Surah al-Ma’arij 70 ~ Tafsir al-Wasith (2/3)

TABIAT MANUSIA DAN SOLUSINYA   Betapapun telah disampaikan kengerian hari kiamat yang mengisyaratkan berbagai bentuk ‘adzab terpedih, manusia tetap melawan dengan tabiat dan kecenderungannya kepada keburukan, disebabkan sifat keluh-kesah, kikir dan bakhil yang mengantarkan dirinya kepada kejahatan. Akan tetapi, meluruskan insting dan memperbaiki tabiat adalah tindakan yang bisa dilakukan. Sangat mungkin untuk melatih akhlak dan solusi berikut dengan hikmah dan perjuangan, serta di bawah naungan perhargaan terhadap nurani, demi keselamatan…

Surah al-Ma’arij 70 ~ Tafsir al-Wasith (1/3)

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang   SŪRAT-UL-MA‘ĀRIJ ANCAMAN BERUPA ‘ADZAB AKHIRAT Kaum musyrikin adalah orang-orang bodoh, mereka meminta diturunkannya ‘adzab di dunia dan meminta disegerakannya ‘adzab akhirat, sebagai bentuk tantangan, olok-olok dan pembangkangan, betapa pun al-Qur’an telah memberitahukan di‘adzabnya umat-umat sebelum mereka, yaitu orang-orang yang lebih hebat kekuatan pembangkangan, kekayaan dan kekuasaannya daripada mereka. Maka datanglah peringatan lain dari langit yang…

Surah al-Ma’arij 70 ~ Tafsir al-Munir – az-Zuhaili (7/7)

Tafsir dan Penjelasan. “Maka mengapakah orang-orang kafir itu datang bergegas ke hadapanmu (Muḥammad), dari kanan dan dari kiri dengan berkelompok-kelompok?” (al-Ma‘ārij [70]: 36-37). Bagaimana mereka, orang-orang kafir itu di sekelilingmu, wahai Nabi, mengapa mereka bergegas menuju kekufuran, pendustaan dan mengejekmu? Mereka, di samping kanan dan di samping kiri Nabi berkelompok-kelompok, terpecah-pecah, berlari dari Nabi, memisahkan diri darinya. Sebagaimana firman Allah s.w.t.: “Lalu mengapa mereka (orang-orang kafir) berpaling dari peringatan (Allah)?…

Surah al-Ma’arij 70 ~ Tafsir al-Munir – az-Zuhaili (6/7)

KEADAAN ORANG-ORANG KAFIR YANG MENDUSTAKAN RASŪLULLĀH S.A.W. DI DUNIA DAN AKHIRAT. Surah al-Ma‘ārij. Ayat 36-44. فَمَالِ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا قِبَلَكَ مُهْطِعِيْنَ. عَنِ الْيَمِيْنِ وَ عَنِ الشِّمَالِ عِزِيْنَ. أَيَطْمَعُ كُلُّ امْرِئٍ مِّنْهُمْ أَنْ يُدْخَلَ جَنَّةَ نَعِيْمٍ. كَلَّا إِنَّا خَلَقْنَاهُمْ مِّمَّا يَعْلَمُوْنَ. فَلَا أُقْسِمُ بِرَبِّ الْمَشَارِقِ وَ الْمَغَارِبِ إِنَّا لَقَادِرُوْنَ. عَلَى أَنْ نُّبَدِّلَ خَيْرًا مِّنْهُمْ وَ مَا نَحْنُ بِمَسْبُوْقِيْنَ. فَذَرْهُمْ يَخُوْضُوْا وَ يَلْعَبُوْا حَتَّى يُلَاقُوْا يَوْمَهُمُ الَّذِيْ يُوْعَدُوْنَ. يَوْمَ يَخْرُجُوْنَ مِنَ الْأَجْدَاثِ سِرَاعًا

Surah al-Ma’arij 70 ~ Tafsir al-Munir – az-Zuhaili (5/7)

3. Membayarkan zakat yang dan kewajiban-kewajiban māl (harta). “Dan orang-orang yang dalam hartanya disiapkan bagian tertentu, bagi orang (miskin) yang meminta dan yang tidak meminta” (al-Ma‘ārij [70]: 24-25). Orang-orang yang pada harta mereka ada bagian yang ditentukan untuk orang-orang yang membutuhkan dan orang-orang yang kesusahan, baik mereka meminta-minta pada orang lain atau menjaga diri. Ini mencakup zakat-zakat yang difardhukan dan semua yang diwajibkan oleh manusia untuk diri mereka sendiri, seperti…

Surah al-Ma’arij 70 ~ Tafsir al-Munir – az-Zuhaili (4/7)

SEPULUH PERKARA YANG DAPAT DIGUNAKAN UNTUK MENGOBATI TABIAT MANUSIA. Surah al-Ma‘ārij [70], Ayat 19-35   إِنَّ الْإِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوْعًا. إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوْعًا. وَ إِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوْعًا. إِلَّا الْمُصَلِّيْنَ. الَّذِيْنَ هُمْ عَلَى صَلَاتِهِمْ دَائِمُوْنَ. وَ الَّذِيْنَ فِيْ أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ مَّعْلُوْمٌ. لِّلسَّائِلِ وَ الْمَحْرُوْمِ. وَ الَّذِيْنَ يُصَدِّقُوْنَ بِيَوْمِ الدِّيْنِ. وَ الَّذِيْنَ هُمْ مِّنْ عَذَابِ رَبِّهِمْ مُّشْفِقُوْنَ. إِنَّ عَذَابَ رَبِّهِمْ غَيْرُ مَأْمُوْنٍ. وَ الَّذِيْنَ هُمْ لِفُرُوْجِهِمْ حَافِظُوْنَ. إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ

Surah al-Ma’arij 70 ~ Tafsir al-Munir – az-Zuhaili (3/7)

Kemudian Allah menegaskan penolakan penerimaan tebusan ini, dan ketidakmungkinannya sembari berfirman: “Sama sekali tidak! Sungguh, neraka itu api yang bergejolak, yang mengelupaskan kulit kepala. Yang memanggil orang yang membelakangi dan yang berpaling (dari agama), dan mengumpulkan (harta benda) lalu menyimpannya” (al-Ma‘ārij [70]: 15-18). Dia tidak menerima tebusan dari pelaku dosa, kalau saja pelaku dosa menebus siksa dengan penduduk bumi dan harta dunia, sungguh neraka Jahannam yang sangat panas adalah tempat…

Surah al-Ma’arij 70 ~ Tafsir al-Munir – az-Zuhaili (2/7)

Mufradāt Lughawiyyah. (سَأَلَ سَائِلٌ) seseorang mengundang, artinya dia memintanya. Oleh karena itu, di-muta‘addi-kan dengan bā’ (pada – سَأَلَ سَائِلٌ), artinya (as-su’āl) kadang-kadang mempunyai makna meminta sesuatu. Pada saat itu, ia di-muta‘addi-kan dengan bā’. Contohnya (سَأَلْتُ بِكَذَا) artinya aku memintanya. Aslinya su’āl mempunyai makna meminta kabar akan sesuatu. Pada saat itu, di-muta‘addi-kan dengan (عَنْ) atau (الْبَاءُ). Contohnya (سَأَلْتُ عَنْهُ، وَ سَأَلْتُ

Surah al-Ma’arij 70 ~ Tafsir al-Munir – az-Zuhaili (1/7)

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang   SŪRAT-UL-MA‘ĀRIJ MAKKIYYAH, EMPAT PULUH EMPAT AYAT Penamaan Surah Surah ini dinamakan al-Ma‘ārij (tempat-tempat naik) karena dimulai dengan firman Allah s.w.t. (تَعْرُجُ الْمَلآئِكَةُ وَ الرُّوْحُ إِلَيْهِ) “Para malaikat dan Jibrīl naik (menghadap) kepada Tuhan”. Artinya, para malaikat dan Jibrīl al-Amīn yang diberi tugas khusus oleh Allah untuk menyampaikan wahyu kepada para nabi dan rasūl…