Hati Senang

1. Tantangan Awal yang Dihadapi Muḥammad S.A.W.

Allah ta‘ala memilih Muḥammad s.a.w. yang sudah terkenal akan kejujurannya di kalangan kaumnya sebagai Rasūl-Nya. Muḥammad hidup di tengah-tengah kaumnya selama empat puluh tahun sebelum diutus sebagai Rasūl dan sebelum dibebani amanat membawa risalah. Selama itu kaumnya belum pernah mendengar atau menyaksikan beliau berbohong, sampai-sampai beliau diberi gelar oleh kaumnya dengan gelar al-Amin.

Akan tetapi setelah beliau dibebani amanat oleh Allah untuk membawa risalah, dan agar menyeru kaumnya dengan teran-terangan, tokoh-tokoh Quraisy merintanginya. Ini disebabkan karena mereka melihat dakwah Islam yang disebarkan Muḥammad dari hari ke hari semakin mencuat. Tentu saja cepat atau lambat ini akan mengakhiri pengaruh dan kekuasaan mereka. Maka karena itulah sejak awal mereka mati-matian merintangi dakwah Muḥammad. Bagaimana mereka tidak khawatir, Islam menyamakan kedudukan budak dengan majikan dan menyamaratakan manusia. Islam tidak memandang derajat manusia dari warna kulit, keturunan dan darahnya tapi dari ketaqwaannya. Islam memberikan hak yang sama kepada semua orang, entah itu kepada bangsawan maupun harijan (Salah satu suku di India yang dianggap paling rendah bahkan tidak boleh disentuh oleh kasta lain.).

Pekik-pekik Islam yang senantiasa didengungkan Muḥammad kepada kaumnya terdengar keras dan memekakkan telinga tokoh-tokoh Quraisy. Mereka panik dan kalap. Karena itulah mereka berusaha menumpas ajaran yang dibawa Muḥammad s.a.w. dengan segala cara. Setelah dengan cara kompromi melalui perundingan tidak berhasil, mereka melakukan kekerasan dan memerangi kaum muslimin. Namun al-ḥamdulillāh, pada awal dakwahnya Rasūlullāh memiliki dua orang pelindung yang mempunyai pengaruh cukup besar di kalangan kaumnya sehingga tokoh-tokoh Quraisy tidak gegabah “menindak”nya. Kedua orang yang amat menyayangi dan amat melindungi beliau itu adalah pamannya, Abū Thālib dan istri yang sangat mencintai dan membelanya, Khadījah binti Khuwailid r.a.

Khadījah adalah seorang istri dan ibu rumah tangga yang pandai memberikan ketenangan kepada suaminya tatkala suaminya gundah-gulana. Ia memberikan semangat dengan ucapan, cinta dan hartanya agar suaminya terus berjuang menegakkan al-ḥaqq. Apabila Rasūlullāh kembali ke rumah dengan hati galau dan pikiran kacau karena sikap dan tindakan kaum Quraisy, maka Khadījah segera menyambutnya dengan senyum dan wajah cerah seperti menyambut seorang ksatria yang baru pulang dari medan laga sehingga derita yang dialami Rasūlullāh lenyap sebelum senyuman istrinya berakhir.

Kaum Quraisy dan tokoh-tokohnya terus mencari jalan keluar dalam menghadapi agama yang dibawa Muḥammad, yang tampak jelas kedatangannya hendak merampas kekuasaan dan pengaruh duniawi mereka. Pikiran pertama yang muncul dalam benak mereka adalah menyuap Muḥammad dengan harta, tahta dan wanita dengan syarat beliau mau meninggalkan dakwahnya. Sebagai penyembah dunia, mereka mengukur Muḥammad s.a.w. dengan materi. Mereka mengira Muḥammad dapat ditaklukkan dengan dunia pula. Untuk itu mereka berunding dan berunding terus dalam mempersiapkan bujuk-rayu yang ampuh. Setelah usai berunding, maka mereka pun pergilah menemui Abū Thālib guna menyampaikan tawaran tersebut. Kata mereka: “Kalau anda membawa kisah itu untuk mendapatkan harta, kami akan mengumpulkan harta kami untuk anda sehingga anda akan menjadi orang terkaya di antara kami. Kalau anda meminta kekuasaan dan wibawa, kami pun akan mengangkat anda menjadi raja kami, dan kalau yang datang kepada anda itu (maksudnya: wahyu yang dibawa malaikat Jibrīl) suatu kekuatan jinn, maka kami akan mencarikan seorang tabib yang mahir untuk menyembuhkan anda dari gangguan jinn ‘Ifrit yang jahat itu.”

