Hati Senang

2-3 Zainab Binti Rasulillah – Perempuan-perempuan Mulia di Sekitar Rasulullah SAW

3. ZAINAB BINTI MUḤAMMAD BIN ‘ABDULLĀH Lima belas abad sudah berlalu dari kematian Zainab, namun sosok Zainab meninggalkan kenangan yang harum sepanjang sejarah, baik dalam kesetiaan, ketulusan, maupun keteguhan imannya. Zainab dilahirkan 30 tahun setelah kelahiran Rasūlullāh s.a.w.. Ketika usianya menginjak dewasa, datanglah bibinya Ḥālah binti Khuwailid (saudari Khadījah binti Khuwailid) guna melamarnya untuk putranya, yaitu Abul-‘Āsh. Setelah semua belah pihak saling menyetujui maka dilangsungkanlah akad nikah. Di hari pernikahan…

2-2 Saudah Binti Zam’ah – Perempuan-perempuan Mulia di Sekitar Rasulullah SAW

2. SAUDAH BINTI ZAM‘AH. Dia adalah wanita pertama yang dinikahi Rasūlullāh s.a.w. setelah wafatnya Khadījah. Setelah lebih dari tiga tahun dari masa pernikahannya dengan Saudah binti Zam‘ah, Rasūlullāh s.a.w. menikah lagi dengan ‘Ā’isyah. Sepeninggal Khadījah, banyak sahabat berharap kepada Rasūlullāh untuk segera mengakhiri masa dudanya dengan menikah lagi. Namun, siapakah orang yang berani membuka jalan untuk itu? Datanglah Khaulah binti Ḥakīm menghadap Rasūlullāh saw. guna mengemban misi tersebut dengan mengusulkan…

2-1 Khadijah Binti Khuwailid – Perempuan-perempuan Mulia di Sekitar Rasulullah SAW

Wanita Muslimah Teladan Sebagai Istri Sebaik-baik “Simpanan” Laki-laki   Rasūlullāh s.a.w. pernah berkata kepada ‘Umar: “Tahukah kamu apa yang terbaik untuk disimpan (oleh seorang suami)? Dialah wanita shāliḥah. Bila dilihat, dia menyenangkan suaminya. Bila diperintah, dia menaatinya, dan bila suaminya pergi, dia menjaga dirinya dan harta benda suaminya.” (HR. Abū Dāūd). Dari hadits di atas, sedikit banyak menggambarkan dalam benak kita bagaimana karakteristik seorang istri shāliḥah, yaitu sosok istri yang…

1-6 Asy-Syaima’ Bint-il-Harits as-Sa’diyyah – Perempuan-perempuan Mulia di Sekitar Rasulullah SAW

6. ASY-SYAIMĀ’ BINT-IL-ḤĀRITS AS-SA‘DIYYAH Begitu menyebut nama Ḥalīmah as-Sa‘diyyah, ingatan kita tentunya kembali pada seorang saudari susu Rasūlullāh s.a.w. yaitu asy-Syaimā’ as-Sa‘diyyah. Sebagaimana telah diketahui bersama bahwa Rasūlullāh s.a.w. anak semata wayang (anak tunggal) yang tidak mempunyai saudara maupun saudari kandung. Namun, beliau mempunyai banyak saudara satu susu. Mereka itu adalah – sebagaimana yang dituturkan Ibnu Isḥāq dari riwayat Yūnus bin Bakīr dan yang lainnya darinya – ‘Abdullāh, Anisah, Ḥudzaifah…

1-5 Halimah as-Sa’diyyah (Ibu Susu Rasulullah S.A.W.) – Perempuan-perempuan Mulia di Sekitar Rasulullah SAW

5. ḤALĪMAH AS-SA‘DIYYAH (IBŪ SUSU RASŪLULLĀH S.A.W.) Siapa saja yang berbicara tentang Sirah Nabawiyyah “Sejarah Nabi Muḥammad s.a.w.” pasti akan ditemui nama Ḥalīmah as-Sa‘diyyah yang terkenal dengan kepribadiannya yang mulia dan kelembutan hatinya. Adalah takdir Allah s.w.t. yang menghendaki Ḥalīmah as-Sa‘diyyah menjadi ibu susu bagi Rasūlullāh s.a.w. yang datang bersama para wanita Bani Sa‘ad. Karena, – pada saat itu – tidak ada bayi yang disusui kecuali hanya cucu ‘Abdul Muththalib…

1-4 Ummu Aiman Barakah Binti Muhsin – Perempuan-perempuan Mulia di Sekitar Rasulullah SAW

4. UMMU AIMĀN BARAKAH BINTI MUḤSIN Seorang anak yatim terkadang menemukan seseorang yang menggantikan posisi ibunya dalam memberikan kasih-sayangnya dan merawatnya sebagaimana kisah Ummu Aimān yang sering merawat Rasūlullāh s.a.w. bersama ibu kandungnya Āminah binti Wahb. Pada saat penduduk ‘Arab – sebelum kelahiran Rasūlullāh s.a.w. – bersorak ria atas kemenangan mereka terhadap tentara gajah (Ashḥāb-ul-Fīl) yang datang menyerang Ka‘bah, Āminah binti Wahab yang saat itu sedang hamil tua lebih memilih…

1-3 Arwa Binti ‘Abd-il-Muththalib (Bibi Rasulullah s.a.w., Saudari Shafiyyah) – Perempuan-perempuan Mulia di Sekitar Rasulullah SAW

3. ARWĀ BINTI ‘ABD-IL-MUTHTHALIB (BIBI RASŪLULLĀH S.A.W., SAUDARI SHAFIYYAH). Arwā binti ‘Abd-il-Muththalib termasuk orang yang masuk Islam di Makkah dan ikut hijrah ke Madīnah. Sebelum masuk Islam, dia termasuk orang yang mendukung perjuangan Rasūlullāh s.a.w. Suatu hari, orang-orang di sekitarnya memberitahu bahwa putranya, Kulaib bin ‘Umair, masuk Islam di rumah al-Arqam bin Abil-Arqam al-Makhzūmī. Sepulang dari sana, Kulaib langsung menemui ibunya dan berkata: “(Wahai ibu) saya telah mengikuti (agama) Muḥammad…

1-2 Lubabah Bint-il-Harits bin Hazn al-Hilaliyyah (Ibu ‘Abdullah bin ‘Abbas) – Perempuan-perempuan Mulia di Sekitar Rasulullah SAW

2. LUBĀBAH BINT-IL-ḤĀRITS BIN ḤAZN AL-HILĀLIYYAH (IBU ‘ABDULLĀH BIN ‘ABBĀS). Kalau kita membuka buku-buku biografi (tarājum) sahabat, kita akan mendapatkan dua nama yang sama, yaitu Lubābah binti Ḥārits. Ternyata, keduanya adalah dua bersaudari (kakak-beradik). Lubābah yang besar (kubrā) adalah ibu dari “Si Tinta Umat (Ḥabr-ul-Ummah) ‘Abdullāh bin ‘Abbās. Sedangkan, Lubābah yang kecil (sughrā) adalah ibu dari “Si Pedang Allah” (Saif-ul-llāh) Khālid bin Walīd. Lubābah kecil biasa dijuluki al-‘Ishmā‘. Beberapa ulama…

1-1 Ummu Hani’ – Perempuan-perempuan Mulia di Sekitar Rasulullah SAW

Wanita Muslimah Teladan Sebagai Ibu dan Pengasuh Sosok Ibu Teladan Sifat keibuan seorang wanita muslimah bisa terekspresikan dalam berbagai bentuk dan corak, karena sifat tersebut adalah belaian kasih-sayang yang merasuk ke dalam setiap sanubari. Ia (sifat keibuan) adalah ungkapan cinta, kelembutan, pengorbanan, dan ketabahan. Sebagaimana sifat keibuan bisa tampak saat situasi damai, sifat tersebut pun bisa tampak saat perang berkecamuk. Dari situlah kita mengenal istilah Umm-ul-Mujāhidīn “Ibu Para Penjuang”. Dialah…
Lewat ke baris perkakas