0-1 Muqaddimah – Insan Kamil – Syaikh Abd. Karim al-Jaili

INSAN KAMIL
Ikhtiar Memahami Kesejatian Manusia Dengan Sang Khaliq Hingga Akhir Zaman

Karya: Syaikh Abd. Karim Ibnu Ibrahim al-Jaili

Penerjemah: Misbah El Majid. Lc.
Diterbitkan oleh: Pustaka Hikmah Perdana.

Rangkaian Pos: Muqaddimah - Insan Kamil - Syaikh Abd. Karim al-Jaili

Dan Allah mengatakan yang sebenar-benarnya dan Dia menunjukkan jalan yang benar.” (al-Aḥzāb 33:4)

 

MUQADDIMAH

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

 

Segala puji hanyalah untuk Allah. Salawat dan salam, semoga tetap tercurahkan kepada Rasūl terkasih-Nya, nabi pamungkas Muḥammad s.a.w. Buku ini dikarya semata-mata untuk memberi kontribusi pengetahuan, guna memahami hakikat ketuhanan dan kesejatian al-Ḥaqq. Fokus kajian dan pembahasan karya ini adalah Allah ‘azza jalālah. Kita akan mengkaji di dalamnya perihal substansi ketuhanan dan eksistensi al-Ḥaqq, melalui dimensi nama-namaNya yang menunjukkan keberadaan Diri-Nya, dimensi sifat-sifatNya yang mewajahkan ragam kesempurnaan inti (dzāt)-Nya, karena sifat-sifatNya merupakan awal manifestasi al-Ḥaqq pada segala wujud. Tidak ada tajallī pasca sifat melainkan inti (dzāt)-Nya, dengan i‘tibar seperti ini, Sifat-Nya lebih tinggi tingkatannya dibandingkan isim-Nya. Kemudian kita akan membahas al-Ḥaqq dari dimensi inti (dzāt)-Nya, sejalan dengan metafora (‘ibārat) dan paradoks ketuhanan yang terlanskapkan dalam realita alam dan isinya alam. Kami sengaja tidak memakai metafora (paradoks) yang jamak dipakai dalam dunia sufi, untuk memudahkan para pembaca dalam memahami isyārat-isyārat (metafora) yang kami gunakan dalam karya ini. Meski demikian, kami akan mencoba merentah (masak sekali – benar-benar memahami) rahasia-rahasia yang belum pernah dipaparkan para pengarang kitab terdahulu, terutama hal-hal yang terkait dengan makrifah al-Ḥaqq, dan makrifah alam Malakut serta alam Jabarut. Kami akan coba mewartakan rumus-rumus yang berserak dibalik misteri alam ketinggian tersebut terutama buat para Sālik (peniti jalan al-Ḥaqq), agar mereka bisa mengetahui batas antara realitas yang terpendam dan tertampakkan, antara yang samar dan terang, antara yang lahir dan batin, berikut sebagai Wasīlah (media) Tafakkur merenungi nilai-nilai ketuhanan dan esensi al-Ḥaqq, dengan harapan bisa Makrifah (memahami) kesejatian Diri-Nya. Dalam karya ini, kami sengaja memakai bahasa kiasan (Majāz), sebab jika kami paparkan secara lugas, transparansi tersebut dikhawatirkan akan melahirkan multi tafsir dan ragam interpretasi, yang berujung pada ketidak sampaian maksud. Terkait dengan ini, cobalah tafakkuri firman al-Ḥaqq dalam pesan Qur’āni: “Dan Kami angkut Nūḥ ke atas dzāt yang terbuat dari papan dan paku.” (al-Qamar 54:13). Andai redaksi firman-Nya berbunyi: Di atas Bahtera yang terbuat dari papan dan paku, niscaya Nūḥ a.s. dengan mudah bisa menangkap pesan al-Ḥaqq tersebut. Ide membuat bahtera itu lahir ketika Nūḥ a.s. berusaha menyelisik firman-Nya (Papan dan Kayu). Demikian halnya dengan anda wahai pembaca yang budiman, seperti cara Nūḥ a.s. itulah seyogianya anda menyelisik isi kandungan kitab ini, agar anda mendapat pemahaman yang utuh akan pesan, metafora (isyārat), paradoks yang kami paparkan dalam karya (Insān Kāmil) ini.

Untuk anda ketahui wahai pembaca yang budiman, sesungguhnya saya (al-Jailī) tidak menorehkan Fikrah (buah pikiran) dalam karya ini, melainkan berpijak pada Kitāb Allah dan Sunnah Rasūl-Nya yang Shaḥīḥ (valid), jika anda mendapati ada sebagian Fikrah saya yang terkesan agak “lain” (berbeda) dengan makna lahir pesan Qur’āni dan Sunnah Rasūl-Nya, yang demikian itu semata-mata berlandaskan Mafhūmuhu (pemahamannya) dan bukan berdasarkan Murādiy (keinginan saya), anda tidak perlu memasyghulkan (menyibukkan) diri untuk menyelisik keganjilan tersebut, sebaiknya anda sikapi dengan Ḥusn-uzh-Zhann (pikiran positif), atau simpan di relung qalbu dan benak anda, sembari berdu‘ā semoga Allah membukakan jalan bagi anda untuk memakrifahinya (memahaminya). Dalam menyikapi “Keganjilan” tersebut, sebaiknya anda Taslīm (berserah diri) kepada Allah dengan tatap menjadikan pesan Qur’āni dan Sunnah Rasūl-Nya dasar pijakan bertauhid. Dengan Taslīm itulah jalan makrifah akan terbuka lebar, sebaliknya pengingkaran hanya akan menutup pintu Wushūl (ketersambungan) anda dengan al-Ḥaqq. Mereka yang mengingkari disiplin ilmu ini (tashawwuf dan intuisi), selamanya tidak akan pernah menemukan Hakikat makrifah (esensi pemahaman) dan tidak akan pernah menemukan kesejatian ilmu, juga tidak akan pernah Wishāl (sampai) kepada al-Ḥaqq, tidak ada Tharīqah (jalan) untuk menggapai hakikat makrifah selain Taslīm dan iman yang tulus kepada al-Ḥaqq.

Ketahuilah, bahwasanya setiap ilmu yang tidak didasari ajaran Qur’āni dan Sunnah Rasūl-Nya yang Shaḥīḥ (valid) adalah Dhalāl (sesat), al-Qur’ān dan Sunnah Rasūl-Nya bukan untuk membenarkan ilmu dan tindakan anda, akan tetapi hendaknya ilmu dan tindakan anda sesuai dengan pesan Qur’āni dan Sunnah Rasūl-Nya. Jadikan al-Qur’ān dan Sunnah Rasūl-Nya dasar pijakan ilmu dan ‘ibādah anda, jika nalar anda dan dasar logika anda tidak mampu menjangkau kedalaman ilmu ini (tashawwuf dan pengetahuan intuitif), sebaiknya anda Taslīm dengan keimanan yang jernih dan jangan sekali-kali mengingkari sesuatu yang anda belum mampu menyibaknya, serahkan segala sesuatunya kepada Sang Maha Mengetahui, Dia-lah Allah jalla jalālah, sebab setiap ilmu yang hadir dalam diri anda tidak akan terlepas dari tiga hal berikut ini:

Pertama: al-Mukālamah (ujaran-ujaran), yakni apa yang datang dalam kalbu (hati) anda melalui al-Khawāthir (bersitan-bersitan) Rabbāniyah (ketuhanan) dan Malakiyah (malaikat). Bersitan-bersitan tersebut tidak mungkin terbantahkan dan teringkari akal pikiran dan hati nurani. Sesungguhnya pembicaraan al-Ḥaqq kepada segenap hamba-Nya, adalah sebuah keniscayaan yang pasti diterima, tidak seorang pun dari makhluk-Nya yang mampu menolak. Di antara tanda pembicaraan al-Ḥaqq kepada hamba yang dikehendaki-Nya itu adalah, sang pendengar secara Dharūriyah (primer) mengetahui dengan penuh keyakinan bahwa apa yang disimaknya adalah Kalāmullāh (perkataan Allah), pendengaran yang disimak itu bersifat Kulli (universal), tidak dibatasi oleh al-Jihah (ruang) serta tidak satu arah, sebab jika penyimakan itu terjadi hanya satu arah dan dibatasi oleh ruang, maka pendengaran tersebut tidak berlaku untuk arah juga ruang yang lain. Cobalah telisik kembali perihal nabi Mūsā a.s., ia mendengar Khitāb (pembicaraan) dari Syajarah (pohon) yang tidak terikat oleh arah, dan pohon itu sendiri merupakan arah. Demikian halnya dengan bersitan-bersitan Malaikat, tidak jauh berbeda dengan bersitan-bersitan ketuhanan, hanya saja kekuatan bersitan ketuhanan lebih kuat dibandingkan bersitan malaikat, kecuali bila bersitan itu bersifat primer, realita tersebut (kekuatan) tidak saja ada pada Mukālamah (pembicaraan), namun juga pada Tajallī (penampakkan) al-Ḥaqq. Manakala Anwār-ul-Ḥaqq (cahaya-cahaya al-Ḥaqq) termanifestasikan pada diri salah seorang hamba-Nya, hamba itu mengetahuinya secara primer sejak kali pertama kemunculannya, bahwa cahaya tersebut adalah cahaya al-Ḥaqq, baik berupa manifestasi sifat, nama, ilmu atau inti (dzāt)-Nya. Jika cahaya al-Ḥaqq tertajallikan pada diri anda niscaya anda akan bisa mengetahuinya sejak kali pertama, bahwa manifestasi tersebut adalah Nūr-ul-Ḥaqq (cahaya al-Ḥaqq), atau sifat-sifatNya pun inti (dzāt)-Nya, itulah sejatinya Tajallī (manifestasi). Pahami betul masalah ini, samudera tajallī luasnya tak bertepi. Adapun Ilhām Ilāhiyah (ketuhanan), Tharīqah (metode) gapaiannya tersurat jelas dalam pesan Qur’āni dan Sunnah Rasūl-Nya, kriterianya sangat jelas. Jikalau Ilhām itu tidak sejalan dengan nilai-nilai Qur’āni dan Sunnah Rasūl-Nya, hendaknya proses ‘amaliyah (laku)nya dihentikan, sebab bisikan syaithan sangat kuat dalam Ilhām ini. Banyak orang yang tidak bisa membedakan antara Ilhām ketuhanan dan bisikan syaithan, karenanya Taslīm dan iman kepada al-Ḥaqq adalah sebuah kemestian yang harus dilakukan dalam menyikapi Ilhām ini, dengan tetap berpegang teguh kepada Ushūl-ud-dīn (pokok-pokok ajaran agama), hingga al-Ḥaqq membuka pintu makrifah (pemahaman) akan kesejatian Jalā’-ul-Khawāthir (bersitan-bersitan hati) tersebut.

Kedua: Ilmu yang keluar dari lisan yang bersumber pada Intishāb (runtutan) Sunnah dan Jamā‘ah, yakni ilmu yang berlandaskan legitimasi dan kesaksian secara utuh dan jernih. Jika anda dihadapkan pada etos keilmuan yang di luar jangkauan nalar logika, dan akal pikir anda tidak mampu menjangkaunya. Cara terbaik menyikapinya adalah dengan Taslīm dan mempercayainya secara utuh, serta mentradisikan sikap Ḥusn-uzh-Zhann (pola pikir positif) berikut yakin setulus hati. Anda harus menanamkan dalam diri anda dan mengakui dengan penuh kejujuran, bahwa kekuatan akal insani sangatlah terbatas. Dengan pikiran positif dan keimanan yang jernih seperti itu berarti cahaya akal anda mengikuti cahaya iman anda, begitulah semestinya anda menyikapi dimensi kegaiban seperti halnya anda menyikapi Ilhām, Jalā’-ul-Khawāthir (bersitan-bersitan hati) yaitu dengan mengedepankan iman yang tulus dan jernih, mentradisikan Ḥusn-uzh-Zhann serta Taslīm (pasrah diri) kepada al-Ḥaqq.

