Surah al-Jinn 72 ~ Tafsir asy-Syanqithi (10/10)

Masalah Dalam ayat: (وَ أَنَّ الْمَسَاجِدَ للهِ فَلَا تَدْعُوْا مَعَ اللهِ أَحَدًا.) “Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorang pun di dalamnya di samping (menyembah) Allah.” (Qs. al-Jinn [72]: 18) terdapat gabungan dua masalah, maka seakan-akan yang pertama menunjuk pada yang kedua dengan mafhūm-nya, dan seakan-akan yang kedua adalah manthūq-nya yang pertama karena keberadaan masjid-masjid tersebut milik Allah s.w.t. yang menuntut diperlakukan secara…

Surah al-Jinn 72 ~ Tafsir asy-Syanqithi (9/10)

Jadi, apa yang menimbulkan perselisihan dalam hal ini, jika dalam ia – raḥimahullāh – mengatakan bahwa orang yang berniat bepergian untuk semata-mata ziarah kubur dan tidak meniatkan shalat di masjid, dan bepergian ke kota beliau dan tidak shalat di masjidnya, melainkan hanya mendatangi kuburan lalu pulang, kemudian ia dinyatakan sebagai pelaku bid‘ah …. dan seterusnya. Perkataannya menunjukkan bahwa ziarah kubur dan shalat di masjid saling terkait, dan barang siapa mengklaim…

Surah al-Jinn 72 ~ Tafsir asy-Syanqithi (8/10)

Sekilas Pandang Dengan taḥqīq dalam masalah ini dan faktor pendorong perselisihan di dalamnya, nampak jelas bahwa perselisihan dan perdebatan di dalamnya lebih banyak dari yang dikandungnya, yakni kepada yang formal lebih dekat daripada kepada yang hakiki, dan tidak ada wujudnya dalam perbuatan. Taḥqīq-nya adalah: Selama mereka sepakat bahwa mengadakan perjalanan ke masjid Nabi untuk menyampaikan salam kepada Rasūlullāh s.a.w., dan sepakat bahwa salam kepada Rasūlullāh s.a.w. juga bisa dilakukan tanpa…

Surah al-Jinn 72 ~ Tafsir asy-Syanqithi (7/10)

Pembahasan Salam kepada Rasūlullāh s.a.w. Syaikh telah menguraikan penjelasan satu sisi dari salam kepada Rasūlullāh s.a.w. pada pembahasan firman Allah: (أَنْ تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَ أَنْتُمْ لَا تَشْعُرُوْنَ.) “Supaya tidak hapus (pahala) amalanmu sedangkan kamu tidak menyadari.” (Qs. al-Ḥujurāt [49]: 2) dalam hal memperingatkan kepada perbuatan-perbuatan batil dan pembahasan tentang apa yang menjadi hak Allah s.w.t., maka janganlah berpaling kepada selain-Nya, dan apa yang merupakan hak bagi Rasūlullāh s.a.w.,…

Surah al-Jinn 72 ~ Tafsir asy-Syanqithi (6/10)

Pembahasan Kelima Dalam hal penuh sesaknya masjid dan shaf memanjang hingga keluar masjid di jalan atau lapangan, apakah shaf yang belakang tersebut mendapatkan pelipat-gandaan itu? Keutamaan jama‘ah bisa didapatkan tanpa perselisihan pendapat. Tentang kelipatan hingga seribu, saya tidak menemukan nashnya, dan saya telah menanyakan masalah tersebut kepada Syaikh sebanyak dua kali. Pada kali yang pertama ia cenderung mengkhususkan hal itu kepada masjid, sedangkan pada kali yang kedua dan di antara…

Surah al-Jinn 72 ~ Tafsir asy-Syanqithi (5/10)

Pembahasan Kedua Manakah yang lebih utama bagi perempuan, shalat di rumah atau di masjid Nabi? Masalah ini telah dibahas oleh syaikh pada pembahasan firman Allah: (فِيْ بُيُوْتٍ أَذِنَ اللهُ أَنْ تُرْفَعَ وَ يُذْكَرَ فِيْهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيْهَا بِالْغُدُوِّ وَ الْأَصَالِ، رِجَالٌ) “Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang, laki-laki (yang)…..” (Qs. an-Nūr [24]:…

Surah al-Jinn 72 ~ Tafsir asy-Syanqithi (4/10)

Peringatan   Di sini terdapat pertanyaan yang timbul dengan sendirinya: “Mengapa Masjid Qubā’ dan bukan lainnya? Mengapa disyaratkan bersuci di rumahnya, tidak di masjid?” Saya mencari jawabannya lama sekali dan tidak mendapatkan satu pendapat pun. Kemudian nampak jelas bagi saya realitas sejarah dan hubungannya dengan realitas kaum muslim dan Masjid-ul-Ḥarām, bahwa Masjid Qubā’ memiliki berbagai macam hubungan dengan Masjid-ul-Ḥarām. Pertama, dari segi waktu, ia lebih dahulu daripada masjid Madīnah. Dari…

Surah al-Jinn 72 ~ Tafsir asy-Syanqithi (3/10)

Ada yang berpendapat bahwa hadits Muslim dalam kaitannya dengan kekhususan Masjid Nabawi, sebagai bantahan terhadap dua orang yang berselisih dalam hal masjid yang dimaksud, maka Nabi s.a.w. hendak menjelaskan kepada mereka bahwa ayat itu tidak khusus pada Masjid Qubā’ saja, akan tetapi berlaku umum pada setiap masjid yang didirikan atas taqwa, bahwa yang menjadi sandaran adalah keumuman lafazh, bukan khususnya sebab (al-‘ibratu bi umūm-il-lafzhi lā bi khushūsh-is-sabab) sebagaimana telah maklum…

Surah al-Jinn 72 ~ Tafsir asy-Syanqithi (2/10)

Firman Allah s.w.t.: لِنَفْتِنَهُمْ فِيْهِ “Untuk Kami beri cobaan kepada mereka padanya.” (Qs. al-Jinn [72]: 16). Maksudnya, Kami menguji mereka tentang apa yang mereka lakukan berupa syukur kepada nikmat dan mempergunakannya dalam hal yang diridhai oleh-Nya, atau kedurhakaan kepada-Nya dan tidak mengeluarkan hak-Nya? (كَلَّا إِنَّ الْإِنْسَانَ لَيَطْغَى، أَنْ رَءَاهُ اسْتَغْنَى.) “Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena itu melihat dirinya serba cukup.” (Qs. al-‘Alaq [96]: 6-7). (إِنَّا