Hati Senang

BAGIAN DUA: BAKAT DAN KEISTIMEWAAN

 

Bab 5

BAKAT KHUSUS

 

1. FIRASAT DAN NALURI SYĀFI‘Ī

Firasat adalah kemampuan untuk mengenali sosok dan kepribadian seseorang hanya dengan melihat wajah atau tanda-tanda yang tampak pada dirinya. Syāfi‘ī tertarik untuk mempelajari ilmu firasat ini, beruji coba dengannya, bahkan ia sampai mahir dalam mempraktikkannya. Syāfi‘ī mendapatkan ilmu ini sejak kecil, saat ia masih tinggal di dusun. Sementara buku-buku tentang ilmu firasat ia peroleh dari Yaman.

 

Kisah Menarik tentang Firasat Syāfi‘ī

Syāfi‘ī memiliki banyak kisah dan pengalaman yang menarik tentang firasatnya. Yang paling unik adalah kisah yang diriwayatkan oleh al-Ḥumaidī bahwa Muḥammad ibn Idrīs menuturkan: “Aku bepergian ke daerah Yaman mencari buku-buku tentang ilmu firasat agar aku dapat menulis dan menyusunnya. Di tengah jalan, aku bertemu dengan seorang laki-laki yang tengah duduk di depan rumahnya. Matanya biru, dahinya lebar, dan ia tidak berjenggot.

“Apa di sini tempat persinggahan?” tanyaku padanya.

“Ya”, jawabnya.”

Syāfi‘ī melanjutkan: “Ku lihat di wajahnya tanda-tanda kehinaan (ini adalah tanda terburuk dalam ilmu firasat). Ia lalu memersilakanku menginap di rumahnya. Sungguh, ia terlihat begitu baik padaku. Ia menghidangkan makan malam, memberiku wewangian, dan menyediakan rumput untuk kuda tunggangganku. Selain itu, ia juga menyiapkan kasur lengkap dengan selimutnya untukku. Malam itu, aku tidur sangat lelap.

“Apa gunanya buku-buku firasat ini?” pikirku dalam hati, demi melihat sosok laki-laki yang begitu baik padaku kendati tampangnya hina dan bengis.

“Firasatku salah tentang laki-laki ini”, gumamku.

Keesokan harinya, aku meminta budakku untuk melepaskan tali kekang kudaku. Aku pun menaikinya dan bersiap untuk berangkat. Saat aku melewati laki-laki itu, aku berpesan padanya: “Jika kau bepergian ke Makkah dan melewati daerah Dzī Thawā, tanyakan pada orang-orang, di mana rumah Muḥammad ibn Idrīs al- Syāfi‘ī. Mampirlah ke rumahku itu!”

Orang itu malah menjawab: “Memangnya, aku ini budak bapakmu?!”

“Apa maksudmu?” tanyaku kepadanya.

Ia menjawab: “Perlu kau ketahui, aku membelikan untukmu makanan dengan 2 dirham, wewangian 3 dirham, rumput 2 dirham, harga sewa kasur dan selimutnya 2 dirham.”

Mendengar hal ini, aku kaget, Ku perintahkan budakku untuk memberinya uang sejumlah yang ia sebutkan.

“Ada lagi yang lain?” tanyaku pada laki-laki itu.

Ia menjawab: “Harga sewa rumah karena aku telah membuatmu tidur nyaman, sementara aku rela diriku merasa kesempitan untukmu.”

Aku pun merasa bahagia karena buku-buku firasat yang semula ku duga sia-sia, ternyata bermanfaat juga. Buku-buku firasat itu ternyata tidak salah.

Setelah itu aku bertanya lagi: “Ada lagi biaya lain?”

Ia menjawab dengan ketus: “Pergilah, semoga Allah menghinakanmu. Aku tidak pernah melihat orang seburuk dirimu.”

 

Syāfi‘ī mempelajari ilmu firasat dan mempraktikkannya. Ia bahkan termasuk orang yang paling tajam firasatnya.

 

Peristiwa yang Menakjubkan

Syāfi‘ī pernah mengalami satu peristiwa yang menakjubkan tentang kemampuannya dalam berfirasat ini. Seperti kisah yang diriwayatkan oleh al-Muzani berikut: “Aku tengah bersama Syāfi‘ī di Masjidil Haram. Tiba-tiba seorang laki-laki masuk dan berjalan berkeliling di antara orang-orang yang tidur di sana. Syāfi‘ī lantas berkata kepada al-Rabi‘: “Katakan pada orang itu, apa ia telah kehilangan seorang budaknya yang berkulit hitam dan salah satu matanya cacat?”

Al-Rabi‘ pun bangkit dan menyampaikan pesan Syāfi‘ī kepada orang itu. Kemudian orang itu menjawab: “Ya, seperti itulah budakku!”

Al-Rabi‘ lalu berkata kepada orang itu: “Mari temui Syāfi‘ī”

Ia pun mendatangi Syāfi‘ī.

“Ya, seperti itulah budakku!” katanya kepada Syāfi‘ī.

Syāfi‘ī lantas berkata kepadanya: “Carilah ia di tengah kerumunan orang itu.”

Ia pun menuruti petunjuk Syāfi‘ī. Ia mulai mencari-cari budaknya di tengah kerumunan orang. Akhirnya budak itu ia temukan di sana.”

Al-Rabi‘ melanjutkan penuturannya: “Melihat hal ini, aku tercengang. Dan ku tanyakan pada Syāfi‘ī: “Katakan pada kami, bagaimana kau bisa menebaknya? Kau telah membuat kami heran.”

“Baiklah,” jawab Syāfi‘ī.

“Tadi aku melihat seseorang masuk melalui pintu masjid, lalu ia berkeliling di antara orang-orang yang tidur. Di sini, aku menduganya tengah mencari seseorang yang kabur darinya. Ku lihat orang itu mencari-cari di antara orang-orang hitam yang tengah tidur. Aku berkesimpulan bahwa ia mencari seorang budak hitam. Ia lalu memeriksa mata kanan orang-orang itu. Menurut dugaanku, berarti ia tengah mencari budak yang salah satu matanya cacat,” lanjut Syāfi‘ī.

Kami lalu bertanya padanya: “Lantas mengapa kau suruh ia pergi ke tempat kerumunan?”

Syāfi‘ī menjawab: “Dalam hal ini, aku menakwilkan hadits Rasulullah: “Tak ada kebaikan sama sekali dalam kerumunan orang. Jika mereka lapar, mereka akan mencuri, dan jika mereka kenyang, mereka akan meminum minuman keras dan berzina. Dari sini aku berpikir bahwa budak orang itu telah melakukan salah satu dari kedua hal di atas.” Rupanya firasat Syāfi‘ī benar.”

 

Firasat Syāfi‘ī Tentang Muridnya

Firasat Syāfi‘ī yang lain diriwayatkan dari al-Rabi‘ ibn Sulaimān. Ia berkata: “Kami menemui Syāfi‘ī sebelum ia meninggal dunia. Ketika itu kami berempat: aku, al-Buwaithī, al-Muzanī, dan Muḥammad ibn ‘Abdullāh ibn ‘Abdul Ḥakam. Syāfi‘ī menatap kami sesaat. Ia terus menatap kami satu per satu. Ia lalu berkata: “Engkau, wahai Abū Ya‘qūb, akan mati di balik jeruji besimu. Engkau, wahai Muzanī, kelak di Mesir kau akan sejahtera dan damai. Kau akan menemukan satu masa di mana engkau menjadi orang yang paling ahli di bidang qiyas. Sedangkan engkau, wahai Rabi‘, akan menjadi orang yang paling berguna bagiku dalam menyebarkan buku-buku dan ajaranku.” Syāfi‘ī berpaling ke arah Abū Ya‘qūb, ia berkata kepadanya: “Bangkitlah kau, wahai Abū Ya‘qūb, isilah halaqah majelisku!”

Al-Rabi‘ menuturkan: Ternyata apa yang diprediksikan Syāfi‘ī benar-benar terjadi.”

Saat seseorang mengikhlaskan jiwanya kepada Allah maka Allah akan menerangi pandangan dan hatinya, membukakan pintu makrifat yang dapat mencengangkan akal. Keikhlasan Syāfi‘ī dalam ilmu dan amal membuatnya dapat meraih segala macam ilmu di zamannya. Ia menjadi orang yang paling berilmu kala itu. Selain itu, Syāfi‘ī juga memiliki firasat yang kuat, jarang sekali firasatnya salah.

 

Waspadailah firasat seorang mu’min karena ia melihat dengan cahaya Allah.

 

Mata Hati yang Terbuka

Selain hal-hal di atas, Syāfi‘ī juga memiliki mata hati yang terbuka dan firasat yang kuat seperti gurunya, Mālik. Sifat seperti ini harus ada pada diri seorang ahli debat dan dialog agar ia dapat menaklukkan lawan-lawannya. Sifat ini juga harus ada pada diri seorang guru agar ia bisa mengetahui kondisi murid-muridnya, sehingga ia mendapatkan kemudahan dalam mengajarkan ilmunya kepada mereka berdasarkan kemampuan masing-masing. Guru semacam ini dapat menyeimbangan antara kemampuan murid dalam memahami ilmu dan kemampuan mereka dalam menjelaskannya. Sifat-sifat yang tersimpan dalam diri Syāfi‘ī, ditambah daya nalarnya, membuatnya banyak dikelilingi murid-murid dan sahabat.

 

Seorang guru yang cerdas adalah guru yang memiliki kekuatan firasat dan mata hati yang terbuka. Ia mengetahui kondisi dan kemampuan murid-muridnya sehingga mampu mengajar mereka sesuai daya nalar masing-masing. Inilah yang membuat Syāfi‘ī memiliki murid dan sahabat yang banyak.

 

Peka dan Tanggap

Dengan daya hafal yang kuat, kepekaan, dan sikap tanggap maka segala makna dapat dieksplorasi dengan mudah saat dibutuhkan. Orang yang memiliki kelebihan seperti ini, pikirannya tidak akan terkungkung dan cakrawalanya tidak tertutup terhadap segala hal. Seperti itulah Syāfi‘ī. Dengan pikiran yang terbuka ini, Syāfi‘ī selalu memberikan pencerahan kepada murid-muridnya melalui ide-ide dan pemikirannya sendiri. Di tangannya, segala hakikat dapat terkuak dan logika pun menjadi lurus dan tetap pada jalurnya.

 

Sikap peka dan cepat tanggap membuat Syāfi‘ī mudah menyerap semua makna, seakan ia mengalir begitu saja kepadanya. Tak satu pun makna tertutup baginya atau tak diketahuinya. Dengan demikian, semua hakikat menjadi terpampang jelas di matanya.

Bagikan:

BAGIAN SATU

MASA PERTUMBUHAN DAN MASA MENCARI ILMU

BAB 1

PERTUMBUHAN DAN KELUARGA

 

ULAMA NON-‘ARAB
Abū al-Mu’ayyad al-Makkī mengatakan bahwa ilmu pengetahuan dan nilai-nilai intelektual-spiritual tidak hanya dimonopoli oleh bangsa ‘Arab saja. Inilah yang menunjukkan kedudukan Abū Ḥanīfah di bidang pemikiran dan keagamaan. Penuturan al-Makkī bahwa sang imam hidup sezaman dengan Hisyām ibn ‘Abdul Mālik menunjukkan bahwa disiplin ilmu fikih lebih banyak dikuasai oleh orang non-‘Arab. Al-Makkī lalu menyebutkan satu kisah yang menguatkan keunggulan orang non-‘Arab atas orang ‘Arab dalam hal kedalaman ilmu fikih.

Diriwayatkan oleh ‘Athā’ dari ayahnya yang berkata: “Aku menemui Hisyām ibn ‘Abdul Mālik di Rashafah. Ia lalu bertanya padaku: “Wahai ‘Athā’, apakah engkau mengetahui ulama di setiap kota?” Aku pun menjawab: “Ya, saya mengetahuinya, Amirul Mu’minin.”

Ia mulai bertanya: “Siapakah ahli fikih di Madinah?” Aku jawab: “Nāfi‘, bekas budak Ibnu ‘Umar”. Ia bertanya lagi: “Ia seorang maula (bekas budak) atau orang ‘Arab?” Aku jawab: “Seorang maula.”

“Siapakah ahli fikih Makkah?” Aku jawab: “‘Athā’ ibn Rabah”. Ia maula atau orang ‘Arab?” tanyanya lagi. Aku jawab: “Seorang maula.”

“Siapakah ahli fikih Yaman?” Aku jawab: “Thāwus ibn Kisān.” “Ia maula atau orang ‘Arab?” tanyanya lagi. Aku jawab: “Seorang maula.”

“Siapakah ahli fikih Yamāmah?” Aku jawab: “Yaḥyā ibn Katsīr.” “Ia maula atau orang ‘Arab?” tanyanya lagi. Aku jawab: “Seorang maula.”

“Siapakah ahli fikih Syam?” Aku jawab: “Makḥūl.” “Ia maula atau orang ‘Arab?” tanyanya lagi. Aku jawab: “Seorang maula.”

“Siapakah ahli fikih Jazirah?” Aku jawab: “Maymūn ibn Mahrān.” “Ia maula atau orang ‘Arab?” tanyanya lagi. Aku jawab: “Seorang maula.”

“Siapakah ahli fikih Khurasan?” Aku jawab: “al-Dhaḥḥāk ibn Muzāhim”. “ Ia maula atau orang ‘Arab?” tanyanya lagi. Aku jawab: “Seorang maula.”

“Siapakah ahli fikih Bashrah?” Aku jawab: “al-Ḥasan dan Ibnu Sīrīn”. Mereka maula atau orang ‘Arab?” tanyanya lagi. Aku jawab: “Mereka maula.”

“Lalu, siapakah ahli fikih Kufah?” Aku jawab: “Ibrāhīm al Nakha‘ī”. Ia maula atau orang ‘Arab?” tanyanya lagi. Aku jawab: “Orang ‘Arab”. Hisyām kemudian berkata: “Aku hampir saja tak bisa mengontrol diri karena tak seorang ‘Arab pun yang disebutnya.”

Riwayat Lain

Di kitab al-‘Aqd al-Farīd karangan Ibnu ‘Abdi Rabbih terdapat dialog yang mirip dengan pertanyaan Hisyām ibn ‘Abdul Mālik kepada ‘Athā’, yaitu dialog antara Ibnu Abī Lailā dan menteri ‘Īsā ibn Mūsā – yang memiliki sikap fanatisme sangat tinggi terhadap bangsa ‘Arab.

‘Īsā ibn Mūsā bertanya: “Siapakah ahli fikih Irak?” Aku (Ibnu Abī Lailā) menjawab: “al-Ḥasan ibn Abī al-Ḥasan.”

“Siapa lagi selainnya?” Aku jawab: “Muḥammad ibn Sīrīn.”

“Apa status keduanya?” Aku jawab: “Keduanya adalah maula, bukan orang ‘Arab.”

Sang menteri bertanya lagi: “Siapakah ahli fikih Makkah?” Aku jawab: ‘Athā’ ibn Abī Rabah, Mujāhid, Sa‘īd ibn Jubayr, dan Salmān ibn Yasār.”

“Apa status mereka?” Aku jawab: “Mereka semua maula.” Mendengar ini, wajah sang menteri mulai berubah.

Sang menteri bertanya: “Siapakah ahli fikih Quba’?” Aku jawab: “Rabī‘ah al-Ra’y dan Ibnu Abī al-Zannād.”

“Apa status keduanya?” Aku jawab: “Keduanya maula”. Wajah sang menteri mulai memerah.

“Siapakah ahli fikih di Yaman?” Aku jawab: “Thāwus dan Ibnu Munabbih.”

