Hati Senang

Kiranya, jelaslah bagi anda bahwa kebaikan dunia dan akhirat terdapat dalam kesabaran. Rasūlullāh s.a.w. bersabda:

مَا أُعْطِيَ أَحَدٌ مِنْ عَطَاءٍ خَيْرٍ وَ أَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ

Artinya:

Tidak seorang pun diberi pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada sabar.

‘Umar bin Khaththāb r.a. berkata: “Semua kebaikan orang-orang mukmin itu tersimpan dalam sabar yang hanya sesaat.

Betapa indahnya perkataan penyair berikut:

الصَّبْرُ مِفْتَاحُ مَا يُرْجَى

وَ كُلُّ خَيْرٍ بِهِ يَكُوْنُ

فَاصْبِرْ وَ إِنْ طَالَتِ اللَّيَالِيْ

فَرُبَّمَا أَمْكَنَ الْحَرُوْنَ

وَ رَبَّمَا نِيْلَ بِاصْطَبَارٍ

مَا قِيْلَ هَيْهَاتَ لَا يَكُوْنُ.

Sabar adalah kunci apa yang diharapkan

Dengan sabar segala kebaikan akan terjadi bersabarlah!

Sekalipun malam-malam terasa begitu panjang

Betapa kuda binal menjadi penurut

Dengan kesabaran banyak yang dapat diraih

Sekalipun sesuatu yang teramat jauh untuk bisa digapai.”

Penyair lain berkata:

صَبَرْتُ وَ كَانَ الصَّبْرُ مِنِّيْ سَجِيَّةً

وَ حَسْبَكَ أَنَّ اللهَ أَثْنَى عَلَى الصَّبْرِ

سَأْصْبِرُ حَتَّى يَحْكُمَ اللهِ بَيْنَنَا

فَإِمَّا إِلَى يُسْرٍ وَ إِمَّا عَلَى عُسْرٍ.

 “Aku bersabar hingga sabar itu menjadi watakku

Cukuplah bagimu pujian Allah bagi yang bersabar

Aku akan bersabar, hingga Allah memberi keputusan di antara kita

Menuju kemudahan atau menuju kesukaran.

Oleh sebab itu, berusahalah dengan sungguh-sungguh agar pekerti mulia dan terpuji ini anda memiliki, tentu anda akan menjadi orang yang beruntung. Semoga Allah memberikan petunjuk kepada kita.

Seandainya anda bertanya: “Apakah hakikat makna dari sabar dan apa pula hukumnya?”

Ketahuilah, bahwa lafal: “ash-Shabru” menurut bahasa berarti menahan. Sebagaimana firman Allah s.w.t:

وَ اصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَ الْعَشِيِّ يُرِيْدُوْنَ وَجْهَهُ وَ لَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ

Artinya:

Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka….” (al-Kahfi: 28).

Yakni, tahanlah diri anda bersama mereka.

Allah dengan sifat sabar-Nya, berarti Allah menahan (menangguhkan) siksa bagi orang-orang yang berbuat jahat. Allah tidak segera menyiksa mereka (di dunia).

Sedangkan makna sabar dalam hati adalah menahan gerak perjalanan hati, tidak berkeluh kesah. Berkeluh kesah menurut para ulama adalah kelabilan hati dalam menghadapi kesulitan dan penderitaan. Ada juga yang berpendapat, keluh kesah itu ekspresi keinginan segera keluar dari penderitaan dan kesusahan, secara pasti.

Benteng sabar adalah ingat akan kadar kesukaran dan waktunya. Karena kesukaran itu tidak dapat bertambah dan tidak pula berkurang, tidak bisa maju dan tidak pula mundur. Berkeluh-kesah itu tidak ada gunanya, bahkan mengandung bahaya dan kecemasan yang mencekam.

Sementara benteng dari benteng sabar ini, ialah ingat akan balasan Allah atas kesabaran dan kemuliaan pahala yang disimpan di sisi Allah bagi orang yang bersabar. Demikianlah, semoga Allah memberikan petunjuk kepada kita.

(Pasal): Anda harus menempuh tahapan yang berat ini dengan menolak empat awaridh (godaan) yang telah aku uraikan di atas, sekaligus menghilangkan penyakitnya. Jika tidak, anda tidak akan dapat beribadah dengan yang sebenarnya, apalagi sampai pada tujuannya. Karena satu saja dari empat godaan itu, sudah cukup membimbingkan hati, maka harus ditangkis.

Selanjutnya, di antara empat godaan itu, yang paling sulit diatasi adalah urusan rezeki dan mengaturnya. Urusan rezeki merupakan suatu cobaan besar bagi kebanyakan manusia. Cobaan yang melelahkan, menyibukkan hati, memperbanyak kesusahan dan menyia-nyiakan usia mereka. Cobaan yang banyak menimbulkan kejahatan dan dosa, yang memalingkan mereka dari pintu rahmat Allah, dari berkhidmat pada-Nya, dan yang merubah haluan mereka menjadi berkhidmat kepada dunia dan melayani makhluk.

Akhirnya, mereka hidup di dunia dalam keadaan lupa dan gelap hati, payah dan kesulitan, hina dan nista. Dan mereka pun datang ke akhirat dalam keadaan fakir, menghadapi siksa dan hisab yang teramat berat, jika tidak memperoleh belas kasih Allah, berkat anugerah keutamaan-Nya.

Renungkan, berapa banyak ayat yang diturunkan Allah berkaitan dengan masalah rezeki? Berapa kali Allah menyebutkan janji-janjiNya, penanggungan-Nya dan sumpah-Nya berkaitan dengan masalah rezeki tersebut?

Tidak henti-hentinya, para nabi dan ulama memberikan nasihat kepada manusia, menerangkan kepada mereka mengenai jalan menuju keridhaan Allah, mengarang kitab-kitab untuk mereka, mengemukakah contoh-contoh kepada mereka dan menakut-nakuti mereka dengan siksa Allah ta‘ala. Meskipun demikian, mereka tidak mau mengambil petunjuk, tidak mau bertakwa dan tidak pula bisa tenang hatinya. Bahkan mereka menempatkan diri dalam kesulitan pencarian rezeki, selalu merasa takut tidak dapat makan, baik di pagi maupun sore hari.

Semua itu berpangkal dari minimnya perenungan terhadap ayat-ayat Allah, tidak mau mengingat sabda Rasūlullāh s.a.w. Dan mengabaikan penghayatan terhadap petuah ulama saleh. Sementara itu, mereka senantiasa menyerah terhadap godaan setan, mengikuti perkataan orang-orang bodoh dan terpedaya oleh kebiasaan orang yang lalai kepada Allah, sehingga setan dapat dengan mudah menguasai mereka. kebiasaan semacam itu, akhirnya mengakar di hati mereka, sehingga menyebabkan hati mereka menjadi lemah dan keyakinannya menjadi rapuh.

Adapun informasi mengenai orang-orang yang arif dan bijaksana, bersungguh-sungguh dalam berijtihad dan beribadah, merekalah orang-orang yang memiliki ketajaman mata hati untuk dapat melihat jalan dari langit bukan terpancang dengan sebab-sebab yang terjadi di bumi. Mereka berpegang pada tali Allah dan tidak memedulikan kejadian-kejadian di muka bumi. Mereka menganggap sepi hubungan dengan orang lain, karena telah yakin dalam hatinya akan ayat-ayat Allah. Sehingga, mereka tidak goyah dengan adanya godaan setan, rintangan orang lain, dan bujukan nafsu.

Ketika terjadi suatu godaan baik dari setan, nafsu atau dari manusia, mereka menangkis dengan melakukan perdebatan dengannya, sehingga penggoda itu berpaling mengabaikan mereka, setan pun menyingkir darinya, dan nafsu menjadi tunduk. Sehingga mereka tetap konsisten dan istiqamah berada di jalan yang lurus.

Perhatikanlah riwayat yang menuturkan bahwa Ibrāhīm bin Adham ketika hendak masuk ke sebuah hutan (ber‘uzlah melakukan perenungan dan beribadah mendekatkan diri kepada Allah), setan menakut-nakutinya dengan mengatakan: “Hutan ini adalah tempat mematikan, sedangkan anda tidak membawa bekal.” Tetapi Ibrāhīm bin Adham tetap bertekad memasukinya tanpa berbekal dan akan mengerjakan shalat seribu rakaat setiap kali menempuh jarak 1 mil. Beliau membuktikan tekadnya itu dengan baik, berhasil mengarungi hutan selama 12 tahun. Sehingga ketika Khalīfah Hārūn ar-Rasyīd menunaikan ibadah haji pada tahun-tahun tersebut, ia melihat Ibrāhīm ibn Adham sedang mengerjakan shalat, lalu ada dikatakan padanya: “Ini, adalah Ibrāhīm bin Adham, sedang melakukan shalat.”

Kemudian Hārūn ar-Rasyīd mendekatinya dan bertanya: “Bagaimana keadaan anda saat ini, wahai Abū Isḥāq?” Ibrāhīm bin Adham menjawab dengan melantunkan bait-bait syair:

نُرَقِّعُ دُنْيَانَا بِتَمْزِيْقِ دِيْنِنَا

فَلَا دِيْنُنَا يَبْقَى وَ لَا مَا نُرَقِّعُ

فَطُوْبَى لِعَبْدٍ أَثَرَ اللهَ رَبَّهُ

وَ جَادَ بِدُنْيَاهُ لِمَا يَتَوَقَّعُ

Aku sedang menambal duniaku sebab robeknya agamaku.

Kehidupan keagamaanku tak tetap akan baiknya dan apa yang kutambal pun tidak kunjung bagus

Sungguh beruntung! Hamba yang memilih ibadah kepada Tuhannya.

Yang mau mengorbankan kesenangan dunianya untuk menghadapi apa yang dikhawatirkan (kehidupan akhirat).

Konon ada sebagian orang saleh sedang berjalan di tengah-tengah padang pasir. Lalu datang setan mengganggunya dengan mengatakan: “Anda adalah orang yang tidak membawa bekal, sedangkan tempat ini akan dapat membinasakan anda, tidak ada rumah sama sekali dan tidak pula ada manusianya.”

Tetapi orang tersebut tetap bertekad memasukinya tanpa membawa bekal. Bahkan, ia mengambil jalan yang tidak biasa dilalui orang, dengan maksud, agar tidak meminta-minta kepada orang lain dan tidak makan apa pun. Ia menghindari jalan-jalan umum, supaya tidak meminta kepada manusia dan tidak makan sesuatu pun. Ia hanya meletakkan samin dan madu di mulutnya. Ia terus menyimpang dari jalan yang semestinya dan terus berjalan sekehendaknya. Dia berkata: “Aku akan terus berjalan.” Tiba-tiba ada kafilah tersesat jalan. Ketika aku melihat mereka, aku langsung tiarap menjatuhkan diri ke tanah, agar mereka tidak melihatku. Lalu Allah memperjalankan mereka, sampai berhenti di dekatku. Aku memejamkan mata. Mereka mendekatiku dan berkata satu sama lain: “Orang ini kehabisan bekal, ditinggal rombongannya dan pingsan, karena sangat lapar dan haus. Coba ambilkan samin dan madu, kita taruh ke dalam mulutnya, barangkali bisa sadar.” Mereka mengambil samin dan madu, tetapi aku menutup mulut dan gigiku. Lalu mereka mengambil pisau untuk membuka mulutku. Aku pun tertawa dan membuka mulutku. Menyaksikan hal itu, mereka bertanya kepadaku: “Gilakah anda!” Aku jawab: “Tidak, aku tidak gila.” Segala puji bagi Allah, kemudian aku ceritakan kepada mereka hal ihwal yang terjadi pada diriku, berkaitan dengan bisikan setan. Mereka merasa heran mendengar ceritaku.

Salah seorang guruku berkata: “Pada sebagian perjalananku di hari-hari ketika aku hendak memberikan pengajaran, aku pernah singgah di sebuah masjid yang jauh dari manusia. Waktu itu, aku tidak membawa bekal, sebagaimana kebiasaan para wali. Lalu setan menggodaku dengan mengatakan: “Masjid ini jauh dari manusia. Seandainya anda berjalan lagi menuju masjid yang banyak orangnya, tentu ahli masjid itu mengetahui kedudukan anda dan tentu kebutuhan anda akan dicukupi.” Maka aku berkata dalam hati: “Aku hanya akan menginap di sini. Aku bersumpah tidak akan makan kecuali ḥalwā (semacam madu yang manis). Dan aku tidak akan makan kecuali disuapi sesuap demi sesuap.”

Selanjutnya, aku shalat ‘Isyā’ dan pintu masjid aku kunci. Setelah permulaan malam telah lewat, tiba-tiba ada orang mengetuk-ngetuk pintu sambil membawa obor. Lama orang itu mengetuk pintu. Setelah pintu aku buka, aku melihat seorang nenek disertai seorang pemuda berdiri di depan pintu. Nenek itu meletakkan talam berisi jenang di depanku, sambil berkata: “Pemuda ini anakku dan aku membuat jenang ini untuknya.” Lalu terjadilah perbincangan antara kami. Ternyata pemuda yang bersamanya itu, telah bersumpah, tidak akan makan, kecuali bersama orang asing yang berada di masjid ini. Karena itu, sudilah anda makan jenang ini, lanjutnya. Lalu nenek itu menyuapkan sesuap ke mulutku dan sesuap ke mulut anaknya, secara bergantian. Demikian seterusnya sampai kami merasa kenyang. Setelah itu mereka berdua pulang. Dan aku tutup kembali pintu masjid dengan perasaan heran atas kejadian tersebut.

Semua itu merupakan contoh perjuangan orang-orang saleh melawan syaithan. Dari cerita-cerita tersebut, anda dapat mengambil tiga manfaat, yaitu:

1. Tidak ada sebuah kondisi apapun yang membuat terlepasnya rezeki bagi seseorang yang telah ditakdirkan untuk mendapatkannya.

2. Anda menjadi tahu bahwa urusan rezeki dan tawakkal itu sangat penting. Dan setan dalam masalah ini, senantiasa mengganggu, sampai para imam yang zuhud pun tidak akan terbebas dari gangguan-gangguan tersebut. Setan tidak berputus asa terhadap para imam, yang telah lama melakukan riyadhah dan banyak mujahadah pada waktu-waktu yang telah berlalu. Apa yang mereka lakukan itu sebagai sebuah cara untuk melakukan perlawanan dan penolakan terhadap godaan setan. Demi umurku! Sungguh, orang yang memerangi nafsu dan setan selama tujuh puluh tahun itu tidak lantas aman dari gangguan setan, sama halnya kalau setan mengganggu orang yang baru mulai ibadah, juga kepada orang yang lengah yang tidak pernah melakukan riyadhah sama sekali. Seandainya nafsu dan setan dapat mengalahkan orang yang macam itu, tentu keduanya memburuk-burukkan orang tersebut dan merusaknya seperti kerusakan orang-orang yang lalai dan terbujuk. Demikian itu, mengandung suri tauladan yang bermanfaat bagi orang-orang yang memiliki ketajaman penglihatan mata hati.

3. Anda pun menjadi tahu bahwa perkara ibadah itu tidak akan sempurna, kecuali dengan usaha dan perjuangan yang sungguh-sungguh secara terus-menerus. Sebab, para imam itu juga terdiri dari daging, darah, badan dan ruh seperti halnya anda. Tetapi, mereka lebih kurus badannya, lebih lemah anggota badannya dan lebih halus tulangnya, daripada anda. Tetapi mereka memiliki kekuatan ilmu, nur, keyakinan dan cita-cita luhur dan masalah agama, hingga mereka mampu menjalani perjuangan yang sangat berat dan memenuhi hak-hak maqam itu. Karena itu, perhatikan dan obati diri anda dari penyakit yang sukar disembuhkan ini, agar anda mendapatkan keberuntungan, in syā’ Allāh.

Bagikan:

4. Berbagai Kesengsaraan dan Musibah.

‘Awāridh (godaan) keempat, yaitu berbagai bencana dan musibah. Untuk menghadapinya, cukuplah hanya dengan bersabar. Keharusan bagi anda untuk bersabar dalam menghadapinya, disebabkan dua hal, yaitu:

Pertama: Agar dapat mengerjakan ibadah dan sampai kepada tujuan ibadah. Sebab, tegaknya urusan ibadah, semuanya karena kesabaran dan kesanggupan menanggung kesulitan dan kepayahan (ke-masyakat-an).

Orang yang tidak memiliki kesabaran, sedikit pun tidak akan bisa sampai pada hakikat ibadah. Hal itu, disebabkan bahwa orang yang bermaksud dengan sungguh-sungguh hendak beribadah, tentu akan menghadapi berbagai kesulitan dan musibah, dari berbagai segi, yaitu:

1. Tidaklah ada suatu ibadah, melainkan tentu di dalamnya mengandung kemasyakatan. Oleh sebab itu, agama memerintahkan supaya beribadah dengan penuh kesabaran dan menjanjikan pahala bagi yang sabar dalam beribadah. Karena, seseorang tidak akan dapat mengerjakannya tanpa terlebih dahulu mengalahkan hawa nafsu. Sebab, nafsu itu selalu berusaha menghalanginya untuk melakukan kebaikan. Maka, melawan kesenangan nafsu dan menundukkannya merupakan perjuangan yang sangat sulit dan berat bagi manusia.

2. Ketika seseorang mengerjakan kebaikan tentu, mengalami kemasyakatan. Oleh sebab itu, harus berhati-hati agar amal kebaikannya tidak rusak. Dan menjaga kesucian amal, jauh lebih berat daripada mengerjakan amal itu sendiri.

3. Dunia ini, merupakan negeri tempat ujian. Setiap orang pasti mengalami berbagai ujian, kesulitan dan musibah. Bentuknya, bermacam-macam, mengenai keluarga, famili, saudara ataupun teman-temannya, baik yang berupa kematian, kehilangan, ataupun perpisahan. Adakalanya yang menimpa diri sendiri, seperti terkena berbagai penyakit. Ada pula yang menyangkut kehormatan, misalnya dimusuhi oleh orang banyak, mau dijatuhkan, dihina dan difitnah banyak orang. Ada pula yang menimpa harta benda, seperti kehilangan. Masing-masing cobaan tersebut menimbulkan rasa sakit, yang satu berbeda dengan yang lainnya. Dan dalam menghadapi semuanya, seseorang dituntut untuk bersabar. Sebab jika tidak, kesedihan yang terus bergelayut di hati dan keluh kesah itu menjadi penghalang baginya untuk beribadah kepada Allah.

4. Orang yang mencari akhirat itu lebih keras cobaannya dan lebih banyak mendapatkan ujian. Barang siapa lebih dekat kepada Allah, tentu lebih banyak terkena musibah dan lebih keras cobaannya.

Bukankah anda telah mendengar sabda Rasūlullāh s.a.w.:

أَشَدُّ النَّاسِ بَلاَءً الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الْعُلَمَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَالُ

Artinya:

Manusia yang paling keras cobaannya, ialah para nabi, lalu para ulama, kemudian yang sepertinya dan seterusnya, (sesuai dengan kadar kesungguhan memegang komitmen untuk tetap berada di jalan yang lurus menuju akhirat).

Jadi, seseorang yang berjalan menuju kebaikan dan memusatkan perhatiannya untuk akhirat, tentu menghadapi berbagai ujian. Jika tidak sabar menghadapi, ia akan putus di jalan, hatinya menjadi bimbang dan tidak sempat lagi beribadah.

Allah telah memberitahu kita, agar berhati-hati dan tetap ber-taqwā dalam menghadapi ujian, musibah dan cobaan. Sebagaimana dinyatakan dalam firman-Nya:

لَتُبْلَوُنَّ فِيْ أَمْوَالِكُمْ وَ أَنْفُسِكُمْ وَ لَتَسْمَعُنَّ مِنَ الَّذِيْنَ أُوْتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَ مِنَ الَّذِيْنَ أَشْرَكُوْا أَذًى كَثِيْرًا

Artinya:

Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati.” (Āli ‘Imrān: 186)

Dan firman-Nya pula:

وَ إِنْ تَصْبِرُوْا وَ تَتَّقُوْا فَإِنَّ ذلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُوْرِ

Artinya:

Jika kamu syukur dan ber-taqwā, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan.” (Āli ‘Imrān: 186).

Seolah-olah Allah menyatakan: “Teguhkanlah diri anda, bahwa anda mesti akan menerima berbagai cobaan. Jika anda bersabar, maka anda adalah laki-laki sejati (pahlawan), dan keinginan anda merupakan keinginan seorang pahlawan.”

Dengan demikian, barang siapa yang hendak beribadah kepada Allah, maka pertama-tama harus berketetapan hati untuk bersabar dalam jangka waktu yang panjang dan terus menetapkan kesabaran dalam dirinya untuk menghadapi cobaan yang teramat berat yang datang silih berganti hingga akhir hayatnya. Jika tidak, berarti ia bermaksud menghadapi suatu perkara tanpa memiliki alatnya dan mendatanginya tanpa melalui prosedur jalan yang benar.

Al-Fudhail – raḥimahullāh – berkata: “Barang siapa bermaksud menempuh jalan akhirat, maka hendaklah ia menjadikan pada dirinya empat macam warna kematian, yaitu:

  1. Kematian putih.
  2. Kematian merah.
  3. Kematian hitam.
  4. Kematian hijau.

Kematian putih yaitu lapar; kematian merah yaitu tidak mau mengikuti ajakan syaithan; kematian hitam yaitu celaan masyarakat; dan kematian hijau yaitu kejadian-kejadian menyakitkan yang datang silih berganti.

 

Kedua. Keharusan bersabar dalam menghadapi ujian dan cobaan itu, karena di dalam kesabaran terdapat kebaikan dunia dan akhirat, di antaranya adalah:

 

1. Keselamatan dan keberuntungan.

Allah s.w.t. berfirman:

وَ مَنْ يَتَّقِ اللهَ يَجْعَلْ لَّهُ مَخْرَجًا، وَ يَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ.

Artinya:

Barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar; dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (ath-Thalāq: 2-3).

Maksudnya, barang siapa bertakwa kepada Allah dengan penuh kesabaran, niscaya Allah mencarikan jalan keluar bagi segala kesulitan yang dihadapinya.

 

2. Memperoleh kemenangan atas musuh-musuhnya.

Allah s.w.t. berfirman:

فَاصْبِرْ إِنَّ الْعَاقِبَةَ لِلْمُتَّقِيْنَ

Artinya:

Maka bersabarlah, sesungguhnya kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (Hūd: 49).

 

3. Berhasil mencapai apa yang diinginkan (cita-cita).

Allah s.w.t. berfirman:

وَ تَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ الْحُسْنى عَلى بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ بِمَا صَبَرُوْا

Artinya:

Dan telah sempurnalah perkataan Tuhanmu yang baik (sebagai janji) untuk Bani Israil disebabkan kesabaran mereka.” (al-A‘rāf: 137).

Dikatakan oleh sebagian ulama, bahwa Nabi Yūsuf mengirim surat balasan kepada Nabi Ya‘qūb a.s. sebagai berikut: “Nenek moyang anda benar-benar bersabar, sehingga mereka memperoleh keberhasilan. Karena itu, bersabarlah sebagaimana mereka bersabar, niscaya apa yang menjadi maksud anda akan berhasil, sebagaimana keberhasilan mereka.”

Senada dengan hal tersebut, terdapat syair:

لاَ تَيْأَسَنَّ وَ إِنْ طَالَتْ مَطَالِبَةُ

إِذَا اسْتَعَنْتَ بِصَبْرٍ أَنْ تَرَى فَرَجًا

أَخْلِقْ بِذِي الصَّبْرِ أَنْ يَحْطَى بِحَاجَتِهِ

وَ مُدْمِنُ الْقَرْعِ لِلأَبْوَابِ أَنْ يَلِجَا

 “Janganlah kamu berputus asa meskipun lama mencari

Jika kamu minta pertolongan dengan kesabaran tentu kamu akan melihat kelapangan

Berpekertilah dengan sabar tentu hajat menjadi tercapai

Orang yang tak bosan mengetuk pintu tentu akan dibukakan baginya.”

 

4. Menjadi pemuka dan pemimpin masyarakat.

Allah s.w.t. berfirman:

وَ جَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُوْنَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوْا

Artinya:

Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar.” (as-Sajdah: 24).

 

5. Mendapat pujian dari Allah.

Allah s.w.t. berfirman:

إِنَّا وَجَدْنَاهُ صَابِرًا نِعْمَ الْعَبْدُ إِنَّهُ أَوَّابٌ

Artinya:

Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya).” (Shād: 44).

 

6. Memperoleh berita gembira dan rahmat dari Allah.

Allah s.w.t. berfirman:

وَ بَشِّرِ الصَّابِرِيْنَ، الَّذِيْنَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيْبَةٌ قَالُوْا إِنَّا للهِ وَ إِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ، أُولئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّنْ رَّبِّهِمْ وَ رَحْمَةٌز.

Artinya:

Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rajai‘uun.” Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (al-Baqarah: 155-157).

 

7. Dicintai Allah.

Allah s.w.t. berfirman:

وَ اللهُ يُحِبُّ الصَّابِرِيْنَ

Artinya:

Allah mencintai orang-orang yang sabar.” (Āli ‘Imrān: 146).

 

8. Mendapatkan derajat yang tinggi di dalam surga.

Allah s.w.t. berfirman:

أُولئِكَ يُجْزَوْنَ الْغُرْفَةَ بِمَا صَبَرُوْا

Artinya:

Mereka itulah orang-orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam surga) karena kesabaran mereka.” (al-Furqān: 75).

 

9. Mendapatkan kemuliaan yang besar.

Allah s.w.t. berfirman:

سَلَامٌ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ

Artinya:

Keselamatan atasmu berkat kesabaranmu.” (ar-Ra‘d: 24).

 

10. Mendapatkan pahala tanpa batas, di luar dugaan dan hitungan manusia.

Allah s.w.t. berfirman:

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُوْنَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

Artinya:

Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (az-Zumar: 10).

Maha Suci Allah, Dialah Tuhan Yang Maha Agung lagi Maha Pemurah. Semua kemuliaan di dunia dan akhirat, diberikan Allah kepada hamba-Nya karena sabar sesaat.

Bagikan:

3. Qadhā’ dan Manifestasinya.

‘Awāridh (godaan) ketiga adalah qadha’ dan macam-macam realisasinya. Dalam hal ini, cukuplah kiranya bagi anda untuk bersikap ridhā’ terhadap qadhā’ Allah. Yang demikian itu, karena dua hal, yaitu:

Pertama: Agar dapat memusatkan segala perhatian untuk ibadah. Sebab, jika anda tidak ridhā’ terhadap qadhā’ Allah, hati anda selalu diliputi kegelisahan, sehingga anda senantiasa berkeluh-kesah, mengapa begini dan kenapa bisa jadi begini? Apabila hati anda selalu disibukkan oleh keresahan, maka bagaimana anda bisa berkonsentrasi untuk beribadah. Karena hati anda hanya satu dan sudah anda penuhi dengan kegelisahan, begini dan begitu mengenai persoalan keduniaan. Tidak tersisa lagi ruang di hati anda untuk berzikir dan beribadah kepada Allah, dan memikirkan akhirat.

Benar apa yang dikatakan Syaikh Syaqīq al-Balkhī: “Kegelisahan menyesali masalah-masalah yang telah berlalu dan memikirkan perkara yang akan datang, sungguh melenyapkan keberkahan waktu hidup anda yang sedang anda lewati.

Kedua: Dikhawatirkan anda mendapat murka Allah. Dalam suatu riwayat diceritakan, bahwasanya ada seorang nabi mengadu kepada Allah mengenai keresahan yang dialaminya. Lalu Allah menjawab pengaduan itu dengan firman-Nya: “Mengapa anda mengadu kepada-Ku? Aku bukan Tuhan yang pantas untuk dicela. Memang begitulah realitas keadaan anda, sebagaimana yang ada dalam ilmu ghaib (Lauḥ-ul-Maḥfūzh). Mengapa anda tidak suka terhadap qadhā’-Ku? Apakah anda berkeinginan agar Aku merubah dunia karena anda? Atau anda berkeinginan agar Aku mengganti Lauḥ-ul-Maḥfūzh, sebab anda? Lalu Aku memutuskan apa saja menurut apa yang anda kehendaki, bukan menurut apa yang Aku kehendaki? Supaya apa yang anda sukai bisa terwujud, bukan menurut apa yang Aku sukai? Aku bersumpah, demi keagungan-Ku, bahwa apa yang anda adukan kepada-Ku itu, kalau tergerak di hati anda sekali lagi, sungguh Aku akan lepas baju kenabian dari anda, lalu Aku akan ceburkan anda ke dalam neraka, dan Aku tidak mempedulikan anda.”

Orang yang berakal sehat, tentu benar-benar mendengarkan dan memperhatikan didikan dari Tuhan yang sangat penting ini dan ancaman Allah yang sangat mengerikan ini terhadap para nabi-Nya dan hamba-hambaNya yang istimewa itu. Terhadap mereka para kekasihnya saja begitu, lalu bagaimana kira-kira tindakan Allah terhadap selain nabi?

Kemudian, coba perhatikan firman Allah tersebut di atas: “Seandainya apa yang anda adukan kepada-Ku itu tergerak sekali lagi di dalam hati anda.” Ancaman ini ditujukan kepada gerak-gerik hati, lalu bagaimana kalau orang yang menghadapi qadhā’ itu berkeluh-kesah, berteriak-teriak, memaki-maki dan mengadu kepada Tuhannya di depan orang banyak serta mengajak teman-temannya untuk membantu pengaduannya.

Ancaman tersebut ditujukan kepada orang yang tidak suka terhadap qadhā’ Allah yang hanya dilakukan sekali saja, lalu bagimanakah ancaman Allah terhadap orang yang selama hidupnya selalu membenci qadhā’? Ancaman ini untuk orang yang mengadu kepada Allah, lalu bagaimana murka Allah kepada orang yang mengadu kepada selain Allah?

Kita berlindung kepada Allah dari kejahatan nafsu kita, dari keburukan amal kita. Dan kita memohon kepada Allah, semoga berkenan mengampuni dosa-dosa kita, memaafkan keburukan tata krama kita serta berkenan membaguskan keadaan kita, dengan pengawasan Allah. Sungguh, Allah adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara para penyayang.

Jika ditanyakan: “Apakah arti ridhā’ terhadap qadhā’ itu, dan hakikatnya serta hukumnya?”

Ketahuilah, para ulama kita telah berkata: “Ridhā’ itu meninggalkan kebencian.” Sedangkan yang dimaksud kebencian hati, yaitu menyebut-nyebut selain apa yang menjadi qadhā’ Allah dan dianggapnya lebih baik bagi orang itu ketimbang qadhā’ Allah yang lebih patut baginya. Padahal apa yang dianggapnya lebih baik itu, tidak ia yakini akan kerusakan dan kebaikannya. Meninggalkan rasa benci ini menjadi syarat dalam ridhā’ terhadap qadhā’ Allah. Pahamilah hal ini.

Jika anda bertanya: “Apakah keburukan dan maksiat itu bukan merupakan qadhā’ dan qadar Allah? Bagaimana seseorang harus ridhā’ kepada keburukan itu?”

Ketahuilah, kewajiban ridhā’, hanya pada qadhā’ Allah. Qadhā’ jelek bukanlah tidak baik. Yang buruk itu hanyalah perkara yang di-qadhā’. Jadi, ridha kepada qadhā’ itu bukan berarti ridhā’ kepada kejelekan.

Para guruku telah berkata: “Qadhā’ itu meliputi empat hal, yaitu: Nikmat (senang), sengsara (susah), baik dan buruk.

Mengenai nikmat, orang Islam wajib ridhā’ kepada qadhā’, baik kepada Tuhan yang menetapkan maupun pada nikmat yang telah ditetapkan itu. Seorang hamba wajib bersyukur, karena nikmat itu adalah nikmat dari Allah dan wajib memperlihatkan nikmat itu (dalam kerangka untuk bersyukur bukan untuk pamer) dengan menampakkan bekas nikmat (pada kebaikan sesuai dengan kehendak yang menetapkan atau yang memberi).

Sedangkan mengenai qadhā’ kesengsaraan atau kesulitan hidup, orang Islam wajib ridha’ kepada Tuhan yang meng-qadhā’, juga pada qadhā’ dan apa yang tetapkan itu. Orang Islam wajib bersabar, kesengsaraan hidup yang menimpanya.

Adapun mengenai qadhā’ kepada Dzat yang memberi qadhā’, kepada qadhā’ dan juga yang di-qadhā’. Ia harus menyebutnya sebagai anugerah dan berbaik sangka, bahwa itu adalah yang terbaik bagi dirinya.

Sementara pada qadhā’ yang buruk, seorang hamba juga harus ridhā’ kepada Dzat yang meng-qadhā’, juga pada qadha’ dan yang di-qadha’ dalam sudut pandang sebagai sebuah ketetapan bukan dari sisi keburukannya.

Karena, pada hakikatnya apa yang ditetapkan (di-qadhā’) itu kembali pada qadhā’ dan Dzat yang memberikan qadhā’. Ini, sama halnya ketika anda rela pada madzhab ulama yang berbeda dengan pendapat anda. Anda memandang pendapat itu sebagai sesuatu yang maklum, namun bukan merupakan pendapat anda, karena pendapat anda berbeda dengannya. Tetapi anda ridhā’, karena sesuatu yang maklum itu anda pandang sebagai suatu ilmu. Jadi ridhā’ dan cinta anda itu, sebenarnya adalah ridhā’ kepada pengetahuan madzhab orang yang berbeda pendapat, bukannya ridhā’ kepada madzhab yang berbeda dengan pendapat anda.

Jika ada yang bertanya: “Bolehkah orang yang ridhā’ kepada qadhā’ itu meminta tambahan kepada Allah?”

Jawabnya adalah boleh! Tetapi dengan syarat yang baik dan maslahah, tanpa disertai sebuah ketetapan secara pasti. Jadi, mohon tambahan itu bukan berarti mengeluarkan anda dari koridor ridhā’ bahkan bisa menunjukkan kepada ridhā’ terhadap qadhā’. Dan hal itu lebih utama, karena orang yang mengagumi dan rela terhadap sesuatu, tentu meminta tambahannya. Adalah Rasūlullāh s.a.w., ketika dihadirkan susu kepadanya, beliau mengucapkan:

اللهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْهِ وَ زِدْنَا مِنْهُ

Artinya:

Ya Allah, anugerahkanlah keberkahan kepada kami dalam susu ini dan semoga Engkau berkenan menambahinya.

Dan pada kesempatan lain, Nabi s.a.w. berdoa:

وَ زِدْنَا خَيْرًا مِنْهُ

Artinya:

Semoga Engkau berkenan memberikan tambahan yang lebih baik daripada anugerah ini.

Kedua doa tersebut, bukan berarti menunjukkan bahwa Rasūlullāh s.a.w. tidak ridha’ kepada apa yang ditentukan Allah kepadanya.

Jika anda berkata: “Tetapi tidak ada riwayat dari Rasūlullāh s.a.w. bahwa beliau menyebut istitsnā’, serta syarat yang maslahah dan baik.”

Ketahuilah, bahwa perkara-perkara ini, hanya terjadi di dalam hati. Sementara pengucapan di lisan, hanyalah sebagai sebuah ungkapan apa yang ada di dalam hati, sekalipun beliau tidak mengungkapkan melalui sabdanya, tetapi hal itu telah ada di dalam hati. Pahamilah benar-benar hal itu.

Bagikan:

Seandainya ditanyakan: “Apakah orang yang tafwīdh (menyerahkan urusan kepada Allah) itu akan aman dari kerusakan, sementara dunia adalah negeri tempat cobaan?”

Ketahuilah, bahwa seseorang tidaklah akan ber-tafwīdh, melainkan secara umum, tentu ia akan mendapatkan kemaslahatan. Namun bisa juga terjadi, mendapatkan yang tidak baik, tetapi sangat langka. Lantaran Allah hendak mengujinya, masihkah tetap konsisten dengan penyerahannya ataukah sebaliknya. Jika ternyata, melorot dari kedudukan tafwīdh. Maka tidak ada lagi kebaikan, tetapi justru kehinaan, karena posisinya yang jauh meninggalkan tafwīdh. Demikianlah kata Syaikh Abū ‘Amr, raḥimahullāh.

Ada yang mengatakan bahwa orang yang menyerahkan urusannya kepada Allah, tentu Allah akan memberikan kemaslahatan dari urusannya itu baginya. Sementara kehinaan itu bakal terjadi karena mengabaikan tafwīdh. Penempatan tafwīdh yang tidak tepat, hanyalah akan menimbulkan kerusakan. Pengambilan sikap tafwīdh itu, hanya pada persoalan yang masih meragukan, apakah mengandung kerusakan atau kemaslahatan. Yang demikian ini, merupakan salah satu pendapat yang lebih utama dari dua pendapat, menurut guruku. Sebab, kalau Allah tidak menghendaki apa yang baik buat hamba-Nya, tentu tidak ada pendorong yang kuat untuk melakukan tafwīdh.

Jika ditanyakan: “Apakah wajib bagi Allah, berbuat sesuatu yang paling utama bagi orang yang menyerahkan urusan kepada-Nya.”

Ketahuilah, bahwa mustahil bagi Allah, berkewajiban berbuat sesuatu buat hamba-Nya. Tidak ada kewajiban bagi Allah terhadap hamba-Nya. Memang kadang-kadang Allah melakukan apa yang lebih baik bagi hamba-Nya, tetapi bukan yang lebih utama sebagai hikmah perbuatan Allah.

Tidakkah anda tahu, bahwa ketika Rasūlullāh dan para sahabat melakukan suatu perjalanan, Allah menakdirkan Rasūlullāh s.a.w. dan para sahabatnya tertidur sepanjang malam hingga matahari terbit. Sehingga, mereka tidak mengerjakan shalat malam dan shalat Fajar (Subuh) tepat pada waktunya. Padahal seperti kita ketahui, shalat lebih utama daripada tidur.

Bisa jadi Allah menakdirkan seseorang kaya raya dan hidup penuh kenikmatan di dunia, meskipun fakir adalah lebih utama. Terkadang Allah menakdirkan seseorang sibuk mengurusi istri dan anak-anaknya, sekalipun mengosongkan diri untuk fokus beribadah kepada Allah itu, lebih utama. Sungguh, Allah mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Nya.

Yang demikian ini, seperti halnya seorang dokter ahli yang memilih memberikan kepada pasiennya air gandum, meskipun air gula adalah lebih enak. Sebab, dokter tahu bahwa si sakit bisa sembuh dengan minum air gandum.

Maksudnya, ketika dalam kondisi seperti itu, maka keselamatan si pasien lebih penting agar tidak binasa. Sebab, tidak ada gunanya keutamaan dan kemuliaan yang disertai penderitaan dan kebinasaan.

Jika ditanyakan: “Apakah orang yang menyerahkan urusannya kepada Allah itu mempunyai pilihan?”

Ketahuilah, bahwa yang shaḥīḥ menurut ulama kita, adalah bahwa orang yang menyerahkan urusannya kepada Allah itu mempunyai pilihan dan hal itu tidak membuatnya tercela. Artinya, bahwa apabila dalam sesuatu yang lebih utama dan lebih afdhal itu mengandung kemaslahatan bagi dirinya, dan itu yang diinginkan dari Allah agar menjadikannya sebagai sebab kebaikan dan kesembuhannya. Sama halnya dengan orang sakit yang berkata kepada dokter: “Berilah aku obat air gula, bukan air gandum, kalau memang kesehatan tubuhku bisa diperoleh dari kedua-duanya, agar aku mendapatkan terutama sekaligus kesehatan.”

Demikian pula, bila seorang hamba memohon kepada Allah agar menjadikan kebaikan dirinya dalam perkara yang lebih utama, supaya ia memperoleh keutamaan dan kebaikan sekaligus. Tetapi dengan syarat, kalau Allah memilihkan untuknya kebaikan pada selain yang lebih utama, ia harus rela dengan hal itu.

Apabila ada yang bertanya: “Mengapa seorang hamba mesti memilih yang lebih utama, bukan yang lebih baik?”

Ketahuilah, bahwa perbedaan antara keduanya adalah, karena seseorang mengetahui mana yang lebih utama dibanding yang kurang utama, tetapi tidak mengetahui mana yang baik dan mana yang rusak. Yang demikian itu, agar ia dapat menentukan keinginannya dengan bijak.

Kemudian, makna pilihan hamba kepada apa yang lebih utama itu, berarti ia mengharapkan dari Allah, semoga Allah berkenan menjadikan kebaikan bagi dirinya dalam perkara yang lebih utama dan memilihkan untuknya apa yang lebih utama itu, serta menakdirkan hal tersebut baginya. Jadi bukan berarti seseorang bertindak menurut pendapatnya sendiri mengenai apa yang dianggap lebih utama.

Apa yang kuterangkan ini, merupakan versi terdalam dari ilmu tashawwuf dan rahasia-rahasianya, seandainya tidak terdorong oleh kebutuhan yang sangat mendesak, tentu tidak perlu aku menerangkannya. Karena, ilmu ini merupakan bagian dari pergolakan lautan ilmu mukāsyafah. Aku hanya menerangkan faedah yang memuaskan dalam kitab ini dan maksudku hanyalah menjelaskan, supaya para ulama besar dan orang-orang yang baru mulai mendalami ilmu ini dapat mengambil manfaat, in syā’ Allāh.

Bagikan:

Jika anda berkata: “Jelaskanlah kepada kami akan arti tafwidh dan hukumnya?”

Ketahuilah, bahwa untuk menjelaskannya diperlukan dua pasal, yaitu:

1. Kedudukan tafwīdh dan hukumnya.

2. Arti tafwīdh, batasan dan kebalikannya.

 

Kedudukan Tafwīdh

Ketahuilah bahwa materi yang dikehendaki itu, meliputi tiga macam, yaitu:

1. Murād (maksud) yang anda ketahui dengan yakin, bahwa ia adalah rusak dan jahat, tidak ada keraguan sama sekali dalam hal ini, seperti neraka dan siksa. Juga dalam perbuatan seperti kufur, bid‘ah dan maksiat. Maka tidak ada alasan untuk memberikan jalan terhadap kehendak semacam itu.

2. Murād yang anda ketahui secara pasti, bahwa murād itu bagus, seperti surga, iman, sunnah dan lain sebagainya.

Maka hendaklah anda menetapkan keinginan anda yang menguntungkan bagi anda itu.

Dalam hal ini, anda tidak boleh bersikap tafwīdh, karena tidak ada yang mengkhawatirkan dan tidak diragukan lagi bahwa hal itu adalah baik dan bagus bagi diri anda.

3. Murād yang tidak anda ketahui dengan yakni, bahwa padanya ada kebaikan atau mengakibatkan kerusakan, seperti perbuatan-perbuatan sunnah (nawāfil) dan perkara yang mubah. Murād inilah yang menjadi sasaran tafwīdh. Terhadap murād ini, anda tidak boleh menginginkannya secara pasti, melainkan harus anda sertai, jika Allah menghendaki (in syā’ Allāh) dan dengan syarat baik. Jika anda mengikat keinginan anda dengan istitsnā’ (kecuali bila Allah menghendaki), maka itulah yang dinamakan tafwīdh. Tetapi jika anda menginginkan tanpa istitsnā’, itulah dia ketamakan yang dicela dan dilarang.

Dengan demikian, sasaran tafwīdh adalah setiap murād yang mengkhawatirkan, yaitu setiap sesuatu yang tidak meyakinkan anda akan kebaikannya.

 

Makna Tafwīdh.

Adapun mengenai makna tafwīdh, salah seorang guruku menyatakan bahwa tafwīdh ialah meninggalkan pilihan perkara yang mengandung kekhawatiran dan pasrah kepada Tuhan yang menentukan pilihan terbaik yang mengetahui akan kemaslahatan makhluk-Nya. Tiada Tuhan selain Allah.

Syaikh Abū Muḥammad as-Sijzī mendefinisikan bahwa: “Tafwīdh adalah meninggalkan ikhtiyār anda pada perkara yang mengkhawatirkan, lalu anda menyerahkannya kepada Allah yang mempunyai pilihan, supaya Ia memilihkan apa yang terbaik buat anda.

Syaikh Abū ‘Amr – raḥimahullāh – berkata: “Tafwīdh adalah meninggalkan keinginan (thama‘). Dan thama‘ ialah keinginan akan sesuatu yang mengkhawatirkan, dengan menetapkannya sebagai pilihan.

Itu semua adalah pendapat para syaikh. Sedangkan menurut pendapatku: “Tafwīdh adalah menginginkan pemeliharaan Allah terhadap apa yang menjadi kemaslahatan bagi anda, dalam perkara, di mana anda tidak bisa merasa aman dari perkara yang dikhawatirkan.

 

Lawan Tafwīdh.

Lawan dari tafwīdh adalah thama‘. Sementara thama‘ itu secara garis besar berlaku atas dua segi:

Pertama: Thama‘ yang semakna dengan raja’ (harapan). Yaitu, ketika anda mengharapkan sesuatu yang tidak mengandung kekhawatiran, atau ada kekhawatiran tetapi dengan menyertakan istitsnā’ (illā an yasyā’ Allāh/kecuali bila Allah menghendaki). Maka yang demikian itu, dipuji dan tidak tercela. Sebagaimana firman Allah s.w.t.:

وَ الَّذِيْ أَطْمَعُ أَنْ يَغْفِرَ لِيْ خَطِيْئَتِيْ يَوْمَ الدِّيْنِ

Artinya:

Dan yang amat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari kiamat.” (asy-Syu‘arā’: 82).

Dan firman Allah s.w.t.:

إِنَّا نَطْمَعُ أَنْ يَغْفِرَ لَنَا رَبُّنَا خَطَايَانَا

Artinya:

Sesungguhnya kami amat menginginkan bahwa Tuhan kami akan mengampuni kesalahan kami.” (asy-Syu‘arā’: 51).

Bagian ini, tidak termasuk dalam kategori permasalahan yang kita bahas.

Kedua: Thama‘ madzmūm (tamak yang tercela). Rasūlullāh s.a.w. bersabda:

إِيَّاكُمْ وَ الطَّمَعَ فَإِنَّهُ فَقْرٌ حَاضِرٌ

Artinya:

Janganlah anda thama‘, sebab thama‘ adalah kefakiran yang nyata.

Ada yang mengatakan: “Kerusakan dan kehancuran agama disebabkan oleh sifat thama‘, sedangkan yang menjadi penyangga kekuatan agama adalah sifat wara‘.

Guruku – Abū Bakr al-Warrāq – berkata: “Thama‘ yang tercela itu ada dua macam, yaitu ketenangan hati pada manfaat yang diragukan dan menetapkan keinginan akan sesuatu yang mengkhawatirkan.”

Keinginan semacam ini merupakan bandingan tafwīdh, bukan yang lain. Pahamilah dengan baik, apa yang kuterangkan itu.

 

Benteng Tafwīdh.

Sedangkan benteng tafwīdh adalah mengingat-ingat kekhawatiran perkara yang diinginkan dan kemungkinan adanya kebinasaan dan kerusakan dalam perkara itu.

Sementara benteng yang dapat membentengi tafwīdh adalah ingat akan keterbatasan kemampuan dan kelemahan anda dalam melakukan pemeliharaan dan penjagaan dari berbagai perkara yang mengkhawatirkan, dan kelemahan untuk mencegah terjatuh dalam kekhawatiran itu, sebab kebodohan, kelalaian, dan kelemahan anda.

Dengan mengingat-ingat akan kedua hal tersebut dapat mendorong diri anda untuk menyerahkan segala urusan anda kepada Allah dan menjaga diri dari memastikan berbuat sekehendak anda, serta enggan menginginkannya, kecuali dengan syarat akan adanya kebaikan dan kemaslahatan. Demikianlah keterangan kami, pahamilah, semoga anda mendapatkan petunjuk.

Jika ada yang bertanya kepada anda: “Apakah kekhawatiran yang mewajibkan untuk bersikap tafwīdh kepada Allah dalam berbagai perkara?”

Ketahuilah, bahwa secara garis besar, khathar itu ada dua, yaitu:

1. Khathar keragu-raguan, yaitu bahwa apa yang anda inginkan itu akan terwujud ataukah tidak, apakah anda bisa mencapainya atau tidak. Yang demikian ini membutuhkan istitsnā’, dan masuk dalam kategori bab niat atau angan-angan (al-amalu).

2. Khathar yang rusak, yaitu suatu perbuatan yang tidak anda yakini akan adanya kemaslahatan bagi diri anda. Inilah khathar yang perlu tafwīdh.

Mengenai pengertian khathar, terjadi perbedaan ibarat di kalangan para imam. Ada yang berpendapat bahwa khathar dalam melakukan perkara yang diinginkan itu ialah seandainya tidak melakukannya bisa selamat, tetapi mungkin pula dengan mengumpuli (melakukannya) akan terjatuh ke dalam dosa. Iman, istiqāmah dan sunnah tidak mengandung kekhawatiran (khathar). Karena, tanpa iman sama sekali, tidak mungkin akan selamat. Istiqāmah tidak akan berkumpul berbarengan dengan dosa. Maka, penetapan kehendak akan keimanan dan istiqāmah itu sah dan merupakan tindakan yang benar.

Sang guru –raḥimahullāh – berkata: “Khathar dalam perbuatan akan sesuatu yang mungkin disusul oleh sesuatu yang datang kemudian yang akan menyita konsentrasi dan kesibukannya. Sementara sesuatu yang terakhir itu, lebih utama daripada melanjutkan yang pertama.”

Melakukan apa yang diinginkan, yaitu perbuatan yang mungkin didatangi suatu perkara yang seandainya orang sibuk dengan perkara yang datang kemudian itu, adalah lebih utama daripada melaksanakan perbuatan tersebut.” Yang demikian itu, terjadi pada hal-hal yang mubah, sunnah dan fardhu.

Coba perhatikan, bagaimana pendapat anda, seandainya ada orang yang hendak mengerjakan shalat, sedangkan waktu shalat tinggal sedikit, lalu tiba-tiba ada rumah yang terbakar atau ada orang tenggelam yang mungkin bisa ia selamatkan. Dalam keadaan seperti itu, mengalihkan kesibukan dengan berusaha menyelamatkan orang yang tenggelam lebih utama daripada meneruskan kesibukan mengerjakan shalat.

Dengan demikian, tidak sah menetapkan kehendak dengan pasti terhadap perkara yang mubah, sunnah dan sebagian besar dari yang fardhu.

Jika ditanyakan: “Bagaimana bisa dianggap sah, Allah memfardhukan suatu perkara atas hamba-Nya, dan mengancam bagi hamba yang meninggalkannya. Sementara tidak ada kebaikan baginya dalam melakukan perkara itu?

Ketahuilah, guruku – raḥimahullāh – berkata: “Apabila Allah s.w.t. memerintahkan suatu perkara, maka di dalamnya pasti mengandung kebaikan bagi orang yang diperintahkan, kalau tidak ada sesuatu yang datang menghalangi.

Allah tidak mempersempit seorang hamba karena menjalankan kefardhuan. Tidak ada alasan baginya untuk meninggalkan kefardhuan karena kefardhuan itu mengandung kebaikan bagi dirinya. Tetapi, terkadang Allah menjadikan sebab yang membuatnya ‘udzur, sehingga ia dihadapkan pada dua pilihan perintah, yang salah satu di antaranya lebih utama, daripada mengerjakan yang lain, sebagaimana yang telah kami sebutkan.

Dalam kondisi demikian, ketika seorang hamba dihadapkan pada dua alternatif pilihan, yang membuatnya beralih dari satu kefardhuan karena adanya ‘udzur, pada perintah lain yang lebih utama, dia mendapatkan pahala. Tetapi bukan lantaran meninggalkan fardhu, melainkan karena melakukan fardhu kedua yang lebih utama daripada yang pertama.

Aku pernah mendengar al-Imām berkata mengenai masalah ini: “Segala yang difardhukan Allah kepada hamba-Nya, seperti shalat, puasa, haji dan sebagainya, pasti mengandung kemaslahatan bagi hamba, dan menghendakinya secara pasti, adalah sah.”

Selanjutnya beliau mengatakan: “Terhadap hal itu kita bersepakat pendapat. Jadi, tinggal perkara yang mubah dan perbuatan sunnah, dalam hukum ini. Pahamilah benar-benar hal ini, karena merupakan permasalahan yang rumit dan amat dalam. Kepada Allah, kita memohon petunjuk.

Bagikan:

2. Berbagai Gerak Hati dan Kehendaknya.

‘Awāridh (godaan) kedua, adalah berbagai keinginan gerak hati dan apa-apa yang menjadi maksud serta tujuannya. Untuk mengatasi hal ini, cukuplah dengan berserah segala persoalan kepada Allah s.w.t. Menyerahkan diri kepada Allah semacam ini, dikarenakan dua hal, yaitu:

1. Untuk membuat kondisi hati menjadi tenang. Sebab, segala perkara gerak hati yang samar, yang tidak diketahui mana yang benar dan mana yang salah, akan membingungkan. Anda tidak tahu, apakah anda akan jatuh pada sesuatu yang benar ataukah pada yang salah. Tetapi, jika anda berserah diri kepada Allah dan berkeyakinan akan jatuh pada kebaikan, maka hati akan merasa aman dan tidak khawatir akan bahaya dan musibah serta kesalahan, kalaupun terjadi menimpanya. Ketenangan hati dan rasa nyaman di hati merupakan suatu keuntungan yang sangat besar.

Guruku sering berkata di dalam majelisnya: “Serahkanlah segalanya kepada Allah yang menciptakan anda, niscaya anda bisa hidup tenang.” Dan dalam masalah ini, ia melantunkan bait-bait syair:

إِنَّ مَنْ كَانَ لَيْسَ يَدْرِيْ أَفِي الْمَحْـــــــــ

ــــــــــبُوْبِ نَفْعٌ لَهُ أَوِ الْمَكْرُوْه

لَحُرِّيٌّ بِأَنْ يُفَوِّضَ مَا يَعْـــــــــ

ــــــــجُزُ عَنْهُ إِلَى الَّذِيْ يَكْفِيْهِ

الإِلهُ الْبَرُّ الَّذِيْ هُوَ بِالرَّأْــــــــ

ــــــــفَةِ أَحْنَى مِنْ أُمِّهِ وَ أَبِيْهِ.

Sungguh, seseorang tidak akan mengetahui apakah perkara yang dicintai

Menguntungkan atau justru sebaliknya, merugikan

Adalah menjadi keharusan menyerahkan segala sesuatu

Yang ia sendiri tidak memiliki kemampuan

Kepada Dzat yang akan mencukupinya

Dia-lah Tuhan Yang memiliki segala kebaikan dan Maha Belas Kasih

Melebihi kebaikan dan belas kasih ayah dan ibu.

2. Menghasilkan kemaslahatan dan kebaikan di kemudian hari. Yang demikian itu, karena segala akibat dari perkara yang kita hadapi itu masih misteri. Betapa banyak keburukan yang terbungkus oleh bentuk yang baik dan menggiurkan. Dan betapa banyak pula kemudharatan yang terbungkus dalam kemasan yang manis seakan menguntungkan. Dan banyak pula racun yang menyerupai madu. Sementara anda tidak mengetahui akibat dan rahasia dari perkara itu.

Ketika anda memastikan memilih suatu perkara, menurut ikhtiyār anda sudah bijak, namun ternyata begitu cepat ternyata pilihan anda itu justru membawa anda pada kerusakan dan kebinasaan, sementara anda tidak menyadarinya.

Ada sebuah cerita, konon seorang ahli ibadah yang memohon kepada Allah agar diperlihatkan Iblis. Lalu diberitahu: “Janganlah minta yang demikian, mintalah keselamatan!” Tapi orang itu tetap pada keinginannya. Maka, Allah memperlihatkan kepadanya sosok Iblis. Begitu melihat Iblis, ia hendak memukulnya. Maka berkatalah Iblis kepadanya: “Seandainya anda tidak hidup seratus tahun, pasti aku membinasakan dan menyiksa anda.” Orang itu terbujuk oleh ucapan Iblis yang demikian dan ia berkata dalam hati: “Umurku masih panjang. Kalau begitu, aku akan berbuat sesuka hatiku dulu, kemudian baru bertobat.” Selanjutnya ia berlaku fasik dan meninggalkan ibadah. Akhirnya, ia menjadi binasa.

Cerita tersebut mengingatkan anda, agar jangan tergesa-gesa memastikan kehendak dan jangan egois untuk tetap pada keinginan itu. Dan juga mengingatkan anda agar tidak panjang angan-angan. Sebab, panjang angan-angan merupakan penyakit ibadah yang sangat besar.

Benar kata penyair:

وَ إِيَّاكَ الْمَطَامِعَ وَ الأَمَانِيْ

فَكَمْ أُمْنِيَّةٍ جَلَبَتْ مَنِيَّةْ

Terhadap apa yang menjadi keinginanmu berhati-hatilah

Betapa banyak angan-angan justru menariknya pada kematian.”

Adapun jika anda menyerahkan segala urusan kepada Allah dan memohon kepada-Nya, agar Ia memilihkan yang terbaik bagi anda, maka tidak akan ada yang mengenai anda kecuali yang baik dan anda pun tidak terjatuh, melainkan pada kemaslahatan pula.

Allah s.w.t. berfirman menceritakan tentang hamba yang saleh:

وَ أُفَوِّضُ أَمْرِيْ إِلَى اللهِ إِنَّ اللهَ بَصِيْرٌ بِالْعِبَادِ، فَوَقَاهُ اللهُ سَيِّئَاتِ مَا مَكَرُوْا وَ حَاقَ بِآلِ فِرْعَوْنَ سُوْءُ الْعَذَابِ.

Artinya:

Dan aku menyerahkan urusanku kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat akan hamba-hambaNya. Maka Allah memeliharanya dari kejahatan tipu daya mereka, dan Fir‘aun beserta kaumnya dikepung oleh azab yang amat buruk.” (al-Mu’min: 44-45).

Tidakkah anda perhatikan, bagaimana Allah menurunkan pemeliharaan, setelah hamba itu menyerahkan urusannya (tafwīdh) kepada Allah. Dan pertolongan Allah juga datang untuk mengalahkan musuh-musuh hamba itu, sehingga tercapailah apa yang menjadi tujuannya. Renungkanlah keterangan ini, in syā’ Allāh, anda akan mendapatkan petunjuk.

Bagikan:

Jika anda bertanya: “Apakah orang yang tawakkal itu, masih perlu membawa bekal dalam bepergian?”

Ketahuilah, bahwa orang itu bisa saja membawa bekal, tetapi hatinya tidak tergantung kepada bekal yang dibawanya itu. Sebab bagaimana bekal itu bersandar kepada Allah dan pasrah kepada-Nya. Ia bisa mengucap: “Rezeki itu telah dibagi dan sudah selesai urusannya (tidak lagi dapat diubah). Kalau Allah berkehendak, bisa saja menegakkan diriku dengan rezeki ini, atau dengan rezeki yang lain.”

Mungkin saja, orang yang tawakkal itu membawa perbekalan dalam bepergian, diniatkan untuk membantu sesama Muslim. Dalam hal ini yang penting bukan membawa atau tidak membawa bekal, melainkan soal hati, kepada siapa hatinya digantungkan.

Janganlah anda menggantungkan diri kepada selain janji Allah, kesempurnaan pemenuhannya dan jaminan-Nya. Banyak orang yang membawa bekal dalam bepergian, tetapi hatinya tetap bersandar kepada Allah, bukan kepada bekal yang dibawanya. Demikian juga sebaliknya, banyak orang yang tidak membawa bekal dalam perjalanan, tetapi hatinya selalu tertuju dan tergantung pada bekal, bukan kepada Allah. Jadi, semua tergantung kepada hati. Pahamilah pokok-pokok masalah tersebut, in syā’ Allāh, anda akan tercukupi.

Seandainya ditanyakan: “Mengapa Nabi Muḥammad s.a.w. dan sahabat-sahabatnya, serta orang-orang saleh terdahulu membawa perbekalan dalam perjalanan?

Ketahuilah, bahwa membawa perbekalan adalah perkara yang mubah, tidak haram. Yang haram adalah bersandar atau menggantungkan diri kepada perbekalan itu, tanpa berserah diri dan tawakkal kepada Allah. Pahamilah keterangan ini:

Kemudian, apa yang menjadi persangkaan anda, ketika Allah berfirman kepada Rasūlullāh s.a.w.:

وَ تَوَكَّلْ عَلَى الْحَيِّ الَّذِيْ لاَ يَمُوْتُ

Artinya:

Dan bertawakkallah kepada Allah Yang Hidup (Kekal) yang tidak mati.” (Al-Furqān: 58).

Apakah Nabi Muḥammad s.a.w. mendurhakai Allah dalam hal ini? Apakah beliau menggantungkan hatinya kepada makanan dan minuman, atau kepada dirham atau dinar?

Tidak, Nabi pasti tidak bertindak durhaka. Tetapi hati beliau pasti tertuju kepada Allah dan selalu bertawakkal kepada-Nya, sesuai apa yang telah diperintahkan oleh Allah kepadanya. Karena, beliau adalah seorang Nabi yang hatinya tidak berpaling kepada dunia, seluruhnya dan tidak pula mengulurkan tangannya untuk mau menerima kunci semua kekayaan harta bumi.

Kalau Nabi Muḥammad s.a.w. dan orang-orang saleh terdahulu membawa bekal dalam perjalanan, itu adalah lantaran ada niat yang baik, bukan karena senang hatinya terhadap bekal, lalu meninggalkan menghadap Allah. Jadi, yang dianggap adalah niat, menurut apa yang kuterangkan kepada anda. Pahamilah dan bangunlah dari tidur, sadarlah dari kelalaian, niscaya anda dikaruniai laku lampah yang benar oleh Allah.

Jika anda pertanyakan: “Manakah yang lebih utama. Membawa bekal atau tidak?” Ketahuilah, bahwa hal itu adalah tergantung keadaannya. Jika ia seorang yang menjadi panutan orang banyak dan berniat memberikan contoh kepada para pengikutnya, bahwa membawa perbekalan diperbolehkan, atau dengan niat untuk menolong sesama muslim, menolong orang susah, dan semisalnya, maka membawa bekal adalah lebih utama.

Namun, jika ia bepergian seorang diri dan kuat hatinya dalam memegang teguh komitmen kepercayaannya kepada Allah, serta beranggapan bahwa bekal dapat mengganggu dalam beribadah kepada Allah, maka meninggalkan bekal tentu lebih utama. Pahamilah keterangan yang ringkas dan padat ini, semoga Allah memberikan petunjuk kepada anda.

Bagikan:

Kita pun telah cukup mendapatkan bukti, bahwa para nabi dan para wali Allah yang bertawakkal kepada Allah, pada umumnya tidak mencari rezeki. Mereka senantiasa beribadah kepada Allah. Dan dengan ijma‘, mereka itu tidak berani meninggalkan perintah Allah dan tidak berbuat maksiat kepada-Nya.

Jadi, jelaslah bagi anda bahwa mencari rezeki dan sebab-sebabnya itu bukan merupakan suatu kewajiban bagi hamba.

Jika anda bertanya: “Apakah rezeki akan bertambah dengan usaha pencarian? Atau sebaliknya, rezeki akan menjadi berkurang dengan meninggalkan pencarian? Ketahuilah, bahwa masalah rezeki seseorang telah tertulis dalam Lauh-ul-Mahfuzh, dan telah ditetapkan jumlah maupun waktunya. Hukum Allah tidak bisa diganti, pembagian dan ketetapan Allah tidak dapat diubah. Inilah keterangan yang shahih menurut ulama kita.

Berbeda dengan pendapat madzhab sebagian pengikut Ḥātim dan Syaqīq yang mengatakan: “Rezeki itu tidak dapat bertambah dan tidak dapat berkurang karena pekerjaan hamba. Tetapi, harta bisa bertambah dan bisa berkurang.” Pendapat semacam ini, tidak benar. Sebab, dalil dalam dua masalah ini adalah satu, yaitu ketetapan dan pembagian. Sebagaimana yang diisyaratkan oleh firman Allah s.w.t.:

لِكَيْلاَ تَأْسَوْا عَلى مَا فَاتَكُمْ وَ لاَ تَفْرَحُوْا بِمَا آتَاكُمْ

Artinya:

(Kami jelaskan yang demikian ini) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu.” (al-Ḥadīd: 23).

Seandainya dengan mencari, rezeki bisa bertambah dan dengan tidak mencari, rezeki bisa berkurang, tentu ada tempat bagi susah dan gembira. Apabila seseorang tidak melakukan pencarian dan menunda-nunda, membuatnya akan kehilangan rezeki, sementara kalau bersungguh-sungguh menyingsingkan lengan baju melakukan pencarian, bisa menghasilkan rezeki.

Rasūlullāh s.a.w. pernah bersabda kepada orang yang datang meminta:

هَاكَ لَوْ لَمْ تَأْتِهَا لأَتَتْكَ

Artinya:

Ambillah yang kau minta. Sebab, walaupun anda tidak datang ke mari, ia (yang anda minta ini) akan tetap datang kepada anda.

Seandainya ada yang bertanya: “Pahala dan siksa itu juga ditulis di Lauḥ-ul-Maḥfūzh. Sementara, kita wajib mencari pahala Allah dengan taat dan meninggalkan segala sesuatu yang dapat menyebabkan mendapatkan siksa Allah. Lalu, apakah pahala dapat bertambah karena mencari, atau berkurang sebab meninggalkan?”

Ketahuilah, bahwa mencari pahala itu wajib, karena Allah telah memerintahkannya dan mengancam kalau meninggalkannya. Dan Allah tidak menjamin rezeki. Dengan demikian, banyak atau sedikitnya pahala dan siksa Allah, tergantung pada perbuatan hamba.

Perbedaan kedua hal tersebut dapat ditemukan dalam satu kaidah samar, yaitu apa yang dikatakan oleh sebagian ulama kita, bahwa yang tertulis di Lauḥ-ul-Maḥfūzh itu ada dua macam, yaitu: Pertama: Satu macam tertulis secara mutlak, tanpa syarat dan tanpa menggantungkannya dengan perbuatan hamba, yaitu rezeki dan ajal.

Allah menyebut-nyebut rezeki dan ajal dalam firman-Nya, secara mutlak tanpa syarat.

Perhatikan firman Allah s.w.t. berikut:

وَ مَا مِنْ دَآبَّةٍ فِي الأَرْضِ إِلاَّ عَلَى اللهِ رِزْقُهَا

Artinya:

Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberinya rezeki.” (Hūd: 6).

Dan Allah s.w.t. berfirman:

فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لاَ يَسْتَأْخِرُوْنَ سَاعَةً وَ لاَ يَسْتَقْدِمُوْنَ

Artinya:

Maka apabila telah datang ajalnya, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat (pula) memajukannya.” (al-A‘rāf: 34).

Dan Rasūlullāh s.a.w. juga bersabda:

أَرْبَعَةٌ قَدْ فُرِغَ مِنْهُنَّ الْخَلْقُ وَ الْخُلُقُ وَ الرِّزْقُ وَ الأَجَلُ

Artinya:

Terdapat empat perkara yang telah diselesaikan (tidak lagi dapat diubah), yaitu makhluk (penciptaan), pekerti, rezeki dan ajal.

Kedua: Yang ditulis dalam Lauḥ-ul-Maḥfūzh dengan syarat yang digantung, yaitu disyaratkan dengan perbuatan hamba, yaitu pahala dan siksa.

Pahala dan siksa disebut oleh Allah dalam kitab al-Qur’ān, dalam keadaan digantungkan dengan perbuatan hamba.

Allah s.w.t. berfirman:

وَ لَوْ أَنَّ أَهْلَ الْكِتَابِ آمَنُوْا وَ اتَّقَوْا لَكَفَّرْنَا عَنْهُمْ سَيِّئَاتِهِمْ وَ لأدْخَلْنَاهُمْ جَنَّاتِ النَّعِيْمِ

Artinya:

Dan sekiranya Ahli Kitab beriman dan bertakwa, tentulah Kami tutup (hapus) kesalahan-kesalahan mereka dan tentulah Kami masukkan mereka ke dalam surga-surga yang penuh kenikmatan.” (al-Mā’idah: 65).

Hal ini, telah begitu jelas, maka pahami dan ketahuilah dengan baik.

Jika ada yang berkata: “Kita telah jumpai dalam realitas bahwa orang-orang yang mencari rezeki pada mendapatkan banyak rezeki dan harta, sedangkan orang yang tidak mau mencari tidak mempunyai apa-apa dan fakir.”

Sebagai jawabnya adalah bahwa dalam hal ini, anda telah mengabaikan realitas yang ada, seakan-akan anda tidak pernah melihat orang yang rajin bekerja tetapi tetap saja fakir. Dan seolah-olah anda tidak pernah melihat orang yang tidak bekerja, tetapi mendapatkan rezeki dan kaya. Ini semua adalah fakta, bahkan macam yang terakhir ini banyak terjadi, supaya anda mengerti bahwa yang demikian itu merupakan ketentuan Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. Dan hal itu merupakan pengaturan Allah Yang Maha Merajai lagi Maha Bijaksana.

Abū Bakar Muḥammad bin Sābiq al-Wa‘adz, pemberi fatwa di negeri Syam, menggubah syair:

كَمْ مِنْ قَوِيٍّ قَوِيٍّ فِيْ تَقَلُّبِهِ

مُهَذَّبِ الرَّأْيِ عَنْهُ الرِّزْقُ مُنْحَرِفُ

وَ كَمْ ضَعِيْفٍ ضَعِيْفٍ فِيْ تَقَلُّبِهِ

كَأَنَّهُ مِنْ خَلِيْجِ الْبَحْرِ يَغْتَرِفُ

هذَا دَلِيْلٌ عَلَى أَنَّ الإِلهَ لَهُ

فِي الْخَلْقِ سِرٌّ خَفِيٌّ لَيْسَ يَنْكَشِفُ

Betapa banyak orang kuat, kuat pula mondar-mandir dalam pencarian

lagi terdidik, tetapi rezeki Allah berpaling darinya.

Dan betapa banyak orang yang lemah, lemah mondar-mandir dalam penarian

Tetapi seakan-akan rezekinya tinggal memungut yang teronggok di laut.

Itu suatu bukti bahwa ia mempunyai Tuhan Yang Menciptakan

Adalah rahasia ketuhanan yang tak terungkap dan tak tergapai.

Jika anda bertanya: “Bolehkah seseorang masuk ke lembah pedalaman tanpa bekal?” Ketahuilah, bahwa jika anda memiliki keteguhan hati yang kuat menghadap kepada Allah dan kepercayaan yang kokoh terhadap janji Allah, maka masuklah. Tetapi jika tidak, lebih baik anda hidup seperti halnya kebanyakan orang yang hidup dengan ketergantungan mereka.

Aku pernah mendengar Imām Abū Ma‘ālī berkata: “Orang yang menghadap kepada Allah, sementara ia berjalan menurut kebiasaan manusia, maka Allah juga menjalankan apa-apa terhadapnya menurut kebiasaan manusia pula, dalam hal kecukupan biaya hidupnya.”

Ini merupakan perkataan yang bagus, dan sangat besar faedahnya bagi orang yang mau berpikir.

Jika anda bertanya, bukankah Allah s.w.t. berfirman:

وَ تَزَوَّدُوْا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى

Artinya:

Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (al-Baqarah: 197).

Ketahuilah, bahwa mengenai penafsiran ayat tersebut, terdapat dua pendapat, yaitu:

Pertama: Bahwa yang dimaksud dalam ayat itu adalah bekal untuk akhirat. Karena itu Allah berfirman: “Sebaik-baik bekal adalah taqwā.” Bukan dengan pernyataan: “Sebaik-baik bekal adalah dunia dan sebab-sebabnya.”

Kedua: Mengenai suatu kaum yang tidak menyenangi membawa bekal ketika menunaikan ibadah haji, karena mengandalkan pemberian orang lain. Mereka meminta-minta kepada orang lain, mengeluh dan merugikan orang lain. Hingga akhirnya mereka diperintahkan untuk membawa bekal, dengan maksud mengingatkan bahwa berbekal dengan harta sendiri itu lebih baik daripada menerima harta dari meminta-minta pada orang lain dan mengandalkan pemberian mereka. Demikianlah menurut pendapatku yang dapat aku kemukakan.

Bagikan:

Ketahuilah bahwa rezeki itu ada empat macam, yaitu:

1. Rezeki yang dijamin (madhmūn).

2. Rezeki yang dibagikan (maqsūm).

3. Rezeki yang dimiliki (mamlūk).

4. Rezeki yang dijanjikan (mau‘ūd).

Rezeki yang dijamin oleh Allah, ialah makanan (rezeki) yang menjadi penyebab kekuatan tegaknya tubuh, tanpa sebab-sebab lain. Jaminan Allah adalah untuk rezeki semacam ini. Orang wajib bertawakkal menghadapi rezeki madhmūn ini, berdasarkan dalil akal dan dalil syara‘. Sebab, Allah membebani kita supaya berkhidmat dan taat beribadah kepada-Nya, dengan menggunakan badan kita. Jadi, Allah pasti menjamin apa yang bisa mencegah kerusakan badan, agar kita dapat melakukan apa yang dibebankan kepada kita.

Sebagian para Syaikh Kirāmiyah berkata dengan perkataan yang bagus menurut asalnya: “Jaminan rezeki para hamba itu wajib dalam kerangka kebijakan Allah, karena tiga hal:

1. Allah ibarat majikan, sementara kita adalah sebagai budak. Adalah menjadi sebuah keharusan bagi majikan mencukupi bekal yang dibutuhkan (makanan) budak, sebagaimana keharusan seorang hamba melayani majikannya.

2. Allah menciptakan para hamba yang membutuhkan rezeki, dan Allah tidak menjadikan jalan bagi mereka untuk mencari rezeki karena mereka tidak mengetahui apa rezeki mereka, di mana tempatnya, dan kapan datangnya, agar mereka mencari rezeki itu sendiri di tempatnya dan dalam waktunya, agar mereka datang kepada rezeki itu, maka menjadi keniscayaan bagi Allah mencukupi para hamba-Nya dalam masalah rezeki dan mendatangkan para hamba itu kepada rezeki mereka.

3. Allah memerintahkan kepada hamba-Nya agar berkhidmat. Sementara mencari rezeki kadang-kadang menghalangi manusia untuk berkhidmat, maka mencukupi ongkos-ongkos hidup bagi hamba menjadi keniscayaan bagi Allah, agar para hamba dapat berkhidmat kepada-Nya dengan sebaik-baiknya.

Ini adalah ucapan orang yang tidak mengerti rahasia ketuhanan. Orang yang mengatakan bahwa Allah itu wajib memberikan rezeki, adalah orang bingung. Aku sudah menjelaskan kesalahan ucapan atau i‘tiqād semacam ini di dalam ilmu kalam.

Marilah kita kembali kepada pembahasan yang menjadi maksud dan tujuan kita. Adapun rezeki yang dibagikan Allah dan ditetapkan oleh Allah di Lauḥ-ul-Maḥfūzh, yaitu apa yang dimakan, diminum, dipakai oleh hamba, masing-masing telah ditentukan oleh Allah dengan ketetapan tertentu dan dalam batas waktu tertentu pula, tidak lebih dan tidak kurang, tidak maju dan tidak pula mundur dari ketentuan yang telah ditetapkan, persis seperti aslinya. Sebagaimana sabda Rasūlullāh s.a.w.:

Artinya:

الرِّزْقُ مَقْسُوْمٌ مَفْرُوْغٌ مِنْهُ لَيْسَ تَقْوَى تَقِيٍّ بِزَائِدِهِ وَ لاَ فُجُوْرَ فَاجِرٍ بِنَاقِصِهِ

 “Rezeki itu telah rampung pembagiannya (tidak lagi diubah). Ke-taqwā-an orang yang takwa tidak bisa menambahi rezekinya dan kedurhakaan orang yang durhaka tidak pula dapat mengurangi rezekinya.

Sedangkan rezeki yang dimiliki oleh setiap hamba, yaitu harta di dunia yang dimiliki menurut apa yang ditentukan Allah dan dibagikan Allah untuk dimiliki oleh hamba. Itu adalah merupakan sebagian dari rezeki Allah.

Allah s.w.t. berfirman:

أَنْفِقُوْا مِمَّا رَزَقْنَاكُمْ

Artinya:

Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu.” (al-Baqarah: 254).

Adapun rezeki yang dijanjikan adalah rezeki yang telah dijanjikan Allah kepada para hamba-Nya yang bertakwa dengan syarat taqwā, berupa rezeki halal, yang diterimakan dengan tanpa bersusah-payah mencarinya.

Allah s.w.t. berfirman:

وَ مَنْ يَتَّقِ اللهَ يَجْعَلْ لَّهُ مَخْرَجًا، وَ يَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ

Artinya:

Barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar; dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (ath-Thalāq: 2-3).

Demikianlah penjelasan mengenai macam-macam rezeki. Kewajiban tawakkal hanyalah pada urusan rezeki yang dijamin oleh Allah. Pahamilah penjelasan tersebut dengan sebaik-baiknya!

Ketiga: Batasan tawakkal. Mengenai batasan (definisi) tawakkal, sebagian guruku mengatakan: “Tawakkal adalah kepasrahan hati sepenuhnya kepada Allah dengan tunduk menghadap kepada-Nya, tanpa menaruh harapan kepada selain-Nya.

Ulama lain mengatakan: “Tawakkal adalah memelihara hati hanya ditujukan kepada Allah, dalam masalah kemaslahatan dirinya, dengan meninggalkan ketergantungan hati kepada sesuatu selain-Nya.

Imām Abū ‘Umar – r.h. – berkata: “Tawakkal adalah meninggalkan ketergantungan (ta‘alluq) dari pada selain Allah. Sedangkan ta‘alluq dimaksud ialah mengingat-ingat akan tegaknya diri, lepas dari apa saja selain Allah.

Syaikh al-Imām (guruku), mengatakan: “Tawakkal dan ta‘alluq (ketergantungan hati) merupakan dua ingatan yang menjadi pekerjaan hati. Tawakkal mengingat-ingat tegaknya diri atas kekuasaan Allah. Sedangkan ta‘alluq ialah mengingat-ingat tegaknya diri, lepas dari apa saja selain Allah.

Semua pendapat tersebut, menurut pendapatku, kembali pada satu pokok, yaitu hendaklah anda memantapkan hati, bahwa tegaknya diri anda, terpenuhinya kekurangan dan kecukupan anda, semuanya datang dari Allah, bukan dari yang selain-Nya. Bukan karena harta dunia dan bukan pula oleh sebab-sebab yang lain. Kemudian, jika Allah menghendaki melalui sebab berupa makhluk atau harta dunia, maka Allah kuasa menjadikan sebab itu. Tetapi, jika tidak menghendaki melalui sebab, maka cukuplah dengan kudrat-Nya, tanpa melalui sebab dan perantara.

Jika anda menyadari hal itu, sepenuh hati, menyandarkan segalanya hanya kepada Allah, serta memutuskan harapan kepada orang lain, berarti anda telah benar-benar ber-tawakkal kepada Allah. Itulah batasan mengenai tawakkal.

Keempat: Benteng tawakkal. Adapun benteng tawakkal yang mendorong seseorang kepada tawakkal adalah ingat akan jaminan Allah. Sedangkan yang membentengi benteng tawakkal adalah ingat akan keagungan Allah, kesempurnaan ilmu dan kekuasaan-Nya, kemahasucian-Nya dari mengingkari janji, dari sifat lupa, lemah dan suci dari kekurangan.

Ketika seseorang senantiasa mengingat hal ini, tentu akan terdorong untuk bertawakkal kepada Allah dalam urusan rezeki.

Seandainya ditanyakan: “Apakah seorang hamba wajib mencari rezeki dalam segala keadaannya?” Maka, ketahuilah bahwa rezeki yang dijamin Allah, yaitu berupa penguat dan menjadi sebab tegaknya tubuh itu tidak mungkin bisa kita cari. Karena, hal itu merupakan pekerjaan Allah bagi hamba, seperti halnya hidup dan mati, manusia tidak kuasa mengadakan atau menolak.

Adapun rezeki yang dibagikan dari sebab, maka tidaklah menjadi sebuah keniscayaan bagi seorang hamba untuk mencarinya, karena seseorang memang tidak perlu mencarinya. Lagi pula yang dibutuhkan seorang hamba adalah rezeki yang dijamin. Dan rezeki yang dijamin itu datangnya dari Allah dan menjadi jaminan-Nya.

Adapun mengenai firman Allah s.w.t.:

وَ ابْتَغُوْا مِنْ فَضْلِ اللهِ

Artinya:

Dan carilah karunia Allah.” (al-Jumu‘ah: 10).

Maksudnya adalah perintah mencari ilmu dan pahala. Bahkan ada ulama yang mengatakan: “Firman ini merupakan kemurahan dari Allah. Karena, firman ini adalah kalimat perintah yang datang sesudah larangan, sehingga mempunyai arti boleh, bukan berarti wajib atau keharusan.”

Jika ada yang berkata: “Tetapi rezeki yang dijamin itu datangnya tentu mempunyai sebab-sebab, apakah kita wajib mencari sebab-sebab itu?” Jawaban atas pertanyaan ini adalah tidak wajib bagi anda untuk mencari sebab-sebab itu, karena seorang hamba tidak membutuhkan mencari sebab. Allah bisa mendatangkan rezeki itu, baik dengan sebab maupun tanpa sebab. Lalu dari manakah kita wajib mencari sebab? Kemudian, Allah menjamin anda secara mutlak, tanpa ada syarat harus mencari atau bekerja.

Allah s.w.t. berfirman:

وَ مَا مِنْ دَآبَّةٍ فِي الأَرْضِ إِلاَّ عَلَى اللهِ رِزْقُهَا

Artinya:

Dan tidak ada suatu binatang melata pun di muka bumi melainkan Allah-lah yang memberinya rezeki.” (Hūd: 6).

Kemudian, bagaimana mungkin Allah memerintahkan hamba-Nya mencari sesuatu yang tidak diketahui tempatnya. Karena, ia tidak tahu sebab yang mana yang bakal menghasilkan rezeki baginya, serta rezeki mana yang menimbulkan kekuatan dan pertumbuhannya.

Maka, masing-masing kita, tidak mengetahui sebab dengan sebenar-benarnya, dari mana bisa didapat dan sebab mana yang bisa menghasilkan. Maka tidaklah benar, jika Allah membebani hamba-Nya dalam masalah ini. Renungkanlah, keterangan ini, mudah-mudahan mendapatkan petunjuk, karena apa yang diterangkan itu sudah jelas.

Bagikan:

Lewat ke baris perkakas