Keutamaan Menahan Amarah & Sabar – Amal Pemusnah Kebaikan

AMAL PEMUSNAH KEBAIKAN
(Ringkasan Bab Muhlikāt Iḥyā’ ‘Ulūm-id-Dīn)
Oleh: Al-Habib ‘Umar bin Hafizh

 
Penerjemah: Nurkaib
Penerbit: Penerbit Noura Books (PT Mizan Publika)
 
(Diketik Oleh: Almarhumah Ibu Rini)

Rangkaian Pos: 005 Mencela - Kemarahan - Kedengkian dan Iri Hati - Amal Pemusnah Kebaikan

Menyembuhkan Kemarahan yang Telah Berkobar

Apa yang baru saja saya jelaskan adalah mengenai penghilangan bahan dasar marah agar kemarahan tidak berkobar. Apabila kemarahan seseorang sudah berkobar, ia harus ditenangkan dan diobati dengan ramuan ‘ilmu dan ‘amal.

Adapun ramuan ilmu terdiri atas enam hal sebagai berikut.

Pertama, hendaknya seseorang merenungkan nas-nas yang menjelaskan tentang keutamaan menahan kemarahan, memberi maaf, bersabar, dan bersikap tegar; agar muncul keinginan kuat untuk mendapatkan keutamaan tersebut, lalu hal itu mencegahnya untuk melampiaskan marah dan membalas dendam.

Ibnu Aus menceritakan: “‘Umar memarahi seorang lelaki dan memerintahkan agar orang itu dipukul. Lalu, aku berkata kepadanya: “Wahai Amīr-ul-Mu’minīn. Jadilah pemaaf, suruhlah orang mengerjakan yang ma‘rūf, dan jangan pedulikan orang-orang bodoh.” (QS al-A‘rāf [7]:199). Lantas ‘Umar mengatakan: “Jadilah pemaaf, suruhlah orang mengerjakan yang ma‘rūf, dan jangan pedulikan orang-orang yang bodoh.” ‘Umar adalah orang yang suka merenungkan al-Qur’ān. Maka ia merenungkannya, lalu membebaskan lelaki tersebut.”

‘Umar bin ‘Abd-il-‘Azīz pernah memerintahkan untuk mencambuk seorang pria. Kemudian pria itu membaca firman Allah, …. dan orang-orang yang menahan amarahnya (QS Āli-‘Imrān [3]: 134). Lantas ‘Umar bin ‘Abd-il-‘Azīz berkata kepada pembantunya: “Lepaskan dia.”

Kedua, hendaknya seseorang menakut-nakuti diri sendiri dengan ‘adzāb Allah, seraya mengatakan: “Kekuasaan Allah atas saya lebih besar daripada kekuasaan saya atas orang itu.” Dalam salah satu kitab kuno disebutkan bahwa Allah s.w.t. berfirman: Wahai anak Ādam. Sebutlah Aku ketika engkau sedang marah, niscaya Aku akan menyebutmu ketika Aku marah. Maka, Aku tidak akan menghukummu sebagaimana Aku menghukum yang lainnya.

Ketiga, hendaknya seseorang mengingatkan dirinya sendiri akan dampak buruk yang bisa ditimbulkan oleh permusuhan dan balas dendam. Hendaknya ia menakut-nakuti diri dengan dampak negative kemarahan saat di dunia – jika ia tidak takut pada dampaknya di akhirat. Hal ini tidak mendatangkan pahala, karena alasan utamanya adalah untuk mendapatkan kepentingan dunia.

Keempat, hendaknya seseorang merenungkan buruk rupanya saat sedang marah dan membandingkannya dengan rupa orang lain (yang tidak sedang marah), lalu menyerupakan pemarah dengan anjing galak dan binatang buas yang sedang menyerang, dan menyerupakan penyabar dan orang yang bersikap tenang dengan para nabi, para ulama, dan orang-orang bijak.

Kelima, hendaknya seseorang merenungkan faktor yang membuatnya membalas dendam dan marah, lalu berkata kepada diri sendiri, “Mengherankan sekali dirimu. Engkau tidak kuat menahan diri sekarang, tetapi merasa sanggup menerima azab di akhirat, tatkala Allah akan menyeretmu dan membalas perbuatanmu.”

