Bodohanya Orang Yang Ingin Mengubah Kehendak Allah – Syarah al-Hikam – asy-Syarqawi

Bodohanya Orang Yang Ingin Mengubah Kehendak Allah.   17. مَا تَرَكَ مِنَ الْجَهْلِ شَيْئًا مَنْ أَرَادَ أَنْ يُحْدِثَ فِي الْوَقْتِ غَيْرَ مَا أَظْهَرَهُ اللهُ فِيْهِ Alangkah bodohnya orang yang menghendaki sesuatu terjadi pada waktu yang tidak dikehendaki-Nya. – Ibnu ‘Athā’illāh al-Iskandarī –   Jika hati atau tubuh seorang murīd sedang berada dalam satu keadaan (aḥwāl) tertentu, ia harus tetap menjaga kesopanan di hadapan Allah dengan merelakan diri untuk tetap berada…

Hati Tidak Mungkin Bersinar Manakala Keduniaan Menutupinya – Syarah al-Hikam – asy-Syarqawi

Hati Tidak Mungkin Bersinar Manakala Keduniaan Menutupinya.   13. كَيْفَ يَشْرُقُ قَلْبٌ صُوَرُ الْأَكْوَانِ مِنْطَبِعَةٌ فِيْ مِرْآتِهِ أَمْ كَيْفَ يَرْحَلُ إِلَى اللهِ وَ هُوَ مُكَبَّلٌ بِشَهَوَاتِهِ أَمْ كَيْفَ يَطْمَعُ أَنْ يَدْخُلَ حَضْرَةَ اللهِ وَ هُوَ لَمْ يَتَطَهَّرْ مِنْ جَنَابِةِ غَفَلَاتِهِ أَمْ كَيْفَ يَرْجُوْ أَنْ يَفْهَمَ دَقَائِقَ الْأَسْرَارِ وَ هُوَ لَمْ يَتُبْ مِنْ هَفَوَاتِهِ. Bagaimana mungkin qalbu akan bersinar, sedangkan bayang-bayang dunia masih terpampang di cerminnya? Bagaimana mungkin akan pergi menyongsong…

Kemasyhuran Sangat Membahayakan Seorang Murid – Syarah al-Hikam – asy-Syarqawi

Kemasyhuran Sangat Membahayakan Seorang Murid.   11. اِدْفِنْ وُجُوْدَكَ فِيْ أَرْضِ الْخُمُوْلِ فَمَا نَبَتَ مِمَّا لَمْ يُدْفَنْ لَا يَتِمَّ نَتَائِجُهُ. Kuburlah dirimu di tanah kerendahan karena sesuatu yang tumbuh tanpa dikubur (ditanam) hasilnya kurang sempurna. – Ibnu ‘Athā’illāh al-Iskandarī –   Maksud “tanah kerendahan” adalah tanah yang di sana popularitas tak tumbuh subur. Maksud “kuburlah dirimu di sana” adalah kau tidak usah menempuh sebab-sebab popularitas, seperti dengan cara menawarkan dirimu…

Makrifat Allah Tidak Ada Kaitannya Dengan ‘Amalmu – Syarah al-Hikam – asy-Syarqawi

Makrifat Allah Tidak Ada Kaitannya Dengan ‘Amalmu.   8. إِذَا فَتَحَ لَكَ وِجْهَةً مِنَ التَّعَرُّفِ فَلَا تُبَالِ مَعَهَا إِنْ قَلَّ عَمَلُكَ فَإِنَّهُ مَا فَتَحَهَا لَكَ إِلَّا وَ هُوَ يُرِيْدُ أَنْ يَتَعَرَّفَ إِلَيْكَ أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ التَّعَرُّفَ هُوَ مُوْرِدُهُ عَلَيْكَ وَ الْأَعْمَالُ أَنْتَ مُهْدِيهَا إِلَيْهِ وَ أَيْنَ مَا تُهْدِيْهِ إِلَيْهِ مِمَّا هُوَ مُوْرِدُهُ عَلَيْكَ Jika Tuhan membukakan untukmu pintu makrifat, jangan kaupertanyakan ‘amalmu yang sedikit. Karena Dia tidak akan membukakan pintu…

01-10 Lafal Dzikir yang Paling Utama – Sabil-us-Salikin

Lafal Dzikir yang Paling Utama Di dalam al-Qur’ān perintah berdzikir diungkapkan berkali-kali dan pada umumnya muncul dalam tiga redaksi, yaitu: وَ اذْكُرِ اسْمَ رَبِّكَ بُكْرَةً وَ أَصِيْلًا، (ألإنسان :٢٥) “Sebutlah nama Tuhanmu pada (waktu) pagi dan petang” (QS. al-Insān [76]: 25), atau قَالَ رَبِّ اجْعَل لِّيَ آيَةً قَالَ آيَتُكَ أَلَّا تُكَلِّمَ النَّاسَ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ إِلَّا رَمْزًا وَ اذْكُر رَّبَّكَ كَثِيْرًا وَ سَبِّحْ بِالْعَشِيِّ وَ الْإِبْكَارِ ، (آل عمران :٤١) “Berkata…

01-9 Thariqah, Teknik Berdzikir Efektif – Sabil-us-Salikin

Tharīqah, Teknik Berdzikir Efektif Di samping menunjuk kepada pengertian-pengertian yang telah disebutkan sebelumnya, tharīqah juga dapat didefinisikan secara singkat sebagai “teknik berdzikir efektif”. Sebelumnya telah disebutkan bahwa istilah tharīqah dalam al-Qur’ān dan al-Ḥadīts digunakan dalam konteks dzikrullāh dalam kerangka tauhid. Dalam hadits al-Bukhārī berikut kata thuruq (bentuk jama‘ dari tharīq dan tharīqah) juga digunakan dalam konteks ini: وَ فِي الْحَدِيْثِ إِنَّ للهَ تَعَالَى مَلَائِكَةٌ سِيَاحِيْنَ فِي الدُّنْيَا سِوَى مَلَائِكَةِ الْخَلْقِ

01-8 Thariqah, Cara Mengamalkan Syari‘ah – Sabil-us-Salikin

Tharīqah, Cara Mengamalkan Syarī‘ah Dengan mengacu pada uraian sebelumnya, dapat dipahami bahwa tharīqah atau tharīq-ush-shāfiyyah (jalan para sufi) pada hakikatnya adalah: jalan yang ditempuh oleh para nabi dan rasūl dalam merealisasikan penghambaan diri dan tauhid yang murni dengan cara mengosongkan qalbu dari hal-hal selain Allāh, serta memenuhinya dengan dzikrullāh dalam setiap keadaan (berdiri, duduk, dan berbaring). (Dasarnya: ) الَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللهَ قِيَامًا وَ قُعُوْدًا وَ عَلَى جُنُوْبِهِمْ وَ يَتَفَكَّرُوْنَ فِيْ

01-7 Thariqah, Tarekat dalam Pandangan Ibnu Taimiyah – Sabil-us-Salikin

Tharīqah dalam Pandangan Ibnu Taimiyah Penjelasan Ibn Taimiyah mengenai tarekat sangat penting untuk dikemukakkan lebih jauh di sini, sebab – sekali lagi – selama ini ia sering dituding sebagai antitharīqah, bahkan dijadikan rujukan utama oleh sebagian kecil umat untuk menentang tharīqah. Padahal Ibnu Taimiyah tidak pernah menentang tharīqah/tashawwuf kecuali yang nyata sekali bertentangan dengan al-Qur’ān dan as-Sunnah. Ketika memuji Imām al-Junaid al-Baghdādī berkenaan dengan kewajiban seorang salik (Orang yang berjalan…

01-6 Dasar Hadits – Sabil-us-Salikin

Dasar Hadits Sejalan dengan apa yang disitir dalam al-Qur’ān, sebagaimana dijelaskan di atas, ternyata tashawwuf juga dapat dilihat dalam kontek Hadits. Umumnya yang dinyatakan sebagai landasan dan dasar ajaran-ajaran tashawwuf adalah hadits-hadits berikut. مَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ فَقَدْ عَرَفَ رَبَّهُBarang siapa yang mengenal dirinya sendiri, maka akan mengenal Tuhannya.” (Iḥyā’u ‘Ulūm-id-Dīn, juz 4, halaman: 301) كُنْتُ كَنْزًا مَخْفِيًّا فَأَحْبَبْتُ اَنْ اُعْرَفَ فَخَلَقْتُ الْخَلْقَ فَبِهِ عَرَفُوْنِيْAku adalah

01-5 Dasar al-Qur’an – Sabil-us-Salikin

Dasar al-Qur’ān Al-Qur’ān dan as-Sunnah adalah nash. Setiap muslim kapan dan di mana pun dibebani tanggung-jawab untuk memahami dan melaksanakan kandungannya dalam bentuk amalan yang nyata. Pemahaman terhadap nash tanpa pengamalan akan menimbulkan kesenjangan. Ketika ditanya tentang akhlak Rasūlullāh, ‘Ā’isyah menyawab: “al-Qur’ān”. Para sahabat dikenal sebagai orang-orang yang banyak menghafalkan isi al-Qur’ān dan kemudian menyebarkannya kepada yang lain dengan disertai pengamalan atau penjiwaan terhadap isinya. Mereka berusaha menerapkan akhlak atau…