001-1 Air utk Bersuci – Ringkasan Fiqih Mazhab Syafi’i

RINGKASAN FIQIH MAZHAB SYAFI‘I
(Penjelasan Kitab Matan Abu Syuja‘ dengan Dalil al-Qur’an dan Hadits)
Oleh: Musthafa Dib al-Bugha

Penerjemah: Toto Edidarmo
Penerbit: Noura Books (PT Mizan Publika)

Rangkaian Pos: Bab 1 Bersuci (Thahārah) - Ringkasan Fiqih Mazhab Syafi'i
  1. 1.Anda Sedang Membaca: 001-1 Air utk Bersuci – Ringkasan Fiqih Mazhab Syafi’i
  2. 2.001-2 Kulit Bangkai – Ringkasan Fiqih Mazhab Syafi’i
  3. 3.001-3 Bejana Emas dan Perak – Ringkasan Fiqih Mazhab Syafi’i
  4. 4.001-4 Bersiwak (Menggosok Gigi) – Ringkasan Fiqih Mazhab Syafi’i
  5. 5.001-5 Berwudhu’ – Ringkasan Fiqih Mazhab Syafi’i
  6. 6.001-6 Sunnah Wudhu’ – Ringkasan Fiqih Mazhab Syafi’i

Bab 1

Bersuci (Thahārah)

 

Air untuk Bersuci

 

Air yang boleh digunakan untuk bersuci ada tujuh macam, yaitu air hujan, air laut, air sungai, air sumur, air mata air, air es, dan air embun. (1)

(1). Secara ringkas dapat dikatakan bahwa air yang dapat digunakan untuk bersuci adalah air yang keluar dari tanah (bumi) atau yang turun dari langit.

Dalil pokok bersuci dengan air dibolehkan adalah beberapa ayat al-Qur’ān dan hadis Nabi s.a.w., antara lain:

1. Firman Allah s.w.t.:

…وَ يُنَزِّلُ عَلَيْكُمْ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً لِيُطَهِّرَكُمْ بِهِ…..

“…..dan Allah menurunkan kepadamu air (hujan) dari langit untuk menyucikan kamu dengan air itu…..” (al-Anfāl [8]: 11).

2. Hadits Nabi s.a.w. yang diriwayatkan oleh Abū Hurairah r.a. berikut:

سَأَلَ رَجُلٌ النَّبِيَّ (ص) فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، إِنَّا نَرْكَبُ الْبَحْرَ وَ نَحْمِلُ مَعَنَا الْقَلِيْلَ مِنَ الْمَاءِ، فَإِنْ تَوَضَّأْنَا بِهِ عَطِشْنَا، أَفَنَتَوَضَّأُ بِمَاءِ الْبَحْرِ؟ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ (ص): هُوَ الطَّهُوْرُ مَاؤُهُ، الْحِلُّ مَيْتَتُهُ.

“Seorang sahabat bertanya kepada Nabi s.a.w.: “Wahai Rasūlullāh, kami pernah berlayar di lautan, dan kami hanya membawa sedikit air. Jika air itu kami gunakan untuk berwudhu’, kami akan kehausan. Apakah kami boleh berwudhu’ dengan air laut? Rasūlullāh s.a.w. menjawab: “Laut itu airnya suci dan bangkainya halal.” At-Tirmidzī berkata: Kualitas hadits ini ḥasan shaḥīḥ (Abū Dāūd, ath-Thahārah, Bab “Al-Wudhū’u bi Mā’-il-Baḥr”, hadits no. 83; at-Tirmidzī, ath-Thahārah, Bab “Mā Jā’a fī Mā’-il-Baḥri Annahu Thahūr”, hadits no. 69; an-Nasā’ī, ath-Thahārah, Bab “Fī Mā’-il-Baḥr”, hadits no. 259, al-Miyāh, Bab “al-Wudhū’u bi Mā’-il-Baḥr”, hadits no. 332; Ibnu Mājah, ath-Thahāratu wa Sunnatuhā, Bab “al-Wudhū’u bi Mā’-il-Baḥr”, hadits no. 386).

