Shalat : Postur Para Nabi – Tata Cara (3/3)

Syakh Ghulam Moinuddin

Judul Asli : The Book of Sufi Healing
Penerjemah : Arif Rakhmat
Penyunting : Ahmad Norma Permata
Penerbit : Yayasan Bentang Budaya, Yogyakarta

(lanjutan)

POSTUR 8

Dari postur 5, dengan bagian kepala berada pada permukaan lantai (posisi sujud terakhir-ed.), angkatlah kepala menjauh dari permukaan lantai dan bangkitkan tubuh ke arah belakang.

Letakkan tangan pada lutut, berlawanan arah dengan prosedur untuk gerakan ke arah sujud, dan sambil membaca Allâhu akbar kembalilah ke posisi berdiri. Keseluruhan rangkaian ge rakan di atas membentuk satu raka’at shalât. Shalat dikerjakan sebanyak dua, tiga atau empat raka’at, sesuai dengan waktunya:

Subuh: 2 raka’at

Dzuhur: 4 raka’at

‘Ashar: 4 raka’at

Maghrib: 3 raka’at

‘Isya: 4 raka’at

Pada akhir setiap dua raka’at shalât, bacakan doa berikut:

At tahiyyatu li llahi wash-shalawatu wath thayyibat. As-salamu ‘alayka ayyuban-Nabiyyu Wa rahmatullahi wa barakâtuhu. As-salamu ‘alayna wa ‘ala ‘ibâdillahish shaalihiin. Asy-hadu an laa ilaha illa llâh. Wa asy hadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasûluh.

Doa ini dibaca sebagai pengulangan kembali dari percakapan suci yang terjadi antara Allah Yang Mahakuasa dan Nabı Muhammad saw sewaktu malam Kenaikan ke Langit (Mi’raj) Rasulullah. Jalannya percakapan adalah sebagai berikut:

Muhammad: Seluruh keselamatan, berkah dan kebaikan berasal dari Engkau, ya Allah.

Allah swt.: Keselamatan, rahmat dan berkah Allah terpanjatkan bagimu, wahai Nabi.

Muhammad: Keselamatan semoga tetap untuk kami seluruh hamba Allah yang saleh. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Allah.

Allah: Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.

Jika jumlah raka’at yang diwajibkan lebih darı dua, maka shalât akan diteruskan sampai pada bacaan selanjutnya. Selain itu, masih harus ditambah dengan satu atau dua raka’at. Semua ini dikerjakan seperti dua raka’at yang pertama, tetapi tidak ada pembacaan ayat yang lain setelah pembacaan Surat al-Fatihah.

Pembacaan pada dua raka’at pertama dikerjakan dengan bacaan yang keras selama shalât subuh, maghrib dan ‘isya. Pada waktu shalat yang lain, semua rakaat dibacakan dalam hati. Apabila jumlah raka’at (dua, tiga atau empat) telah dilengkapi, maka dibacakan doa yang lain, yang mendoakan dan memohonkan keselamatan serta berkah bagi nabi dan keluarganya.

Allahuma shalli alâ Muhammadin wa ‘alâ âli Muhammadin kama shallayta ‘alâ Ibrâhîma wa ‘alâ âli Ibrahima. Allahumma barik ‘alâ Muhammadin wa ‘alâ âli Muhammadin kamâ barakta ‘alâ Ibrâhîma wa ‘alâ âli Ibrahîma. Innaka Hamidun Majid.

(Ya Allah limpahkanlah keselamatan atas Muhammad dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau limpahkan keselamatan kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Ya Allah limpahkanlah berkah kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau limpahkan berkah kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha terpuji dan Mahamulia).

Pada akhir bacaan ini kepala agak menunduk, kemudian secara perlahan-lahan menoleh ke arah kanan, hingga mata secara sepintas melihat punggung di atas bahu, serta membaca:

As-salâmu ‘alaykum wa rahmatullâh (Keselamatan dan berkah Allah semoga dilimpahkan untukmu). Dan sewaktu menoleh ke arah kiri, ulangi bacaan tadi: As-salamu ‘alaykum wa rahmatullâh.

Bacaan yang terakhir ini ditujukan kepada dua malaikat pencatat, yang masing-masing duduk seimbang di atas bahu, yang mencatat perbuatan baik dan perbuatan jelek. Subhân Allâh.

Gambaran lain yang sangat menarik dari shalât ini adalah bahwa dalam melaksanakan tiga posisi utama (qiyâm, ruku dan sujud), seseorang akan membuat bentuk-bentuk fisik dari huruf Arab alif, dal dan mim. Huruf-huruf ini mengeja kata “Adam”, nama manusia yang pertama kali diciptakan dan nabi yang pertama. Ilustrasi pada halaman selanjutnya memperlihatkan postur tubuh dan huruf yang berkaitan. Para malaikat -yang diciptakan semata-mata hanya untuk beribadah kepada Allah dan berlaku demikian sebagai tingkah laku alamiahnya – mengerjakan semua dari postur-postur ibadah ini. Seluruh nabi juga menggunakan satu atau beberapa postur ini. Nabi Muhammad saw. yang diakui sebagai rahmat bagi seluruh alam merupakan perpaduan dari seluruh postur para nabi. Al-hamdu lillâhil-Hayyûl Qayyûm!

Hal lain yang penting berkenaan dengan praktik shalât ini, sebagai suatu aktivitas fisik, adalah bahwa orang dari seluruh golongan umur dapat mengerjakannya. Praktik ini halus, ringan dan mudah dilakukan, dan pada saat yang sama praktik shalât menjadi sarana paling memungkinkan untuk mengembangkan kesehatan fisik. Dalam satu hari, yang wajib dikerjakan adalah tujuh belas rakaat shalât, yang terdiri dari sembilan belas posisi yang berbeda pada masing-masing rakaatnya. Ini seluruhnya berjumlah 119 postur fisik setiap hari, atau 3.570 postur setiap bulan atau 42.840 postur setiap tahun.

Pada masa hidup orang dewasa rata-rata empat puluh tahun, telah dikerjakan 1.713.600 postur. Seseorang yang mengerjakannya akan dilindungi dan dijauhkan dari gangguan dan penyakit, seperti serangan jantung serta gangguan jantung yang lain; empisema; arthritis; gangguan pada kandung kemih, ginjal dan usus; infeksi bakteri dan virus; penyakit mata; hilangnya daya pikir dan kelupaan; sciatica dan gangguan tulang belakang, dan lain-lain. Praktik ini dapat dikerjakan di mana saja, tidak memerlukan peralatan khusus dan tidak mengeluarkan biaya sama sekali.

Bagi para Sufi, shalât merupakan masukan yang paling besar dalam hidupnya karena tempat mereka mengerjakan shalât menjadi jenjang keberangkatan untuk memasuki realitas yang agung, yaitu haqiqat.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *