Pengertian Dengki dan Dampak-Dampaknya – Amal Pemusnah Kebaikan

AMAL PEMUSNAH KEBAIKAN
(Ringkasan Bab Muhlikāt Iḥyā’ ‘Ulūm-id-Dīn)
Oleh: Al-Habib ‘Umar bin Hafizh

 
Penerjemah: Nurkaib
Penerbit: Penerbit Noura Books (PT Mizan Publika)
 
(Diketik Oleh: Almarhumah Ibu Rini)

Rangkaian Pos: 005 Mencela - Kemarahan - Kedengkian dan Iri Hati - Amal Pemusnah Kebaikan

Pengertian Dengki dan Dampak-Dampaknya

Apabila seseorang terbiasa menahan kemarahan karena ia tidak bisa melampiaskannya, kemarahan itu akan kembali dan mengendap di dalam batinnya, lalu berubah menjadi kedengkian. Kedengkian sendiri adalah membiasakan hati merasa sesak, kebencian, dan tidak rela terhadap orang lain.

Kedengkian bisa berbuah delapan hal, yaitu [1] irihati (menginginkan hilangnya kesenangan dari orang yang didengki), [2] merasa senang atas musibah yang menimpanya (syamātah), [3] berpaling karena menghinakannya, [4] menjauhi dan memutuskan silaturahmi darinya, [5] berbicara buruk tentangnya – seperti berbohong, menggunjing, membeberkan rahasia, dan membongkar aib, – [6] menirukan gerak atau suaranya dengan maksud merendahkan, [7] menyakitinya dengan pemukulan atau upaya lain yang menyakitkan, dan [8] menghalanginya dari mendapat haknya – seperti pembayaran hutang, pembelaan dari kezaliman, dan silaturahmi. Semua perkara itu adalah haram.

Kedengkian yang paling ringan adalah jika engkau terhindar dari delapan penyakit tersebut di atas dan tidak sampai melakukan kemaksiatan kepada Allah. Namun karena masih ada kedengkian di hatimu, engkau merasa sesak dan benci terhadap orang yang engkau dengki sehingga engkau tidak mau berlaku lembut dan ramah terhadapnya, memenuhi kebutuhannya, membantunya, mendoakannya, dan memujinya. Meskipun kedengkian semacam ini tidak membawamu pada ‘adzāb Allah, tetapi bisa mengurangi derajatmu di sisi-Nya dan menghalangimu dari keutamaan yang besar. Ketika Abū Bakar r.a. bersumpah tidak akan lagi memberikan nafkah kepada Misthah karena terlibat dalam fitnah terhadap ‘Ā’isyah, (211) turunlah wahyu Allah yang berbunyi, Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kalian bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kerabat (nya), orang-orang miskin, dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah; dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kalian tidak suka bahwa Allah mengampuni kalian? (QS an-Nūr [24]: 22). Abū Bakar lantas mengatakan: “Baiklah. Kami menyukai pengampunan.” Kemudian ia kembali memberikan nafkah kepada Misthah. (222)

Yang paling utama bagi orang yang mendengki adalah tetap berlaku seperti biasa sebagaimana saat ia belum mendengki. Apabila memungkinkan, hendaknya ia berlaku lebih baik lagi (terhadap orang yang didengki) dalam rangka menempa diri dan menghinakan setan. Itulah maqam orang-orang shiddīq dan muqarrab (yang mantap keimanannya dan dekat dengan Allah).

Bagi orang yang mendengki terdapat tiga keadaan. Pertama, ia tetap memenuhi hak orang yang didengkinya, tidak menambah dan tidak mengurangi. Inilah yang dinamakan adil. Kedua, ia mengurangi hak-hak orang yang didengkinya. Inilah yang dinamakan kezhaliman. Ketiga, ia berbuat baik kepadanya, memaafkannya, dan tetap menyambung silaturahmi dengannya. Inilah pilihan yang utama, yang dipilih oleh orang-orang shiddīq.

Keutamaan Memberi Maaf dan Berbuat Baik

Yang dimaksud dengan memberi maaf adalah apabila seseorang berhak mendapat sesuatu, lalu ia menggugurkan haknya. Memberi maaf tidak sama dengan bersabar dan menahan kemarahan. Allah s.w.t. berfirman: Jadilah pemaaf, suruhlah orang mengerjakan yang makruf, dan jangan pedulikan orang-orang yang bodoh (QS al-A‘rāf [7]: 199). Allah s.w.t. juga mengatakan: Pembebasan (dari kewajiban membayar mahar) (233) itu lebih dekat pada ketaqwāan (QS al-Baqarah [2]:237).

Rasūlullāh s.a.w. bersabda: “Ada tiga hal. Demi Dzāt yang menggenggam nyawaku, seandainya aku bersumpah, niscaya aku bersumpah dengan tiga hal itu. [1] Harta tidak akan berkurang karena disedekahkan sebagiannya [2] Apabila seseorang memaafkan orang lain atas kezhaliman terhadap dirinya, semata-mata karena mengharap ridha Allah, niscaya Allah menambahkan kemuliaan kepadanya pada Hari Kiamat. [3] Apabila seseorang membuka pintu – meminta pada jiwanya, pasti Allah membukakan pintu kemiskinan kepadanya.” (244) Dalam riwayat yang lain dinyatakan: “Pemberian maaf hanya akan menambah kemuliaan pada diri seorang hamba. Maka berikan maaf, niscaya Allah menjadikanmu mulia.” (255) Abū Dardā’ pernah ditanya mengenai orang yang paling mulia. Ia menjawab: “Orang yang memberi maaf apabila mampu. Maka berikan maaf, niscaya Allah memuliakanmu.” Dalam sebuah hadits shaḥīḥ disebutkan: “Rasūlullāh s.a.w. sama sekali tidak pernah membalas kezhaliman terhadap dirinya. Beliau hanya marah karena Allah dan ridhā karena ridhā Allah.” (266) Bahkan beliau bersabda kepada orang-orang musyrik Makkah, sesudah penaklukan kota tersebut: “Pergilah kalian. Kalian semua bebas.” Maka keluarlah mereka semua seakan-akan baru dibangkitkan dari kubur, lalu mereka memeluk Islam.

Ibrāhīm at-Taimī mengatakan: “Sungguh, apabila ada orang menzhalimiku, aku akan mengasihinya.” Ini dinamakan berbuat baik setelah memaafkan.

Diceritakan bahwa Suwār bin ‘Abdillāh datang menemui Abū Ja‘far al-Manshūr. Lalu ada seorang lelaki dibawa ke hadapan Abū Ja‘far. Abū Ja‘far kemudian menyuruh agar lelaki itu dibunuh. Suwār berkata di dalam hatinya: “Seorang lelaki Muslim akan dibunuh, sementara aku hadir dalam pembunuhan itu? Lalu ia berkata: “Wahai Amīr-ul-Mu’minīn, maukah kukabarakan sebuah hadits yang kudengar dari Ḥasan al-Bashrī?” Abū Ja‘far menjawab: “Apa itu?” Suwār menjawab: “Aku mendengar Ḥasan mengatakan: “Apabila Hari Kiamat telah tiba, Allah mengumpulkan semua manusia di sebuah hamparan yang sama, sehingga penyeru bisa memperdengarkan suaranya kepada mereka semua dan mata bisa melihat mereka semua. Lalu seorang penyeru berseru: Siapa yang memiliki kebajikan di sisi Allah, hendaknya ia berdiri. Tidak ada yang berdiri, kecuali orang yang pernah memberi maaf.” Abū Ja‘far lantas bertanya: “Demi Allah, apa benar engkau mendengarnya dari Ḥasan?” Suwār menjawab: “Demi Allah, aku mendengarnya dari Ḥasan.” Lalu Abū Ja‘far mengatakan: “Kami telah membebaskannya (lelaki itu).”

Diriwayatkan bahwa seorang pencuri memasuki perkemahan ‘Ammār bin Yāsir di Shiffīn. Pencuri itu lalu ditangkap. Lantas dikatakan kepada ‘Ammār: “Potong saja tangannya. Sesungguhnya ia dari kelompok musuh kita.” ‘Ammār lalu mengatakan: “Aku memaafkannya. Semoga Allah memaafkanku pada Hari Kiamat.”

Ibnu Mas‘ūd sedang duduk di pasar sedang membeli makanan. Kemudian ia mengambil uang yang ia taruh di surbannya. Tetapi, uang itu sudah tidak ada. Hal itu membuat orang-orang melaknat orang yang telah mengambilnya. Ibnu Mas‘ūd lantas berkata: “Ya Allah. Jika ia mengambil uangku karena terdesak oleh kebutuhan, berkatilah ia. Jika ia mengambilnya karena keberaniannya melakukan dosa, jadikanlah ini dosanya yang terakhir.”

Diceritakan bahwa para tawanan pengikut Ibnu al-Asy‘ats dibawa ke hadapan ‘Abd-ul-Mālik bin Marwān. ‘Abd-ul-Mālik lantas bertanya kepada Rajā’ bin Haiwah: “Apa pendapatmu?” Rajā’ menjawab: “Sesungguhnya Allah telah memberimu apa yang engkau sukai, yaitu kemenangan (atas kelompok Ibnu al-Asy‘ats). Maka berilah Allah apa yang Dia sukai, yaitu pemberian maaf.” Kemudian ‘Abd-ul-Mālik memberikan ampunan kepada para tawanan itu.

Diriwayatkan bahwa Ziyād menawan seorang lelaki Khawārij. Tetapi lelaki itu kemudian melarikan diri. Lalu ia membawa saudara dari lelaki itu dan berkata kepadanya: “Jika engkau membawa saudaramu ke sini, engkau selamat. Jika tidak, aku tebas lehermu.” Saudara dari lelaki itu lantas mengatakan: “Bagaimana jika aku membawakanmu surat dari Amirul Mukminin, apakah engkau akan membebaskanku?” Ziyād menjawab: “Iya.” Saudara dari lelaki itu lalu mengatakan: “Tetapi aku membawakanmu surat dari Allah dan dua orang saksi, yaitu Ibrāhīm dan Mūsā.” Kemudian ia membaca: “Ataukah belum diberitakan (kepadanya) apa yang ada dalam lembaran-lembaran (Kitab Suci yang diturunkan kepada) Mūsā dan Ibrāhīm yang selalu menyempurnakan janji, (yaitu) bahwa seseorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain?” (QS an-Najm [53]:36-38). Kemudian Ziyād mengatakan: “Bebaskan dia. Dia telah mendapatkan bimbingan untuk menyampaikan alasannya.”

Kelembutan adalah perilaku yang terpuji. Kebalikannya adalah kekejaman (Kekerasan) dan kebengisan. Kelembutan adalah buah dari budi pekerti yang baik. Penyebab kekejaman terkadang adalah kemarahan. Namun, kekejaman kadang-kadang disebabkan oleh ketamakan yang sampai membuat seseorang tidak bisa berpikir dan bersikap tenang. Jadi, kelembutan adalah buah yang hanya bisa dihasilkan oleh budi pekerti yang baik. Budi pekerti tidak menjadi baik, kecuali dengan mengendalikan amarah dan nafsu serta menjaga keduanya dalam posisi seimbang. Karena itulah, Rasūlullāh s.a.w. sangat memuji kelembutan. Dalam shaḥīḥ al-Bukhārī dan Muslim, diriwayatkan bahwa beliau pernah mengatakan: “Wahai ‘Ā’isyah. Sesungguhnya Allah menyukai kelembutan dalam segala hal.” (277) Beliau juga bersabda,: “Jika Allah menyukai suatu keluarga, Dia memasukkan kepada mereka kelembutan. (288) Sesungguhnya Allah Mahalembut (rafīq) dan menyukai kelembutan. (299) Siapa yang terhalang dari berlaku lembut, maka ia telah terhalang dari mendapatkan semua kebaikan. (3010) Siapa pun yang menjadi penguasa, yang berkuasa atas urusan orang lain, lalu ia berlaku lembut, niscaya Allah pun berlaku lembut kepadanya di Hari Kiamat. (3111) Beliau pernah berkata kepada ‘Ā’isyah: “Hendaknya engkau bersikap lembut. Tidaklah sikap lembut masuk pada sesuatu, melainkan ia menjadikannya indah; dan tidak pula ia dicerabut dari sesuatu, melainkan ia menjadikannya dicela.” (3212) Yang terbaik adalah posisi tengah antara kekejaman (kekerasan) dan kelembutan. Namun, ketika tabiat manusia lebih condong kepada kebengisan, mereka perlu untuk lebih didorong pada kelembutan. Ḥasan al-Bashrī mengatakan: “Orang mu’min itu sering berhenti (untuk memeriksa) dan berhati-hati, tidak seperti pengumpul kayu bakar pada malam hari.” Karena itu, kebengisan kadang-kadang diperlukan, tetapi jarang sekali. Orang yang sempurna hanyalah orang yang bisa mengetahui tempat-tempat yang pantas bagi kebengisan, lalu ia menunaikan hak bagi semuanya. Apabila seseorang berlaku sembrono, atau ia kesulitan menentukan apa yang tepat bagi suatu kasus, hendaknya ia lebih condong pada kelembutan, karena pada kelembutan terdapat lebih banyak keselamatan.

Catatan:

  1. ‘Ā’isyah dituduh telah berzina. Salah satu orang yang turut menuduhnya adalah Misthah, orang yang selama ini diberi nafkah oleh Abū Bakar karena masih kerabat dekatnya. [Penerjemah]
  2. Hadits diriwayatkan oleh al-Bukhārī (no. 4750) dan Muslim (no. 2780).
  3. Dalam ayat ini digunakan kata an ta‘fuwa, yang secara tekstual berarti pemberian maaf. Jadi, perhatikan perbedaan maaf dalam pembahasan ini dengan maaf dalam penggunaan bahasa kita sehari-hari. [Penerjemah]
  4. Hadits diriwayatkan oleh at-Tirmidzī (no. 2325). Hadits serupa diriwayatkan oleh Muslim (2588).
  5. Hadits diriwayatkan oleh ath-Thabrānī dalam al-Ausath (no. 2270) dan dalam al-Shaghīr (no. 142). Al-Haitsamī (3/141) mengatakan: “Hadits ini diriwayatkan Ath-Thabrānī dalam al-Ausath dan al-Shaghīr. Dalam sanadnya terdapat Zakariyyā bin Duwaid. Ia seorang yang sangat lemah.” Hadits ini juga diriwayatkan oleh al-Bazzār (no. 1032).
  6. Hadits dilansir oleh Ibnu Sa‘ad (1/422), at-Tirmidzī dalam al-Syama’il (no. 225), dan ath-Thabrānī (22/155).
  7. Hadits diriwayatkan oleh al-Bukhārī (no. 6024) dan Muslim (no. 2165).
  8. Hadits dilansir oleh Aḥmad (no. 24427) dengan sanad jayyid, dan al-Baihaqī dalam Syu‘ab-ul-Īmān (no. 6560). Al-‘Irāqī dalam takhrījnya mengatakan: “Sanadnya lemah.”
  9. Hadits diriwayatkan oleh Muslim (no. 2593).
  10. Hadits diriwayatkan oleh Muslim (no. 2592) dan Abū Dāwūd (no. 4809).
  11. Hadits diriwayatkan oleh Muslim (no. 1828).
  12. Hadits diriwayatkan oleh Muslim (no. 2594).

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *