Hati Senang

آدَابُ مَسَّ الْمُصْحَفِ وَ حَمْلِهِ وَ كِتَابَتِهِ

Adab Menyentuh, Membawa Dan Menulis al-Qur’ān

 

يَحْرُمُ عَلَى الْمُحْدِثِ وَ لَوْ أَصْغَرَ مَسَّ شَيْءٍ مِنَ الْمُصْحَفِ وَ حَمْلُهُ وَ كَذَا مَسُّ خَرِيْطَةٍ وَ صُنْدُوْقٍ فِيْهِمَا مُصْحَفٌ بِشَرْطِ أَنْ يَكُوْنَا مُعَدَّيْنِ لَهُ، وَ كَذَا مَسُّ عَلَاقَةِ اللَّائِقَةِ بِهِ بِشَرْطِ أَنْ يَكُوْنَ عَلَيْهَا الْمُصْحَفُ وَ كَذَا يَحْرُمُ عَلَيْهِ مَسُّ مَا كُتِبَ اللدِّرَاسَةِ وَ لَوْ بَعْضَ آيَةٍ كَلَوْحٍ وَ عَلَاقَتِهِ.

1. Haram orang yang berhadats walaupun hadats kecil menyentuh bagian al-Qur’ān dan membawanya, menyentuh kantong dan kotak yang di dalamnya ada al-Qur’ān dengan syarat kedua tempat itu khusus disediakan untuk al-Qur’ān, menyentuh tali yang menempel dengan al-Qur’ān, dengan syarat di atasnya ada al-Qur’ān, dan menyentuh tulisan al-Qur’ān untuk dipelajarin, walaupun sebagian ayat. Seperti menyentuh papan atau talinya (haram).

وَ يَجِبُ مَنْعُ الْمَجْنُوْنِ وَ الصَّبِيِّ الَّذِيْ لَا يُمَيِّزُ مِنْ مَسِّهِ مَخَافَةَ انْتِهَاكِ حُرْمَتِهِ، وَ أَمَّا الصَّبِيُّ الْمُمَيِّزُ فَلَا يُمْنَعُ مِنْ مَسِّ مُصْحَفٍ وَ لَوْحٍ لِدِرَاسَةٍ وَ تَعَلُّمٍ وَ لَا يُكَلَّفُ بِالطَّهَارَةِ لِذلِكَ خَوْفَ الْمَشَقَّةِ.

2. Wajib melarang orang gila dan anak kecil yang belum tamyīz untuk menyentuh al-Qur’ān karena dikhawatirkan merengut kehormatannya, adapun yang sudah tamyiz tidak dilarang menyentuhnya, begitu juga menyentuh papannya, karena untuk membaca dan belajar, anak kecil tidak dipaksakan untuk bersuci karena dikhawatirkan akan memberatkan.

وَ أَمَّ لِتَعْلِيْمٍ وَ غَيْرِهِ فَلَا يَجُوْزُ لَهُ ذلِكَ، لكِنْ أَفْتَى الْإِمَامُ ابْنُ حَجَرٍ بِأَنَّهُ يُسَامَحُ لِمُؤَدِّبِ الْأَطْفَالِ الَّذِيْ لَا يَسْتَطِيْعُ أَنْ يُقِيْمَ عَلَى الطَّهَارَةِ فِيْ مَسِّ الْأَلْوَاحِ لِمَا فِيْهِ مِنَ الْمَشَقَّةِ، لكِنَّهُ يَتَيَمَّمُ وَ هُوَ أَوْلَى، وَ يُمْنَعُ الْكَافِرُ بِتَاتًا مِنْ مَسِّ الْمُصْحَفِ كُلِّهِ أَوْ بَعْضِهِ وَ لَا يُمْنَعُ مِنْ سَمَاعِ الْقُرْآنِ، وَ يَجُوْزُ تَعْلِيْمُهُ إِنْ رَجَى إِسْلَامَهُ.

3. Adapun untuk mengajarkan atau tujuan lain, anak kecil tidak boleh menyentuhnya, tetapi menurut fatwa Ibnu Ḥajar = dimaafkan untuk guru anak-anak, yang tidak dapat terus-menerus dalam keadaan suci ketika menyentuh papan tulisan al-Qur’ān, karena hal ini memberatkannya; tetapi yang lebih utama agar dia bertayammum ketika berhadats. Orang kafir dilarang sama sekali menyentuh seluruh al-Qur’ān atau sebagiannya tidak dilarang untuk mendengar bacaan al-Qur’ān, dan boleh mengajarkannya bila diharapkan masuk Islam.

أَمَّا مَا كُتِبَ تَمِيْمَةً لِلتَّبَرُّكِ فَلَا يَحْرُمُ مَسُّهَا وَ لَا حَمْلُهَا لكِنْ بِشَرْطِ أَنْ تُجْعَلَ فِيْ حِرْزٍ يَقِيْهَا مِنْ كُلِّ أَذًى. وَ لَا يَجُوْزُ جَعْلُ صَحِيْفَةٍ بَالِيَةٍ مِنْهُ وِقَايَةً لِكِتَابٍ بَلْ يَجِبُ مَحْوُهَا بِمَاءٍ طَاهِرٍ وَ يُصَبُّ فِيْ بَحْرٍ أَوْ نَهَرٍ جَارٍ.

4. Tidak haram menyentuh tulisan al-Qur’ān dan membawanya. Yang ditulis sebagai wafak untuk mengambil berkah dengan syarat tulisan itu tersimpan dalam tempat yang terlindung dari segala kotoran. Dan tidak boleh menjadikan lembaran yang sudah usang (untuk tabarruk tersebut) hal ini karena untuk memelihara keutuhannya, tetapi wajib menghapusnya dengan air yang suci (tidak bernajis) dan dituangkan ke dalam laut atau sungai yang mengalir.

وَ يَحْرُمُ كَتْبُ الْقُرْآنِ وَ كَذَا أَسْمَاءُ اللهِ تَعَالَى بِنَجِسٍ أَوْ عَلَى نَجِسٍ وَ مَسُّهُ بِهِ إِذَا كَانَ غَيْرَ مَعْفُوٍّ عَنْهُ، وَ يُكْرَهُ كَتْبُهُ عَلَى حَائِطٍ وَ لَوْ لِمَسْجِدٍ وَ ثِيَابٍ وَ طَعَامٍ وَ نَحْوِ ذٰلِكَ، وَ يَجُوْزُ هَدْمُ الْحَائِطِ وَ لُبْسُ الثِّيَابِ وَ أَكْلُ الطَّعَامِ وَ لَا تَضُرُّ مَلَاقَاتُهُ مَا فِي الْمِعْدَةِ بِخِلَافِ ابْتِلَاعِ قِرْطَاسٍ فَإِنَّهُ يَحْرُمُ عَلَيْهِ.

5. Haram menulis al-Qur’ān dan nama-nama Allah dengan najis atau di atasnya najis dan menyentuhnya tulisan tersebut dengan najis yang tidak dimaafkan, makruh menulis al-Qur’ān di atas dinding walaupun dinding masjid, dipakaian, makanan dan lain-lain, dan boleh merubuhkan dinding tersebut, memakai pakaian dan memakan makanan tersebut, dan tidak mengapa bertemunya makanan tersebut di dalam perut besar (yang bernajis, karena makanan sudah hancur tercerna), tetapi haram menelan kertas yang bertuliskan al-Qur’ān.

وَ لَا يَجُوْزُ كَتْبُهُ عَلَى الْأَرْضِ وَ لَا عَلَى بِسَاطٍ وَ نَحْوِهِ مِمَّا يُوْطَأُ بِالْأَقْدَامِ وَ لَا يُكْرَهُ كُتْبُ شَيْءٍ مِنْهُ فِيْ إِنَاءٍ لِيُسْقَى مَاءُهُ لِلشِّفَاءِ خِلَافًا لِمَا وَقَعَ لِلْإِمَامِ ابْنِ عَبْدِ السَّلَامِ فِيْ فَتَاوِيْهِ مِنَ التَّحْرِيْمِ

6. Tidak boleh menulisnya di atas tanah atau karpet dan lain-lain yang dapat terinjak, tidak makruh menulisnya pada bejana, untuk dituang air sebagai obat penyembuhan, tetapi Imām ‘Abd-us-Salām dalam fatwa-fatwanya mengharamkan.

وَ يُسَنُّ كَتْبُهُ، وَ إِيْضَاحُهُ إِكْرَامًا لَهُ، وَ كَذَا يُسْتَحَبُّ نَقْطُهُ وَ شَكْلُهُ صِيَانَةً مِنَ اللَّحْنِ وَ التَّحْرِيْفِ، وَ يَنْبَغِيْ أَنْ يَكْتُبَ عَلَى مُقْتَضَى الرَّسْمِ الْعُثْمَانِيِّ، لَا عَلَى مُقْتَضَى الْخَطِّ الْمُتَدَاوِلِ عَلَى الْقِيَاسِ

7. Disunnahkan menulis dan menjelaskan ayat al-Qur’ān, karena memuliakannya, juga disunnahkan memberi titik dan baris karena untuk menghindari kesalahan membaca dan perubahan, dan seyogyanya ditulis berdasarkan ketentuan tulisan ‘Utsmānī, tidak berdasarkan ketentuan tulisan lain yang beredar berdasarkan kias.

وَ لَا يَجُوْزُ لِأَحَدٍ أَنْ يَطْعَنَ فِيْ شَيْءٍ مِنْ مَرْسُوْمِ الصَّحَابَةِ، إِذَا الطَّعْنُ فِي الْكِتَابَةِ كَالطَّعْنِ فِي التِّلَاوَةِ، وَ تَجِبُ صِيَانَةُ الْمُصْحَفِ مِنْ كُلِّ أَذًى، وَ يَحْرُمُ سَبُّهُ وَ الْاِسْتِخْفَافُ بِهِ.

8. Tidak boleh seseorang mencela tulisan para sahabat, karena mencela tulisan sama artinya mencela bacaan, wajib menjaga al-Qur’ān dari segala kotoran, haram mecela al-Qur’ān dan meremehkannya.

وَ يُسْتَحَبُّ تَطْيِيْبُهُ وَ تَعْظِيْمُهُ وَ جَعْلُهُ عَلَى كُرْسِيٍّ أَوْ فِيْ مَحَلٍّ مُرْتَفِعٍ فَوْقَ سَائِرِ الْكُتُبِ تَعْظِيْمًا لَهُ، وَ تَقْبِيْلُهُ قِيَاسًا عَلَى تَقْبِيْلِ الْحَجَرِ الْأَسْوَدِ، وَ الْقِيَامُ إِذَا أُقْدِمَ بِهِ، وَ عَدَّهُ بَعْضُهُمْ بِدْعَةً لِكَوْنِهِ لَمْ يُعْهَدْ فِي الصَّدْرِ الْأَوَّلِ.

9. Dianjurkan mewangikan, mengagungkan dan meletakkannya di atas kursi atau tempat tinggi di atas kitab-kitab yang lain, karena membesarkan al-Qur’ān, juga dianjurkan menciumnya karena mengkias mencium hajar aswad, begitu juga berdiri jika berhadapan dengannya, tetapi sebagian ulama menganggapnya bid‘ah karena tidak dikenal di masa permulaan Islam (berdiri jika berhadapan dengan mushḥaf).

وَ يُسْتَحَبُّ تَعَاهُدُهُ بِالْقِرَاءَةِ فِيْهِ يَوْمِيًّا، وَ يَحْرُمُ تُوَسُّدُهُ، وَ مَدُّ الرِّجْلَيْنِ إِلَيْهِ، وَ اِلْقَاءُهُ عَلَى الْقَاذُوْرَةِ، وَ الْمُسَافَرَةُ بِهِ إِلَى أَرْضِ الْعَدُوِّ إِذَا خِيْفَ وُقُوْعُهُ فِيْ أَيْدِيْهِمْ.

10. Dianjurkan perhatiannya membaca al-Qur’ān setiap hari, haram menjadikannya sebagai bantal, memanjangkan kaki (blonjor) di hadapannya, meletakkannya di tempat kotor, membawanya ketika musafir ke negeri musuh jika dikhawatirkannya, jatuh ke tangan mereka.

وَ يَحْرُمُ مَحْوُهُ بِالرِّيْقِ: أَيْ بِالْبَصْقِ عَلَيْهِ، فَإِنْ بَصَقَ عَلَى خِرْقَةٍ وَ مَحَاهُ بِهَا لَمْ يَحْرُمْ، وَ يَصِحُّ بَيْعُهُ وَ شِرَاءُهُ عَلَى الصَّحِيْحِ وَ كَرِهَهُ جَمَاعَةٌ، وَ يَحْرُمُ بَيْعُهُ مِنَ الذِّمِّيِّ مُطْلَقًا.

11. Haram menghapusnya dengan ludah, dan tidak haram, jika seseorang berludah di atas percak kain lalu dihapus dengannya, berdasarkan pendapat yang shaḥīḥ: sah menjual dan membelinya, satu kelompok ulama memakruhkan, dan haram menjualnya secara mutlak kepada kafir Dzimmī.

Bagikan:

آدَابُ الْقَارِئِ

Adab Pembaca al-Qur’ān

(Bagian 3 dari 3)

 

وَ إِذَا مَرَّ بِآيَةِ رَحْمَةٍ اسْتَبْشَرَ وَ سَأَلَ أَوْ عَذَابٍ اشْفَقَ وَ تَعَوَّذَ، أَوْ تَنْزِيْهٍ نَزَّهَ وَ عَظَّمَ، أَوْ دُعَاءٍ تَضَرَّعَ وَلْيَقُلْ بَعْدَ خَاتِمَةِ وَ التِّيْنِ: بَلَى وَ أَنَا عَلَى ذلِكَ مِنَ الشَّاهِدِيْنَ، وَ بَعْدَ خَاتِمَةِ الْقِيَامَةِ: بَلَى، وَ بَعْدَ خَاتِمَةِ الْمُرْسَلَاتِ: آمَنَّا بِاللهِ، وَ بَعْدَ خَاتِمَةِ الْمُلْكِ: اللهُ رَبُّ الْعَالَمِيْنَ. وَ بَعْدَ فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ: وَ لَا بِشَيْءٍ مِنْ نِعَمِكَ رَبَّنَا نُكَذَّبُ فَلَكَ الْحَمْدُ، وَ بَعْدَ خَتْمِ وَ الضُّحَى وَ مَا بَعْدَهَا يُكَبِّرُ، وَلْيَخْفَضْ صَوْتَهُ بِقَوْلِهِ: وَ قَالَتِ الْيَهُوْدُ عُزَيْرُ ابْنُ اللهِ، وَ قَالَتِ النَّصَارَى الْمَسِيْحُ ابْنُ اللهِ وَ إِذَا فَرَغَ مِنَ الْفَاتِحَةِ يَقُوْلُ: آمِيْنٌ

39. Dan hendaknya bergembira sambil memohon bila melewati ayat rahmat (1), takut dan mohon perlindungan bila melewati ayat adzab (2), mensucikan dan mengagungkan-Nya, bila melewati ayat tanzīh (3) (pensucian Allah dari sifat makhluk), merendah sambil berdoa, bila melewati ayat doa (4), dan hendaknya mengucapkan. (بَلَى وَ أَنَا عَلَى ذلِكَ مِنَ الشَّاهِدِيْنَ) “Ya! Saya termasuk orang yang menyaksikan hal itu”, setelah membaca surat at-Tīn.

Mengucapkan “(بَلَى) ya”, setelah mengkhatamkan surat al-Qiyāmah.

Mengucapkan: (آمَنَّا بِاللهِ) kami beriman kepada Allah, setelah mengkhatamkan surat al-Mursalāt.

Mengucapkan (اللهُ رَبُّ الْعَالَمِيْنَ) Allah Tuhan sekalian alam, setelah mengkhatamkan surat al-Mulk.

Mengucapkan (لَا بِشَيْءٍ مِنْ نِعَمِكَ رَبَّنَا نُكَذَّبُ فَلَكَ الْحَمْدُ) “Ya Tuhanku, tidak sedikitpun dari segala nikmat-Mu yang kami dustai, kepunyaan-Mu-lah segala pujian”.

Setelah membaca Firman Allah yang artinya: “Nikmat Tuhanmu yang mana yang kamu dustai”, mengucapkan (اللهُ أَكْبَرُ).

Setelah mengkhatamkan surat wadh-Dhuḥā sampai an-Nās,

Dan hendaknya merendahkan suarat ketika membaca firman Allah: (وَ قَالَتِ الْيَهُوْدُ عُزَيْرُ ابْنُ اللهِ) “berkata orang-orang Yahudi ‘Uzair itu anak Allah”, (وَ قَالَتِ النَّصَارَى الْمَسِيْحُ ابْنُ اللهِ) “berkata orang-orang Nasrani: ‘Isa al-Masih itu anak Allah”,

Dan hendaknya mengucapkan (آمِيْنٌ) “terimalah ya Allah” setelah selesai membaca surat al-Fātiḥah.

1). Setelah firman Allah (يَغْفِرْ لَكُمْ وَ اللهُ غَفُوْرٌ رَحِيْمٌ) dianjur membaca (رَبِّ اغْفِرْ وَ ارْحَمْ وَ أَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ).

2). Setelah firman Allah (وَ لكِنْ حَقَّتْ كَلِمَةُ الْعَذَابِ عَلَى الْكَافِرِيْنَ) dianjur membaca (رَبِّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْعَذَابِ).

3). Setelah firman Allah (سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى) dianjurkan membaca (سُبْحَانَ رَبِّيَ الْأَعْلَى).

4). Setelah firman Allah (وَ إِذَا سَأَلَكَ عِبَادِيْ عَنِّيْ فَإِنِّيْ قَرِيْبٌ) dianjurkan membaca (اللهُمَّ أُمِرْتُ بِالدُّعَاءِ وَ تَكَلَّفْتُ بِالْإِجَابَةِ لَبَّيْكَ اللهُمَّ لَبَّيْكَ لَا شَرِيْكَ لَكَ إِنَّ الْحَمْدَ وَ النَّعْمَةَ لَكَ وَ الْمُلْكُ لَا شَرِيْكَ لَكَ أَشْهَدُ أَنَّكَ فَرْدٌ أَحَدٌ صَمَدٌ لَمْ يَلِدُ وَ لَمْ يُوْلَدْ وَ لَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ وَ أَشْهَدُ أَنَّ وَعْدَكَ حَقٌّ.).

وَ يُسْتَحَبُّ أَنْ يُكْثِرَ مِنَ الْبُكَاءِ عِنْدَ الْقِرَاءَةِ وَ التَّبَاكِيْ لِمَنْ لَا يَقْدِرُ عَلَيْهِ وَ الْحَزَنِ وَ الْخُشُوْعِ، وَ طَرِيْقُ تَكَلُّفِ الْبُكَاءِ أَنْ يُحْضِرَ قَلْبَهُ الْحَزَنَ فَمِنَ الْحَزَنِ يَنْشَأُ الْبُكَاءُ، وَ وَجْهُ إِحْضَارِ الْحَزَنِ أَنْ يَتَأَمَّلَ مَا فِيْهِ مِنَ التَهْدِيْدِ وَ الْوَعِيْدِ، وَ الْمُوَاثِيْقِ وَ الْعُهُوْدِ، ثُمَّ يَتَأَمَّلَ فِيْ تَقْصِيْرِهِ فِي امْتِثَالِ أَوَامِرِه وَ زَوَاجِرِهِ فَيَحْزَنُ لَا مَحَالَةَ وَ يَبْكِيْ، فِإِنْ لَمْ يَحْضُرْهُ حَزَنٌ وَ بُكَاءٌ كَمَا يَحْضُرُ أَرْبَابَ الْقُلُوْبِ الصُّوْفِيَّةِ فَلْيَبْكِ عَلَى فَقْدِ ذلِكَ مِنْهُ، فَإِنَّهُ مِنْ أَعْظَمِ الْمَصَائِبِ.

40. Disunnahkan ketika membaca untuk memperbanyak menangis, atau pura-pura menangis bagi orang yang tidak mampu menangis, juga dianjurkan memperbanyak sedih dan khusyu‘. Cara menangis yaitu menghadirkan duka cita di dalam hati, akibat duka cita ini maka akan timbul menangis, dan cara menghadirkan duka cita dengan merenungi segala isi al-Qur’ān baik berupa ancaman, dan janji-janji siksaan lalu merenungi segala kelalaian dalam menjunjung perintah-perintah dan larangan-laranganNya, kalau ini direnungi pada akan timbul duka cita dan menangis, sebagaimana yang dilakukan orang-orang sufi, kalau cara ini belum berhasil hendaknya dia tangisi dirinya yang tidak bisa menangis dan bersedih hati, dan inilah musibah yang paling besar (tidak bisa menangis).

وَ يُسْتَحَبُّ أَنْ يُرَعِيَ حَقَّ الْآيَاتِ، فَإِذَا مَرَّ بِآيَةِ سَجْدَةٍ مِنْ سَجْدَاتِ التِّلَاوَةِ سَجَدَ نَدْبًا. خِلَافًا لِلْحَنَفِيَّةِ حَيْثُ قَالُوْا بِوُجُوْبِهَا وَ هِيَ عِنْدَ الشَّافِعِيَّةِ فِي الْجَدِيْدِ أَرْبَعَ عَشْرَةَ سَجْدَةً فِي الْأَعْرَافِ، وَ الرَّعْدِ، وَ النَّحْلِ، وَ الْإِسْرَاءِ، وَ مَرْيَمَ، وَ اثْنَانِ فِي الْحَجِّ، وَ فِي الْفُرْقَانِ، وَ النَّمْلِأ وَ الم السَّجْدَةِ، حم السَّجْدَةِ، وَ النَّجْمِ، وَ الْاِنْشِقَاقِ، وَ الْعَلَقِ، أَمَّا سَجْدَةُ ص فَسَجْدَةُ شُكْرِ

41. Dianjurkan untuk memperhatikan hak segala ayat, disunnahkan sujud tilawah bilamana melewati ayat sajadah, menurut Ulama Ḥanafī wajib sujud tilawah. Berdasarkan Qaul Jadīd Ulama Syāfi‘iyyah (1) tempat-tempat sujud tilawah ada 14 tempat: 1. Surat al-A‘rāf, 2. Ar-Ra‘du, 3. An-Naḥl, 4. Al-Isrā’, 5. Maryam, 6. Dua tempat pada surat al-Ḥajj, 7. Al-Furqān, 8. An-Naml, 9. Alif lām mīm as-Sajadah, 10. Ḥa mīm as-Sajadah, 11. An-Najm, 12. Al-Insyiqāq, 13. Al-‘Alaq, adapun surat Shād termasuk sujud syukur.

1). Ketika Imām Syāfi‘ī berfatwa di Mesir.

وَ عِنْدَ الْحَنَفِيَّةِ ارْبَعَ عَشْرَةَ أَيْضًا، لكِنْ بِإِسْقَاطِ ثَانِيَةِ الْحَجِّ. وَ اثْبَاتِ سَجْدَةِ ص وَ عَنْ أَحْمَدَ رَوَايَتَانٍ، إِحْدَاهُمَا كَالشَّافِعِيَّةِ وَ الثَّانِيَةُ خَمْسَ عَشْرَةَ سَجْدَةً، وَ عَنْ مَالِكٍ قَوْلَانِ. أَوَّلُهُمَا كَالشَّافِعِيَّةِ وَ الثَّانِيْ إِحْدَى عَشْرَةَ بِإِسْقَاطِ النَّجْمِ وَ الْاِنْشِقَاقِ وَ الْعَلَقِ وَ يَدْعُوْ فِيْ سُجُوْدِهِ بِمَا يَلِيْقُ بِالْآيَةِ الَّتِيْ قَرَأَهَا.

42. Menurut Mazhab Ḥanafī juga ada 14 tempat, tetapi tidak memasukkan yang kedua dari surat al-Ḥajj, dan menetapkan sajadah surat Shād. Imām Aḥmad mempunyai dua riwayat, yang pertama seperti ulama Syāfi‘iyyah dan yang kedua ada 15 tempat sujud, Imām Mālik mempunyai dua pendapat, yang pertama seperti ulama Syāfi‘iyyah, dan yang kedua hanya ada 11 tempat, tidak memasukkan surat an-Najm, Insyiqāq dan al-‘Alaq, dan dianjurkan berdoa dalam sujudnya doa yang sesuai dengan ayat yang dibaca.

وَ يُشْتَرَطُ فِيْ هذِهِ السَّجْدَاتِ شُرُوْطُ الصَّلَاةِ مِنْ سَتْرِ الْعَوْرَةِ وَ اسْتِقْبَالِ الْقِبْلَةِ وَ طَهَارَةِ الثَّوْبِ وَ الْبَدَنِ وَ الْمَكَانِ وَ مَنْ لَمْ يَكُنْ عَلَى طَهَارَةٍ عِنْدَ التِّلَاوَةِ يَسْجُدُ بَعْدَ أَنْ يَتَطَهَّرَ.

43. Sujud tilawah ini disyaratkan seperti syarat-syarat shalat seperti menutup aurat, menghadap qiblat, suci badan, pakaian dan tempat, jika ketika membaca tidak dalam keadaan suci, maka sujud setelah bersuci dahulu (berwudhu’/tidak berhadats).

وَ يُسَنُّ أَنْ يَتَعَاهَدَ الْقُرْآنَ وَ يُكْثِرَ مِنْ قِرَاءَتِهِ مَا أَمْكَنَ فِيْ كُلِّ وَقْتٍ بِلَا اسْتِثْنَاءٍ، خِلَافًا لِمَنْ كَرِهَهَا بَعْدَ صَلَاةِ الْعَصْرِ، وَ قَالَ إِنَّهَا مِنْ فِعْلِ الْيَهُوْدِ.

44. Disunnahkan memperhatikan bacaan al-Qur’ān dan banyak membacanya pada setiap waktu. Semaksimal mungkin, tanpa terkecuali walaupun setelah shalat ‘Ashar, ada ulama yang memakruhkan karena menyerupai perbuatan orang-orang Yahudi (yang membaca kitab mereka setelah ‘Ashar).

وَ لْيَكُنِ اعْتِنَاؤُهُ بِهَا فِي اللَّيْلِ أَكْثَرَ، لِكَوْنِهِ أَجْمَعَ لِلْقَلْبِ وَ أَبْعَدَ عَنِ الشَّاعِلَاتِ وَ الْمُلْهِيَاتِ، وَ أَصْوَنَ عَنِ الرِّيَاءِ وَ غَيْرِهِ مِنَ الْمحْبِطَاتِ.

45. Tetapi hendaknya perhatian membaca al-Qur’ān di malam hari lebih banyak, karena hati lebih konsentrasi, jauh dari kebimbangan dan kelalaian, lagi lebih terpelihara dari riya’ dan lain-lain yang dapat menggugurkan pahala.

وَلْيَحْتَرِسْ مِنْ نِسْيَانِه، فَإِنَّ نِسْيَانَهُ كَبِيْرَةٌ، وَ كَذَا نِسْيَانُ شَيْءٍ مِنْهُ كَمَا صَرَّحَ بِهِ النَّوَوِيُّ فِي الرَّوْضَةِ وَ غَيْرِهَا، وَ إِذَا أَرْتَجَ عَلَى الْقَارِئِ فَلَمْ يَدْرِ مَا بَعْدَ الْمَوْضِعِ الَّذِي انْتَهَى إِلَيْهِ فَسَأَلَ عَنْهُ غَيْرَهُ، فَيَنْبَغِيْ أَنْ يَتَأَدَّبَ لِلْقَارِئِ فِيْ سُؤَالِهِ وَ لَا يَتَكَلَّمَ بِمَا يَلْبِسُ عَلَيْهِ، وَ السُّنَّةُ أَنْ يَقُوْلَ أُنْسِيْتُ كَذَا، لَا نَسِيْتُهُ، إِذْ لَيْسَ هُوَ فَاعِلَ النِّسْيَانِ.

46. Dan menjaga diri dari melupakan hafalan al-Qur’ān, karena termasuk dosa besar, demikian juga melupakan sebagian ayat-ayatnya, sebagaimana dijelaskan an-Nawawī dalam kitab Raudhah dan lainnya. Apabila pembaca sulit memahami, dan tidak tahu tempat yang tepat untuk berhenti, hendaknya agar bertanya kepada orang lain (alim) dan beradab ketika bertanya, dan tidak mengucapkan sesuatu yang tidak jelas (samar), dan sunnahnya berkata: “aku dilupakan ayat ini dan itu (1)”, tidak berkata: “aku lupakan ayat ini dan itu (2)”. Karena hakekatnya bukanlah dia yang membuat lupa, (tetapi Allah).

1). Tidak ada unsur kesengajaan.

2). Ada unsur kesengajaan.

وَ يُسْتَحَبُّ لِلْقَارِئِ إِذَا انْتَهَتْ قِرَاءَتُهُ أَنْ يُصَدِّقَ رَبَّهُ وَ يَشْهَدَ بِالْبَلَاغِ لِرَسُوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ، وَ يَشْهَدَ عَلَى ذلِكَ أَنَّهُ حَقٌّ، فَيَقُوْلُ: صَدَقَ اللهُ الْعَظِيْمُ وَ بَلَّغَ رَسُوْلُهُ الْكَرِيْمُ وَ نَحْنُ عَلَى ذلِكَ مِنَ الشَّاهِدِيْنَ. اللهُمَّ اخْعَلْنَا مِنْ شُهَدَاءِ الْحَقِّ الْقَائِمِيْنَ بِالْقِسْطِ.

47. Dianjurkan pembaca bila mengakhiri bacaannya untuk membenarkan Tuhannya, menyaksikan bahwa Rasūlullāh s.a.w. telah menyampaikan misinya, dan menyaksikan bahwa semua itu benar, lalu dia ucapkan: (صَدَقَ اللهُ الْعَظِيْمُ وَ بَلَّغَ رَسُوْلُهُ الْكَرِيْمُ وَ نَحْنُ عَلَى ذلِكَ مِنَ الشَّاهِدِيْنَ.) Maha Benar Allah Yang Maha Agung, dan Rasūlnya yang mulia telah menyampaikan misinya, dan kami termasuk di antara orang-orang yang menyaksikan kebenaran itu. Ya Allah jadikanlah kami saksi-saksi yang benar dan penegak keadilan).

وَ يُسَنُّ صَوْمٌ يَوْمَ الْخَتْمِ وَ جَمْعُ الْأَهْلِ وَ الْأَصْدِقَاءِ عِنْدَهُ، وَ الدُّعَاءُ عَقِبَهُ، ثُمَّ الشُّرُوْعُ فِيْ خَتْمِهِ أُخْرَى وَ جَرَى عَمَلُ النَّاسِ عَلَى تَكْرِيْرِ سُوْرَةِ الْإِخْلَاصِ وَ مَنَعَهُ الْإِمَامُ أَحْمْدُ.

48. Disunnahkan berpuasa pada hari mengkhatamkan al-Qur’ān, mengumpulkan keluarga, teman-teman sekitarnya dan berdoa kemudian memulai kembali untuk mengkhatamkan lagi, tetapi ada sekelompok manusia hanya mengulang surat al-Ikhlāsh (setelah khataman), hal ini dilarang oleh Imām Aḥmad.

Bagikan:

آدَابُ الْقَارِئِ

Adab Pembaca al-Qur’ān

(Bagian 2 dari 3)

 

وَ يُيسَنُّ أَنْ يَخْلُوَ بِقِرَاءَتِهِ حَتَّى لَا يَقْطَعَ عَلَيْهِ أَحَدٌ بِكَلَامٍ فَيَخْلِطَهُ بِجَوَابِهِ.

23. Disunnahkan menyendiri ketika membaca, dengan demikian seseorang tidak memutuskannya (mengganggu) dengan perkataan, sehingga terganggu lantaran menjawabnya.

وَ إِذَا مَرَّ بِأَحَدٍ وَ هُوَ يَقْرَأُ فَيُسْتَحَبُّ لَهُ قَطْعُ الْقِرَاءَةِ لِيُسَلِّمَ عَلَيْهِ ثُمَّ يَرْجِعُ إِلَيْهَا وَ لَوْ أَعَادَ التَّعَوُّذَ كَانَ حَسَنًا.

24. Apabila dia melewati orang lain padahal dia sedang membaca al-Qur’ān, maka disunnahkan memutuskan bacaan untuk memberi salam, kemudian membaca kembali, dan baik sekali jika dia mengulangi ta‘awwudz.

وَ يَقْطَعُهَا لِرَدِّ السَّلَامِ وُجُوْبًا، وَ لِلْحَمْدِ بَعْدَ الْعَطَاسِ، وَ لِلتَّشْمِيْتِ، وَ لِلْإِجَابَةِ الْمُؤَذِّنِ نَدْبًا.

25. Wajib memutuskan bacaan untuk menjawab salam, dan sunnah memutuskannya untuk mengucap “Alḥamdulillāh” setelah bersin (bangkis) mendoakan orang yang bersin dan menjawab adzan.

وَ إِذَا وَرَدَ عَلَيْهِ مَنْ فِيْهِ فَضِيْلَةٌ مِنْ عِلْمٍ أَوْ صَلَاحٍ أَوْ شَرَفٍ فَلَا بَأْسَ بِالْقِيَامِ لَهُ عَلَى سَبِيْلِ الْإِكْرَامِ، وَ لَا لِلرَّيَاءِ، بَلْ ذلِكَ مُسْتَحَبٌّ.

26. Apabila datang kepadanya seorang alim atau shaleh atau orang mulia, maka tidak mengapa untuk berdiri karena menghormatinya, bahkan dianjurkan, bukan berdiri karena riya’.

وَ يُسَنُّ أَنْ يَقْرَأَ عَلَى تَرْتِيْبِ الْمُصْحَفِ لِأَنَّ تَرْتِيْبَهُ لِحِكْمَةٍ فَلَا يَتْرُكُهَا إِلَّا فِيْمَا وَرَدَ الشَّرْعُ بِاسْتِثْنَائِهِ فَلَوْ فَرَّقَ السُّوَرَ أَوْ عَكَسَهَا كَمَا فِيْ تَعْلِيْمِ الصِّغَارِ جَازَ وَ قَدْ تَرَكَ الْأَفْضَلَ. وَ أَمَّا قِرَاءَةُ السُّوْرَةِ مَنْكُوْسَةً فَمُتَّفَقٌّ عَلَى مَنْعِهِ.

27. Disunnahkan membaca berdasarkan tertib mushḥaf, karena tertib ini mengandung hikmah, hal ini jangan ditinggalkan kecuali ada nash (keterangan) syara‘ yang mengecualikannya (tidak tertib), boleh membaca dengan memisah-misahkan surat (1) atau membaliknya. Seperti mengajarkan anak kecil (2), tetapi cara ini meninggalkan yang lebih utama (tertib ayat), adapun membaca surat secara terbalik (menyungsang) dari ayat terakhir mundur ke ayat sebelumnya) dilarang berdasarkan kesepakatan ulama (3)

1). Berpindah-pindah secara acak dari satu surat ke surat lain.
2). Seperti memulai membaca surat an-Nās, lalu al-‘Alaq dan al-Ikhlāsh.
3). Memulai dari (الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ) lalu membaca (الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ)

وَ يُكْرَهُ خَلْطُ سُوْرَةٍ بِسُوْرَةٍ، وَ الْتِقَاطُ آيَةٍ أَوْ آيَتَيْنِ أَوْ أَكْثَرَ مِنْ كُلِّ سُوْرَةٍ مَعَ تَرْكِ قِرَاءَةِ بَاقِيْهَا.

28. Makruh mencampur-adukan satu surat dengan surat yang lain (1), dan mengambil satu ayat, dua, atau lebih dari setiap surat tanpa membaca sisa ayat yang masih tersisa.

1). Seperti mencampur surat adh-Dhuḥā dengan al-Insyiraḥ tanpa menuntaskan bacaan keduanya.

وَ إِذَا ابْتَدَأَ مِنْ وَسَطِ سُوْرَةٍ أَوْ وَقَفَ عَلَى غَيْرِ آخِرِهَا فَلْيَبْدَأْ مِنْ أَوَّلِ الْكَلَامِ الْمُرْتَبِطِ بَعْضُهُ بَعْضًا، وَ لْيَقِفْ عَلَى الْكَلَامِ الْمُرْتَبِطِ وَ لَا يَتَقَيَّدُ بِعُشْرٍ وَ لَا حِزْبٍ.

29. Apabila seseorang mulai dari pertengahan surat (umpama pertengahan surat al-Baqarah), atau berhenti bukan di akhir surat, maka hendaknya dia memulai dari awal bacaan yang masih terkait sebagian dengan yang lainnya (ayat sebelum dan sesudahnya), atau apabila berhenti bukan diakhir surat, hendaknya berhenti pada bacaan yang masih terkait dengan ayat sebelumnya (waqaf tamm) dan tidak membatasi bacaan tersebut hanya pada batas-batas dan bagian tertentu. (1)

1). Seperti hanya membaca dari tanda huruf (ع) ke huruf (ع) berikutnya.

وَ الْقِرَاءَةُ فِي الْمُصْحَفِ أَفْضَلُ مِنْهَا عَنْ ظَهْرِ قَلْبٍ، لِأَنَّهُ يَجْمَعُ الْقِرَاءَةَ وَ النَّظَرَ فِي الْمُصْحَفِ وَ هُوَ عِبَادَةٌ أُخْرَى نَعَمْ إِنْ زَادَ خُشُوْعُهُ وَ حُضُوْرُ قَلْبِهِ فِيْ قِرَاءَتِهِ عَنْ ظَهْرِ قَلْبٍ فَهِيَ أَفْضَلُ فِيْ حَقِّهِ، قَالَهُ الْإِمَامُ النَّوَوِيُّ تَفَقُّهَا وَ هُوَ حَسَنٌ.

30. Membaca al-Qur’ān dengan mushḥaf lebih utama daripada membaca dengan hafalan, karena membaca melalui mushhaf mencakup bacaan itu sendiri dan sekaligus melihat mushḥaf, yang merupakan bentuk ibadah tersendiri, tetapi apabila kekusyu‘an dan penghayatan hati bertambah dengan cara membaca melalui hafalan, itu lebih utama untuknya. Hal ini berdasarkan pemahaman Imām Nawawī, dan menurut beliau cara ini baik.

وَ لَا تَحْتَاجُ قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ إِلَى نِيَّةٍ كَسَائِرِ الْأَذْكَارِ إِلَّا إِذَا نَذَرَهَا فَلَا بُدَّ مِنْ نِيَّةِ النَّذْرِ وَ تُسْتَحَبُّ قِرَاءَةُ الْجَمَاعَةِ مُجْتَمِعِيْنَ سَوَاءٌ كَانَتْ مُدَارَسَةً أَوْ إِرَادَةً.

31. Membaca al-Qur’ān tidak perlu niat, seperti halnya bentuk dzikir-dzikir yang lain, kecuali kalau dinadzarkan, maka wajib niat nadzar, disunnahkan membaca al-Qur’ān berkelompok, baik ketika belajar atau bergiliran.

وَ تَجُوْزُ قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ بِالْقِرَاءَاتِ الْمُجْمَعِ عَلَى تَوَاتُرِهَا دُوْنَ الرِّوَايَاتِ الشَّاذَّةِ وَ مَنْ قَرَأَ بِالشَّاذَّةِ يَجِبُ تَعْرِيْفُهُ بِتَحْرِيْمِهَا كَمَا عَلَيْهِ الْجُمْهُوْرُ إِنْ كَانَ جَاهِلًا وَ تَعْزِيْرُهُ وَ مَنْعُهُ مِنْهَا إِنْ كَانَ عَالِمًا.

32. Boleh membaca al-Qur’ān dengan qira’at mutawatir yang disepakati (1), tidak boleh dengan riwayat-riwayat yang syādzdz (yang tidak shaḥīḥ sanadnya) (2), menurut jumhur ulama (mayoritas) apabila seorang jāhil (awam) membaca qira’at syādzdz, wajib diberitahu keharamannya, bila seorang alim yang melakukannya, maka wajib di-ta‘zīr (3)

1). Yaitu bacaan: Abū ‘Amr, Nāfi‘, Hamzah, al-Kisā’i, Ibnu ‘Āmir, dan Ibnu Katsīr.
2). Contoh Qira’at Syādzdz (مَلَكَ يَوْمَ الدِّيْنِ)
3). Hukuman yang mendidik di bawah hukuman had.

إِذَا ابْتَدَأَ قَارِئٌ بِقِرَاءَةِ أَحَدِ الْقُرَّاءِ فَيَنْبَغِيْ أَنْ يَسْتَمِرَّ عَلَى الْقِرَاءَةِ بِهَا مَا دَامَ الْكَلَامُ مُرْتَبِطًا. فَإِذَا انْقَضَى اِرْتِبَاطُهُ فَلَهُ أَنْ يَقْرَأَ بِغَيْرِهَا وَ الْأَوْلَى دَوَامُهُ عَلَى الْأُوْلَى فِيْ هذَا الْمَجْلِسِ.

33. Apabila Qārī memulai dengan salah satu bacaan imam qira’at, maka seyogyanya qira’at itu dilanjutkan saja, selama masih ada keterkaitan ayat. Dan jika sudah tidak ada keterkaitan ayat, dibolehkan membaca dengan qira’at yang lain, dan yang lebih utama tetap membaca qira’at yang pertama pada majlis tersebut.

وَ لَا تَجُوْزُ الْقِرَاءَةُ بِالْعَجَمِيَّةِ مُطْلَقًا كَمَا لَا تَجُوْزُ بِجَمْعِ الْقِرَاءَاتِ فِيْ مَحَافِلِ الْعَامَّةِ دُوْنَ الْعَرْضِ عَلَى الشُّيُوْخِ مَعَا مَا فِيْهِ.

34. Tidak boleh membaca al-Qur’ān melalui tulisan selain ‘Arab (seperti tulisan latin) secara mutlak, sebagaimana tidak boleh menggabungkan beberapa qira’at pada tempat-tempat perkumpulan umum, tetapi boleh memperlihatkannya di depan guru.

وَ تُسْتَحَبُّ الْقِرَاءَةُ بِالتَّرْتِيْلِ وَ تَحْسِيْنِ الصَّوْتِ بِشَرْطِ أَنْ لَا تَخْرُجَ عَنْ حُدُوْدِ الْوَاجِبِ شَرْعًا مِنْ إِخْرَاجِ كُلِّ حَرْفٍ مِنْ مَخْرَجِهِ مُوَفَّ حَقُّهُ وَ مُسْتَحَقُّهُ وَ إِلَّا كُرِهَتْ.

35. Dianjurkan membaca dengan tartīl (perlahan-lahan) dan suara yang indah dengan syarat bacaan tersebut tidak keluar dari batasan yang wajib menurut syara‘ (tidak menyalahi aturan atau tajwid) yaitu mengeluarkan setiap huruf dari tempatnya di samping memenuhi hak dan kelayakan huruf (seperti huruf hams) jika tidak terpenuhi, maka makruh.

وَ تُكْرَهُ بِالْإِفْرَاطِ فِي الْإِسْرَاعِ مُطْلَقًا، وَ تُسْتَحَبُّ الْقِرَاءَةُ أَيْضًا بِالتَّدَبُّرِ وَ التَّفَهُّمِ بِأَنْ يُشْغِلَ الْقَارِئُ قَلْبَهُ بِالتَّفَكُّرِ فِيْ مَعْنًى مَا يَلْفِظُ بِهِ فَيَعْرِفُ مَعْنَى كُلِّ آيَةٍ، وَ يَتَأَمَّلُ الْأَوَامِرَ وَ النَّوَاهِيَ، وَ يَعْتَقِدُ قَبُوْلَ ذلِكَ.

36. Makruh secara mutlak membaca al-Qur’ān terlalu cepat, juga dianjurkan (sunnah) membaca sambil merenung dan mencari tahu dengan mengkonsentrasikan hatinya untuk memikirkan makna yang diucap, sehingga dapat diketahui makna tiap-tiap ayat, mengamati segala perintah dan larangan dan meyakini untuk menerima semua itu.

وَ إِذَا مَرَّ بِآيَةٍ فِيْهَا ذُكِرَ مُحَمَّدٌ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ صَلَّى عَلَيْهِ سَوَاءٌ الْقَارِئُ وَ الْمُسْتَمِعُ، وَ يَتَأَكَّدُ ذلِكَ عِنْدَ قَوْلَهِ تَعَالَى: إِنَّ اللهَ وَ مَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا (الأحزاب: 57)

37. Sunnah apabila melewati ayat yang disebut nama Muḥammad s.a.w., untuk bershalawat kepadanya, baik yang membaca atau yang mu’akkad bershalawat, dalam firman Allah: “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi, hai orang-orang beriman, bershalawatlah dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.

وَ لَا بَأْسَ بِتَكْرِيْرِ الْآيَةِ وَ تَرْدِيْدِهَا حَتَّى يَتِمَّ لَهُ ذلَكَ. فَإِنْ كَانَ مِمَّا قَصَّرَ عَنْهُ مِمَّا مَضَى اِعْتَذَرَ وَ اسْتَغْفَرَ.

38. Tidak mengapa mengulang-ulang ayat, sehingga bacaan itu sempurna, bila dia teledor membacanya, hendaknya minta ampun.”

Bagikan:

آدَابُ الْقَارِئِ

Adab Pembaca al-Qur’ān

(Bagian 1 dari 3)

 

يَجِبُ عَلَيْهِ أَنْ يُخْلِصَ فِيْ قِرَاءَتِهِ وَ يُرِيْدُ بِهَا وَجْهَ اللهِ دُوْنَ شَيْءٍ آخَرَ مِنْ تَصَنُّعِ الْمَخْلُوْقِ أَوِ اكْتِسَابِ مُحَمَّدٍ عِنْدَ النَّاسِ أَوْ مَحَبَّةٍ أَوْ مَدْحٍ أَوْ نَحْوِ ذلِكَ.

1. Pembaca al-Qur’ān wajib ikhlas ketika membaca, karena Allah, bukan karena tujuan lain seperti, ingin mendapat perlakuan baik dari makhluk, mencari pujian manusia, kecintaan, sanjungan dan lain-lain.

وَ أَنْ لَا يَقْصِدَ بِهَا تَوَصُّلًا إِلَى غَرَضٍ مِنْ أَغْرَاضِ الدُّنْيَا مِنْ مَالٍ أَوْ رِيَاسَةٍ أَوْ وِجَاهَةٍ أَوِ ارْتِفَاعٍ عَلَى أَقْرَانِهِ أَوْ ثَنَاءٍ عِنْدَ النَّاسِ أَوْ صَرْفِ وُجُوْهِهِمْ إِلَيْهِ وَ نَحْوِ ذلِكَ.

2. Tidak bermaksud untuk meraih tujuan dunia seperti, harta, jabatan, pangkat, kedudukan tinggi di antara sesama kawan, sanjungan, perhatian manusia dan lain-lain.

وَ أَنْ لَا يَتَّخِذَ الْقُرْآنَ مَعِيْشَةً يَتَكَسَّبُ بِهَا، فَلَوْ كَانَ لَهُ شَيْءٌ يَأْخُذُهُ عَلَى ذلِكَ فَلَا يَأْخُذُهُ بِنِيَّةِ الْأُجْرَةِ بَلْ بِنِيَّةِ الْإِعَانَةِ عَلَى مَا هُوَ بِصَدَدِهِ.

3. Tidak menjadikan al-Qur’ān sebagai usaha mata pencaharian, bila ada sesuatu yang diberikan kepadanya, jangan mengambilnya dengan niat bayaran (upah) tetapi tujuan yang sesungguhnya dengan niat menolong.

وَ أَنْ يُرَاعِيَ الْأَدَبَ مَعَ الْقُرْآنِ، فَيَسْتَحْضِرُ فِيْ ذِهْنِهِ أَنَّهُ يُنَاجِيْ رَبَّهُ وَ يَقْرَأُ كِتَابَهُ، فَيَتْلُوْهُ عَلَى حَالَةِ مَنْ يَرَى اللهُ تَعَالَى فَإِنْ لَمْ يَكُنْ يَرَاهُ فَإِنَّ اللهَ سُبْحَانَهُ تَعَالَى يَرَاهُ.

4. Selayaknya dia memperhatikan adab al-Qur’ān, menghadirkan dalam pikirannya (konsentrasi) bahwa dia sedang bermunajat kepada Tuhannya, membaca kitab-Nya, seakan-akan dia melihat Allah, jika tidak Allah pasti melihatnya.

وَ ذلِكَ بِأَنْ يُقَدِّرَ كَأَنَّهُ وَاقِفٌ بَيْنَ يَدَيِ اللهِ تَعَالَى وَ هُوَ نَاظِرٌ إِلَيْهِ وَ مُسْتَمِعٌ مِنْهُ.

5. Semua itu dapat dilakukan dengan mengandaikan seolah-olah dia berdiri di hadapan Allah, Dia melihat dan mendengarnya.

وَ يُسْتَحَبُّ لَهُ إِذَا أَرَادَ الْقِرَاءَةَ أَنْ يُنَظِّفَ فَاهُ بِإِجْلَالِ ثُمَّ السِّوَاكِ أَوْ نَحْوِهِ مِنْ كُلِّ مَا يُنَظِّفُ.

6. Dianjurkan bila seseorang ingin membaca al-Qur’ān membersihkan mulutnya dengan pencungkil (pembersih sisa-sisa makanan di sela-sela gigi) lalu dengan siwak atau dengan apa saja yang dapat membersihkan gigi.

أَمَّا مُتَنَجِّسُ الْفَمِ فَتُكْرَهُ لَهُ الْقِرَاءَةُ وَ قِيْلَ تَحْرُمُ كَمَسِّ الْمُصْحَفِ بِالْيَدِ النَّجِسَةِ، وَ لَوْ قَطَعَ الْقِرَاءَةَ وَ عَادَ إِلَيْهَا عَنْ قُرْبٍ اُسْتُحِبَّ لَهُ إِعَادَةُ السِّوَاكِ قِيَاسًا عَلَى التَّعَوُّذِ.

7. Makruh membaca al-Qur’ān bila mulut bernajis, pendapat lain mengatakan: haram, bandingannya seperti: menyentuh mushḥaf (al-Qur’ān) dengan tangan bernajis. Bila seseorang memutuskan bacaan sejenak, lalu kembali lagi membacanya, maka dianjurkan (sunnah) untuk mengulangi siwak, hal ini karena diqiyaskan dengan membaca ta‘awwuz.

وَ أَنْ يَكُوْنَ مُتَطَهِّرًا مُتَطَيِّبًا بِمَاءِ وَرْدٍ وَ نَحْوِهِ، وَ لَا تُكْرَهُ الْقِرَاءَةُ لِلْمُحْدِثِ وَ كَذَا الْمُسْتَحَاضَةُ فِي الزَّمَنِ الْمَحْكُوْمِ بِأَنَّهُ طُهْرٌ.

8. Dan seyogyanya membaca dalam keadaan bersuci, berwangi-wangian dengan air mawar dan lain-lain, tidak makruh orang yang berhadats (kecil) membaca al-Qur’ān, begitu juga wanita istiḥadhah (mengeluarkan darah penyakit yang melebihi batas waktu haidh, lebih dari 15 hari) pada masa yang di hukumkan bahwa dia suci.

وَ أَمَّا الْجُنُبُ وَ الْحَائِضُ فَتَحْرُمُ عَلَيْهِمَا الْقِرَاءَةُ، نَعَمْ يَجُوْزُ لَهُمَا النَّظَرُ فِي الْمُصْحَفِ وَ إمْرَارُهُ عَلَى الْقَلْبِ.

9. Adapun orang yang junub (hadats besar), dan haidh, haram membaca al-Qur’ān (dengan niat tilawah) (1), tetapi boleh memandang isi mushhaf dan membaca di dalam hati.

1). Tidak haram bila niat zikir, doa atau mutlak (tidak berniat apapun).

وَ إِذَا عَرَضَ لِلْقَارِئِ رِيْحٌ فَلْيُمْسِكْ عَنِ الْقِرَاءَةِ حَتَّى يَتَكَامَلَ خُرُوْجُهُ ثُمَّ يَعُوْدُ إِلَى الْقِرَاءَةِ وَ كَذَا إِذَا تَثَاءَبَ أَمْسَكَ عَنْهَا أَيْضًا حَتَّى يَنْقَضِيَ التَّثَاؤُبُ.

10. Apabila pembaca ini ingin buang angin (kentut) maka hendaknya dia tahan bacaan tersebut (berhenti sejenak) sampai tuntas buang anginnya, lalu kembali membacanya, demikian juga jika dia menguap, hendaknya menahan bacaan sehingga berhenti menguap.

وَ أَنْ يَقَرَأَ فِيْ مَكَانٍ نَظِيْفٍ وَ أَفْضَلُهُ الْمَسْجِدُ بِشَرْطِهِ وَ لِتَحْصُلَ فَضِيْلَةُ الْاِعْتِكَافِ وَ هُوَ أَدَبٌ حَسَنٌ.

Dan dianjurkan membaca al-Qur’ān di tempat yang bersih, utamanya adalah masjid dengan segala persyaratannya (tidak mengganggu orang yang sedang shalat) agar memperoleh keutamaan i‘tikaf, ini adalah adab yang baik.

وَ كَرِهَ قَوْمٌ الْقِرَاءَةَ فِي الْحَمَّامِ وَ الْطَّرِيْقِ وَ اخْتَارَ الشَّافِعِيَّةُ أَنْ لَا تُكْرَهَ فِيْهِمَا مَا لَمْ يَشْغِلْ وَ إِلَّا كُرِهَتْ كَحُشٍّ وَ بَيْتِ الرَّحَا وَ هِيَ تَدُوْرُ وَ الْأَسْوَاقِ وَ مَوَاطِنِ اللَّغَطِ وَ اللَّغْوِ وَ مَجْمَعِ السُّفَهَاءِ وَ بَيْتِ الْخَلَاءِ.

12. Ada satu kaum yang memakruhkan membaca al-Qur’ān di tempat pemandian air panas dan di jalan, tetapi menurut pilihan pendapat ulama Syāfi‘yyah, tidak makruh, selama tidak terganggu konsentrasinya, bila terganggu pikirannya maka makruh, seperti halnya juga makruh membaca di tempat pembuangan hajat (WC), tempat penggilingan yang sedang berputar, pasar, tempat-tempat bising, tempat-tempat obrolan yang tidak berguna, tempat orang-orang yang bodoh (kotor mulut dan akhlaknya) dan kamar kecil.

وَ تُكْرَهُ أَيْضًا لِلنَّاعِسِ مَخَافَةَ الْغَلَطِ وَ فِيْ حَالَةِ الْخُطْبَةِ لِمَنْ يَسْمَعُهَا.

13. Dan makruh juga bagi orang yang ngantuk karena takut keliru, dan ketika khutbah jum‘at bagi orang yang mendengar khutbah.

وَ أَنْ يَكُوْنَ عَلَى أَكْمَلِ الْأَحْوَالِ وَ أَكْرَمِ الشَّمَائِلِ، وَ أَنْ يَرْفَعَ نَفْسَهُ عَنْ كُلِّ مَا نَهَى الْقُرْآنُ عَنْهُ إِجْلَالًا لَهُ.

14. Dan dianjurkan membaca berada pada kondisi yang paling sempurna dan tabiat yang mulia, wajib mengangkat dirinya (menjauhkan diri) dari segala yang dilarang di-Qur’ān karena membesarkannya (mengagungkannya).

وَ أَنْ يَكُوْنَ مَصُوْنًا عَنْ دَنِيْءِ الْاِكْتِسَابِ شَرِيْفَ النَّفْسِ مُرْتَفِعًا عَلَى الْجَبَابِرَةِ وَ الْجَفَاةِ مِنْ أَهْلِ الدُّنْيَا مُتَوَاضِعًا لِلصَّالِحِيْنَ وَ أَهْلِ الْخَيْرِ وَ الْمَسَاكِيْنَ.

15. Menjaga dirinya dari pekerjaan yang rendah (hina), memiliki kemuliaan diri dan menghindari diri dari orang-orang yang lalim dan kasar dari ahli dunia. Rendah hati kepada orang-orang yang shaleh, ahli kebaikan, dan orang-orang miskin.

وَ أَنْ يَجْتَنِبَ الضَّحْكَ وَ الْحَدِيْثَ الْأَجْنَبِيَّ خِلَالَ الْقِرَاءَةِ إِلَّا لِحَاجَةٍ وَ انْعَبَثَ بِالْيَدِ وَ نَحْوِهَا وَ النَّظَرَ إِلَى مَا يُلْهِيْ أَوْ يُبَدِّدُ الذِّهْنَ.

16. Dan hendaknya jangan tertawa atau berbicara dengan pembicaraan yang lain (yang tidak ada hubungannya dengan al-Qur’ān) disela-sela membaca kecuali karena hajat, dan jangan juga memainkan tangannya atau anggota lain, tidak memandang sesuatu yang dapat melalaikan dan mengacaukan pikirannya.

وَ أَنْ يَلْبَسَ ثَبَابَ التَّجَمُّلِ كَمَا يَلْبَسُهَا لِلدُّخُوْلِ عَلَى الْأَمِيْرِ.

17. Memakai pakaian yang indah sebagaimana memakainya ketika menghadap raja.

وَ أَنْ يَجْلِسَ عِنْدَ الْقِرَاءَةِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ، مُسْتَوِيًا، مُتَخَشِّعًا ذَا سَكِيْنَةٍ وَ وَقَارٍ، مُطْرِقًا رَأْسَهُ غَيْرَ مُتَوَقِّعٍ وَ لَا عَلَى هَيْئَةِ التَّكَبُّرِ، بِحَيْثُ يَكُوْنُ جُلُوْسُهُ وَحْدَهُ كَجُلُوْسِهِ بَيْنَ يَدَى مُعَلِّمِهِ فَلَوْ قَرَأَ قَائِمًا أَوْ مُضْطَجِعًا جَازَ، وَ لَهُ أَجْرٌ أَيْضًا وَ لَكِنَّهُ دُوْنَ الْأَوَّلِ.

18. Duduk menghadap qiblat, lurus (menghadap qiblat) khusyu‘, tenang, hormat, tunduk kepala tanpa mengangkat, tidak bersikap sombong, sepantasnya duduk dan bersikap seperti duduk di hadapan gurunya. Boleh membaca dalam keadaan berdiri atau berbaring dan juga mendapat pahala tetapi lebih rendah dibandingkan dengan pertama (di atas).

وَ أَنْ يَسْتَعِيْذَ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ قَبْلَ الْقِرَاءَةِ وَ قِيْلَ بَعْدَهَا لِظَاهِرَ الْآيَةِ وَ أَوْجَبَهَا قَوْمٌ لِظَاهِرِ الْأَمْرِ.

19. Dianjurkan membaca ta‘awwudz sebelum membaca, pendapat lain mengatakan setelah membaca al-Qur’ān, karena berdasar zhāhir (konteks) ayat (1), pendapat lain mengatakan wajib membaca, karena berdasarkan zhāhir ayat. (2)

1). (فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ)

(فَإِذَا قَرَأْتَ) = Diartikan setelah membaca al-Qur’ān (fi‘il mādhī)

2). (فَاسْتَعِذْ) = Adalah fi‘il amr (perintah ), pada prinsipnya segala perintah itu hukumnya wajib.

فَلَوْ مَرَّ عَلَى قَوْمٍ فَسَلَّمَ عَلَيْهِمْ وَ عَادَ إِلَى الْقِرَاءَةِ حَسُنَ إِعَادَةُ التَّعَوُّذِ.

20. Bila seorang melewati kaum (padahal dia sedang membaca al-Qur’ān) lalu dia ucapkan salam kepada mereka, maka sebaiknya dia ulangi ta‘awwudz lagi ketika hendak kembali membaca al-Qur’ān.

وَلْيُحَافِظْ عَلَى قِرَاءَةِ الْبَسْمَلَةِ أَوَّلَ كُلِّ سُوْرَةٍ غَيْرَ بَرَاءَةٍ وَ تَتَأَكَّدُ إِذَا كَانَتِ الْقِرَاءَةُ فِيْ وَظِيْفَةٍ عَلَيْهَا جُعْلٌ وَ يُخَيَّرُ الْقَارِئُ عِنْدَ الْاِبْتِدَاءِ بِالْأَوْسَاطِ.

21. Dan hendaknya jangan melupakan membaca basmalah pada setiap awal surat kecuali awal surat at-Taubah, sangat dianjurkan sekali (mu’akkad) membaca basmalah apabila membaca al-Qur’ān itu ditugaskan orang lain dan mendapat upah, dan pembaca al-Qur’ān diperkenankan memilih awal bacaannya dari pertengahan surat.

وَ السُّنَّةُ أَنْ يَصِلَ الْبَسْمَلَةَ بِالْحَمْدَلَةِ، وَ أَنْ يَجْهَرَ بِهَا حَيْثُ يُشْرَعُ الْجَهْرُ بِالْقِرَاءَةِ، وَ الْإِسْرَارُ بِالْقِرَاءَةِ أَفْضَلُ إِنْ خِيْفَ الرِّيَاءُ أَوْ تَأَذِيْ مُصَلِّيْنَ أَوْ نِيَامٍ وَ إِلَّا فَالْجَهْرُ أَفْضَلُ.

22. Sunnahnya adalah me-washal-kan (menyambung) basmalah dengan ḥamdalah (1), men-jahar-kan (mengeraskan) basmalah manakala membaca al-Qur’ān saat itu dianjurkan jahar, membaca al-Qur’ān dengan sirr (perlahan) lebih utama jika dikhawatirkan timbul riya’, mengganggu orang shalat dan tidur, jika tidak, maka jahar lebih utama.

1). Pendapat ini lemah, tetapi yang mu‘tamad dipisah antara basmalah dari ḥamdalah.

Bagikan:

Pembukaan

 

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

1. Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

الْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أَنْزَلَ الْقُرْآنَ، وَ شَرَّفَنَا بِحِفْظِهِ وَ تِلَاوَتِهِ.

2. Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan al-Qur’ān dan memuliakan kita karena menghafal dan membacanya.

وَ تَعَبَّدَنَا بِتَدَبُّرِهِ وَ دِرَاسَتِهِ وَ جَعَلَ ذلِكَ مِنْ أَعْظَمِ عِبَادَتِهِ.

3. Dia memerintahkan kita untuk merenungkan (isi al-Qur’ān) dan mempelajarinya, dan Dia jadikan hal tersebut di antara ibadah yang besar (pahalanya).

وَ أَسْهَدُ أَنْ لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ دَلَّتْ عَلَى وُجُوْدِهِ الْمَصْنُوْعَاتُ.

4. Saya bersaksi bahwa tidak ada tuhan (yang patut disembah dengan sebenarnya) kecuali Allah Yang Maha Esa, segala penciptaan ini menunjuki keadaan-Nya.

وَ شَهِدَتْ لِجَمَالِهِ وَ كَمَالِهِ وَ جَلَالِهِ وَ عَظَمَتِهِ الْآيَاتُ الْبَيِّنَاتُ.

5. Keindahan, kesempurnaan, kebesaran, dan keagungan-Nya disaksikan oleh tanda-tanda yang jelas.

وَ أَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ الْقَاتِلُ فِيْمَا يَرْوِيْهِ عَنْ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ: “مَنْ شَغَلَهُ الْقُرْآنُ وَ ذِكْرِيْ عَنْ مَسْئَلِيْ أَعْطَيْتُهُ أَفْضَلَ مَا أُعْطِيَ السَّائِلِيْنَ.

6. Dan saya bersaksi bahwa penghulu kita Muḥammad adalah utusan Allah, beliau bersabda di dalam hadits Qudsi: “Barang siapa yang sibuk membaca al-Qur’ān dan zikir kepada-Ku dan (dari) tidak meminta sesuatu, akan Aku berikan dia, sesuatu yang lebih utama ketimbang yang telah diberikan orang-orang yang meminta.

صَلَّى اللهُ سَلَّمَ عَلَيْهِ وَ عَلَى آلِهِ وَ أَصْحَابِهِ الَّذِيْنَ حَازُوا الدَّرَجَةَ الْعُلْيَا فِيْ حِفْظِ الْقُرْآنِ وَ الْعَمَلِ بِشُرُوْطِهِ وَ آدَابِهِ.

7. Mudah-mudahan Allah melimpahkan rahmat dan sejahtera-Nya kepada Nabi Muḥammad, keluarga dan sahabat-sahabatnya, yang telah memperoleh derajat yang tinggi karena menghafal al-Qur’ān, mengamalkan syarat-syarat dan adab-adabnya.

(أَمَّا بَعْدُ) فَيَقُوْلُ أَضْعَفُ الْوَرَى وَ أَحْوَجُ الْخَلْقِ إِلَى رَحْمَةِ الْغَنِيِّ الْكَرِيْمِ (عَلِيٌّ الضِّبَاعُ بْنُ مُحَمَّدٍ بْنِ حَسَنِ بْنِ إِبْرَاهِيْمَ).

8. Amma ba‘du (adapun sesudah basmalah, ḥamdalah, shalawat dan salām) berkata hamba (makhluk) yang sangat lemah, lagi sangat berhajat rahmat Tuhan Yang Maha Kaya dan Pemurah, yaitu ‘Alī adh-Dhibā‘i bin Muḥammad bin Ḥasan bin Ibrāhīm.

هذِهِ نُبْذَةٌ لَطِيْفَةٌ فِيْ بَيَانِ آدَابِ قَارِئِ الْقُرْآنِ وَ كَاتِبِهِ، وَ مَنْ يُعَلِّمُهُ أَوْ يَتَعَلَّمُهُ، أَوْ يَحْضُرُ مَجَالِسَ الْمُحْتَفِلِيْنَ بِهِ.

9. Ini adalah sebuah artikel kecil yang menjelaskan tentang adab pembaca, penulis, pengajar dan pelajar al-Qur’ān, atau orang yang menghadiri majlis-majlis perkumpulan al-Qur’ān.

لَخَّصْتُهَا مِنْ كُتُبِ الْأَئِمَّةِ الْمُعْتَبِرِيْنَ كَالتِّبْيَانِ وَ الْإِتْقَانِ وَ اللَّطَائِفِ وَ الْاِتِّحَافِ، وَ النِّهَايَةِ وَ تُحْفَةِ النَّاظِرِيْنَ.

10. Saya ringkas artikel ini dari berbagai kitab para imam yang diakui reputasinya (mu‘tabar) seperti at-Tibyān, al-Itqān, al-Lathā’if, an-Nihāyah dan Tuḥfat-un-Nāzhirīn.

وَ سَمَّيْتُهَا: (فَتْحُ الْكَرِيْمِ الْمَنَّانِ فِيْ آدَابِ حَمَلَةِ الْقُرْآنِ) وَ اللهَ أَسْأَلُ أَنْ يَنْفَعَ بِهَا النَّفْعَ الْعَمِيْمَ وَ أَنْ يَجْعَلَهَا خَالِصَةً لِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ. إِنَّهُ جَوَادٌ كَرِيْمٌ رَءُوْفٌ رَحِيْمٌ.

11. Saya namakan risalah ini (artikel) = (Fatḥ-ul-karīm-il-mannāni fī ādābi ḥamalat-il-Qur’ān), hanya kepada Allah-lah saya memohon agar artikel ini merata manfaatnya, dan Allah jadikan tulisan ini sebagai karya ikhlas karena dzat-Nya yang Mulia, sesungguhnya Dia Maha Pemurah, Mulia, Pengasih lagi Penyayang.

Bagikan:

Lewat ke baris perkakas