Hati Senang

BAB II

TENTANG MUSNAD ILAIH

 

PASAL 1

MEMBUANG MUSNAD ILAIH

 

يُحْذَفُ لِلْعِلْمِ وَ لِلاخْتِبَارِمُسْتَمِعٍ وَ صِحَّةِ الْإِنْكَارِ

Artinya:

Musnad ilaih itu dibuang karena:

  1. Sudah diketahui musnadnya oleh pendengar, seperti lafaz dalam menjawab pertanyaan:
  2. Mencoba ingatan pendengar, kuat atau tidaknya.
  3. Supaya mudah ingat bila diperlukan.
سِتْرٍ وَ ضِيْفٍ فُرْصَةٍ إِجْلَالٍوَ عَكْسِهِ وَ نَظْمِ اسْتِعْمَالِ
كَحَبَّذَا طَرِيْقَةُ الصُّوْفِيَّةْتَهْدِيْ إِلَى الْمَرْتَبَةِ الْعَلِيَّةْ
  1. Bermaksud menutupinya kepada hadirin selain mukhathab tertentu.
  2. Karena tergesa-gesa.
  3. Untuk mengagungkan dengan tidak menyebut namanya.
  4. Untuk menghina.
  5. Karena darurat nadhom atau sajak.
  6. Mengikuti penggunaan Bahasa ‘Arab.
  7. Khabar ditakhsis dengan lafaz (نِعْمَ) atau (بِئْسَ) atau (حَبَّذَا). Seperti contoh dalam bait:
حَبَّذَا طَرِيْقَةُ الصُّوْفِيَّةْتَهْدِيْ إِلَى الْمَرْتَبَةِ الْعَلِيَّةْ

Artinya:

Sebaik-baik perjalanan ialah perjalanan (Thariqat) Ahli Tasawwuf yang menuju ke martabat yang mulia.

Bagikan:

PASAL II

TENTANG KALĀM BALĀGHAH

 

Ilmu Balāghah ialah ilmu yang mempelajari kefasihan bicara, yang meliputi ilmu-ilmu Ma‘ānī, Bayān dan Badī‘.

وَ جَعَلُوْا بَلَاغَةَ الْكَلَامِطَبَاقَةً لِمُقْتَضَى الْمَقَامِ

Artinya:

Para ulama ahli Ma‘ānī menjadikan definisi kalām balāghah itu, ialah sesuainya kalam itu dengan muqtadh-al-maqām-nya (keadaannya serta fashāḥah).

Adapun contoh-contohnya seperti:

  1. Lafaz: (الْجَهْلُ مُضِرٌّ، زَيْدٌ جَاهِلٌ) yang diucapkan kepada kholi dzihni (orang yang kosong hatinya dari keragu-raguan).
  2. Lafaz: (إِنَّ اللهَ عَلِيمٌ، وَ إِنَّ زَيْدًا جَاهِلٌ) yang diucapkan kepada orang yang ragu-ragu atau orang yang ingkar.
  3. Bagi orang yang sangat ragu-ragu atau sangat ingkar, ditambah dengan lam huruf qosam atau huruf qosam, seperti: (إِنَّ اللهَ لَعَلِيْمٌ، وَ إِنَّ زَيْدًا لَجَهِلٌ).

Bagikan:

PASAL 5

الْمَجَازُ الْعَقْلِيُّ

MAJĀZ ‘AQLĪ

 

Arti majāz ‘aqlī, ialah meng-isnād-kan fi‘il atau yang menyerupainya kepada mulābas-nya yang bukan sebenarnya, yaitu fi‘il mabnī fā‘il. Seperti: (نَصَرَ) bukan kepada mulābas yang seharusnya, ialah fā‘il, melainkan kepada maf‘ūl-nya dan fi‘il mabnī maf‘ūl bukan kepada nā’ib-ul-fā‘il-nya, seperti:

(ثَوْبٌ لَابِسٌ) asal artinya: pakaian yang memakainya.

Padahal maksudnya: pakaian yang dipakai.

(نَهَارُهُ صَائِمٌ) Asal artinya: Siangnya yang berpuasa.

Padahal maksudnya: pada siang harinya dia berpuasa.

Asalnya: (لَبِسَ زَيْدٌ ثَوْبًا), (صَامَ زَيْدٌ نَهَارَهُ).

وَ الثَّانِيْ أَنْ يُسْنَدَ لِلْمُلَابَسِلَيْسَ لَهُ يُبْنَى كَثَوْبٍ لَابِسٍ

Artinya:

“Yang kedua, (yaitu majāz ‘aqlī), ialah meng-isnād-kan fi‘il atau syibhi-nya kepada mulābas-nya (ma‘mūl-nya) yang bukan seharusnya di-isnād-kan kepadanya. Seperti: (كَثَوْبٍ لَابِسٍ) = Pakaian yang memakai. Maksudnya pakaian yang dipakai.

أَقْسَامُهُ بِحَسَبِ النَّوْعَيْنِ فِيْجُزْئَيْهِ أَرْبَعٌ بِلَا تَكَلُّفِ

Artinya:

Pembagian majāz dengan menghitung kedua macam (makna ḥaqīqat dan majāz) di dalam kedua juznya (musnad dan musnad ilaih-nya), itu ada empat macam tanpa kesulitan.”

 

Contoh-contohnya:

1. Kedua juznya dengan makna ḥaqīqat, seperti:

(أَنْتَ الرَّبِيْعُ الْبَقَلَ) = telah menumbuhkan musim penghujan akan sayur-sayuran.

2. Kedua juznya dengan makna majāz, seperti:

(أَحْيَا الْأَرْضَ شَبَابُ الزَّمَانِ) = telah menyuburkan tanah itu penggantian zaman.

Arti (أَحْيَا) di sini majāz, karena arti asalnya menghidupkan. Dan asal arti (شَبَابُ الزَّمَانِ) kemudian zaman, sedangkan maksudnya = penggantian zaman.

3. Musnad ilaih dengan arti ḥaqīqat, sedangkan musnad dengan arti majāz, seperti (أَحْيَا الْأَرْضَ الرَّبِيْعُ) = musim hujan itu menyuburkan tanah. Musnad ilaih lafaz (الرَّبِيْعُ), dan musnad-nya lafaz (أَحْيَا).

4. Musnad ilaih dengan arti majāz. Sedang musnad-nya dengan arti ḥaqīqat, seperti: (أَنْبَتَ الْبَقَلَ شَبَابُ الزَّمَانِ) = telah menumbuhkan kepada sayur-sayuran itu penggantian zaman.

Musnad ilaih-nya lafaz (شَبَابُ الزَّمَانِ), dan musnad-nya (أَنْبَتَ).

وَ وَجَبَتْ قَرِيْنَةٌ لَفْظِيَّةًأَوْ مَقْتُوِيَّةٌ وَ إِنْ عَادِيَّةً.

Artinya:

Majāz ‘aqlī-nya itu harus ada qarīnah (yang menunjukkan kepada tujuan yang sebenarnya), baik dengan qarīnah lafzhiyyah atau ma‘nawiyyah atau qarīnah menurut adat.”

1. Contoh qarīnah lafzhiyyah, seperti:

شَيَّبَ رَأْسِيْ تَوَالِي الْهُمُوْمِ وَ الْأَحْزَانِ وَ لكِنَّ اللهَ يَفْعَلُ مَا يَشَاءُ

Telah menumbuhkan uban di kepalaku berturut-turut kesusahan dan keprihatinan, tetapi Allah mengerjakan apa yang Ia kehendaki.

Lafaz: (وَ لكِنَّ اللهَ يَفْعَلُ مَا يَشَاءُ), qarīnah lafazhiyyah.

2. Contoh qarīnah ma‘nawiyyah, seperti:

(مَحَبَّتُكَ جَاءَتْ بِيْ إِلَيْكَ) = kecintaan padamu telah mendatangkan aku padamu.

Qarīnah-nya: mustahil mendatangi kekasih oleh kecintaan melainkan oleh kakinya.

3. Contoh qarīnah ‘adiyah (adat), seperti:

(هَزَمَ الْأَمِيْرُ الْجُنْدَ) = telah menewaskan komandan itu kepada pasukan musuh.

Qarīnah-nya: mustahil menurut adat, seorang diri komandan mampu menewaskan musuh. Melainkan oleh pasukannya.

Bagikan:

Rahasia di Balik Tanda-tanda Fi‘il.

وَ الْفِعْلُ يُعْرَفُ بِقَدْ وَ السِّيْنِ وَ سَوْفَ وَ تَاءِ التَّأْنِيْثِ السَّاكِنَةِ

Fi‘il bisa dikenali dengan qad, sin, saufa, dan tā’ ta’nīts yang mati.

Fi‘il artinya perbuatan. Perbuatan yang menjadi sarana pencapaian ridha Allah dan wushul pada Kehadiran Suci, dapat dikenali dengan adanya:

1. Qad. Huruf ini melahirkan ketetapan hati dan pemantapan, yaitu keinginan yang kuat untuk melakukan kebaikan, takwa, keteguhan hati, dan pemantapan, dengan melanggengkan perjalanan hingga berhasil mencapai wushūl, atau meregang nyawa. Dengan perbuatan inilah seorang murid dapat mencapai wushūl.

Para ahli hakikat menegaskan syarat-syarat bagi seorang faqīr yang benar. Yaitu penghambaan yang baik, menjaga kehormatan, mengagungkan nikmat, dan selalu teguh memegang cita-cita, dalam perjalanan menuju wushūl.

Ketika sang murid merasa letih dan lemah, dia memperbarui keteguhan hatinya. Demikian seterusnya hingga mencapai tujuan.

Seorang penyair berkata:

Benar-benar dia jaga kesungguhan

Sampai banyak dari mereka merasa bosan

Yang mampu memeluk keagungan,

Dialah yang sanggup menjalankan tugas

Seraya bersabar.

Ketika dia mengkhawatirkan diri karena rasa jenuh dan bosan, desakan hawa nafsu, dia menghibur diri dengan meninggalkan mujāhadah dan mengatakan kepada dirinya, suatu saat nanti dia akan mendapatkan kenyamanan dan kegembiraan dengan mencapai wushūl.

Inilah yang diisyaratkan tanda selanjutnya.

2. Sīn dan saufa (akan).

Keduanya menjadi isyarat adanya mujāhadah, dengan membuang mudhāf berupa tarkun (meninggalkan). Artinya, mujāhadah bisa diketahui dengan meninggalkan sīn dan suafa, yaitu meninggalkan penundaan.

Dengan demikian, huruf itu merupakan isyarat untuk bersegera menggunakan kesempatan sebelum habis waktunya. Ibnu al-Faridh r.a. memberikan isyarat:

Bersungguh-sungguhlah

Seraya membawa pedang kemantapan

Bila iya,

Kamu dapati kepribadian

Ia pun,

Dalam kesungguhanmu

Akan ikut serta.

Hal itu juga ditegaskan mushannif kitab al-Jurumiyyah dalam ungkapannya:

3. Tā’ ta’nīts (sebagai kata ganti untuk perempuan) yang mati (sukūn).

Maknanya ialah meninggalkan pergaulan dengan perempuan, sebab merupakan penghalang terbesar bagi seorang murid.

Rasulullah s.a.w. bersabda: “Aku tidak meninggalkan setelah kematianku, (godaan) yang lebih berbahaya bagi kaum lelaki daripada para perempuan.”

Banyak kaum sufi yang mengingatkan seorang faqīr agar tidak menikah sebelum wushūl. Kecuali bila sang murid berada dalam bimbingan seorang guru, memiliki hubungan yang erat dengannya dan dia memberi izin untuk menikah. Pernikahan yang demikian tidak membahayakan perjalanan.

Wallāhu ta‘ālā a‘lam.

Bagikan:

Ḥurūf.

Ḥurūf adalah lafazh yang menunjukkan pada makna ketika ia bersamaan dengan lafazh yang lain. Contoh dari kalimah-kalimah ḥurūf adalah seperti: Hal, fī, lām, ‘alā, inna, min dan lain-lain. Kalimah ḥurūf tidak memiliki tanda sebagaimana tanda-tanda yang dimiliki oleh kalimah isim dan kalimah fi‘il. Ḥurūf terbagi menjadi tiga bagian; ada ḥurūf yang bisa masuk pada kalimah isim seperti ḥurūf jarr dan ada ḥurūf yang bisa masuk pada kalimah fi‘il seperti ‘āmil nawāshib dan ‘āmil jawāzim. Dan ada pula yang bisa masuk pada keduanya seperti ḥurūf ‘athaf dan ḥurūf istifhām. (281).

Catatan:


  1. 28). الحرف. الحرفُ ما دلّ على معنًى في غيره، مثلُ “هَلْ و في و لم و على و إنَّ و مِنْ”. و ليس له علامةٌ يتميَّزُ بها، كما لِلاسمِ و الفعل. و هو ثلاثةُ أقسام حرفٌ مُخْتَصٌّ بالفعل بالاسم كحروف الجرِّ، وَ الأحرف التي تنصبُ الاسمَ و ترفعُ الخبر. و حرفٌ مُشتركٌ بين الأسماء و الأفعال كحروف العطف، و حرفي الاستفهام. جامع الدروس العربية صـــــ 71. 