Keenam, hendaknya seseorang mengerti bahwa kemarahannya berawal dari keheranannya bahwa keadaan berjalan sesuai dengan kehendak Allah, bukan kehendaknya sendiri. Bagaimana mungkin ia bisa mengatakan bahwa kehendaknya lebih baik daripada kehendak Allah?

Obat yang berupa ‘amal yaitu dengan mengucapkan ta‘awwudz atau a‘ūdzu billāhi min-asy-syaithān-ir-rajīm (Aku berlindung kepada Allah dari syaithān yang terkutuk). Rasūlullāh s.a.w. memerintahkan kita membaca ta‘awwudz ketika sedang marah. Haditsnya diriwayatkan oleh al-Bukhārī dan Muslim. Apabila ‘Ā’isyah marah, Rasūlullāh s.a.w.bersabda: “Wahai ‘Ā’isyah kecil. Katakan: “Ya Allah, Tuhan Nabi Muḥammad. Ampuni dosaku, hilangkan kemarahan dari hatiku, dan selamatkan aku dari fitnah-fitnah yang menyesatkan.

Lalu, duduklah bila engkau marah tatkala berdiri; berbaringlah miring bila engkau marah tatkala duduk. Ambillah air wudhū’ atau mandi. Dalam sebuah hadits disebutkan: “Apabila salah seorang di antara kalian marah, ambillah air wudhu karena kemarahan berasal dari api.” (111) Dalam riwayat lain disebutkan: “Sesungguhnya marah berasal dari syaithān; syaithān diciptakan dari api; dan api hanya bisa dipadamkan dengan air. Maka, apabila salah seorang di antara kalian marah, ambillah air wudhū’.” (122) Rasūlullāh s.a.w. juga pernah bersabda: “Apabila engkau marah, diamlah.” (133) Beliau s.a.w. pernah berpesan kepada Abū Dzarr: “Apabila engkau marah dalam keadaan berdiri, duduklah; bila duduk, bersandarlah; bila bersandar, berbaringlah miring.” (144)

Keutamaan Menahan Amarah

Allah s.w.t. berfirman: (orang-orang yang bertaqwā adalah) orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan. (QS Āli-‘Imrān [3]: 134).

Rasūlullāh s.a.w. bersabda: “Seorang hamba tidak meneguk pahala yang lebih besar daripada pahala dari menahan marah karena mencari ridhā Allah.” (155) “Siapa yang menahan kemarahannya, padahal ia sanggup untuk melampiaskannya, pada Hari Kiamat nanti Allah akan memanggilnya di atas kepala semua orang (membuatnya terkenal) dan membebaskannya memilih bidadari mana pun yang ia kehendaki.” (166) ‘Umar r.a. mengatakan: “Siapa yang bertaqwā kepada Allah, ia tidak melampiaskan amarahnya. Dan siapa yang takut kepada-Nya, ia tidak berlaku seenaknya.”

Ayyūb mengatakan: “Bersabar sejenak bisa menolak keburukan yang sangat banyak.” Sufyān ats-Tsaurī, Abū Khuzaimah al-Yarbu‘īI, dan Fudhail bin ‘Iyādh berkumpul membahas zuhud. Lalu mereka sepakat bahwa ‘amalan yang paling utama adalah bersabar saat marah dan sedih.

Muḥammad bin Ka‘ab mengatakan: “Ada tiga hal. Apabila tiga hal itu berkumpul pada diri seseorang, berarti ia telah menyempurnakan imannya kepada Allah. [1] Apabila senang (tidak marah), kesenangannya tidak membawanya pada kebatilan. [2] Apabila marah, kemarahannya tidak mengeluarkannya dari kebenaran. Dan [3] apabila berkuasa, ia tidak mengambil yang bukan miliknya.

Keutamaan Sabar (al-Ḥilmu)

Ketahuilah, bersabar lebih utama daripada menahan marah. Sebab, menahan marah berarti memaksa diri untuk bersabar – dan inilah yang dibutuhkan oleh orang yang sedang berkobar amarahnya. Namun, apabila seseorang terbiasa menahan amarah, amarahnya tidak lagi mudah berkobar. Apabila kembali berkobar, ia tidak lagi kesulitan memadamkannya. Itulah yang dinamakan al-ḥilmu, kesabaran. Sifat ini adalah indikasi kesempurnaan nalar seseorang dan tunduknya elemen amarah pada nalar.

Rasūlullāh s.a.w. bersabda: “Carilah kedudukan yang tinggi di sisi Allah.” Para sahabat lantas bertanya: “Bagaimana caranya, wahai Rasūlullāh?” Rasūlullāh s.a.w. menjawab: “Sambunglah silaturahmi dengan orang yang memutuskanmu, bersedekahlah kepada orang yang tidak mau memberimu, dan bersabarlah terhadap orang yang berlaku buruk kepadamu.” (177) Allah berfirman: Jadilah orang-orang Rabbānī (rabbāniyyīn) (QS Āli-‘Imrān [3]:79). Ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan rabbāniyyīn adalah orang-orang ‘ālim yang penyabar. Allah juga berfirman: Apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (yaitu hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih, dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan “salām” (QS al-Furqān [25]: 63). Mengenai ayat ini, diriwayatkan dari Ḥasan bahwa apabila orang-orang penyabar diperlakukan dengan buruk, mereka tidak membalasnya dengan keburukan. Mengenai firman Allah yang berbunyi: Adapun hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati(QS al-Furqān [25]: 63). ‘Athā’ bin Abī Rabāḥ mengatakan, mereka adalah orang-orang yang penyabar.

Ibnu Abī Ḥubaib mengatakan: “Kata kahlān dalam surah Āli ‘Imrān ayat 46 berarti orang yang sangat penyabar. Allah berfirman: Apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka berlalu dengan menjaga kehormatan dirinya. Menurut Mujāhid: maknanya adalah apabila disakiti, mereka memaafkan dengan lapang dada. Rasūlullāh s.a.w. juga pernah bersabda kepada seorang sahabat yang bernama Asyaj: “Wahai Asyaj. (188) Sesungguhnya di dalam dirimu terdapat dua sifat yang dicintai oleh Allah dan Rasūl-Nya.” Asyaj bertanya: “Demi ibu dan bapakku ya Rasūlullāh, dua sifat apakah itu? Beliau menjawab: “Kesabaran dan kehati-hatian.” (199) Dalam riwayat Abū Dāūd terdapat tambahan: “apakah dua sifat itu adalah akhlāq yang aku usahakan atau keduanya adalah dua akhlāq yang telah Allah tetapkan pada diriku?” Rasūlullāh s.a.w. menjawab: “Keduanya adalah dua akhlāq yang Allah tetapkan pada dirimu.” Asyaj berkata: “Segala puji hanya milik Allah yang telah menetapkan pada diriku dua sifat yang dicintai oleh-Nya dan Rasūl-Nya.”

Sayyidinā ‘Alī karramallāhu wajhah wa radhiyallāhu ‘anhu mengatakan: “Kebaikan bukanlah banyaknya harta dan anakmu. Akan tetapi, kebaikan adalah apabila melimpah ilmumu, melimpah kesabaranmu, dan engkau tidak membanggakan ibadahmu kepada orang lain; apabila engkau berbuat baik, engkau memuji Allah; dan apabila engkau berbuat salah, engkau meminta ampun kepada-Nya.” Uktsum bin Shaifī mengatakan: “Penopang akal adalah kesabaran; pengumpul segala kebaikan juga kesabaran.”

‘Alī karramallāhu wajhah juga mengatakan: “Ganjaran pertama yang diberikan kepada orang sabar atas kesabarannya adalah semua orang menjadi penolongnya atas (perilaku) orang-orang bodoh.” Sebagian orang mengatakan: “Aku pernah mencaci seseorang dari Bashrah. Tetapi orang itu justru berbuat baik kepadaku, lalu menjadikanku pembantunya selama beberapa waktu.”

‘Arabah bin Aus pernah ditanya: “Bagaimana engkau memimpin kaummu?” ‘Arabah menjawab: “Aku berlaku sabar kepada orang yang bodoh, berlaku dermawan kepada orang yang meminta, dan berusaha memenuhi semua kebutuhan mereka. Siapa yang berbuat lebih baik, ia lebih utama daripada aku. Dan siapa yang berbuat lebih buruk, berarti aku lebih baik daripada dia.” Pernah ada seseorang mencaci Ibnu ‘Abbās r.a. Ketika orang itu sudah selesai mencaci, Ibnu ‘Abbās berkata (kepada pembantunya): “Wahai ‘Ikrimah. Apakah orang itu (yang mencaci) mempunyai suatu keperluan, lalu kita bisa membantunya?” Orang itu langsung menundukkan kepala menanggung malu. ‘Alī bin Ḥusain bin ‘Alī pun pernah dicaci orang. ‘Alī bin Ḥusain lantas memberikan kepadanya baju hitam yang dipakainya kepada orang itu dan ia memerintahkan agar orang itu diberi uang sebesar seribu dirham. Sebagian orang mengatakan: “Beliau (‘Alī hin Ḥusain) telah mengumpulkan pada dirinya lima hal. Lima hal itu adalah bersabar, tidak mengganggu orang, menyelamatkan orang dari hal-hal yang menjauhkannya dari Allah, menghantarkannya untuk menyesal dan bertobat, menyebabkan orang itu memujinya setelah mencaci dirinya. Semua itu ia beli dengan sedikit dunia.”

Seseorang pernah mengadu kepada Ja‘far bin Muḥammad: “Aku mempunyai perselisihan dengan suatu kaum. Aku sebenarnya ingin meninggalkan perselisihan itu, tetapi aku khawatir dikatakan bahwa tindakanku adalah suatu kehinaan.” Ja‘far lalu mengatakan: “Sesungguhnya orang yang hina adalah orang yang zhalim.”

Nabi ‘Īsā a.s. pernah melewati sekumpulan orang Yahudi. Mereka lantas berkata tidak baik kepadanya, tetapi ia membalasnya dengan perkataan yang baik. Nabi ‘Īsā pun ditanya: “Mereka mengatakan hal-hal yang buruk kepadamu, tetapi engkau mengatakan yang baik-baik kepada mereka!?” Nabi ‘Isā menjelaskan: “Setiap orang mengeluarkan apa yang dimilikinya.” Seorang lelaki memukul kaki seorang bijak dan membuatnya terluka, tetapi orang bijak itu tidak marah. Ada yang bertanya tentang sikapnya itu. Lantas ia menjelaskan: “Aku menganggapnya batu dan aku tersandung dia. Lalu aku membuang kemarahanku.”

Ketahuilah. Penggunjingan tidak boleh dibalas dengan pergunjingan; tindakan memata-matai juga tidak boleh dibalas dengan memata-matai; penghinaan pun tidak boleh dibalas dengan penghinaan. Yang boleh dibalas secara sepadan hanyalah soal qisas dan utang-piutang, tetapi sesuai dengan ketentuan syariat. Rasūlullāh s.a.w. bersabda: “Apabila seseorang membuka aib yang ada pada dirimu, janganlah engkau membuka aib yang ada pada dirinya.” (2010)

Catatan:

  1. Hadits diriwayatkan oleh Abū Dāwūd (no. 4784).
  2. Hadits diriwayatkan oleh Aḥmad (no. 17985).
  3. Hadits diriwayatkan oleh Aḥmad (no. 2556), al-Bukhārī (no. 1320), ath-Thabrānī (no. 10951) dan al-Baihaqī dalam Syu‘ab-ul-Īmān (no. 8287).
  4. Al-‘Irāqī dalam takhrījnya mengatakan: “Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Abid-Dunyā dalam al-‘Afw wa Dzamm al-Ghadhab dengan sanad berkualitas shaḥīḥ.”
  5. Hadits diriwayatkan oleh Ibnu Mājah (no. 4189).
  6. Hadits diriwayatkan oleh Abū Dāwūd (no. 4777), at-Tirmidzī (no. 2021), dan Ibnu Mājah (no. 4186). At-Tirmidzī menilainya ḥasan.
  7. Hadits dilansir oleh Ibnu ‘Adī (7/94) dan Ibnu Abid-Dunyā dalam Makārim-ul-Akhlāq (no. 23). As-Subkī (hlm. 9) menyatakan: “Aku tidak menemukan sumber hadits ini.” Hadits serupa dengan ini dilansir oleh Aḥmad (no. 15618), ath-Thabrānī (17/269, no. 739), al-Ḥākim (4/178), dan al-Baihaqī dalam Syu‘ab-ul-Īmān (no. 7959).
  8. Asyaj adalah nama orang dari suku ‘Abd-ul-Qais. [Penerjemah].
  9. Hadits diriwayatkan oleh Muslim (no. 17).
  10. Hadits diriwayatkan oleh Abū Dāwūd (no. 4084) dan Aḥmad (20632).

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *