Hati Senang

1-8 Tidak Usah Risau Meski Amalmu Masih Sedikit – Al-Hikam – Ulasan Syaikh Ahmad Zarruq

8. إِذَا فَتَحَ لَكَ وِجْهَةً مِنَ التَّعَرُّفِ فَلَا تُبَالِ مَعَهَا إِنْ قَلَّ عَمَلُكَ “Jika Dia membukakan jalan bagimu kepada sisi pengenalan, tidak usah risau meski amalmu masih sedikit.” Alih-alih, kau harus bergembira karena dibukakan jalan untuk mengenali Dia. Kau harus bergembira karena bisa jadi kau tidak akan mendapatkan jalan lain untuk mengenali Dia. Lalu yang dimaksud dengan sisi pengenalan di sini adalah sesuatu yang membuatmu mengetahui keagungan Tuhan dan kehinaan…

1-7 Jangan Sampai Tidak Terwujudnya Apa Yang Dia Janjikan Membuatmu Ragu – Al-Hikam – Ulasan Syaikh Ahmad Zarruq

7. لَا يُشَكِّكَنَّكَ فِي الْوَعْدِ عَدَمُ وُقُوْعِ الْمَوْعُوْدِ وَ إِنْ تَعَيَّنَ زَمَنُهُ “Jangan sampai tidak terwujudnya apa yang Dia janjikan membuatmu ragu meskipun waktunya telah ditentukan.” Maksudnya, seorang hamba tidak semestinya merasa bimbang dan ragu terhadap hasil atau buah dari doa-doa yang dipanjatkannya. Jangan sampai kau mengatakan: “Janji-Nya benar dan waktunya juga telah ditentukan dengan jelas. Namun, apa yang dijanjikan tidak kunjung terjadi dan mewujud.” Perilaku seperti ini melahirkan sikap…

1-6 Jangan Berhenti Berdoa Meskipun Doanya Tak Kunjung Dikabul – Al-Hikam – Ulasan Syaikh Ahmad Zarruq

6. لَا يَكُنْ تَأَخُّرُ أَمَدِ الْعَطَاءِ مَعَ الْإِلْحَاحِ فِي الدُّعَاءِ مُوْجِبًا لِيَأْسِكَ “Jangan sampai lambatnya pemberian padahal kau terus-terusan berdoa membuatmu putus asa.” Seorang hamba semestinya terus berdoa sebagai wujud kehinaan, kerendahan, dan kefakiran dirinya di hadapan Allah. Ketika membutuhkan sesuatu, sepatutnya ia terus berdoa memohon kepada Allah. Sikap itulah yang dituntut dari hamba dalam berdoa. Ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menjamin pengabulan doa. Jika kau telah berdoa serta tekun melakukannya,…

1-2 (29-40) Gambaran Manusia di Dunia | Indahnya Tasawuf (Al-Hikam)

31. اِهْتَدَى الرَّاحِلُوْنَ إِلَيْهِ بِأَنْوَارِ التَّوَجُّهِ وَ الْوَاصِلُوْنَ لَهُمْ أَنْوَارُ الْمُوَاجَهَةِ فَالْأَوَّلُوْنَ لِلْأَنْوَارِ وَ هؤُلَاءِ الْأَنْوَارُ لَهُمْ لِأَنَّهُمْ للهِ لَا لِشَيْءٍ دُوْنَهُ قُلِ اللهُ ثُمَّ ذَرْهُمْ فِيْ خَوْضِهِمْ يَلْعَبُوْنَ (Orang-orang yang berangkat menuju kepada Allah, mendapat petunjuk dengan cahaya tawajjuh. Dan orang-orang yang telah wushul, bagi mereka cahaya muwajjahah. Yang pertama adalah bagi cahaya-cahaya itu, sedangkan mereka yang telah wushul cahaya-cahaya itu bagi mereka. Karena mereka itu hanya untuk Allah…

1-2 (24-28) Gambaran Manusia di Dunia | Indahnya Tasawuf (Al-Hikam)

2. Gambaran Manusia di Dunia 24. لَا تَسْتَغْرِبْ وُقُوْعَ الْأَكْدَارِ مَا دُمْتَ فِي هذِهِ الدَّارِ فَإِنَّهَا مَا أَبْرَزَتْ إِلَّا مَا هُوَ مُسْتَحِقُّ وَصْفِهَا وَ وَاجِبُ نَعْتِهَا (Jangan kamu merasa asing dengan datangnya kekeruhan yang kamu alami selagi kamu hidup di dunia ini. Karena apa yang terlihat di depanmu hanyalah sesuatu yang pasti dari Allah dan tidak dapat berubah lagi, jelas sifatnya dan niscaya). Allah menjadikan dunia sebagai medan fitnah dan…

1-1 (17-23) Antara Raja’ dan ‘Amal | Indahnya Tasawuf (Al-Hikam)

17. مَا تَرَكَ مِنَ الْجَهْلِ شَيْئًا مَنْ أَرَادَ أَنْ يُحْدِثَ فِي الْوَقْتِ غَيْرَ مَا أَظْهَرَهُ اللهُ فِيْهِ (Orang yang menghendaki terjadinya sesuatu pada suatu waktu tertentu. Di luar yang diperlihatkan Allah, dia sama sekali tidak menyisakan kebodohannya sedikitpun). Artinya, bodoh sekali orang yang menginginkan perubahan keadaan yang sudah ditentukan Allah. Apalagi yang dikehendaki berubah itu sudah terjadi. Makhluk hamba Allah harus menerima apa yang dialami dengan rela. Tidak rela berarti…

1-1 (11-16) Antara Raja’ dan ‘Amal | Indahnya Tasawuf (Al-Hikam)

11. اِدْفِنْ وُجُوْدَكَ فِيْ أَرْضِ الْخُمُوْلِ فَمَا نَبَتَ مِمَّا لَمْ يُدْفَنْ لَا يَتِمَّ نَتَائِجُهُ (Karena itu, kebumikan keberadaanmu dalam kontemplasi/kegemburan tanah. Apa yang tumbuh dari benih yang tidak ditanam, tidak akan sempurna hasilnya). Kejumudan artinya tidak terkenal, beku, skeptis dan terabaikan. Dengan mengubur keberadaan berarti menjadikan diri tidak dikenal dan menjadikan diri sebagai tidak apa-apa dan bukan siapa-siapa. Orang yang tidak terkenal akan lewat saja dari perhatian khalayak. Sehingga dia…

1-1 (6-10) Antara Raja’ dan ‘Amal | Indahnya Tasawuf (Al-Hikam)

6. لَا يَكُنْ تَأَخُّرُ أَمَدِ الْعَطَاءِ مَعَ الْإِلْحَاحِ فِي الدُّعَاءِ مُوْجِبًا لِيَأْسِكَ فَهُوَ ضَمِنَ لَكَ الْإِجَابَةَ فِيْمَا يَخْتَارُهُ لَكَ لَا فِيْمَا تَخْتَارُ لِنَفْسِكَ وَ فِي الْوَقْتِ الَّذِيْ يُرِيْدُ لَا فِي الْوَقْتِ الَّذِيْ تُرِيْدُ (Jangan kiranya tertundanya waktu pengkabulan doa yang sungguh-sungguh, menyebabkan keputus-asaanmu. Allah menjamin terkabulnya doamu menurut apa yang Allah pilihkan buatmu, bukan menuru pilihanmu). Bersungguh-sungguh dalam berdoa menandakan bahwa orang yang mengajukan permohonan (doa) benar-benar mengharapkan ijābah. Ijābah…

1-1 (1-5) Antara Raja’ dan ‘Amal | Indahnya Tasawuf (Al-Hikam)

Bagian 1 Manusia dan ‘Amal Perbuatannya   1. Antara Rajā’ dan ‘Amal بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ 1. مِنْ عَلَامَاتِ الْاِعْتِمَادِ عَلَى الْعَمَلِ نُقْصَانُ الرَّجَاءِ عِنْدَ وُجُوْدِ الزَّلَلِ (Kurangnya rajā’ ketika ada kesalahan, menandakan pengandalan terhadap ‘amal) Ketika kita mengandalkan ‘amal ibadah kita, maka itu bertanda rajā’ (harapan) terhadap rahmat Allah berkurang. Harapan kita terhadap fadhal, karunia, rahmat, pengampunan, pahala dan ridha Allah menjadi berkurang, jika kita hanya mengandalkan ‘amal semata-mata.…
Lewat ke baris perkakas