Pengertian Shufi dan Tashawwuf – Tashawwuf dan Thariqah – Sabil-us-Salikin (1/3)

BAB II  TASHAWWUF DAN THARĪQAH Pengertian Shūfī dan Tashawwuf Para ‘Ulamā’ memberikan pengertian berbeda-beda atas makna shūfī dan tashawwuf. Rasūlullāh s.a.w. bersabda: مَنْ سَمِعَ صَوْتَ اَهْلِ الصُّوْفِ يَدْعُوْنَ فَلَمْ يُؤْمِنْ عَلَى دُعَائِهِمْ كُتِبَ مِنَ الْغَافِلِيْنَBarang siapa mendengar suara ahli tashawwuf yang sedang berdo’a dan dia tidak mengucapkan amin atas do’anya maka dia termasuk golongan orang yang lalai.”(Tahdzīb al-Asrār fī Ushūl at-Tashawwuf, halaman: 11). Berikut ini pendapat…

Nama-Nama Thariqah Sedunia – Unsur-unsur Tarekat – Sabil-us-Salikin

Nama-Nama Tharīqah Sedunia (Tharīqah sangat banyak jumlahnya. Mari kita mengenal mereka secara mendalam. Namun terlebih dahulu, lihat dan baca dulu seratusan nama tharīqah di bawah ini. Penjelasan lebih lanjut hadir di ngaji berikutnya) Tharīqah al-Ibāhiyyah Tharīqah al-Ittiḥādiyyah Tharīqah al-Aḥmadiyyah atau Badawiyyah: Tharīqah Syaikh Badawī, (w. 1276 M), mempunyai beberapa cabang, yaitu : Tharīqah as-Syannawiyyah Tharīqah al-Marāziqah Tharīqah al-Kannāsiyyah Tharīqah al-Inbābiyyah Tharīqah al-Humūdiyyah Tharīqah al-Munāfiyyah Tharīqah as-Salamiyyah Tharīqah al-Halbiyyah Tharīqah az-Zāhidiyyah…

Beragam Thariqah Hakikatnya adalah Satu – Unsur-unsur Tarekat – Sabil-us-Salikin

Beragam Tharīqah Hakikatnya adalah Satu.   Tharīqah adalah satu tradisi keagamaan dalam Islam yang sebenarnya sudah ada sejak zaman Nabi Muḥammad s.a.w. Bahkan, perilaku kehidupan beliau sehari-hari adalah praktek kehidupan rohani yang dijadikan rujukan utama oleh para pengamal tharīqah dari generasi ke generasi sampai sekarang. Adapun dalam konteks wirid, Nabi s.a.w. telah memberikan isi dzikir kepada para sahabat sesuai dengan derajat dan aḥwālnya. Secara khusus ada dua sahabat yang diberikan…

Suluk dalam Pandangan Ibnu Taimiyah – Unsur-unsur Tarekat – Sabil-us-Salikin

Sulūk dalam Pandangan Ibnu Taimiyah   Ibnu Taimiyah yang selama ini dituding sebagai anti tharīqah ternyata justru sangat mendukung sulūk sebagai unsur fundamental dalam tharīqah. Dalam kaitan ini ia menegaskan dalam Majmū‘ al-Fatāwā-nya: “Sulūk adalah menempuh jalan yang diperintahkan Allāh dan Rasūl-Nya berupa realisasi akidah, ibadah, dan akhlak”. Semua ini sangat jelas dalam ibadah al-Qur’ān dan Sunnah, karena sulūk menempati posisi makanan yang merupakan keharusan bagi orang mu’min. Oleh karena…

Suluk – Unsur-unsur Tarekat – Sabil-us-Salikin

Sulūk (Dalam wacana sufi, perjalanan dalam menempuh jalan-jalan menuju Tuhan disebut dengan sulūk. Adapun orang yang melakukan perjalanan disebut sālik.) Asas pertama tharīqah adalah al-Irādah, yaitu kehendak atau kemauan bulat untuk selalu mendekatkan diri kepada Allāh s.w.t. dengan menapaki jalan-jalan (menuju-Nya) secara sungguh-sungguh sedemikian rupa sehingga yang bersangkutan benar-benar mengalami dan merasakan (kehadiran) Tuhan (Rukun Iḥsān: Seolah-olah beribadah melihat Allāh s.w.t. apabila tidak maka sadarilah bahwa Allāh s.w.t. melihatnya). Perintah…

Teknik Melakukan Rabithah (Merabit) & sebagai Penghalau Iblis – Unsur-unsur Tarekat – Sabil-us-Salikin

Teknik Melakukan Rābithah Di dalam shalat, ketika melakukan tasyahhud, kita diperintahkan mengucapkan salam kepada Nabi s.a.w., Assalāmu ‘alaika ayyuh-an-nabiyyu wa raḥmatullāhi wa barakātuh (salam dan Rahmat serta barakah Allāh untukmu wahai Nabi s.a.w.). Perintah ini harus dilakukan secara lahir dan bathin, secara lahir dengan mengucapkan salam itu sendiri, sedangkan secara bathin adalah menghubungkan rohani kita dengan rohani Rasūl s.a.w., agar kita bisa bersama dengan Beliau s.a.w. Bersama dengan Rasūl s.a.w.…

Rabithah (Merabit) – Unsur-unsur Tarekat – Sabil-us-Salikin

Rābithah (Merabit)   Dari segi bahasa makna rābithah adalah hubungan atau ikatan; terambil dari kata rabth yang berarti mengikat atau menghubungkan, (al-Munawwir Qamus ‘Arabi-Indunisia, halaman: 501). Ungkapan rābithat-ul-mursyid, dengan demikian, menunjukan kepada makna menghubungkan diri dengan mursyid atau merabit dengan mursyid. Pada hakikatnya perintah rābithah itu mengikuti dan mempunyai landasan dari ayat al-Qur’ān, Hadits dan pendapatnya para ‘ulamā’, Di dalam al-Qur’ān perintah melakukan rābithah diungkapkan melalui firman Allāh s.w.t.: يَا

Qalbu Rasul sebagai Tempat Wasilah – Unsur-unsur Tarekat – Sabil-us-Salikin

Qalbu Rasūl sebagai Tempat Wasīlah   Di dalam al-Qur’ān, Allāh s.w.t. membuat perumpamaan tentang Cahaya (nūr)-Nya yang diungkapkan dengan redaksi: اللهُ نُوْرُ السَّمَاوَاتِ وَ الْأَرْضِ مَثَلُ نُوْرِهِ كَمِشْكَاةٍ فِيْهَا مِصْبَاحٌ الْمِصْبَاحُ فِيْ زُجَاجَةٍ الزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُوْقَدُ مِنْ شَجَرَةٍ مُّبَارَكَةٍ زَيْتُوْنِةٍ لَّا شَرْقِيَّةٍ وَ لَا غَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِيْءُ وَ لَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ نُّوْرٌ عَلَى نُوْرٍ يَهْدِي اللهُ لِنُوْرِهِ مَن يَشَاءُ وَ يَضْرِبُ اللهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ وَاللهُ بِكُلِّ

Wasilah – Unsur-unsur Tarekat – Sabil-us-Salikin

Wasīlah (Nūrun ‘alā Nūrin) Urgensi posisi Mursyid yang sangat penting dalam tharīqah sebagai jalan menuju Tuhan sebenarnya erat kaitannya dengan masalah wasīlah. Allāh s.w.t. memerintahkan agar orang-orang mu’min mencarinya: يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَ ابْتَغُوْا إِلَيْهِ الْوَسِيْلَةَ وَ جَاهِدُوْا فِيْ سَبِيْلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ ﴿٣٥﴾ “Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allāh dan carilah wasīlah (yang menyampaikanmu) kepada Allāh, serta berjuanglah di jalan-Nya, agar kamu menang.” (al-Mā’idah [5]: 35).…