Hati Senang

04 Ulasan as-Suyuthi tentang Maulid Nabi (2/2) – Dalil Syar’i Maulid Nabi

*** Tanggapan pernyataan al-Fākihānī di bagian kedua dan seterusnya: pernyataan tersebut memang benar, hanya saja larangan yang ada adalah disebabkan karena adalah hal-hal terlarang yang terdapat dalam perayaan Maulid, bukan dari sisi perkumpulan untuk memperlihatkan syiar Maulid. Lebih dari itu, jika hal-hal tersebut terjadi dan dilakukan saat Shalat Jum‘at tentu lebih tercela lagi. Hal serupa juga bisa kita lihat (dapat terjadi) saat shalat Tarawih di malam-malam bulan Ramadhān, lantas apakah…

04 Ulasan as-Suyuthi tentang Maulid Nabi (1/2) – Dalil Syar’i Maulid Nabi

Ulasan as-Suyuthi tentang Maulid Nabi Anjuran Menampakkan Rasa Senang Turunnya nikmat atau terhindar dari suatu musibah pada hari tertentu perlu disyukuri. Hari semacam ini terulang setiap tahunnya dan rasa syukur kepada Allah s.w.t. bisa dilakukan dengan berbagai bentuk ibadah seperti sujud syukur, puasa, sedekah, tilawah dan lainnya. Dan nikmat mana yang lebih agung dari kelahiran Nabi pembawa rahmat?! Anjuran Menampakkan Rasa Senang Mari kita belajar dari para ulama dan para…

03-14,15 Memuji Nabi s.a.w. Sesuatu yang Munkar? – Dalil Syar’i Maulid Nabi

Memuji Nabi s.a.w. Sesuatu yang Munkar? Melalui penjelasan di atas dapat diketahui, mereka yang menilai pujian untuk Nabi s.a.w. sebagai suatu kemungkaran berdasarkan hadits: “Jangan memujiku seperti kaum Nasrani memuji putra Maryam.” (24) mereka berpedoman pada hadits yang tidak pada tempatnya. Al-Ḥāfizh Ibnu Ḥajar menjelaskan dalam Fatḥ-ul-Bārī, ithrā’ adalah memuji secara batil. Bahkan andaipun ithrā’ diartikan sebagai pujian secara mutlak, toh lanjutan hadits menjelaskan dan membatasi larangan yang…

03-11,12,13 Senang atas Kelahiran Nabi adalah Perintah Ilahi – Dalil Syar’i Maulid Nabi

Senang atas Kelahiran Nabi adalah Perintah Ilahi. Senang atas kelahiran Nabi s.a.w. termasuk dalam pengertian menjalankan perintah Allah s.w.t.: قُلْ بِفَضْلِ اللهِ وَ بِرَحْمَتِهِ فَبِذلِكَ فَلْيَفْرَحُوْا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُوْنَ. “Katakanlah: “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (Qs. Yūnus: 58). As-Suyūthī menukil pendapat Ibnu ‘Abbās r.a., yang dimaksud “karunia” dalam ayat tersebut adalah…

03-8,9,10 Amaliyah Peringatan Maulid – Dalil Syar’i Maulid Nabi

Amaliyah Peringatan Maulid Al-Ḥāfizh Ibnu Ḥajar melanjutkan penjelasan sebelumnya seperti yang dinukil dari al-Ḥāwī (1/302): “Berkenaan dengan amalan-amalan yang dikerjakan saat Maulid, selayaknya terbatas pada hal-hal yang mencerminkan rasa syukur kepada Allah s.w.t. seperti tilawah, memberi makanan, sedekah, dan melantunkan pujian-pujian nabawi, dan syair-syair tentang zuhud. Hal-hal selebihnya, seperti adanya nyanyian, permainan, dan lainnya perlu diperhatikan: jika itu sesuatu yang mubāḥ dan mendatangkan kesenangan terkait dengan hari Maulid, sah-sah saja…

03-4,5,6,7 Nabi tidak Melakukan semua Perbuatan Mubah – Dalil Syar’i Maulid Nabi

Nabi tidak Melakukan semua Perbuatan Mubāḥ. Seluruh orang muslim mengetahui dengan pasti bahwa Nabi s.a.w. tidak melakukan segala yang mubāḥ, karena terlalu banyak hal-hal mubāḥ itu, mustahil seorang bisa merinci secara menyeluruh segala yang dilakukan. Nabi s.a.w. seorang yang zuhud dan sederhana, beliau melakukan perbuatan mubāḥ sebatas kebutuhan saja, selebihnya beliau tinggalkan. Sehingga, barang siapa mengklaim suatu perbuatan itu haram dengan alasan bahwa Nabi tidak melakukan, maka itu hanya klaim…

03-3 Sumber Pendapat yang Membid’ahkan Maulid – Dalil Syar’i Maulid Nabi

Tentang Salaf yang tidak Melakukan Sesuatu Ibnu Taimiyyah menyatakan, kenyataan bahwa Rasūlullāh s.a.w. tidak mengerjakan sesuatu tidak bisa dijadikan hujjah ketika ada dalil syar‘i lain. Ibnu Taimiyyah menjelaskan saat membahas hukum masuk ke pemandian umum dalam al-Fatāwā (21/313); siapapun tidak bisa menyatakan makruh atau tidak dianjurkan hanya karena Nabi s.a.w. tidak pernah masuk ke pemandian umum, karena kenyataan bahwa Rasūlullāh s.a.w. tidak mengerjakan sesuatu hanyalah salah satu dari sekian dalil-dalil…

03-0,1,2 Merayakan Maulid Nabi: Sunnah atau Bid‘ah – Dalil Syar’i Maulid Nabi

Pasal Ketiga Merayakan Maulid Nabi: Sunnah atau Bid‘ah. “Untuk apa kalian duduk berkumpul?” tanya Nabi s.a.w. “Untuk mengingat dan memuji Allah karena telah memberi kami petunjuk menuju Islam dan menganugerahkan Islam kepada kami,” jawab sahabat. “Demi Allah, hanya itu alasan kalian duduk berkumpul?” “Demi Allah hanya itu alasan kami duduk berkumpul.” “Aku meminta kalian bersumpah bukannya aku meragukan kalian, Jibrīl baru saja datang menghampiriku dan memberitahukan bahwa Allah membangga-banggakan kalian…

008 – Simth-ud-Durar (Untaian Mutiara)

اللهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ أَشْرَفَ الصَّلَاةِ وَ التَّسْلِيْمْ عَلَى سَيِّدِنَا وَ نَبِيِّنَا مُحَمِّدٍ الرَّءُوْفِ الرَّحِيْمْ Limpahkan ya Allah Semulia-mulia selawat dan salam Atas junjungan dan Nabi kami Muḥammad Yang amat penyantun, amat penyayang. وَ لَمَّا نَظَمَ الْفِكْرُ مِنْ دَرَارِيِّ الْأَوْصَافِ الْمُحَمَّدِيَّةِ عُقُوْدًا تَوَجَّهْتُ إِلَى اللهِ مُتَوَسِّلًا بِسَيِّدِيْ وَ حَبِيْبِيْ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ أَنْ يَجْعَلَ سَعْيِيْ فِيْهِ مَشْكُوْرًا وَ فِعْلِيْ فِيْهِ مَحْمُوْدًا وَ أَنْ يَكْتُبَ عَمَلِيْ فِي الْأَعْمَالِ
Lewat ke baris perkakas