skip to Main Content
Post Series: Surah al-Muddatstsir 74 ~ Tafsir Nur-ul-Qur'an
Surah Al-Muddatstsir 74 ~ Tafsir Nur-ul-Qur’an (Bagian 2)

TAFSIR NUR-UL-QUR’AN
(Diterjemahkan dari: Nur-ul-Qur’an: An Enlightening Commentary into the Light of the Holy Qur’an).
Oleh: Allamah Kamal Faqih Imani
Penerjemah Inggris: Sayyid Abbas Shadr Amili
Penerjemah Indonesia: Rahadian M.S.
Penerbit: Penerbit al-Huda

SURAH AL-MUDDATSTSIR

(ORANG YANG BERBARING DI TEMPAT TIDUR)

(SURAH NO. 74; MAKKIYYAH; 56 AYAT)

(Bagian 2)

 

AYAT 3-7.

وَ رَبَّكَ فَكَبِّرْ. وَ ثِيَابَكَ فَطَهِّرْ. وَ الرُّجْزَ فَاهْجُرْ. وَ لَا تَمْنُنْ تَسْتَكْثِرُ. وَ لِرَبِّكَ فَاصْبِرْ.

74: 3. Dan agungkanlah (nama) Tuhanmu!

74: 4. Dan bersihkanlah pakaianmu!

74: 5. Dan jauhkanlah dirimu dari ketidaksucian.

74: 6. Dan janganlah memberi sesuatu demi memperoleh lebih banyak.

74: 7. Dan bersabarlah demi Tuhanmu!

 

TAFSIR

Lima perintah penting diwahyukan kepada Nabi s.a.w. menyusul seruan kepada beliau untuk bangkit dan memberikan peringatan. Peringatan ini berperan sebagai contoh bagi manusia. Perintah pertama berkenaan dengan tauhid, “Agungkanlah (nama) Tuhanmu, Pemilik dan Pengasuhmu. Apa pun yang engkau miliki adalah diberikan oleh-Nya.”

Dengan tujuan memberikan penekanan pada kata Rabb (“Tuhan”) yang mendahului bentuk kata perintah kabbir (“agungkanlah”) mengisyaratkan makna yang khusus dan menjelaskan konsep tauhid yang diperkuat oleh argumentasi berupa kalimat singkat tersebut. Kalimat dalam al-Qur’ān itu menarik dan penuh makna, ringkas dan singkat. Sekadar ucapan “Allāhu Akbar” saja bukanlah hal yang dikehendaki di sini. Artinya, ucapan tersebut adalah sebuah implikasi pernyataan bahwa kaum beriman seharusnya mengagungkan Tuhan mereka melalui keyakinan, perkataan dan perbuatan. Allah s.w.t. seharusnya dianggap memiliki sifat-sifat keindahan dan tersucikan dari kekurangan apa pun. Allah juga terlalu agung untuk dapat dilukiskan. Diriwayatkan dari Ahlubait a.s. bahwa kalimat “Allāhu Akbar” bermaksud untuk menyatakan bahwa Allah s.w.t. jauh lebih unggul untuk dilukiskan dan dipahami oleh umat manusia. Karenanya, mengucapkan kalimat itu jauh lebih luas maknanya daripada tasbih yang hanya meliputi tersucikan dari jenis kekurangan apa pun.

Berlanjut dengan permasalahan tauhid, ayat ke-4 meliputi perintah kedua tentang kesucian dari ketidaksucian, yang berbunyi: Bersihkanlah pakaianmu. Kata “pakaian” di sini mungkin berperan sebagai kiasan bagi perbuatan-perbuatan manusia, karena perbuatan yang diserupakan dengan pakaian sebagai penampilan lahiriah mencerminkan juga kepercayaan perasaan batiniah. Sebagian juga berpendapat bahwa kata “pakaian” di sini mengisyaratkan hati dan jiwa, yaitu menyucikan hatimu dari ketidaksucian. Pakaian seharusnya dibersihkannya, dan orang yang memakainya memiliki hak yang lebih tinggi. Sebagian juga berpendapat bahwa kata tersebut bermakna pakaian luar, karena kesuciannya merupakan tanda yang sangat jelas dari karakter, pendidikan dan kultur. Bangsa ‘Arab Jahiliyyah hampir tidak peduli untuk menjauhkan diri dari ketidaksucian dan pakaian mereka umumnya tidak bersih. Yang umum berlaku di era Jahiliyyah, masyarakat memakai pakaian yang sangat panjang, hingga pakaian mereka kotor karena diseret-seret saat berjalan.

Ayat ke-7 menjelaskan perintah terakhir, bunyinya: Dan bersabarlah demi Tuhanmu! Sekali lagi, kita dihadapkan dengan makna komprehensif tentang kesabaran dan ketabahan menghadapi kaum musyrik yang bodoh dan kekejaman para musuh. Ayat ini memerintahkan kaum beriman untuk bersabar dalam ketaatan kepada perintah Allah dan kesabaran dalam perjuangan melawan hawa nafsu, dan musuh-musuh keimanan. Kesabaran sudah pasti merupakan landasan dan upaya penjagaan seluruh rencana tersebut di atas. Kesabaran secara prinsipil merupakan sarana terbaik untuk menyebarkan keimanan dan menuntun manusia. Karenanya, kesabaran diberi tempat khusus dalam banyak ayat al-Qur’ān. Sebagaimana tercermin dalam Nahj-ul-Balāghah, diriwayatkan dari Amīr-ul-Mu’minīn ‘Alī a.s. yang berkata: “Posisi kesabaran dan ketabahan terhadap keimanan adalah ibarat kepala terhadap tubuh.”

Karenanya, kesabaran dan ketabahan berperan sebagai sifat paling penting dari para nabi a.s. dan para waliyullah. Semakin mereka menghadapi kesulitan, semakin mereka menjadi sabar. Mengenai ganjaran terhadap orang-orang yang sabar. Nabi s.a.w. bersabda: “Allah berfirman: Apabila Aku menimpakan musibah atas tubuh, harta, atau anak-anak dari para hamba-Ku, lalu mereka menghadapinya dengan sabar, maka Aku malu untuk menghisab perbuatan mereka dan Aku malu untuk menegakkan catatan terhadap perbuatan mereka.” (2601) Ketika ditanya mengenai keimanan, Rasūlullāh s.a.w. menjawab: “Separo dari keimanan terletak dalam kesabaran.” (2612) Dalam hal ini, diriwayatkan dari Imam ‘Alī a.s. yang berkata: “Tolaklah kesedihan melalui keyakinan yang baik dan kesabaran.” (2623).

 

AYAT 8-10.

فَإِذَا نُقِرَ فِي النَّاقُوْرِ. فَذلِكَ يَوْمَئِذٍ يَوْمٌ عَسِيْرٌ. عَلَى الْكَافِرِيْنَ غَيْرُ يَسِيْرٍ.

74: 8. Apabila ditiup sangkakala,

74: 9. Maka Hari itu akan menjadi hari yang sulit.

74: 10. Bagi orang-orang yang kafir, Hari itu tidaklah mudah.

 

TAFSIR

Berlanjut dengan perintah tentang kebangkitan dan peringatan yang dijelaskan pada ayat-ayat sebelumnya, ayat ini diawali dengan penekanan khusus dan sangat jelas, bunyinya: Apabila ditiup sangkakala maka Hari itu akan menjadi Hari yang sulit dan bagi orang-orang yang kafir, Hari itu tidaklah mudah. Patut diperhatikan bahwa frase ‘Arab naqur, berasal dari naqara, bermakna serangan untuk menembus sesuatu. Bentuk seakarnya, minqar, adalah paruh burung yang bisa digunakan untuk menembus benda-benda. Karenanya, sangkakala yang berbunyi begitu keras seolah-olah ia memecahkan telinga-telinga dan menembus ke dalam otak, disebut naqur.

Secara eksplisit dijelaskan dalam ayat-ayat al-Qur’ān bahwa sangkakala akan titiup dua kali di saat terakhir dunia ini dan di awal Hari Kiamat, tiupan pertamanya luar biasa menakutkan dan suara-suara mengejutkan yang dimaksud adalah suara kematian. Tiupan kedua adalah tiupan membangkitkan kehidupan yang meliputi seluruh alam. Dua bunyi ini juga menjadi pembatas jangka waktu bunyi pertama dan kedua dari sangkakala. Ayat ini membahas tentang bunyi kedua yang menandai terjadinya Hari Kiamat dan dimulainya kesulitan di Hari itu bagi orang-orang yang kafir.

Pembahasan detail tentang sangkakala dan bunyinya dapat ditemukan pada pembahasan surah az-Zumar [39]: 68. Namun, ayat-ayat ini menjelaskan kebenaran bahwa banyak kesulitan akan menunggu orang-orang yang kafir ketika sangkakala ditiup. Hari itu akan begitu menyiksa dan memedihkan hingga orang-orang yang paling kuat pun akan berlutut.

Catatan:


  1. 260). Tafsīru Rūḥ-il-Ma‘ānī, jil. 29, hal. 120. 
  2.  261). Ibnu Abil-Ḥadīd, Syarḥu Nahj-il-Balāghah
  3.  262). Kanz-ul-Fawā’id, jil. 1, hal. 140. 

  • Diposting Pada: 4:01 PM 11/26/2017
  • Dalam Kategori: Al-Qur'an
  • Terdiri Dari: 869 Kata
  • Dilihat: 3 Kali.
Back To Top