bahkan dalam urusan rezeki sekali pun. Jangan sekali-kali hatimu merasa ada sesuatu selain Dia yang dapat memberi manfaat atau memberi bahaya kepadamu, dan tentu ini tidak akan terjadi.

Dari sini, Syaikh Ibnu ‘Athā’illāh menyebutkan tanda-tanda orang yang menyandarkan diri kepada selain Allah s.w.t. melalui perkataan beliau berikut ini:

مِنْ عَلَامَاتِ الْاِعْتِمَادِ عَلَى الْعَمَلِ نُقْصَانُ الرَّجَاءِ عِنْدَ وُجُوْدِ الزَّلَلِ

Di antara tanda-tanda bahwa seseorang bertumpu pada kekuatan amal usahanya ialah kurangnya pengharapan (terhadap rahmat anugerah Allah) ketika terjadi padanya suatu kesalahan atau dosa.

Di antara tanda-tanda bahwa seseorang itu bersandar diri pada kekuatan amal usahanya ialah kurangnya pengharapan terhadap rahmat anugerah Allah ketika terjadi padanya suatu kesalahan atau dosa.

Misalnya, maksiat atau lupa dari mengingat Allah s.w.t., yaitu ketika hati seseorang berkata setelah melakukan kesalahan: “Aku pasti akan masuk neraka sebab dosaku ini, dan Allah tidak akan mengampuni dosaku ini”. Akan tetapi, seharusnya orang yang jatuh dalam sebuah dosa harus mendekatkan dirinya kepada Allah s.w.t. dan merasa bahwa ia melakukan dosa itu karena sifat Qahhār (Maha Pemaksa) Allah s.w.t. Takutlah kamu jika Allah s.w.t. menempatkanmu dalam melakukan maksiat dan selalu berharaplah pada sifat Maha Pengampun Allah s.w.t. berikut anugerah-Nya.

Demikian halnya, wajib bagi orang yang memiliki sifat (44), jangan sekali-kali kamu merasa bahwa kamu ahli berbuat ketaatan dan jangan sekali-kali kamu merasa ketaatanmu bisa mendekatkan pada Allah s.w.t. atau bisa memasukkanmu ke dalam surga. Akan tetapi, merasalah bahwa ketaatan yang kamu perbuat itu lantaran anugerah Allah s.w.t. kepadamu dan kamu sudah dikeluarkan dari perbuatan maksiat dan kembali kepada Allah s.w.t. Jika tidak ada anugerah Allah, niscaya kamu tidak akan mau berbuat ketaatan, dan sesungguhnya anugerah Allah yang diberikan pada kamu itu karena fadhal Allah semata, bukan karena amal yang menyertaimu.

Jika sudah begitu, maka tidak patut bagimu untuk memohon pahala kepada Allah atas amal perbuatan yang kamu lakukan, karena kamu bukanlah orang yang ahli dalam amal-ibadah. Akan tetapi, Allah-lah yang memberi amal pada kamu dan hendaklah kamu bersyukur atas pemberian yang dianugerahkan oleh Allah kepadamu. Banyak dari kamu yang dikasihi Allah ialah diberi ketaatan dan iman, dan tanda murkanya Allah adalah diberikannya maksiat dan kufur.

Catatan:


  1. 1). Perambah jalan kebenaran spiritual dengan berbagai riyādhah
  2. 2). Istilah shādiq diberikan kepada orang yang ahli dalam melakukan kebenaran dan selalu dikaitkan dengan kebenaran. Di atasnya terdapat shiddīq, yaitu kebenaran yang lebih banyak lagi daripada yang dilakukan shādiq. Maksudnya, baik shādiq maupun shiddīq sama-sama didominasi oleh kebenaran, bedanya dominasi kebenaran yang menguasai shiddīq lebih banyak. Tak ubahnya seperti pemabuk yang kecanduan khamar, seperti itulah orang yang shiddīq, ia kecanduan akan kebenaran. Tingkat terendah dari shiddīq adalah kesamaan antara yang rahasia dan yang tampak. Shādiq diberikan kepada orang yang benar dalam ucapannya, sementara shiddiq diberikan kepada orang yang benar dalam segala ucapan, perbuatan dan keadaannya. Lihat Abul-Qāsim ‘Abdul-Karīm Ḥawāzin al-Qusyairī an-Naisābūrī, ar-Risālat-ul-Qusyairiyyah, al-Maktabah al-‘Ashriyyah, cet. ke-1, Libanon, 2001, hal. 210. 
  3. 3). Orang yang menghendaki sampai kepada Allah s.w.t. 
  4. 4). Barang kali yang dimaksud adalah ḥāl dalam istilah kaum sufi. 
Dapatkan Notifikasi Hati Senang

Masukkan email Anda untuk mengetahui tentang artikel terbaru.

Klik untuk mendapatkan notifikasi push tentang artikel terbaru.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *