skip to Main Content
0-3 Mukaddimah – Hilyat-ul-Auliya’ Wa Thabaqat-ul-Ashfiya’

حلية الأولياء وطبقات الأصفياء
Ḥilyat-ul-Auliyā’i wa Thabaqāt-ul-Ashfiyā’
(Perhiasan para Wali dan Tingkatan-tingkatan Orang-orang yang Suci.)

Oleh: Al-Imam Abu Nu’aim al-Ashfahani r.h.

MUKADDIMAH (Bagian 3)

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

 

 

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ يَعْقُوْبَ الْمُعَدِّلِ، حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ عُلُّوِيَةَ، حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيْلُ بْنُ عِيْسَى، حَدَّثَنَا الْهَيَّاجُ بْنُ بِسْطَامٍ، عَنْ مِسْعَرِ بْنِ كِدَامٍ، عَنْ بُكَيْرِ بْنِ الْأَخْنَسِ، عَنْ أَبِيْ سَعِيْدٍ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ قَالَ: سُئِلَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ: مَنْ أَوْلِيَاءُ اللهِ؟ قَالَ: «الَّذِيْنَ إِذَا رُءُوْا ذُكِرَ اللهُ عَزَّ وَ جَلَّ»

6. Aḥmad bin Ya‘qūb al-Mu‘addil menceritakan kepada kami, al-Ḥasan bin ‘Ulluwiyah menceritakan kepada kami, Ismā‘īl bin ‘Īsā menceritakan kepada kami, Hayyāj bin Bisthām menceritakan kepada kami, dari Mis‘ar bin Kidām dari Bukair bin Akhnas dari Abū Sa‘īd r.a., dia berkata: Rasūlullāh s.a.w. ditanya: “Siapakah wali-wali Allah itu?” Beliau menjawab: “Orang-orang yang apabila dilihat (oleh orang lain) maka disebutlah nama Allah s.w.t.” (yakni langsung ingat kepada Allah).

حَدَّثَنَا جَعْفَرُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ عُمَرَ، وَ حَدَّثَنَا أَبُوْ حُصَيْنٍ الْقَاضِيْ، حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ عَبْدِ الْحَمِيْدِ، حَدَّثَنَا دَاوُدُ الْعَطَّارُ، عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُثْمَانَ بْنِ خُثَيْمٍ، عَنْ شَهْرِ بْنِ حَوْشَبٍ، عَنْ أَسْمَاءَ بِنْتِ يَزِيْدَ، قَالَتْ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ: «أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِخِيَارِكُمْ؟»، قَالُوْا: بَلَى. قَالَ: «الَّذِيْنَ إِذَا رُءُوْا ذُكِرَ اللهُ عَزَّ وَ جَلَّ»

وَ مِنْهَا: أَنَّهُمُ الْمُسَلَّمُوْنَ مِنَ الْفِتَنِ، الْمُوْقَوْنَ مِنَ الْمِحَنِ

7. Ja‘far bin Muḥammad bin ‘Umar menceritakan kepada kami, Abū Ḥushain al-Qādhī menceritakan kepada kami, ‘Abdil-Ḥumaid menceritakan kepada kami, Dāūd al-‘Aththār menceritakan kepada kami ‘Abdullāh bin ‘Utsmān bin Khutsaim, dari Syahr bin Ḥausyab, dari Asmā’ binti Yazīd, dia berkata: Rasūlullāh s.a.w. bersabda: “Maukah kalian kuberitahu orang-orang yang paling baik di antara kalian?” Para sahabat menjawab: “Mau.” Beliau bersabda: “Yaitu orang-orang yang apabila dilihat (oleh orang lain) maka disebutlah nama Allah s.w.t. (61).

Sifat-sifat mereka yang lain adalah bahwa mereka diselamatkan dari fitnah dan dilindungi dari bencana, sebagaimana dijelaskan dalam riwayat berikut:

 

حَدَّثَنَا الْقَاضِيْ أَبُوْ أَحْمَدَ مُحَمَّدُ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ إِبْرَاهِيْمَ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْقَاسِمِ بْنِ الْحَجَّاجِ، حَدَّثَنَا الْحَكَمُ بْنُ مُوْسَى، حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيْلُ بْنُ عَيَّاشٍ، حَدَّثَنِيْ مُسْلِمُ بْنُ عُبَيْدِ اللهِ، عَنْ نَافِعٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ:  «إِنَّ للهِ عَزَّ وَ جَلَّ ضَنَائِنَ مِنْ عِبَادِهِ يُغَذِّيْهِمْ فِيْ رَحْمَتِهِ، وَ يُحْيِيْهِمْ فِيْ عَافَيْتِهِ، إِذَا تَوَفَّاهُمْ تَوَفَّاهُمْ إِلَى جَنَّتِهِ، أُولئِكَ الَّذِيْنَ تَمُرُّ عَلَيْهِمُ الْفِتَنُ كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ، وَ هُمْ مِنْهَا فِيْ عَافِيَةٍ»

وَ مِنْهَا: أَنَّهُمُ الْمَضْرُوْرُوْنَ فِي الْأَطْعِمَةِ وَ اللِّبَاسِ، الْمَبْرُوْرَةُ أَقْسَامُهُمْ عِنْدَ النَّازِلَةِ وَ الْبَأسِ

8. Al-Qādhī Abū Aḥmad Muḥammad bin Aḥmad bin Ibrāhīm menceritakan kepada kami, Muḥammad bin Qāsim bin Ḥajjāj menceritakan kepada kami, Ḥakam bin Mūsā menceritakan kepada kami, Ismā‘īl bin ‘Ayyāsy menceritakan kepada kami, Muslim bin ‘Ubaidullāh dari Nāfi‘ menceritakan kepadaku, dari Ibnu ‘Umar, dari Nabi s.a.w., bahwa beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah s.w.t. memiliki hamba-hamba khusus. Dia mencukupi kebutuhan mereka dalam rahmat-Nya dan menghidupkan mereka dalam ‘āfiyah-Nya. Apabila Allah mematikan mereka, maka Dia memasukkan mereka ke dalam surga-Nya. Mereka itulah orang-orang yang fitnah-fitnah melewati mereka seperti sepenggal malam yang gelap, sedangkan mereka berada dalam perlindungan-Nya dari fitnah-fitnah tersebut.” (72).

Sifat-sifat mereka yang lain adalah bersahaja dalam masalah makanan dan pakaian, serta terbukti sumpah mereka saat terjadi bencana dan kesulitan, sebagaimana dijelaskan dalam riwayat berikut:

 

حَدَّثَنَا أَبُوْ إِسْحَاقَ بْنُ حَمْزَةَ، حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ شُعَيْبِ بْنِ يَزِيْدَ، وَ حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ أَحْمَدَ، حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيْمُ بْنُ يُوْسُفَ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَزِيْزٍ، حَدَّثَنَا سَلَامَةُ بْنُ رَوْحٍ، حَدَّثَنَا عَقِيْلٌ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ: قَالَ [ص: 7] رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ: «كَمْ مِنْ ضَعِيْفٍ مُتَضَعِّفٍ ذِيْ طِمْرَيْنِ لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللهِ لَأَبَرَّهُ، مِنْهُمُ الْبَرَاءُ بْنُ مَالِكٍ». ثُمَّ إِنَّ الْبَرَاءَ لَقِيَ زَحْفًا مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ وَ قَدْ أَوْجَعَ الْمُشْرِكُوْنَ فِي الْمُسْلِمِيْنَ، فَقَالُوْا لَهُ: يَا بَرَاءُ إِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ قَالَ: «لَوْ أَقْسَمْتَ عَلَى رَبِّكَ لَأَبَرَّكَ»، فَأَقْسِمْ عَلَى رَبِّكَ، فَقَالَ: أَقْسَمْتُ عَلَيْكَ يَا رَبِّ لَمَا مَنَحْتَنَا أَكْتَافَهُمْ، فَمُنِحُوْا أَكْتَافُهُمْ، ثُمَّ الْتَقَوْا عَلَى قَنْطَرَةِ السُّوْسِ، فَأَوْجَعُوْا فِي الْمُسْلِمِيْنَ، فَقَالُوْا: أَقْسِمْ يَا بَرَاءُ عَلَى رَبِّكَ عَزَّ وَ جَلَّ، قَالَ: أُقْسِمْ عَلَيْكَ يَا رَبِّ لَمَا مَنَحْتَنَا أَكْتَافَهُمْ، وَ أَلْحَقْتَنِيْ بِنَبِيِّكَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ فَمُنِحُوْا أَكْتَافُهُمْ، وَ قُتِلَ الْبَرَاءُ شَهِيْدًا “

