3-3-4,5 Wudhu’ Wanita yang Mustahadhah – Bidayat-ul-Mujtahid

Masalah keempat: Wudhu’ wanita yang mustaḥādhah. Para ulama berbeda pendapat tentang wudhu’ yang berkaitan dengan wanita mustaḥādhah: Sekelompok ulama mewajibkannya mandi satu kali, yaitu saat si wanita mendapati bahwa ḥaidhnya telah berakhir dengan adanya salah satu tanda seperti yang telah disebutkan para ulama di atas. Kelompok ini terbagi kepada dua: kelompok ulama yang mewajibkan wanita yang bersangkutan untuk berwudhu’ setiap kali akan mengerjakan shalat. Sementara kelompok lainnya hanya sekedar menganjurkannya…

3-3-2,3 Menggauli Wanita yang Baru Lepas Haidh, Namun Belum Bersuci – Bidayat-ul-Mujtahid

Masalah kedua: Menggauli wanita yang baru lepas Ḥaidh, namun belum bersuci. Para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini: Mālik, Syāfi‘ī dan jumhur ulama berpendapat bahwa itu tidak boleh dilakukan kecuali setelah si wanita mandi. Sementara Abū Ḥanīfah dan para pengikutnya berpendapat membolehkannya jika si wanita telah suci lebih dari masa terpanjang (maksimal) ḥaidh, atau lebih dari 10 hari. Dan al-Auzā‘ī menilai boleh melakukannya jika si wanita telah membasuh kemaluannya dengan…

3-3-1 Bersenang-senang dengan Wanita yang Sedang Haidh – Bidayat-ul-Mujtahid

Bab III Mengetahui Hukum-hukum Ḥaidh dan Istiḥādhah Landasan dalam pembahasan ini adalah firman Allah s.w.t.: وَ يَسْئَلُوْنَكَ عَنِ الْمَحِيْضِ قُلْ هُوَ أَذًى. “Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: “Ḥaidh itu adalah suatu kotoran”.” (Qs. al-Baqarah [2]: 222). Dan berbagai hadits yang akan kami sebutkan kemudian. Kaum muslimin telah sepakat bahwa ḥaidh dapat menghalangi empat hal berikut ini:Amalan shalat dan tidak ada kewajiban untuk meng-qadhā’-nya. Menghalangi amalan puasa dan harus…