Dzikir Berjama’ah dan Suara Keras – Tarekat dalam Timbangan Syariat (2/2)

Imām an-Nawawī dalam at-Tibyān berkata: “Ketahuilah bahwa membaca al-Qur’ān secara berjamā‘ah adalah sunnah dan itu ditetapkan dengan dalil-dalil yang jelas serta dilakukan ‘ulamā’ salaf maupun khalaf.” *Missing (73). Beliau juga mengatakan: “Riwayat yang dibawakan Ibnu Abī Dāwūd dari Dhaḥḥāk bin ‘Abd-ir-Raḥmān bin Arzab yang menginkari membaca al-Qur’ān bersama-sama di dalam masjid, lantaran menurut beliau tidak ada sahabat Rasūlullāh s.a.w. yang melakukannya, dan bahkan Imām Mālik yang mencela dan mengingkari kegiatan…

Dzikir Berjama’ah dan Suara Keras – Tarekat dalam Timbangan Syariat (1/2)

DZIKIR BERJAMĀ‘AH DAN SUARA KERAS   Pernah seorang Salafī Wahhābī berkata kepada kami, bahwa dzikir dengan suara keras haditsnya dha‘īf semua. Dan saat itu kami membicarakan tentang mujāhadah dzikir yang diadakan di pesantren tempat kami nyantri di Grobogan. Kami hanya berfikir, betapa beraninya dia dan tidak ilmiah dalam mencetuskan sebuah hukum. Berdzikir dengan berjamā‘ah atau dengan keras terdapat dasar haditsnya semua. Dan di sini kami ingin memaparkan hukum dzikir keras…

Tashawwuf Terkontaminasi Klenik – Tarekat dalam Timbangan Syariat

TASHAWWUF TERKONTAMINASI KLENIK   Di antara yang dituduhkan Prof. Dr. Hamka dalam bukunya adalah, bahwa tashawwuf yang tersebar di Indonesia adalah sesuai dengan jiwa bangsa Indonesia itu sendiri. Yakni Islam yang memuja kubur dan Islam memuja wali. Menurut beliau, tashawwuf Indonesia sangat kental dengan suasana setempat dan disesuaikan dengan kehendak politik di Jawa. Hal itu terbukti dengan panggilan sunan untuk penyiar-penyiar Islam di Jawa yang notabenenya dikenal sebagai guru-guru tashawwuf.…

Antara Shufi, Klenik, Ilham dan Mimpi – Tarekat dalam Timbangan Syariat

ANTARA SHŪFĪ, KLENIK, ILHĀM DAN MIMPI   Jika klenik yang dimaksudkan adalah khurafat dan tahayyul yang sama sekali jauh dari ajaran al-Qur’ān dan as-Sunnah, maka dipastikan shūfī yang hakiki tidak akan mempercayainya, dan bahkan haram. Shūfī pengamal tarekat adalah pengamal tashawwuf Islam yang lurus dan berusaha menjauhkan diri dari praktik bid‘ah dan kotor. Dan para shūfī pun sepakat, bahwa hasil ilham atau mimpi yang bertentangan dengan kedua sumber tersebut, maka…

Rabithah Dengan Foto Mursyid – Tarekat dalam Timbangan Syariat

RABITHAH DENGAN FOTO MURSYID   Prof. Dr. Hamka dalam bukunya Tashawwuf Perkembangan dan Pemurniannya mengutip salah satu ‘ulamā’ Minangkabau, Syaikh Aḥmad bin ‘Abd-il-Lathīf al-Minankabawī, (61) penulis kitab an-Nafaḥātu syarḥ-ul-Waraqāti fī Ushūl-Fiqh, yang mengkritik habis amaliah tarekat Naqsyābandiyyah yang menghadirkan guru dalam ingatan saat tawajjuh. Bahkan beliau mengklaim jika praktik seperti itu adalah sama dengan menyembah berhala. Kitab Syaikh Aḥmad Khathīb tersebut mendapat sanggahan dari Syaikh Sa‘ad Munka Payakumbuh yang kemudian…

Belajar Suluk dari al-Qur’an – Tarekat dalam Timbangan Syariat

BELAJAR SULŪK DARI AL-QUR’ĀN   Di antara syubhat atau kritik yang dialamatkan kepada pelaku tarekat atau sulūk adalah, mengapa mereka tidak mencukupkan diri dengan sulūk lewat al-Qur’ān dan as-Sunnah, dan justru harus dalam bimbingan mursyid yang hanya seorang manusia? Menurut kami, syubhat atau kritik tersebut menunjukkan jahilnya mereka memahami ma‘na sulūk dan tarbiyyah dalam dunia tarekat. Dan kritik seperti ini sebenarnya sudah terjawab dalam (Pembahasan) sebelumnya tentang kenapa kita membutuhkan…

‘Ulama Fiqh Dan Hadist Pun Bertarekat – Tarekat dalam Timbangan Syariat

‘ULAMĀ’ FIQH DAN HADITS PUN BERTAREKAT   Adakah ‘ulamā’ Islam, baik dari kalangan ahli hadits dan fiqh, yang bertarekat? Pentanyaan menggelitik yang sanggat menarik kita kaji untuk meneguhkan keyakinan akan kebenaran tareka shūfī. Diharapkan dengan ulasan ini, siapapun yang kontra dan mencela tarekat shūfī tidak lagi menghinakannya dengan sehina-hinanya. Pendiri tarekat adalah para ‘ulamā’ ‘āmilīn dan wali besar yang diakui muslimin di penjuru dunia, kecuali mereka yang merasa paling Qur’ānī…

Tuduhan Tarekat Shufi Bid’ah – Tarekat dalam Timbangan Syariat

TUDUHAN TAREKAT SHŪFĪ BID‘AH   Tuduhan bahwa tarekat (tharīqah) tidak pernah dilakukan oleh Rasūlullāh s.a.w. dan para sahabatnya dan sesat adalah klaim sepihak dan cenderung tidak ilmiah. Kami tak membantah jika tarekat seperti Qādiriyyah, Naqsyābandiyyah, Syādziliyyah dan lain-lain memang tidak ada di zaman Rasūlullāh. Tarekat hanyalah sebuah insititusi pendidikan tazkiyat-un-nafs atau madrasah yang bergerak di bidang suluk ruhani, terdiri dari guru pembimbing dan murid. Lalu apa dipermasalahkan? Bukankah yang demikian…

Haruskah Berguru dalam Suluk – Tarekat dalam Timbangan Syariat

HARUSKAH BERGURU DALAM SULŪK   Jika ada pertanyaan, manakah dalilnya dalam sulūk (merintis jalan ridha Allah) harus melalui guru pembimbing (mursyid)? Maka jawabannya adalah sama dengan pertanyaan: “Manakah dalil dalam belajar ilmu harus mempunyai pembimbing?” Apa yang membedakan? Seorang shūfī berkata: مَنْ تَعَلَّمَ بِغَيْرِ شَيْخٍ فَشَيْخُهُ شَيْطَانٌ. “Siapa yang belajar tanpa guru (mursyid), maka gurunya adalah syaithan.” ‘Ulamā’ tashawwuf menyepakati, bahwa seseorang yang layak menjabat sebagai guru pembimbang (mursyid) adalah…

Ilmu Ladunni dan Nabi Khidhir – Tarekat dalam Timbangan Syariat

ILMU LADUNNI DAN NABI KHIDHIR   Klaim Salafī Wahhābī bahwa ilmu ladunni hanya dimiliki oleh Nabi Khidhir adalah ucapan tanpa dalil, meski sebagian kalangan memastikan demikian. Bahkan, pernyataan tersebut secara pasti berseberangan dengan penjelasan ‘ulamā’-‘ulamā’ ahl-us-sunnah, bahwa ‘ilmu ladunnī (futūḥ atau ‘ilmu wahbī) bisa saja diperoleh seorang hamba yang shalih yang bersih jiwa dan hatinya. (30) Klaim tersebut juga bertentangan dengan ucapan tokoh pujian Salafī Wahhābī, Nu‘mān al-Alūsī, dalam muqaddimah…