Maksud “bangkainya halal” adalah semua ikan dan sejenisnya yang mati di dalam laut halal dimakan tanpa harus disembelih terlebih dahulu dengan cara yang dibenarkan syariat.

 

Jenis air ada empat, yaitu:

1. Air suci yang menyucikan dan tidak makruh untuk bersuci; disebut air murni (muthlāq) (1).

(1). Dalil pokok tentang kesucian air murni (muthlaq) adalah beberapa ayat al-Qur’ān dan hadits Nabi s.a.w., antara lain berikut ini:

a). Firman Allah s.w.t.:

…..فَلَمْ تَجِدُوْا مَاءً فَتَيَمَّمُوْا صَعِيْدًا طَيِّبًا…..

“…. maka jika kamu tidak menemukan air, bertayammumlah dengan debu yang baik (suci)….” (al-Mā’idah [5]: 6).

b). Firman Allah s.w.t.:

….. وَ أَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً طَهُوْرًا…..

“…. Dan Kami turunkan dari langit air yang sangat bersih….” (al-Furqān [25]: 48).

c). Hadits Nabi s.a.w. yang dituturkan oleh Abū Hurairah r.a. berikut:

قَامَ أَعْرَابِيٌّ فَبَالَ فِي الْمَسْجِدِ، فَقَامَ إِلَيْهِ النَّاسُ لِيَقَعُوْا بِهِ. فَقَالَ النَّبِيُّ (ص): دَعُوْهُ وَ هَرِيْقُوْا عَلَى بَوْلِهِ سَجْلًا مِنْ مَاءٍ أَوْ ذَنُوْبًا مِنْ مَاءٍ فَإِنَّمَا بُعِثْتُمْ مُيَسِّرِيْنَ وَ لَمْ تُبْعَثُوْا مُعَسِّرِيْنَ.

“Seorang ‘Arab Badui berdiri lalu kencing di (dinding) masjid. Para sahabat kemudian berdiri dan hendak memukulnya. Nabi s.a.w. bersabda: “Biarkanlah dia! Siramlah kencingnya dengan seember kecil atau seember besar yang penuh dengan air. Sesungguhnya kalian diutus untuk memberikan kemudahan, bukan untuk menyulitkan.” (al-Bukhārī, al-Wudhū’, Bab “Shabb-ul-Mā’a ‘alal-Bauli fil-Masjid”, hadits no. 217). [Redaksi ini dari Afrād-ul-Bukhārī hadits no. 2057 – peny.]

 

2. Air suci yang menyucikan, tetapi makruh untuk bersuci, seperti air yang dipanaskan dengan terik matahari (musyammas) (1).

(1). Musyammas: dipanaskan di dalam bejana dari logam dengan terik matahari. Menurut satu pendapat, air ini makruh digunakan untuk bersuci karena dapat menimbulkan penyakit lepra atau menambah sakitnya. Kemakruhan air ini terbatas pada penggunaan untuk tubuh. Air ini banyak ditemukan di daerah yang bersuhu panas, seperti Ḥijāz.

 

3. Air suci yang tidak menyucikan, seperti air bekas bersuci (musta‘mal) (1) dan air yang berubah (bau, rasa, dan warnanya) karena bercampur dengan benda yang suci (ath-Thāhirāt) (2).

(1). Musta‘mal: air yang telah digunakan untuk bersuci menghilangkan hadats. Dalil yang menyatakan bahwa air musta‘mal itu suci adalah hadits yang diriwayatkan oleh Jābir bin ‘Abdullāh r.a. berikut:

جَاءَ رَسُوْلُ اللهِ (ص) يَعُوْدُنِيْ وَ أَنَا مَرِيْضٌ لَا أَعْقِلُ، فَتَوَضَّأْ وَ صَبَّ عَلَيَّ مِنَ وَضُوْئِهِ.

Rasūlullāh s.a.w. pernah menjengukku ketika sedang sakit parah yang menyebabkan aku kehilangan kesadaran. Beliau berwudhu’, lalu memercikkan air bekas wudhu’nya itu kepadaku.” (al-Bukhārī, al-Wudhū’, Bab “Shabb-un-Nabiyu Wadhū’ahu ‘alal-Mughmā ‘alaih”, hadits no. 191; Muslim, al-Farā’idh, Bab “Mīrāts-ul-Kalālah”, hadits no. 1616).

Dalam hadits tersebut dijelaskan bahwa air yang digunakan oleh Nabi s.a.w. untuk mengusap Jābir adalah air bekas wudhu’-nya. Sekiranya air tersebut tidak suci, niscaya beliau tidak akan menggunakannya.

Adapun dalil yang menyatakan bahwa air musta‘mal tidak menyucikan adalah hadits yang diriwayatkan oleh Abū Hurairah r.a. bahwa Nabi s.a.w. bersabda:

لَا يَغْتَسِلْ أَحَدُكُمْ فِي الْمَاءِ الدَّائِمِ وَ هُوَ حُنُبٌ. فَقَالُوْا: يَا أَبَا هُرَيْرَةَ، كَيْفَ يَفْعَلُ؟ قَالَ: يَتَنَاوَلُهُ تَنَاوُلًا.

Janganlah seorang dari kalian mandi di (dalam) air yang menggenang (tidak mengalir), sedangkan ia dalam keadaan junub.” Orang-orang bertanya kepada Abū Hurairah: “Mengapa demikian, wahai Abū Hurairah?” Abū Hurairah menjawab: “Air itu telah digunakannya untuk bersuci (musta‘mal sehingga tidak menyucikan lagi.”

(Sumber: Muslim, Ath-Thahārah, Bab “An-Nahyu ‘an-il-Ightisāli fil-Mā’-ir-Rākid”, hadits no. 283; an-Nasā’ī, ath-Thahārah, Bab “an-Nahyu ‘an Ightisāl-il-Junūbi fil-Mā’-id-Dā’im,” hadits no. 220, al-Miyāh, Bab “an-Nahyu ‘an Ightisāl-il-Junūbi fil-Mā’-id-Dā’im”, hadits no. 331, Al-Ghusl, Bab “Nahy-ul-Junūbi ‘an-il-Ightisāli fil-Mā’-id-Dā’im”, hadis no. 396; Ibnu Mājah, ath-Thahāratu wa Sunnatuhā, Bab “al-Junūbu Yanghamisu fil-Mā’-ad-Dā’im Ayuzi’uhu”, hadits no. 605).

Maksud hadits di atas ialah: mandi dengan cara berendam di dalam air yang menggenang akan menghilangkan kesucian air. Sekiranya tidak menghilangkan kesucian maka Nabi s.a.w. tidak melarangnya. Ketentuan ini berlaku untuk air yang sedikit (tidak mencapai dua qullah atau 190 liter – peny.) Hukum berwudhu’ dengan air sedikit yang menggenang tidak boleh, disamakan dengan hukum mandi junub. Sebab, keduanya bertujuan sama, yaitu menghilangkan hadats.

(2). Ath-Thāhirāt: semua benda suci yang secara umum dapat menyatu (larut) dalam air dan tidak bisa dipisahkan ketika telah bercampur, seperti minyak wangi, air garam, dan sejenisnya. Air yang telah bercampur dengan benda suci tersebut tidak dapat menyucikan karena keadaannya telah berubah menjadi sesuatu yang bukan air (murni).

 

4. Air najis, yaitu air yang terkena najis dan kurang dari dua kulah (qullah) (1) atau sebanyak dua qullah, tetapi berubah (bau, rasa, dan warnanya). (2)

(1). ‘Abdullāh bin ‘Umar r.a. melaporkan bahwa ia pernah mendengar Rasūlullāh s.a.w. ditanya tentang air yang terdapat di padang gurun dan air (rawa) yang sering didatangi oleh hewan liar dan binatang melata. Rasūlullāh s.a.w. bersabda:

إِذَا كَانَ الْمَاءُ قُلَّتَيْنِ لَمْ يَحْمِلِ الْخَبَثَ.

