Hati Senang

Hubungannya dengan para “Khalīfah” Sulaimān bin Yazīd.

Sulaimān bin Yazīd adalah “Khalīfah” Bani Umayyah pada masa awal keimaman Imām Muḥammad al-Bāqir r.a. Ia menerima penyerahan kekuasaan pada tahun 97 Hijriah. Tidak berbeda dengan para “Khalīfah” Bani Umayyah sebelumnya, Sulaimān bin Yazīd pun bergelimang dalam berbagai macam cara hidup yang sama sekali berlawanan dengan prinsip-prinsip ajaran Islam. Katakanlah itu soal pribadi, tetapi apakah patut jika seorang yang bergelar “Khalīfah” atau “Amīrul-Mu’minīn” memberi contoh amat buruk kepada kaum Muslimin? Kecuali itu ia tetap melaksanakan garis politik anti Ahlul-Bait Rasul Allah s.a.w. dengan segala bentuk tindakannya yang bengis dan kejam terhadap setiap orang yang dicurigai sebagai pengikut Imām ‘Alī bin Abī Thālib r.a.

Dialah seorang “Khalīfah” yang memerintahkan Penguasa Makkah dan Madīnah, Khālid bin ‘Abdullāh al-Qisriy, supaya membuat sumur “Zamzam” tiruan untuk menyaingi sumur Zamzam yang asli di Makkah. Dari sekelumit tindakannya itu saja sudah cukup diketahui bagaimana sesungguhnya pemikiran Sulaimān bin Yazīd terhadap agama Islam. Kalau terhadap agama saja ia sudah sedemikian “nekat”, apalagi terhadap kaum Muslimin yang dipandang akan dapat merugikan kedudukan dan kekuasaannya. Bukan hanya penduduk biasa saja yang menderita perlakuan sewenang-wenang dari kekuasaan Sulaimān bin Yazīd, bahkan para anggota pasukan yang berada di medan perang menghadapi musuh pun tidak luput dari tindakannya yang tak semena-mena.

Pada masa kekuasaannya muncul orang-orang yang menuntut supaya kekhalifahan dikembalikan ke tangan orang Bani Hāsyim (Ahlul-Bait) demi keselamatan ummat dan agama Islam. Mereka itu dipimpin oleh Abū Hāsyim ‘Abdullāh bin Muḥammad bin ‘Alī bin Abī Thālib r.a. Abū Hāsyim inilah yang pada akhirnya menjadi sasaran pembunuhan gelap dengan racun, di tengah perjalanan sekembalinya dari Damaskus memenuhi panggilan Sulaimān bin Yazīd. Membunuh lawan politik dengan racun secara gelap pada masa kekuasaan Bani Umayyah memang merupakan “mode” yang amat terkenal dalam sejarah, terutama pada masa kekuasaan al-Ḥajjāj bin Yūsuf.

Terjadi suatu keanehan menggelikan. Ketika Sulaimān bin Yazīd berada di Makkah untuk menunaikan ibadah Haji, ia merasa bingung karena tidak mengerti bagaimana cara melakukan ibadah itu. Ia memanggil beberapa orang ulam fiqh yang dekat dengan istananya untuk memberi petunjuk tentang manasik haji. Ternyata para “ulama” itu memberi petunjuk yang berlainan satu sama lain, sehingga menambah bingungnya Sulaimān bin Yazīd….. Peristiwa itu memang aneh, lebih-lebih karena Sulaimān bin Yazīd sendiri adalah “Amīrul-Mu’minīn”. Namun di dunia ini memang banyak hal-hal yang aneh tapi nyata!

Bagaimanakah cara Imām Muḥammad al-Bāqir r.a. melawan kesewenang-wenangan dan kerusakan akhlak Sulaimān? Ia tidak melawan Sulaimān dengan kekuatan senjata, tetapi menelanjangi keburukan-keburukannya di depan umum dengan contoh perbuatan nyata. Yang kami maksud ialah, Imām al-Bāqir r.a. memperlihatkan keagungan budipekerti dan keluhuran perilaku dalam pergaulannya sehari-hari dengan masyarakat, yaitu budipekerti dan perilaku utama yang berlawanan seratus delapan puluh derajat dengan perangai dan moral Sulaimān bin Yazīd. Dengan demikian, masyarakat dapat membedakan dengan jelas mana “emas” dan mana “loyang”, bagaimana seorang Imām dari Ahlul-Bait dan bagaiman “Khalīfah” dari Bani Umayyah. Bersamaan dengan itu Imām Muḥammad al-Bāqir r.a. terus-menerus menjelaskan kepada setiap orang, perkosaan apa yang telah dilakukan oleh Sulaimān terhadap hak-hal kaum Muslimin, terhadap kewajiban Risālah suci (agama Islam), terhadap kewajibannya sendiri sebagai penguasa, dan terhadap keadilan serta kemanusiaan. Itulah cara perlawanan yang ditempuh oleh Imām Muḥammad al-Bāqir r.a. Sudah tentu bahayanya tidak lebih ringan dibanding dengan perlawanan secara phisik. Keampuhannya pun melebihi ujung pedang.

Bagikan:

Hubungannya dengan para “Khalīfah” Bani Umayyah pada zamannya.

Imām Muḥammad al-Bāqir r.a. mengalami beberapa kali pergantian para “Khalīfah” Bani Umayyah, mulai ‘Abdul-Mālik bin Marwān, Sulaimān bin ‘Abdul-Mālik, ‘Umar bin ‘Abdul-‘Azīz, Yazīd bin ‘Abdul-Mālik hingga Hisyām bin ‘Abdul-Mālik.

Sudah barang tentu Imām Muḥammad al-Bāqir r.a. mempunyai pendirian sendiri yang jelas, tegas dan terus-terang terhadap para “Khalīfah” yang di alami selama masa hidupnya. Ia mengetahui benar apa yang dilakukan oleh masing-masing dari mereka, mulai dari soal-soal yang tampak kecil dan remeh sampai soal-soal yang besar dan penting. Ia pun tahu pula bagaimana cara menghadapi kesemuanya itu, dan bagaimana pula cara menolak dengan tegas segala sesuatu yang dipandang menyimpang dari ketentuan Allah dan Rasul-Nya.

Marilah kita ketahui lebih dahulu bagaimana hubungannya dengan “Khalīfah” ‘Abdul-Mālik bin Marwān. Meskipun ‘Abdul-Mālik bin Marwān itu seorang Khalīfah Bani Umayyah yang berkuasa pada zaman hidupnya Imām ‘Alī Zainul ‘Ābidīn r.a., tetapi banyak para ahli riwayat dan para penulis sejarah mengetengahkan kisah tentang pembuatan uang logam yang berlaku di kalangan  kaum Muslimin pada masa itu, dilakukan oleh penguasa atas dasar saran dan pendapat Imām Muḥammad al-Bāqir r.a. Kisah mengenai persoalan tersebut banyak dikutip oleh para ahli riwayat dan para penulis sejarah pada zaman-zaman berikutnya.

Konon, ketika daulat Bani Umayyah sedang menghadapi kesulitan dalam hubungan luar-negerinya dengan Rumawi, berkenaan masih terus berlakunya mata uang logam Rumawi di daerah-daerah bekas jajahannya yang telah jatuh ke tangan daulat Bani Umayyah; “Khalīfah” ‘Abdul-Mālik bin Marwān minta pendapat para pemuka masyarakat mengenai bagaimana sebaiknya mata uang logam Islam harus dibuat. Dalam suatu pertemuan, seorang bernama Rauḥ bin Zannya’ berkata kepada ‘Abdul-Mālik: “Sesungguhnya anda mengetahui jalan keluar dari persoalan ini, tetapi anda rupanya sengaja tidak mau menyebut nama orang yang sanggup memecahkan persoalan yang sedang anda hadapi”. ‘Abdul-Mālik kelihatan agar gusar, kemudian cepat-cepat bertanya: “Siapa?” Rauḥ menjawab: “al-Bāqir, orang dari Ahlul-Bait, keluarga Nabi!” “Oh, ya….. engkau benar,” kata ‘Abdul-Mālik. Ia lalu memerintahkan pegawainya supaya mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk mendatangkan Imām Muḥammad al-Bāqir r.a. dari Madīnah ke Damaskus. Kedatangannya di ibu kota daulat Bani Umayyah itu, Imām al-Bāqir r.a. mendapat sambutan baik. Ini tidak mengherankan, karena ‘Abdul-Mālik sedang membutuhkan pemikirannya.

Dalam kesempatan itu Imām Muḥammad al-Bāqir r.a. mengajukan pendapat, saran dan usul supaya mata uang logam yang akan dibuat hendaknya melukiskan akidah tauhid dan menyebut Rasul Allah s.a.w., baik pada sisi mata uang Dīnār maupun Dirham. Kecuali itu ia juga menyarankan bentuk uang emas atau perak yang akan dibuat, bagaimana cara pembuatannya, tulisan-tulisan apa yang perlu dicetak pada kedua sisinya, nilai dan berat timbangan masing-masing dari Dīnār dan Dirham, tahun pembuatan uang, daerah-daerah tempat berlaku dan peredarannya, dan lain-lain. Dengan tegas Imām Muḥammad al-Bāqir r.a. menyarankan, supaya ‘Abdul-Mālik mengundangkan berlakukannya mata uang Islam itu di seluruh wilayah Islam, dengan disertai sanksi, bahwa orang yang mempergunakan mata uang asing sebagai alat pembayaran di dalam wilayah Islam diancam dengan hukuman berat. Apa yang disarankan oleh Imām Muḥammad al-Bāqir r.a. itu semuanya diterima baik dan dilaksanakan oleh “Khalīfah” ‘Abdul-Mālik.

Demikianlah ringkasan kisah tentang pembuatan mata uang Islam pada zaman kekuasaan ‘Abdul-Mālik bin Marwān. Kisah tersebut selengkapnya dapat ditemukan dalam buku “al-Maḥāsinu wal-Masāwi” yang ditulis oleh al-Buhaifiy, jilid II halaman 129.

Dari kisah riwayat tersebut tampak jelas bahwa Imām Muḥammad al-Bāqir r.a. tidak a priori (lit. “from the earlier”) anti penguasa Bani Umayyah. Terbukti ia bersedia membantu tindakannya yang baik untuk memperkokoh kedudukan ummat Islam di mata dunia.

Perlu kiranya disebutkan, bahwa terdapat banyak riwayat yang mengatakan, pembuatan mata uang Islam yang pertama kali diberlakukan pada zaman kekhalifahan Amīrul-Mu’minīn ‘Alī bin Abī Thālib r.a. untuk menggantikan mata uang yang telah lama berlaku sebelumnya, yaitu mata uang serupa dengan mata uang Persia yang lazim disebut dengan “uang baghly”, terbuat dari logam. Pembuatan mata uang Islam pada zaman kekhalifahan Imām ‘Alī r.a. dilakukan di kota Bashrah pada tahun 40 Hijriah, tetapi sejarah mata uang Islam dinyatakan mulainya pada tahun 70 Hijriah, yaitu pada zaman kekuasaan “Khalīfah” ‘Abdul-Mālik bin Marwān.

Pada umumnya para penulis riwayat berpendapat, mungkin dua versi riwayat tentang kapan mulainya pembuatan mata uang Islam seperti tersebut di atas sama benarnya. Mata uang yang dibuat pada zaman kekhalifahan Imām ‘Alī berlaku beberapa waktu lamanya di samping masih tetap beredarnya mata uang yang dibuat oleh Rumawi. Dengan berpindahnya kekuasaan ke tangan orang-orang Bani Umayyah, mata uang yang dibuat pada zaman kekhalifahan Imām ‘Alī r.a. dihentikan peredarannya, sedangkan mata uang buatan Rumawi dibiarkan tetap berlaku, dan mata uang inilah yang kemudian diganti dengan mata uang Islam oleh ‘Abdul-Mālik berdasarkan pendapat dan saran-saran Imām Muḥammad al-Bāqir r.a.

Mengenai pembuatan mata uang Islam pada zaman kekuasaan ‘Abdul-Mālik itu terdapat satu persoalan yang menimbulkan tanda tanya, karena pada waktu itu Imām Muḥammad al-Bāqir r.a. masih berusia 19 tahun, dan ayahnya, Imām ‘Alī Zainul ‘Ābidīn r.a. masih hidup hingga tahun 94 Hijriah. Sesudah tahun itu barulah keimaman berada di tangan Imām Muḥammad al-Bāqir r.a. Karena itu terdapat kemungkinan yang menyarankan cara pembuatan dan bentuk mata uang Islam itu adalah Imam ‘Alī Zainul ‘Ābidīn r.a. Akan tetapi di samping kemungkinan itu masih ada kemungkinan yang mendekati kebenaran, yaitu Imām Muḥammad al-Bāqirlah yang menyarankan cara pembuatan dan bentuk mata uang Islam kepada ‘Abdul-Mālik, sebagaimana yang banyak diberitakan oleh berbagai riwayat. Dalam hal itu usia muda Imām al-Bāqir r.a. tidak menjadi ukuran. Tidak mustahil juga kalau Imām ‘Alī Zainul ‘Ābidīn r.a. mewakilkan putranya, Muḥammad al-Bāqir r.a., untuk mengatasi persoalan tersebut.

Marilah kita kembali kepada masalah hubungan antara Imām Muḥammad al-Bāqir r.a. dengan para “Khalīfah” Bani Umayyah yang sezaman dengan masa hidupnya.

Bagikan:

Keimanannya.

Mengenai keimanan Imām al-Bāqir r.a. sesungguhnya tidak diperlukan banyak keterangan dan penjelasan, karena persoalannya sudah sangat jelas. Ia seorang ulama puncak keturunan Ahlul-Bait yang hidup penuh taqwa kepada Allah dan Rasul-Nya, setia kepada ummat dan agamanya, besar pengabdian dan pengorbanannya, serba bersih dan suci semua segi kehidupannya. Sungguh ia memang patut diakui kedudukannya sebagai Imām (pemimpin kerohanian) oleh kaum Muslimin pada zamannya. Itu adalah wajar, karena setiap zaman di kalangan ummat Islam muncul seorang Imam atau beberapa orang Imām. Kalau di antara sebagian kaum Muslimin yang karena sangat mencintai Ahlul-Bait sehingga terlampau mengkultuskan Imām-nya, itu sama sekali berada di luar tanggungjawab Imam yang bersangkutan, karena tak ada seorang Imām pun yang menuntut kepada para pengikutnya supaya mendewa-dewakan dirinya. Adalah sudah menjadi keumuman yang terjadi dalam setiap zaman, di kalangan rakyat yang mencintai seorang pemimpin lazim muncul anasir-anasir ekstrim yang menumpahkan perasaan cintanya dalam bentuk berlebih-lebihan. Sama halnya dengan kisah cerita para Waliyyullāh di negeri kita sendiri, yang oleh sementara kalangan dilebih-lebihkan sedemikian rup sehingga tidak masuk akal. Akan tetapi itu tidak berarti bahwa kita mengingkari kehormatan yang dianugerahkan Allah kepada para auliyā’-Nya. Padahal para Waliyyullāh yang menambat petir di mesjid Demak, tidak ada Waliyyullāh yang membuat hutan bambu dengan menancapkan tongkatnya di tanah…… dan lain sebagainya. Akan tetapi menurut kenyataan banyak orang yang menyebarkan cerita-cerita semacam itu. Para Waliyyullāh tidak lebih hanyalah orang-orang saleh yang hidup penuh taqwa kepada Allah dan Rasul-Nya,  mencurahkan seluruh hidupnya untuk menda‘wahkan agama Allah, Islam, tanpa pamrih keduniawian apa pun juga. Kalau karena ketinggian taqwanya mereka itu memperoleh karunia Allah berupa keistimewaan-keistimewaan tertentu yang melebihi orang awam, itu adalah wajar. Namun bagaimana pun juga keistimewaan mereka, tidak memadai – apalagi melebihi – keistimewaan yang dikaruniakan Allah kepada Nabi dan Rasul-Nya.

