Hati Senang

009 Bab 10 – Asal-usul Nama Shufi – Al Luma’

BAB X ASAL-USUL NAMA SHŪFĪ. MENGAPA MEREKA DISEBUT DEMIKIAN DAN DINISBATKAN PADA PAKAIAN INI.   Syekh Abū Nashr as-Sarrāj – raḥimahullāh – berkata: Jika ada seseorang bertanya: “Para ahli Ḥadīts telah dinisbahkan pada keilmuannya yaitu Ḥadīts, para ahli fiqih dinisbahkan pada fiqih. Lalu kenapa anda menyebut orang-orang Shūfī dengan ash-Shūfiyyah (Qaum Shūfī) dan tidak menisbahkannya pada kondisi spiritual atau keilmuan tertentu. Mengapa anda tidak menisbatkan mereka pada kondisi spiritual tertentu,…

008 Bab 9 – Spesialisasi Dalam Berbagai ‘Ilmu Agama – Al Luma’

IX SPESIALISASI DALAM BERBAGAI ‘ILMU AGAMA, DAN MASING-MASING DISIPLIN ‘ILMU ADA AHLINYA SENDIRI, SERTA BANTAHAN TERHADAP MEREKA YANG MENGINGKARI ‘ILMU TERTENTU BERDASARKAN AKALNYA DAN TIDAK MENYERAHKAN PADA AHLINYA DAN YANG KOMPETEN DENGANNYA.   Syekh Abū Nashr as-Sarrāj – raḥimahullāh – berkata: Ada sekelompok ‘ulamā’ yang mengingkari adanya kekhushūshan (spesialisasi) dalam ‘ilmu syarī‘at. Sementara di kalangan para imām tak memperselisihkan, bahwa Rasūlullāh s.a.w. diperintahkan untuk menyampaikan apa yang diturunkan Allah padanya.…

3-2-1 Tahapan Rintangan – Makhluk (1/5) | Minhaj-ul-Abidin

2. Rintangan Kedua Berupa Makhluk. (Bagian 1/5) Dengan memohon kepada Allah agar kita diberi taufiq untuk selalu taat kepada-Nya, selanjutnya hendaklah anda mengasingkan diri, menjauhi makhluk. Ada dua alasan mengapa harus mengambil sikap semacam itu, yaitu: Pertama: Makhluk dapat membuat anda sibuk dan repot karenanya, sehingga melupakan ibadah kepada Allah. Sebagaimana dikisahkan, bahwa ada sebagian ulama ada yang berkata: “Aku pernah melewati sekelompok pemanah. Ada seseorang yang duduk menjauh dari…

007 Bab 8 – Kontroversi Qaum Shūfī Terhadap Mutafaqqih – Al Luma’

VIII KONTROVERSI QAUM SHŪFĪ TERHADAP MUTAFAQQIH, KETERANGAN TENTANG FIQIH DALAM AGAMA DAN ARGUMENTASINYA. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ   Syekh Abū Nashr as-Sarrāj – raḥimahullāh – berkata: Diriwāyatkan dari Nabi s.a.w., bahwa beliau bersabda: مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّيْنِBarang siapa dikehendaki Allah untuk menjadi baik, maka Dia akan memberikan kepahaman (faqīh) tentang agama.” (Ḥadīts riwāyat Bukhārī – Muslim, Aḥmad, Ibnu Mājah, Tirmidzī, al-Bazzār, ath-Thabrānī).  …

006 Bab 7 – Bantahan Terhadap Orang Yang Menyudutkan Qaum Shufi – Al Luma’

BĀB VII BANTAHAN TERHADAP ORANG YANG MENYUDUTKAN QAUM SHŪFĪ, BAHWA MEREKA ADALAH ORANG-ORANG BODOH, DAN ‘ILMU TASHAWWUF TIDAK MEMILIKI LANDASAN HUKUM DARI AL-QUR’ĀN DAN AS-SUNNAH.   Syekh Abū Nashr as-Sarrāj – raḥimahullāh – berkata: Tak ada perselisihan di kalangan para Imām, bahwa Allah s.w.t. telah menyebutkan dalam Kitāb suci-Nya tentang orang-orang jujur, baik laki-laki maupun perempuan (ash-Shādiqīn dan ash-Shādiqāt), orang-orang yang merendah di hadapan Allah (al-Qānitīn dan al-Qānitāt), orang-orang yang…

3-1-2 Tahapan Rintangan – Harta Duniawi (2/2) | Minhaj-ul-Abidin

BAB III TAHAPAN RINTANGAN   1. Rintangan Pertama Berupa Harta Duniawi (Bagian 2/2) Kemudian perkara yang dapat mendorong anda untuk tidak mengejar-ngejar apa yang tidak anda miliki dan kesukaan membagikan harta yang anda miliki serta yang meringankan anda untuk melakukan hal itu, ialah dengan mengingat-ingat akan bahaya dan cacat-cacat dunia. Mengenai hal itu, terdapat beberapa pernyataan para ulama. Di antaranya ada yang berkata: “Aku meninggalkan kepentingan dunia, karena sedikit manfaatnya,…

3-1-1 Tahapan Rintangan – Harta Duniawi (1/2) | Minhaj-ul-Abidin

BAB III TAHAPAN RINTANGAN   Wahai orang yang menempuh jalan ibadah – semoga Allah memberikan petunjuk kepada Allah – anda harus menepis segala rintangan yang menghalangi anda dalam beribadah, sehingga ibadah anda menjadi lurus. Sebagaimana telah kami sebutkan, bahwa rintangan-rintangan dalam beribadah itu ada empat, yaitu: 1. Rintangan Pertama Berupa Harta Duniawi (Bagian 1/2) Di dalam menghadapi dan menolak rintangan pertama yang berupa dunia adalah dengan mengosongkan hati dari urusan…

01-7 Allah SWT Yang Haq – Risalah Qusyairiyah

BAB I PRINSIP-PRINSIP TAUHID DALAM PANDANGAN KAUM SUFI (Bagian 7 dari 7)     ALLAH S.W.T. YANG ḤAQQ Para Syaikh dari tharīqat ini mengatakan soal tauhid: “Sesungguhnya Al-Ḥaqq adalah Maujūd, Qadīm, Esa, Maha Kuasa, Maha Perkasa, Maha kasih, Maha Menghendaki, Maha Mendengar, Maha Agung, Maha Luhur, Maha Bicara, Maha Melihat, Maha Besar, Maha Hidup, Maha Tunggal, Maha Abadi dan segalanya bergantung kepada-Nya. Allah Maha Mengetahui dengan sifat Ilmu, Maha Kuasa…

01-6 Arasy – Risalah Qusyairiyah

BAB I PRINSIP-PRINSIP TAUHID DALAM PANDANGAN KAUM SUFI (Bagian 6)   ARASY Dzun-Nūn ditanya mengenai firman Allah s.w.t.: الرَّحْمنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوى “Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas ‘Arasy.” (Thāhā:5) Jawabnya: “Yang Maha Pemurah tidak akan sirna, dan ‘Arasy itu di cipta (baru). Sedangkan ‘Arasy terhadap Yang Maha Pemurah (ar-Raḥmān) menjadi semayam (Nya).” Ja‘far bin Nashr ditanya soal ayat tersebut: “Ilmu-Nya bersemayam terhadap segala sesuatu.
Lewat ke baris perkakas