Menghilangkan Elemen Amarah – Amal Pemusnah Kebaikan

AMAL PEMUSNAH KEBAIKAN
(Ringkasan Bab Muhlikāt Iḥyā’ ‘Ulūm-id-Dīn)
Oleh: Al-Habib ‘Umar bin Hafizh

 
Penerjemah: Nurkaib
Penerbit: Penerbit Noura Books (PT Mizan Publika)
 
(Diketik Oleh: Almarhumah Ibu Rini)

Rangkaian Pos: 005 Mencela - Kemarahan - Kedengkian dan Iri Hati - Amal Pemusnah Kebaikan

Apakah Mungkin Menghilangkan Elemen Amarah dengan Penempaan Diri?

Sebagian orang mengira bahwa elemen amarah bisa dilenyapkan dari dalam tubuh secara keseluruhan. Sebagian lain mengira bahwa sifat marah tidak bisa disembuhkan. Kedua prasangka tersebut lemah. Yang benar adalah selama manusia masih menyukai sesuatu, membenci sesuatu, selaras dengan sesuatu, dan bertentangan dengan sesuatu, maka senantiasa ia akan menyukai apa yang sesuai dengannya dan membenci apa yang bertentangan dengannya. Dan, amarah mengikuti hal tersebut.

Apa yang disukai manusia terbagi menjadi tiga:

Pertama, kebutuhan pokok menurut ukuran semua orang, seperti makanan pokok, rumah, pakaian, dan kesehatan badan. Semua itu adalah kebutuhan primer, yang semua orang tentu tidak ingin kehilangannya.

Kedua, sesuatu yang bukan termasuk kebutuhan pokok, seperti kedudukan, harta benda yang banyak, dan kendaraan. Semua ini bisa menjadi kesenangan manusia karena kebiasaan dan kebodohan akan tujuan hidup. Kesenangan jenis ini termasuk kesenangan yang mungkin saja tidak membuat seseorang menjadi marah jika kehilangan sesuatu darinya. Sebab, bisa jadi ia telah melihat dunia dengan mata hatinya, lalu bersikap zuhud terhadap selain kebutuhan pokok. Namun, sebagian besar kemarahan orang terkait dengan sesuatu yang bukan termasuk kebutuhan pokok, seperti jabatan, nama baik, menonjolkan diri dalam suatu majelis, dan reputasi keilmuan. Seseorang yang telah dikuasai oleh rasa cinta pada yang selain kebutuhan pokok, niscaya akan marah apabila ada orang lain yang menyainginya untuk tampil dalam suatu perkumpulan. Adapun orang yang tidak menyukai selain kebutuhan pokok, tidak akan peduli walaupun ada orang lain duduk di atasnya. Semakin bertambah banyak dan besar nafsu yang menguasai seseorang, semakin turun dan berkurang kehormatannya. Sebagian orang bodoh bahkan akan marah bila dikatakan kepadanya: “Engkau tidak pandai bermain burung atau catur atau mengkonsumsi makanan terlalu banyak,” atau ucapan-ucapan lain yang sedikit merendahkan.

Ketiga, kebutuhan pokok bagi sebagian orang. Misalnya, kitab bagi orang ‘ālim dan alat-alat kerja bagi pekerja. Kebutuhan ini berbeda antara satu orang dan yang lain. Namun, yang benar-benar kebutuhan pokok adalah sebagaimana yang disyaratkan Rasūlullāh s.a.w. Beliau bersabda: “Barang siapa tidak ada ketakutan pada dirinya, sehat badannya, dan mempunyai makanan pokok untuk harinya, seakan-akan ia telah dianugerahi dunia dan segenap isinya.” (91) Puncak penempaan diri untuk menyembuhkan kemarahan karena cinta pada kebutuhan pokok (bagian pertama) adalah dengan tidak mematuhi amarah, bukan dengan menghilangkan elemen amarah dari hati. Seseorang hendaknya tidak menggunakan amarah secara lahiriah, kecuali sebatas apa yang dianggap baik oleh syarī‘at dan nalar. Hal ini bisa dilakukan dengan cara berlatih, memaksa diri, dan bersikap tegar. Cara ini juga digunakan untuk menyembuhkan kemarahan karena kecintaan pada harta jenis ketiga. Penempaan diri semacam ini mencegah seseorang meluapkan amarah dan melemahkan kobarannya, sehingga bersabar atas suatu kemarahan tidak lagi menyakitkan.

Adapun kemarahan karena cinta terhadap sesuatu yang bukan kebutuhan pokok (bagian kedua) bisa disembuhkan dengan latihan melepaskan diri dari amarah, yaitu dengan mengeluarkan perasaan cinta tersebut dari dalam hati. Hendaknya seseorang menyadari bahwa tanah airnya adalah alam kubur, rumah tinggalnya adalah akhirat, dunia hanyalah tempat singgah untuk mengambil bekal, dan selain itu semua hanyalah beban baginya untuk mencapai rumah tinggal. Akhir dari penempaan diri untuk menyembuhkan kemarahan karena cinta harta jenis kedua ini adalah terkendalinya amarah. Namun, ini langka terjadi. Kadang-kadang penempaan diri hanya sampai dengan mencegah meluapnya amarah dan terjadinya tindakan sesuai dengan tuntutannya. Dibandingkan dengan penempaan diri yang menghasilkan terkendalinya amarah, penempaan diri yang menghasilkan tercegahnya luapan amarah lebih rendah derajatnya. ‘Alī karramallāhu wajhah mengatakan: “Rasūlullāh s.a.w.tidak pernah marah karena urusan dunia. Jika suatu kebenaran membuatnya marah, tak seorang pun mengenalinya, dan tidak ada sesuatu pun yang dapat menahan amarah beliau saat itu hingga beliau membela kebenaran tersebut.

Menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan penting bisa mencegah kobaran amarah, sebagaimana yang dilakukan Salmān al-Fārisī. Ketika ada yang mencelanya, ia mengatakan: “Jika timbangan ‘amal kebaikanku ringan, berarti aku lebih buruk daripada apa yang engkau katakan; jika berat, apa pun yang engkau katakan tidak akan berdampak buruk bagiku.” Semua hasrat Salmān dicurahkan untuk akhirat. Karena itu, celaan sama sekali tidak mempengaruhinya.

Rabi‘ bin Khutsaim pernah dimaki orang, lantas ia mengatakan: “Wahai engkau ini. Sungguh, Allah mendengar ucapanmu. Sesungguhnya di bawah surga terdapat pendakian yang sulit. Jika aku melewatinya, ucapanmu tidak akan membahayakanku. Namun, jika aku tidak mampu melewatinya, aku lebih buruk daripada apa yang engkau katakan.” Seorang lelaki mencaci Abū Bakar r.a. Lantas Abū Bakar mengatakan: “Keburukanku yang disembunyikan Allah darimu lebih banyak.” Jadi, karena keagungan jiwanya, Abū Bakar senantiasa menyibukkan diri memikirkan kekurangannya sendiri. Seorang perempuan mengatakan kepada Mālik bin Dīnār: “Wahai seorang tukang pamer!” Mālik justru mengatakan: “Hanya engkau yang mengenalku!” Jadi, Mālik senantiasa menyibukkan diri menghilangkan penyakit riyā’ dari jiwanya. Seorang lelaki memaki asy-Sya‘bī, lalu ia mengatakan: “Jika engkau benar, semoga Allah mengampuniku; namun jika engkau berdusta, semoga Allah mengampunimu.” Dengan demikian, kemarahan bisa hilang dengan menyibukkan hati dengan hal-hal yang penting atau dengan menguatkan visi tauḥīd. Bisa juga dengan cara ketiga, yaitu dengan menyadari bahwa sesungguhnya Allah menyukai orang yang tidak mudah terpancing amarahnya sehingga kecintaannya kepada Allah memadamkan amarahnya.

Siapa yang mengeluarkan perasaan cinta dunia dari dalam hatinya, maka ia terlepas dari sebagian besar penyebab kemarahan. Sesuatu yang tidak mungkin dilenyapkan, masih mungkin untuk dikendalikan dan dilemahkan. Kita memohon pertolongan dari Allah melalui kelembutan dan kemurahan-Nya. Sesungguhnya Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.

Sebab-Sebab yang Mengobarkan Kemarahan

Obat bagi semua penyakit adalah dengan melenyapkan bahan dasarnya. Nabi Yaḥyā pernah bertanya kepada Nabi ‘Īsā: “Apakah yang paling keras?” Nabi ‘Īsā menjawab: “Murka Allah.” Nabi Yaḥyā bertanya lagi: “Lalu apa yang mendekatkan seseorang pada murka Allah?” Nabi ‘Īsā menjawab: “Saat engkau marah.” Nabi Yaḥyā kembali bertanya: “Lantas apa yang menyebabkan kemarahan dan menumbuhkannya?” Nabi Isa menjawab: “Kesombongan, tinggi hati, dan kepongahan.

Jadi, yang bisa mengobarkan kemarahan adalah kesombongan, ‘ujub, gurauan, hinaan, perilaku membuka aib orang, perdebatan, pertentangan, pengkhianatan, serta ketamakan terhadap harta benda dan kedudukan. Maka dari itu, sudah seharusnya engkau melenyapkan kesombonganmu dengan sikap rendah hati, dan ketinggian hatimu dengan mengenali dirimu.

Bangga diri, ujub, dan sombong termasuk sifat yang sangat hina. Yang bisa dibanggakan hanyalah keutamaan, dan sifat-sifat mulia. Gurauan bisa ditinggalkan dengan menyibukkan diri dengan urusan-urusan ibadah; ketidaksungguhan bisa dihilangkan dengan kesungguhan dalam mencari keutamaan, akhlāq, dan ilmu yang bermanfaat; hinaan bisa dipadamkan dengan menjaga hati, berlaku mulia, dan tidak mencela orang lain; perilaku membuka aib bisa dihilangkan dengan menghindari perkataan kotor dan pedas; dan ketamakan terhadap gemerlap kehidupan bisa dilenyapkan dengan merasa cukup dengan kebutuhan pokok – guna mencapai kekayaan hati.

Di antara penyebab kemarahan yang paling besar bagi sebagian besar orang-orang awam adalah penggunaan istilah pemberani, gentle, besar-nyali, dan istilah-istilah positif lainnya kepada orang yang suka marah. Penggunaan istilah-istilah itu disebabkan oleh kebodohan mereka. Dampaknya, orang cenderung senang dan menganggap pelampiasan amarah sebagai kebaikan. Padahal itu adalah penyakit hati, bukti kurangnya akal, dan tanda kelemahan jiwa. Oleh karena itu, orang sakit lebih cepat marah daripada orang sehat; perempuan lebih cepat marah daripada lelaki; anak-anak lebih cepat marah daripada orang dewasa; kakek-kakek lebih cepat marah daripada orang setengah baya; dan orang hina lebih cepat marah daripada orang mulia.

Catatan:

  1. Hadits diriwayatkan oleh at-Tirmidzī (no. 2346) dengan status ḥasan, dan oleh Ibnu Mājah (no. 4141).

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *