Hati Senang

Kiranya, jelaslah bagi anda bahwa kebaikan dunia dan akhirat terdapat dalam kesabaran. Rasūlullāh s.a.w. bersabda:

مَا أُعْطِيَ أَحَدٌ مِنْ عَطَاءٍ خَيْرٍ وَ أَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ

Artinya:

Tidak seorang pun diberi pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada sabar.

‘Umar bin Khaththāb r.a. berkata: “Semua kebaikan orang-orang mukmin itu tersimpan dalam sabar yang hanya sesaat.

Betapa indahnya perkataan penyair berikut:

الصَّبْرُ مِفْتَاحُ مَا يُرْجَى

وَ كُلُّ خَيْرٍ بِهِ يَكُوْنُ

فَاصْبِرْ وَ إِنْ طَالَتِ اللَّيَالِيْ

فَرُبَّمَا أَمْكَنَ الْحَرُوْنَ

وَ رَبَّمَا نِيْلَ بِاصْطَبَارٍ

مَا قِيْلَ هَيْهَاتَ لَا يَكُوْنُ.

Sabar adalah kunci apa yang diharapkan

Dengan sabar segala kebaikan akan terjadi bersabarlah!

Sekalipun malam-malam terasa begitu panjang

Betapa kuda binal menjadi penurut

Dengan kesabaran banyak yang dapat diraih

Sekalipun sesuatu yang teramat jauh untuk bisa digapai.”

Penyair lain berkata:

صَبَرْتُ وَ كَانَ الصَّبْرُ مِنِّيْ سَجِيَّةً

وَ حَسْبَكَ أَنَّ اللهَ أَثْنَى عَلَى الصَّبْرِ

سَأْصْبِرُ حَتَّى يَحْكُمَ اللهِ بَيْنَنَا

فَإِمَّا إِلَى يُسْرٍ وَ إِمَّا عَلَى عُسْرٍ.

 “Aku bersabar hingga sabar itu menjadi watakku

Cukuplah bagimu pujian Allah bagi yang bersabar

Aku akan bersabar, hingga Allah memberi keputusan di antara kita

Menuju kemudahan atau menuju kesukaran.

Oleh sebab itu, berusahalah dengan sungguh-sungguh agar pekerti mulia dan terpuji ini anda memiliki, tentu anda akan menjadi orang yang beruntung. Semoga Allah memberikan petunjuk kepada kita.

Seandainya anda bertanya: “Apakah hakikat makna dari sabar dan apa pula hukumnya?”

Ketahuilah, bahwa lafal: “ash-Shabru” menurut bahasa berarti menahan. Sebagaimana firman Allah s.w.t:

وَ اصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَ الْعَشِيِّ يُرِيْدُوْنَ وَجْهَهُ وَ لَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ

Artinya:

Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka….” (al-Kahfi: 28).

Yakni, tahanlah diri anda bersama mereka.

Allah dengan sifat sabar-Nya, berarti Allah menahan (menangguhkan) siksa bagi orang-orang yang berbuat jahat. Allah tidak segera menyiksa mereka (di dunia).

Sedangkan makna sabar dalam hati adalah menahan gerak perjalanan hati, tidak berkeluh kesah. Berkeluh kesah menurut para ulama adalah kelabilan hati dalam menghadapi kesulitan dan penderitaan. Ada juga yang berpendapat, keluh kesah itu ekspresi keinginan segera keluar dari penderitaan dan kesusahan, secara pasti.

Benteng sabar adalah ingat akan kadar kesukaran dan waktunya. Karena kesukaran itu tidak dapat bertambah dan tidak pula berkurang, tidak bisa maju dan tidak pula mundur. Berkeluh-kesah itu tidak ada gunanya, bahkan mengandung bahaya dan kecemasan yang mencekam.

Sementara benteng dari benteng sabar ini, ialah ingat akan balasan Allah atas kesabaran dan kemuliaan pahala yang disimpan di sisi Allah bagi orang yang bersabar. Demikianlah, semoga Allah memberikan petunjuk kepada kita.

(Pasal): Anda harus menempuh tahapan yang berat ini dengan menolak empat awaridh (godaan) yang telah aku uraikan di atas, sekaligus menghilangkan penyakitnya. Jika tidak, anda tidak akan dapat beribadah dengan yang sebenarnya, apalagi sampai pada tujuannya. Karena satu saja dari empat godaan itu, sudah cukup membimbingkan hati, maka harus ditangkis.

Selanjutnya, di antara empat godaan itu, yang paling sulit diatasi adalah urusan rezeki dan mengaturnya. Urusan rezeki merupakan suatu cobaan besar bagi kebanyakan manusia. Cobaan yang melelahkan, menyibukkan hati, memperbanyak kesusahan dan menyia-nyiakan usia mereka. Cobaan yang banyak menimbulkan kejahatan dan dosa, yang memalingkan mereka dari pintu rahmat Allah, dari berkhidmat pada-Nya, dan yang merubah haluan mereka menjadi berkhidmat kepada dunia dan melayani makhluk.

Akhirnya, mereka hidup di dunia dalam keadaan lupa dan gelap hati, payah dan kesulitan, hina dan nista. Dan mereka pun datang ke akhirat dalam keadaan fakir, menghadapi siksa dan hisab yang teramat berat, jika tidak memperoleh belas kasih Allah, berkat anugerah keutamaan-Nya.

Renungkan, berapa banyak ayat yang diturunkan Allah berkaitan dengan masalah rezeki? Berapa kali Allah menyebutkan janji-janjiNya, penanggungan-Nya dan sumpah-Nya berkaitan dengan masalah rezeki tersebut?

Tidak henti-hentinya, para nabi dan ulama memberikan nasihat kepada manusia, menerangkan kepada mereka mengenai jalan menuju keridhaan Allah, mengarang kitab-kitab untuk mereka, mengemukakah contoh-contoh kepada mereka dan menakut-nakuti mereka dengan siksa Allah ta‘ala. Meskipun demikian, mereka tidak mau mengambil petunjuk, tidak mau bertakwa dan tidak pula bisa tenang hatinya. Bahkan mereka menempatkan diri dalam kesulitan pencarian rezeki, selalu merasa takut tidak dapat makan, baik di pagi maupun sore hari.

Semua itu berpangkal dari minimnya perenungan terhadap ayat-ayat Allah, tidak mau mengingat sabda Rasūlullāh s.a.w. Dan mengabaikan penghayatan terhadap petuah ulama saleh. Sementara itu, mereka senantiasa menyerah terhadap godaan setan, mengikuti perkataan orang-orang bodoh dan terpedaya oleh kebiasaan orang yang lalai kepada Allah, sehingga setan dapat dengan mudah menguasai mereka. kebiasaan semacam itu, akhirnya mengakar di hati mereka, sehingga menyebabkan hati mereka menjadi lemah dan keyakinannya menjadi rapuh.