Namun ternyata, bujuk-rayu mereka tidak mengenai sasaran. Muḥammad sama sekali tidak terpengaruh oleh dunia yang ditawarkan mereka karena memang beliau datang untuk mengundang orang agar memperbanyak bekal perjalanan ke akhirat. Ini terbukti bahwa Muḥammad datang dan menyeru bukan untuk menggalakkan kaumnya agar memburu harta dan kesenangan duniawi karena kehidupan akhirat adalah kehidupan yang hakiki bagi manusia. Di sanalah manusia kekal abadi.

Allah s.w.t. berfirman:

وَ إِنَّ الدَّارَ الْآخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ، لَوْ كَانُوْا يَعْلَمُوْنَ.

Sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan kalau mereka mengetahui.” (Al-‘Ankabūt: 64).

Ketika pamannya, Abū Thālib menyampaikan amanat kaumnya itu, Muḥammad s.a.w. menjawab dengan tegas: “Ya ‘Ammi! Wallāhi, kalau sekiranya mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku, aku tetap tidak akan menghentikan dakwahku ini hingga akhir hayatku.”

Bagikan:

BAB I

LATAR BELAKANG DIBERIKANNYA MU‘JIZAT ISRĀ’ MI‘RĀJ KEPADA RASŪLULLĀH S.A.W.

 

Allah s.w.t. mendukung Rasūl-Nya, Muḥammad s.a.w. dengan berbagai mu‘jizat. Mu‘jizat itu sebagian besar bersifat materi, yang bisa dilihat oleh semua orang, seperti memancarnya air dari sela-sela jari Rasūlullāh, datangnya awan yang berarak memayungi perjalanannya di siang hari yang terik, retaknya bulan, dan lain-lain. Akan tetapi ada mu‘jizat terbesar yang belum pernah diberikan dan diperlihatkan kepada siapapun namun hanya diberikan kepada Rasūlullāh s.a.w., yaitu kepergian Rasūlullāh s.a.w. ke Sidrat-ul-Muntahā (langit tertinggi). Bahkan Rasūlullāh telah melampauinya untuk melihat ayat-ayat Allah di seluruh langit-Nya. Malaikat Jibrīl a.s. saja yang merupakan malaikat terbesar dan terdekat dengan Allah ta‘ālā tidak berani memasuki tempat itu. Hingga di Sidrat-ul-Muntahā, malaikat Jibrīl berhenti dan menyuruh Rasūlullāh s.a.w. maju seorang diri. Jibrīl berkata kepada beliau: “Majulah, ya Rasūlullāh! Kalau aku melampaui perbatasan ini dan maju bersamamu, aku akan terbakar hangus!”

Buku ini berbicara tentang mu‘jizat terbesar yang khusus diberikan kepada Rasūlullāh s.a.w., yaitu Isrā’ dan Mi‘raj. Tidak seorang nabi pun yang mendapatkan mu‘jizat ini. Belum pernah ada seorang nabi pun yang naik ke atas langit hingga mencapai Sidrat-ul-Muntahā (bahkan melampauinya), kemudian kembali ke bumi pada malam itu juga untuk meneruskan kehidupan rutinnya di muka bumi, selain Muḥammad Rasūlullāh s.a.w.

Sebelum kami berbicara tentang mu‘jizat besar ini, kami akan mengisahkan kepada anda peristiwa-peristiwa yang mendahului mu‘jizat tersebut yang menyebabkan mu‘jizat itu terjadi.

Rasūlullāh s.a.w. sebagai nabi dan rasul terakhir Allah s.w.t. telah dipersiapkan secara Ilāhiyyah oleh Allah ta‘ālā untuk mengemban risalah yang besar yakni risalah terakhir langit untuk bumi. Allah menjadikan Muḥammad s.a.w. seorang yang ummi, tidak pandai membaca dan menulis sehingga tidak ada orang yang bisa menuduh bahwa beliau “meniru dan mengutip” mu‘jizat itu dari peradaban umat-uamt yang lalu, atau dia belajar ilmu dari seorang guru. Allah s.w.t. menginginkan hanya Dialah satu-satunya yang menjadi guru Muḥammad s.a.w. Allah ingin ilmu yang diperoleh rasul-Nya itu langsung dari sisi-Nya, tanpa campur tangan peradaban bumi. Hal ini saja sudah merupakan suatu mu‘jizat.

Demikianlah, Muḥammad s.a.w. dibesarkan tanpa belajar dan tanpa seorang guru. Ini tidak seperti halnya anak-anak sebayanya. Muḥammad s.a.w. tidak tahu perihal dunia sedikitpun. Selama hidupnya beliau tidak pernah membaca satu huruf pun. Karena itulah, ketika malaikat Jibrīl datang menyuruhnya “Iqrā’ (bacalah!)”, Muḥammad langsung menjawab: “Mā ana bi-qāri’ (aku tidak pandai membaca)!” Beliau menjawab dengang tulus dan polos. Tetapi Jibrīl memeluknya erat-erat seraya berkata lagi, “Iqrā’”, dan Rasūlullāh mengulangi kembali jawabannya: “Mā ana bi-qāri’!”. Peristiwa itu terjadi berulang-ulang hingga tiga kali.

Timbul pertanyaan di sini, apakah Allah ta‘ālā yang mengirim malaikat Jibrīl tidak tahu bahwa Muḥammad s.a.w. tidak pandai membaca dan menulis? Mengapa Muḥammad masih disuruh membaca? Bukankah Dia juga yang memilihnya menjadi seorang nabi yang ummi, yang tidak pandai membaca dan menulis. Bahkan ciri-cirinya sudah diumumkan dalam kitab Taurāt dan Injīl, sejak Nabi Mūsā dan ‘Īsā a.s., jauh sebelum Muḥammad hidup di muka bumi.

Perhatikanlah firman-Nya dalam al-Qur’ān-ul-Karīm:

الَّذِيْنَ يَتَّبِعُوْنَ الرَّسُوْلً النَّبِيَّ الْأُمِّيَّ الَّذِيْ يَجِدُوْنَهُ مَكْتُوْبًا عِنْدَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَ الْإِنْجِيْلِ.

Mereka yang mengikut Rasūl, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurāt dan Injīl…..” (al-A‘rāf: 157).

Ayat itu melukiskan kisah bangsa Yahudi yang menyembah anak lembu (sapi) dan bagaiman Mūsā a.s. telah memilih tujuh orang dari kaumnya. Kata Ikhtāra (bahwa yang dilakukan Mūsā itu adalah suatu kerja pilihan) artinya: “harus menggunakan akal pikiran”. Mūsā memilih “ikhtāra” tujuh puluh oleh lelaki yang diambil satu persatu dari setiap suku bangsa Yahudi sehingga semua suku Yahudi terwakili. Pada waktu yang ditetapkan, Mūsā a.s. akan memenuhi undangan Allah ta‘ālā. Allah ingin mengingatkan nabi-Nya, Mūsā a.s. tentang besarnya dosa kaumnya yang menyembah anak lembu (sapi). Karena itulah mereka dihukum dengan suatu gempa bumi yang dahsyat hingga menggocangkan seluruh persendian tubuh mereka, seolah-olah nyawa telah meninggalkan tubuh mereka masing-masing. Gempa yang ditimpakan Allah itu merupakan hukuman kepada orang yang menyembah dan menontoni keberkahan kepada anak lembu (sapi). Juga bencana dan adzab yang ditimpakan kepada orang yang tidak berusaha mencegah.

Pada waktu itulah Mūsā a.s. memohon kepada Rabbnya. Katanya: “Ya Rabbi, wahai Pengasih dan Penyayang! Apakah kami akan ditewaskan karena perbuatan sesat orang-orang bodoh itu? Ya Rabbi, berilah kami karunia rahmat-Mu di dunia dan di akhirat.”

Maka pada saat itu Allah s.w.t. memberitahukan kepada Mūsā a.s. tentang rahmat-Nya yang telah diberikan kepada orang yang mengikuti dan mematuhi Rasūl dan Nabi-Nya yang ummi. Allah memerintahkan agar “pemberitahuan” itu disampaikan kepada umatnya.

Dari kisah tersebut tahulah kita bahwa Allah ta‘ālā sejak azali telah memilih Rasūl-Nya yang ummi. Inipun merupakan salah satu mu‘jizat Rasūlullāh s.a.w. lainnya yang mengandung hikmah agar jangan ada orang yang menuduhnya telah mendapat ilmu dari Ahli Kitab atau membacanya dari kitab orang-orang terdahulu.

Yang dikatakan Jibrīl kepada Muḥammad s.a.w. pada pertemuan yang pertama kali itu tidak terlepas dari wahyu Jibrīl dikirim Allah untuk menyampaikan firman-Nya:

اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَ. خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ. اِقْرَأْ وَ رَبُّكَ الْأَكْرَمُ. الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِ. عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ.

