001-6 Sunnah Wudhu’ – Ringkasan Fiqih Mazhab Syafi’i

RINGKASAN FIQIH MAZHAB SYAFI‘I
(Penjelasan Kitab Matan Abu Syuja‘ dengan Dalil al-Qur’an dan Hadits)
Oleh: Musthafa Dib al-Bugha

Penerjemah: Toto Edidarmo
Penerbit: Noura Books (PT Mizan Publika)

Rangkaian Pos: Bab 1 Bersuci (Thahārah) - Ringkasan Fiqih Mazhab Syafi'i

Sunnah Wudhu’

Sunnah wudhu’ ada sepuluh (Tapi List di Bawah Ini Ada Sebelas (11) – S.H.):

 

1. Membaca basmalah. (1).

(1). Dirawikan oleh an-Nasā’ī dengan sanad yang baik dari Anas r.a. yang berkata:

طَلَبَ بَعْضُ أَصْحَابِ النَّبِيِّ (ص) وَضُوْءًا، فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ (ص): هَلْ مَعَ أَحَدٍ مِنْكُمْ مَاءٌ؟ فَوَضَعَ يَدَهُ فِي الْمَاءِ وَ يَقُوْلُ: تَوَضَّئُوْا بِسْمِ الله! فَرَأَيْتُ الْمَاءَ يَخْرُجُ مِنْ بَيْنِ أَصَابِعِهِ حَتَّى تَوَضَّئُوْا مِنْ عِنْدِ آخِرِهِمْ.

Beberapa sahabat meminta air untuk berwudhu’. Rasūlullāh s.a.w. lalu bertanya: “Apakah di antara kalian ada yang punya air?” Rasūlullāh s.a.w. lalu memasukkan tangannya ke dalam air dan bersabda: “Berwudhu’lah dengan mengucapakan basmalah!” (Maksudnya, membaca basmalah ketika memulai wudhu’). Anas r.a. berkata: “Aku melihat air keluar dari jari-jari Rasūlullāh s.a.w. hingga semua orang yang bersamanya dapat berwudhu’.” (an-Nasa’i, ath-Thahārah, Bab “at-Tasmiyatu ‘Ind-al-Wudhū’,” hadits no. 78).

2. Mencuci dua telapak tangan sebelum memasukkannya ke dalam bejana (berisi air).

3. Berkumur-kumur.

4. Menghirup air dengan hidung (istinsyāq).

5. Mengusap seluruh rambut kepala. (1).

(1). Dalil empat sunnah wudhu’ yang pertama (mencuci kedua telapak tangan, berkumur, menghirup air dengan hidung, dan mengusap seluruh kepala) adalah hadits yang dirawikan oleh al-Bukhārī dan Muslim dari ‘Abdullāh bin Zaid r.a. berikut:

سُئِلَ (عَبْدُ اللهِ بْنِ زَيْدٍ) عَنْ وُضُوْءِ النَّبِيِّ (ص)، فَدَعَا بِتَوْرٍ مِنْ مَاءٍ فَتَوَضَّأُ لَهُمْ وُضُوْءَ النَّبِيِّ (ص): فَأَكْفَأُ عَلَى يَدِهِ مِنَ التَّوْرِ. فَغَسَلَ يَدَيْهِ ثَلَاثً، ثُمَّ أَدْخَلَ يَدَهُ فِي التَّوْرِ، فَمَضْمَضَ وَ اسْتَنْشَقَ وَ اسْتَنْثَرَ ثَلَاثَ غُرَفَاتٍ…. (وَ فِيْ رِوَايَةٍ: مَضْمَضَ وَ اسْتَنْشَقَ مِنْ كَفٍّ وَاحِدَةٍ، فَفَعَلَ ذلِكَ ثَلَاثًا). ثُمَّ أَدْخَلَ يَدَهُ فَغَسَلَ وَجْهَهُ ثَلَاثًا ثُمَّ غَسَلَ يَدَيْهِ مَرَّتَيْنِ إِلَى الْمِرْفَقَيْنِ ثُمَّ أَدْخَلَ يَدَهُ فَمَسَحَ فَأَقْبَلَ بِهِمَا وَ أَدْبَرَ مَرَّةً وَاحِدَةً ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَيْهِ إِلَى الْكَعْبَيْنِ.

‘Abdullāh bin Zaid r.a. pernah ditanya (oleh beberapa orang) tentang wudhu’ Nabi s.a.w. Dia lalu meminta bejana berisi air, kemudian mengajarkan cara berwudhu’ Nabi s.a.w. kepada mereka. (Mula-mula) Dia menuangkan air dari bejana ke tangannya, lalu membasuh kedua telapak tangannya tiga kali. Kemudian, dia memasukkan dua telapak tangannya ke dalam bejana, lalu menyauk air dengan dua telapaknya untuk berkumur, istinsyāq (mengirup air ke dalam hidung), dan istintsār (menyerot air sambil mengeluarkannya) dengan tiga kali saukan. [Dalam riwayat lain: Dia menyauk air dengan satu telapak tangan untuk berkumur dan instinsyāq. Dia melakukannya tiga kali.] Setelah itu, dia memasukkan telapak tangannya lalu menciduk air untuk membasuh wajah tiga kali, kemudian membasuh tangan sampai siku dua kali. Setelah itu, dia memasukkan telapak tangannya ke dalam bejana, lalu mengusap kepala bagian depan dua kali dan bagian belakang sekali, kemudian membasuh kaki hingga mata kaki.” (al-Bukhārī, al-Wudhū’, Bab “Ghusl-ur-Rijlaini ilal-Ka‘bain”, dan Bab “Man Madhmadha wa Istinsyaqa min Ghurfati Wāḥidah”, hadits no 184, 188; Muslim, ath-Thahārah, Bab “Fī Wudhū’-in-Nabi s.a.w.”, hadits no. 235).

 

6. Mambasuh kedua telinga pada bagian luar dan dalam dengan air yang baru diambil. (1).

(1). Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbās r.a. yang berkata:

أَنَّ النَّبِيَّ (ص) مَسَحَ بِرَأْسِهِ وَ أُذُنَيْهِ ظَاهِرِهِمَا وَ بَاطِنِهِمَا.

Bahawasanya Nabi s.a.w. mengusap kepala dan telinganya pada bagian luar dan dalam.” (at-Tirmidzī, ath-Thahārah, Bab “Mā Jā’a fī Masḥ-il-Udzunain Zhāhirihimā wa Bāthinihimā”, hadits no. 36; at-Tirmidzī berkata: Kualitas hadits ini ḥasan shaḥīḥ).

Dalam riwayat an-Nasā’ī dikatakan:

مَسَحَ بِرَأْسِهِ وَ أُذُنَيْهِ، بَاطِنِهِمَا بِالسَّبَاحَتَيْنِ، وَ ظَاهِرِهِمَا بِإِبْهَامَيْهِ.

Nabi s.a.w. mengusap kepalanya (rambut kepala) dan kedua telinganya. Bagian dalam telinga diusap dengan jari telunjuk, dan bagian luarnya diusap dengan ibu jari,” (an-Nasā’ī, ath-Thahārah, Bab “Masḥ-ul-Udzunaini Ma‘-ar-Ra’si wa Mā Ysatadillu bihi ‘alā ’annahumā min-ar-Ra’s”, hadits no. 102).

Nabi s.a.w. menggunakan air yang berbeda untuk membasuh telinga dan mengusap kepala, bukan dengan sisa air dari usapan kepala. Hal ini ditegaskan dalam hadits yang diriwayatkan dari ‘Abdullāh bin Zaid yang berkata:

رَأَيْتُ النَّبِيَّ (ص) يَتَوَضَّأُ،فَأَخَذَ مَاءً لِأُذُنَيْهِ خِلَافَ الْمَاءِ الَّذِيْ أَخَذَهُ لِرَأْسِهِ.

Aku melihat Nabi s.a.w. berwudhu’. Beliau mengambil air (baru) untuk membasuh kedua telinganya, berbeda dengan air yang diambilnya untuk mengusap kepala.” (al-Ḥākim dalam al-Mustadrak, ath-Thahārah, Bab “al-Masḥu ‘alal-Khuffain, juz 1, hal. 151”. Al-Ḥāfizh adz-Dzahabī berkata: Kualitas hadits ini shaḥīḥ).

 

7. Menyela-nyela (mengusap) jenggot yang lebat dengan air (1).

(1). Diriwayatkan dari Anas r.a. yang berkata:

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ (ص) كَانَ تَوَضَّأَ أَخَذَ كَفًّا مِنْ مَاءٍ فَأَدْخَلَهُ تَحْتَ حَنَكِهِ، فَخَلَّلَ بِهِ لِحْيَتَهُ، وَ قَالَ: هكَذَا أَمَرَنِيْ رَبِّيْ عَزَّ وَ جَلَّ.

Ketika Rasūlullāh s.a.w. berwudhu’, beliau mengambil air dengan telapak tangannya, lalu mengusapkannya ke bawah dagunya. Kemudian, beliau menyela-nyela jenggotnya seraya berkata: “Beginilah Tuhanku memerintahkanku.” (Abū Dāūd, ath-Thahārah, Bab “Takhlīl-ul-Liḥyah”, hadits no. 145).

 

8. Menyela-nyela jari-jari tangan dan kaki (1).

(1). Diriwayatkan dari Lāqith bin Shabrah r.a. yang berkata:

فَقُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، أَخْبِرْنِيْ عَنِ الْوُضُوْءِ! قَالَ: أَسْبِغِ الْوُضُوْءَ، وَ خَلِّلْ بَيْنَ الْأَصَابِعِ، وَ بَالِغْ فِي الْاِسْتِنْشَاقِ إِلَّا أَنْ تَكُوْنَ صَائِمًا.

Aku berkata kepada Nabi s.a.w.: “Wahai Rasūlullāh, ajarkanlah aku cara berwudhu’. Rasūlullāh menjawab: “Sempurnakanlah wudhu’! Sela-selalah bagian di antara jari-jarimu, lalu hiruplah air ke hidung (istinsyāq) dengan kuat, kecuali engkau sedang berpuasa.

Ketentuan berkumur dianalogikan (di-qiyas-kan) dengan menghirup air ke hidung (istinsyāq) yang disebutkan dalam hadits di atas karena keduanya memiliki maksud yang sama, yaitu membersihkan rongga mulut dan hidung. Bagi orang yang berpuasa, berkumur dan menghirup air ke hidung tidak dianjurkan karena khawatir menyebabakan air masuk ke rongga tubuh (sehingga membatalkan puasa). (Abū Dāūd, ath-Thahārah, Bab “Fil-Istintsār,” hadits no. 142, 144; at-Tirmidzī, ash-Shaum, Bab “Mā Jā’a fī Karāhiyat-il-Mubālaghati fil-Istinsyāq”, hadits no. 87; Ibnu Mājah, ath-Thahārah, Bab “al-Mubālaghatu fil-Istinsyāqi wal-Istintsār”, hadits no. 407).

 

9. Mendahulukan bagian wudhu’ yang kanan dari yang kiri (1).

(1). Al-Bukhārī merawikan dari Ibnu ‘Abbās r.a. bahwasanya Ibnu ‘Abbās pernah mendemonstrasikan cara berwudhu’ Nabi s.a.w. sebagai berikut:

….. ثُمَّ أَخَذَ غَرْفَةً مِنْ مَاءٍ فَغَسَلَ بِهَا يَدَهُ الْيُمْنَى. ثُمَّ أَخَذَ غَرْفَةً مِنْ مَاءٍ فَغَسَلَ بِهَا يَدَهُ الْيُسْرَى. ثُمَّ مَسَحَ بِرَأْسِهِ، ثُمَّ أَخَذَ غَرْفَةً مِنْ مَاءٍ فَرَشَّ عَلَى رِجْلِهِ الْيُمْنَى حَتَّى غَسَلَهَا، ثُمَّ أَخَذَ غَرْفَةً أُخْرَى فَغَسَلَ بِهَا رِجْلَهُ، يَعْنِي الْيُسْرَى، ثُمَّ قَالَ: هكَذَا رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ (ص) يَتَوَضَّأُ.

“….. kemudian Ibnu ‘Abbās mengambil satu ciduk air untuk membasuh tangan kanannya, lalu mengambil satu ciduk air lagi untuk membasuh tangan kirinya. Kemudian, dia mengusap kepalanya. Setelah itu, dia mengambil satu ciduk air untuk dipercikkan pada kaki kanannya, lalu dia membasuh kaki kanannya. Kemudian, dia mengambil satu ciduk air untuk membasuh kaki kirinya. Setelah itu, dia berkata: “Beginilah aku melihat Rasūlullāh s.a.w. berwudhu’.” (al-Bukhārī, al-Wudhū’, Bab “Ghusl-ul-Wajhi bil-Yadaini min Ghurfati Wāhīdah”, hadits no. 140).

Dalam hadits lain, ‘Ā’isyah r.a. menyebutkan:

كَانَ النَّبِيُّ (ص) يُعْجِبُهُ التَّيَمُّنُ فِيْ تَنَعُّلِهِ وَ تَرَجُّلِهِ وَ طُهُوْرِهِ وَ فِيْ شَأْنِهِ كُلِّهِ.

Nabi s.a.w. sangat menyukai sikap mendahulukan bagian yang kanan (tayammun) ketika memakai sandal, menyisir rambut (tarajjul), bersuci, dan dalam setiap melakukan kebaikan.” (al-Bukhārī, al-Wudhū’, Bab “at-Tayammunu fil-Wudhū’i wal-Ghusl”, hadits no. 166; Muslim, ath-Thahārah, Bab “at-Tayammunu fith-Thuhūri wa Ghairih”, hadits no. 268).

 

10. Melakukan fardhu dan sunnah wudhu’ sebanyak tiga kali. (1).

(1). Dirawikan oleh Muslim bahwa ‘Utsmān pernah berkata:

أَلَا أُرِيْكُمْ وُضُوْءَ رَسُوْلِ اللهِ (ص)؟ ثُمَّ تَوَضَّأَ ثَلَاثًا ثَلَاثًا.

Maukah kalian aku tunjukkan cara berwudhu’ Rasūlullāh s.a.w. ?” ‘Utsmān lalu berwudhu’ dengan mengulangi setiap fardhu dan sunnah wudhu’ sebanyak tiga kali.” (Muslim, ath-Thahārah, Bab “Fadhl-ul-Wudhū’i wash-Shalāti ‘aqibahu,” hadits no. 230).

Pengulangan yang dilakukan ‘Utsmān ini berlaku umum untuk semua basuhan dan usapan seluruh anggota wudhu’.

 

11. Berturut-turut (berkelanjutan) (1).

(1). Maksudnya, pembersihan seluruh anggota wudhu’ dilakukan secara berturut-turut dan berkelanjutan, tanpa diputus (disela) oleh kegiatan lain. Misalnya, setelah membasuh anggota wudhu’ yang pertama, segera membasuh anggota wudhu’ yang kedua sehingga anggota wudhu’ pertama tidak kering. Dalilnya adalah praktik wudhu’ Nabi s.a.w. yang berturut-turut dan berkelanjutan, sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits yang lalu.

Catatan: Semua dalil hadits Nabi di atas secara tekstual menunjukkan kewajiban berwudhu’, dan sekiranya ada yang tidak menunjukkan kewajiban tersebut, hal itu telah ditegaskan oleh ayat tentang kewajiban berwudhu’ (al-Mā’idah [5]: 6) serta berbagai dalil lain yang tidak kami sebutkan di sini untuk menghindari penjelasan yang terlalu panjang.

Anjuran: Bagi orang yang telah berwudhu’, sangat dianjurkan untuk membaca doa berikut:

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ. اللهُمَّ اجْعَلْنِيْ مِنَ التَّوَّابِيْنَ وَ اجْعَلْنِيْ مِنَ الْمَتَطَهِّرِيْنَ. سُبْحَانَكَ اللهُمَّ وَ بِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلهَ إِلَّا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَ أَتُوْبُ إِلَيْكَ.

Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Aku bersaksi bahwa Muḥammad adalah hamba dan rasul-Nya. Ya Allah, jadikan aku termasuk orang yang bertobat; jadikan aku termasuk orang yang bersuci. Maha Suci Engkau, ya Allah, dan dengan segala pujian untuk-Mu. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Aku memohon ampun pada-Mu dan bertobat (kembali) kepada-Mu.

Doa tersebut secara keseluruhan berasal dari Rasūlullāh s.a.w. yang tercantum di dalam berbagai haditsnya; tiap-tiap hadits mencantumkan sebagian. Di antara hadits itu ada yang menyebutkan:

مَنْ قَالَ هذَا، فُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ الثَّمَانِيَةُ يَدْخُلُ مِنْ أَيُّهَا شَاءَ

Barang siapa yang membaca doa ini (doa setelah wudhu’ di atas), niscaya akan dibukakan baginya delapan pintu surga, dan ia bebas masuk dari pintu mana pun yang ia inginkan.” (Muslim, ath-Thahārah, Bab “adz-Dzikr-ul-Mustaḥabba ‘aqib-al-Wudhū’,” hadits no. 234; Abū Dāūd, ath-Thahārah, Bab “Mā Yaqūl-ur-Rajulu Idzā Tawadhdhā’,” hadits no. 169, 170; at-Tirmidzī, ath-Thahārah, Bab “Fī Mā Yaqūlu Ba‘d-al-Wudhū’,” hadits no. 55; an-Nasā’ī dalam as-Sunan-ul-Kubrā, ‘Amal-ul-Yaumi wal-Lailah, Bab “Mā Yaqūlu Idzā Farigha min Wudhū’ihi”, hadits no. 9909, 9912; Ibnu Mājah, ath-Thahāratu wa Sunnatuhā, Bab “Mā Yaqūlu Ba‘d-al-Wudhū’,” hadits no. 469, 470).

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

You have to agree to the comment policy.