“Siapa mereka?” Aku jawab: “Keduanya maula.” Wajah sang menteri mengerut. Ia langsung bangkit berdiri, lalu bertanya lagi: “Siapakah ahli fikih di Khurasan?” Aku jawab: “ ‘Athā’ ibn ‘Abdul Mālik al-Khurasānī.”

“Apa status ‘Athā’ ini?” Aku jawab: “Dia seorang maula.” Wajah sang menteri kian mengerut tanda marah dan mulai menghitam membuatku takut.

Ia bertanya lagi: “Siapa ahli fikih Syam?” Aku jawab: “Makḥūl.”

“Apa status Makḥūl ini?” Aku jawab: “Dia seorang maula.”

Mendengar jawaban demikian, sang menteri menghela nafas sangat dalam tanda gregetan, lalu bertanya lagi: “Siapa ahli fikih Kufah?”

Demi Allah, seandainya bukan karena rasa takut, aku pasti akan menjawab: “Al-Ḥakam ibn ‘Uthbah dan Ḥammād ibn Abī Sulaymān.” Aku melihat adanya keburukan yang mungkin terjadi bila aku jawab demikian. Oleh sebab itu, aku mejawab “Ibrāhīm al-Nakha‘ī dan al-Sya‘bī.”

“Apa status keduanya?” Aku jawab: “Keduanya orang ‘Arab.”

Ia lantas berkata: “Allah Maha Besar”. Dan, kegeraman sang menteri langsung reda.

Politik Adiluhung

Islam mengajarkan politik adiluhung yang bersumber dari prinsip mulia hingga bisa diterima oleh akal manusia. Prinsip dasar politik Islam adalah ayat: Manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya (al-Najm [53]: 30).

Prinsip ini diajarkan oleh Rasulullah dalam sabdanya: “Tidak ada keistimewaan bagi orang ‘Arab atas orang non-‘Arab kecuali karena ketakwaan.” Inilah prinsip utama yang disebarkan oleh agama Islam di muka bumi. Di bawah naungan politik positif ini, Islam mulai bergerak menaklukkan berbagai wilayah. Lahirlah kaum filsuf non-‘Arab dan para ulama besar di lingkungan Islam, selain kaum filsuf ‘Arab. Orang-orang ‘Arab menimba ilmu di madrasah non-‘Arab dan di bawah bimbingan ulama non-‘Arab. Begitu pun orang-orang non-‘Arab. Mereka menimba ilmu di madrasah ‘Arab dan di bawah arahan orang ‘Arab. Tidak sekali pun kita menemukan di dalam kitab-kitab mereka sesuatu yang mengisyaratkan kelebihan atau keunggulan orang non-‘Arab atas orang ‘Arab. Begitu pun sebaliknya. Semuanya sama di bidang ilmu pengetahuan dan intelektualitas.

 

Mayoritas ulama pada masa Abū Ḥanīfah dan masa sesudahnya berasal dari kalangan orang non-‘Arab. Ini semua menguatkan prinsip Islam tentang persamaan dan kesetaraan di antara umat manusia di dalam bingkai sebuah peradaban yang adiluhung.

Bagikan:

BAGIAN SATU

MASA PERTUMBUHAN DAN MASA MENCARI ILMU

BAB 1

PERTUMBUHAN DAN KELUARGA

 

C. MASA PERTUMBUHAN

Awal Belajar al-Qur’ān

Abū Ḥanīfah tumbuh besar di Kufah dan menghabiskan sebagian besar hidupnya di sana. Ia tinggal di tengah keluarga yang harmonis, sejahtera, dan kaya. Hidupnya diarahkan pertama kali untuk menghafal al-Qur’ān. Setelah hafal, ia mencoba sekuat tenaga untuk tetap menjaga hafalannya. Oleh sebab itu, ia termasuk orang yang paling sering membaca al-Qur’ān, hingga diriwayatkan bahwa ia mengkhatamkan al-Qur’ān beberapa kali dalam bulan Ramadhan. Dalam sejumlah riwayat dari jalur yang berbeda-beda disebutkan: “Abū Ḥanīfah belajar al-Qur’ān dari Imām ‘Āshim, salah satu imam qira’ah tujuh.”

Kecenderungan Intelektual

Abū Ḥanīfah tumbuh di lingkungan keluarga pedagang di Kufah. Keluarganya dikenal memiliki usaha perdagangan Khazz, yaitu jenis kain yang berbahan dasar katun atau wol bercampur sutra. Tidak mengherankan bila keluarga mengarahkannya untuk bergelut di bidang yang sama, yakni perdagangan. Meski demikian, ia tetap memiliki kecenderungan rasional dan intelektualnya sendiri. Ayah dan kakeknya – mengingat hubungan keduanya dengan ‘Alī ibn Abī Thālib – juga memiliki kecenderungan yang sama dalam mendalami Islam, agama baru yang ketika itu cahayanya telah memenuhi semua wilayah di barat dan di timur.

Pusat Budaya dan Peradaban

Abū Ḥanīfah tinggal di Kufah. Di sanalah ia dilahirkan dan menjalani kehidupannya. Kufah salah satu kota besar di Irak, bahkan satu dari dua kota besar yang ada pada waktu itu.

Irak – baik sebelum maupun sesudah Islam – menjadi pusat berbagai aliran keagamaan. Irak menjadi pusat kebudayaan dan peradaban kuno.

Pada masa pra-Islam, bangsa Suryani telah tersebar banyak di daerah-daerah Irak. Mereka juga sudah mendirikan sejumlah lembaga pendidikan khusus (madrasah) yang menjadi tempat pertemuan filsafat Yunani dan ilmu hikmah Persia.

Irak dihuni oleh orang-orang dari berbagai suku dan etnis. Tak aneh bila di sana sering kali terjadi pertentangan pendapat dalam masalah politik dan dasar-dasar keyakinan. Di sana terdapat kelompok Syī‘ah, Khawārij, dan Mu‘tazilah.

Pada masa Abū Ḥanīfah, banyak tabiin dan mujtahid yang bermukim di Irak. Mereka saling bertemu, berkumpul, dan berdiskusi. Di antara mereka terdapat nama ‘Abdullāh ibn Mas‘ūd yang telah diutus oleh khalifah ‘Umar ibn Khaththāb untuk mengajarkan ilmu agama kepada penduduk Irak. Nama lainnya adalah sahabat sekaligus menantu Nabi, yaitu ‘Alī ibn Abī Thālib.

Masa Muda

Meski sibuk dalam dunia perdagangan, Abū Ḥanīfah muda menyaksikan dan menaruh perhatian pada ilmu pengetahuan dan berbagai pendapat peninggalan para sahabat di Irak. Pikirannya mulai tergugah dan terbentuk dalam satu paradigma yang kuat. Ia mulai berani berdialog dan berdebat dengan penganut agama dan aliran yang berbeda-beda. Semua itu dilakukan ketika dirinya baru menginjak usia remaja.

Bersamaan dengan itu, ia tetap fokus pada bidang perdagangan, bidang yang dianjurkan oleh orangtuanya. Ia serius menjalani hidupnya sebagai pedagang sebagai mata pencarian utama keluarganya.

 

Saat mendapatkan waktu luang di sela pekerjaan, Abū Ḥanīfah memilih menceburkan diri ke dalam kawah ilmu pengetahuan. Pilihannya ini utamanya dilandasi oleh meratanya penyebaran ilmu agama di tangan para sahabat dan tabiin, selain oleh banyaknya perdebatan dan dialog dengan aliran-aliran yang menyimpang.

Bagikan:

BAGIAN SATU

MASA PERTUMBUHAN DAN MASA MENCARI ILMU

BAB 1

PERTUMBUHAN DAN KELUARGA

 

B. TANAH KELAHIRAN

Abū Ḥanīfah dilahirkan di Kufah pada 80 Hijriah. Demikian pendapat yang paling kuat (rājiḥ), seperti yang disebutkan oleh al-Khathīb dalam sebuah riwayat tentang pernyataan Ismā‘īl, cucu Abū Ḥanīfah. Ismā‘īl berkata: “Kakekku dilahirkan pada tahun 80 Hijriah. Tsabit yang waktu itu masih kecil pernah menemui ‘Alī ibn Abī Thālib, dan ‘Alī lalu mendoakan Tsabit serta keturunannya supaya mendapat keberkahan. Kami pun berhadap Allah berkenan mengabulkan doa ‘Alī ibn Abī Thālib tersebut.”