Apabila air itu mencapai dua qullah, ia tidak mengandung kotoran.” Dalam redaksi Abū Dāūd: “Fa’innahu lā yanjusu (Sesungguhnya air itu tidak najis).” (Abū Dāūd, ath-Thahārah, Bab “Mā Yanjus-ul-Mā’,” hadits no. 6563; at-Tirmidzī, ath-Thahārah, Bab “Minhu Ākharu”, hadits no. 67; an-Nasā’ī, ath-Thahārah, Bab “at-Tauqītu fil-Mā’,” hadits no. 52, Ibnu Mājah, ath-Thahāratu wa Sunnatuhā, Bab “Miqdār-ul-Mā’-illadzī Lā Yanjus”, hadits no. 517 dan 518).

Makna hadis di atas ialah: apabila air di padang gurun itu kurang dari dua qullah, ia menjadi najis meskipun tidak berubah (bau, rasa, dan warnanya).

Dalil yang mendukung makna tersebut ialah hadits yang dirawikan oleh al-Bukhārī dan Muslim dari Abū Hurairah r.a. bahwasanya Nabi s.a.w. bersabda:

إِذَا اسْتَيْقَظَ أَحَدُكُمْ مِنْ نُوْمِهِ فَلَا يَغْمِسْ يَدَهُ فِي الْإِنَاءِ حَتَّى يَغْسِلَهَا ثَلَاثًا، فَإِنَّهُ لَا يَدْرِيْ أَيْنَ بَاتَتْ يَدَهُ.

Jika seseorang dari kalian bangun tidur, janganlah ia mencelupkan tangannya ke dalam bejana berisi air sebelum ia mencucinya tiga kali. Sebab, sesungguhnya ia tidak mengetahui ke mana saja tangannya bergerak semalaman.” Redaksi hadits dari Muslim, Thahārah, Bab “Karāhatu Ghams-il-Mutawadhdhi‘i wa Ghairihi Yadah-ul-Masykūki fī Najāsatihā fil-Inā’i Qabla Ghaslihā Tsalātsan”, hadits no. 278).

Dalam hadits tersebut, Nabi s.a.w. melarang orang yang baru bangun tidur untuk mencelupkan tangannya ke dalam bejana berisi air karena dikhawatirkan tangannya telah terkena najis yang tidak terlihat mata. Najis yang tidak terlihat mata itu sebenarnya tidak mengubah sifat air. Akan tetapi, seandainya celupan tangan yang terkena najis itu tidak menyebabkan air bejana menjadi najis, niscaya Rasūlullāh s.a.w. tidak melarangnya.

(2). Meskipun perubahan pada air yang terkena najis itu sedikit. Dalilnya adalah ijma‘ (konsensus) ulama. Dalam kitab al-Majmū‘u Syarḥ-ul-Muḥadzdzab dikatakan: Ibn-ul-Mundzir berkomentar: “Para ulama sepakat bahwa air yang sedikit atau banyak jika terkena najis lalu berubah rasa, warna, dan baunya maka air itu menjadi najis.”

Adapun hadits Nabi s.a.w. yang menyatakan: “Al-Mā’u thahūr[un], lā yunajjisuhu syai’un illā mā ghayyara tha‘mahu wa rīḥahu” (Air itu bersifat suci dan tidak akan berubah najis selama tidak terkena benda najis yang mengubah rasanya dan baunya) adalah hadits yang lemah (dha‘īf) sanad-nya (mata rantai periwayatannya). Imām Nawawī berpendapat: Hadits ini tidak dapat dijadikan ḥujjah (argumen). Imām Syāfi‘ī mengutip kelemahan hadits ini dari ulama ahli hadits. (al-Majmū‘: ath-Thahārah, Bab “Mā Yufsid-ul-Mā’a min-an-Najāsati wa Mā Lā Yufsiduhu”, juz I, hal. 160).

 

Ukuran dua kulah menurut pendapat yang paling shahih adalah sekitar 500 rithil Baghdād (‘Irāq) (1).

(1). Ukuran tersebut setara dengan 190 liter air atau volume air di dalam kubus yang panjang tiap sisinya 58 cm.

Dapatkan Notifikasi Hati Senang

Masukkan email Anda untuk mengetahui tentang artikel terbaru.

Klik untuk mendapatkan notifikasi push tentang artikel terbaru.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lewat ke baris perkakas