Potret ‘Ulama’ Thariqah – Kenapa Harus Berthariqah?

BAGIAN III POTRET ‘ULAMĀ’ THARĪQAH   (فَصْلٌ) وَلِيَكُوْنَ التَّصَوُّفُ مَبْنِيًّا عَلَى الْكِتَابِ وَ السُّنَّةِ دَخَلَ فِيْهِ عُظَمَاءُ الْعُلَمَاءِ وَ انْضَمَّ إِلَى زُمْرَةِ أَهْلِهِ فُحُوْلٌ مِنَ الْكُبَرَاءِ: كَالْحَافِظِ أَبِيْ نُعَيْمٍ، وَ الْإِمَامِ عِزُّ الدِّيْنِ بْنِ عَبْدِ السَّلَامِ، وَ الْحَافِظِ ابْنِ الصَّلَاحِ، وَ الْإِمَامِ النَّوَوِيِّ، وَ تَقِيِّ الدِّيْنِ السُّبْكِيِّ، وَ ابْنَهُ تَاجُ الدِّيْنِ السُّبْكِيِّ، وَ الْحَافِظِ السَّيُوْطِيِّ، وَ غَيْرِهِمْ. (Pasal) Tashawwuf yang berlandaskan al-Qur’ān dan Sunnah berhasil menarik kalangan para ‘ulamā’, cendekiawan…

Landasan Tashawwuf – Kenapa Harus Berthariqah?

BAGIAN II LANDASAN TASHAWWUF   (فَصْلٌ) وَ التَّصَوُّفُ مَبْنِيٌّ عَلَى الْكِتَابِ وَ السُّنَّةِ كَمَا قَالَ الْجُنَيْدُ: “عِلْمُنَا هذَا مُشَيَّدٌ بِالْكِتَابِ وَ السُّنَّةِ”. وَ قَالَ أَيْضًا: “الطَّرِيْقُ إِلَى اللهِ تَعَالَى مَسْدُوْدٌ عَلَى خَلْقِهِ إِلَّا الْمُقْتَفِيْنَ آثَارَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ وَ سَلَّمَ. (Pasal) Tashawwuf dibangun atas landasang al-Qur’ān dan Sunnah. Imām al-Junaid berkata: “Seperti yang kita ketahui bahwa tashawwuf bersumber dari al-Qur’an dan Sunnah.” Ia melanjutkan: “Segala jalan…

Makna Tashawwuf – Kenapa Harus Berthariqah?

BAGIAN I MAKNA TASHAWWUF   كَثُرَتْ أَقْوَالُ الْعُلَمَاءِ فِيْ تَعْرِيْفِهِ، وَ اخْتَلَفَتْ أَنْظَارُهُمْ فِيْ تَحْدِيْدِهِ، وَ ذلِكَ دَلِيْلٌ عَلَى شَرَفِ اسْمِهِ وَ مُسَمَّاهُ، يُنْبِئُ عَنْ سُمُوِّ غَايَتِهِ وَ مَرْمَاهُ. فَقِيْلَ: “التَّصَوُّفُ الْجِدُّ فِي السُّلُوْكِ إِلَى مَلِكِ الْمُلُوْكِ”، وَ قِيْلَ” التَّصَوُّفُ الْمُوَافَقَةُ لِلْحَقِّ وَ الْمُفَارَقَةُ لِلْخَلْقِ”، وَ قِيْلَ: “التَّصَوُّفُ ابْتِغَاءُ الْوَسِيْلَةِ إِلَى مُنْتَهَى الْفَضِيْلَةِ”. Banyak sekali perkataan para ‘ulamā’ mengenai definisi tashawwuf. Perbedaan pun tak bisa dicegah. Hal ini sebagai bukti…

Mukaddimah – Kenapa Harus Berthariqah?

Mukaddimah   بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ Bism-illāh-ir-raḥmān-ir-raḥīm   الْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ مَنَحَ أَوْلِيَاءَهُ جَزِيْلَ عَطَائِهِ، وَ وَهَبَ أَصْفِيَاءَهُ جَلِيْلَ حِبَائِهِ، تَجَلَّى لَهُمْ بِمَظْهَرٍ مِنْ مَظَاهِرِ أَسْمَائِهِ، فَتَاهَتْ عُقُوْلُهُمْ فِيْ مُشَاهَدَةِ عَظَمِتِهِ وَ كِبْريَائِهِ، وَ طَافَتْ أَرْوَاحُهُمْ هَائِمَةً فِيْ قُدْسِ سَنَائِهِ، وَ أَفْنَاهُمْ عَنْ أَنْفُسِهِمْ فَلَمْ يُشَاهِدُوْا شَيْئًا سِوَاهُ فِيْ أَرْضِهِ وَ سَمَائِهِ. Segala puji tercurahkan ke hadirat Allah s.w.t. yang telah mengaruniai para kekasih-Nya dengan limpahan yang besar, mencurahkan orang-orang…

Biografi Singkat Penulis – Kenapa Harus Berthariqah?

Biografi Singkat Penulis   Sayyid ‘Abdulillāh bin Muḥammad as-Shiddīq al-Ghumary al-Ḥasany adalah seorang ‘ulamā’ besar Maroko yang merupakan mahaguru para ‘ulamā’ besar di zaman ini. Beliau merupakan putra dari seorang sufi agung pendiri thariqah Shiddīqiyyah Syādziliyyah; Syaikh Muḥammad ash-Shiddīq al-Ghumary yang nasabnya bersambung kepada Rasūlullāh s.a.w. dari jalur Sayyidinā Ḥasan r.a. Beliau adalah as-Sayyid Abul-Fadhl ‘Abdullāh bin Muḥammad bin Muḥammad ash-Shiddīq bin Aḥmad bin Muḥammad bin Qāsim bin Muḥammad bin…

007-10 Tahapan Puji & Syukur (10/10) | Minhaj-ul-Abidin

Secara garis besar, manusia itu wajib melakukan empat perkara, yaitu: 1. Berilmu; 2. Ber‘amal; 3. Ikhlas; 4. Takut. Pertama-tama, harus mengetahui jalan keselamatan yang harus ditempuh. Kalau tidak, maka dia seperti orang buta. Kemudian dia ber‘amal dengan didasari ilmu. Jika tidak, tentu terhalang. Dan ber‘amal harus dilakukan dengan tulus ikhlas. Kalau tidak, maka dia menjadi orang yang rugi. Selanjutnya, senantiasa takut dari noda-noda ilmu, cacat-cacat ‘amal, dan penyakit-penyakit ikhlas, sehingga…

007-9 Tahapan Puji & Syukur | Minhaj-ul-Abidin

Selanjutnya, aku renungkan apa yang diberikan Allah kepada seorang hamba, yang benar-benar taat dan berkhidmat kepada Allah s.w.t. yang menempuh jalan ini, sepanjang umurnya, ternyata secara garis besar aku menemukan empat puluh mahkota kebesaran dan kemuliaan; dua puluh kemuliaan di dunia, dan dua puluh kemuliaan di akhirat. Dua puluh kenikmatan di dunia itu, ialah: 1. Allah berkenan menyebut-nyebut dan memujinya. Sungguh mulia orang yang disebut-sebut dan dipuji Allah, Tuhan semesta…

007-8 Tahapan Puji & Syukur | Minhaj-ul-Abidin

(Pasal): Ketahuilah, bahwa pada hakikatnya jalan yang kita bahas ini, tidaklah seperti jauh dekatnya perjalanan fisik yang dapat ditempuh seseorang dengan jalan kaki, kemudian orang bisa menempuhnya menurut kuat tidaknya tubuh. Tetapi, jalan ini adalah jalan rohani yang ditempuh dengan hati, pikiran menurut i‘tiqād dan ketajaman penglihatan. Pangkalnya adalah turunnya nur dari langit dan penglihatan yang bersifat ketuhanan yang masuk di hati seorang hamba, lalu ia merenungkannya, sehingga ia dapat…

007-7 Tahapan Puji & Syukur | Minhaj-ul-Abidin

Bila anda bertanya: “Umur manusia begitu pendek, sementara tahapan-tahapan itu, sangat panjang dan sangat sulit ditempuh, lantas bagaimana supaya umur yang pendek ini dapat menyempurnakan syarat-syarat tersebut dan dapat digunakan untuk menempuh tahapan-tahapan itu?” Demi umurku, memang benar tahapan-tahapan ini sangat panjang dan syarat-syaratnya pun sangat berat. Tetapi, jika Allah berkehendak memilih hamba-Nya dan menjadikan baginya yang panjang menjadi pendek dan yang berat menjadi ringan. Sehingga setelah bisa melampaui tahapan…

007-6 Tahapan Puji & Syukur | Minhaj-ul-Abidin

(Pasal): Ringkasnya, apabila anda membaguskan perenungan tentang karunia Allah yang besar dan nikmat Allah yang mulia yang ada pada diri anda, nikmat yang tidak terhitung oleh hati anda dan tidak dapat terliput oleh bayangan anda. Sehingga anda dapat melewati tahapan-tahapan yang sulit ini, lalu bisa memperoleh banyak ilmu dan terbuka mata hati anda serta bersih dari berbagai kesalahan dan dosa besar. Mampu melewati rintangan-rintangan, sanggup menolak penghalang-penghalang yang datang kemudian,…