Hati Senang

3-1-1 Tahapan Rintangan – Harta Duniawi (1/2) | Minhaj-ul-Abidin

BAB III TAHAPAN RINTANGAN   Wahai orang yang menempuh jalan ibadah – semoga Allah memberikan petunjuk kepada Allah – anda harus menepis segala rintangan yang menghalangi anda dalam beribadah, sehingga ibadah anda menjadi lurus. Sebagaimana telah kami sebutkan, bahwa rintangan-rintangan dalam beribadah itu ada empat, yaitu: 1. Rintangan Pertama Berupa Harta Duniawi (Bagian 1/2) Di dalam menghadapi dan menolak rintangan pertama yang berupa dunia adalah dengan mengosongkan hati dari urusan…

01-7 Allah SWT Yang Haq – Risalah Qusyairiyah

BAB I PRINSIP-PRINSIP TAUHID DALAM PANDANGAN KAUM SUFI (Bagian 7 dari 7)     ALLAH S.W.T. YANG ḤAQQ Para Syaikh dari tharīqat ini mengatakan soal tauhid: “Sesungguhnya Al-Ḥaqq adalah Maujūd, Qadīm, Esa, Maha Kuasa, Maha Perkasa, Maha kasih, Maha Menghendaki, Maha Mendengar, Maha Agung, Maha Luhur, Maha Bicara, Maha Melihat, Maha Besar, Maha Hidup, Maha Tunggal, Maha Abadi dan segalanya bergantung kepada-Nya. Allah Maha Mengetahui dengan sifat Ilmu, Maha Kuasa…

01-6 Arasy – Risalah Qusyairiyah

BAB I PRINSIP-PRINSIP TAUHID DALAM PANDANGAN KAUM SUFI (Bagian 6)   ARASY Dzun-Nūn ditanya mengenai firman Allah s.w.t.: الرَّحْمنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوى “Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas ‘Arasy.” (Thāhā:5) Jawabnya: “Yang Maha Pemurah tidak akan sirna, dan ‘Arasy itu di cipta (baru). Sedangkan ‘Arasy terhadap Yang Maha Pemurah (ar-Raḥmān) menjadi semayam (Nya).” Ja‘far bin Nashr ditanya soal ayat tersebut: “Ilmu-Nya bersemayam terhadap segala sesuatu.

2-5 Tahapan Tobat – Minhaj-ul-Abidin (Bagian 5)

BAB II TAHAPAN TOBAT (Bagian 5)   Pasal: Kesimpulannya adalah bahwa apabila Anda mulai bertobat, bersihkan hati Anda dari keinginan berbuat dosa, dengan membulatkan tekad tidak akan kembali mengerjakan perbuatan dosa selamanya, kecuali apa yang ditakdirkan Allah dalam ilmu-Nya bahwa Anda akan berdosa. Allah s.w.t. Maha Mengetahui akan kebulatan tekad yang keluar dari hati yang bersih, kesungguhan mencari kerelaan orang yang dizalimi dan mengqadha kewajiban-kewajiban yang terlewatkan dengan sekuat tenaga,…

005 Bab 6 – Ciri Khash Qaum Shufi (Bagian 2) – Al Luma’

BĀB VI CIRI KHĀSH QAUM SHŪFĪ YANG TIDAK SAMA DENGAN TINGKATAN ORANG-ORANG BER‘ILMU DALAM PENGERTIAN YANG LAIN.   Syekh Abū Nashr as-Sarrāj – raḥimahullāh – berkata: Qaum Shūfī juga memiliki ciri khāsh yang berbeda dengan tingkatan orang-orang ber‘ilmu, dalam menggunakan ayat-ayat dari Kitāb Allah yang dibaca dan Ḥadīts Rasūlullāh s.a.w. yang diriwayatkan. Tidak ada satu ayat pun yang menyalin atau Ḥadīts maupun Ātsār yang menghilangkan hukum yang menganjurkan keutamaan akhlāq,…

01-5 Kufur – Risalah Qusyairiyah

BAB I PRINSIP-PRINSIP TAUHID DALAM PANDANGAN KAUM SUFI (Bagian 5)   KUFUR Al-Wāsithiy ditanya soal kufur bagi dan kepada Allah. Jawabnya: “Kufur dan iman, dunia dan akhirat; dari Allah, kepada Allah, bersama Allah dan bagi Allah. Dari Allah sebagai permulaan dan awal pemunculan, dan kepada Allah sebagai tempat kembali dan pangkalnya, bersama Allah baqā’ dan fanā’nya, dan bagi Allah kerajaan dan ciptaan.” Dikatakan oleh al-Junaid: bahwa sebagian ulama…

01-4 Rezeki – Risalah Qusyairiyah

BAB I PRINSIP-PRINSIP TAUHID DALAM PANDANGAN KAUM SUFI (Bagian 4)   REZEKI Rezeki hamba diciptakan hanya untuk Allah s.w.t. begitu juga tak ada Pencipta bagi mutiara-mutiara dan materi, kecuali Allah s.w.t. Abū Sa‘īd al-Kharrāz mengatakan: “Siapa saja yang menduga bahwa apabila seseorang mencurahkan tenaganya terhadap tujuan yang diraihnya, berarti ia tertolong. Dan barang siapa menduga tanpa jerih payah akan mendapatkan yang diraihnya, berarti hanya angan-angan belaka.” Al-Wāsithiy berkata:…

005 Bab 5 – Ciri Khash Qaum Shufi (Bagian 1) – Al Luma’

BĀB V CIRI KHĀSH QAUM SHŪFĪ DARI ETIKA, KONDISI DAN ‘ILMU YANG MEMBEDAKAN MEREKA DARI ‘ULAMĀ’ YANG LAIN   Syekh Abū Nashr as-Sarrāj – raḥimahullāh – berkata: hal pertama yang merupakan ciri khāsh qaum Shūfī yang membedakannya dari ‘ulamā’ yang lain setelah mereka bisa melakukan semua kewajiban dan meninggalkan larangan, adalah meninggalkan hal-hal yang tidak dianggap perlu dan penting, memutus semua hubungan yang hanya akan menghambat antara mereka dengan apa…

2-4 Tahapan Tobat – Minhaj-ul-Abidin (Bagian 4)

BAB II TAHAPAN TOBAT (Bagian 4)   Pasal: Selanjutnya, ketahuilah bahwa Tahapan Tobat ini, merupakan tahapan atau tanjakan yang sangat sulit ditempuh, tetapi sangat urgen dan besar bahaya yang merintanginya. Telah sampai kepadaku, berita tentang orang yang sangat alim dan mengamalkan ilmunya. Abī Isḥāq al-Isfarayl berkata: “Aku telah berdoa kepada Allah s.w.t. selama 30 tahun agar aku dianugerahi tobat secara murni dan sungguh-sungguh (taubat nashūḥā). Hingga aku merasa heran dan…
Lewat ke baris perkakas