9. Abū Isḥāq bin Ḥamzah menceritakan kepada kami, Aḥmad bin Syu‘aib bin Yazīd menceritakan kepada kami; dan Isḥāq bin Aḥmad menceritakan kepada kami, Ibrāhīm bin Yūsuf menceritakan kepada kami, Muḥammad bin ‘Azīz menceritakan kepada kami, Salamah bin Rauḥ menceritakan kepada kami, ‘Aqīl menceritakan kepada kami, dari Ibnu Syihāb, dari Anas bin Mālik, berkata Rasūlullāh s.a.w. bersabda: “Betapa banyaknya orang lemah, tertindas dan hanya memiliki dua potong pakaian usang, namun seandainya dia bersumpah atas nama Allah maka Allah membuktikan sumpahnya. Di antara mereka adalah Barā’ bin ‘Āzib (????? dalam hadits di atas Barā’ bin Mālik, apakah orang yang sama – SH.)”. Kemudian, pada suatu hari al-Barā’ berhadapan dengan sekumpulan pasukan musyrikin, di mana orang-orang musyrik itu telah mendesak kaum muslimin. Lalu mereka berkata kepadanya: “Wahai al-Barā’! Sesungguhnya Nabi s.a.w. telah bersabda bahwa seandainya kamu bersumpah atas nama Rabbmu, maka Rabbmu pasti membuktikan sumpahmu. Karena itu, bersumpahlah atas nama Rabbmu!” Al-Barā’ pun berkata: “Aku bersumpah kepada-Mu, ya Rabbi, serahkanlah pundak-pundak mereka kepada kami (diberi kemenangan atas musuh).” Lalu mereka pun diserahi pundak-pundak kaum musyrikin. Kemudian kaum muslimin bertemu mereka di atas jembatan Sus, dan mereka mendesak kaum muslimin. Lalu mereka berkata: “Bersumpahlah, ya al-Barā’, atas nama Rabbmu s.w.t.” Dia pun berkata: “Aku bersumpah kepada-Mu, ya Rabb, serahkanlah pundak-pundak mereka kepada kami, dan susulkanlah aku dengan Nabi-Mu.” Lalu kaum muslimin diserahi pundak-pundak mereka, dan al-Barā’ terbunuh sebagai syahid.” (83)

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ الْحَسَنِ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ نَصْرٍ الصَّائِغُ، حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيْمُ بْنُ حَمْزَةَ الزُّبَيْرِيُّ، حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِيْ حَازِمٍ، عَنْ كَثِيْرِ بْنِ زَيْدٍ، عَنِ الْوَلِيْدِ بْنِ رَبَاحٍ، عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ: «رُبَّ أَشْعَثَ ذِيْ طِمْرَيْنِ تَنْبُوْ عَنْهُ أَعْيَنُ النَّاسِ، لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللهِ عَزَّ وَ جَلَّ لَأَبَرَّهُ»

قَالَ الشَّيْخُ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى: وَ مِنْهَا إِنَّ لِيَقِيْنِهِمْ تَنْفَلِقُ الصُّخُوْرُ، وَ بِيَمِيْنِهِمْ تَنْفَتِقُ الْبُحُوْرُ

10. Muḥammad bin Aḥmad bin al-Ḥasan menceritakan kepada kami, Muḥammad bin Nashr ash-Shā’igh menceritakan kepada kami, Ibrāhīm bin Ḥamzah az-Zubairī menceritakan kepada kami, Ibnu Abī Ḥāzim menceritakan kepada kami, dari Katsīr bin Zaid, dari Walīd bin Rabāḥ, dari Abū Hurairah, dia berkata: Rasūlullāh s.a.w. bersabda: “Betapa banyaknya orang yang kumal, hanya memiliki dua potong pakaian, dan manusia memandangnya dengan sebelah mata, tetapi seandainya dia bersumpah atas nama Allah s.w.t., maka Allah membuktikan sumpah-Nya.

Catatan:


  1. 6). Hadits ini dha‘īf. H.R. Aḥmad (Musnad Aḥmad, 6/459). Al-Haitsamī (Majma-uz-Zawā’id, 8/93) berkata: “Dalam sanad-nya terdapat Syahr bin Ḥausyab yang dinilai tsiqah oleh selain Aḥmad. Para periwayat dalam salah satu sanad-nya merupakan para periwayat hadits shaḥīḥ. Tetapi menurutku, Syahr bin Ḥausyab itu dha‘īf.” 
  2. 7). Hadits ini dha‘īf. H.R. ath-Thabrānī (al-Mu‘jam-ul-Kabīr, 13425 dan al-Ausath 498). Al-Haitsamī (Majma‘-uz-Zawā’id, 10/265, 266) berkata: “Di dalam sanad-nya terdapat Muslim bin ‘Abdullāh al-Hamshi (?????? dalam hadits di atas adalah Muslim bin ‘Ubaidullāh bukan Muslim bin ‘Abdullāh al-Hamshi, apakah orang yang sama – SH.), saya tidak mengenalnya. Adz-Dzahabī pun menilainya majhūl. Sedangkan para periwayatnya yang lain dinilai tsiqah.” 
  3. 8). Hadits ini shaḥīḥ. H.R. at-Tirmidzī (Sunan-ut-Tirmidzī, pembahasan: Manaqib, 3854) dan al-Ḥākim (al-Mustadrak, 4/291, 292). Setelah meriwayatkannya al-Ḥakīm menilainya shaḥīḥ dan disepakati oleh adz-Dzahabī. Hadits ini juga dinilai shaḥīḥ oleh al-Albanī dalam Sunan-ut-Tirmidzī
Post Series: Mukaddimah - Hilyat-ul-Auliya' wa Thabaqat-ul-Ashfiya'

Sukai ini

  • Diposting Pada: 1:21 PM 09/29/2017
  • Dalam Kategori: Sejarah
  • Terdiri Dari: 849 Kata
  • Dilihat: 13 Kali.
Back To Top