Keutamaan martabat pribadi para Imām keturunan Ahlul-Bait memang memenuhi syarat untuk dipandang sebagai Imām yang berhak memimpin kehidupan kerohanian masyarakatnya masing-masing. Menurut ukuran yang wajar, memang tidak ada orang yang berhak disebut Imām atau diakui sebagai pemimpin kerohanian ummat, kecuali mereka yang memiliki kedalaman ilmu agama, luhur budipekerti dan akhlaknya, hidup zuhud dan bersih semua segi kehidupannya, rela mengabdi dan berkorban menegakkan kebenaran Allah tanpa pamrih apapun juga selain mendambakan kebenaran Allah tanpa pamrih apapun juga selain mendambakan keridhaan Allah semata-mata. Tabiat dan sifat-sifat mulia seperti itu memang dimiliki oleh para Ahlul-Bait Rasul Allah s.a.w. dan anak-cucu keturunannya yang oleh kaum Muslimin pada zamannya masing-masing dipandang sebagai Imām dan panutan. Ini tidak mengherankan, karena mereka itu merupakan orang-orang yang paling merasa wajib menghayati kehidupan sebagaimana yang dihayati oleh Rasul Allah s.a.w. Mereka merupakan orang-orang yang paling sadar akan tanggungjawab menjaga keselamatan prinsip-prinsip ajaran Islam yang dipusakakan oleh Rasul Allah s.a.w. kepada ummatnya sebagai amanat Ilahi.

Sepeninggal Imām ‘Alī Zainul ‘Ābidīn r.a. dan Imām Zaid bin ‘Alī Zainul ‘Ābidīn r.a., memang tidak ada orang lain yang cukup memiliki syarat-syarat untuk dapat dipandang dan diakui sebagai Imām kecuali Muḥammad al-Bāqir r.a. Hal itu sesuai dengan sebuah riwayat yang dikemukakan oleh az-Zuhriy sebagai berikut: Ketika Imām ‘Alī Zainul ‘Ābidīn dalam keadaan sakit keras menjelang wafatnya, aku datang menjenguknya. Kepadanya aku bertanya: “Hai putra Rasul Allah, jika keadaan mengharuskan kami, siapakah Imam kami sepeninggal anda?” Imām ‘Alī Zainul ‘Ābidīn r.a. menjawab: “Dia….. anakku (sambil menunjuk ke arah Muḥammad al-Bāqir). Dialah yang menerima wasiyatku, mewariskan keimananku dan wadah semua ilmu pengetahuan. Dialah yang akan menjadi sumber kebijaksanaan dan akan mengungkapkan semua ilmu pengetahuan (bāqirul-‘ilma)”. Ia mengatakan lebih lanjut: “Di kemudian hari para pecinta Ahlul-Bait akan beriman kepadanya, dan ia akan mengungkapkan semua bidang ilmu agama kepada mereka.”

Al-Mas‘ūdiy juga meriwayatkan sebagai berikut: Ketika merasa telah mendekati ajalnya, Imām ‘Alī Zainul ‘Ābidīn r.a. mengumpulkan segenap anggota keluarganya, kemudian menyerahkan keimanan kepada Muḥammad al-Bāqir.

Masih banyak riwayat lainnya yang menunjukkan keabsahan keimanan Muḥammad al-Bāqir r.a. Akan tetapi cukuplah kiranya kalau kami katakan saja, bahwa barang siapa yang menelaah dan mempelajari riwayat hidup Imām al-Bāqir r.a., ia pasti akan yakin bahwa putra Imām ‘Alī Zainul ‘Ābidīn itu memang berhak dipandang sebagai Imām oleh kaum Muslimin yang mencintai Ahlul-Bait (keluarga) Rasul Allah s.a.w.

Bagikan:

Beberapa Tuturkatanya yang Mengandung Hikmah.

Dalam memberikan pengajaran dan pendidikan mengenai ilmu-ilmu agama dan akhlak kepada para pengikut dan murid-muridnya, Imām Muḥammad al-Bāqir r.a. tidak pernah ketinggalan memberikan wejangan-wejangan yang sangat besar manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari di tengah masyarakat. Antara lain ia mengatakan:

– Perasaan takabur yang menyelinap di dalam hati seseorang mengakibatkan kesanggupan akalnya berkurang, sebesar atau lebih besar daripada ketakaburannya.

 

– Petir dapat menyambar orang, baik yang beriman maupun yang tidak beriman, tetapi ia tidak dapat menyambar orang yang sedang berdzikir menyebut keagungan Allah ‘azza wa jalla. (“Petir = rongrongan syaithan”).

 

– Tidak ada ibadah yang lebih afdhal daripada mensucikan perut (dari makanan yang tidak halal) dan menjaga kesucian alat kelamin (dari perbuatan zina).

 

– Betapa buruk seorang saudara yang menjagamu di saat engkau kaya, dan meninggalkan dirimu di saat engkau miskin!

 

– Apa yang ada di dalam dunia ini tidak lain hanyalah ibarat pakaian yang kaupakai, atau tunggangan yang kaukendarai, atau perempuan yang kaukawini.

 

– Aku mempunyai seorang sahabat yang besar karena ia memandang kecil keduniaan.

 

– Kepada putranya Ja‘far, ia memperingatkan: “Hati-hatilah engkau jangan sampai malas dan tercekam nafsu amarah, karena keduanya itu merupakan kunci segala keburukan. Bila engkau malas, engkau tak akan sanggup menunaikan kewajiban, dan bila engkau cekam nafsu amarah engkau tak akan tabah membela kebenaran.”

 

– Bila engkau ingin tetap memperoleh nikmat Allah, hendaklah engkau banyak bersyukur kepada-Nya. Bila engkau mengalami kelambatan rizki, hendaklah engkau banyak beristighfar (mohon ampunan) kepada Allah. Bila engkau merasa sedih hendaklah engkau banyak berucap: “Lā ḥaula wa lā quwwata illā billāh” (Tiada daya dan kekuatan selain atas izin Allah). Bila engkau merasa takut kepada orang lain, hendaklah banyak mengucap: “Ḥasbunallāhu wa ni‘mal-wakīl” (Allah-lah yang menentukan nasib kami. Dialah tempat tawakkal yang sebaik-baiknya). Bila engkau mengagumi sesuatu katakanlah: “Mā syā’ Allāh, lā quwwata illā billāh” (itulah yang telah dikehendaki Allah, tiada kekuatan selain atas izin Allah”). Bila ada orang berniat jahat terhadap dirimu ucapkanlah: “ufawwidhu amrī ilallāh, innallāha bashīrun bil-‘ibād” (kuserahkan urusanku kepada Allah. Dia Maha Mengetahui segala urusan hamba-Nya”). Bila engkau sedang dirundung malang, ucapkanlah “Lā ilāha illā anta, subḥānaka innī kuntu minazh-zhālimīn” (“tiada tuhan selain Engkau, ya Allah, sungguh aku telah berbuat zhalim.”

 

– Orang yang melinangkan air mata karena takut kepada Allah akan dihindarkan dari api neraka. Bila airmatanya sampai membasahi kedua pipinya, pada hari qiyamat kelak wajahnya tak akan suram dan hina. Segala amal perbuatan ada upahnya di dunia kecuali mengucurkan air mata karena takut kepada Allah. Dengan air mata itu Allah akan menghapuskan lautan dosa dan kesalahan orang yang bersangkutan. Bahkan seandainya orang itu menangis karena mengkhawatirkan ummatnya, Allah akan menyelamatkan ummat itu dari neraka.

 

– Allah sangat menyukai orang yang tidak suka meminta-minta kepada orang lain.

 

– Hanya doa kepada Allah sajalah yang dapat menangkal qadhā’, bila Allah menghendaki. Kebajikan yang paling cepat mendapat imbalan ialah berbuat baik dan adil, sedang perbuatan buruk yang paling cepat mendapat hukuman ialah kejahatan. Adalah hal yang paling memalukan jika orang melihat kekurangan orang lain, tetapi tidak dapat melihat kekurangan dirinya sendiri. Demikian pula orang yang menyuruh orang lain melakukan sesuatu yang ia sendiri tidak sanggup melakukannya.

 

– Di dalam kehidupan dunia ini ada tiga hal yang termasuk keutamaan yang akan mendatangkan manfaat dalam kehidupan akhirat. Pertama, hendaknya engkau memaafkan orang yang telah berbuat zhālim terhadap dirimu. Kedua, hendaknya engkau menghubungi orang yang telah memutuskan hubungan denganmu. Ketiga, hendaknya engkau bersabar menghadapi orang yang berlaku buruk kepadamu karena ia tidak mengerti.

 

– Ada tiga macam kedzaliman, yaitu: Kedzaliman yang dapat diampuni Allah, kezhaliman yang tidak diampuni Allah, dan kezhaliman yang tidak dibiarkan oleh Allah. Kezhaliman yang dapat diampuni oleh Allah yaitu kezhaliman yang dilakukan orang terhadap dirinya sendiri dalam hubungannya dengan Allah. Kezhaliman yang tidak diampuni Allah ialah perbuatan menyekutukan Allah, sedang kezhaliman yang tidak dibiarkan oleh Allah ialah hutang-piutang di antara sesama hamba Allah.

 

– Barang siapa yang lidahnya tidak pernah berdusta niscaya bersihlah amal perbuatannya. Barang siapa yang baik niatnya niscaya Allah akan menambah rezekinya. Barang siapa yang berlaku baik niscaya Allah memperpanjang umurnya.

 

– Orang yang paling menyesal pada hari kiamat ialah orang yang telah dipandang adil, tetapi kemudian tidak melaksanakan keadilan.

 

– Tiga macam perbuatan yang dirasa sangat berat oleh setiap orang yaitu: Menyantuni saudara-saudaranya dengan hartanya, mengutamakan orang lain daripada dirinya sendiri, dan ingat kepada Allah dalam segala keadaan.

 

– Tidak ada yang lebih baik daripada bersabar dengan sadar.

 

– Seorang ulama yang memanfaatkan ilmunya lebih afdhal dari pada seribu orang yang bersembah sujud.

 

– Pengikut kami (Ahlul-Bait) ialah orang yang taat kepada Allah.

 

– Janganlah engkau bermusuhan, karena itu merusak hati dan melahirkan kemunafikan.

 

– Barang siapa berkasih-sayang kepada sesama hamba Allah ia akan dikaruniai kebajikan dan ketenteraman, dan akan dikaruniai kehidupan yang baik di dunia dan akhirat. Orang yang tidak berkasih-sayang kepada sesama hamba Allah, akan dibukakan jalan baginya ke arah malapetaka.

 

– Akal pikiran seseorang akan berkurang sebesar kesombongan yang menyelinap di dalam hatinya.

 

– Kenalilah rasa persaudaraan yang ada di dalam hati sahabatmu dengan mengenal rasa persaudaraan yang ada di dalam hatimu.

 

– Kekayaan dan kemuliaan selalu berputar-putar di hati seseorang Mu’min. Manakala keduanya itu berhenti pada titik tawakkal, maka kekayaan dan kemuliaan itu akan tetap ada padanya.

 

– Segala sesuatu ada “penyakitnya”. Penyakit ilmu ialah lupa.

 

– Iblis lebih senang melihat seorang ulama meninggal dunia daripada melihat tujuh puluh orang ‘ābid (yang bersembah sujud) meninggal dunia.

 

– Tak ada yang membuat teman-temanmu simpati kepadamu selain amal kebajikanmu kepada mereka.

 

– Kesempurnaan yang paling sempurna bagi seseorang ialah: Mempelajari ilmu agama sedalam-dalamnya, sabar menghadapi kesukaran dan hidup sederhana.

 

– Bagi seorang yang benar-benar beriman, semua takdir Allah adalah baik.

 

– Orang yang kebal menerima peringatan dari Allah, peringatan dari siapa pun tak akan berguna baginya.

 

– Amal seseorang tidak akan diterima kecuali dilakukan dengan pengertian, namun tak akan ada pengertian tanpa amal. Barang siapa yang mengerti ia akan dituntun oleh pengertiannya untuk beramal. Amal tanpa pengertian tak ada artinya.

 

– Pengikut kami (Ahlul-Bait) bukan lain kecuali orang-orang yang bertaqwa kepada Allah dan taat kepada-Nya. Mereka terkenal sebagai hamba-hamba Allah yang rendah hati, merendahkan diri, setia menunaikan amanat, banyak berdzikir, banyak bersembahyang, gemar berpuasa, taat kepada ayah-ibu, menolong tetangga yang hidup kekurangan, membantu kaum miskin, menolong orang-orang yang tenggelam dalam hutang, menyantuni anak-anak yatim-piatu, selalu berkata benar, gemar membaca al-Qur’ān, mengendalikan lidah kecuali dalam kebajikan. Mereka itulah orang-orang yang dapat dipercaya dalam segala hal.

 

– Memelihara hubungan persaudaraan akan dapat membersihkan amal perbuatan, menumbuhkan harta, memperbanyak rizki, memperpanjang usia, memudahkan dan meringankan perhitungan kelak pada hari qiyamat.

 

– Kemalasan sangat merugikan kehidupan dunia dan akhirat.

 

– Orang yang mazhlūm (yang diperlakukan secara zhālim) lebih banyak mengambil pahalanya orang zhālim di akhirat kelak daripada soal-soal keduniaan yang diambil oleh orang zhālim dari si mazhlūm.

 

– Allah s.w.t. akan melindungi setiap hamba-Nya yang berniat baik.

Bagikan:

Imām Muḥammad al-Bāqir bin ‘Alī Zainul ‘Ābidīn putra al-Ḥusain bin ‘Alī bin Abī Thālib – radhiyallāhu ‘anhum – adalah seorang ulama besar dari kalangan Ahlul-Bait yang juga dikaruniai “Ilmu ghaib” oleh Allah s.w.t. – Sebuah riwayat dari Abū Bushair menceritakan sebagai berikut:

Pada suatu hari ketika aku (Abū Bushair) sedang berada di dalam masjid Nabawiy di Madīnah bersama Imām al-Bāqir, datanglah al-Manshūr dan Dāūd bin Sulaimān (sebelum kekuasaan jatuh ke tangan Bani ‘Abbās). Dāūd segera mendekati Imām al-Bāqir r.a., sedang al-Manshūr duduk di tempat yang agak jauh. Kepada Dāūd, Imām al-Bāqir r.a. bertanya: “Kenapa ad-Dawaniqiy (yakni al-Manshūr) tidak mau mendekatiku?”. Dāūd menjawab: “Ia memang orang angkuh.”

Imām al-Bāqir r.a. kemudian berkata lagi: “Di waktu mendatang ia (yakni al-Manshūr) akan menjadi penguasa yang mencekik leher rakyat. Wilayah kekuasaannya luas, mulai dari Timur sampai ke Barat. Usianya panjang dan ia akan dapat mengumpulkan harta kekayaan lebih besar daripada yang pernah dikumpulkan orang lain…..”

Apa yang dikatakan oleh Imām al-Bāqir r.a. itu disampaikan oleh Dāūd kepada al-Manshūr. Al-Manshūr lalu segera mendekati Imām al-Bāqir r.a. seraya berkata: “Yang membuatku tidak segera mendekati anda ialah kewibawaan anda” kemudian ia menanyakan persoalan yang didengarnya dari Dāūd. Imām al-Bāqir r.a. menjawab: “Ya, itu benar-benar akan terjadi.”

“Setelah aku meninggal dunia, apakah anakku juga akan tetap berkuasa?” tanya al-Manshūr.

“Ya….” sahut Imām al-Bāqir r.a.

“Manakah yang lebih lama: Masa kekuasaan Bani Umayyah ataukah masa kekuasaan kami?” tanya al-Manshūr.

“Masa kekuasaan kalian lebih lama….Anak-anak kalian akan bermain-main dengan kekuasaan seperti anak-anak bermain bola.” Jawab Imām al-Bāqir r.a.

Di kemudian hari, ketika kekuasaan jatuh ke tangan al-Manshūr ia merasa keheran-heranan setiap teringat kepada apa yang telah dikatakan oleh Imām al-Bāqir r.a. kepadanya. Demikianlah diriwayatkan dalam kitab “Jāmi‘u Karāmāt-il-Auliyā’.” Jilid I halaman 164).

  • Faidh bin Mathār menceritakan pengalamannya sendiri: Pada suatu hari aku datang ke rumah Abū Ja‘far r.a. (Imām Muḥammad al-Bāqir r.a.) dengan maksud hendak bertanya mengenai shalātul-lail (shalat sunnah di larut malam, dalam perjalanan jauh, tahajjud). Sebelum pertanyaan itu kuucapkan, ia sudah memberikan jawaban: “Rasul Allah s.a.w. melakukan shalātul-lail dalam perjalanan di atas untanya ke arah mana unta itu menghadap.”

  • ‘Abdullāh bin ‘Athā’ al-Makkiy mengatakan sebagai berikut: Pada suatu hari di Makkah aku sangat rindu kepada Abū Ja‘far. Seketika itu juga aku segera berangkat ke Madīnah. Malam hari aku tiba di Madīnah dalam keadaan basah kuyup kehujanan dan kedinginan. Aku tidak berani masuk ke dalam rumahnya hingga tengah malam. Saat itu aku berpikir: manakah yang lebih baik, mengetuk pintu rumahnya ataukah menunggu saja hingga pagi hari. Tiba-tiba kudengar suara Abū Ja‘far berkata kepada pembantunya: “Hai jariyah, bukakan pintu buat Ibnu ‘Athā’, malam ini dia kedinginan”. Beberapa saat kemudian pintu terbuka dan aku segera masuk.”

  • Ḥamzah bin Muḥammad ath-Thayyār menceritakan sebagai berikut: Pada suatu hari aku datang ke rumah Abū Ja‘far, mungkin karena sedang menerima kedatangan orang lain, saat itu ia tidak dapat menerima kedatanganku. Aku kembali ke rumah lalu berbaring di atas tempat tidur. Aku selalu memikirkan kepada siapakah aku harus menanyakan sesuatu yang selama ini mengganggu fikiranku? Orang dari kaum Murji‘ah mengatakan begini….. orang dari kaum Qadariyyah mengatakan begitu….. orang dari Ḥarūriyyah mengatakan yang lain lagi….. dan orang dari kaum Zaidiyyah mengatakan lain dari ketiga-tiganya itu. Aku berpendapat apa yang mereka katakan semuanya tidak baik. Di saat aku masih terus berfikir kepada siapa aku harus bertanya, tiba-tiba kudengar suara memanggil-manggil dan pintu rumahku diketuk orang. Dari dalam aku bertanya: “Siapakah yang di pintu?” Orang menjawab: “Suruhan Abū Ja‘far”. Ia mengajakku pergi ke rumah Abū Ja‘far. Setibanya di sana Abū Ja‘far berkata kepadaku: “Hai Muḥammad, jangan bertanya kepada orang Murji‘ah…. jangan bertanya kepada orang Qadariyyah dan jangan bertanya kepada orang Zaidiyyah, tetapi tanyakanlah kepada kami. Sesungguhnya engkau hanya perlu berbuat begini dan begitu….. dst. Apa yang dikatakan olehnya kulakukan.”

Kekeramatan yang dikaruniakan Allah s.w.t. kepada Imām al-Bāqir r.a. tampak sejak ia masih usia kanak-kanak. Dalam kitab “Ḥilyah” Abū Na‘im mengetengahkan sebuah riwayat sebagai berikut: Pada suatu hari ada seorang bertanya kepada ‘Abdullāh bin ‘Umar Ibn-ul-Khaththāb mengenai suatu masalah. Ibn ‘Umar tidak memberikan jawaban, tetapi hanya mengatakan: “Cobalah anda tanyakan saja kepada anak itu….. (ia menunjuk ke arah Muḥammad al-Bāqir) ….. kemudian beritahukan kepadaku bagaimana jawabannya”. Aku segera datang kepada Muḥammad al-Bāqir, kutanyakan sesuatu yang ingin kuketahui dan ia memberikan jawabannya. Hal itu lalu kuberitahukan kepada Ibn ‘Umar. Ketika itu Ibn ‘Umar memberikan tanggapan: “Mereka itu adalah orang-orang Ahlul-Bait ….. bisa dimengerti!”

  • Yaḥyā bin Muḥammad a-‘Ajl bin Ḥayy al-Kātib menceritakan sebagai berikut: Di saat aku sedang di tengah perjalanan antara Makkah dan Madīnah, dari kejauhan tampak bayang-bayang kadang menghilang kemudian muncul kembali. Makin lama makin dekat kepadaku, dan ketika kuamat-amati terbukti ia seorang anak lelaki berusia kurang lebih delapan tahun. Ia mengucapkan salam kepadaku dan kujawab sebagaimana mestinya. Ketika ia kutanya dari mana, ia menjawab: “Dari Allah!”  Kutanya lagi hendak ke mana, ia menjawab: “Kepada Allah!” Ia kudesak, ada urusan apa? Ia menjawab: “Urusan dengan Allah?” Ia kutanya lagi bekal apa yang dibawanya, ia menjawab: “Taqwā!” Aku benar-benar makin menjadi ingin tahu, lalu kutanya dia itu anak dari mana, dari kabilah apa dan dari keluarga siapa. Akhirnya ia menerangkan: “Aku orang ‘Arab, dari Quraisy, dari keluarga Bani Hāsyim, dan aku ini Muḥammad bin ‘Alī (Zainul ‘Ābidīn) bin al-Ḥusain bin ‘Alī bin Abī Thālib!”

Meskipun Imām Muḥammad al-Bāqir r.a. seorang ulama besar pada zamannya, tetapi ia tidak mau menggantungkan hidupnya pada bantuan orang lain. Hingga usia tua ia masih berusaha mencari nafkah untuk menghidupi dirinya bersama keluarga. Mengenai hal itu seorang sufi terkenal bernama Abū ‘Abdillāh bin Muḥammad bin al-Munkadir menceritakan pengalamannya sendiri sebagai berikut: Pada suatu hari di saat terik matahari aku pergi ke pinggiran kota Madīnah. Di sana aku melihat Muḥammad bin ‘Alī Zainul ‘Ābidīn r.a. (al-Bāqir) yang berbadan lemah itu sedang berjalan ditopang oleh dua orang pembantunya. Aku berkata di dalam hati: “Ya Allah, sungguh tidak patut seorang Quraisy terkemuka dalam keadaan panas seterik ini keluar mencari nafkah….. Ah, sebaiknya ia kuingatkan!” Aku lalu mendekatinya, kuucapkan salam dan ia pun menjawab salamku. Kulihat badannya basah karena keringat. Kepadanya aku berkata: “Anda seorang Syaikh Quraisy terkemuka. Sungguh tidak patut bagi anda dalam keadaan panas terik seperti sekarang ini keluar mencari nafkah. Bagaimanakah seandainya anda wafat dalam keadaan seperti ini?”. Mendengar pertanyaanku itu ia melepaskan diri dari topangan dua orang pembantunya dan menoleh padaku sambil berkata: “Jika aku meninggal dunia dalam keadaan seperti ini, berarti aku meninggal dunia dalam keadaan taat kepada Allah, aku tidak sampai meminta-minta kepada anda dan kepada orang lain. Yang paling ku takuti ialah kalau aku meninggal dalam keadaan berbuat maksiat terhadap Allah!” Dengan rasa kagum aku menjawab: “Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada anda. Sesungguhnya aku hendak mengingatkan anda, tetapi ternyata andalah yang mengingatkan diriku”.

Imām Muḥammad al-Bāqir r.a. sepanjang hidupnya tidak pernah putus berdzikir, kecuali dalam keadaan-keadaan tertentu yang tidak diperbolehkan agama seperti di tempat-tempat yang tidak patut diucapkan kalimat Allah. Mengenai kebiasaan hidupnya sehari-hari itu, putranya yang bernama Ja‘far (ash-Shādiq) mengatakan sebagai berikut: “Tiap saat aku makan bersama ayahku, kulihat ia terus-menerus berdzikir sambil makan. Begitu pula saat ia berjalan ke mana saja, kulihat ia selalu berdzikir. Tiap hari ia dikerumuni oleh kaum Muslimin, tetapi itu tidak menjadi penghalang baginya untuk terus berdzikir. Aku selalu melihat lidahnya bergerak terus-menerus mengucapkan kalimat: “Lā ilāha illallāh”. Kami (putra-putranya) selalu menyertai ayah berdzikir sepanjang malam hingga matahari terbit. Kemudian di antara kami ada yang disuruh membaca al-Qur’ān dan ada pula yang disuruh terus berdzikir.”

Masih banyak lagi riwayat yang mengisahkan keistimewaan-keistimewaan yang ada pada Imām Muḥammad al-Bāqir r.a. Bagi orang awam keistimewaan seperti yang terdapat di dalam riwayat-riwayat tersebut terasa aneh tetapi bagi para keturunan Ahlul-Bait yang hidup sangat taqwa kepada Allah dan patuh melaksanakan Sunnah Rasul-Nya kenyataan-kenyataan itu bukan soal yang aneh lagi. Bukan karena mereka itu “manusia-manusia sakti” seperti yang sering kita dengar dari berbagai macam dongeng, melainkan karena ketaqwaannya yang tinggi kepada Allah dan Rasul-Nya itulah yang membuat mereka menerima karunia Allah berupa keistimewaan-keistimewaan tertentu.

Bagikan:

Beberapa Kekeramatan dan Keistimewaannya.

 

Keramat atau kekeramatan dalam pengertian bahasa, bermakna “kemuliaan” atau “kehormatan”. Sebagai peristilahan khusus, kata “keramat” bermakna kemuliaan khusus yang dilimpahkan Allah s.w.t. kepada hamba-Nya yang hidup zuhud, saleh dan penuh taqwa, berupa pengetahuan mengenai soal-soal ghaib atau hal-hal lainnya yang menyimpang dari hukum kebiasaan.

Sidī ‘Abdul-Ghaniy an-Nabulsiy dalam syarah “ath-Tharīqatul-Muḥammadiyyah” menjelaskan makna “keramat” sebagai berikut: “Keramat adalah suatu persoalan yang menyimpang dari hukum kebiasaan, tanpa dapat ditentang dan tampak pada pribadi hamba Allah yang hidup saleh, mengikuti sepenuhnya tuntunan Nabi dengan iman yang mantap, keyakinan yang lurus dan amal perbuatan yang baik.”

Dalam kehidupan spiritual – kerohanian – kaum Muslimin mengenal adanya orang-orang saleh yang sangat tinggi tingkat kebaktiannya kepada Allah dan Rasul-Nya, memperoleh karunia Ilahi berupa kesanggupan mengetahui beberapa rahasia ghaib. Orang saleh yang demikian itu lazim disebut: “Waliyyullāh” atau “orang keramat”. Martabat kerohanian setinggi itu di kalangan para anggota Ahlul-Bait Rasul Allah s.a.w. bukan soal yang aneh. Hal itu bukan semata-mata karena mereka itu keturunan Rasul Allah s.a.w. melainkan karena mereka itu memiliki taraf keimanan dan ketaqwaan yang sangat tinggi dan hidup membersihkan diri dari segala macam pamrih keduniawian.

Orang tidak akan sulit mempercayai “keramat” yang ada pada para waliyyullāh, jika ia memandang persoalan itu dari sudut kekuasaan Allah s.w.t. Yang Maha Mutlak, yang dapat berbuat apa saja menurut kehendak-Nya dan melimpahkan rahmat karunia-Nya kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Tak ada apa pun yang dapat merintangi limpahan rahmat-Nya.

Mā syā’ Allāh kāna wa mā lam yasya’ lam yakun” Allah dapat berbuat apa saja menurut kehendak-Nya. Apa yang dikehendaki jadilah, dan apa yang tidak dikehendak tak akan terjadi. Itu merupakan prinsip keimanan yang tak dapat diganggu-gugat dan wajib diyakini oleh setiap insan yang beriman.

Dengan demikian tidak ada alasan syar‘iy untuk tidak membenarkan atau tidak mempercayai adanya “keramat”. Karena tidak membenarkan atau tidak mempercayai adanya “keramat” sama artinya dengan tidak membenarkan atau tidak mempercayai kemutlakan kekuasaan Allah s.w.t. untuk berbuat sesuatu menurut kehendak-Nya sekalipun akibat dari perbuatan itu menyimpang dari hukum kebiasaan yang berlaku bagi seluruh alam wujud, termasuk manusia. “Keramat” bukan hasil usaha manusia dan bukan pula suatu kekuatan atau kesanggupan yang bersumber pada kekuasaan manusia, melainkan bersumber pada kekuasaan Allah dan limpahan karunia-Nya kepada seorang hamba yang diridhai-Nya.

“Keramat” tidak mempunyai bentuk tertentu dan tidak pula terjadi dalam waktu-waktu tertentu. Soal bentuk dan waktu terjadinya, tergantung sepenuhnya pada kehendak Allah. Di antara bentuk-bentuk kekeramatan atau “keramat” yang paling banyak dibicarakan orang ialah “ilmu ghaib” atau dengan perkataan lain yang lebih jelas ialah: Mengetahui sesuatu yang belum terjadi.

“Ilmu ghaib” ada dua macam. Yang pertama ialah: Ilmu yang bersifat dzātiy dan mutlak mencakup segala sesuatu. Ilmu yang bersifat demikian itu hanya ada pada Dzāt Allah s.w.t., tak ada apa pun yang menyamai dan menyertai-Nya. Yang kedua ialah ilmu ghaib yang dilimpahkan Allah s.w.t. kepada para hamba yang dikehendaki-Nya, seperti para nabi, para rasul dan para waliyyullāh.

Mengenai sebagian dari “ilmu ghaib” yang dikaruniakan Allah s.w.t. kepada para Nabi dan para waliyyullāh, tidaklah diragukan lagi, karena banyak dalil naqli (ayat-ayat suci al-Qur’ān) telah menegaskan dengan gamblang. Antara lain dalam surat al-Jinn ayat 26-27:

Dialah Allah Maha Mengetahui segala yang ghaib. Dia tidak memperlihatkan yang ghaib itu kepada siapa pun kecuali kepada para rasul yang diridhai-Nya.”

Dan telah Kami ajarkan kepadanya (kepada Nabi Khidhir a.s.) ilmu ghaib dari sisi Kami.” (Surat al-Kahfi: 66).

Allah tidak memperlihatkan hal-hal yang ghaib kepada kalian, akan tetapi Allah memilih siapa yang dikehendaki-Nya di antara para rasul-Nya.” (S. Āli ‘Imrān: 179).

Allah mengetahui segala yang ada di hadapan dan di belakang mereka (yakni yang telah, yang sedang dan yang akan terjadi), sedangkan mereka (para hamba Allah) tidak mengetahui apa pun dari ilmu (pengetahuan) yang ada pada Allah, kecuali apa yang dikehendaki oleh-Nya.” (S. Al-Baqarah: 225).

Ilmu atau pengetahuan Allah mengenai segala sesuatu yang zhahir dan yang ghaib, adalah mutlak dan wajib bagi Dzāt-Nya. Sedangkan yang ada pada manusia tidak mutlak dan tidak wajib (tidak pasti), tetapi “mungkin” yakni bisa ada dan bisa tidak. Sebab ilmu (pengetahuan) yang ada pada manusia itu tidak bersifat dzātiy, tetapi muktasab (diperoleh dari Allah) dan tergantung pada kehendak Allah. Ilmu (pengetahuan) yang ada pada Allah tidak terbatas, sedangkan ilmu (pengetahuan) yang ada pada manusia terbatas, sebatas yang diberikan Allah kepadanya. Ilmu (pengetahuan) Allah kekal dan tidak berubah, sedangkan yang ada pada manusia tidak kekal dan berubah.

Di bawah ini kami kemukakan contoh ilmu ghaib yang oleh Allah dilimpahkan kepada Rasul-Nya, Muḥammad s.a.w., dan kepada seorang hamba-Nya yang saleh yaitu Imām Syāfi‘iy r.a.; kemudian kami susul dengan beberapa riwayat mengenai kekeramatan dan keistimewaan Imām Muḥammad al-Bāqir r.a.

“Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abū Nu‘aim di dalam kitab “ad-Dalā’il” menceritakan bahwa ‘Abdullāh bin ‘Abbās r.a. pernah berkata sebagai berikut:

“Ummul-Fadhl” (yakni bundanya sendiri) menceritakan kepadaku, bahwa pada suatu hari ia lewat di hadapan Rasul Allah s.a.w. Kepada ibuku Rasul Allah berkata: “Anda akan hamil…. dan bila bayi itu telah lahir, bawalah ia kepadaku!. Ummul-Fadhl (ibuku) terperanjat lalu berkata: “Ya Rasul Allah, bagaimana mungkin….. itu menyalahi kebiasaan orang-orang Quraisy”. Rasul Allah s.a.w. menjawab: “Ya, itulah yang kuberitahukan kepada anda!” Beberapa waktu kemudian hamillah Ummul-Fadhl dan setelah melahirkan, anaknya yang masih bayi itu dibawanya menghadap Rasul Allah s.a.w. Beliau lalu mengucapkan adzan pada telinga kanan bayi itu, dan pada telinga kirinya beliau mengucapkan iqamat, kemudian beliau memberi nama “‘Abdullāh”. Setelah itu beliau berkata: “Silakan bawa Abul-Khulafā’ (bapak para Khalīfah) ini.” Oleh Ummul-Fadhl peristiwa itu diberitahukan kepada suaminya, al-‘Abbās bin ‘Abdul-Muththalib. ‘Abbās segera datang menghadap Rasul Allah s.a.w. untuk menanyakan persoalan itu. Rasul Allah s.a.w. menjawab: “Itulah yang kuberitahukan kepada anda. Anak itu akan menjadi Abul-Khulafā’.” (11).

Imām Muḥammad bin Idrīs asy-Syāfi‘iy r.a. beberapa saat menjelang wafatnya berkata kepada beberapa orang sahabatnya: “Engkau hai Abū Ya‘qūb akan mati dalam keadaan terbelenggu!,,,, Engkau, hai Muznī, di Mesir engkau ditimpa musibah besar!…. Engkau, hai ‘Abdul-Ḥakam, besok akan kembali lagi kepada madzhab ayahmu!… Dan engkau hai Rabī‘, akan menjadi orang yang bermanfaat bagiku dalam menyebarkan buku-buku! Hai Ya‘qūb, silakan engkau tinggalkan tempat ini dan terimalah borgol…..!”

Tak lama kemudian setelah Imām Syāfi‘iy wafat pada tahun 104 H. semua yang diucapkannya itu menjadi kenyataan. Demikianlah kata al-Manawiy.

 

Catatan:


  1. 1). Diambil dari kitab: “Jāmi‘u Karāmāt-il-Auliyā’”, karangan Yūsuf bin Ismā‘īl an-Nabhāniy, halaman 165. 

Bagikan:

Situasi dan Kondisi Zamannya.

Tidak berbeda dengan situasi zaman yang dihadapi ayahandanya, Imām ‘Alī Zainul ‘Ābidīn r.a. dan saudaranya, Imām Zaid bin ‘Alī Zainul ‘Ābidīn r.a.; Imām Muḥammad al-Bāqir r.a. juga menghadapi tekanan situasi yang amat berat dirasakan oleh setiap anggota keluarga keturunan Ahlul-Bait dan oleh setiap Muslim yang jujur pada umumnya. Bersama ayah dan saudaranya ia menghadapi kekuasaan sewenang-wenang Bani Umayyah. Dengan kemantapan iman yang diwarisi dari para sesepuhnya dan dengan kebulatan hati ia bersama keluargnya turut berusaha keras memperbaiki keadaan untuk memulihkan kembali kebenaran, keadilan dan kemerdekaan serta mempertahankan nilai-nalai luhur yang telah ditetapkan agama Allah dan Rasul-Nya. Pada masa itu para penguasa Bani Umayyah sudah terlampau jauh bergelimang di dalam nafsu keduniawian sehingga tak segan-segan meremehkan nilai-nilai moral dan prinsip-prinsip ajaran Islam yang telah dibangun oleh Rasul Allah s.a.w. selama lebih dari 20 tahun. Para penguasa Bani Umayyah tanpa tedeng aling-aling menempuh cara hidup yang sama sekali menyimpang dari batas-batas yang telah ditetapkan oleh syari‘at Islam. Tidak hanya di dalam kehidupan mereka sehari-hari bersama keluarga dan para penghuni istana “kekhalifahan” saja, tetapi bahkan membiasakan para pegawai dan para penguasa bawahannya hidup meniru-niru atasannya yang berkerumun di sekitar istana Damaskus. Kehidupan raja-raja dan pangeran-pangeran Persia dan Rumawi yang mereka cela dan mereka musuhi, ternyata mereka tiru dan mereka ikuti. Keadaannya sudah terlampau jauh dibanding dengan keadaan pada zaman hidupnya Rasul Allah s.a.w. dan zaman para Khalīfah Rāsyidūn. Para penguasa Bani Umayyah sungguh menemukan impian sesepuh mereka, Abū Sufyān bin Ḥarb, ketika ia memeluk Islam setelah jatuhnya kota Makkah ke tangan kaum Muslimin. Kepemimpinan Abu Sufyan atas orang-orang Quraisy memang telah hancur dengan jatuhnya kota Makkah ke tangan kaum Muslimin, tetapi dengan jatuhnya kekhalifahan ummat Islam ke tangan Mu‘āwiyah bin Abī Sufyān, orang-orang Bani Umayyah bukan hanya menguasai semua orang Quraisy saja, melainkan menguasai juga seluruh kaum Muslimin.

Orang-orang Bani Umayyah tampaknya berpegang kepada semboyan: “Rakyat harus mengikuti raja-rajanya”. Untuk mewujudkan semboyan itu dalam kenyataan, mereka memperkokoh kedudukan dan kekuasaannya dengan cara-cara yang bertentangan dengan hatinurani manusia. Kekejaman, kezhaliman, pengejaran, pembunuhan dan penghamburan harta kekayaan ummat dilakukan sekehendak hati mereka sendiri, demi kelestarian kekuasaan dan kesenangan serta kenikmatan hidupnya. Kaum Muslimin yang jujur kepada agamanya dan yang patuh melaksanakan Sunnah Rasul-nya menjadi bulan-bulanan (orang yang mudah dijadikan korban) dan sasaran, terutama mereka yang mencintai dan mendukung Ahlul-Bait Rasul Allah s.a.w.

Akan tetapi jalan sejarah yang hendak disulap oleh para penguasa Bani Umayyah itu cukup memberi pelajaran yang sangat baik bagi kaum Muslimin tentang siapakah sebenarnya yang patut memimpin kehidupan ummat Islam. Dalam keadaan yang serba gelap tidak menentu itu ummat Islam seolah-olah dijadikan alas kekuasaan Bani Umayyah. Namun Imām Muḥammad al-Bāqir r.a. tidak membiarkan sejarah berjalan menurut kemauan para penguasa Bani Umayyah. Dengan bekerja keras ia memberi pengertian kepada ummat tentang kezhaliman dan penyimpangan yang dilakukan oleh para penguasa dari ajaran Islam yang semestinya. Ia lebih keras lagi bekerja dan berjuang pada masa kekuasaan al-Ḥajjāj bin Yūsuf, seorang penguasa yang kebengisan dan kekejamannya sangat terkenal dalam sejarah Islam. Mengenai penguasa yang bengis ini, Khalīfah ‘Umar bin ‘Abdul ‘Azīz r.a. (seorang Khalīfah Bani Umayyah satu-satunya yang hidup zuhud, jujur dan adil) mengatakan sebagai berikut: “Seandainya semua bangsa di dunia mengerahkan jin dan setannya masing-masing untuk menghadapi kita, kemudian kepada mereka kita hadapkan al-Ḥajjāj, tentu kitalah yang akan menang.”

Memang benar, bahwa Imām Muḥammad al-Bāqir r.a. dalam perjuangannya melawan kebatilan tidak menempuh cara yang ditempuh oleh saudaranya, Imām Zaid r.a., tetapi hakekat dan tujuannya adalah satu dan sama, yaitu membela keselamatan ummat dan menegakkan kebenaran Allah dan Rasul-Nya. Kisah sejarah tentang pembantaian datuknya di Karbala yang didengarnya sejak masih kanak-kanak, praktek pengejaran dan penindasan yang dilihatnya sehari-hari di masa remaja hingga dewasa, dan pendidikan yang diterimanya dari ayahandanya, semuanya itu membuatnya “matang” berfikir untuk dapat memberikan pimpinan rohani kepada kaum Muslimin yang berhimpun di sekitarnya, baik mereka yang menjadi pengikut Ahlul-Bait maupun mereka yang mengharapkan adanya perubahan keadaan.

Bagikan:

III

IMĀM MUḤAMMAD BIN ‘ALĪ AL-BĀQIR r.a.

 

Kelahirannya:

Imām Muḥammad al-Bāqir adalah putra Imām ‘Alī Zainul ‘Ābidīn r.a. Bundanya bernama Fāthimah binti al-Ḥasan bin ‘Alī bin Abī Thālib. Ia saudara Imām Zaid bin ‘Alī Zainul ‘Ābidīn dari lain ibu, sedangkan saudaranya yang seayah dan seibu ialah ‘Abdullāh bin ‘Alī Zainal ‘Ābidīn. Ia dilahirkan di Madīnah tiga tahun sebelum al-Ḥusain bin ‘Alī r.a. gugur di Karbala, tepatnya yaitu: Pada hari Jum‘at tanggal 2 bulan Shafar tahun 57 Hijrah. Baik ayahanda maupun bundanya, kedua-duanya adalah keturunan dari suami-istri Ahl-ul-Bait Rasul Allah s.a.w., yaitu Imām ‘Alī r.a. dan Siti Fāthimah az-Zahrā’ r.a. Ayahandanya, yakni Imām ‘Alī Zainal ‘Ābidīn r.a. adalah putra al-Ḥusain r.a., sedangkan bundanya, yakni Fāthimah, adalah putri al-Ḥasan r.a., dua-duanya cucu Rasul Allah s.a.w. dari putri bungsu beliau Siti Fāthimah az-Zahrā’ r.a.

Sama halnya dengan kelahiran Imām Zaid bin ‘Alī Zainul ‘Ābidīn r.a., kelahiran Imām Muḥammad al-Bāqir bin ‘Alī Zainul ‘Ābidīn, konon jauh sebelumnya telah dicanangkan oleh Rasul Allah s.a.w. Berdasarkan riwayat yang berasal dari Jabir bin ‘Abdullāh r.a. Imām al-Jalīl Ibnul Madainiy menceritakan, bahwa ia telah menyampaikan ucapan salam Rasul Allah s.a.w. kepada Imām Muḥammad al-Bāqir di kala masih kecil. Ketika itu Muḥammad al-Bāqir bertanya keheran-heranan: “Bagaimana mungkin terjadi?” Ia menerangkan riwayat yang diterimanya dari Jābir bin ‘Abdillāh mengatakan sebagai berikut: “Pada suatu hari aku datang ke tempat kediaman Rasul Allah s.a.w. Ketika itu beliau sedang bermain-main dengan cucunya, al-Ḥusain r.a., di dalam kamarnya. Sekonyong-konyong beliau berkata kepadaku (Jābir): “Hai Jābir, kelak akan lahir keturunan anak ini (al-Ḥusain r.a.) seorang anak lelaki bernama seperti namaku. Hai Jābir, jika engkau mengalami kelahirannya, sampaikanlah salamku kepadanya.” Karena Jābir bin ‘Abdillāh tidak mengalami kelahiran Muḥammad al-Bāqir maka Imām al-Jalīl Ibnul-Madainiy merasa berkewajiban menyampaikan amanat Rasul Allah s.a.w. yang dibebankan kepada Jābir.

Tidak berbeda dengan Imām Zaid bin ‘Alī Zainul ‘Ābidīn r.a., Imām Muḥammad al-Bāqir pun tumbuh dan dibesarkan dalam lingkungan keluarga suci keturunan Rasul Allah s.a.w. yang masih sangat dekat. Ia menerima asuhan dan pendidikan dari ayah-bundanya yang kedua-duanya merupakan orang-orang yang menerima ilmu pengetahuan agama Islam secara langsung dari para Ahlul-Bait Rasul Allah s.a.w. Oleh karenanya tidaklah mengherankan kalau pada usia dewasanya memperoleh nama julukan dari kaum Muslimin “al-Bāqir”, yang bermakna “orang yang sanggup memecahkan” berbagai macam kesukaran di bidang ilmu keagamaan. Selain nama julukan “al-Bāqir” ia juga mendapat nama-nama julukan lainnya dari kaum Muslimin, yaitu: “asy-Syākir Lillāh” (“Ahli Syukur kepada Allah”), “al-Hādiy” (“Pembimbing”), “al-Amīn” (“Orang Terpercaya”) dan “asy-Syabīh” (“Orang yang mirip”) karena kaum Muslimin menganggapnya mirip dengan Rasul Allah s.a.w. Akan tetapi di samping nama-nama julukan tersebut di atas, ia mempunyai satu nama panggilan yang paling dikenal umum, yaitu Abū Ja‘far (diambil dari nama putranya yang bernama Ja‘far).

Berbagai sumber riwayat melukiskan Imām Muḥammad al-Bāqir sebagai orang yang bertubuh sedang, berkulit sawomatang, dan berambut keriting. Pada sebelah pipinya terdapat tahi-lalat berwarna kehitam-hitaman, sedang pada bagian tubuhnya yang lain terdapat tahi-lalat berwarna kemerah-merahan. Airmukanya cerah, suaranya lembut dan selalu menundukkan kepala. Mengenai ilmu dan akhlaknya diriwayatkan bahwa Imām Muḥammad al-Bāqir menguasai semua ilmu keagamaan Islam, dan dalam hal ini ia merupakan tokoh puncak ulama pada zamannya. Kendatipun demikian ia tetap seorang yang rendah hati, berfikir jernih, hidup suci dan bersih, tinggi ketakwaannya kepada Allah dan patuh mengamalkan ajaran para sesepuhnya, terutama Rasul Allah s.a.w.

Sejak lahir hingga berusia tiga tahun ia tinggal bersama datuknya, al-Ḥusain r.a. Setelah datuknya gugur sebagai pahlawan syahid di Karbala, ia hidup di bawah naungan ayahandanya hingga berusia 38 tahun. Dalam kurun waktu yang sepanjang itulah ia menerima pendidikan dan pengajaran tentang pelbagai cabang ilmu agama Islam hingga benar-benar “matang”. Tak ada ajaran ayahnya yang tidak diindahkan dan tak ada teladan ayahnya yang tak dihiraukan. Semua bidang pendidikan dan pengajaran yang diterima dari ayahnya diperhatikan, dihayati dan diamalkan dengan sepenuh hati.

Bagikan:

Definisi Shaḥābat

 

Para Shaḥābat adalah orang-orang yang dipilih oleh Allah Swt untuk menjadi Shaḥābat atau teman bagi Rasūlullāh Saw.

Sedang definisi Shaḥābat menurut Ahl-us-Sunnah wal-Jamā‘ah adalah:

الصحابى من لقى النبي مؤمنا به و مات على الإسلام. (الاصابة ٧-١)

Shaḥābat adalah orang yang waktu bertemu atau berkukmpul dengan Rasūlullāh Saw dalam keadaan beriman kepadanya dan waktu mati juga berada dalam keadaan Islam. (al-Ishābah juz 1-7)

Apabila ada orang yang waktu bertemu atau berkumpul dengan Rasūlullāh Saw dalam keadaan beriman, kemudian dia keluar dari Islam (murtad), maka orang tersebut tidak termasuk atau tidak digolongkan sebagai Shaḥābat. Sebab waktu mati dia tidak dalam keadaan beriman tapi sudah murtad.

Karena itu di zaman Khalifah Abū Bakar r.a. orang-orang murtad itu diperangi.

Adapun orang-orang munāfiqīn, mereka itu tidak termasuk Shaḥābat, karena mereka itu tidak beriman, tetapi pura-pura beriman. Zhahirnya beriman, tapi bathinnya tetap kafir.

Yang mengherankan mengapa orang-orang Syī‘ah itu alergi dan sangat benci kepada para Shaḥābat. Padahal apabila kita menyebut Shaḥābat, maka di dalamnya ada Imām ‘Alī k.w., ada Siti Fāthimah r.a. dan al-Ḥasan r.a. dan al-Ḥusain r.a. serta ada Istri-istri Rasūlullāh Saw. Mereka di samping sebagai Ahl-ul-Bait juga sebagai Shaḥābat Rasūlullāh Saw.

Demikian definisi Shaḥābat menurut ‘Aqīdah Ahl-us-Sunnah wal-Jamā‘ah.

Bagikan:

Lewat ke baris perkakas