Bagikan:

Tā’ Ta’nīts.

Fungsi tā’ ta’nīts adalah untuk me-mu’annats-kan musnad ilaih, baik adanya musnad ilaih itu berupa fā‘il seperti (قَامَتْ هِنْدٌ) atau berupa nā’ib fā‘il seperti contoh: (ضُرِبَتْ هِنْدٌ). Jika dikatakan bahwa tā’ ta’nīts itu fungsinya untuk memu’annatskan fā‘il, maka kalimah fi‘il tidak boleh diberi tā’ ta’nīts. Tidak boleh dikatakan demikian, karena tā’ ta’nīts ini adalah tandanya kalimah fi‘il dan karena fi‘il dan fā‘il itu sama. (251).

Dalam tā’ ta’nīts ada catatan harus berupa tā’ ta’nīts yang mati, dan matinya harus berupa mati yang asli. Namun ketika tā’ ta’nīts ini diberi harakat karena untuk menghindari bertemunya dua ḥurūf yang mati, maka boleh, baik harakatnya berupa harakat kasrah seperti contoh: (قَالَتِ الْإِعْرَابُ آمَنَّا) atau berupa harakat fatḥah seperti contoh (قَالَتَا أَتَيْنَا طَائِعِيْنَ) atau berupa harakat dhammah seperti contoh: (وَ قَالَتُ اخْرُجْ). Dikecualikan dari tā’ ta’nīts yang mati adalah tā’ yang berharakat asli yang berada pada isim seperti contoh: (قَائِمَةٌ) dan (فَاطِمَةٌ), tā’ yang berada pada fi‘il seperti (تَقُوْمُ) dan tā’ yang berada pada ḥurūf seperti (رُبَّتْ وَ ثُمَّتْ). Di samping tandanya kalimah fi‘il bisa menerima tā’ ta’nīts juga bisa menerima dhamīr dan nūn taukīd seperti contoh: (قُمْتَ، قُنْتِ، لِيَكْتُبَنَّ، لِيَكْتُبَنْ، اُكْتُبَنَّ، اُكْتُبَنْ).
(262).

Kesimpulan dari tanda-tandanya fi‘il adalah ada tanda yang khusus untuk fi‘il mādhī yaitu tā’ ta’nīts, ada tanda yang khusus untuk fi‘il mudhāri‘ yaitu ḥurūf sīn dan saufa dan ada tanda untuk fi‘il mādhī dan fi‘il mudhāri‘ yaitu qad. Pengarang kitab nahwu tidak menjelaskan tandanya fi‘il amar karena hal ini akan kesulitan bagi para mubtadi’ (pelajar tingkat dasar). Tanda untuk fi‘il amar adalah adanya makna untuk memerintah atau menghasilkan sesuatu, bersamaan lafazh tersebut bisa menerima (يَاء المخاطبة) seperti contoh: (اِضْرِبِيْ).
(273).

Catatan:


  1. 25). (قوله و تاء التأنيث) و المعنى أنها دالة على تأنيث المسند إليه سواء كان فاعلا كقامت هند أو نائب فاعل كضربت هند بضم أوله و كسر ما قبل آخره و قد يقال أن تاء التأنيث حقها أن تتصل بالفاعل لا بالفعل لأنها تدل على تأنيث الفاعل و يجاب بأن التاء اتصلت بالفعل لأنها من علاماته أو لأن الفعل و الفاعل كالشيء الواحد. حاشية العشماوي صــــ 8. 
  2. 26). و علامته أن يقبلَ “قَدْ” أو “السينَ” أو “سوف”، أو تَاء التَّأنيث الساكنة”، أو “ضميرَ الفاعل”، أو “نون التوكيدِ” مثلُ قد قام. قدْ يقومُ. ستذهبُ. سوف نذهبُ. قَامتْ. قمت. قمتِ. ليكتبَنَّ. لَيكتُبَنْ. اكتبَنْ” جامع الدروس العربية – الجزء الأول صــــ 17. 
  3. 27). (قوله الساكنة) و المراد أنها ساكنة أصالة فلا يضر تحركها لعارض كدفع التقاء الساكنين سواء تحركت بالكسرة كما في قوله تعالى قالت الأعراب آمنا فإن التاء حركت بالكسرة أو حركت بالفتحة كما في قوله تعالى قالتا أتينا طائعين فإن التاء حركت بالفتحة لمناسبة الألف لأن الألف تناسب بالفتحة أو حركت بالضمة كما في قوله تعالى و قالَتُ اخْرج في قراءة من ضم التاء و خرج بقولنا الساكنة أصالة التاء المتحركة أصالة فإن كانت حركتها حركة إعراب اختصت بالاسم كقائمة و فاطمة و إن كانت حركتها غير حركة إعراب فإنها تكون في الاسم كما في قولك لا حول و لا قوة و تكو في العل نحو تقوم و في الحرف نحو ربت و ثمت. و حاصل هذه العلامات أن منها ما يختص بالفعل الماضي كتاء التأنيث الساكنة و منها ما يختص بالفعل المضارع و هو السين و سوف و منها مشترك بين الماضي و المضارع و هو قد و ترك المصنف علامات فعل الأمر لعسرها على المبتدى و هي الدلالة على الطلب مع قبول ياء المخاطبة كقولك اضربي. حاشية العشماوي صــــ 8. 

Bagikan:

Ḥurūf Sīn dan Saufa.

Yang dikehendaki dari ḥurūf sīn adalah sīn istiqbāl, yaitu berfungsi untuk mengakhirkan zamannya fi‘il mudhāri‘ dari zaman ḥāl menjadi zaman istiqbāl. Dari sini maka akan mengecualikan sīn tahajjī yaitu sīnnya lafazh (سالم) dan sīn shairūrah seperti lafazh (اِسْتحْجَرَ الطِّيْنُ).

Ḥurūf saufa yaitu ḥurūf taswīf, fungsinya sama dengan ḥurūf sīn, yaitu untuk mengakhirkan zamannya fi‘il mudhāri‘ dari zaman ḥāl menjadi zaman istiqbāl. Kedua ḥurūf ini memiliki fungsi yang sama namun ḥurūf saufa lebih mengakhirkan dibandingkan ḥurūf sīn, karena semakin banyak ḥurūf-nya maka maknanya pun akan lebih banyak. Ḥurūf saufa mempunyai ragam bahasa, bisa diucapkan dengan saufa, saifa, sai dan sau. Contoh kalimat fi‘il yang terdapat ḥurūf sīn adalah firmannya Allah s.w.t. (سَيَقُوْلُ السُّفَهَاءُ مِنَ النَّاسِ), sedangkan contoh saufa (سَوْفَ أَسْتَغْفِرُ لَكُمْ رَبِّيْ). (231)

Ḥurūf sīn dan saufa ini hanya dikhususkan untuk fi‘il mudhāri‘, karena fungsinya untuk menjadikan zaman ḥāl menjadi zaman istiqbāl. (242)

Catatan:


  1. 23). (قوله السين) و المراد بالسين سين الاستقبال و هي الدالة على تأخير زمن الفعل المضارع عن الحال فخرج بها سين التهجي كسين سالم و سين الصيرورة كقولك استحجر الطين أي صار حجرا و قوله و سوف و هو حرف تسويف و هو تأخير زمن المضارع عن الحال أيضا فكل من السين و السوف و سيف و سي و سو و كثرة اللغات تدل على كثرة المعنى فمثال السين قوله تعالى سيقول السفهاء من الناس و مثال سوف قوله تعالى حكاية سيدنا يعقوب في قوله لبنيه سوف أستغفر لكم ربي. حاشية العشماوي صــــ 7-8. 
  2. 24). (و السين و السوف) و يختصان بالمضارع لتخليصه للاستقبال نحو سيقوم و سوف يقوم و إنما اختصا به لأنهما وضعا لتأخير معنى الفعل من الحال إلى الاستقبال قال لفاكهي و في سوف زيادة تأخير و تنفيس لأن كثرة الحروف تدل على زيادة المعنى و قال ابن عنقاء ليس التنفيس بالسين كالتنفيس بسوف بل أقل خلافا لابن هشام. الكواكب الدرية صــــ 9. 

Bagikan:

Ḥurūf Qad.

Yang dikehendaki ḥurūf qad di sini adalah qad ḥarfiyah. Sesungguhnya ḥurūf qad mempunyai beberapa makna. Berikut kami jelaskan rinciannya:

1. Makna taḥqīq (menyatakan) dan taqrīb (mendekatkan); makna ini khusus masuk pada fi‘il mādhī. Contoh yang memiliki makna taḥqīq adalah firmannya Allah s.w.t.: (قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُوْنَ), sedangkan yang memiliki makna taqrīb adalah (قَدْ قَامَتِ الصَّلَاةُ).

2. Makna taqlīl (menyedikitkan) dan taktsīr (memperbanyak). Makna ini khusus masuk pada fi‘il mudhāri‘. Contoh yang memiliki makna taqlīl adalah (قَدْ يَصْدُقُ الْكَذُوْبُ وَ قَدْ يَجُوْدُ الْبَخِيْلُ), sedangkan yang memiliki makna taktsīr (قَدْ يَبْخَلُ الْبَخِيْلُ).

Ḥurūf qad yang masuk pada fi‘il mādhī harus memenuhi empat syarat sebagai berikut:

1. Kalimatnya harus positif (mutsbat), maka tidak bisa kalau kalimatnya negatif (manfī) seperti contoh: (مَا قَدْ قَامَ زَيْدٌ).

2. Kalimatnya harus mutasharrifan (bisa ditashrīf) bukan jāmid (tidak bisa ditashrīf), seperti contoh: (قَدْ عَسَى).

3. Kalimatnya harus berupa kalām ikhbār, maka tidak boleh jika kalimatnya kalām insyā’, misalnya: (قَدْ بِعْتُ مُرِيْدًا إِنْشَاءَ الْبَيْعِ).

4. Tidak ada pemisah di antara ḥurūf qad dan kalimat setelahnya, kalau ada pemisah maka tidak boleh, contohnya (قَدْ هُوَ قَامَ).

5. Dikecualikan dari qad ḥarfiyyah adalah qad ismiyyah, karena qad ini (ismiyyah) dikhususkan untuk kalimah isim. Contohnya: (قَدْ زِيْدَ دِرْهَمٌ أَيْ حَسْبَ زِيْدَ دِرْهَمٌ) (211).

Ḥurūf qad merupakan tanda untuk fi‘il mādhī dan fi‘il mudhāri‘ dan hanya khusus untuk kalimat fi‘il karena makna-makna yang dimiliki tidak bisa digunakan untuk kalimah selainnya. (222).

Catatan:


  1. 21). (قوله يعرف بقد) و المراد بقد قد الحرفية لأنها المراد عند الإطلاق و إنما اختصت بالفعل لأن معناها و هو التحقيق و التقريب مختص به الفعل و تدخل على الماضي فتفيد التحقيق كما في قوله تعالى قد أفلح المؤمنون و التقريب كما في قولك قد قامت الصلاة أي قرب قيامها و تدخل على المضارع فتكون للتقليل كقولك قد يصدق الكذوب و قد يجود البخيل و تأتى للتكثير كقولك قد يبخل البخيل و لا تدخل على الماضي إلا بأربعة شروط الأول أن يكون مثبتا فلا تدخل على المنفي فلا تقول ما قد قام زيد الثاني أن يكون متصرفا فلا تدخل على جامد كقولك قد عسى و الثالث أن يكون خبرا فلا يجوز دخولها على الإنشاء فلا تقول قد بعت مريدا انشاء البيع بخلاف ما إذا أردت الاخبار فإنه يجوز الرابع أن لا يفصل بينهما و بين الفعل فلا يقال قد هو قام مثلا و خرج بقد الحرفية قد الاسمية فإنها مختصة بالأسماء كقوله قد زيد درهم أي حسب زيد درهم. حاشية العشماوي صــــ 7. 
  2. 22). (بقد) و هي علامة مشتركة تارة تدخل على الماضي لإفادة تقريبه من الحال نحو قد قامت الصلاة أو تحقيقه نحو و نعلم أن قد صدقتنا و تارة على المضارع لإفادة التحقيق نحو قد يعلم الله أو التقليل نحو إن الكذوب قد يصدق و وجه اختصاصها بالأفعال إن هذه المعاني مختصة بالأفعال فلا يتصور وجودها في غيرها. الكواكب البدرية صـــــ 9. 

Bagikan:

Kalimah Fi‘il.

Lafazh (فعل) ḥurūf (فاء) nya harus dibaca kasrah, hal ini untuk menghindari dibaca fatḥah, karena kalau terbaca fatḥah maka maknanya adalah sebuah pekarjaan, seperti berdiri, duduk, makan dan minum. (201) Dan kalimah fi‘il dapat diketahui dengan: qad, sīn, saufa, tā’ ta’nīts as-sākinah.

Catatan:


  1. 20). (قوله و الفعل) بكسر الفاء احترازا من الفعل بفتحها و هو الفعل اللغوي الذي هو الحدث كالقيام و القعود و الأكل و الشرب. حاشية العشماوي صــــ 6. 

Bagikan:

Lewat ke baris perkakas