Hati Senang

002 – Simth-ud-Durar (Untaian Mutiara)

اللهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ أَشْرَفَ الصَّلَاةِ وَ التَّسْلِيْمْ عَلَى سَيِّدِنَا وَ نَبِيِّنَا مُحَمِّدٍ الرَّءُوْفِ الرَّحِيْمْ Limpahkan ya Allah Semulia-mulia selawat dan salam Atas junjungan dan Nabi kami Muḥammad Yang amat penyantun, amat penyayang. وَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ شَهَادَةً يُعْرِبُ بِهَا اللِّسَانْ عَمَّا تَضَمَّنَهُ الْجَنَانْ مِنَ التَّصْدِيْقِ بِهَا وَ الْإِذْعَانْ تَثْبُتُ بِهَا فِي الصُّدُوْرِ مِنَ الْإِيْمَانِ قَوَاعِدُهْ وَ تَلُوْحُ عَلَى أَهْلِ الْيَقِيْنِ مِنْ سِرِّ

004 16-21 Dalil-dalil Tentang Diperbolehkannya Memperingati Maulid Nabi S.A.W. – Wajibkah Memperingati Maulid Nabi S.A.W.?

Keenambelas Peringatan Maulid walaupun tidak ada pada masa Rasūlullāh s.a.w. memang bisa disebut bid‘ah tetapi bid‘ah yang baik (bid‘ah ḥasanah) karena perkara-perkara itu tercakup dalam dalil-dalil syar‘i dan kaidah-kaidah Hukum Islam yang bersifat umum (menyeluruh). Atas dasar ini peringatan Maulid Nabi adalah bid‘ah jika dilihat secara utuh sebagai sebuah majlis maulid sebab majlis seperti itu belum ada pada masa awal, tetapi jika dilihat dari satu persatu acara yang ada dalam…

004 11-15 Dalil-dalil Tentang Diperbolehkannya Memperingati Maulid Nabi S.A.W. – Wajibkah Memperingati Maulid Nabi S.A.W.?

Kesebelas Peringatan maulid Nabi adalah hal yang dinilai baik oleh para ulama dan seluruh kaum muslimin di seluruh negeri dan dilaksanakan di setiap wilayah negeri. Oleh karena itu Maulid tersebut termasuk yang dianjurkan oleh syari‘at berdasar suatu kaidah hukum Islam yang bersumber dari hadits mauqūf (12) riwayat Ibnu ‘Abbās: مَا رَآهُ الْمُسْلِمُوْنَ حَسَنًا فَهُوَ عِنْدَ اللهِ حَسَنًا وَ مَا رَآهُ الْمُسْلِمُوْنَ قَبِيْحًا فَهُوَ عِنْدَ اللهِ قَبِيْحًا. Artinya: “Apa yang dipandang…

004 4-10 Dalil-dalil Tentang Diperbolehkannya Memperingati Maulid Nabi S.A.W. – Wajibkah Memperingati Maulid Nabi S.A.W.?

Keempat Nabi s.a.w. sangat memperhatikan keterikatan waktu dengan peristiwa-peristiwa keagamaan yang agung yang telah berlalu dan lewat. Lalu jika tiba waktu yang bertepatan dengan peristiwa itu beliau menjadikannya sebuah kesempatan untuk memperingatinya dan menghormati hari tersebut karena adanya peristiwa yang terkait dan karena itu merupakan waktu terjadinya peristiwa tersebut. Rasūlullāh s.a.w. sendirilah yang membuat dasar dari aturan ini. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam hadits shaḥīḥ bahwasanya beliau s.a.w. ketika sampai…

004 1-3 Dalil-dalil Tentang Diperbolehkannya Memperingati Maulid Nabi S.A.W. – Wajibkah Memperingati Maulid Nabi S.A.W.?

Dalil-dalil Tentang Diperbolehkannya Memperingati Maulid Nabi s.a.w.   Pertama: Peringatan Maulid Nabi s.a.w. merupakan ungkapan kegembiraan dan kebahagiaan terhadap al-Mushthafā s.a.w. yang mana orang kafir pun dapat memperoleh manfaat dari kegembiraan itu (seperti yang terjadi pada Abū Lahab). Pada dalil yang kesembilan akan dijelaskan lebih jauh tentang masalah ini sebab walaupun dalil pokok dalam masalah ini adalah sama namun cara penjelasannya berbeda. Metode inilah yang kami gunakan dalam pembahasan ini…

003 Apakah Peringatan Maulid Itu Disyaratkan Harus Dengan Berpuasa – Wajibkah Memperingati Maulid Nabi S.A.W.?

Apakah Peringatan Maulid Itu Disyaratkan Harus Dengan Berpuasa.   Jika dikatakan “Sesungguhnya Nabi s.a.w. memperingati hari lahirnya dengan berpuasa sedangkan kalian memperingatinya dengan berkumpul dan semacamnya dari macam-macam peribadatan dan amal yang tidak pernah diperbuat oleh Nabi s.a.w. pada hari lahirnya tersebut. Dan ini termasuk bid‘ah?” Jawabannya adalah bahwa masalah ini kembali pada permasalahan tatacara dan bentuk peringatan tersebut, dan ini adalah masalah ijtihādiyyah (yang tak lepas dari perbedaan). Dan…

002 Bab II – Termejah Maulid Barzanji

BAB II   عَطِّرِ اللّهُمَّ قَبْرَهُ الْكَرِيْمَ بِعَرْفٍ شَذِيٍّ مِنْ صَلَاة ٍوَ تَسْلِيْمٍ اللّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ وَ بَارِكْ عَلَيْهِ Artinya: Semoga Allah mengharumkan dan mewangikan kuburnya (Nabi) yang mulia, dengan keharuman wangi-wangian salawat dan salam sejahtera. Ya Allah, berilah salawat dan salam serta berkah atas Nabi s.a.w.   وَ بَعْدُ فَأَقُوْلُ: هُوَ سَيِّدُنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ وَ اسْمُهُ شَيْبَةُ الْحَمْدِ حُمِدَتْ خِصَالُهُ السَّنِيَّةُ Artinya: 1. …

03-2 Ka’ab Bin Zuhair & Tradisi Memuji Nabi S.A.W. – Sejarah Maulid Nabi

Ka‘ab bin Zuhair Dan Tradisi Memuji Nabi s.a.w.. Orang pertama yang menulis kitab Maulid Nabi s.a.w. dan kemudian dibacakan di hadapan khalayak luas, di majlis yang diadakan oleh Khalīfah ‘Abbāsiyyah, adalah Imām al-Ḥāfizh al-Qādhī Muḥammad yang wafat di Baghdād pada tahun 207 H. Kitab Maulid-nya dibaca di hadapan al-Mahdī al-‘Abbāsī. Sedangkan yang pertama kali menuliskan biografi dan perikehidupan Nabi s.a.w. adalah Muḥammad bin Isḥāq (20) yang wafat pada tahun 151…

001 Bab I – Termejah Maulid al-Barzanji

BAB I   الْجَنَّةُ وَ نَعِيْمُهَا سَعْدٌ لِمَنْ يُصَلِّيْ وَ يُسَلِّمُ وَ يُبَارِكُ عَلَيْهِ Artinya: Surga dan kenikmatannya sebagai keberuntungan bagi siapa saja yang bershalawat dan memohonkan selamat serta berkah atas Nabi.   بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ Artinya: Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. أَبْتَدِئُ الْإِمْلَاءَ بِاسْمِ الذَّاتِ الْعَلِيَّةِ مُسْتَدِرًا فَيْضَ الْبَرَكَاتِ عَلَى مَا أَنَالَهُ وَ أَوْلَاهُ Artinya: 1. Saya mulai penulisan kitab (kisah Maulid Nabi)…
Lewat ke baris perkakas