Adapun informasi mengenai orang-orang yang arif dan bijaksana, bersungguh-sungguh dalam berijtihad dan beribadah, merekalah orang-orang yang memiliki ketajaman mata hati untuk dapat melihat jalan dari langit bukan terpancang dengan sebab-sebab yang terjadi di bumi. Mereka berpegang pada tali Allah dan tidak memedulikan kejadian-kejadian di muka bumi. Mereka menganggap sepi hubungan dengan orang lain, karena telah yakin dalam hatinya akan ayat-ayat Allah. Sehingga, mereka tidak goyah dengan adanya godaan setan, rintangan orang lain, dan bujukan nafsu.

Ketika terjadi suatu godaan baik dari setan, nafsu atau dari manusia, mereka menangkis dengan melakukan perdebatan dengannya, sehingga penggoda itu berpaling mengabaikan mereka, setan pun menyingkir darinya, dan nafsu menjadi tunduk. Sehingga mereka tetap konsisten dan istiqamah berada di jalan yang lurus.

Perhatikanlah riwayat yang menuturkan bahwa Ibrāhīm bin Adham ketika hendak masuk ke sebuah hutan (ber‘uzlah melakukan perenungan dan beribadah mendekatkan diri kepada Allah), setan menakut-nakutinya dengan mengatakan: “Hutan ini adalah tempat mematikan, sedangkan anda tidak membawa bekal.” Tetapi Ibrāhīm bin Adham tetap bertekad memasukinya tanpa berbekal dan akan mengerjakan shalat seribu rakaat setiap kali menempuh jarak 1 mil. Beliau membuktikan tekadnya itu dengan baik, berhasil mengarungi hutan selama 12 tahun. Sehingga ketika Khalīfah Hārūn ar-Rasyīd menunaikan ibadah haji pada tahun-tahun tersebut, ia melihat Ibrāhīm ibn Adham sedang mengerjakan shalat, lalu ada dikatakan padanya: “Ini, adalah Ibrāhīm bin Adham, sedang melakukan shalat.”

Kemudian Hārūn ar-Rasyīd mendekatinya dan bertanya: “Bagaimana keadaan anda saat ini, wahai Abū Isḥāq?” Ibrāhīm bin Adham menjawab dengan melantunkan bait-bait syair:

نُرَقِّعُ دُنْيَانَا بِتَمْزِيْقِ دِيْنِنَا

فَلَا دِيْنُنَا يَبْقَى وَ لَا مَا نُرَقِّعُ

فَطُوْبَى لِعَبْدٍ أَثَرَ اللهَ رَبَّهُ

وَ جَادَ بِدُنْيَاهُ لِمَا يَتَوَقَّعُ

Aku sedang menambal duniaku sebab robeknya agamaku.

Kehidupan keagamaanku tak tetap akan baiknya dan apa yang kutambal pun tidak kunjung bagus

Sungguh beruntung! Hamba yang memilih ibadah kepada Tuhannya.

Yang mau mengorbankan kesenangan dunianya untuk menghadapi apa yang dikhawatirkan (kehidupan akhirat).

Konon ada sebagian orang saleh sedang berjalan di tengah-tengah padang pasir. Lalu datang setan mengganggunya dengan mengatakan: “Anda adalah orang yang tidak membawa bekal, sedangkan tempat ini akan dapat membinasakan anda, tidak ada rumah sama sekali dan tidak pula ada manusianya.”

Tetapi orang tersebut tetap bertekad memasukinya tanpa membawa bekal. Bahkan, ia mengambil jalan yang tidak biasa dilalui orang, dengan maksud, agar tidak meminta-minta kepada orang lain dan tidak makan apa pun. Ia menghindari jalan-jalan umum, supaya tidak meminta kepada manusia dan tidak makan sesuatu pun. Ia hanya meletakkan samin dan madu di mulutnya. Ia terus menyimpang dari jalan yang semestinya dan terus berjalan sekehendaknya. Dia berkata: “Aku akan terus berjalan.” Tiba-tiba ada kafilah tersesat jalan. Ketika aku melihat mereka, aku langsung tiarap menjatuhkan diri ke tanah, agar mereka tidak melihatku. Lalu Allah memperjalankan mereka, sampai berhenti di dekatku. Aku memejamkan mata. Mereka mendekatiku dan berkata satu sama lain: “Orang ini kehabisan bekal, ditinggal rombongannya dan pingsan, karena sangat lapar dan haus. Coba ambilkan samin dan madu, kita taruh ke dalam mulutnya, barangkali bisa sadar.” Mereka mengambil samin dan madu, tetapi aku menutup mulut dan gigiku. Lalu mereka mengambil pisau untuk membuka mulutku. Aku pun tertawa dan membuka mulutku. Menyaksikan hal itu, mereka bertanya kepadaku: “Gilakah anda!” Aku jawab: “Tidak, aku tidak gila.” Segala puji bagi Allah, kemudian aku ceritakan kepada mereka hal ihwal yang terjadi pada diriku, berkaitan dengan bisikan setan. Mereka merasa heran mendengar ceritaku.

Salah seorang guruku berkata: “Pada sebagian perjalananku di hari-hari ketika aku hendak memberikan pengajaran, aku pernah singgah di sebuah masjid yang jauh dari manusia. Waktu itu, aku tidak membawa bekal, sebagaimana kebiasaan para wali. Lalu setan menggodaku dengan mengatakan: “Masjid ini jauh dari manusia. Seandainya anda berjalan lagi menuju masjid yang banyak orangnya, tentu ahli masjid itu mengetahui kedudukan anda dan tentu kebutuhan anda akan dicukupi.” Maka aku berkata dalam hati: “Aku hanya akan menginap di sini. Aku bersumpah tidak akan makan kecuali ḥalwā (semacam madu yang manis). Dan aku tidak akan makan kecuali disuapi sesuap demi sesuap.”

Selanjutnya, aku shalat ‘Isyā’ dan pintu masjid aku kunci. Setelah permulaan malam telah lewat, tiba-tiba ada orang mengetuk-ngetuk pintu sambil membawa obor. Lama orang itu mengetuk pintu. Setelah pintu aku buka, aku melihat seorang nenek disertai seorang pemuda berdiri di depan pintu. Nenek itu meletakkan talam berisi jenang di depanku, sambil berkata: “Pemuda ini anakku dan aku membuat jenang ini untuknya.” Lalu terjadilah perbincangan antara kami. Ternyata pemuda yang bersamanya itu, telah bersumpah, tidak akan makan, kecuali bersama orang asing yang berada di masjid ini. Karena itu, sudilah anda makan jenang ini, lanjutnya. Lalu nenek itu menyuapkan sesuap ke mulutku dan sesuap ke mulut anaknya, secara bergantian. Demikian seterusnya sampai kami merasa kenyang. Setelah itu mereka berdua pulang. Dan aku tutup kembali pintu masjid dengan perasaan heran atas kejadian tersebut.

Semua itu merupakan contoh perjuangan orang-orang saleh melawan syaithan. Dari cerita-cerita tersebut, anda dapat mengambil tiga manfaat, yaitu:

1. Tidak ada sebuah kondisi apapun yang membuat terlepasnya rezeki bagi seseorang yang telah ditakdirkan untuk mendapatkannya.

2. Anda menjadi tahu bahwa urusan rezeki dan tawakkal itu sangat penting. Dan setan dalam masalah ini, senantiasa mengganggu, sampai para imam yang zuhud pun tidak akan terbebas dari gangguan-gangguan tersebut. Setan tidak berputus asa terhadap para imam, yang telah lama melakukan riyadhah dan banyak mujahadah pada waktu-waktu yang telah berlalu. Apa yang mereka lakukan itu sebagai sebuah cara untuk melakukan perlawanan dan penolakan terhadap godaan setan. Demi umurku! Sungguh, orang yang memerangi nafsu dan setan selama tujuh puluh tahun itu tidak lantas aman dari gangguan setan, sama halnya kalau setan mengganggu orang yang baru mulai ibadah, juga kepada orang yang lengah yang tidak pernah melakukan riyadhah sama sekali. Seandainya nafsu dan setan dapat mengalahkan orang yang macam itu, tentu keduanya memburuk-burukkan orang tersebut dan merusaknya seperti kerusakan orang-orang yang lalai dan terbujuk. Demikian itu, mengandung suri tauladan yang bermanfaat bagi orang-orang yang memiliki ketajaman penglihatan mata hati.

3. Anda pun menjadi tahu bahwa perkara ibadah itu tidak akan sempurna, kecuali dengan usaha dan perjuangan yang sungguh-sungguh secara terus-menerus. Sebab, para imam itu juga terdiri dari daging, darah, badan dan ruh seperti halnya anda. Tetapi, mereka lebih kurus badannya, lebih lemah anggota badannya dan lebih halus tulangnya, daripada anda. Tetapi mereka memiliki kekuatan ilmu, nur, keyakinan dan cita-cita luhur dan masalah agama, hingga mereka mampu menjalani perjuangan yang sangat berat dan memenuhi hak-hak maqam itu. Karena itu, perhatikan dan obati diri anda dari penyakit yang sukar disembuhkan ini, agar anda mendapatkan keberuntungan, in syā’ Allāh.

Bagikan:

4. Berbagai Kesengsaraan dan Musibah.

‘Awāridh (godaan) keempat, yaitu berbagai bencana dan musibah. Untuk menghadapinya, cukuplah hanya dengan bersabar. Keharusan bagi anda untuk bersabar dalam menghadapinya, disebabkan dua hal, yaitu:

Pertama: Agar dapat mengerjakan ibadah dan sampai kepada tujuan ibadah. Sebab, tegaknya urusan ibadah, semuanya karena kesabaran dan kesanggupan menanggung kesulitan dan kepayahan (ke-masyakat-an).

Orang yang tidak memiliki kesabaran, sedikit pun tidak akan bisa sampai pada hakikat ibadah. Hal itu, disebabkan bahwa orang yang bermaksud dengan sungguh-sungguh hendak beribadah, tentu akan menghadapi berbagai kesulitan dan musibah, dari berbagai segi, yaitu:

1. Tidaklah ada suatu ibadah, melainkan tentu di dalamnya mengandung kemasyakatan. Oleh sebab itu, agama memerintahkan supaya beribadah dengan penuh kesabaran dan menjanjikan pahala bagi yang sabar dalam beribadah. Karena, seseorang tidak akan dapat mengerjakannya tanpa terlebih dahulu mengalahkan hawa nafsu. Sebab, nafsu itu selalu berusaha menghalanginya untuk melakukan kebaikan. Maka, melawan kesenangan nafsu dan menundukkannya merupakan perjuangan yang sangat sulit dan berat bagi manusia.

2. Ketika seseorang mengerjakan kebaikan tentu, mengalami kemasyakatan. Oleh sebab itu, harus berhati-hati agar amal kebaikannya tidak rusak. Dan menjaga kesucian amal, jauh lebih berat daripada mengerjakan amal itu sendiri.

3. Dunia ini, merupakan negeri tempat ujian. Setiap orang pasti mengalami berbagai ujian, kesulitan dan musibah. Bentuknya, bermacam-macam, mengenai keluarga, famili, saudara ataupun teman-temannya, baik yang berupa kematian, kehilangan, ataupun perpisahan. Adakalanya yang menimpa diri sendiri, seperti terkena berbagai penyakit. Ada pula yang menyangkut kehormatan, misalnya dimusuhi oleh orang banyak, mau dijatuhkan, dihina dan difitnah banyak orang. Ada pula yang menimpa harta benda, seperti kehilangan. Masing-masing cobaan tersebut menimbulkan rasa sakit, yang satu berbeda dengan yang lainnya. Dan dalam menghadapi semuanya, seseorang dituntut untuk bersabar. Sebab jika tidak, kesedihan yang terus bergelayut di hati dan keluh kesah itu menjadi penghalang baginya untuk beribadah kepada Allah.

4. Orang yang mencari akhirat itu lebih keras cobaannya dan lebih banyak mendapatkan ujian. Barang siapa lebih dekat kepada Allah, tentu lebih banyak terkena musibah dan lebih keras cobaannya.

Bukankah anda telah mendengar sabda Rasūlullāh s.a.w.:

أَشَدُّ النَّاسِ بَلاَءً الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الْعُلَمَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَالُ

Artinya:

Manusia yang paling keras cobaannya, ialah para nabi, lalu para ulama, kemudian yang sepertinya dan seterusnya, (sesuai dengan kadar kesungguhan memegang komitmen untuk tetap berada di jalan yang lurus menuju akhirat).

Jadi, seseorang yang berjalan menuju kebaikan dan memusatkan perhatiannya untuk akhirat, tentu menghadapi berbagai ujian. Jika tidak sabar menghadapi, ia akan putus di jalan, hatinya menjadi bimbang dan tidak sempat lagi beribadah.

Allah telah memberitahu kita, agar berhati-hati dan tetap ber-taqwā dalam menghadapi ujian, musibah dan cobaan. Sebagaimana dinyatakan dalam firman-Nya:

لَتُبْلَوُنَّ فِيْ أَمْوَالِكُمْ وَ أَنْفُسِكُمْ وَ لَتَسْمَعُنَّ مِنَ الَّذِيْنَ أُوْتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَ مِنَ الَّذِيْنَ أَشْرَكُوْا أَذًى كَثِيْرًا

Artinya:

Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati.” (Āli ‘Imrān: 186)

Dan firman-Nya pula:

وَ إِنْ تَصْبِرُوْا وَ تَتَّقُوْا فَإِنَّ ذلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُوْرِ

Artinya:

Jika kamu syukur dan ber-taqwā, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan.” (Āli ‘Imrān: 186).

Seolah-olah Allah menyatakan: “Teguhkanlah diri anda, bahwa anda mesti akan menerima berbagai cobaan. Jika anda bersabar, maka anda adalah laki-laki sejati (pahlawan), dan keinginan anda merupakan keinginan seorang pahlawan.”

Dengan demikian, barang siapa yang hendak beribadah kepada Allah, maka pertama-tama harus berketetapan hati untuk bersabar dalam jangka waktu yang panjang dan terus menetapkan kesabaran dalam dirinya untuk menghadapi cobaan yang teramat berat yang datang silih berganti hingga akhir hayatnya. Jika tidak, berarti ia bermaksud menghadapi suatu perkara tanpa memiliki alatnya dan mendatanginya tanpa melalui prosedur jalan yang benar.

Al-Fudhail – raḥimahullāh – berkata: “Barang siapa bermaksud menempuh jalan akhirat, maka hendaklah ia menjadikan pada dirinya empat macam warna kematian, yaitu:

  1. Kematian putih.
  2. Kematian merah.
  3. Kematian hitam.
  4. Kematian hijau.

Kematian putih yaitu lapar; kematian merah yaitu tidak mau mengikuti ajakan syaithan; kematian hitam yaitu celaan masyarakat; dan kematian hijau yaitu kejadian-kejadian menyakitkan yang datang silih berganti.

 

Kedua. Keharusan bersabar dalam menghadapi ujian dan cobaan itu, karena di dalam kesabaran terdapat kebaikan dunia dan akhirat, di antaranya adalah:

 

1. Keselamatan dan keberuntungan.

Allah s.w.t. berfirman:

وَ مَنْ يَتَّقِ اللهَ يَجْعَلْ لَّهُ مَخْرَجًا، وَ يَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ.

Artinya:

Barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar; dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (ath-Thalāq: 2-3).

Maksudnya, barang siapa bertakwa kepada Allah dengan penuh kesabaran, niscaya Allah mencarikan jalan keluar bagi segala kesulitan yang dihadapinya.

 

2. Memperoleh kemenangan atas musuh-musuhnya.

Allah s.w.t. berfirman:

فَاصْبِرْ إِنَّ الْعَاقِبَةَ لِلْمُتَّقِيْنَ

Artinya:

Maka bersabarlah, sesungguhnya kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (Hūd: 49).

 

3. Berhasil mencapai apa yang diinginkan (cita-cita).

Allah s.w.t. berfirman:

وَ تَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ الْحُسْنى عَلى بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ بِمَا صَبَرُوْا

Artinya:

Dan telah sempurnalah perkataan Tuhanmu yang baik (sebagai janji) untuk Bani Israil disebabkan kesabaran mereka.” (al-A‘rāf: 137).

Dikatakan oleh sebagian ulama, bahwa Nabi Yūsuf mengirim surat balasan kepada Nabi Ya‘qūb a.s. sebagai berikut: “Nenek moyang anda benar-benar bersabar, sehingga mereka memperoleh keberhasilan. Karena itu, bersabarlah sebagaimana mereka bersabar, niscaya apa yang menjadi maksud anda akan berhasil, sebagaimana keberhasilan mereka.”

Senada dengan hal tersebut, terdapat syair:

لاَ تَيْأَسَنَّ وَ إِنْ طَالَتْ مَطَالِبَةُ

إِذَا اسْتَعَنْتَ بِصَبْرٍ أَنْ تَرَى فَرَجًا

أَخْلِقْ بِذِي الصَّبْرِ أَنْ يَحْطَى بِحَاجَتِهِ

وَ مُدْمِنُ الْقَرْعِ لِلأَبْوَابِ أَنْ يَلِجَا

 “Janganlah kamu berputus asa meskipun lama mencari

Jika kamu minta pertolongan dengan kesabaran tentu kamu akan melihat kelapangan

Berpekertilah dengan sabar tentu hajat menjadi tercapai

Orang yang tak bosan mengetuk pintu tentu akan dibukakan baginya.”

 

4. Menjadi pemuka dan pemimpin masyarakat.

Allah s.w.t. berfirman:

وَ جَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُوْنَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوْا

Artinya:

Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar.” (as-Sajdah: 24).

 

5. Mendapat pujian dari Allah.

Allah s.w.t. berfirman:

إِنَّا وَجَدْنَاهُ صَابِرًا نِعْمَ الْعَبْدُ إِنَّهُ أَوَّابٌ

Artinya:

Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya).” (Shād: 44).

 

6. Memperoleh berita gembira dan rahmat dari Allah.

Allah s.w.t. berfirman:

وَ بَشِّرِ الصَّابِرِيْنَ، الَّذِيْنَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيْبَةٌ قَالُوْا إِنَّا للهِ وَ إِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ، أُولئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّنْ رَّبِّهِمْ وَ رَحْمَةٌز.

Artinya:

Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rajai‘uun.” Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (al-Baqarah: 155-157).

 

7. Dicintai Allah.

Allah s.w.t. berfirman:

وَ اللهُ يُحِبُّ الصَّابِرِيْنَ

Artinya:

Allah mencintai orang-orang yang sabar.” (Āli ‘Imrān: 146).

 

8. Mendapatkan derajat yang tinggi di dalam surga.

Allah s.w.t. berfirman:

أُولئِكَ يُجْزَوْنَ الْغُرْفَةَ بِمَا صَبَرُوْا

Artinya:

Mereka itulah orang-orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam surga) karena kesabaran mereka.” (al-Furqān: 75).

 

9. Mendapatkan kemuliaan yang besar.

Allah s.w.t. berfirman:

سَلَامٌ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ

Artinya:

Keselamatan atasmu berkat kesabaranmu.” (ar-Ra‘d: 24).

 

10. Mendapatkan pahala tanpa batas, di luar dugaan dan hitungan manusia.

Allah s.w.t. berfirman:

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُوْنَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

Artinya:

Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (az-Zumar: 10).

Maha Suci Allah, Dialah Tuhan Yang Maha Agung lagi Maha Pemurah. Semua kemuliaan di dunia dan akhirat, diberikan Allah kepada hamba-Nya karena sabar sesaat.

Bagikan:

3. Qadhā’ dan Manifestasinya.

‘Awāridh (godaan) ketiga adalah qadha’ dan macam-macam realisasinya. Dalam hal ini, cukuplah kiranya bagi anda untuk bersikap ridhā’ terhadap qadhā’ Allah. Yang demikian itu, karena dua hal, yaitu:

Pertama: Agar dapat memusatkan segala perhatian untuk ibadah. Sebab, jika anda tidak ridhā’ terhadap qadhā’ Allah, hati anda selalu diliputi kegelisahan, sehingga anda senantiasa berkeluh-kesah, mengapa begini dan kenapa bisa jadi begini? Apabila hati anda selalu disibukkan oleh keresahan, maka bagaimana anda bisa berkonsentrasi untuk beribadah. Karena hati anda hanya satu dan sudah anda penuhi dengan kegelisahan, begini dan begitu mengenai persoalan keduniaan. Tidak tersisa lagi ruang di hati anda untuk berzikir dan beribadah kepada Allah, dan memikirkan akhirat.

Benar apa yang dikatakan Syaikh Syaqīq al-Balkhī: “Kegelisahan menyesali masalah-masalah yang telah berlalu dan memikirkan perkara yang akan datang, sungguh melenyapkan keberkahan waktu hidup anda yang sedang anda lewati.

Kedua: Dikhawatirkan anda mendapat murka Allah. Dalam suatu riwayat diceritakan, bahwasanya ada seorang nabi mengadu kepada Allah mengenai keresahan yang dialaminya. Lalu Allah menjawab pengaduan itu dengan firman-Nya: “Mengapa anda mengadu kepada-Ku? Aku bukan Tuhan yang pantas untuk dicela. Memang begitulah realitas keadaan anda, sebagaimana yang ada dalam ilmu ghaib (Lauḥ-ul-Maḥfūzh). Mengapa anda tidak suka terhadap qadhā’-Ku? Apakah anda berkeinginan agar Aku merubah dunia karena anda? Atau anda berkeinginan agar Aku mengganti Lauḥ-ul-Maḥfūzh, sebab anda? Lalu Aku memutuskan apa saja menurut apa yang anda kehendaki, bukan menurut apa yang Aku kehendaki? Supaya apa yang anda sukai bisa terwujud, bukan menurut apa yang Aku sukai? Aku bersumpah, demi keagungan-Ku, bahwa apa yang anda adukan kepada-Ku itu, kalau tergerak di hati anda sekali lagi, sungguh Aku akan lepas baju kenabian dari anda, lalu Aku akan ceburkan anda ke dalam neraka, dan Aku tidak mempedulikan anda.”

Orang yang berakal sehat, tentu benar-benar mendengarkan dan memperhatikan didikan dari Tuhan yang sangat penting ini dan ancaman Allah yang sangat mengerikan ini terhadap para nabi-Nya dan hamba-hambaNya yang istimewa itu. Terhadap mereka para kekasihnya saja begitu, lalu bagaimana kira-kira tindakan Allah terhadap selain nabi?

Kemudian, coba perhatikan firman Allah tersebut di atas: “Seandainya apa yang anda adukan kepada-Ku itu tergerak sekali lagi di dalam hati anda.” Ancaman ini ditujukan kepada gerak-gerik hati, lalu bagaimana kalau orang yang menghadapi qadhā’ itu berkeluh-kesah, berteriak-teriak, memaki-maki dan mengadu kepada Tuhannya di depan orang banyak serta mengajak teman-temannya untuk membantu pengaduannya.

Ancaman tersebut ditujukan kepada orang yang tidak suka terhadap qadhā’ Allah yang hanya dilakukan sekali saja, lalu bagimanakah ancaman Allah terhadap orang yang selama hidupnya selalu membenci qadhā’? Ancaman ini untuk orang yang mengadu kepada Allah, lalu bagaimana murka Allah kepada orang yang mengadu kepada selain Allah?

Kita berlindung kepada Allah dari kejahatan nafsu kita, dari keburukan amal kita. Dan kita memohon kepada Allah, semoga berkenan mengampuni dosa-dosa kita, memaafkan keburukan tata krama kita serta berkenan membaguskan keadaan kita, dengan pengawasan Allah. Sungguh, Allah adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara para penyayang.

Jika ditanyakan: “Apakah arti ridhā’ terhadap qadhā’ itu, dan hakikatnya serta hukumnya?”

Ketahuilah, para ulama kita telah berkata: “Ridhā’ itu meninggalkan kebencian.” Sedangkan yang dimaksud kebencian hati, yaitu menyebut-nyebut selain apa yang menjadi qadhā’ Allah dan dianggapnya lebih baik bagi orang itu ketimbang qadhā’ Allah yang lebih patut baginya. Padahal apa yang dianggapnya lebih baik itu, tidak ia yakini akan kerusakan dan kebaikannya. Meninggalkan rasa benci ini menjadi syarat dalam ridhā’ terhadap qadhā’ Allah. Pahamilah hal ini.

Jika anda bertanya: “Apakah keburukan dan maksiat itu bukan merupakan qadhā’ dan qadar Allah? Bagaimana seseorang harus ridhā’ kepada keburukan itu?”

Ketahuilah, kewajiban ridhā’, hanya pada qadhā’ Allah. Qadhā’ jelek bukanlah tidak baik. Yang buruk itu hanyalah perkara yang di-qadhā’. Jadi, ridha kepada qadhā’ itu bukan berarti ridhā’ kepada kejelekan.

Para guruku telah berkata: “Qadhā’ itu meliputi empat hal, yaitu: Nikmat (senang), sengsara (susah), baik dan buruk.

Mengenai nikmat, orang Islam wajib ridhā’ kepada qadhā’, baik kepada Tuhan yang menetapkan maupun pada nikmat yang telah ditetapkan itu. Seorang hamba wajib bersyukur, karena nikmat itu adalah nikmat dari Allah dan wajib memperlihatkan nikmat itu (dalam kerangka untuk bersyukur bukan untuk pamer) dengan menampakkan bekas nikmat (pada kebaikan sesuai dengan kehendak yang menetapkan atau yang memberi).

Sedangkan mengenai qadhā’ kesengsaraan atau kesulitan hidup, orang Islam wajib ridha’ kepada Tuhan yang meng-qadhā’, juga pada qadhā’ dan apa yang tetapkan itu. Orang Islam wajib bersabar, kesengsaraan hidup yang menimpanya.

Adapun mengenai qadhā’ kepada Dzat yang memberi qadhā’, kepada qadhā’ dan juga yang di-qadhā’. Ia harus menyebutnya sebagai anugerah dan berbaik sangka, bahwa itu adalah yang terbaik bagi dirinya.

Sementara pada qadhā’ yang buruk, seorang hamba juga harus ridhā’ kepada Dzat yang meng-qadhā’, juga pada qadha’ dan yang di-qadha’ dalam sudut pandang sebagai sebuah ketetapan bukan dari sisi keburukannya.

Karena, pada hakikatnya apa yang ditetapkan (di-qadhā’) itu kembali pada qadhā’ dan Dzat yang memberikan qadhā’. Ini, sama halnya ketika anda rela pada madzhab ulama yang berbeda dengan pendapat anda. Anda memandang pendapat itu sebagai sesuatu yang maklum, namun bukan merupakan pendapat anda, karena pendapat anda berbeda dengannya. Tetapi anda ridhā’, karena sesuatu yang maklum itu anda pandang sebagai suatu ilmu. Jadi ridhā’ dan cinta anda itu, sebenarnya adalah ridhā’ kepada pengetahuan madzhab orang yang berbeda pendapat, bukannya ridhā’ kepada madzhab yang berbeda dengan pendapat anda.

Jika ada yang bertanya: “Bolehkah orang yang ridhā’ kepada qadhā’ itu meminta tambahan kepada Allah?”

Jawabnya adalah boleh! Tetapi dengan syarat yang baik dan maslahah, tanpa disertai sebuah ketetapan secara pasti. Jadi, mohon tambahan itu bukan berarti mengeluarkan anda dari koridor ridhā’ bahkan bisa menunjukkan kepada ridhā’ terhadap qadhā’. Dan hal itu lebih utama, karena orang yang mengagumi dan rela terhadap sesuatu, tentu meminta tambahannya. Adalah Rasūlullāh s.a.w., ketika dihadirkan susu kepadanya, beliau mengucapkan:

اللهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْهِ وَ زِدْنَا مِنْهُ

Artinya:

Ya Allah, anugerahkanlah keberkahan kepada kami dalam susu ini dan semoga Engkau berkenan menambahinya.

Dan pada kesempatan lain, Nabi s.a.w. berdoa:

وَ زِدْنَا خَيْرًا مِنْهُ

Artinya:

Semoga Engkau berkenan memberikan tambahan yang lebih baik daripada anugerah ini.

Kedua doa tersebut, bukan berarti menunjukkan bahwa Rasūlullāh s.a.w. tidak ridha’ kepada apa yang ditentukan Allah kepadanya.

Jika anda berkata: “Tetapi tidak ada riwayat dari Rasūlullāh s.a.w. bahwa beliau menyebut istitsnā’, serta syarat yang maslahah dan baik.”

Ketahuilah, bahwa perkara-perkara ini, hanya terjadi di dalam hati. Sementara pengucapan di lisan, hanyalah sebagai sebuah ungkapan apa yang ada di dalam hati, sekalipun beliau tidak mengungkapkan melalui sabdanya, tetapi hal itu telah ada di dalam hati. Pahamilah benar-benar hal itu.

Bagikan:

BAGIAN 3

Berjuang dari ‘Aib Menuju Yang Ghaib

 

HIKMAH KE-17

 

17. مَا تَرَكَ مِنَ الْجَهْلِ شَيْئًا مَنْ أَرَادَ أَنْ يُحْدِثَ فِي الْوَقْتِ غَيْرَ مَا أَظْهَرَهُ اللهُ فِيْهِ.

He has not abandoned any part of ignorance who wants to bring forth [something] in any time other than which Allah has made manifest [at that time].

Sangatlah dungu orang yang menginginkan terjadinya sesuatu yang tidak dikehendaki Allah pada suatu waktu.

 

Explanation by Syekh Fadhlalla Haeri:

The enlightened being simply accepts and confirms things as they are, and acknowledges them as they appear and manifest, with knowledge and contentment. It is the veils of ignorance, fantasy and illusion that make a person perceive other than reality as mirrored in his destiny. That is why it is said that the truth is only reflected through a pure heart in submission to Allah’s Decrees.

 

Ulasan oleh Syaikh Fadhlallāh Haeri:

Orang yang dapat penerangan cahaya Allah akan semata-mata menerima dan memahami sesuatu sebagaimana adanya, dan menyadari sesuatu sebagaimana penampakan dan manifetasinya dengan kesadaran dan keridhaan. Fantasi dan ilusi adalah selubung-selubung kejahilan, yang membuat seorang merasakan yang lain dari realitas yang tercermin dalam takdirnya. Itulah mengapa dikatakan bahwa kebenaran hanya dapat dipantulkan melalui hati yang suci dalam keberserahan diri pada keputusan Allah.

Bagikan:

HIKMAH KE-16

 

16. كَيْفَ يَتَصَوَّرُ أَنْ يَحْجُبَهُ شَيْئٌ وَ هُوَ الَّذِيْ أَظْهَرَ كُلَّ شَيْءٍ.

. كَيْفَ يَتَصَوَّرُ أَنْ يَحْجُبَهُ شَيْئٌ وَ هُوَ الَّذِيْ ظَهَرَ بِكُلِّ شَيْءٍ.

. كَيْفَ يَتَصَوَّرُ أَنْ يَحْجُبَهُ شَيْئٌ وَ هُوَ الَّذِيْ ظَهَرَ فِيْ كُلِّ شَيْءٍ.

. كَيْفَ يَتَصَوَّرُ أَنْ يَحْجُبَهُ شَيْئٌ وَ هُوَ الَّذِيْ ظَهَرَ لِكُلّ شَيْءٍ.

. كَيْفَ يَتَصَوَّرُ أَنْ يَحْجُبَهُ شَيْئٌ وَ هُوَ الَّذِيْ الظَّاهِرَ قَبْلَ وَجُوْدِ كُلِّ شَيْءٍ.

. كَيْفَ يَتَصَوَّرُ أَنْ يَحْجُبَهُ شَيْئٌ وَ هُوَ الَّذِيْ أَظْهَرَ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ.

. كَيْفَ يَتَصَوَّرُ أَنْ يَحْجُبَهُ شَيْئٌ وَ هُوَ وَاحِدُ الَّذِيْ لَيْسَ مَعَهُ شَيْءٌ.

. كَيْفَ يَتَصَوَّرُ أَنْ يَحْجُبَهُ شَيْئٌ وَ هُوَ أَقْرَبُ إِلَيْكَ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ.

. كَيْفَ يَتَصَوَّرُ أَنْ يَحْجُبَهُ شَيْئٌ وَ لَوْ لاَهُ مَا كَانَ وُجُوْدُ كُلِّ شَيْءٍ.

. يَا عَجَبًا كَيْفَ يَظْهَرُ الْوُجُوْدُ فِي الْعَدَمِ أَمْ كَيْفَ يَثْبُتُ الْحَادِثُ مَعَ مَنْ لَهُ وَصْفُ الْقِدَمِ.

How can it be imagined that something veils Him when it is He Who made everything manifest?

How can it be imagined that something veils Him when He is the One who manifests through everything?

How can it be imagined that something veils Him since He is the One who is manifest in everything?

How can it be imagined that something veils Him since it is He is the one Who is manifest to everything?

How can it be imagined that something veils Him since He was the Manifest before the existence of everything?

How can it be imagined that something veils Him since He is more evident than everything?

How can it be imagined that something veils him since He is the One alongside of Whom there is nothing?

How can it be imagined that something veils Him since He is the One who is closer to you than anything?

How can it be imagined that something veils Him since without Him, there would have been no existence for anything?

What a marvel it is that existence appears in non-existence, and how the contingent has been established alongside of Him who possesses the attribute of timelessness.

 

Bagaimana bisa dibayangkan kalau sesuatu dapat mengalingi-Nya, sementara Dialah Yang Menampakkan segala sesuatu?

Bagaimana bisa dibayangkan kalau sesuatu sanggup mengalinginya, bila Dia-lah Yang Tampak pada segala sesuatu?

Bagaimana bisa dibayangkan kalau sesuatu mampu mengalingi-Nya, sedangkan Dialah Yang Tampak dalam segala sesuatu?

Bagaimana bisa dibayangkan kalau sesuatu kuasa mengalingi-Nya, sementara Dialah Yang Tampak pada segala sesuatu?

Bagaimana bisa dibayangkan sesuatu dapat mengalingi-Nya, sementara Dialah Yang Ada sebelum segala sesuatu?

Bagaimana bisa membayangkan kalau sesuatu sanggup mengalingi-Nya, bila Dia lebih jelas ketimbang segala sesuatu?

Bagaimana bisa dibayangkan sesuatu mampu mengalingi-Nya, sedang Dia Esa, yang tiada disampingnya sesuatu apa pun?

Bagaimana bisa dibayangkan kalau sesuatu mampu mengalingi-Nya, padahal Dia lebih dekat padamu daripada segala sesuatu?

Bagaimana bisa dibayangkan segala sesuatu mampu mengalingi-Nya, sementara seandainya Dia tidak ada, niscaya tidak akan ada segala sesuatu?

Betapa ajaib, bagaimana keberadaan bisa tampak dalam ketiadaan? Atau, bagaimana sesuatu yang baru bisa bersanding dengan Yang Mahadahulu.

 

Explanation by Syekh Fadhlalla Haeri:

The truth has not come from some ‘thing’, nor is it in, or above, or below some ‘thing’. If it had come from something it would have been created and thus have been limited in its life-span.

If it were above something, it would be resting on something, and if it were in something it would have been contained, and if it were under something it would have been under its power.

Whatever appears in the world of witnessing is an effulgence (radiant splendor) from the Eternal Divine Essence and is perceived in accordance with the state and sensitivity of the perceiver. Thus no created entity has an independent lasting reality and so in truth it is nonexistent compared to its timeless Creator. When you compare the relative to the Absolute, the former vanishes and the latter remains as it has been forever.

 

Ulasan oleh Syaikh Fadhlallāh Haeri:

Al-Ḥaqq tidak datang dari sesuatu atau dalam sesuatu, atau di atasnya, atau di bawahnya. Jika Dia datang dari sesuatu berarti Dia diciptakan dan dibatasi jangka waktu hidup-Nya. Kalau Dia ada di atas sesuatu, maka Dia bersemayam di atasnya. Dan Jika Dia ada dalam sesuatu berarti Dia terkurung di dalamnya. Dan jika Dia di bawah sesuatu, berarti Dia ada di bawah kekuasaannya. Apapun yang tampak dalam “kesaksian” ini merupakan Dzāt Tuhan, yang kekal dan dapat dirasakan sesuai dengan keadaan dan kepekaan si penerima. Tiada makhluk yang mempunyai realitas yang kekal dan bebas. Tiada yang kekal selain Sang Pencipta. Kalau engkau membandingkan yang relatif dengan yang absolut, maka yang relatif akan hilang dan tinggallah yang absolut, selamanya.

Bagikan:

HIKMAH KE-15

 

15. مِمَّا يَدُلُّكَ عَلى وُجُوْدِ قَهْرِهِ سُبْحَانَهُ أَنْ حَجَبَكَ عَنْهُ بِمَا لَيْسَ بِمَوْجُوْدٍ مَعَهُ.

What points to the existence of His overwhelming power [Omnipotence], is by veiling you from Himself by that which cannot exist alongside Him [i.e. yourself].

Di antara bukti yang memperlihatkan kepadamu adanya kekuasaan Allah adalah bahwa Dia mengalingimu dari melihat-Nya dengan tabir yang tiada wujudnya di sisi-Nya.

 

Explanation by Syekh Fadhlalla Haeri:

Anything other than Allah is a passing illusion and a veil of flickering images. Everything in the universe emanates from Him, is sustained by Him and returns to Him. The sensory worlds are, however, a temporary mercy and the starting point from which to transcend. In truth there is none other than Him and everything else is a reflection or a creation which indicates His Unique Effulgence (radiant splendor). It is said that he who recognizes that creations have no independent power to act has won and whoever sees them as non-existent has arrived.

 

Ulasan oleh Syaikh Fadhlallāh Haeri:

Sesuatu selain Allah adalah ilusi yang berlalu, tabir, serta gambar yang kerlap-kerlip. Segala sesuatu di dunia ini berasal dari-Nya, dipelihara oleh-Nya, dan akan kembali pada-Nya. Bagaimanapun alam panca indera adalah rahmat yang bersifat temporer dan titik awal untuk mendaki menuju Allah. Sesungguhnya tak ada sesuatu pun selain-Nya. Dan, segala sesuatu selainnya adalah sebuah bayangan atau ciptaan, yang menunjukkan pancaran cahaya-Nya. Dikatakan, orang yang menyadari bahwa makhluk tak memiliki kekuatan yang berdiri sendiri untuk bertindak, maka ia telah menang, dan barang siapa yang memandang makhluk tak mempunyai kehidupan bebas, maka ia telah mencapai Allah, dan orang yang memandang bahwa makhluk itu tak ada, maka ia telah sampai kepada-Nya.

Bagikan:

HIKMAH KE-14

 

14. الْكَوْنُ كُلُّهُ ظُلْمَةٌ وَ إِنَّمَا أَنَارَهُ ظُهُوْرُ الْحَقِّ فِيْهِ فَمَنْ رَأَى الْكَوْنَ وَ لَمْ يَشْهَدْهُ فِيْهِ أَوْ عِنْدَهُ أَوْ قَبْلَهُ أَوْ بَعْدَهُ فَقَدْ أَعْوَزَهُ وُجُوْدُ الْأَنْوَارِ وَ حُجِبَتْ عَنْهُ شُمُوْسُ الْمَعَارِفِ بِسُحُبِ الْآثَارِ.

Cosmos [vast space] is all darkness which is illuminated only by the manifestations of the Truth in it. Thus whoever sees creation without witnessing Him in it, with it, before it or after it, is in need of light, and is veiled from the suns of gnosis by the clouds of worldly experiences

Alam ini serba gelap. Ia terang hanyalah karena tampaknya Allah di dalamnya. Siapa melihat alam namun tidak menyaksikan Tuhan di dalamnya, padanya, sebelumnya, atau sesudahnya, maka ia benar-benar memerlukan cahaya, dan “surya” ma‘rifat teralingi baginya oleh “awan” benda-benda ciptaan.

 

Explanation by Syekh Fadhlalla Haeri:

Although all the worlds have been created from His Light, yet all manifestations appear as light and shadow, good and bad, day and night. If the seeker does not see the One Pervading Light behind all these flickering images, he is engulfed by the confusion of the existential shadow-lay and the cloud of changing realities. Adamic creation has its meanings and purpose rooted in Original Light, which is the Ever-present Cause behind the apparent changes of worldly experiences.

 

Ulasan oleh Syaikh Fadhlallāh Haeri:

Meskipun seluruh alam ini diciptakan oleh nur Ilahi, tetapi semua perwujudannya tampil sebagai cahaya dan bayang-bayang, baik dan buruk, siang dan malam. Jika seorang salik tidak melihat Allah yang meliputi cahaya di balik semua gambaran yang kerlap-kerlip ini, berarti ia diliputi kebingungan terhadap bayang-bayang eksistensial dan awan-awan realitas yang berubah-ubah. Penciptaan manusia mempunyai makna dan tujuannya sendiri, yang berasal dari nur azali, yakni sebab yang selalu ada di balik perubahan pengalaman duniawi yang tampak.

Bagikan:

HIKMAH KE-13

 

13. كَيْفَ يَشْرُقُ قَلْبٌ صُوَرُ الْأَكْوَانِ مِنْطَبِعَةٌ فِيْ مِرْآتِهِ أَمْ كَيْفَ يَرْحَلُ إِلَى اللهِ وَ هُوَ مُكَبَّلٌ بِشَهَوَاتِهِ أَمْ كَيْفَ يَطْمَعُ أَنْ يَدْخُلَ حَضْرَةَ اللهِ وَ هُوَ لَمْ يَتَطَهَّرْ مِنْ جَنَابِةِ غَفَلَاتِهِ أَمْ كَيْفَ يَرْجُوْ أَنْ يَفْهَمَ دَقَائِقَ الْأَسْرَارِ وَ هُوَ لَمْ يَتُبْ مِنْ هَفَوَاتِهِ.

How can the heart be illuminated while the images of creations are imprinted on its mirror? Or how can it depart to Allah while shackled by its passions? Or how can it desire to enter the Presence of Allah while it has not yet purified itself of the impurity of its distractions? Or how can it expect to comprehend the subtle mysteries while it has not yet repented from its faults?

Bagaimana hati dapat bersinar sementara gambar dunia terlukis dalam cerminnya? Atau bagaimana hati bisa berangkat menuju Allah kalau ia masih terbelenggu oleh syahwatnya? Atau bagaimana hati akan antusias menghadap ke hadirat Allah bila ia belum suci dari “janābah” kelalaiannya? Atau, bagaimana hati mampu memahami kedalaman misteri ghaib padahal ia belum bertobat dari kesalahannya?

 

Explanation by Syekh Fadhlalla Haeri:

The heart is like a mirror which reflects what it faces and desires. This mirror moves towards attracting what is desirable and repulsing what is to be avoided. When a sincere heart faces the Divine Light, it reflects profound truth and when it faces the world of change and discord, it reflects the relevant disturbance and transient realities. The heart cannot be illuminated by spiritual insight if it is veiled and tarnished by attachments, passions and desires. It must be exclusively dedicated to its original purpose which is the path of absolute Tawhid. Allah is the only True Lord

 

Ulasan oleh Syaikh Fadhlallāh Haeri:

Hati laksana cermin. Ia memantulkan apa yang dihadapi dan diinginkannya. Cermin itu tertarik pada apa yang diinginkannya dan menolak apa yang dihindarinya. Bila hati yang ikhlas menghadap cahaya ilahi, maka ia memantulkan kebenaran yang mendalam, dan bila hati menghadap dunia yang penuh perubahan dan perselisihan, maka ia memantulkan godaan dan realitasnya yang fanā’. Hati tidak tercerahkan oleh penglihatan batin rohani jika ia tertutup dan ternodai oleh hasrat, nafsu dan keinginan. Hati harus dipersembahkan semata-mata untuk tujuan awal, yakni jalan tauhid yang absolut. Allah-lah Tuhan Yang Esa.

Bagikan:

HIKMAH KE-12

 

12. مَا نَفَعَ الْقَلْبَ شَيْئٌ مِثْلَ عُزْلَةٍ يَدْخُلُ بِهَا مِيْدَانُ فِكْرَةٍ.

Nothing benefits the heart more than a spiritual seclusion, whereby it enters the domain of true reflections.

Tiada yang berguna bagi qalbu sebagaimana ‘uzlah untuk memasuki medan perenungan.

 

Explanation by Syekh Fadhlalla Haeri:

For spiritual health we need to turn away from desires and struggles, confusions and shirk. The heart needs to experience its stillness and be replenished by contemplation and increased awareness of the One. We need to balance outer experience with inner space and light until such time as we see all manifestations and experiences emanate from the One Divine Essence.

 

Ulasan oleh Syaikh Fadhlallāh Haeri:

Demi kesehatan spritual, kita perlu berpaling dari hasrat dan ambisi, kebingungan dan syirik. Hati memerlukan pengalaman hening, kemudian diisi dengan perenungan dan peningkatan kesadaran kepada Allah. Kita perlu menyeimbangkan pengalaman lahir dengan keadaan dan cahaya batin, sehingga pada saatnya nanti kita melihat seluruh perwujudan dan pengalaman yang berasal dari Yang Maha Esa.

Bagikan:

Lewat ke baris perkakas