Ketiga: Ilmu yang keluar dari lisan, orang-orang yang Mufarraqah (memisahkan diri) dari Madzhab (aliran keagamaan), serta ilmu yang lahir dari mulut para ahli bid‘ah. Ilmu semacam itu adalah Marfūd (ditolak). Namun demikian tidak ada kemestian harus ditolak, selama ilmu tersebut masih dalam koridor al-Kitāb dan as-Sunnah, maka tidak ada alasan untuk menolak, hanya saja sangat nihil ilmu semacam itu dilandasi pesan Qur’āni dan Sunnah Rasūl-Nya. Sebab para ahli bid‘ah selalu menciptakan konsensus-konsesus keagamaan yang tidak memiliki dasar pijakan, mengadakan sesuatu yang baru dalam agama yang tidak berpijak pada ajaran Qur’ān dan Sunnah Rasūl-Nya, padahal semua konsensus keagamaan sejak awal kelahiran Islam, selalu berlandaskan pesan Qur’āni dan Sunnah Rasūl-Nya yang Shaḥīḥ (valid). Cobalah anda perhatikan dengan seksama, apa yang keluar dari pesan Qur’āni dan Sunnah Rasūl-nya, perihal jalan pilihan (petunjuk) seperti yang termaktub dalam firman-Nya: “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang-orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya.” (al-Qashash 28:56). Juga firman-Nya yang lain: “Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (asy-Syūrā 42:52). Begitu pula dengan sabda Rasūlullāh s.a.w.: “Kali pertama yang diciptakan Allah adalah akal, juga Kali pertama yang diciptakan Allah adalah al-Qalam (pena),” serta sabda beliau : Kali pertama yang diciptakan Allah adalah Cahaya nabimu wahai Jābir.” Maknailah sabda-sabda beliau itu dalam pemaknaan yang utuh, serta menempatkannya pada porsi yang arif dan bijaksana, agar anda memperoleh pemaknaan yang Syāmil (utuh) dan Kāmil (sempurna). Para alim (ulama) berpendapat, kebenaran Rasūl s.a.w. itu sendiri adalah al-Hidāyah (petunjuk), terutama petunjuk untuk memakrifahi inti (dzāt)-Nya, sedang Hidāyah dalam pemaknaan umum (awam) adalah petunjuk yang mengantar kepada al-Ḥaqq. Para alim juga berpendapat bahwa ketiga hadits di atas makna hakikinya adalah satu, sedang I‘tibārnya mengandung multi makna seperti halnya al-Aswad (hitam), al-Lāmi‘ (kilatan cahaya), al-Burāq (burung Burāq) adalah ‘ibārat-ul-Khabar (kabar), namun runtut historisnya berbeda-beda. Apa yang saya (al-Jailī) sajikan dalam muqaddimah ini adalah untuk memperkaya khazanah pemahaman anda agar anda bisa mewaspadai, bahwa satu Ḥijāb (tirai penghalang) memiliki seribu wajah, seupaya anda bisa menemukan formula yang tepat serta jalan yang shaḥīḥ (valid) guna memahami paparan yang saya sajikan pada karya ini dengan pemahaman yang utuh, teriring lantunan du‘ā semoga kita semua bisa menjadi bagian komunitas para Muḥaqqiqīn (ahli hakikat).

1 Komentar

  1. Amran berkata:

    Alhamdulillah,adanya HATI SENANG,ada banyak pencerahan yg tak ternilai harganya.
    Semoga ini menjadi wadah amal jariah buat penggagasnya dan para mujahid medsos yg mukhlis.Terutama kpd para ulama ulama pengarang kitab terdahulu atau pun masa kini yg dg ikhlas berjuang untuk agama.

Tinggalkan Balasan

You have to agree to the comment policy.