001-1 Maulid ad-Diba’i – Terjemah Maulid Diba’

اللهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ وَ بَارِكْ عَلَيْهِ “Ya Allah, limpahkanlah rahmat, salam dan berkah kepada Nabi.”   بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ الْحَمْدُ للهِ الْقَوِيِّ الْغَالِبِ * الْوَلِيِّ الطَّالِبِ * الْبَاعِثِ الْوَارِثِ الْمَا نِحِ السَّالِبِ * عَالَمِ الْكَائِنِ وَ الْبَائِنِ وَ الزَّائِلِ وَ الذَّاهِبِ * يُسَبِّحُهُ الْآفِلُ وَ الْمَآئِلُ وَ الطَّالِعُ وَ الْغَارِبُ * وَ يُوَحِّدُهُ النَّاطِقُ وَ الصَّامِتُ وَ الْجَامِدُ وَ الذَّائِبُ * يَضْرِبُ بِعَدْلِهِ السَّاكِنُ وَ يَسْكُنُ بِفَضْلِهِ الضَّارِبُ.

01-5 Tark Menunjukkan Apa? – Dalil Syar’i Maulid Nabi

Tark Menunjukkan Apa?.   Berdasarkan penjelasan di atas, tark, atau meninggalkan sesuatu, bukan menunjukkan sesuatu tersebut dilarang, tapi justru menunjukkan boleh. Inilah yang disampaikan para ulama dalam kitab-kitab hadits. Abū Dāwūd dan an-Nasā’ī meriwayatkan dari Jābir r.a., ia berkata: “Satu dari dua hal terakhir Rasūlullāh s.a.w. adalah tidak wudhu’ setelah memakan makanan yang dimasak dengan api.” Abū Dāwūd dan an-Nasā’ī menyebutkan hadits ini di bawah judul Tidak Wudhu’ setelah Memakan…

01-4 Mengkritisi Sejumlah Pendapat – Dalil Syar’i Maulid Nabi

Mengkritisi Sejumlah Pendapat.   Ibn-us-Sam‘ānī menyatakan: “Jika Rasūlullāh s.a.w. meninggalkan sesuatu, kita wajib mengikutinya.” Pernyataan ini disandarkan pada dalil bahwa saat para sahabat Rasūlullāh s.a.w. menahan diri untuk memakan biawak, mereka tidak melakukan apapun dan kemudian menanyakan hal itu kepada beliau. Dalam hadits tersebut, beliau menjawab bahwa biawak tidak haram, seperti telah dijelaskan sebelumnya. Ini menunjukkan, Nabi s.a.w. meninggalkan sesuatu bukan berarti yang ditinggalkan haram. Dengan begitu dalam hadits ini…

02-2 Sejarah Singkat Nasionalisme ‘Arab – Sejarah Maulid Nabi

Sejarah Singkat Nasionalisme ‘Arab.   Tiga Abad terakhir negara-negara Muslim, termasuk Negara ‘Arab dijajah oleh bangsa-bangsa Eropa, termasuk Yaman. Meskipun ‘Arab bukan hanya Yaman, akan tetapi penulis akan lebih fokus pada Negara Yaman, sebab diaspora Yaman terjadi hampir secara merata terutama ke Negara-negara Asia, termasuk ke Hindia Belanda. Yaman dijajah oleh Portugis, Inggris kemudian komunis di samping terjadi gejolak dan perang saudara antara Yaman Utara dan Selatan. Di samping semangat…

01-3 Meninggalkan, Bukan Melarang – Dalil Syar’i Maulid Nabi

Meninggalkan, bukan Melarang.   Larangan adalah sesuatu yang haram, yang memang harus ditinggalkan. Masalah larangan adalah satu hal, dan masalah tark adalah satu hal lainnya lagi. Tidak ada satu pun hadits atau atsar yang secara tegas menyatakan bahwa sesuatu yang tidak dikerjakan Nabi s.a.w. serta-merta menjadi sesuatu yang haram. Dijelaskan dalam ar-Radd-ul-Muḥkam-ul-Matīn, tentang meninggalkan sesuatu tidak menunjukkan sesuatu tersebut dilarang. Berikut ini penjelasannya: “Meninggalkan suatu amalan saja tanpa disertai nash…

02-1 Lahirnya Kesadaran Kebangsaan – Sejarah Maulid Nabi

BAB II MAULID NABI, LOKALITAS DAN SEMANGAT KEBANGSAAN   Lahirnya Kesadaran Kebangsaan Pada awal abad 19 jauh sebelum berdirinya Negara Indonesia, di kalangan masyarakat Hindia (jajahan Belanda) muncul kesadaran pentingnya menggalang kesatuan. (11) Berdirinya Boedi Oetomo menjadi inspirasi bagi munculnya organisasi pemuda lainnya. Organisasi Tri Koro Dharmo (Tiga Tujuan Mulia) berdiri di Jarkata pada 7 Maret 1915. Didirikan oleh Satiman bersama Kadarman dan Soenardi. Organisasi ini kemudian berubah menjadi Jong…

01-1&2 Nabi Tidak Merayakan Maulid – Dalil Syar’i Maulid Nabi

Pasal Pertama Nabi tidak Merayakan Maulid   Nabi s.a.w. bersabda: “Apa yang aku perintahkan, kerjakan semampumu, dan apa yang aku larang, jauhilah.” Beliau (saja) tidak menyatakan, “Apa yang aku tinggalkan, jauhilah.” Lalu bagaimana bisa meninggalkan sesuatu menjadi larangan atas sesuatu tersebut?   Di awal pembahasan ini, mari kita pahami bersama istilah tark. Maksudnya, amalan yang tidak dilakukan oleh Nabi s.a.w. Pertanyaan yang layak diajukan terkait masalah ini adalah:…

000 Dibaca Sebelum Maulid – Terjemah Maulid Diba’

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ DIBACA SEBELUM MAULID  يَا رَبِّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدْ يَا رَبِّ صَلِّ عَلَيْهِ وَ سَلِّمْيَا رَبِّ بَلِّغْهُ الْوَسِيْلَةْ يَا رَبِّ خُصَّهُ بِالْفَضِيْلَةْيَا رَبِّ وَارضَ عَنِ الصَّحَابَةْ يَا رَبِّ وَ أَرْضَ عَنِ السُّلَالَةْيَا رَبِّ وَارْضَ عَنِ الْمَشَايِخْ يَا رَبِّ فَارْحَمْ وَالِدِيْنَايَا رَبِّ وَارْحَمْنَا جِمِيْعَا يَا رَبِّ وَارْحَمْ كُلِّ مُسْلِمْيَا رَبِّ وَاغْفِرْ لِكُلِّ مُذْنِبْ يَا رَبِّ لَا تَقْطَعْ رَجَانَايَا رَبِّ يَا سَامِعْ

001 Gejala Universal – Sejarah Maulid Nabi

BAB IMAULID NABI DAN PERAYAAN: GEJALA UNIVERSALPerayaan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Ia telah ada sejak ribuan tahun lalu. (11) Media massa seperti TV, koran, dan majalah menyuguhkan kepada kita informasi penting mengenai perayaan di seluruh penjuru dunia. Ternyata ada banyak cara orang dalam merayakan sesuatu. Perayaan menggunakan musik, seni, budaya, dan makanan sebagai unsur utamanya. Perayaan memperlihatkan bentuk hubungan manusia dengan lingkungannya. Perayaan juga…