Iri dan Penyembuhannya – Amal Pemusnah Kebaikan

AMAL PEMUSNAH KEBAIKAN
(Ringkasan Bab Muhlikāt Iḥyā’ ‘Ulūm-id-Dīn)
Oleh: Al-Habib ‘Umar bin Hafizh

 
Penerjemah: Nurkaib
Penerbit: Penerbit Noura Books (PT Mizan Publika)
 
(Diketik Oleh: Almarhumah Ibu Rini)

Rangkaian Pos: 005 Mencela - Kemarahan - Kedengkian dan Iri Hati - Amal Pemusnah Kebaikan

Iri dan Penyembuhannya

Iri termasuk salah satu dampak dari kedengkian, sedangkan kedengkian adalah salah satu produk dari kemarahan. Iri mempunyai berbagai cabang tercela yang tak terhitung jumlahnya dan ada banyak sekali hadis yang mencelanya.

Rasūlullāh s.a.w. bersabda: “Iri memakan kebaikan, sebagaimana api memakan kayu bakar. (331) Jangan saling mengiri, saling memutuskan silaturahmi, saling membenci, dan saling berpaling. Tetapi jadilah hamba-hamba Allah yang saling bersaudara.” (342)

Dalam sebuah hadits dari ‘Abdullāh bin ‘Amru diceritakan bahwa ia selama tiga hari mengawasi gerak gerik orang yang disebut Nabi s.a.w. akan masuk surga. Ibnu ‘Amru mengatakan: “Hampir saja aku meremehkan amalnya.” Kemudian Ibnu ‘Amru bertanya kepada orang yang diawasinya itu dan orang itu menjawab: “ Tidak ada sedikit pun pada diriku tipu daya maupun iri terhadap kebaikan yang diberikan Allah kepada salah seorang Muslim mana pun.” Lalu Ibnu ‘Amru berkata kepada orang itu: “Inilah yang membuatmu masuk surga dan inilah yang kami belum sanggup melakukan.” (353)

Rasūlullāh s.a.w. bersabda: “Penyakit umat-umat sebelum kalian telah menyelinap ke dalam diri kalian. Penyakit itu adalah iri dan kebencian. Itulah sang pencukur. Aku tidak mengatakan pencukur rambut, tetapi pencukur (perusak) agama. Demi Dzāt yang menggenggam jiwa Muḥammad, kalian tidak bisa masuk surga sebelum kalian beriman. Kalian tidak akan beriman sebelum kalian saling mencintai. Maukah aku kabarkan kepada kalian hal yang bisa menguatkan cinta pada diri kalian? Tebarkan salam di antara kalian.” (364) Beliau juga pernah bersabda: “Jangan tampakkan perasaan senang atas musibah yang menimpa saudaramu. Apabila engkau tampakkan, Allah akan mengasihinya dan menimpakan musibah kepadamu.” (375)

Bakar bin ‘Abdillāh menceritakan: “Seorang lelaki senantiasa datang menemui seorang raja, suatu saat ia berdiri di hadapan sang raja seraya berkata: “Berbuat baiklah kepada orang yang telah berlaku baik karena kebaikannya. Cukuplah keburukan yang menimpa orang yang berbuat buruk sebagai balasan atasnya.” Lalu ada seorang lain merasa iri pada lelaki pertama atas kedudukan dan ucapannya. Lalu lelaki kedua datang menemui sang raja dan mengatakan: “Orang  itu (lelaki pertama) mengatakan bau badan anda tidak enak.” Sang raja lantas bertanya: “Apa buktinya kalau ia memang mengatakan begitu?” Lelaki kedua menjawab: “Panggil saja dia. Apabila ia mendekat kepadamu, niscaya ia akan menutup hidungnya dengan tangannya.” Sang raja lantas bertitah: “ Pergilah. Aku akan membuktikannya.”

Lelaki kedua pun keluar. Lalu ia memanggil lelaki pertama dan menjamunya dengan makanan yang ada banyak bawangnya. Dari rumah lelaki kedua, lelaki pertama lalu pergi menemui sang raja, kemudian mengatakan ucapannya yang sama seperti sebelumnya di depan sang raja. Sang raja lantas menitahkan: “Mendekatlah kepadaku.” Lelaki pertama lalu mendekat seraya menutup mulutnya dengan tangan karena khawatir sang raja mencium bau bawang dari mulutnya. Sang raja lantas berpikir bahwa apa yang dikatakan lelaki kedua adalah benar. Sang raja tidak pernah menuliskan suatu perintah, kecuali isinya tentang pemberian hadiah. Kemudian sang raja menulis: “Jika orang yang membawa tulisan ini datang kepadamu, sembelih dan kuliti dia. Lalu bawa dia ke hadapanku.” Tulisan itu lantas diberikan kepada lelaki pertama. Lelaki pertama lalu mengambil tulisan itu dan membawanya keluar. Lantas ia bertemu dengan lelaki kedua, yang bermaksud buruk terhadapnya. Lelaki kedua bertanya: “Apa ini?” Lelaki pertama menjawab: “Tulisan sang raja untukku.” Lelaki kedua lalu berkata: “Berikan untukku.” Lelaki pertama menjawab: “Ini, kuberikan untukmu.” Lelaki kedua pun mengatakan: “Tulisan ini bukan untukku. Sungguh, demi Allah, jangan kau laksanakan isi surat itu kecuali setelah engkau kembali bertanya kepada sang raja.” Sang prajurit menjelaskan: “Tulisan sang raja tidak bisa ditawar-tawar.” Lalu sang prajurit melaksanakan titah sang raja dalam tulisan itu.”

Lelaki pertama lalu datang kembali kepada sang raja, lalu mengatakan ucapan yang sama seperti sebelumnya. Sang raja heran, seraya mengatakan: “Apa yang terjadi dengan tulisanku?” Lelaki itu pun menjelaskan kejadiannya. Sang raja lalu mengatakan: “Dia (lelaki kedua) mengatakan bawa engkau menyebutku berbau.” Lelaki pertama lalu mengatakan: “Aku tidak pernah mengatakannya.” Raja lantas bertanya: “Lalu mengapa engkau letakkan tanganmu di atas mulutmu?” Lelaki pertama menjawab: “Karena dia (lelaki kedua) menjamuku dengan makanan yang banyak bawangnya. Aku pun tidak mau jika anda mencium baunya.” Sang raja lantas bertitah: “Pulanglah ke tempat asalmu. Sungguh, cukuplah keburukan yang dialami oleh pelaku keburukan sebagai balasan atas keburukannya.’”

Ibnu Sīrīn mengatakan: “Aku tidak pernah iri kepada seorang pun dalam urusan dunia. Sebab, jika ia termasuk penghuni surga, mengapa aku iri kepadanya atas dunia, padahal dunia adalah barang hina di surga? Dan jika ia penghuni neraka, mengapa aku iri kepadanya atas dunia, padahal ia ada di neraka?”

Apabila Allah memberikan nikmat kepada saudaramu, engkau mempunyai dua pilihan. Pertama, engkau membenci datangnya nikmat itu dan mengharapkannya hilang. Inilah yang dinamakan iri. Kedua, engkau tidak ingin nikmat itu hilang darinya dan tidak pula membenci keberadaannya. Namun, engkau berharap bisa pula mendapatkan yang seperti itu. Ini dinamakan ghibthah atau kompetisi. (386)

Pilihan sikap yang pertama, hukumnya haram. Allah s.w.t. telah berfirman: Ataukah mereka iri kepada manusia (Muḥammad) karena karunia yang telah diberikan Allah kepadanya? (QS an-Nisā’ [4]:54). Umm-ul-Mu’minīn Shafiyyah pernah berkata kepada Nabi s.a.w.: “Suatu hari ayah dan pamanku telah datang sekembalinya dari menjumpaimu. Lantas ayah bertanya kepada pamanku: “Bagaimana Muḥammad menurutmu?” Pamanku menjawab: “Sungguh, dialah Nabi yang diberitakan oleh Mūsā. Lalu engkau sendiri bagaimana pendapatmu?” Ayahku menjawab: “Aku akan memusuhinya sepanjang hayat.”

Adapun pilihan sikap yang kedua hukumnya tidak haram. Ia bisa wajib, sunnah, atau mubah. Allah s.w.t. Berfirman: Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba. (QS al-Muthaffifīn [83]:26). Berlomba-lombalah kamu untuk mendapatkan ampunan dari Tuhanmu. (QS al-Ḥadīd [57]:21).

Rasūlullāh s.a.w. pun sudah menegaskan kebolehan sikap yang kedua ini. Beliau menyatakan: “Tidak boleh ada iri, kecuali kepada dua orang, yaitu [1] Seorang yang dikaruniai harta oleh Allah, lalu ia menginfaqkan hartanya di jalan yang benar; [2] Seseorang yang dianugerahi ‘ilmu oleh Allah, lalu ia meng‘amalkan ‘ilmunya dan mengajarkannya.” (397) Kemudian beliau lebih memperjelas lagi: “Perumpamaan (keadaan) umat ini seperti empat orang berikut, [1] Ada orang yang diberi karunia harta dan ‘ilmu oleh Allah, lalu ia menggunakan ‘ilmunya untuk mengelola hartanya. [2] Ada orang yang dikaruniai ‘ilmu oleh Allah, tetapi ia tidak diberi harta, lalu ia berdoa: “Ya Allah. Seandainya aku mempunyai harta seperti si fulān, tentu aku akan ber‘amal seperti dia.” Pahala kedua orang tersebut sama. [3] Ada orang yang diberi anugerah harta oleh Allah, tetapi tidak diberi ‘ilmu, lalu ia membelanjakan hartanya dalam kemaksiatan kepada Allah. [4] Ada pula orang yang tidak diberi ‘ilmu dan tidak diberi harta, lalu ia berkata: “Seandainya aku memiliki harta seperti si fulān, aku akan membelanjakannya seperti dia.” Dosa kedua orang itu sama.” (408)

Jika ni‘mat yang menjadi objek kompetisi merupakan suatu kewajiban agama, seperti keimanan dan shalat maka menginginkannya adalah suatu kewajiban. Jika termasuk keutamaan yang tidak wajib, menginginkannya adalah sunnah. Jika termasuk perkara mubah, menginginkannya juga mubah hukumnya.

Perasaan tidak suka menjadi orang yang tertinggal dan kalah dalam perkara mubah bukanlah hal yang dilarang. Namun, itu bisa mengurangi keutamaan seseorang, kezuhudannya, ketawakkalannya, dan keridhaannya. Ini termasuk perkara yang rumit. Apabila seseorang sudah putus asa untuk bisa mendapatkan kenikmatan seperti yang diperoleh pesaingnya dan ia tidak suka menjadi orang yang kalah darinya, sangat mungkin jiwanya cenderung lebih suka bila nikmat itu hilang dari pesaingnya. Seandainya urusan nikmat itu diserahkan kepadanya, niscaya ia berupaya untuk menghilangkan ni‘mat itu dari pesaingnya. Ini termasuk iri yang tercela. Namun, jika ketakwaan menghalanginya untuk menginginkan hilangnya ni‘mat dari pesaingnya, itu termasuk iri yang dapat ditoleransi. Mungkin iri seperti inilah yang dimaksud dengan sabda Nabi s.a.w.: “Orang mu’min tidak bisa lepas dari tiga hal. Salah satunya adalah iri. Karena itu, jika engkau merasa iri, janganlah engkau berbuat aniaya.

Tingkatan-Tingkatan Iri

Tingkatan iri ada empat.

Pertama, seseorang menginginkan hilangnya suatu ni‘mat pada orang lain meskipun ni‘mat itu tidak berpindah kepadanya. Ini adalah iri yang paling buruk.

Kedua, seseorang menginginkan suatu ni‘mat pada orang lain berpindah kepadanya.

Ketiga, seseorang tidak menginginkan ni‘mat yang ada pada orang lain, tetapi menginginkan nikmat lain yang sepadan dengannya. Jika ia tidak mendapatkannya, ia lebih suka ni‘mat pada orang lain hilang agar tidak ada perbedaan antara dia dan dirinya.

Keempat, seseorang menginginkan nikmat lain yang sepadan dengan ni‘mat yang telah diterima orang lain. Jika ternyata ia tidak mendapatkannya, ia tidak berharap ni‘mat pada orang lain hilang. Iri tingkat keempat termasuk iri yang bisa ditoleransi dan dimaafkan jika objeknya adalah keni‘matan duniawi. Namun, jika objeknya terkait dengan urusan agama, iri justru disunnahkan.

Catatan:

  1. 33. Hadits dilansir oleh Abū Dāwūd (no. 4903) dan Ibnu Mājah (no. 4210).
  2. Hadits diriwayatkan oleh al-Bukhārī (no. 6064) dan Muslim (no. 2559).
  3. Hadits diriwayatkan oleh Aḥmad (no. 12697) dengan sanad shaḥīḥ sesuai syarat al-Bukhārī dan Muslim.
  4. Hadits diriwayatkan oleh at-Tirmidzī (no. 2510).
  5. Hadits diriwayatkan oleh at-Tirmidzī (no. 2506). Ia mengatakan, hadits ini ḥasan.
  6. Sikap kedua ini termasuk sikap yang terpuji. Sikap ini kadang juga dinamakan iri yang baik. Dalam sebuah hadits, Nabi pernah menyebutkan dua contoh iri yang baik. [Penerjemah]
  7. Hadits diriwayatkan oleh al-Bukhārī (no. 73) dan Muslim (no. 1930).
  8. Hadits diriwayatkan oleh at-Tirmidzī (no. 2325) dan Ibnu Mājah (no. 4228). at-Tirmidzī menyatakan hadits ini ḥasan-shaḥīḥ.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *