skip to Main Content

1-5 Bukti Padamnya Mata Hati – Al-Hikam – Ulasan Syaikh Ahmad Zarruq

5. اِجْتِهَادُكَ فِيْهَا ضُمِنَ لَكَ وَ تَقْصِيْرُكَ فِيْمَا طُلِبَ مِنْكَ دَلِيْلٌ عَلَى انْطِمَاسِ الْبَصِيْرَةِ مِنْكَ “Kesungguhanmu meraih apa yang telah dijaminkan untukmu dan kelalaianmu mengerjakan apa yang dituntut darimu merupakan bukti padamnya mata hati.”   Mata hatimu disebut padam karena kau menghadirkan sesuatu yang tidak sesuai dan meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya. Kau membalik sesuatu yang seharusnya tidak kau balik. Kau meninggalkan kewajiban yang seharusnya kau kerjakan tetapi kemudian sibuk…

  • 05/22/2018

1-4 Mengatur – Al-Hikam – Ulasan Syaikh Ahmad Zarruq

4. أَرِحْ نَفْسَكَ مِنَ التَّدْبِيْرِ “Istirahatkan dirimu dari ikut mengatur!” Hamba diperintahkan untuk berhenti dan beristirahat karena melakukan sesuatu yang bukan tugasnya hanya akan melahirkan lelah dan penat. Mengatur bukanlah tugas hamba. Maka, jika hamba ikut mengatur, ia pasti ditimpa penat, lelah, dan gelisah. Karena itulah ia hamba diperintah untuk beristirahat dari ikut mengatur. Kelelahan itu muncul karena ketika seseorang ikut pengatur, berarti ia tengah berupaya melawan serta menentang ketentuan…

  • 05/20/2018

1-3 Tekad (Himmah) – Al-Hikam – Ulasan Syaikh Ahmad Zarruq

3. سَوَابِقُ الْهِمَمِ لَا تَحْرِقُ أَسْرَارَ الْأَقْدَارِ. “Tekad (himmah) yang tinggi tidak bisa menembus benteng takdir.” Segala sesuatu di semesta ini berjalan sesuai dengan taqdir Allah, sebagaimana ditunjukkan oleh akal, syariat, dan nash-nash agama. Allah berfirman: “Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (41) Nabi s.a.w. bersabda: “Segala sesuatu terjadi dengan qadha’ dan qadar-Nya, termasuk yang lemah dan cekatan.” (52) Tekad (himmah) terbagi ke dalam tiga tingkatan. Pertama, tekad yang rendah,…

  • 05/18/2018

1-2 Tajrid Dan Asbab – Al-Hikam – Ulasan Syaikh Ahmad Zarruq

2. إِرَادَتُكَ التَّجْرِيْدُ مَعَ إِقَامَةِ اللهِ إِيَّاكَ فِي الْأَسْبَابِ مِنَ الشَّهْوَةِ الْخَفِيَّةِ وَ إِرَادَتُكَ الْأَسْبَابَ مَعَ إِقَامَةِ اللهِ إِيَّاكَ فِي التَّجْرِيْدِ انْحِطَاطٌ مِنَ الْهِمَّةِ الْعَلِيَّةِ “Hasratmu untuk menetapi tajrīd sedangkan Allah menempatkanmu pada kedudukan asbāb adalah syahwat yang samar. Sebaliknya, hasratmu terhadap asbāb padahal Allah telah menempatkanmu pada posisi tajrīd adalah wujud penurunan semangat dari tekad yang tinggi.” Masing-masing dari keduanya mengutamakan pilihannya. Kedudukan mereka bergangtung pada/kepada siapa dan kepada…

  • 05/15/2018

1-1 Bersandar – Al-Hikam – Ulasan Syaikh Ahmad Zarruq

BAB SATU Di antara ciri bersandar kepada amal adalah berkurangnya harapan ketika terjadi kesalahan Makrifat bagaikan matahari. Ia melenyapkan semua kegelapan dan melahirkan cahaya. Ia singkapkan berbagai hakikat dalam rupa yang luhur, mulia, dan berlimpah manfaat. Setiap orang bisa mengambil manfaat sesuai kapasitasnya.   Ibnu ‘Athā’illāh r.a. mengatakan:   1. مِنْ عَلَامَاتِ الْاِعْتِمَادِ عَلَى الْعَمَلِ نُقْصَانُ الرَّجَاءِ عِنْدَ وُجُوْدِ الزَّلَلِ “Di antara tanda bersandar kepada amal adalah berkurangnya rasa harap…

  • 05/13/2018

4-1-8 Tahapan Godaan – Rezeki & Tuntutan Nafsu | Minhaj-ul-Abidin

Seandainya ditanyakan: “Apakah orang yang tafwīdh (menyerahkan urusan kepada Allah) itu akan aman dari kerusakan, sementara dunia adalah negeri tempat cobaan?” Ketahuilah, bahwa seseorang tidaklah akan ber-tafwīdh, melainkan secara umum, tentu ia akan mendapatkan kemaslahatan. Namun bisa juga terjadi, mendapatkan yang tidak baik, tetapi sangat langka. Lantaran Allah hendak mengujinya, masihkah tetap konsisten dengan penyerahannya ataukah sebaliknya. Jika ternyata, melorot dari kedudukan tafwīdh. Maka tidak ada lagi kebaikan, tetapi justru…

  • 05/11/2018
Back To Top