Hati Senang

00 Bab 12 Mengukuhkan Adanya Ilmu Bathin – Al Luma’

BAB XII MENGUKUHKAN ADANYA ‘ILMU BĀTHIN, KETERANGAN TENTANG KEBENARAN DAN ARGUMENTASINYA. Syaikh Abū Nashr as-Sarrāj – raḥimahullāh – berkata: Ada sekelompok orang yang hanya memahami segala sesuatu secara lahiriah telah mengingkari adanya ‘ilmu bāthin. Mereka berkata: “Kami tak tahu ‘ilmu lain selain ‘ilmu syarī‘at yang zhāhir yang dibawa oleh Al-Qur’ān dan Sunnah.” Mereka juga berkata: “Pendapat anda yang menyatakan adanya ‘ilmu bāthin dan ‘ilmu tasawwuf tak memiliki bobot makna apa-apa.”…

010 Bab 11 – Bantahan Terhadap Orang Yang Berkata: Kami tdk pernah mendengar nama Shufi – Al Luma’

BAB XI BANTAHAN TERHADAP ORANG YANG BERKATA: KAMI TIDAK PERNAH MENDENGAR NAMA SHŪFĪ SEBELUMNYA DAN NAMA INI TENTU NAMA YANG BARU DICIPTAKAN. Jika ada seseorang bertanya: “Kami tidak pernah mendengar istilah ash-Shūfiyyah di kalangan sahabat Rasūlullāh s.a.w., tidak juga di kalangan kaum setelah mereka (tābi‘īn). Sedangkan yang kami ketahui hanyalah sebutan ‘Ubbūd (ahli ‘ibādah), Zuhhād (ahli zuhud), Sayyāḥīn (para pengembara) dan fuqarā’ (orang-orang fakir). Tidak pernah ada riwāyat yang menuturkan,…

02-3 Hal – Risalah Qusyairiyah

BAB II-3 ḤĀL Al-Ḥāl (kondisi ruhani), menurut banyak orang merupakan arti yang intuitif dalam hati; tanpa adanya unsur sengaja, usaha menarik, dan usaha lainnya, dari rasa senang atau sedih, leluasa atau tergenggam, rindu atau berontak, rasa takut atau sukacita. Maka setiap al-Ḥāl merupakan karunia. Dan setiap Maqām adalah upaya. Pada al-Ḥāl datang dari Wujūd itu sendiri, sedang al-Maqām diperoleh melalui upaya perjuangan. Orang yang memiliki maqām, menempati maqām-nya, dan orang…

02-2 Maqam – Risalah Qusyairiyah

BAB II-2 MAQĀM   Maqām adalah tahapan adab (etika) seorang hamba dalam wushūl kepada-Nya dengan macam upaya, di-wujūd-kan dengan suatu tujuan pencarian dan ukuran tugas. Masing-masing berada dalam tahapannya sendiri ketika dalam kondisi tersebut, serta tingkah laku riyādhah menuju kepada-Nya. Syaratnya, seorang hamba tidak akan menaiki dari satu maqām ke maqām lainnya sebelum terpenuhi hukum-hukum maqām tersebut. Barang siapa yang belum sepenuhnya qanā‘ah, belum bisa mencapai tahap tawakkal. Dan siapa…

02-1 Waktu – Risalah Qusyairiyah

BAB II-1 WAKTU Esensi waktu (al-waqt) menurut penelaah ahli hakikat, adalah suatu peristiwa yang terbayangkan, yang hasilnya dikaitkan pada peristiwa yang terjadi. Peristiwa yang terjadi merupakan waktu bagi peristiwa yang dibayangkan (akan datang). Seperti kalimat, “Anda didatangi awal bulan.”, maka, “kedatangan” merupakan sesuatu yang terbayang. Sedangkan awal bulan adalah sesuatu yang seperti nyata. Awal bulan berarti waktu bagi kedatangan. Saya mendengar Syaikh Abū ‘Alī ad-Daqqāq r.a. berkata: “Waktu adalah sesuatu…

02-0 Terminologi Tasawuf – Risalah Qusyairiyah

BAB II TERMINOLOGI TASAWUF.   Ketahuilah, bahwa setiap golongan dari para ulama mempunyai terminologi praktis yang selalu menjadi patokan. Mereka, dengan penggunaan kata-kata tersebut, melakukan internalisasi yang berbeda dengan lainnya, sebagaimana mereka sepakati untuk tujuan mereka, agar dipahami kelompok massanya, atau terpaku pada makna-maknanya secara global. Mereka menggunakan kata-kata yang dimengerti oleh mereka, membuat tirai bagi orang yang menentang thariqatnya, agar makna kata-kata mereka menjadi samar bagi orang lain, sebagai…

3-4-2 Tahapan Rintangan – Nafsu | Minhaj-ul-Abidin

Jika anda bertanya, sekarang jelaskanlah kepadaku apakah taqwā itu, agar aku mengetahuinya? Maka, ketahuilah sesungguhnya taqwā itu ibarat gudang yang berisi barang yang sangat berharga. Jika anda dapat memperoleh permata dan mutiara yang sangat berharga, kebaikan yang berlimpah, rezeki yang agung, keuntungan besar dan kerajaan yang luhur dari dalam gudang itu, maka seakan-akan kebaikan dunia dan akhirat telah anda miliki, lalu anda akumulasikan dalam sebuah derajat yang tinggi itu, yaitu…

3-4-1 Tahapan Rintangan – Nafsu | Minhaj-ul-Abidin

4. Rintangan Keempat Berupa Nafsu. Wahai orang yang mencari hakikat ibadah – semoga Allah menjaga kita – berhati-hatilah terhadap nafsu yang senantiasa mengajak kepada kejahatan. Sebab, nafsu adalah musuh yang paling berbahaya. Petaka yang ditimbulkannya sangat menyengsarakan, sangat sulit disembuhkan dan diobati. Mengapa demikian, karena disebabkan oleh dua hal, yaitu: Pertama: Nafsu merupakan musuh dari dalam (musuh dalam selimut). Apabila pencuri itu dari kalangan orang dalam sendiri, tentu dia sangat…

3-3-4 Tahapan Rintangan – Syaithan (4/4) | Minhaj-ul-Abidin

Ada pun pasal yang menerangkan tipu daya dan bujukan syaithan, maka sebagai pemaparan yang representatif adalah bahwa tipuan syaithan terhadap anak turun Ādam dalam ketaatan, terdapat pada tujuh segi, yaitu: Pertama: Syaithan mencegah anak turun Ādam dari berbuat ketaatan. Apabila anak turun Ādam itu dijaga oleh Allah, maka ia menolak bisikan syaithan dengan mengatakan: “Hai Iblis, aku sangat membutuhkan kebaktian dan taat kepada Allah s.w.t. karena aku harus mengumpulkan bekal…
Lewat ke baris perkakas