Bacalah dengan (menyebut) nama Rabbmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Rabbmulah Yang Paling Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan qalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (al-‘Alaq: 1-5).

Dengan mu‘jizat-Nya itu Allah ta‘ālā ingin menarik perhatian kita bahwa Rasūl-Nya yang ummi, Muḥammad s.a.w. akan diajari-Nya sendiri supaya dapat menjadi guru seluruh umat manusia hingga akhir jaman.

Bagikan:

PENDAHULUAN

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

 

(Peristiwa-peristiwa Ketika Isrā’):

Ketika Nabi s.a.w. sedang berada di Ḥijr Ismā‘īl yang terletak di dekat Ka‘bah dengan posisi terlentang di antara sepasang kaki, tiba-tiba Jibrīl dam Mikā’īl yang ditemani oleh satu malaikat lain mendatangi beliau. Mereka menggotong tubuh beliau. Dan setelah membawakan air zamzam, mereka meletakkan tubub beliau dalam posisi telentang dengan punggung di bawah. Jibrīl lalu meminta tolong mereka mengurus beliau.

Dalam suatu riwayatkan disebutkan, atap rumah Nabi s.a.w. dilubangi. Setelah turun, Jibrīl membedah lehernya sampai ke perut bagian bawah.

“Ambilkan aku satu baskom berisi air zamzam untuk membersihkan hatinya, dan melapangkan dadanya”, kata Jibrīl kepada temannya si Mikā’īl.

Setelah mengeluarkan hati Nabi s.a.w., Jibrīl kemudian membasuhnya sebanyak tiga kali. Ia membersihkan semua kotoran yang ada padanya. Setelah ikut membantu Jibrīl membawakan baskom berisi air zamzam berganti-ganti sebanyak tiga kali, Mikā’īl lalu membawakan sebuah baskom terbuat dari emas yang berisi penuh dengan hikmah dan iman. Setelah menuangkan sifat santun, ilmu, keyakinan, dan Islam ke dalam dada Nabi s.a.w., Jibrīl kemudian mengatupkannya kembali. Dan setelah Jibrīl memasang cap kenabian pada sepasang lengan Nabi s.a.w, didatangkanlah Burāq lengkap dengan kendali dan tali kekang, seekor binatang berwarna putih yang tingginya lebih daripada keledai dan lebih pendek daripada bighal. Ia meletakkan kukunya di ujung matanya seraya menggoyang-ngoyangkan sepasang telinganya. Ketika melintasi sebuah gunung, Burāq menaikkan sepasang kakinya, dan ketika turun ia mengangkat sepasang tangannya. Binatang ini memiliki sepasang sayap pada pahanya yang digunakan mencengkram oleh kakinya. Jibrīl merasa tidak berkenan terhadap Burāq. Dan seraya meletakkan tangannya pada bibir binatang ini, Jibrīl berkata: “Apakah kamu tidak merasa malu, wahai Burāq? Demi Allah, sekarang ini kamu akan dikendarai oleh seorang makhluk yang paling dimuliakan oleh Allah.”

Mendengar itu Burāq merasa malu, sehingga sekujur tubuhnya bercucuran keringat. Nabi s.a.w. kemudian menaikinya, dan para nabi sebelum beliau biasa menaiki Burāq. Kata Sa‘īd bin al-Musayyab dan lainnya, Burāq adalah binatang yang biasa ditunggangi oleh nabi Ibrāhīm a.s. ketika ia menuju ke Bait-ul-Ḥaram atau Ka‘bah.

Berangkat Nabi s.a.w. dengan diapit oleh Jibrīl di sebelah kanan, dan oleh Mikā’īl di sebelah kiri. Kata Ibnu Sa‘ad, yang membantu Nabi s.a.w. menaiki Burāq adalah Jibrīl, dan yang memegang kendalinya adalah Mikā’īl. Mereka terus bergerak hingga tiba di sebuah tanah yang terdapat banyak pohon kurma.

“Turunlah, dan shalatlah di sini”, kata Jibrīl kepada Nabi s.a.w.

Setelah menunaikan shalat, Nabi s.a.w. segera menaiki Burāq lagi.

“Anda tahu, di mana tadi anda shalat?”, tanya Jibrīl kepada Nabi s.a.w.

“Tidak”, jawab beliau.

“Tadi anda shalat di Thaibah, sebuah tempat yang akan menjadi tujuan hijrah”, kata Jibrīl.

Burāq terus bergerak dengan posisi menukik turun membawa Nabi s.a.w. seraya meletakkan kukunya ke dekat mata.

