02-9 Ghaibah dan Hudhur – Risalah Qusyairiyah

BAB II-9 GHAIBAH DAN ḤUDHŪR   Ghaibah berarti kegaiban qalbu dari segala apa yang diketahui, berkaitan dengan apa yang berlaku pada tingkah laku makhluk, karena adanya faktor yang datang padanya, sehingga perasaannya tersibukkan oleh keghaiban yang tiba itu. Kemudian rasa itu, dengan sendirinya dan yang lainnya, menjadi ghaib, karena faktor yang tiba, akibat mengingat pahala atau memikirkan ancaman siksa. Diriwayatkan bahwa Rabī‘ bin Haitsam pergi ke rumah Ibnu Mas‘ūd r.a.…

02-8 Fana’ dan Baqa’ – Risalah Qusyairiyah

BAB II-8 FANĀ’ DAN BAQĀ’   Sejumlah Shufi mengisyaratkan Fanā’ pada gugurnya sifat-sifat tercela, sementara Baqā’ diisyaratkan sebagai kejelasan sifat-sifat terpuji. Kalaupun seorang hamba tidak terlepas dari salah satu sifat tersebut, maka dapatlah dimaklumi, sebenarnya, salah satu bagian apabila tidak dijumpai dalam diri manusia, maka dapatlah ditemui sifat satunya lagi. Barang siapa fanā’ dari sifat-sifat yang tercela, maka yang tampak adalah sifat-sifat terpuji. Sebaliknya, jika yang mengalahkan adalah sifat-sifat yang…

02-7 Jam’ dan Farq – Risalah Qusyairiyah

BAB II-7 JAM‘ DAN FARQ   Dua kata tersebut cukup populer di kalangan ahli tashawwuf. Syaikh Abū ‘Alī ad-Daqqāq berkata: “Al-Farq, suatu kondisi yang dihubungkan kepada diri sendiri, dan al-Jam‘, berkaitan dengan hal-hal yang menyirnakan diri sendiri. Artinya, segala upaya hamba seperti menegakkan ‘ubūdiyyah dan hal-hal yang layak dengan tingkah laku manusiawi, disebut al-Farq. Sementara jika datang dari arah Al-Ḥaqq (Allah s.w.t.) seperti munculnya makna-makna dan datangnya kelembutan serta iḥsān,…

02-6 Tawajud, Wujd dan Wujud – Risalah Qusyairiyah

BAB II-6 TAWĀJUD, WUJD DAN WUJŪD   Tawājud adalah upaya memohon ekstase ruhani (wujd), melalui salah satu ragam ikhtiyar. Orang yang memiliki tawājud tidak dapat dikategorikan sempurna wujd-nya. Sebab, kalau ia sempurna, pasti disebut wajīd. Dalam bab wazan Tafa‘ul lebih banyak menampakkan sifat. Padahal bukan demikian, seperti dalam syair: Bila kelopak mata menjadi sempit, Dan padaku tiada lagi sulit membuka, Lalu kurobek mata, tanpa cela. Ada pandangan yang mengatakan: “Tawajud…

02-5 Haibah dan Uns – Risalah Qusyairiyah

BAB II-5 HAIBAH DAN UNS   Rasa takut disertai rasa hormat luar biasa (haibah) dan sukacita jiwa (uns) merupakan tahap dari derajat-derajat dalam al-qabdh dan al-basth. Kalau qabdh berada di atas tingkat khauf, dan basth di atas tingkat rajā’, maka haibah lebih tinggi daripada qabdh, kemudian uns lebih sempurna daripada basth. (21) Hak haibah adalah keghaiban. Setiap pelaku haibah senantiasa lebur dalam keghaiban. Orang-orang yang berada dalam ghaib frekuensinya berbeda…

02-4 Qabth dan Basth – Risalah Qusyairiyah

BAB II-4 QABDH DAN BASTH   Kedua istilah ini merupakan kondisi ruhani setelah seorang hamba menahapi tingkah laku al-Khauf dan ar-Rajā’. Al-Qabdh di mata seorang ‘ārif sama kedudukannya dengan tahap al-Khauf di mata pemula. Sedangkan al-Basth, setara kedudukannya dengan ar-Rajā’ di mata pemula yang mencari jalan kepada Allah.s.w.t. Perbedaan antara Qabdh, Khauf, Basth dan Rajā’ Al-Khauf: Muncul dari sesuatu di masa depan, terkadang takut kehilangan sang kekasih, atau datangnya sesuatu…

02-3 Hal – Risalah Qusyairiyah

BAB II-3 ḤĀL Al-Ḥāl (kondisi ruhani), menurut banyak orang merupakan arti yang intuitif dalam hati; tanpa adanya unsur sengaja, usaha menarik, dan usaha lainnya, dari rasa senang atau sedih, leluasa atau tergenggam, rindu atau berontak, rasa takut atau sukacita. Maka setiap al-Ḥāl merupakan karunia. Dan setiap Maqām adalah upaya. Pada al-Ḥāl datang dari Wujūd itu sendiri, sedang al-Maqām diperoleh melalui upaya perjuangan. Orang yang memiliki maqām, menempati maqām-nya, dan orang…

02-2 Maqam – Risalah Qusyairiyah

BAB II-2 MAQĀM   Maqām adalah tahapan adab (etika) seorang hamba dalam wushūl kepada-Nya dengan macam upaya, di-wujūd-kan dengan suatu tujuan pencarian dan ukuran tugas. Masing-masing berada dalam tahapannya sendiri ketika dalam kondisi tersebut, serta tingkah laku riyādhah menuju kepada-Nya. Syaratnya, seorang hamba tidak akan menaiki dari satu maqām ke maqām lainnya sebelum terpenuhi hukum-hukum maqām tersebut. Barang siapa yang belum sepenuhnya qanā‘ah, belum bisa mencapai tahap tawakkal. Dan siapa…

02-1 Waktu – Risalah Qusyairiyah

BAB II-1 WAKTU Esensi waktu (al-waqt) menurut penelaah ahli hakikat, adalah suatu peristiwa yang terbayangkan, yang hasilnya dikaitkan pada peristiwa yang terjadi. Peristiwa yang terjadi merupakan waktu bagi peristiwa yang dibayangkan (akan datang). Seperti kalimat, “Anda didatangi awal bulan.”, maka, “kedatangan” merupakan sesuatu yang terbayang. Sedangkan awal bulan adalah sesuatu yang seperti nyata. Awal bulan berarti waktu bagi kedatangan. Saya mendengar Syaikh Abū ‘Alī ad-Daqqāq r.a. berkata: “Waktu adalah sesuatu…