Al-Nu‘mān ibn al-Marzubān, ayah Tsābit, pernah memberi falūdzaj (sejenis roti dari gandum) kepada ‘Alī ibn Abī Thālib saat perayaan hari Nayruz. Waktu itu al-Nu‘mān sembari berkata: “Semoga setiap hari kami adalah Nayruz.” Menurut riwayat lain hal itu terjadi pada pesta perayaan sebuah festival (mahrajan). Ia berkata: “Semoga kita merayakan festival setiap hari.”

 

Abū Ḥanīfah dilahirkan pada 80 Hijriah di Kufah, Irak. Keluarganya memiliki hubungan dengan Amirul Mu’minin ‘Alī ibn Abī Thālib.

Bagikan:

BAGIAN SATU

MASA PERTUMBUHAN DAN MASA MENCARI ILMU

BAB 1

PERTUMBUHAN DAN KELUARGA

 

A. IDENTITAS IMĀM ABŪ ḤANĪFAH

Nama dan Nasab

Nama lengkap Abū Ḥanīfah adalah al-Nu‘mān ibn Tsābit ibn al-Zuthā al-Fārisī. Inilah namanya yang paling masyhur. Atas dasar ini, berarti ia berasal dari keturunan Persia. Kakeknya berasal dari daerah Kabul yang menjadi tawanan ketika Kabul ditaklukkan bangsa ‘Arab, kemudian dibebaskan oleh Bani Taym ibn Tsa‘labah. Jadi hak wala’-nya mengikuti Bani Taym. (Maula berarti budak yang dibebaskan dan memiliki aturan hukum fikih tersendiri). Begitulah riwayat nasab Abū Ḥanīfah yang dituturkan oleh cucunya, yaitu ‘Umar ibn Ḥammād ibn Abī Ḥanīfah.

Meski demikian, cucu Abū Ḥanīfah yang lain, yaitu Ismā‘īl (saudara ‘Umar), menyebutkan bahwa nama lengkap Abū Ḥanīfah adalah al-Nu‘mān ibn Tsābit ibn al-Nu‘mān ibn al-Marzubān. Ismā‘īl berkata: “Namaku Ismā‘īl ibn Hammād al-Nu‘mān ibn Tsābit ibn al-Nu‘mān ibn al-Marzubān, dari kalangan keluarga Persia yang merdeka. Demi Allah, tak sekali pun kami pernah mengalami perbudakan.”

Nasab Asli

Lepas dari perdebatan apakah perbudakan pernah dialami oleh kakeknya atau tidak, Abū Ḥanīfah dan ayahnya lahir dalam status merdeka. Kapasitas keilmuan dan kemuliaannya tidak terpengaruh oleh perdebatan tersebut karena kemuliaan Abū Ḥanīfah bukan berdasarkan nasab atau harta, melainkan karena keunggulannya dalam ilmu pengetahuan, intelektualitas, dan ketakwaan.

Dalam hal ini al-Makki berkata: “Ketahuilah bahwa ketakwaan adalah nasab yang paling tinggi dan perantara paling kuat untuk mendapatkan pahala.” Allah berfirman: “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian adalah orang-orang yang paling bertakwa di antara kalian.” (al-Ḥujurāt: 13).

Seorang penyair bertutur:

Demi umurmu! Manusia tak lain adalah anak agamanya

Jadi, jangan menggantungkan ketakwaan pada nasab keturunan

Islam telah mengangkat (derajat) Salmān al-Fārisī

Dan kemusyrikan telah menentukan nasib Abū Lahab.

 

Abū Ḥanīfah dan orangtuanya berstatus bebas-merdeka. (Dikatakan bahwa kakeknya pernah berstatus budak, tapi kemudian dibebaskan). Kemuliaan hakiki Abū Ḥanīfah terletak pada keilmuan dan akhlaknya yang adiluhung.

Bagikan:

MENGAPA ABŪ ḤANĪFAH

 

Untuk generasi yang selalu menoleh ke kiri dan ke kanan, mencari sosok teladan yang mengusung kebebasan dan keberanian, aku persembahkan buku ini.

Mata kita harus memandang ke masa depan dan ke masa lalu secara bersamaan. Masa lalu adalah gudang perbendaharaan yang menjaga keseimbangan kita. Kita tidak akan menerima sesuatu yang tidak diketahui kecuali di tangan kita ada segenggam pengetahuan. Kita tidak bisa hidup dengan darah orang lain. Kita hidup harus dengan darah kita yang berasal dari sumber-sumber milik kita. Dengan demikian kita menjadi lebih sehat dan tegar. Jika pada hari ini kita hanya mengenal sekelumit dari perbendaharaan yang kita miliki maka kita harus melihat kembali sejarah kita. Kita harus menyadari bahwa obat tidak perlu didatangkan dari luar jika kekebalan tubuh ada dalam diri dengan membangkitkan kekuatan diri kita sendiri yang selalu hidup. Kita harus melemparkan timba ke dalam sumber yang kita miliki. Alangkah dalamnya sumber itu; alangkah dahsyatnya perbendaharaan itu.

Imām Abū Ḥanīfah adalah imam besar dan pemikir terbesar dalam hukum Islam. Dalam setiap detak jantungnya terdapat hidayah. Ilmunya dihiasi keberanian dan perjuangan yang tak kenal henti. Ia berhasil menjelaskan kepada masyarakat tentang perbedaan kerja para politisi dan tentara dengan kerja kesinambungan para ilmuwan dan pemikir. Masyakarat jadi memiliki kemampuan tertentu untuk melihat keindahan dan memilih kebaikan dalam kehidupan duniawi, ketika mereka mampu menghiasi diri dengan pelita-pelita ahli fikih. Jika terjadi pertentangan antara pikiran dan kekuasaan, antara pendapat ahli fikih dan khalifah, maka posisi pikiran tetap lebih tinggi.

Kita memiliki teladan yang baik dalam diri Imām Besar Abū Ḥanīfah. Dialah simbol berbagai pengorbanan. Dalam berbagai jalan kehidupan, kita dapat menjadikannya sebagai teladan. Kita mengikuti berbagai petunjuknya.

Hendaknya kita mengambil dari peradaban kita faktor utama kesuksesan peradaban tersebut, yaitu sikap menghargai nilai-nilai di atas hal-hal materialistis dalam kehidupan ini. Kita harus mengambil pelajaran dari apa yang telah dilakukan oleh para tokoh peradaban Barat yang hampir mendekati era kebangkrutan karena absennya nilai-nilai dalam peradaban mereka. Kita harus meneladani para tokoh peradaban kita dan berpegang teguh pada berbagai faktor lahirnya kebangkitan.

Islam pernah mengalami kejayaannya ketika para muslim berpegang teguh pada adab-adab Islam. Ketika mereka menyia-nyiakan itu semua, mengagungkan diri sendiri dan tidak mau berkorban, maka kekuatan mereka akan terberai dan kewibawaan mereka akan jatuh.

 

                                                                                      Dr. Tariq Suwaidan

Bagikan:

MUKADIMAH

 

Allah menjaga autentisitas Islam. Agama yang menawarkan ajaran jelas dan sempurna, menjadi rambu-rambu bagi orang-orang yang mencari petunjuk pada setiap zaman dan wilayah sampai Allah mengambil alih bumi dan semua manusia yang ada di atasnya.

Allah memilih para ulama untuk menjaga agama ini. Dia memilih para imam mujtahid yang berusaha keras memahami isi al-Qur’ān dan menjelaskan segala hukum yang terkandung di dalamnya. Mereka mengumpulkan dan menghafalkan Sunnah Nabi Allah serta pernyataan para sahabat dan tabiin. Mereka menyampaikan pemahaman dan pengetahuan mereka tentang al-Qur’ān, Sunnah, dan pendapat para ulama. Mereka berijtihad tentang berbagai masalah yang tidak dijelaskan nas-nas secara eksplisit. Dengan ijtihad, mereka melahirkan dan mewariskan berbagai keputusan hukum dan disiplin ilmu hingga kita mampu menjawab berbagai permasalahan, mengurai berbagai kesulitan hidup, memberikan petunjuk kepada orang-orang yang bingung dan menentukan keputusan hukum terhadap berbagai kasus yang terjadi. Mereka meletakkan kaidah-kaidah syariat yang digali dari Kitab dan Sunnah berdasarkan pemahaman mereka. Hasil ijtihad mereka menjadi pedoman dalam menyikapi berbagai kasus dan peristiwa yang terjadi pada setiap zaman.

Para ahli fikih mengikuti jejak ditelektual mereka. Para ahli fikih terus melakukan kegiatan intelektual sampai batas waktu yang Allah kehendaki.

Setiap peristiwa apa pun, di wilayah mana pun, dan pada zaman apa pun selalu pasti ada penjelasan hukumnya di dalam Islam. Karena, Islam adalah agama yang abadi. Oleh sebab itu, Islam selalu relevan pada setiap zaman dan bagi setiap masyarakat berdasarkan penjelasan para ulama yang bersumber dari al-Qur’ān, Sunnah, pendapat para sahabat, pendapat para tabiin, ijtihad para mujtahid, dan kaidah-kaidah hukum yang mereka bentuk berdasarkan analisis terhadap kaidah-kaidah syariat yang mulia.

Kita sangat perlu menampilkan sosok besar dan cahaya yang agung untuk menerangi jalan para pemuda menuju Allah di bawah rambu-rambu ilmu dan petunjuk; wawasan fikih, sikap jaga diri, ketaatan pada agama dan penghormatan pada ilmu; sikap waspada terhadap godaan dunia dan sikap tegas dalam menyatakan kebenaran. Walau, untuk semua itu dibutuhkan usaha jiwa yang diiringi dengan keikhlasan.

Sosok besar yang kami hadirkan sebagai teladan bagi para pemuda adalah tokoh besar ahli fikih, Abū Ḥanīfah Nu‘mān ibn Tsābit. Dengan mempelajari ilmu dan pengetahuan Imām Abū Ḥanīfah, kami memohon agar Allah memberikan manfaat besar kepada kita.

Buku ini dimulai dengan menuturkan sejarah Imam Besar Abū ḤanĪfah sejak kelahirannya, masa awal pertumbuhannya, dan kehidupan keluarga yang mendidiknya. Buku ini kemudian menuturkan tentang kecenderungan Imām Abū Ḥanīfah terhadap ilmu pengetahuan dan pilihan khususnya terhadap ilmu fikih.

Selanjutnya buku ini menceritakan tentang guru Imām Abū Ḥanīfah, Ḥammād ibn Abī Sulaimān, kehidupan Imām Abū Ḥanīfah bersamanya dan proses belajar Imām Abū Ḥanīfah dari Ḥammād. Selain itu, buku ini juga menjelaskan peran para guru agung Abū Ḥanīfah yang merupakan Ahlul Bait serta para ulama besar yang ada pada masa itu.

Kami juga akan menjabarkan tentang keistimewaan Imam Agung ini: karakternya, kepribadiannya yang santun, rajin beribadah, murah hati, pemberi nasihat, dan tentang pemikiran sosialnya. Selain itu, kami akan membeberkan pemikirannya yang dalam, liberal, dan mencerahkan. Ia juga sosok orator yang memukau dan cerdas dalam berdiskusi.

Soal penghasilan, perdagangan, dan etika berdagang Imām Abū Ḥanīfah yang sangat baik juga akan dijelaskan dalam buku ini. Sikap politisnya terhadap kekuasaan Bani Umayyah dan ‘Abbasiyyah pun  tidak luput dari uraian buku ini.

Di bagian ketiga, kami akan menuturkan tentang pengetahuan Imam Besar ini, termasuk pengetahuannya di bidang fikih. Selain itu, kami akan suguhkan pendapat-pendapatnya tentang riwayat hadits dan komentar para ahli hadits tentangnya.

Paparan selanjutnya adalah tentang akidah Imām Abū Ḥanīfah dan pendapatnya soal iman, qadha, qadar, dan soal kemakhlukan al-Qur’ān.

Kami juga tidak lupa menjelaskan tentang mazhab, murid-murid dan buku-buku Imām Abū Ḥanīfah. Kami akan paparkan proses penyebaran mazhabnya serta para ulama penting dan buku-buku inti dalam Mazhab Ḥanafiyyah.

Di bagian keempat kami menuturkan tentang kepergian Imam Besar ini dan beberapa pernyataan menjelang wafatnya. Kami juga menyebutkan soal komentar masyarakat tentang dirinya dan sebagian ucapannya yang disampaikan oleh masyarakat.

Kami mengakhiri buku ini dengan penutup dan memuat daftar pustaka yang kami rujuk dalam menyusun buku ini.

Tujuan penyusunan buku ini adalah memancarkan cahaya kehidupan Abū Ḥanīfah dengan metode baru dan tampilan yang unik. Para ulama besar telah menampilkan cahaya melalui sejarah hidup dan karya mereka untuk menjaga keagungan agama ini. Kita dapat berjalan sesuai dengan langkah dan metode yang mereka letakkan. Kita akan mengembalikan kebesaran dan kewibawaan umat ini. Semua itu tidak sulit bagi Allah.

Segala puji bagi Allah.

 

                                                                                      Dr. Tariq Suwaidan

Bagikan:

Bab 4

KEPRIBADIAN SYĀFI‘Ī

 

1. FISIK SYĀFI‘Ī

Ibn Shalāḥ berkata: “Postur tubuh Syāfi‘ī tinggi dan pipinya agak cekung. Lehernya panjang, demikian pula tulang paha, betis, dan lengannya. Kulitnya cokelat dan rahangnya tidak terlalu lebar. Syāfi‘ī selalu mengecat janggutnya dengan hena (daun pacar) berwarna merah tua. Suaranya merdu dan enak didengar, Keningnya lebar, wajahnya tampan dan berwibawa, serta ucapannya fasih. Ia adalah orang yang paling sopan dalam bertutur kata.”

Ibn Shalāḥ melanjutkan: “Syāfi‘ī adalah orang yang sering sakit. Diceritakan bahwa ia memiliki hidung yang lancip. Di hidungnya terdapat bekas cacar, di antara bibir bawahnya dan dagu ada sejumput bulu-bulu halus. Wajahnya berseri, giginya sangat rapi dan putih berseri.”

Baihaqī meriwayatkan dari Yūnus ibn ‘Abd al-A‘lā, ia berkata: “Syāfi‘ī memiliki postur tubuh yang sedang, kening lebar, dan kulit lembut berwarna kecokelatan. Rahangnya tidak terlalu lebar.”

Dalam kitab al-Wāfī, al-Shafadī berkata: “Syāfi‘ī bertubuh langsing, berahang tipis dengan janggut yang selalu diwarnai hena.”

Al-Muzanī berkata: “Aku tidak pernah melihat wajah sebaik wajah Syāfi‘ī. Jika ia menggenggam semua jenggotnya maka jenggot itu tidak melebihi genggaman tangannya.”

 

Syāfi‘ī seorang yang tampan. Keningnya lebar, suaranya merdu, dan postur tubuhnya baik. Penampilnya sangat berwibawa dan tutur katanya fasih.

 

2. SUARA YANG MERDU DAN BERKESAN

Dalam berbicara, suara Syāfi‘ī terkenal memiliki irama yang enak didengar. Saat membaca, suaranya mendayu-dayu. Jika ia membaca al-Qur’ān, orang-orang akan berkerumun di sampingnya hanya untuk mendengar indahnya lantunan suara dan bacaannya. Saat membaca al-Qur’ān pun ia sangat menghayati bacaannya sehingga orang-orang turut tenggelam dalam kelembutan suaranya yang merdu. Melalui bacaan Syāfi‘ī, mereka bisa mengambil ibrah sambil menangis tersedu-sedu.

Baḥar ibn Shakhr berkata: “Jika kami ingin menangis, kami saling menyarankan untuk pergi ke tempat pemuda Muththalib (Syāfi‘ī) dan mendengarkannya melantunkan al-Qur’ān. Jika kami datang ke tempat Syāfi‘ī, ia pun mulai membaca al-Qur’ān. Tak pelak, orang-orang terhanyut dan tangis mereka tak terbendung karena mendengar indahnya suara Syāfi‘ī. Jika sudah melihat apa yang mereka alami. Syāfi‘ī segera menghentikan bacaannya.”

Aḥmad ibn Shāliḥ berkata: “Jika Syāfi‘ī bersuara maka suaranya seperti bunyi lonceng karena indahnya.”

 

Selain akhlak dan fisiknya yang baik, Syāfi‘ī juga dianugerahi suara yang merdu dan mengesankan. Karena terpengaruh oleh merdunya bacaan al-Qur’ān Syāfi‘ī, banyak orang yang hanyut dan menangis.

 

3. PAKAIAN SYĀFI‘Ī

Rabi‘ ibn Sulaimān ditanya: “Bagaimana dengan pakaian Syāfi‘ī?” Ia menjawab: “Pakaiannya sangat sederhana. Ia tidak pernah memakai pakaian mewah dan mahal. Ia hanya mengenakan kain katun Baghdad. Kadang kala ia mengenakan penutup kepala yang tidak terlalu mahal harganya. Ia banyak mengenakan sorban dan sepatu bot.”

Dalam kitab al-Intiqā’ disebutkan: “Syāfi‘ī selalu mengenakan ‘imamah (penutup kepala) seperti seorang ‘Arab Badui.”

Adapun cincinnya, Rabi‘ menuturkan: “Syāfi‘ī mengenakan cincin di jari kirinya. Di cincin itu terukir kalimat Kafā billāhi tsiqatan li Muḥammad ibn Idrīs (Cukuplah Allah sebagai Tuhan yang dipercaya oleh Muḥammad ibn Idrīs).”

Dalam riwayat Ibn Abī Ḥātim al-Rāzī disebutkan: “Tulisan yang terukir di cincinnya adalah: Allāhu tsiqatu Muḥammad ibn Idrīs (Allah adalah Tuhan yang dipercaya Muḥammad ibn Idrīs).”

 

Dalam berpakaian, penampilan Syāfi‘ī sangat sederhana. Ia hanya mengenakan kain katun Baghdad, dan memakai ‘imāmah besar. Di jari kirinya, ia mengenakan cincin yang di atasnya terukir kalimat Kafā billāhi tsiqatan li Muḥammad ibn Idrīs (Cukuplah Allah sebagai Tuhan yang dipercaya oleh Muḥammad ibn Idrīs).”

 

4. KELUARGA SYĀFI‘Ī

Istri Syāfi‘ī

Aḥmad ibn Muḥammad, cicit Syāfi‘ī, menuturkan: “Istri Syāfi‘ī yang menjadi ibu bagi anak-anaknya adalah Ḥamdah bint Nafi‘ ibn ‘Anbasah ibn ‘Amr ibn ‘Utsmān.

 

Putra Pertama Syāfi‘ī

Putra pertama Syāfi‘ī adalah Abū ‘Utsmān Muḥammad ibn Muḥammad ibn Idrīs. Ia orang yang rajin menuntut ilmu, banyak mendengarkan dari ayahnya, Sufyān ibn ‘Uyainah, ‘Abdurrazzāq, dan Aḥmad ibn Ḥanbal. Abū ‘Utsmān menjabat hakim di Jazirah dan menjadi penyampai hadits di sana. Ia juga pernah menjabat hakim di kota Halab, Syam, dan menetap di sana selama beberapa tahun.

Aḥmad ibn Ḥanbal berkata kepada Abū ‘Utsmān: “Aku mencintaimu karena tiga hal: karena kau adalah putra dari Abū ‘Abdullāh, seorang dari kaum Quraisy, dan aku termasuk ahli sunnah.”

Ketika ayahnya, Syāfi‘ī, meninggal dunia, Abū ‘Utsmān telah dewasa dan ia tengah bermukim di Makkah. Dari Abū ‘Utsmān, Syāfi‘ī dikaruniai tiga orang cucu: al-‘Abbās ibn Muḥammad ibn Muḥammad ibn Idrīs, Abū Ḥasan (meninggal saat masih bayi), dan Fāthimah.

 

Putra Kedua Syāfi‘ī

Syāfi‘ī juga memiliki anak laki-laki lain yang bernama Muḥammad. Julukannya adalah Abū al-Ḥasan. Anak ini dilahirkan oleh salah satu istri Syāfi‘ī, Danānīr. Sayangnya, Abū al-Ḥasan meninggal saat masih kecil.

Muḥammad ibn ‘Abdullāh ibn al-Ḥakam berkata: “Aku mendengar Syāfi‘ī berkata: “Orang-orang banyak yang mengunggulkan air Irak, padahal di dunia ini tak ada air untuk laki-laki seperti air Mesir. Aku sendiri pernah pergi di Mesir, dan aku contohnya.”

 

Putri Syāfi‘ī

Dari istrinya yang berasal dari keluarga ‘Utsmāniah, Syāfi‘ī dikaruniai dua orang putri: Fāthimah dan Zainab. Zainab inilah yang melahirkan Aḥmad ibn Muḥammad ibn ‘Abdullāh yang terkenal dengan Ibn Binti al- Syāfi‘ī. Al-Nawawī menuturkan: “Ia adalah seorang imam terkenal, tak ada seorang pun dari keturunan Syāfi‘ī sehebat dirinya. Pada dirinya mengalir berkah kakeknya.”

 

Istri Syāfi‘ī bernama Ḥamdah binti Nafi‘. Darinya, Syāfi‘ī dikaruniai putra-putri: Abū ‘Utsmān Muḥammad, Fāthimah, dan Zainab. Syāfi‘ī juga memiliki seorang putra dari istrinya yang lain, Dananir, yaitu Muḥammad Abū al-Ḥasan yang meninggal saat masih kecil.

Bagikan:

Bab 3

PERTUALANGAN CILIK

 

1. SYĀFI‘Ī DI DUSUN

Saat semangat dan kegigihannya masih kuat di waktu kecil, Syāfi‘ī mulai mendalami bahasa ‘Arab untuk menghindari kesalahan-kesalahan dalam melafalkannya. Kala itu kesalahan dalam pelafalan banyak dialami orang ‘Arab akibat percampuran mereka dengan bangsa-bangsa non-‘Arab, khususnya terjadi di kota-kota besar. Selain itu, motivasi Syāfi‘ī mendalami bahasa ‘Arab adalah keyakinannya bahwa bahasa adalah kunci ilmu pengetahuan.

Cara terbaik untuk mempelajari bahasa ‘Arab, sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah s.a.w., adalah dengan mempelajari ilmu balāghah terlebih dahulu. Rasulullah pernah diasuh di perkampungan Bani Sa‘ad yang merupakan suku ‘Arab terfasih di zamannya. Demikian pula halnya Syāfi‘ī: ia memilih tinggal di dusun kaum Ḥudzail, kaum yang terkenal memiliki jati diri kearaban yang kuat dan mahir di bidang ilmu bayān dan syair.

Kaum Ḥudzail adalah suku ‘Arab yang paling fasih dan andal di bidang syair. Mereka banyak memiliki karya syair yang berkualitas tinggi. Semuanya bernuansa romantis dan menyentuh. Syāfi‘ī menetap di tengah kaum Ḥudzail untuk belajar bahasa dan sejarah ‘Arab. Di sana ia juga mempelajari ilmu nasab dan syair selama tujuh belas tahun (ada yang berpendapat sepuluh tahun).

 

Menghafal Syair dan Sejarah

Tentang hal ini, Syāfi‘ī bertutur: “Aku mengembara ke Makkah. Di sana aku menetap di dusun Bani Ḥudzail untuk mempelajari bahasa dan adat istiadat mereka. Bani Ḥudzail adalah suku ‘Arab yang bahasanya paling fasih. Aku selalu turut serta dalam setiap pengembaraan mereka, ke mana saja. Ketika kembali ke Makkah, aku pun mulai mahir melantunkan syair-syair, mengurut nasab-nasab, dan menyampaikan sejarah atau berita-berita bangsa terdahulu.”

Seperti itulah Syāfi‘ī mempelajari berita-berita tentang ihwal orang-orang dusun dan menghafal syair-syairnya. Namun, Syāfi‘ī lebih memfokuskan perhatiannya pada syair-syair Ḥudzail hingga ia sangat mahir dalam hal itu. Bahkan al-Ashmu‘ī, perawi beragam peninggalan sastra Jahiliah dan Islam, mengakui kepiawaan Syāfi‘ī dalam hal itu. Ia menuturkan: “Aku men-tashḥīḥ syair-syair Ḥudzail di tangan seorang pemuda Quraisy, Muḥammad ibn Idrīs.”

 

Bahasa ‘Arab adalah kunci segala ilmu. Penguasaannya dapat membantu menguasai ilmu lain. Oleh karena itu, Syāfi‘ī memilih tinggal di dusun Bani Ḥudzail, suku ‘Arab paling fasih bahasanya. Di sana ia menghafal syair-syairnya, mempelajari sejarah, dan kesasteraannya.

 

2. LATIHAN MILITER

Di dusun, Syāfi‘ī tidak hanya belajar sejarah, sastra, dan menghafal syair-syair. Ia juga mempelajari tradisi dan adat istiadat mereka yang dianggapnya baik, khususnya di bidang ketangkasan perang. Di dusun Ḥudzail, Syāfi‘ī belajar teknik memanah dan ia sangat menyukainya hingga sangat piawai dalam melakukannya. Bahkan, jika Syāfi‘ī melesatkan sepuluh anak panah, tak satu pun dari anak panah tersebut yang meleset dari sasaran.

Diriwayatkan bahwa Syāfi‘ī pernah berkata kepada murid-muridnya: “Hobiku ada dua: memanah dan menuntut ilmu. Di bidang teknik memanah, aku sangat mahir. Setiap sepuluh anak panah yang ku luncurkan, semuanya tepat mengenai sasaran.” Namun di bidang ilmu, Syāfi‘ī terdiam. Lantas para hadirin berseru: “Demi Allah, di bidang ilmu, kemampuanmu lebih hebat dibandingkan kemampuanmu dalam memanah.”

 

Air Zamzam

Syāfi‘ī menuturkan: “Aku meminum air zamzam untuk tiga hal: pertama, untuk memanah. Tingkat ketepatanku dalam memanah mencapai sembilan puluh hingga seratus persen. Kedua, aku meminum zamzam untuk ilmu. Di bidang ini, aku seperti yang kalian saksikan. Ketiga, aku meminum zamzam untuk meraih surga.”

Syāfi‘ī juga pernah berkata: “Aku selalu berlatih memanah hingga seorang dokter pernah berkata kepadaku: “Aku khawatir kau terkena penyakit kulit karena kau terlalu sering berpanas-panasan di bawah terik matahari.”

 

Penunggang Kuda yang Tidak Tertandingi

Di antara keterampilan yang dipelajari dan diperdalam oleh Syāfi‘ī di dusun adalah teknik menunggang kuda. Tak heran jika Syāfi‘ī menjadi seorang penunggang kuda yang tak tertandingi. Al-Rabi‘ menuturkan: “Syāfi‘ī adalah orang yang paling berani dan paling mahir dalam menunggang kuda. Saat menunggang kuda, ia biasa memegang telinganya sendiri dengan satu tangan, sementara tangan yang satu lagi memegang telinga kudanya. Dan kuda itu terus berlari kencang.” Ini menunjukkan kemahiran Syāfi‘ī dalam menunggang kuda.

Itulah pendidikan awal yang didapat Syāfi‘ī. Tipe pendidikan ‘Arab ideal yang mesti didapat setiap pemuda pada waktu itu: menghafal al-Qur’an, mencari hadits, memperdalam bahasa, berlatih menunggang kuda, mendalami sejarah, dan mengikuti perkembangan orang-orang kota dan desa.

 

Jiwa yang menghendaki kemuliaan tidak akan pernah rela dengan kehinaan dan tidak puas dengan yang sedikit. Syāfi‘ī tidak pernah merasa puas dengan apa yang telah ia pelajari, bahkan ia ingin menguasai teknik memanah dan menunggang kuda hingga ia menjadi piawai dan tak tertandingi dalam dua hal itu.

 

3. KEMBALI SEBAGAI SEORANG PENYAIR

Setelah menguasai ilmu bahasa, Syāfi‘ī pulang ke Makkah. Hafalan al-Qur’an dan kitab al-Muwaththa’-nya tetap ia jaga, tapi ia belum tergolong orang yang alim. Ia lebih dikenal sebagai penyair dan sastrawan. Ketika itu, para penyair dan sastrawan memiliki kedudukan yang cukup tinggi di kalangan orang ‘Arab. Syāfi‘ī memiliki majelis-majelis khusus untuk melantunkan syair-syairnya, menuturkan kisah-kisah, dan berita-berita ‘Arab, serta ragam sastranya. Banyak orang menyukai majelis-majelis seni sastra seperti ini. Sejak itulah mereka mulai sering berkumpul di sekeliling Syāfi‘ī.

 

Syāfi‘ī kembali ke Makkah sebagai sastrawan dan penyair. Tak pelak, banyak orang menghadiri majelis-majelis syairnya. Kala itu, keilmuan Syāfi‘ī di bidang agama belum menonjol.

 

4. SYĀFI‘Ī BERANGKAT KE MADINAH

Dalam perjalanannya ke Madinah, ada satu kisah menarik yang cukup terkenal. Kisah ini dituturkan sendiri oleh Syāfi‘ī seperti berikut:

“Setelah itu, aku pergi dari kota Makkah dan memilih tinggal di dusun Bani Ḥudzail. Di sana aku mempelajari bahasa dan adat istiadat mereka. Suku Ḥudzail adalah suku ‘Arab yang bahasanya paling fasih dan paling murni. Aku tinggal bersama mereka selama tujuh belas tahun. Aku biasa turut bepergian dengan mereka ke mana saja. Setelah kembali ke Makkah, aku sering melantunkan syair-syair dari Bani Zubair, keluarga pamanku, berkata kepadaku: “Wahai Abū ‘Abdillāh, aku sangat menyayangkan jika kefasihan bahasa dan kecerdasamu ini tidak disertai dengan ilmu fikih. Dengan fikih, kau akan memimpin semua generasi zamanmu.”

Aku lalu bertanya: “Kalau begitu, siapa yang harus ku tuju untuk belajar?”

“Mālik ibn Anas, pemuka kaum muslim,” jawabnya.

“Muncul keinginan untuk belajar fikih dalam hatiku. Aku pun segera mencari kitab al-Muwaththa’. Kitab itu akhirnya ku pinjam dari seseorang di Makkah. Aku langsung menghafalnya dalam sembilan malam. Setelah itu, aku berangkat menemui Gubernur Makkah. Darinya aku mengambil dua pucuk surat rekomendasi: satu ditujukan kepada Gubernur Madinah, yang satu ditujukan kepada Mālik ibn Anas.

Aku langsung berangkat menuju Madinah. Sampai di sana, ku antarkan surat itu kepada Gubernur. Setelah membaca isi surat tersebut, ia bergumam: “Perjalananku dari Madinah ke Makkah tanpa sandal ku rasa lebih ringan daripada aku harus mendatangi Mālik ibn Anas. Aku tidak berani, bahkan untuk berdiri di depan pintu rumahnya.” Gubernur Madinah merasa rendah di hadapan imam kaum muslim, Mālik ibn Anas.

Aku lalu berkata kepadanya: “Semoga Allah memperbaiki kondisi Baginda! Sudilah kiranya Baginda mengirim surat untuk memanggil Imām Mālik?”

Gubernur menjawab: “Mustahil! Sepertinya, untuk mendapatkan apa yang kami inginkan, aku dan orang-orangku harus diterpa debu terlebih dahulu agar bisa diterima di tempat Imām Mālik.” Menurut Gubernur, Imām Mālik mungkin akan terketuk hatinya saat melihat gubernur dan para pengawalnya berjalan kaki ke tempatnya.

Syāfi‘ī melanjutkan: “Akhirnya kami berjanji untuk berkumpul selepas shalat ‘Ashar. Kami berangkat bersama-sama menuju kediaman Imām Mālik. Apa yang dikatakan gubernur benar. Di tengah jalan kami diterpa debu. Setibanya di sana, salah seorang dari kami maju ke depan pintu dan mengetuknya. Seorang budak perempuan hitam keluar dari dalam.

Gubernur berkata kepadanya: “Katakan kepada tuanmu, aku ada di depan pintunya!” Budak itu pun masuk, agak lama, kemudian ia keluar lagi.

Ia berkata: “Tuanku menyampaikan salam kepadamu. Ia berpesan, jika engkau ada satu pertanyaan, tulislah pertanyaanmu, dan ia kan memberikan jawabannya. Jika engkau datang untuk meminta hadits Rasulullah maka engkau pun sudah tahu jadwal majelisnya. Datanglah ke majelis itu pada waktunya!”

Gubernur itu berkata kepada si budak: “Katakan padanya, aku membawa surat dari Gubernur Makkah untuknya. Isinya sangat penting!”

Budak itu lalu masuk dan membawakan satu kursi. Ia mempersilakan Gubernur untuk duduk. Setelah itu Mālik keluar. Penampilannya sangat gagah dan berwibawa. Ia adalah orang tua yang berpostur tinggi dan berjenggot lebat. Ia lantas duduk.

Setelah itu Gubernur menyampaikan surat kepadanya. Mālik pun membacanya. Ketika ia sampai pada paragraf: Ini adalah seorang laki-laki yang sangat berbakat…. Ajari ia hadits dan lakukan apa saja terhadapnya …. (Dalam surat itu tercatat pesan Gubernur Makkah agar Imām Mālik sudi mengajari Syāfi‘ī). Imām Mālik pun melemparkan surat tersebut. Ia marah dan berkata: “Subḥānallāh, apakah ilmu Rasulullah dipelajari dengan perantaraan seperti ini?”

Syāfi‘ī kembali menuturkan: “Aku melihat Gubernur ketakutan dan tak kuasa berbicara dengannya. Aku pun maju dan memberanikan diri untuk berbicara. Kukatakan kepadanya: “Semoga Allah memperbaiki keadaanmu. Aku ini seorang dari Bani Muththalib….” Aku pun lantas menjelaskan latar belakangku dan tujuanku dalam menuntut ilmu.

Setelah mendengar penuturanku, Imām Mālik memandangi aku. Ia memendam firasat khusus tentang aku.

“Siapa namamu?” tanyanya kepadaku.

“Muḥammad,” jawabku.

Ia lalu berkata: “Muḥammad, bertakwalah kepada Allah dan jauhi maksiat. Karena, kelak kau menjadi orang besar. Allah telah menurunkan cahaya di hatimu maka jangan kau padamkan cahaya itu dengan maksiat. Esok, datanglah kemari!”

Syāfi‘ī melanjutkan: “Di pagi hari, aku datang ke tempatnya. Aku mulai membaca kitab al-Muwaththa’ di hadapannya, sementara kitab tersebut ku pegang. Sesekali ku perhatikan Mālik, dan aku menghentikan bacaanku. Ia kagum akan bacaan dan kemampuanku meng-i‘rāb (mengeja kata-kata secara gramatikal) kata perkata.

Kemudian Imām Mālik berkata kepadaku: “Tambah lagi, wahai anak muda!”

Aku pun melanjutkan bacaanku hingga aku berhasil merampungkan kitab al-Muwaththa’ dalam beberapa hari saja. Sejak itu, aku tinggal di Madinah sampai Mālik ibn Anas wafat.”

 

Syāfi‘ī bertekad menuntut ilmu fikih ke tempat Mālik ibn Anas dengan petunjuk seorang keluarga pamannya. Ia pergi ke Madinah al-Munawwarah dan tinggal di kediaman Imām Mālik sampai Mālik wafat. Ia menuntut ilmu langsung dari Mālik dan membaca kitab al-Muwaththa’ di hadapannya.

 

5. MURID IMĀM MĀLIK

Syāfi‘ī berguru langsung kepada syaikh para ahli fikih, bahkan ulama kaum muslim terbesar di zamannya, yaitu Imām Mālik. Ia tumbuh di bawah bimbingannya, memperdalam ilmu fikih, dan mempelajari masalah-masalah yang telah difatwakan olehnya. Ketika itu, usia Syāfi‘ī telah matang.

Selama tinggal bersama Mālik, sesekali Syāfi‘ī melakukan perjalanan ke negeri-negeri Islam untuk mencari ilmu, mempelajari adat istiadat penduduknya, serta mendalami sejarah dan kondisi sosial mereka. Ia juga sering pergi ke Makkah untuk menjenguk ibunya dan meminta nasihat darinya. Ibunda Syāfi‘ī merupakan sosok muslimah yang mulia dan berakhlak tinggi. Ia sangat memahami kondisi Syāfi‘ī yang sibuk menuntut ilmu. Masa belajar Syāfi‘ī di tempat Imām Mālik tidak menghambatnya untuk mengembara dan mencari pengalaman pribadi dari berbagai pelosok negeri.

Syāfi‘ī  orang yang cerdas, tanggap, dan mudah menghafal. Ia banyak menimba ilmu dari Imām Mālik, selain dari ulama-ulama yang lain. Yang membuat Syāfi‘ī cepat menguasai ilmu fikih dan mengalahkan orang-orang di zamannya adalah dua hal: kecerdasan dan kemampuan hafalannya yang luar biasa, serta tingkat kefasihan dan kemahirannya dalam bahasa.

 

Kecerdasan dan kemampuan menghafal Syāfi‘ī disertai kefasihan bahasanya membuat Syāfi‘ī mengungguli teman-temannya di bidang ilmu dan fikih. Ia banyak mendapatkan ilmu dan sastra dari Imām Mālik, selain dari ulama-ulama lainnya.

 

Manfaat Pengembaraan

Syāfi‘ī sangat menganjurkan mengembara dan menuntut ilmu. Tentang hal ini ia menulis syair:

Orang yang berakal dan berbudaya takkan tenang berdiam di satu tempat

Karena itu, tinggalkanlah kampung halaman dan mengembaralah!

Pergilah, niscaya kau akan menemukan ganti dari orang yang kau tinggalkan

Dan berusahalah karena kenikmatan hidup ada dalam usaha

Aku melihat genangan air dapat merusak air tersebut

Sekiranya air itu mengalir, niscaya ia menjadi baik, jika ia diam maka ia menjadi rusak

Seekor singa, jika tidak meninggalkan hutan, ia tidak akan menjadi buas

Anak panah, jika tidak meninggalkan busur, ia tidak akan mengenai sasaran

Jika matahari selamanya tetap pada orbitnya

Niscaya orang ‘Arab dan non-‘Arab akan bosan melihatnya

Emas itu seperti tanah jika dibiarkan di tempat aslinya

Dahan yang jatuh ke tanah hanya akan menjadi kayu bakar

Jika seseorang mengembara maka pencariannya akan mulia

Jika ia mengembara maka ia akan mulia seperti emas.

Bagikan:

Lewat ke baris perkakas