“Turunlah, dan shalatlah di sini”, kata Jibrīl kepada Nabi s.a.w.

Setelah menunaikan shalat, Nabi s.a.w. segera menaiki Burāq lagi.

“Anda tahu, di mana tadi anda shalat?”, tanya Jibrīl kepada Nabi s.a.w.

“Tidak”, jawab beliau.

“Tadi anda shalat di Madyān, di dekat pohon Mūsā”, kata Jibrīl menjelaskan.

Burāq terus bergerak dengan posisi menukik turun membawa Nabi s.a.w. seraya meletakkan kukunya ke dekat mata.

“Turunlah, dan shalatlah di sini”, kata Jibrīl kepada Nabi s.a.w.

Setelah menunaikan shalat, Nabi s.a.w. segera menaiki Burāq lagi.

“Anda tahu, di mana tadi anda shalat?” tanya Jibrīl kepada Nabi s.a.w.

“Tidak”, jawab beliau.

“Tadi anda shalat di bukit Tursina, tempat di mana Allah dahulu pernah berfirman secara langsung kepada Mūsā”, kata Jibrīl menjelaskan.

Selanjutnya rombongan tiba di sebuah tanah lapang yang memperlihatkan dengan jelas beberapa bangunan istana Syiria.

“Turunlah, dan shalatlah di sini”, kata Jibrīl kepada Nabi s.a.w.

Setelah menunaikan shalat, Nabi s.a.w. segera menaiki Burāq lagi.

Burāq terus bergerak dengan posisi menukik turun membawa Nabi s.a.w.

“Anda tahu, di mana tadi anda shalat?” tanya Jibrīl kepada Nabi s.a.w.

“Tidak”, jawab beliau.

“Tadi anda shalat di Bait Lahem, tempat di mana ‘Īsā bin Maryam dilahirkan”, kata Jibrīl menjelaskan.

 

(Bacaan untuk Menghalau ‘Ifrīt)

Ketika sedang mengendarai Burāq itulah, Nabi s.a.w. tiba-tiba melihat seekor ‘Ifrīt dari golongan Jinn yang sedang membawa sebatang obor. Dan begitu menoleh ke belakang, beliau bisa melihatnya.

“Aku ingin mengajarkan kepada anda beberapa kalimat yang kalau anda baca, maka obor itu akan padam dan si ‘Ifrīt akan lari terbirit-birit”, kata Jibrīl kepada Nabi s.a.w.

“Baiklah”, kata beliau.

Bacalah: A‘ūdzu bi wajhillāh-il-karīmi wa bi kalimātillāh-it-tāmmāt-il-latī lā yujawizuhunna birrun wa lā fāsiqun min syarri mā yunzzalu min-as-samā’i, wa min syarri mā ya‘ruju fīhā, wa min syarri mā dzara’a fil-ardhi, wa min syarri mā yakhruju minhā, wa min fitan-il-laili wan-nahāri, wa min thawāriq-il-laili wan-nahāri, illā tharīqan yathruqu bi khairin, yā Raḥmān. (Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Dermawan dengan menggunakan kalimat-kalimat Allah yang tidak mampu dilewati oleh orang yang baik maupun orang yang jahat dari keburukan sesuatu yang diturunkan dari langit, dari keburukan sesuatu yang naik ke sana, dari keburukan sesuatu yang tertinggal di muka bumi, dari keburukan sesuatu yang keluar daripadanya, dari fitnah-fitnah waktu malam maupun siang, dan dari bencana-bencana malam maupun siang, kecuali bencana yang membawa suatu kebajikan, wahai Tuhan Yang Maha Pemurah).”

Begitu Nabi s.a.w. selesai membacanya, si ‘Ifrīt lari tunggang-langgang sehingga ia jatuh terjembab (terjerembab/terjerembap), dan obornya pun padam.

 

(Pahala Para Mujāhid)

Rombongan terus melanjutkan perjalanan sehingga mereka mendapati beberapa orang yang menanam dan sekaligus mengetam pada satu hari yang sama. Setiap kali selesai mengetam, maka tanaman akan kembali lagi untuk siap diketam. Begitu seterusnya.

“Apa itu, wahai Jibrīl?”, tanya Nabi kepada Jibrīl.

“Mereka adalah orang-orang yang pernah berjihad pada jalan Allah ta‘ālā, sehingga balasan untuk satu amal kebajikan mereka dilipat-gandakan menjadi tujuh ratus kali. Dan harta yang pernah mereka sumbangkan diganti oleh Allah”, jawab Jibrīl.

Bagikan:

Lewat ke baris perkakas