5-6 Ummu Ri’lah al-Qusyairiyyah – Perempuan-perempuan Mulia di Sekitar Rasulullah SAW

6. UMMU RI‘LAH AL-QUSYAIRIYYAH Ada sebuah hadits dari Ibnu ‘Abbās yang diriwayatkan oleh al-Mustaghfirī dan Abū Mūsā melalui jalan (sanad) yang berbeda antara satu sama lain, namun bertemu pada sanad terakhirnya, ‘Abdullāh bin ‘Abbās. Hadits tersebut mengisahkan seorang wanita yang sangat diplomatis, dia biasa dipanggil “Ummu Ri‘lah al-Qusyairiyyah”. Ia datang menghadap Nabi Muḥammad s.a.w. lalu berkata: “as-Salāmu ‘alaika wahai Rasūlullāh. Kami – para wanita – selalu tertutup di balik tirai…

5-5 Hawa’ Binti Yazid Ibn-is-Sakan al-Anshariyyah (Istri Qais Ibn-ul-Khathim) – Perempuan-perempuan Mulia di Sekitar Rasulullah SAW

5. HAWĀ’ BINTI YAZĪD IBN-US-SAKAN AL-ANSHĀRIYAH (ISTRI QAIS IBN-UL-KHATHĪM) Dia juga wanita teladan dalam keimanannya kepada Allah dan Rasūl-Nya dan pengorbanan di jalan-Nya. Di Makkah, Hawā’ telah masuk Islam dan membai‘at Nabi Muḥammad s.a.w. sebelum Hijrah, ia pun menjadi penganut Islam yang baik tanpa sepengetahuan suaminya. Suaminya adalah Qais bin al-Khathīm, seorang penyair dari Dzal-Majaz. (16) Suatu hari, Qais didatangi Rasūlullāh s.a.w. dan mengajaknya masuk Islam. Qais berkata: “Alangkah mulianya…

5-4 Asma’ Binti Yazid Ibn-is-Sakan al-Anshariyyah – Perempuan-perempuan Mulia di Sekitar Rasulullah SAW

4. ASMĀ’ BINTI YAZĪD IBN-IS-SAKAN AL-ANSHĀRIYYAH Dia adalah perawi hadits sekaligus pejuang yang mulia, cerdas, ahli agama, dan pandai berkhutbah (ceramah), sehingga is dijuluki “Khathībat-un-Nisā’” “Orator Para wanita”. Dia sering menjadi utusan para perempuan untuk menghadap Rasūlullāh s.a.w.. Dia adalah anak paman (sepupu) Mu‘ādz bin Jabal yang biasa dipanggil “Ummu Salamah” al-Anshāriyyah. Suatu hari, Asmā’ mendatangi Rasūlullāh s.a.w. dan ketika itu beliau sedang bersama para sahabat. Ia berkata: “Wahai Rasūlullāh,…

5-3 Hindun Binti ‘Utbah – Perempuan-perempuan Mulia di Sekitar Rasulullah SAW

3. HINDUN BINTI ‘UTBAH “Di masa jahiliah ia adalah orang yang sangat berbahaya. Namun pada masa Islamnya, ia menjadi orang yang sangat baik.” Demikian putranya, Mu‘āwiyah bin Abū Sufyān menceritakan tentang ibunya. Dia adalah putri seorang peminpin di kabilahnya, ‘Utbah bin Rabī‘ah. Suaminya, Abū Sufyān bin Ḥarb adalah salah seorang pemuka di kabilah Quraisy. Putranya, Mu‘āwiyah bin Abī Sufyān adalah seorang pemimpin Bani Umayyah. Begitu juga ibunya, Shafiyyah binti Umayyah…

5-2 Mu’adzah (Budak ‘Abdullah bin Ubay bin Salul) – Perempuan-perempuan Mulia di Sekitar Rasulullah SAW

2. MU‘ĀDZAH (BUDAK ‘ABDULLĀH BIN UBAY BIN SALŪL) Selama hidupnya, Mu‘ādzah senantiasa merealisasikan butir-butir dalam perjanjian dan pembaiatan meskipun ia adalah seorang budak. Ketika Mu‘ādzah masuk Islam dan membaiat Nabi Muḥammad s.a.w., dia masih menjadi budak ‘Abdullāh bin Ubay bin Salūl yang ketika itu mempunyai seorang tawanan laki-laki. ‘Abdullāh selalu memukul Mu‘ādzah agar tawanan itu bisa melacurnya sampai ia hamil lalu mengambil anak hasil pelacuran tersebut sebagai barang dagangan. Dan…

5-1 Umayyah Binti Raqiqah – Perempuan-perempuan Mulia di Sekitar Rasulullah SAW

Wanita Muslimah Teladan Sebagai Pembaiat dan Utusan Wanita Pembaiat Di kalangan para sahabat, terdapat beberapa wanita yang berbaiat (berjanji setia) di hadapan Rasūlullāh s.a.w. untuk taat dan setia kepada beliau, serta untuk selalu dalam keimanan. Di samping membaiat para sahabat laki-laki, Rasūlullāh s.a.w. juga membaiat para sahabat wanita, sebagaimana hadits yang diriwayatkan dari ‘Ā’isyah r.a. yang berkata: “Rasūlullāh s.a.w. membaiat para wanita Sebagaimana yang dikisahkan dalam Surah al-Mumtaḥanah ayat 12.…

4-6 Fathimah Binti ‘Utbah bin Rabi’ah (Saudari Hindun Binti ‘Utbah) – Perempuan-perempuan Mulia di Sekitar Rasulullah SAW

6. FĀTHIMAH BINTI ‘UTBAH BIN RABĪ‘AH (SAUDARI HINDUN BINTI ‘UTBAH) Bersama dengan saudarinya (Hindun binti ‘Utbah), Fāthimah binti ‘Utbah termasuk rombongan wanita muslimah yang berbaiat di hadapan Rasūlullāh s.a.w. setelah penaklukan kota Makkah (Fatḥu Makkah). Suatu hari, setelah masuk Islam, Fāthimah mendatangi Rasūlullāh s.a.w. dan berkata: “Wahai Rasūlullāh, dulu (sebelum masuk Islam) tidak ada kubah (bangunan masjid, penj.) yang ingin saya hancurkan di muka bumi ini selain kubahmu. Akan tetapi…

4-5 Al-Fari’ah Binti Abish-Shalt ats-Tsaqafiyyah (Saudari Umayyah bin Abish-Shalt) – Perempuan-perempuan Mulia di Sekitar Rasulullah SAW

5. AL-FĀRI‘AH BINTI ABISH-SHALT ATS-TSAQAFIYYAH (SAUDARI UMAYYAH BIN ABISH-SHALT) Setiap orang yang hidup di masa al-Fāri‘ah, akan mengatakan bahwa dia adalah sosok wanita yang berwibawa, lembut, bijak, dan cantik. Saudaranya Umayyah mempunyai kedudukan dan pengaruh yang besar di kalangan kaum jahiliah karena kelihaiannya dalam bersyair. Setelah penaklukan kota Thā’if, al-Fāri‘ah datang menghadap Rasūlullāh s.a.w. (untuk masuk Islam). “Apakah anda hafal sebagian syair saudara anda?,” tanya Rasūlullāh s.a.w. kepada al-Fāri‘ah (13).…

4-4 Saffanah Binti Hatim ath-Tha’i (Saudari ‘Adi bin Hatim) – Perempuan-perempuan Mulia di Sekitar Rasulullah SAW

4. SAFFĀNAH BINTI ḤĀTIM ATH-THĀ’Ī (SAUDARI ‘ADĪ BIN ḤĀTIM) Dialah satu di antara beberapa wanita yang santun dan fasih dalam bertutur kata dan sopan dalam beretika. Hal itu tidak mengherankan karena dia dibesarkan oleh seorang bapak yang terkenal dengan kemuliaannya, yaitu Ḥātim ath-Thā’ī. Pepatah bilang: “Barang siapa yang menyerupai ayahnya (dalam perangainya yang baik), dia tidak tersesat.” Suatu hari, bapaknya berkata padanya: “Wahai putriku, sesungguhnya dua orang mulia, apabila sama-sama…