Penjelasan Mengenai Buruknya Kemarahan – Amal Pemusnah Kebaikan

AMAL PEMUSNAH KEBAIKAN
(Ringkasan Bab Muhlikāt Iḥyā’ ‘Ulūm-id-Dīn)
Oleh: Al-Habib ‘Umar bin Hafizh

 
Penerjemah: Nurkaib
Penerbit: Penerbit Noura Books (PT Mizan Publika)
 
(Diketik Oleh: Almarhumah Ibu Rini)

Rangkaian Pos: 005 Mencela - Kemarahan - Kedengkian dan Iri Hati - Amal Pemusnah Kebaikan

Bismillāhirraḥmānirraḥīm

  

Mencela, Kemarahan, Kedengkian dan Iri Hati

(Bab Kelima dari Kuarter al-Muhlikāt)

 

Segala puji bagi Allah. Pada ampunan dan rahmat-Nya para pengharap bersandar; dan dari amarah dan murka-Nya para penakut menghindar. Allah menundukkan elemen nafsu untuk hamba-hambaNya tetapi sekaligus memerintahkan mereka mengabaikan apa yang diinginkannya. Allah pun menguji mereka dengan elemen amarah dan mewajibkan mereka meredamnya ketika sedang marah.

Semoga Allah melimpahkan shalawat sebanyak bilangan makhlūq yang telah dan akan diciptakan-Nya kepada junjungan kita, Muḥammad, seorang utusan-Nya, yang para nabi semuanya berjalan di bawah benderanya, dan semua orang dari generasi awal maupun akhir mengharapkan berkahnya; juga kepada keluarga dan para sahabat beliau. Keselamatan yang sebanyak-banyaknya juga mudah-mudahan dilimpahkan kepada mereka semua.

Sesungguhnya amarah adalah bara api yang bersemayam di dalam hati. Kesombongan yang terpendam bisa mengeluarkannya, laksana batu mengeluarkan api dari besi. Siapa yang api amarahnya berhasil dikobarkan, menguatlah kedekatannya dengan setan. Di antara dampak amarah adalah kedengkian dan iri hati. Karena dua sifat tersebut, orang celaka pada masa lalu menjadi celaka dan orang binasa pada masa lalu menjadi binasa.

Penjelasan Mengenai Buruknya Kemarahan

Allah s.w.t. berfirman: Ketika orang-orang kafir menanamkan kesombongan dalam hati mereka, (yaitu) kesombongan jahiliah, lalu Allah menurunkan ketenangan kepada Rasūl-Nya dan kepada orang-orang mu’min (QS al-Fatḥ [48]:26). Melalui ayat ini Allah mencela orang-orang kafir karena mereka menampakkan kesombongan yang bersumber dari penggunaan amarah yang tidak pada tempatnya. Melalui ayat ini pula, Allah memuji orang-orang mu’min atas ketenangan yang diberikan-Nya kepada mereka.

Diriwayatkan dari Abū Hurairah bahwa seorang lelaki berkata: “Wahai Rasūlullāh. Perintahkan aku pada suatu ‘amalan, tetapi sedikit saja.” Rasūlullāh pun bersabda: “Jangan marah.” Lelaki itu lalu mengulangi permintaannya, tetapi Rasūlullāh tetap mengatakan: “Jangan marah.” (11) Diriwayatkan dari Ibn ‘Umar, ia berkata,: “Aku pernah berkata kepada Rasūlullāh s.a.w.: “Katakan satu ucapan kepadaku, tetapi sedikit saja. Siapa tahu aku bisa memahaminya.” Lalu Rasūlullāh bersabda: “Jangan marah.” Aku lantas mengulangi permintaanku dua kali lagi, tetapi beliau memberiku jawaban yang sama: “Jangan marah.” (22)

Diriwayatkan dari Ibnu ‘Amru bahwa ia pernah bertanya kepada Rasūlullāh s.a.w.: “Apa yang bisa menyelamatkan aku dari murka Allah?” Rasūlullāh s.a.w. menjawab: “Jangan marah.” (33)

Ibnu Mas‘ūd menuturkan: “Nabi s.a.w. pernah bertanya: “Siapakah petarung tangguh menurut kalian?” Kami menjawab: “Orang yang tak terkalahkan oleh banyak orang.” Nabi lantas menjelaskan: “Bukan dia. Tetapi orang yang sanggup menguasai diri ketika sedang marah.” (44)

Rasūlullāh s.a.w.juga pernah bersabda: “Orang kuat bukanlah orang yang tak terkalahkan dalam perkelahian. Orang kuat adalah yang mampu mengendalikan diri saat sedang marah.” (55) Beliau s.a.w. juga bersabda: Barang siapa menahan amarahnya, Allah menutup aibnya.” (66) Nabi Sulaimān bin Dāwūd a.s. mengatakan: “Wahai anakku. Jauhi olehmu sering marah karena itu bisa menipiskan hati seseorang yang penyabar.

Ḥasan al-Bashrī mengatakan: “Wahai anak Ādam. Setiap kali engkau marah, engkau melompat. Dikhawatirkan saat engkau melompat tinggi, engkau lalu jatuh ke neraka.” Diriwayatkan dari Zulqarnain: “Jangan marah karena syaithān lebih bisa menguasai anak Ādam saat ia sedang marah. Maka, tolaklah kemarahan dengan menahannya, dan padamkan ia dengan kelembutan.” Ja‘far bin Muḥammad mengatakan: “Kemarahan adalah kunci segala keburukan.” Sebagian orang Anshār menyatakan: “Pangkal kedunguan adalah kebengisan, panglimanya adalah kemarahan, dan diam tidak menjawab pertanyaan orang dungu adalah jawaban.”

Kepada seorang bijak dikatakan: “Betapa hebat orang yang bisa menguasai dirinya!” Ia lantas mengatakan: “Ia tidak dihinakan oleh keinginan, tidak dirongrong oleh nafsu, dan tidak dikalahkan oleh amarah.” Diriwayatkan pula bahwa: “Kemarahan bisa merusak keimanan, sebagaimana buah pahit bisa merusak madu.”

Ibnu Mas‘ūd r.a. mengatakan: “Ketahui kesabaran seseorang saat ia marah. Ketahui pula keamanahan seseorang saat ia membutuhkan. Bagaimana engkau bisa tahu kesabarannya jika ia tidak pernah marah? Bagaimana engkau bisa tahu keamanahannya jika ia tidak pernah membutuhkan.” ‘Alī bin Zaid menceritakan: “Seorang lelaki Quraisy berbicara kasar kepada ‘Umar bin ‘Abd-il-‘Azīz. Lalu ‘Umar diam cukup lama. Kemudian ‘Umar mengatakan: “Engkau ingin syaithān mengobarkan amarahku dengan (merusak) kehormatanku sebagai sultan. Hari ini aku mendapatkan darimu sesuatu yang akan engkau dapatkan dariku besok.” (77)

Apabila berkhutbah: ‘Umar bin Khaththāb r.a. mengatakan: “Beruntunglah salah seorang di antara kalian yang terjaga dari ketamakan, nafsu, dan kemarahan.” Wahab bin Munabbih mengatakan: “Kekufuran mempunyai empat sendi, yaitu kemarahan, nafsu, kedunguan, dan ketamakan.

Hakikat Kemarahan

Ketika Allah menciptakan hewan (termasuk manusia) sebagai makhlūq yang mudah mengalami kerusakan dan kebinasaan, Allah pun menganugerahkan kepadanya sesuatu yang bisa melindunginya dari kerusakan dan kebinasaan untuk jangka waktu tertentu. Kerusakan dan kebinasaan adakalanya berasal dari dalam tubuh hewan sendiri. Maka, Allah pun menciptakan makanan yang sesuai dengan karakter tubuh hewan dan menanamkan nafsu makan pada dirinya. Kerusakan dan kebinasaan ada pula yang berasal dari sesuatu di luar hewan, seperti pedang, mata lembing, dan beragam alat pembunuh lainnya. Maka, Allah pun menciptakan amarah dan menanamkannya pada jiwa hewan sebagai fitrah.

Bilamana seseorang diperdaya, api amarah dalam dirinya akan menyala dan membakar darah. Apabila yang ia tidak harapkan belum terjadi, kekuatan amarah akan menggelorakan perlawanan terhadap segala hal yang berpotensi mencelakakannya; dan apabila yang ia tidak harapkan sudah terjadi, kekuatan amarah akan mengupayakan pembalasan.

Kekuatan amarah manusia bisa dibedakan menjadi tiga kualitas. Ada yang kurang, ada yang berlebih, dan ada yang seimbang.

Kurang atau tidak adanya kekuatan amarah dalam diri termasuk hal yang tercela. Orang seperti ini dikatakan tidak punya gairah, tidak bersemangat. Imām Syāfi‘ī raḥimahullāh mengatakan: “Orang yang dibuat marah, tetapi ia tidak marah, adalah keledai.” Allah menggambarkan para sahabat Nabi sebagai berikut: (Mereka) bersikap tegas terhadap orang-orang kafir, tetapi lembut terhadap orang-orang di antara mereka (mu’min) (QS al-Fatḥ [48]: 29). Allah juga berfirman kepada Nabi Muḥammad: Perangilah orang-orang kafir dan orang-orang munāfiq; dan ambillah sikap keras terhadap mereka (QS at-Taḥrīm [66]:9).

Amarah dikatakan berlebihan apabila ia berkuasa atas jiwa dan keluar dari kendali nalar dan agama, sehingga tidak tersisa sedikitpun cahaya padanya. Kemenangan amarah bisa disebabkan oleh perkara-perkara yang bersifat naluriah maupun pembiasaan. Misalnya, seseorang bergaul dengan orang-orang yang terbiasa membanggakan diri sebagai orang yang senantiasa melampiaskan kemarahan, dan mereka menamakannya sebagai keberanian dan kejantanan. Salah seorang dari mereka mengatakan: “Aku tidak bisa bersabar atas perilaku buruk orang lain. Aku pun tidak bisa menerima penghinaan orang lain.” Artinya, ia tidak punya otak dan tidak pula punya kesabaran. Orang tersebut, karena kebodohannya, mengatakan hal demikian itu dengan bangga. Maka, siapa saja yang mendengar ucapan tersebut, akan tertanam pada jiwanya bahwa melampiaskan amarah itu bagus sehingga elemen amarah dalam dirinya menguat. Dalam puncak kemarahan, amarah bisa membuat seseorang menjadi buta dan tuli terhadap semua nasihat, dan memadamkan cahaya nalarnya. Bisa juga dampak kemarahan menjalar ke organ-organ pengindra sehingga orang yang sedang marah tidak bisa melihat dengan matanya dan dunia menjadi gelap baginya. Maka, perahu di tengah gempuran ombak dan badai di tengah lautan yang gelap gulita masih lebih baik dan lebih bisa diharapkan keselamatannya daripada jiwa yang terguncang oleh amarah.

Di antara dampak kemarahan adalah warna kulit berubah, tubuh gemetar, tindakan menjadi tidak berurutan, gerakan dan ucapan terbata-bata, dan mata memerah. Seandainya orang yang sedang marah melihat rupa dirinya yang jelek itu, niscaya ia akan menjadi tenang karena malu. Dibandingkan dengan rupa lahiriah, rupa batiniah orang yang sedang marah jauh lebih buruk.

Dampak kemarahan pada lisan seseorang adalah munculnya cacian dan ucapan-ucapan kotor. Sementara pada anggota badan, dampak kemarahan, antara lain bisa berupa pemukulan, penyerangan, penyobekan, serta pelukaan dan penghilangan nyawa bila mampu. Jika orang yang dimarahi melarikan diri atau tidak ada di tempat, dampak-dampak tersebut bisa saja ditimpakan kepada diri orang yang marah sendiri. Maka, ia pun bisa saja menyobek-nyobek bajunya sendiri, menampar mukanya sendiri, dan tangannya memukul tanah. Bisa juga ia memukul benda-benda dan hewan. Kadang-kadang ia memukul meja makan dan berperilaku seperti orang yang menuduh, dengan memaki-maki hewan ternak dan benda-benda mati. Bahkan bisa jadi ada hewan menyenggolnya, ia pun membalas dengan menendang hewan itu.

Adapun dampak kemarahan pada hati adalah kedengkian, iri hati, menyimpan keburukan, gembira atas kemalangan orang lain, sedih atas kebahagiaan orang lain, membuka rahasia dan menyebarkan aib, menghina, dan berbagai sifat buruk lainnya. Jadi, inilah buah dari amarah yang berlebihan.

Adapun amarah yang terlalu kecil berdampak kurangnya keberanian saat kehormatan keluarga diganggu, menerima begitu saja kehinaan dari para pencela, dan kecil hati. Rasūlullāh s.a.w. bersabda: “Sungguh, Sa‘īd sangat pencemburu, tetapi aku lebih pencemburu daripada Sa‘īd; dan Allah lebih pencemburu daripada aku.” (88) Dikatakan bahwa: “Dalam setiap umat, kecemburuan dititipkan kepada kaum lelakinya, sementara perlindungan dititipkan kepada kaum perempuannya.” Di antara ciri kelemahan elemen amarah adalah sikap lemah dan diam saat menyaksikan kemungkaran. Padahal Allah s.w.t. telah berfirman: Dan janganlah rasa belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama (hukum) Allah (QS an-Nūr [24]:2). Barang siapa kehilangan elemen amarah, ia tidak akan berhasil dalam menempa diri. Sebab, penempaan diri hanya bisa berhasil dengan membuat elemen amarah menguasai elemen nafsu. Yang terbaik adalah elemen amarah berada di bawah kendali petunjuk nalar dan agama serta dalam keadaan seimbang dan proporsional. Amarah lebih lembut daripada rambut dan lebih tajam daripada pedang. Jika seseorang tidak mampu menguasainya, hendaknya ia bisa mendekatinya.

Catatan:

  1. Hadits diriwayatkan oleh al-Bukhārī (no. 6116).
  2. Hadits diriwayatkan oleh Aḥmad (no. 15964), Ibnu Ḥibbān (no. 5690) dan Abū Ya‘lā dengan isnād berkualitas ḥasan (no. 5685).
  3. Hadits diriwayatkan oleh Aḥmad (no. 6635) dan al-Baihāqī dalam Syu‘ab-ul-Īmān (no. 8281). Al-‘Irāqī dalam takhrijnya menyatakan: “Hadits diriwayatkan oleh ath-Thabrānī dan Ibnu ‘Abd-il-Bārr dengan isnād berkualitas ḥasan.”
  4. Hadits diriwayatkan oleh Muslim (no. 2608).
  5. Hadits diriwayatkan oleh al-Bukhārī (no. 6114) dan Muslim (no. 2609).
  6. Hadits dilansir oleh Ibnu Abid-Dunyā dalam Qadhā-l-Ḥawā’ij (no. 36). Al-Haitsamī (8/121) mengatakan: “Hadits diriwayatkan oleh ath-Thabrānī dalam tiga tempat. Dalam rangkaian sanadnya terdapat Sukain bin Sirāj, seorang yang lemah.”
  7. Artinya, Khalīfah ‘Umar bin ‘Abd-il-‘Azīz akan menghukumnya pada esok hari karena ia tidak mau menghukum orang dalam kondisi sedang marah. [Penerjemah]
  8. Hadits diriwayatkan oleh Muslim (no. 1498).

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *