Hati Senang

BAB I

TAHAPAN ILMU

(Bagian 3 dari 3)

 

Diriwayatkan bahwa Allah s.w.t. memberikan wahyu kepada Nabi Dāūd a.s. Ia berfirman: “Wahai Dāūd, belajarlah ilmu yang bermanfaat.” Daud berkata: “Wahai Tuhanku, apakah ilmu yang bermanfaat itu?” Allah berfirman, “Ketahuilah akan keagungan dan kebesaran-Ku, kesempurnaan kekuasaan-Ku atas segala sesuatu, karena hal itu akan mendekatkan Anda kepada-Ku.”

Diriwayatkan dari ‘Alī Karramallāhu Wajhah, ia berkata: “Tidaklah menggembirakanku, seandainya aku mati dalam keadaan masih anak-anak, lalu dimasukkan ke dalam surga sebelum dewasa dan mengenal Tuhanku. Sesungguhnya manusia yang paling mengenal Allah adalah yang paling takut kepada-Nya, yang paling banyak ibadah dan yang paling bagus dalam menjalin hubungan baik dengan-Nya, di antara mereka.”

Adapun kesulitan dalam melewati tanjakan ilmu ini, adalah mencurahkan keikhlasan jiwa Anda di dalam mencari ilmu, dan hendaklah pencarian itu terfokus pada ilmu pengetahuan, bukan berorientasi untuk mengejar kedudukan dan popularitas.

Ketahuilah, adalah menjadi kekhawatiran yang sangat membahayakan bagi orang yang menuntut ilmu agar menjadi pusat perhatian manusia, bisa duduk bersama para penguasa, menjadi public figure yang membanggakan, untuk mencari kekayaan dan kedudukan, ahli dalam perdebatan yang mengalahkan lawannya. Maka usaha dan perniagaannya semacam itu akan bangkrut dan mengalami kerugian yang besar. Perhatikan sabda Rasūlullāh s.a.w. berikut ini:

مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُفَاخِرَ الْعُلَمَاءَ أَوْ لِيُمَارِيَ بِهِ السُّفَهَاءَ أَوْ لِيَصْرِفَ بِهِ وُجُوْهَ النَّاسِ إِلَيْهِ أَدْخَلَهُ اللهُ النَّارَ

Artinya:

Barang siapa yang mencari ilmu, agar bisa membanggakan diri dengan ilmunya terhadap ulama, atau agar bisa berdebat memamerkan ilmunya terhadap orang-orang yang bodoh, atau agar menjadi perhatian manusia (public figure), maka Allah akan memasukkannya ke dalam neraka.

Abū Yazīd al-Bisthāmī r.a. berkata: “Aku telah melakukan mujāhadah selama 30 tahun, namun aku tidak mendapatkan sesuatu yang lebih berat bagiku daripada menuntut ilmu dan menghindari bahayanya.

Waspadalah terhadap ucapan manis mulut setan yang hendak menipu Anda: “Jika dalam menuntut ilmu itu terdapat bahaya yang besar, maka lebih baik tinggalkan saja.” Sekali-kali janganlah Anda menduga ucapan setan itu benar.

Diriwayatkan dari Rasūlullāh s.a.w., bahwa beliau bersabda:

اِطَّلَعْتُ لَيْلَةَ الْمِعْرَاجِ عَلَى النَّارِ فَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا الْفُقَرَاءَ قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ مِنَ الْمَالِ؟ قَالَ: لاَ، بَلْ مِنَ الْعِلْمِ

Artinya:

Pada malam Mi‘rāj, aku diperlihatkan neraka, ternyata aku melihat bahwa mayoritas penghuninya adalah orang-orang fakir.” Para sahabat bertanya: “Ya Rasūlullāh, apakah mereka miskin (fakir) harta?” Beliau menjawab: “Tidak, tetapi mereka fakir ilmu.

Barang siapa yang tidak mempelajari ilmu, tentu dia tidak mengerti hukum-hukumnya dan aturan-aturan ibadah, sehingga tidak bisa menjalankan hak-hak ibadah sebagaimana mestinya. Seandainya seseorang beribadah kepada Allah, sebagaimana ibadahnya malaikat di langit, tanpa didasari ilmu, maka dia termasuk, golongan orang-orang yang merugi.

Oleh sebab itu, singsinglah lengan baju Anda, bersungguh-sungguhlah dalam menuntut ilmu, dengan melakukan kajian-kajian, belajar dengan rajin dan tekun, jauhilah kemalasan dan kejenuhan. Jika tidak, maka Anda berada dalam bahaya kesesatan. Semoga Allah ‘azza wa jalla, melindungi dan menjauhkan kita dari bahaya kesesatan itu.

Walhasil, apabila Anda melihat petunjuk-petunjuk pada ciptaan Allah, lalu Anda melakukan perenungan, maka Anda menjadi tahu, bahwa kita mempunyai Tuhan Yang Maha Kuasa, Maha Mengetahui, Maha Hidup, Maha Berkehendak, Maha Mendengar, Maha Melihat, Yang berfirman, kalam-Nya suci dan bukan bersifat baru, begitu pula ilmu dan kehendak-Nya. Dia Maha Suci dari segala kekurangan dan cacat, Dia tidak bersifat sebagaimana sifat-sifatnya hal-hal baru (makhluk), Dia tidak mungkin terkena sesuatu yang mungkin terjadi pada makhluk. Dia tidak serupa dengan sesuatu pun dari makhluk ciptaan-Nya, dan tidak pula ada sesuatu yang menyerupai-Nya. Dia tidak menempati tempat dan tidak pula diliputi arah, tidak mengalami perubahan dan tidak pula terkena afat (kebinasaan).

Ketika Anda merenungkan mukjizat-mukjizat Rasūlullāh s.a.w. dan tanda-tanda kenabiannya, tentu Anda menjadi tahu bahwa beliau adalah Rasūlullāh, kepercayaan Allah untuk mengemban wahyu-Nya. Dan kiranya Anda pun tahu apa yang dii‘tiqadkan oleh orang-orang saleh terdahulu (salafush-shāliḥ), bahwa Allah s.w.t. dapat dilihat di akhirat nanti, Dia adalah ada, namun tidak menempati tempat dan ruang, serta tidak pula arah tertentu.

Sesungguhnya al-Qur’ān itu adalah Kalam Allah bukan makhluk, bukan yang berupa huruf-huruf yang terpisah-pisah, dan tidak pula berupa suara. Karena jika demikian, maka berarti ia tergolong makhluk. Dan tidaklah terjadi di alam malak dan malakūt getaran yang tergerak di hati dan sorot pandangan mata, kecuali atas qadha dan qadar Allah serta kehendak-Nya.

Segala yang baik dan yang buruk, yang bermanfaat dan yang bahaya, keimanan dan kekafiran adalah daripada-Nya pula. Allah tidak berkewajiban berbuat sesuatu pun buat makhluk-Nya. Barang siapa yang diberi pahala oleh Allah s.w.t. itu semata-mata karena anugerah Allah, dan barang siapa yang disiksa oleh-Nya, adalah semata-mata karena keadilan-Nya.

Apa saja yang datang melalui lisan pembawa syari‘at, Rasūlullāh s.a.w. mengenai perkara akhirat, seperti penghimpunan makhluk di padang Maḥsyar, hari kebangkitan, adanya siksa kubur, pertanyaan Mungkar dan Nakir, mengenai neraca amal (mīzān), dan jembatan (shirāth). Semua itu merupakan perkara gaib yang diyakini oleh semua ulama salaf yang saleh (salaf-ush-Shāliḥ), dan mereka selalu pegang teguh keyakinan itu. Hal itu juga menjadi konsensus para ulama (ijma‘) sebelum lahirnya berbagai jenis bid‘ah, munculnya dominasi hawa nafsu. Semoga Allah melindungi kita dari sikap membuat-buat bid‘ah di dalam agama dan menurut kemauan nafsu tanpa didasari dalil.

Kemudian renungkanlah mengenai aktivitas hati dan kewajiban-kewajiban batin dan larangan-larangannya yang akan dikemukakan di dalam kitab ini, agar Anda memperoleh ilmu tentang hal itu. Hingga secara garis besar Anda akan dapat mengetahui apa yang Anda perlukan untuk diamalkan, sebagaimana halnya bersuci (thahārah), puasa, shalat dan lain sebagainya.

Dengan demikian, berarti Anda telah menunaikan kefardhuan yang diwajibkan oleh Allah kepada Anda. Di mana pelaksanaan kefardhuan ibadah Anda itu menuntut Anda untuk berilmu, dan Anda telah menunaikan, serta melaluinya. Maka jadilah Anda sebagai ulama umat Nabi Muḥammad s.a.w. (ulamā’-ul-ummah), sebagai ulama yang berilmu tinggi dan kuat. Jika Anda mengamalkan ilmu, dan memfokuskan orientasi untuk meramaikan negeri tempat Anda pulang (akhirat), maka jadilah Anda sebagai seorang hamba yang alim dan mengamalkan ilmu karena Allah ta‘ala dengan penuh kewaspadaan, tidak bodoh dan tidak pula ikut-ikutan serta bukan pula sebagai orang yang lalai.

Anda menyandang kemuliaan yang besar, ilmu Anda bernilai tinggi dan mendapatkan pahala yang agung. Anda telah melewati tanjakan atau tahapan ini (Tahapan Ilmu). Anda telah menguasainya dan memenuhi hak-haknya atas izin Allah s.w.t. Kepada-Nya kita tengadah memohon pertolongan, karena Dia-lah sebaik-baik pemberi pertolongan dan kemudahan. Dia-lah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara para penyayang. Tiada daya dan kekuatan melainkan atas pertolongan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung. (Lā ḥaula wa lā quwwata illā billāh-il-‘aliyy-il-‘azhīm).

Bagikan:

BAB I

TAHAPAN ILMU

(Bagian 2 dari 3)

 

Kedua: Alasan kedua mengapa ilmu harus didahulukan, adalah karena ilmu yang bermanfaat akan membuahkan rasa takut kepada Allah dan mengagungkan-Nya.

Allah s.w.t. berfirman:

إِنَّمَا يَخْشَى اللهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

Artinya:

Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hambaNya, hanyalah ulama. (Fāthir: 28)

Demikian itu karena orang yang tidak mengenal Allah dengan baik dan yang sebenar-benarnya, maka dia tidak akan takut kepada-Nya dengan ketakutan yang sebenarnya, dan tidak pula dia mengagungkan-Nya dengan yang sebenar-benarnya. Dengan ilmu dia bisa mengenal dan mengagungkan-Nya. Maka ilmu menjadi membuahkan segala ketaatan dan menjauhkan dari segala kemaksiatan, berkat pertolongan dan petunjuk Allah s.w.t. Selain dua hal itu, bukanlah merupakan maksud dan tujuan bagi seorang hamba dalam menjalankan ibadah kepada Allah s.w.t.

Maka, adalah menjadi keharusan bagi Anda untuk menuntut ilmu terlebih dahulu – semoga Allah menunjukkan kepada Anda – wahai orang yang menempuh jalan menuju akhirat, sebelum Anda beribadah. Dialah Allah yang memberikan pertolongan, petunjuk, anugerah dan rahmat.

Mungkin Anda bertanya tentang hadis Nabi s.a.w.:

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

Artinya:

Menuntut ilmu itu, wajib bagi setiap Muslim.

Ilmu apakah yang wajib dipelajari? Bagaimana batasan akan ilmu yang harus dikuasai oleh seorang hamba dalam urusan ibadah?

Ketahuilah, sesungguhnya ilmu yang wajib dipelajari itu, secara garis besar ada tiga, yaitu:

  1. Ilmu Tauḥīd
  2. Ilmu Sirri, yakni ilmu yang berhubungan dengan hati dan pekerjaan-pekerjaannya.
  3. Ilmu Syarī‘ah

Sedangkan batasan kewajiban dari masing-masing ilmu itu, ialah:

Pertama: Yang wajib dipelajari dari ilmu tauhid itu, setidaknya adalah mengetahui pokok-pokok ilmu agama (ushūluddīn). Anda harus tahu bahwa Anda mempunyai Tuhan, Allah Yang Maha Kuasa, Maha Berkehendak, Yang Maha Hidup dan berfirman, Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat, Yang Maha Esa dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Dialah Tuhan yang bersifat dengan sifat-sifat yang sempurna. Maha Suci dari kekurangan dan kerusakan juga suci dari segala indikasi sebagai yang baru (diciptakan), Dia Maha Dahulu tanpa adanya penciptaan dan pendahuluan.

Dan sesungguhnya Muḥammad s.a.w. adalah seorang hamba dan Rasūl-Nya yang benar dan tepercaya yang datang dengan membawa risalah dari Allah ta‘ala, kebenaran dan keorisinalan berita yang disampaikan melalui lisannya akan kehidupan akhirat adalah hak. Kemudian masalah-masalah yang terkait dengan syi‘ar sunah wajib Anda ketahui, janganlah Anda membuat bid‘ah dalam urusan agama Allah s.w.t. apabila perkara itu tidak dijelaskan di dalam al-Qur’ān, Sunah dan Atsar, agar Anda tidak berada dalam sebuah kondisi yang sangat mengkhawatirkan.

Semua dalil-dalil Tauhid, pokoknya bersumber dari al-Qur’ān. Semuanya telah diterangkan oleh guru-guru kami di dalam kitab-kitab yang ditulisnya, mengenai pokok-pokok keagamaan (Ushūl-ud-Diyanāt). Walhasil, setiap hal yang membuat Anda merasa tidak aman dari kerusakan, karena ketidaktahuan, maka mengetahui ilmunya. Demikianlah, semoga Allah memberikan pertolongan dan taufiq kepada kita.

Kedua: Ilmu Sirri, atau ruang lingkup ilmu hati yang wajib Anda ketahui adalah mengetahui kewajiban-kewajiban dan larangan-larangan bagi hati, sehingga Anda berhasil, benar-benar mengagungkan Allah, berlaku ikhlas kepada-Nya, niat dan amal Anda selamat. Semua ini, akan kami jelaskan di dalam kitab ini, insya Allah ‘azza wa jalla.

Ketiga: Ruang lingkup ilmu syari‘at yang wajib Anda ketahui segala ilmu yang memungkinkan bagi Anda untuk dapat melakukan kefardhuan yang wajib Anda lakukan, seperti bersuci (thahārah), shalat dan ilmu puasa. Sementara yang berkenaan dengan haji, zakat dan jihad, jika memang telah nyata Anda wajib melakukannya, maka Anda pun dituntut harus mengetahui ilmunya, agar Anda dapat melakukannya dengan benar, jika tidak, maka tidaklah wajib bagi Anda.

Inilah batasan atau ruang lingkup yang menjadi keharusan bagi seseorang untuk mengetahui ilmu akan sesuatu yang fardhu, agar ia memiliki ilmunya dan dapat menunaikan hal itu dengan yang semestinya.

Jika Anda bertanya, apakah aku wajib mempelajari sesuatu dari ilmu tauhid yang dapat aku gunakan untuk menghancurkan semua agama-agama yang kafir, dan menanamkan hujjah Islam terhadap mereka, serta menghancurkan semua bentuk bid‘ah, lalu menanamkan argumentasi sunah kepada mereka.

Ketahuilah, sesungguhnya yang demikian itu adalah fardhu kifāyah. Yang pasti Anda berkewajiban membenahi dan membenarkan akidah Anda di dalam persoalan pokok-pokok agama (ushūluddīn), bukan yang lainnya.

Demikian pula, tidak menjadi keharusan bagi Anda untuk mengetahui cabang-cabang ilmu tauhid, kedalaman dan kerumitannya serta masalah-masalahnya secara detil dan terperinci. Ya, jika Anda menghadapi persoalan subhat, dalam pokok-pokok agama, sementara Anda takut hal itu akan mengotori i‘tikad dan keyakinan Anda, maka nyatalah bagi Anda keharusan untuk memperoleh solusi dan jawaban yang benar terhadap masalah yang membingungkan Anda itu, tanpa harus melewati perdebatan yang sengit, pembicaraan yang meluap-luap, karena hal itu akan mengundang penyakit yang tidak ada obatnya. Jagalah dan tahanlah diri Anda sekuat tenaga agar tidak melakukan dekat kusir, karena perdebatan semacam itu tidak akan menguntungkan, kecuali bila Allah menganugerahkan rahmat dan kehalusan kasih sayang-Nya.

Kemudian ketahuilah, sesungguhnya apabila di setiap daerah telah ada seorang da‘i dari golongan Ahlus Sunah yang memberikan penerangan dan penjelasan mengenai masalah-masalah yang tidak jelas dan membingungkan (syubhat) dan menghadapi ahli bid‘ah, dia memiliki kemampuan yang cukup dalam menangani masalah ini, sehingga dapat menjaga dan memelihara kemurnian ahli kebenaran dari gangguan ahli bid‘ah, maka gugurlah kewajiban bagi yang lainnya dalam menyelesaikan masalah tersebut, karena hukumnya adalah fardhu kifāyah.

Begitu pula, Anda tidak berkewajiban mengetahui secara mendalam ilmu sirri dan semua kejelasan akan keajaiban-keajaiban hati, kecuali hal-hal yang dapat merusak ibadah Anda. Terhadap hal-hal yang dapat merusak ibadah Anda, maka Anda berkewajiban untuk mengetahuinya, agar Anda dapat menjauhinya. Dan akan hal-hal yang menjadi keharusan bagi Anda untuk melakukannya, seperti ikhlas, memuji syukur, tawakal dan lain sebagainya, maka Anda harus mengetahuinya, agar Anda bisa merealisasikannya. Adapun yang selain itu, tidaklah wajib bagi Anda.

Demikian pula, Anda juga tidak berkewajiban mengetahui semua bab-bab dalam pembahasan ilmu fikih, seperti bab jual beli (buyū‘), sewa-menyewa, pernikahan, dan tindak pidana. Karena menguasai masing-masing dari semua itu adalah fardhu kifāyah.

Jika Anda bertanya, bahwa kadar pengetahuan akan ilmu tauhid yang demikian itu, apakah dapat dihasilkan melalui perenungan manusia tanpa melalui proses belajar dari guru?

Maka, ketahuilah bahwa kedudukan guru adalah sebagai pembuka dan orang yang mempermudah, proses menghasilkan ilmu tersebut bersama guru jauh akan lebih mudah dan lebih enak. Guru itu hanyalah sebagai perantara, berkat rahmat dan anugerah Allah, Dia menjadikan seseorang di antara para hamba-Nya, yang Dia kehendaki menjadi berilmu, sementara pada hakikatnya Dialah Allah s.w.t. sebagai gurunya.

Kemudian ketahuilah, bahwa tahapan ilmu ini merupakan tahapan yang sulit dan melelahkan. Tetapi melewati tahapan ini, dapat dihasilkan apa yang dimaksud dan dicita-citakan. Manfaatnya begitu besar, tetapi sulit menempuhnya dan besar pula resikonya, betapa banyak orang yang melaluinya, tetapi kemudian menyimpang; betapa banyak orang yang menempuhnya, namun tergelincir; betapa banyak orang yang kebingungan melaluinya, banyak pula yang terputus di tengah jalan dalam waktu yang singkat, akhirnya ia mondar-mandir pada tanjakan yang sulit ini selama tujuh puluh tahun. Semua perkaranya berpulang pada kekuasaan Allah s.w.t.

Adapun manfaat ilmu, sebagaimana yang telah kami kemukakan, merupakan kebutuhan yang sangat penting bagi manusia, atau dasar untuk memenuhi kebutuhan semua perintah ibadah yang diperintahkan kepadanya, utamanya ilmu tauhid dan ilmu sirri (ilmu yang berkenaan dengan hati).

Bagikan:

BAB I

TAHAPAN ILMU

(Bagian 1 dari 3)

 

Mengawali pembahasan pada tahap pertama jalan yang harus ditempuh orang-orang yang beribadah, yaitu Tahapan Ilmu, dengan memohon taufiq kepada Allah s.w.t. Selanjutnya, wahai orang yang menginginkan keselamatan dan hendak menempuh jalan ibadah, semoga Allah memberikan petunjuk dan ilmu kepada Anda, karena ilmu merupakan pangkal dan sumber segala kebaikan.

Ketahuilah, sesungguhnya ilmu dan ibadah adalah permata. Karena keduanya, Anda bisa melihat dan mendengar kitab-kitab karya tulis pada pengarang, pengajaran para pengajar, nasihat para penasihat dan pemikiran para pemikir. Bahkan karena ilmu dan ibadah diturunkan kitab-kitab suci dan diutuslah para utusan. Juga karena keduanya langit dan bumi serta segala makhluk yang ada padanya diciptakan. Renungkanlah dua ayat di dalam kitab suci al-Qur’ān berikut ini.

Pertama, firman Allah s.w.t.:

اللهُ الَّذِيْ خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَ مِنَ الأَرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ الأَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ عَلى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ وَ أَنَّ اللهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا

Artinya:

Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu. (ath-Thalāq: 12).

Cukuplah ayat ini sebagai dalil atas kemuliaan ilmu, utamanya ilmu tauhid. Sedangkan ayat yang kedua adalah firman Allah s.w.t.:

وَ مَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَ الإِنْسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُوْنِ

Artinya:

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka menyembah-Ku. (adz-Dzāriyāt: 56).

Dan ayat ini, cukuplah kiranya sebagai dalil atas kemuliaan ibadah dan keharusan untuk menunaikannya. Atas kemuliaan dan perkara itulah tujuan diciptakan dunia dan akhirat. Karenanya sudah semestinya bagi seorang hamba untuk tidak menyibukkan diri melainkan terfokus pada keduanya, tidak pula berpayah-payahan kecuali demi keduanya dan tidak pula berpikir kecuali berpikir dalam kerangka ilmu dan ibadah.

Ketahuilah, sesungguhnya segala perkara selain keduanya adalah batil, tidak ada kebaikan padanya, dan merupakan kesia-siaan yang tiada urgensinya. Ketika Anda telah mengetahui hal itu, maka ketahuilah bahwa ilmu adalah merupakan permata yang paling berharga dan mulia.

Oleh karena itulah, Nabi s.a.w. bersabda:

إِنَّ فَضْلَ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِيْ عَلَى أَدْنَى رَجُلٍ مِنْ أُمَّتِيْ

Artinya:

Sesungguhnya keutamaan orang yang berilmu atas orang yang ahli ibadah, sebagaimana keutamaanku atas orang yang paling rendah di antara umatku.

Dan Nabi s.a.w. bersabda:

نَظْرَةٌ إِلَى الْعَالِمِ أَحَبُّ إِلَىَّ مِنْ عِبَادَةِ سَنَةٍ صِيَامِهَا وَ قِيَامِهَا

Artinya:

Sekali pandang terhadap wajah orang alim, lebih aku sukai daripada ibadah satu tahun, berupa puasa di siang hari dan menunaikan shalat malam di malam harinya.

Nabi s.a.w. juga bersabda:

أَلاَ أَدُلُّكُمْ عَلَى أَشْرَفِ أَهْلِ الْجَنَّةِ قَالُوْا: بَلَى يَا رَسُوْلَ اللهِ قَالَ: هُمْ عُلَمَاءُ أُمَّتِيْ

Artinya:

Perhatikanlah, akan aku tunjukkan kepada Anda ahli surga yang paling mulia.” Para sahabat bertanya: “Ya, baiklah ya Rasūlullāh.” Beliau bersabda: “Mereka itu adalah para ulama dari umatku.

Dengan demikian jelaslah bagi Anda sesungguhnya ilmu adalah permata yang lebih mulia daripada ibadah, tetapi merupakan keharusan bagi seorang hamba untuk menunaikan ibadah dengan didasari ilmu. Karena ilmu bagaikan posisi pohon, sementara ibadah menduduki kedudukan buah dan pohon itu. Maka keutamaan ada pada pohon karena ia merupakan asal atau pokok, tetapi pemanfaatan yang dihasilkan, didapatkan dari buahnya. Karenanya, seorang hamba harus memiliki keduanya. Ilmu dan ibadah dengan baik dan benar.

Oleh sebab itu Ḥasan Bashrī berkata: “Tuntutlah ilmu tanpa mengesampingkan aspek ibadah dan beribadahlah tanpa mengesampingkan aspek ilmu.

Ketika ilmu dan ibadah menjadi keharusan bagi seorang hamba, maka terlebih dahulu yang harus diprioritaskan penguasaannya adalah ilmu, karena ia merupakan dasar dan petunjuk dalam menjalankan ibadah. Karenanya, Nabi s.a.w. bersabda:

الْعِلْمُ إِمَامُ الْعَمَلِ وَ الْعَمَلُ تَابِعُهُ

Artinya:

Ilmu adalah imam (pemimpin) bagi amal, sedangkan amal mengikutinya.

Ilmu menjadi pokok yang harus dijadikan panduan, maka menjadi keharusan bagi Anda untuk mendahulukannya daripada ibadah, karena dua alasan, yaitu:

Pertama: Agar ibadah Anda membuahkan hasil dan selamat, maka terlebih dahulu Anda wajib mengetahui siapa yang disembah. Barulah kemudian Anda menyembah-Nya. Bagaimana mungkin Anda menyembah seseorang (tuhan) yang tidak Anda ketahui asma dan sifat-sifat zatnya, apa sifat wajib dan apa pula yang mustahil baginya. Bisa jadi Anda meyakini tuhan yang Anda sembah itu dengan suatu sifat yang bertentangan dengan yang semestinya, sehingga mengakibatkan ibadah Anda sia-sia belaka.

Kami telah menerangkan hal yang mengandung kekhawatiran yang amat besar semacam itu, di dalam penjelasan kami tentang makna “sū’-ul-khātimah” pada bab “Al-Khauf” di dalam kitab Iḥyā’ Ulūmiddīn.

Selanjutnya, Anda harus mengetahui kewajiban-kewajiban syari‘at yang wajib Anda lakukan, dengan cara yang semestinya sebagaimana yang diperintahkan kepada Anda untuk melakukannya. Dan Anda juga harus mengetahui larangan-larangan syari‘at yang wajib Anda tinggalkan. Jika tidak, bagaimana bisa Anda melakukan ketaatan, sementara Anda tidak mengetahui ketaatan-ketaatan itu, dan apa yang harus ditaati dan bagaimana cara Anda melakukan ketaatan? Dan bagaimana pula Anda bisa menjauhi kemaksiatan, sementara Anda tidak mengetahui bahwa ia adalah kemaksiatan, sehingga Anda tidak terjerumus ke dalam kemaksiatan.

Ibadah-ibadah yang diperintahkan menurut syari‘at Islam itu, seperti bersuci, shalat, puasa dan kewajiban-kewajiban lain yang harus Anda ketahui hukum-hukum dan syarat-syaratnya, sehingga Anda dapat menunaikannya secara benar.

Adalah mungkin, Anda telah melakukan sesuatu bertahun-tahun dan sepanjang waktu, ternyata apa yang Anda lakukan itu membatalkan thahārah (kesucian) dan shalat Anda, serta menjadikan keduanya keluar dari koridor sunah yang telah ditetapkan secara syar‘i, sementara Anda tidak mengetahuinya. Mungkin Anda menemukan suatu masalah, sedangkan Anda tidak menemukan orang yang dapat Anda tanyai mengenai persoalan itu, padahal Anda tidak mengetahui hukumnya.

Hal yang sama dalam persoalan ini, dalam aspek ibadah secara batin yang terjadi di dalam hati yang harus Anda ketahui, seperti tawakal, berserah diri, ridha, sabar, tobat, ikhlas dan lain sebagainya yang akan kami jelaskan kemudian, in syā’ Allāh.

Dan Anda juga wajib mengetahui masalah-masalah larangan batin yang menjadi kebalikan dari hal tersebut, seperti marah, lamunan, riya’, sombong dan lain sebagainya yang harus Anda jauhi. Terhadap hal-hal yang fardhu Allah telah menetapkan perintah agar dijalankan. Dan melarang yang sebaliknya. Sebagaimana yang disebutkan di dalam al-Qur’ān dan hadits Nabi s.a.w.

Allah s.w.t. berfirman:

وَ عَلَى اللهِ فَتَوَكَّلُوْا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِيْنَ

Artinya:

Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakal, jika kamu benar-benar orang yang beriman. (al-Mā’idah: 23)

Dan firman Allah s.w.t.:

وَ اشْكُرُوْا للهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُوْنَ

Artinya:

Dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya saja kamu menyembah.” (al-Baqarah: 172)

Dan firman Allah s.w.t.:

وَ اصْبِرْ وَ مَا صَبْرُكَ إِلاَّ بِاللهِ

Artinya:

Bersabarlah (hai Muḥammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah.” (an-Naḥl: 127)

Dan firman Allah s.w.t.:

وَ تَبَتَّلْ إِلَيْهِ تَبْتِيْلاً

Artinya:

Dan beribadahlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan.” (al-Muzzammil: 8)

Yakni, beribadahlah kepada-Nya dengan penuh keikhlasan.

Dan ayat-ayat yang lain, seperti nash yang menjelaskan tentang perintah shalat, puasa. Bagaimana halnya dengan sikap Anda yang menerima perintah shalat dan puasa, sementara Anda meninggalkan kefardhuan-kefardhuan yang lain (seperti perintah tawakal, sabar, ikhlas dan lain sebagainya). Padahal perintah itu semuanya dari Tuhan yang sama, yaitu Tuhan Yang Maha Esa (Allah), melalui kitab yang sama (al-Qur’ān). Bahkan Anda cenderung melalaikan perintah yang berkaitan dengan perlakuan hati, sehingga Anda tidak mengetahui sesuatu pun daripadanya, karena Anda terkecoh dengan omongan orang-orang yang menggebu-gebu kecintaannya terhadap dunia, yang membuat pandangannya menjadi terbalik, di mana yang baik dinyatakan mungkar dan yang mungkar dipandang baik.

Barang siapa yang meremehkan ilmu yang oleh Allah di dalam al-Qur’ān dinamakan sebagai cahaya (nūr), hikmah dan petunjuk, lalu menghadapkan diri pada aktivitas dan usaha yang haram, berarti ia memburu pembakaran api yang menyala-nyala (neraka).

Wahai orang yang menginginkan petunjuk, tidakkah Anda takut menyia-nyiakan sebagian kewajiban atau bahkan sebagian besar dari kewajiban-kewajiban? Sementara Anda sibuk melakukan shalat dan puasa sunah, maka Anda pun tidak memperoleh suatu apapun.

Mungkin juga Anda bersikap ceroboh melakukan kemaksiatan yang menyebabkan Anda masuk ke dalam neraka, sementara di sisi lain Anda meninggalkan hal-hal yang mubah, seperti makan, minum atau tidur dengan alasan untuk mendekatkan diri kepada Allah, maka jadilah Anda tidak mendapatkan sesuatu apapun.

Dan yang lebih parah dari itu semua adalah Anda memanjangkan lamunan sesuatu yang tidak patut, padahal lamunan semacam itu adalah murni kemaksiatan, sementara Anda menduganya sebagai niat yang baik, karena kebodohan Anda untuk dapat membedakan antara lamunan dan niat baik, yang pada sebagian perkara batas antara keduanya memang tipis.

Demikian pula halnya dengan sikap Anda, yang mengeluh dan membenci (protes) terhadap qadha Allah, sementara Anda menduganya hal itu sebagai sikap mendekatkan diri dan merendahkan diri kepada Allah ‘azza wa jalla. Dan terkadang Anda bersikap riya’ anshiḥ (riya’ dalam memberi nasihat), sementara Anda mengira sebagai bentuk pujian Anda kepada Allah s.w.t. atau ajakan terhadap manusia pada kebaikan. Anda pun menghitung-hitung kemaksiatan itu, sebagai ketaatan kepada Allah, dan mengira memperoleh pahala yang besar di tempat-tempat sumbernya siksaan. Jika demikian, sungguh Anda berada dalam ketertipuan yang besar dan kelalaian yang keji. Sungguh hal ini, merupakan musibah dan petaka yang sangat tragis bagi orang-orang yang beramal tanpa ilmu.

Di samping itu, sesungguhnya aktivitas ibadah lahiriyyah itu, memiliki hubungan secara batin yang bisa memperbaiki atau merusaknya, seperti ikhlas, riya’, sombong, menghitung-hitung kebaikan pada orang lain (undat-undat) dan lain sebagainya. Barang siapa yang tidak mengetahui persoalan aktivitas batin dan pengaruhnya terhadap amal lahir, dan bagaimana memelihara amal-amal lahir dari keburukan perbuatan batin, maka kecil kemungkinan amal lahirnya selamat, sehingga ia harus kehilangan pahala ketaatan secara lahir dan batin, maka yang tersisa di tangannya hanyalah kecelakaan dan kecemaran. Inilah suatu kerugian yang amat nyata.

Rasūlullāh s.a.w. bersabda menjelaskan tentang keutamaan orang yang berilmu, sebagai berikut:

إِنَّ نَوْمًا عَلَى عِلْمٍ خَيْرٌ مِنْ صَلاَةٍ عَلَى جَهْلٍ

Artinya:

Tidur dengan didasari atas ilmu lebih baik daripada ibadah secara bodoh (tanpa didasari ilmu).

Karena sesungguhnya orang yang beramal tanpa didasari ilmu, lebih banyak merusak amalnya daripada membaguskannya. Rasūlullāh s.a.w. bersabda:

إِنَّهُ يُلْهَمُهُ السُّعَدَاءُ وَ يُحْرَمُهُ الأَشْقِيَاءُ

Artinya:

Sesungguhnya orang-orang yang beruntung diilhami dengan ilmu, dan orang-orang yang celaka dihalangi dari ilmu.”

Hadis tersebut mengandung makna, bahwa ilmu itu adalah milik Allah. Dialah yang akan memberikan ilham berupa ilmu kepada seseorang atau sebaliknya. Tetapi kecelakaan seseorang disebabkan karena ia tidak mau belajar, dia berlelah-lelah melakukan ibadah tanpa didasari ilmu hingga menyimpang dari yang semestinya, maka tidaklah berarti ibadah yang dilakukan itu, melainkan hanyalah mendapatkan kepenatan dan kelelahan saja. Semoga Allah melindungi kita dari ilmu dan amal yang tidak bermanfaat.

Oleh sebab itu, para ulama yang zuhud dan mengamalkan ilmunya menaruh perhatian yang sangat besar terhadap ilmu dan mengajarkannya kepada manusia. Karena ilmu merupakan poros atau sumbu ibadah dan kekuatannya dalam berkhidmat kepada Allah Tuhan semesta alam. Demikianlah pandangan orang-orang yang berilmu dan berpikir serta mendapatkan petunjuk.

Ketika hal yang demikian itu, telah jelas bagi Anda, bahwa kebaktian seorang hamba tidak akan membuahkan hasil dan selamat kecuali dengan ilmu, maka menjadi keharusan bagi Anda untuk mendahulukan ilmu sebelum beribadah.

Bagikan:

RAGAM ILMU, KEUTAMAANNYA DAN KARAKTER ULAMA

 

BISM-ILLĀH-IR-RAḤMĀN-IR-RAḤĪM

 

Dalam pasal ini akan dibahas tentang ilmu beserta keutamaannya, sifat-sifat ulama, keutamaan ilmu makrifat di atas semua ilmu, metode ulama salaf shalih dalam mencari ilmu, penjelasan tentang keutamaan ilmu diam, cara yang ditempuh para ahli wara‘ dalam mencari ilmu, perbedaan antara ilmu zhāhir dan ilmu bāthin, perbedaan antara ulama dunia dan akhirat, keutamaan ulama ahli makrifat dibanding ulama-ulama zhāhir, penjelasan tentang ulama sū’ (durjana) yang mengambil keduniawian dengan ilmunya, karakteristik ilmu, metodologi pengajaran, dan celaan terhadap cerita-cerita dan pendapat golongan mutakhir (ulama masa kini). Juga ada satu bab tentang pembicaraan dan aktivitas yang baru dilakukan oleh kebanyakan manusia, namun tidak pernah dilakukan oleh para ulama salaf, penjelasan tentang keutamaan iman dan yakin atas semua ilmu, dan sikap waspada terhadap akal. Dalam pasal ini juga akan dibahas tentang makna sabda Nabi s.a.w.: “Menuntut ilmu adalah diwajibkan bagi setiap muslim.” Dalam hadis lain disebutkan: “Tuntutlah ilmu walaupun sampai ke negeri Cina, karena hukum menuntut ilmu adalah wajib bagi setiap muslim.

Guru kami, Abū Muḥammad Sahal – semoga mendapat limpahan rahmat dari Allah s.w.t. – berkata: “Ilmu yang dimaksud dalam hadis tersebut adalah ilmu ḥāl, yaitu ilmu yang berhubungan dengan keadaan hamba sesuai dengan maqām (derajat) di mana ia berada, agar kalian dapat mengetahui tentang posisinya antara kalian dengan Allah s.w.t. Secara khusus, baik di dunia maupun di akhirat, sehingga ia dapat menjalankan aturan-aturan Allah dengan ilmu itu.”

Menurut sebagian ahli makrifat, maksud hadis tersebut adalah menuntut ilmu makrifat dan seorang hamba harus melaksanakan hukum pada waktunya dan segala perkara yang ia butuhkan pada setiap waktu.

Menurut sebagian ulama Syam, bahwa yang dimaksud adalah mencari tahu tentang ilmu ikhlas, kebinasaan hawa nafsu, bisikan-bisikan jahat nafsu, diperdaya setan, tipu-dayanya, perangkapnya, muslihatnya, dan hal-hal yang akan meluruskan dan merusak amal. Semua itu wajib dipelajari. Pendapat ini ditinjau dari segi bahwa ikhlas dalam beramal adalah wajib. Juga berdasarkan pandangan bahwa dia mengetahui tentang permusuhan Iblis dan adanya perintah untuk memusuhinya. Pendapat tersebut antara lain dipegang oleh ‘Abd-ur-Raḥīm Ibnu Yaḥyā al-Armawī dan para pengikutnya.

Berkaitan dengan hadis di atas, kalangan ulama Bashrah berpendapat: “Mencari ilmu hati, mengenal lintasan-lintasannya, dan merincinya adalah wajib, karena Allah melapangkan hati hambanya. Mengenali bisikan setan dan nafsu kepada hamba-Nya. Oleh karena itu, ia harus melakukan kewajibannya kepada Allah dengan memberdayakan apa yang dimilikinya yang bersumber dari-Nya dapat dilaksanakan semata-mata untuk-Nya. Dalam hati tersebut juga merupakan tempat cobaan dan ujian dari Allah kepada hamba-Nya yang membutuhkan kesungguhan jiwa untuk menolaknya, karena hati merupakan tempat awal munculnya niat, niat tersebut merupakan awal setiap pekerjaan. Melalui hati pula akan tampak perbuatan, dan berdasarkan kadarnya amal tersebut akan berlipat ganda. Oleh karena itu, mesti dibedakan antara perkawanan yang berasal dari malaikat dan dari setan, antara lintasan hati yang berasal dari ruh dan antara nafsu, dan antara ilmu yakin dan kelemahan akal, sehingga dapat membedakan hukum. Menurut mereka (para ulama) mencari ilmu-ilmu tersebut adalah wajib, yakni menurut mazhab Mālik bin Dīnār, Farqad as-Sanjī, ‘Abd-ul-Wāḥid bin Zaid dan para pengikut-pengikut mereka dari kalangan ahli ibadah. Guru mereka, Ḥasan Bashrī banyak berbicara tentang hal tersebut kepada mereka. Dan dari dialah mereka mengambil dan mengembangkan ilmu hati tersebut.

Sementara itu, Golongan ahli ibadah dari Syam berpendapat bahwa berdasarkan hadis tersebut, mencari ilmu tentang kehalalan adalah wajib. Hal itu sesuai dengan perintah Allah s.w.t. kepada hamba-Nya agar mencari yang halal. Begitu pula kaum sepakat bahwa memakan barang haram adalah perbuatan dosa. Dalam salah satu khabar yang disampaikan secara mufassar (riwayat secara makna) dinyatakan bahwa mencari yang halal adalah salah satu kewajiban dari sekian kewajiban. Pendapat tersebut disepakati oleh Ibrāhīm bin Adham dan Yūsuf bin Asbāth, Waḥīb bin Ward dan Ḥabīb bin Ḥarb.

Menurut sebagian golongan ini, hadis di atas menerangkan bahwa mencari Ilmu batin adalah wajib bagi ahlinya. Mereka menambahkan: “Hal itu dikhususkan bagi ahli hati, yakni dari kalangan orang yang menggunakan ilmu tersebut dan membutuhkannya, bukan selainnya dari kebanyakan orang-orang Islam.” Sebagaimana dinyatakan dalam sebuah hadis: “Pelajarilah tentang keyakinan.” Artinya, carilah ilmu yakin. Hanya saja, ilmu tersebut hanya terdapat pada kalangan mūqinīn (orang yang benar-benar memiliki keyakinan). Ia juga merupakan dampak dari perbuatan kalangan mūqinīn yang dikhususkan pada hati kalangan ahli makrifat. Itulah ilmu nāfi‘ (bermanfaat) yang merupakan ḥāl (keadaan spiritual) seorang hamba di sisi Allah s.w.t. dan maqām-nya (kedudukannya) di sisi-Nya seperti dijelaskan dalam riwayat lainnya, bahwa Rasūlullāh s.a.w. bersabda: “Ilmu batin terletak di hati adalah itulah yang bermanfaat.” Inilah interpretasi paling baik dibanding yang lain.

Jundab berkata: “Suatu hari kami bersama Rasūlullāh s.a.w. Beliau mengajari kami tentang iman, kemudian al-Qur’ān. Setelah itu, iman kami semakin bertambah. Kelak akan datang suatu zaman, di mana orang-orang akan belajar al-Qur’ān sebelum iman. Padahal beliau menetapkan agar kami mempelajari ilmu iman terlebih dahulu. Pendapat ini dianut oleh para ahli ibadah penduduk Bashrah.

Sebagian kalangan salaf berpendapat: “Maksudnya mencari ilmu yang diharuskan untuk memilikinya seperti ilmu tauhid, serta ilmu asal-usul perintah dan larangan. Juga mempelajari ilmu yang membedakan antara yang halal dan yang haram. Hal itu dikarenakan ilmu-ilmu lainnya tidaklah terbatas jumlahnya, dan bisa dikategorikan sebagai ilmu ditinjau dari pengetahuan yang dikandungnya.” Kemudian mereka sepakat bahwa mengajarkan ilmu di luar yang mereka sebut di atas tidaklah wajib, namun mengajarkannya termasuk perbuatan utama dan sunnah.

Sebagian Fuqahā’ Kufah berpendapat: “Yang dimaksud adalah mencari ilmu jual beli, ilmu pernikahan, talak, manakala seorang berniat terjun di bidang tadi, maka seiring dengan itu ia pun diharuskan mempelajari dan mencari ilmunya, sebagaimana yang dikatakan oleh ‘Umar bin Khaththāb r.a.: “Seseorang hanya diperkenankan untuk berniaga di pasar setelah ia paham benar tentang ilmu perniagaan tersebut. Jika tidak, maka mau tidak mau ia akan memakan riba.” Ada yang berpendapat: “Hendaklah kamu memahami ilmu dagang, kemudian daganglah.” Pendapat ini diikuti pula oleh Sufyān Tsaurī, Abū Ḥanīfah dan para pengikutnya.

Sebagian golongan mutaqaddimīn dari ulama Khurāsān berpendapat: “Ilmu yang dimaksud adalah jika seseorang yang berada di rumahnya ingin melakukan suatu yang berhubungan dengan perintah agama atau terlintas dalam benaknya masalah hukum dan ibadah kepada Allah s.w.t. baik berupa keyakinan atau amal perbuatan. Ia tidak boleh hanya berdiam diri terhadap masalah tersebut, juga tidak boleh menentukan hukum masalah tersebut dengan pendapatnya sendiri dan hawa nafsunya. Akan tetapi, hendaklah ia bergegas keluar untuk bertanya kepada orang yang paling mengerti terhadap masalah tersebut di negerinya. Dengan kata lain, ia harus mencarinya ketika ada masalah yang menimpanya. Mencari ilmu dalam kondisi seperti itulah yang wajib. Pendapat tadi diceritakan oleh Ibnu Mubārak dan sebagian ahli Hadits.

Sebagian lainnya berpendapat: “Yang dimaksud adalah bahwa mencari ilmu Tauḥīd adalah wajib” Hanya saja mereka berbeda pendapat tentang tata cara mencarinya dan target yang ingin dicapainya. Ada yang berpendapat: “Dengan cara istidlāl (pengambilan kesimpulan) atau i‘tibār (perenungan/pemikiran).” Ada yang berpendapat: “Melalui penelitian atau pengamatan.” Dan ada yang berpendapat: “Dengan taufik (penggabungan) dan atsar (pelacakan).

Sekelompok kecil dari mereka berpendapat: “Yang dimaksud adalah mencari ilmu-ilmu tentang syubhāt (di antara halal dan haram) dan musykilāt (perkara-perkara yang rumit) ketika seorang hamba mendengar atau mendapat ujian dengan beragam perkara tersebut. Ia diperkenankan meninggalkan kewajiban tersebut, jika hal itu terjadi semata-mata disebabkan kelalaiannya saja, dan sepanjang ia tunduk serta memiliki keyakinan bahwa sebagian besar orang-orang muslim tidak terperangkap pada kebimbangan seperti yang dialaminya. Begitu pula hatinya tidak terpengaruh sedikit pun oleh perkara yang tidak jelas kehalalan dan keharamannya. Dengan demikian, dalam kondisi seperti itu gugurlah kewajiban baginya untuk mencari ilmu tersebut. Namun, apabila ia mendengar permasalahan tersebut dan membuat hatinya gundah, sementara ia tidak mengetahui rinciannya, kepastian hukumnya, dan tidak bisa membedakan antara yang benar dan salah, maka pada saat itu tidak dibenarkan baginya untuk berdiam diri supaya tidak membatilkan suatu hak atau menolak kebenaran. Oleh karena itu, diwajibkan mencari tahu tentang masalah tersebut kepada para ulama yang mengetahuinya, sehingga ia paham benar akan permasalahan tersebut, berpegang teguh pada yang benar, dan menghindari kebatilan. Tentu saja ia tidak boleh berdiam diri dan mengabaikannya, karena hal itu dapat membawanya pada syubhat (kesamaran) dan menjerumuskannya pada hawa nafsu, atau membimbangkannya dalam beragama, menyimpang dari jalan orang-orang mukmin, dan mengikuti bid‘ah, di mana pada gilirannya dapat mengeluarkannya dari sunnah dan madzhab jamaah tanpa ia sadari.

Bagikan:

Bab II

Bagian ke 2.

 

Ilmu

 

Ilmu (751) merupakan dasar, referensi dan korektor bagi seluruh amal perbuatan.

Ilmu tanpa amal tidak akan ada faedahnya. Dan sebaliknya, amal tanpa ilmu tidak akan berdaya guna. Seorang penyair berkata:

Seorang alim yang tidak mengamalkan ilmunya,

Akan diazab sebelum penyembah berhala disiksa.

Sebab, setiap orang yang beramal tanpa ilmu,

Semua amalnya ditolak dan tidak diterima.

Ilmu dan amal ibarat saudara kembar yang tidak bisa dipisahkan. Seorang salik yang menempuh jalan iman, jalan makrifat kepada Allah dan jalan untuk sampai kepada ridha-Nya membutuhkan ilmu di setiap fase suluknya.

Di awal fase perjalanannya, dia harus memiliki ilmu tentang akidah, perbaikan ibadah dan pelurusan muamalah. Dan di tengah perjalanannya, dia membutuhkan ilmu tentang kondisi-kondisi hati, perbaikan akhlak, pensucian jiwa dan lainnya.

Oleh sebab itu, memperoleh ilmu adalah salah satu titik dasar terpenting dalam metode praktis tasawuf. Sebab, tasawuf tidak lain adalah pelaksanaan ajaran-ajaran Islam secara sempurna tanpa mengurangi salah satu aspek lahir dan batinnya.

Berikut ini penulis uraikan secara ringkas ayat-ayat al-Qur’an dan hadis Nabi yang menunjukkan tingginya kedudukan ilmu dan peranannya.

 

Keutamaan Ilmu dalam Perspektif al-Qur’an.

Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama (orang-orang yang berilmu). Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”. (18) (Fāthir [35]: 28).

Katakanlah: Apakah sama, orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?!” (az-Zumar [39]: 9).

Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan” (al-Mujādilah [58]: 11).

 

Keutamaan Ilmu dalam Perspektif Hadis.

Diriwayatkan dari Abū Dardā’ bahwa dia pernah mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda:

مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ طَرِيْقًا إِلَى الْجَنَّةِ وَ إِنَّ الْمَلاَئِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا لِطَالِبِ الْعِلْمِ رِضًا بِمَا يَصْنَعُ وَ إِنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَ مَنْ فِي الْأَرْضِ حَتَّى الْحِيْتَانِ فِي الْمَاءِ وَ فَضْلُ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ، إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ، إِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوْا دِيْنَارًا وَ لاَ دِرْهَمًا إِنَّمَا وَرِّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَ بِهِ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

Barang siapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga. Sesungguhnya para malaikat meletakkan sayap-sayap mereka untuk penuntut ilmu, karena senang dengan yang dia tuntut. Dan sesungguhnya para penduduk langit dan bumi, bahkan ikan yang ada di air, memohonkan ampun untuk penuntut ilmu. Kelebihan seorang alim atas seorang ‘abid (ahli ibadah) adalah seperti kelebihan bulan atas bintang-bintang lainnya. Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi. Dan sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, tapi mereka mewariskan ilmu. Barang siapa mengambilnya, maka dia telah mengambil bagian yang banyak.” (H.R. Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Diriwayatkan dari Abū Dzarr bahwa Rasulullah s.a.w. bersabda:

يَا أَبَا ذَرٍّ، لِأَنْ تَغْدُوَ فَتَعَلَّمَ آيَةً مِنْ كِتَابِ اللهِ خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ تُصَلِّيَ مِائَةَ رَكَعَةٍ وَ لِأَنْ تَغْدُوَ فَتَعَلَّمَ بَابًا مِنَ الْعِلْمِ عُمِلَ بِهِ أَوْ لَمْ يُعْمَلْ خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ تُصَلِّيَ أَلْفَ رَكْعَةٍ

Wahai Abu Dzarr, engkau pergi untuk mempelajari satu ayat dari al-Qur’an lebih baik bagimu daripada engkau shalat seratus rakaat. Dan engkau pergi untuk belajar satu ilmu, baik engkau amalkan atau tidak, lebih baik bagimu daripada engkau shalat seribu rakaat.” (H.R. Ibnu Majah).

Diriwayatkan dari ‘Utsmān ibn ‘Affān dari Nabi s.a.w., beliau bersabda:

يَشْفَعُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ثَلاَثَةٌ: الْأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الْعُلَمَاءُ ثُمَّ الشَّهَدَاءُ

Pada Hari Kiamat ada tiga kelompok manusia yang akan memberikan syafa‘at (pertolongan), yakni: para nabi, para ulama (orang-orang yang berilmu), dan para syahid (orang-orang yang mati syahid).” (H.R. Ibnu Majah).

Diriwayatkan dari Ibnu Mas‘ūd dari Nabi s.a.w. beliau bersabda:

إِذَا أَرَادَ اللهُ بِعَبْدٍ خَيْرًا فَقَّهَهُ فِي الدِّيْنِ وَ أَلْهَمَهُ رُشْدَهُ.

Apabila Allah menghendaki kebaikan pada seorang hamba, maka Dia akan meberikan pemahaman mendalam tentang agama dan mengilhamkan kebaikan kepadanya.” (H.R. Bazzar dan Thabrani).

Diriwayatkan dari Abū Bakar dari Nabi s.a.w., beliau bersabda:

اُغْدُ عَالِمًا أَوْ مَتَعَلِّمًا أَوْ مُسْتَمِعًا أَوْ مُحِبًّا وَ لاَ تَكُنِ الْخَامِسَةَ فَتَهْلِكَ.

Jadilah engkau orang yang berilmu, atau orang yang menuntut ilmu, atau orang yang mendengarkan ilmu, atau orang yang mencintai ilmu. Janganlah engkau menjadi orang yang kelima, sehingga engkau akan binasa.” (‘Atha’ menambahkan: Ibnu Mas‘ud mengatakan kepada-Ku: “Engkau menambahkan yang kelima, yang itu bukan termasuk kami. Yang kelima itu adalah yang membenci ilmu dan orang yang berilmu.” (H.R. Thabrani).

 

Hukum Mempelajari Ilmu Pengetahuan.

Dari segi hukum syariatnya, ilmu dapat dibagi menjadi tiga kategori, yakni ilmu yang diperintahkan untuk dipelajari, ilmu yang dilarang untuk dipelajari dan ilmu yang disunnahkan untuk dipelajari.

 

a. Ilmu-ilmu yang diperintahkan untuk dipelajari.

Ilmu-ilmu yang diperintahkan untuk dipelajari dibagi ke dalam dua kategori, yakni yang fardhu ‘ain dan yang fardhu kifāyah.

Ilmu-ilmu yang masuk dalam kategori fardhu ‘ain adalah semua ilmu yang setiap mukallaf harus dipelajari sendiri.

Sebelum menguraikan kategori ilmu-ilmu yang tergolong fardhu ‘ain ini, terlebih dahulu kita harus memahami kaidah-kaidah dasar yang berkaitan dengannya. Di antaranya adalah kaidah: “Sesuatu yang menjadi bagian terpenting bagi sempurnanya sebuah kewajiban, maka ia menjadi wajib.”

Kaidah yang lain lagi ialah: “Ilmu itu mengikuti isinya.” Ilmu yang mengantarkan sesuatu kepada yang wajib, hukumnya menjadi wajib. Dan ilmu yang mengantarkan kepada yang sunnah menjadi sunnah.

Berpijak pada kaidah-kaidah ini, berikut penulis uraikan ilmu-ilmu yang wajib dipelajari oleh setiap mukallaf:

Mempelajari akidah Ahli Sunnah beserta dalil-dalilnya secara global dalam setiap masalah keimanan, agar dia dapat keluar dari jerat taklid dan menjaga imannya dari pengaruh orang-orang kafir dan orang-orang sesat yang senantiasa menghembuskan keraguan terhadap imannya.

Mempelajari ilmu-ilmu yang menjadikan seorang mukallaf dapat menunaikan ibadah-ibadah yang diwajibkan kepadanya, seperti shalat, zakat, haji, puasa dan lainnya.

Orang yang melakukan berbagai muamalah, seperti jual-beli, sewa-menyewa, pernikahan, perceraian dan lainnya, wajib mempelajari ilmu-ilmu yang berkaitan dengannya, agar dapat menghindari yang haram dan konsisten terhadap aturan-aturan syariat.

Mempelajari kondisi-kondisi hati, seperti tawakkal, takut dan ridha. Sebab, seorang muslim akan berhadapan dengan kondisi-kondisi hati itu sepanjang umurnya.

Mempelajari semua akhlak yang baik dan akhlak yang tercela, agar dia dapat melaksanakan akhlak yang baik, seperti tawakkal kepada Allah, ridha kepada-Nya, pasrah kepada-Nya, rendah hati, penyantun dan lainnya, serta menghindari akhlak tercela, seperti sombong, dendam, kikir, dengki, riya’ dan lainnya. (762) Dengan demikian, dia dapat berjuang melawan hawa nafsunya dan meninggalkannya. Hukum berjuang melawan hawa nafsu adalah wajib bagi setiap mukallaf. Dan itu tidak mungkin dapat tercapai kecuali dengan adanya pengetahuan tentang akhlak-akhlak yang terpuji dan yang tercela, serta pengetahuan tentang teknik-teknik berjuang melawan hawa nafsunya, sebagaimana diaplikasikan oleh para pemuka sufi.

Oleh karena itu, Abū Ḥasan asy-Syādzilī berkata: “Barang siapa tidak menyelam dalam ilmu kami ini (tasawuf), maka dia akan mati dalam keadaan melakukan dosa besar, sedang dia tidak menyadarinya.”

Kita tahu bahwa dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji ada yang bersifat lahiriah, seperti zina dan meminum minuman keras, dan ada yang bersifat batin, seperti sombong dan kemunafikan. Oleh karena itu, Allah melarang kita dari keduanya, sebagaimana terekam dalam: “Dan janganlah kalian mendekati perbuatan-perbuatan keji, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.” (al-An‘ām: 151).

Orang yang melakukan perbuatan-perbuatan keji yang tampak akan bertobat, karena dia mengetahui bahayanya. Sedangkan orang yang melakukan perbuatan-perbuatan keji yang tidak tampak, kadang hidup dalam waktu yang lama tanpa berpikir untuk bertobat, karena dia tidak mengetahui hukumnya atau tidak merasakannya.

Sedangkan ilmu-ilmu yang tergolong dalam fardhu kifāyah adalah semua ilmu yang apabila telah dipelajari oleh sebagian orang, maka kewajiban bagi yang lainnya gugur. Dan apabila tidak seorang pun mempelajarinya, semua berdosa.

Ilmu-ilmu yang tergolong fardhu kifāyah adalah ilmu-ilmu yang kebaikan umat bergantung padanya, seperti mendalami ilmu fikih di atas kadar kebutuhan. (773) Demikian juga ilmu tafsir, hadis, usul fikih, akidah, ilmu hisab, ilmu kedokteran, ilmu ekonomi, ilmu persenjataan dan lainnya.

 

b. Ilmu-ilmu yang dilarang untuk dipelajari.

Mendalami aliran-aliran sesat, pemikiran-pemikiran yang meragukan dan akidah-akidah yang menyimpang, bukan dengan niat untuk membantah dan menghalau bahayanya. Adapun mempelajarinya untuk menjelaskan penyimpangannya dan membantah penyelewengannya dengan tujuan untuk memperbaiki akidah dan membela agama, maka hukumnya adalah fardhu kifāyah.

Mempelajari ilmu nujum untuk mengetahui tempat barang yang dicuri, harta karun, binatang yang hilang dan lainnya, adalah bagian dari perdukunan. Dan syariat telah melarang dan mengharamkannya. Sedangkan mempelajari ilmu nujum untuk tujuan studi ilmiah, serta untuk mengetahui waktu-waktu shalat dan kiblat, maka itu dibolehkan.

Mempelajari ilmu sihir. Tapi mempelajarinya untuk menjaga diri dari sihir hukumnya boleh, sebagaimana ungkapan seorang penyair:

Aku mengetahui kejahatan bukan untuk kejahatan, tapi untuk menghindarinya,

Siapa yang tidak mengetahui kejahatan, maka dia akan terjerumus ke dalamnya.

 

c. Ilmu-ilmu yang sunnah untuk dipelajari.

Di antaranya, mempelajari keutamaan amal-amal jasmani dan amal-amal hati, mempelajari amal-amal yang sunnah dan yang makruh, mempelajari amal-amal fardhu kifāyah, mendalami ilmu-ilmu fikih dan cabang-cabangnya, mendalami akidah dan dalil-dalilnya secara detail dan lain sebagainya.

Dari uraian di atas, jelaslah hukum menuntut ilmu dan arti pentingnya di dalam Islam. Sikap para pemuka sufi terhadap ilmu merupakan perkara yang jelas dan tidak memerlukan penjelasan lagi. Mereka adalah ahli ilmu dan ahli makrifat. Mereka adalah orang-orang yang memiliki hati yang bersinar dan jiwa yang berseri-seri, dan orang-orang yang ingin mengaktualisasikan iman, Islam dan ihsan dalam diri mereka. setelah mereka memperoleh ilmu-ilmu yang fardhu ‘ain, mereka mengaplikasikannya dalam amal. Lalu mereka memperbaiki hati, mensucikan jiwa dan memurnikan niat untuk menghadap kepada Allah. Oleh karena itu, Allah memuliakan mereka dengan ridha-Nya, makrifat-Nya dan ampunan-Nya.

Catatan:


  1. 75). Pada cetakan pertama, penulis tidak mengkaji tentang ilmu dalam buku ini. Sebab, buku ini secara spesifik menjelaskan tentang rambu-rambu tasawuf dan hakikatnya, serta membantah tuduhan-tunduhan yang dialamatkan kepadanya. Oleh sebab itu, penulis tidak mengkaji tema akidah, ibadah dan mu‘amalah. Di sisi lain, ketika seorang muslim melakukan pensucian jiwa, penjernihan hati dan perbaikan batin dan lahir, maka sebelumnya dia harus sudah melakukan perbaikan iman, menunaikan semua ibadah wajib dan lurus dalam mu‘amalahnya. Semua itu tidak mungkin terwujud tanpa dibarengi dengan ilmu yang benar. Hal ini merupakan perkara aksiomatik. Sebab, keutamaan ilmu merupakan sesuatu yang sangat jelas, dan pensyaratan ilmu dalam melakukan perbaikan amal merupakan sesuatu yang disepakati. Penulis membahas tema ilmu dalam cetakan ini tidak lain adalah untuk mengokohkan penjelasan tentang kedudukan dan kemuliaannya, serta membantah orang-orang yang berasumsi bahwa kalangan tasawuf mengecilkan peran ilmu dan tidak menaruh perhatian terhadapnya. 
  2. 76). Lihat kembali pembahasan tentang arti penting tasawuf pada bab I. 
  3. 77). Oleh sebab itu, di setiap negara harus ada seorang mufti yang menjadi referensi dalam perkara agama, dan melaksanakan fardhu kifāyah ini agar gugur kewajiban bagi yang lain. 

Bagikan:

8

ADAB KETIKA MENCARI ILMU

 

Syaikh Abū Nashr as-Sarrāj – rahimahullāh – berkata: Saya mendengar Ahmad bin ‘Alī al-Wajihī berkata: Saya mendengar Abū Muhammad al-Jarīrī – rahimahullāh – berkata: “Duduk untuk ber-mudzākarah (belajar ilmu) akan menutup pintu manfaat, sedangkan duduk untuk saling memberi nasihat akan membuka pintu manfaat.”

Abū Yazīd – rahimahullāh – berkata: “Barang siapa tidak bisa mengambil manfaat dari diamnya orang yang berbicara maka ia tidak akan bisa mengambil manfaat dari pembicaraannya.”

Al-Junaid – rahimahullāh – berkata: “Mereka (kaum Sufi) sangat tidak suka bila lisan melampaui keyakinan hati.”

Disebutkan bahwa Abū Muhammad al-Jarīrī berkata: “Keadilan dan adab ialah hendaknya orang yang mulia tidak membicarakan ilmu ini (tasawwuf) sehingga ia ditanya.”

Abū Ja‘far al-Farajī, sahabat karib Abū Turāb an-Nakhsyābī – rahimahullāh – berkata: “Aku tinggal diam selama dua puluh tahun tidak bertanya suatu persoalan kecuali bila aku mantapkan terlebih dahulu sebelum aku menyatakan dengan lisanku.”

Abū Hafsh – rahimahullāh – berkata: “Tidak dibenarkan berbicara kecuali bagi seseorang yang apabila ia diam malah mendapatkan siksa.”

Ia juga berkata: “Ada seseorang datang pada Abū ‘Abdillāh Ahmad bin Yahyā al-Jallā’ – rahimahullāh – yang menanyakan tentang masalah tawakkal. Saat itu ada sekelompok orang (jamā‘ah), maka ia tidak menjawabnya dan masuk ke dalam kamarnya, kemudian ia keluar lagi dengan membawa seikat kain yang berisi empat danāniq (mata uang) yang diberikan kepada mereka. Kemudian ia berkata kepada mereka: “Dengan uang ini silakan kalian membeli sesuatu.” Kemudian ia baru mau menjawab apa yang ditanyakan orang tersebut. Kemudian ia ditanya: “Mengapa ia melakukan hal itu?” Maka ia menjawab: “Aku malu pada Allah untuk menjawab masalah tawakkal sedangkan aku masih memiliki empat danāniq.”

Dikisahkan dari Abū ‘Abdillāh al-Hushrī yang berkata: Saya pernah berkata kepada Ibnu Yazdaniar ketika ia sedang mencari ilmu: “Aku tidak melihat apa yang ada pada semua makhlūq kecuali kabar tentang gaib dan sangat mungkin anda adalah yang gaib.” Kemudian ia berkata: “Coba ulangi apa yang anda katakan: “Lalu saya menjawabnya: “Saya tidak akan mengulanginya.”

Ibrāhīm al-Khawwāsh – rahimahullāh – berkata: “Ilmu ini tidak layak kecuali bagi mereka yang mampu mengungkapkan wajd (suka cita)-nya dan berbicara tentang perbuatannya.”

Abū Ja‘far ash-Shaidalānī – rahimahullāh – berkata: Ada seseorang bertanya suatu masalah kepada Abū Sa‘īd al-Kharrāz – rahimahullāh. Ia hanya memberi isyārat tentang masalah yang ditanyakan. Abū Sa‘īd kemudian berkata: “Kami telah mencapai kedudukan anda dan sepakat dengan apa yang anda inginkan tanpa harus dengan isyārat dari anda. Sebab orang yang banyak memberi isyārat pada Allah adalah orang yang paling jauh dari-Nya.”

Al-Junaid – rahimahullāh – berkata: “Andaikan aku tahu, bahwa di kolong langit ini ada ilmu yang lebih mulia daripada ilmu kami ini (tasawwuf), niscaya aku akan berusaha mencarinya dan menemui orang yang memilikinya sehingga aku mendengar dari mereka tentang ilmu tersebut. Dan andaikan aku tahu, bahwa ada waktu yang lebih mulia daripada waktu kami ini ketika berkumpul dengan para sahabat dan guru kami, dan ketika kami menanyakan berbagai masalah dan mencari ilmu ini, tentu aku akan bangkit mencarinya.”

Al-Junaid – rahimahullāh – berkata: “Bagiku tidak ada kelompok manusia dan kaum yang berkumpul untuk mencari ilmu yang lebih mulia dari kelompok ini. Tidak pula ada ilmu yang lebih mulia dari ilmu mereka. Andaikan tidak demikian, maka aku tak mungkin duduk dan berteman dengan mereka. Namun karena mereka dalam pandanganku adalah seperti apa yang aku ucapkan maka aku lakukan semua itu.”

Abū ‘Alī ar-Rudzabarī – rahimahullāh – berkata: “Ilmu kami ini adalah ilmu isyārat. Apabila menjadi suatu ungkapan maka akan ringan bobotnya.”

Abū Sa‘īd al-Kharrāz – rahimahullāh – berkata: “Aku diberi tahu tentang Abū Hātim al-‘Aththār dan keutamaannya di mana ia tinggal di Bashrah. Kemudian dari Mesir, aku berangkat menuju Bashrah. Sampai di sana kemudian aku masuk masjid Jāmi‘ Bashrah. Ternyata ia duduk di masjid ini, yang di sekelilingnya banyak orang dari sahabat-sahabatnya. Ia berbicara kepada mereka tentang ilmu. Pertama kali yang aku dengar dari pembicaraannya setelah ia melihatku ialah: “Aku duduk hanya untuk seseorang. Lalu di mana seseorang tersebut? Dan siapa untukku dengan seseorang tersebut? Kemudian ia memberi isyārat padaku. “Orang tersebut adalah anda.” Kemudian ia berkata: “Menampakkan apa yang menjadikan mereka ahli, membantu mereka apa yang diwajibkan kepada mereka, menjadikan gaib apa yang dihadirkan pada mereka. Maka hanya untuk-Nya mereka berbuat, dari-Nya dan kepada-Nya mereka kembali.”

Dikisahkan dari al-Junaid – rahimahullāh – yang mengatakan: “Andaikan ilmu kami ini dibuang ke tempat sampah, maka setiap orang hanya akan mengambil sesuai dengan ukurannya.”

Dikisahkan dari asy-Syiblī, pada suatu hari ia pernah berkata kepada anggota majelisnya: “Kalian adalah liontin dari kalung, di mana mimbar-mimbar dari cahaya dipasang untuk kalian dan para malaikat merasa bahagia dengan kalian.” Kemudian ada seseorang bertanya kepadanya: “Apa yang menjadikan para malaikat merasa bahagia?” Ia menjawab: “Karena mereka berbicara tentang ilmu ini.”

Saya mendengar Ja‘far al-Khuldī berkata: “Saya mendengar al-Junaid berkata: Sari as-Saqathī – rahimahullāh – pernah berkata: “Sebagaimana yang saya dengar, bahwa ada sekelompok orang di masjid Jāmi‘ yang duduk di sekeliling anda.” Saya jawab: “Ya, benar! Mereka adalah saudara-saudara kami, di mana kami saling ber-mudzākarah (belajar) ilmu. Masing-masing di antara kami saling mengambil manfaat antara yang satu dengan yang lain.” Kemudian ia berkata: “Alangkah jauhnya wahai Abul-Qāsim (nama panggilan al-Junaid), saya sekarang telah menjadi tempat bagi para penganggur.”

Dikisahkan dari al-Junaid – rahimahullāh – yang mengatakan: “Jika Sari as-Saqathī – rahimahullāh – ingin mengajariku sesuatu maka ia menanyakan suatu masalah. Suatu hari ia pernah bertanya: “Syukur ialah anda tidak bermaksiat kepada Allah atas segala nikmat yang diberikan kepada anda.” Akhirnya ia menganggap baik atas jawabanku. Ia memintaku untuk mengulang jawabanku tentang syukur sembari berkata: “Bagaimana jawabanmu tentang syukur? Coba ulangi jawabanmu!” Aku kemudian mengulanginya.”

Syaikh Abū Nashr as-Sarrāj berkata: Aku dapatkan kisah ini lewat tulisan Abū ‘Alī Ar-Rudzabarī dari al-Junaid.

Diceritakan dari Sahl bin ‘Abdullāh – rahimahullāh – bahwa ia pernah ditanya tentang masalah-masalah ilmu (tasawwuf). Namun ia tidak mau menjawabnya. Setelah beberapa waktu, ia berbicara tentang ilmu tersebut dan tampak sangat menguasai dengan baik. Kemudian ia ditanya tentang alasan, mengapa waktu itu ia mau berbicara tentang ilmu tersebut. Lalu ia menjawab: “Pada saat itu Dzun-Nūn masih hidup, sehingga aku sangat tidak suka bicara tentang ilmu ini (tasawwuf) ketika ia masih hidup. Karena aku sangat menghormatinya.”

Abū Sulaimān ad-Dāranī – rahimahullāh – berkata: “Andaikan di Mekkah ini aku tahu ada seseorang yang bisa memberiku ilmu dan ma‘rifat sekalipun hanya satu kata, niscaya aku akan mendatanginya dengan berjalan kaki, sekalipun jarak yang harus ditempuh seribu farsakh, sehingga aku bisa mendengar langsung darinya.”

Abū Bakar az-Zaqqāq berkata: “Aku mendengar satu kalimat dari al-Junaid tentang fanā’ sejak empat puluh tahun yang lalu, di mana kalimat tersebut selalu membangkitkanku, sedangkan aku setelah itu dalam ketidaktahuan.”

Saya mendengar ad-Duqqī berkata: Saya mendengar kisah ini dari az-Zaqqāq.

Saya mendengar ad-Duqqī berkata: Dikatakan kepada Abū ‘Abdillāh al-Jallā’ – rahimahullāh: “Mengapa ayah anda disebut dengan al-Jallā’?” Ia menjawab: “Bukan karena kata al-Jallā’ ini mengandung arti pembersih karat besi, akan tetapi jika ia berbicara kepada hati nurani akan memperlihatkan karat bekas dosa-dosa yang dilakukan.”

Al-Hārits al-Muhāsibī – rahimahullāh – berkata: “Sesuatu yang paling mulia di dunia ini adalah orang alim yang mengamalkan ilmunya dan orang ‘arif yang berbicara tentang hakikatnya.”

Saya mendengar Ibnu ‘Ulwān berkata: “Jika ada seorang bertanya kepada al-Junaid tentang suatu masalah, sedangkan ia tidak termasuk dalam kondisi spiritual dari masalah yang ditanyakannya, maka ia akan berkata:

لَا حَوْلَ وَ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ

“Tidak ada daya upaya dan kekuatan apa pun kecuali dengan Allah.”

Dan jika orang itu mengulangi lagi pertanyaannya maka ia akan menjawabnya:

حَسْبُنَا اللهُ وَ نِعْمَ الْوَكِيْلُ.

“Cukuplah Allah penolong kami dan Dialah sebaik-baik Dzāt Yang menjadi wakil.” (Āli ‘Imrān: 173).

Dikisahkan bahwa Abū ‘Amr az-Zujājī – rahimahullāh – berkata: “Jika anda sedang duduk mendengar seorang syekh berbicara tentang suatu ilmu, sementara anda mau kencing dan hampir tidak bisa ditahan, maka andaikan anda kencing di tempat anda duduk akan lebih baik daripada anda bangkit dari tempat duduk anda meninggalkan majelis. Sebab kencing masih bisa dicuci dengan air sedangkan apa yang terlewatkan dari ilmu yang ia ajarkan tak mungkin anda memperoleh kembali untuk selamanya.”

Al-Junaid – rahimahullah – berkata: Saya pernah berkata kepada Ibnu al-Kuraini – rahimahullah: “Jika ada seseorang yang berbicara tentang suatu ilmu yang ia sendiri tidak mampu mengamalkannya. Maka yang lebih anda sukai, kalau kondisinya demikian diam ataukah berbicara?” Kemudian ia menundukkan kepala, dan kemudian mengangkatnya kembali sembari berkara: “Jika anda ahlinya maka bicaralah!”

Asy-Syiblī – rahimahullāh –  berkata: “Bagaimana pendapat anda tentang suatu ilmu, yaitu ilmu para ‘ulama’ yang menimbulkan dugaan?”

Sementara itu Sari as-Saqathī – rahimahullāh – berkata: “Barang siapa menghiasi dirinya dengan ilmu, maka kebaikannya adalah kejelekan.”

Syaikh Abū Nashr as-Sarrāj – rahimahullāh – berkata: Dari masing-masing kisah ini memiliki keterangan dan kesimpulan yang cukup jelas bagi mereka yang sanggup memahaminya.

Bagikan:

004

اَلْعِلْمُ بِلاَ عَمَلٍ وَبَالٌ

Ilmu tanpa amal adalah sebuah kutukan.

005

اَلْعِلْمُ كَنْزٌ عَظِيْمٌ لاَ يَفْنى

Ilmu adalah sebuah khazanah agung yang tidak pernah sirna.

006

اَلْعِلْمُ أَحَدُ الْحَيَاتَيْنِ

Ilmu adalah salah satu dari dua kehidupan.

Bagikan:

Bab Keenam
Penyakit yang Menempel pada Ilmu.

Mengenai penyakit yang menempel pada ilmu, berikut tanda-tanda ulama akhirat dan ulama dunia yang buruk.

Pada pembahasan terdahulu, saya telah menyebutkan keutamaan ilmu dan orang berilmu (ulama). Dan, sekarang saya akan sampaikan pembahasan mengenai penyakit yang menempel pada ilmu, sekaligus peringatan yang ditujukan kepada ulama yang berlaku tidak jujur terhadap ilmu yang telah dimilikinya, dan sekaligus tidak jujur kepada diri sendiri. Oleh karena itu, kita harus mengetahui perbedaan antara ulama akhirat dan ulama dunia yang buruk. Yang saya maksud dengan ulama dunia yang buruk adalah ulama yang tujuan dari pencapaian maupun pengamalan ilmunya hanya diorientasikan untuk tujuan hidup di alam dunia ini, dengan kenyamanan serta kesenangan hidup lainnya. Juga untuk mendapat penghargaan atau penghormatan manusia lain. Rasulullah s.a.w. pernah mengingatkan di dalam sabda beliau:

إِنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَالِمٌ لَا يَنْفَعُهُ اللهُ بِعِلْمِهِ.

Sungguh di antara manusia yang akan menerima siksa sangat pedih pada Hari Berbangkit nanti adalah, orang berilmu yang tidak Allah berkahi ilmu yang dimilikinya.” (2021).

Beliau s.a.w. juga pernah bersabda:

لَا يَكُوْنُ الْمَرْءُ عَالِمًا حَتَّى يَكُوْنَ بِعِلْمِهِ عَامِلًا.

Seseorang tidak disebut berilmu, sampai ia berkenan mengamalkan ilmu yang telah dimilikinya.” (2032).

Pada riwayat yang lain, Rasulullah s.a.w. juga pernah bersabda:

الْعَالِمُ نَوْعَانٌ: عِلْمٌ عَلَى اللَّسَانِ فَذلِكَ حُجَّةُ اللهِ تَعَالَى عَلَى خَلْقِهِ، وَ عِلْمٌ فِي الْقَلْبِ فَذلِكَ الْعِلْمُ النَّافِعُ.

Ilmu itu ada dua jenis, yaitu: ilmu yang terdapat di lisan, yang itu menjadi bukti bagi Allah atas makhluk (ciptaan)-Nya. Dan ilmu yang bersemayam di dalam dada (qalbu), yaitu ilmu yang sangat bermanfaat bagi pemiliknya.” (2043).

Beliau s.a.w. juga pernah bersabda:

يَكُوْنُ فِيْ آخِرِ الزَّمَانِ عِبَادٌ جُهَّالٌ وَ عُلَمَاءٌ فَاسِقٌ.

Pada akhir zaman nanti, di dunia ini akan ada ahli ibadah (‘abid) yang jahil, dan orang berilmu (‘alim) yang fasiq.” (2054).

Nabi s.a.w. juga pernah bersabda: “Janganlah kalian mempelajari ilmu untuk menyombongkan diri di depan sesama orang berilmu, atau untuk berbantah-bantahan dengan orang-orang yang jahil, dan atau mengharapkan kemasyhuran di hadapan manusia. Siapa saja yang berbuat demikian, niscaya ia akan tinggal di dalam neraka.” (2065).

Beliau s.a.w. juga pernah bersabda: “Siapa saja yang menyembunyikan ilmu yang dimilikinya, maka Allah akan memberi tali kekang pada lehernya yang terbuat dari api neraka.” (2076).

Pada kesempatan berbeda, Rasulullah s.a.w. juga pernah bersabda: “Yang lebih aku takutkan akan menimpa kalian adalah, orang yang tampak seperti (menyerupai) Dajjal daripada diri Dajjal itu sendiri.” Mendengar sabda beliau, seorang sahabat mengajukan pertanyaan: “Siapakah yang menyerupai Dajjal itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Para penguasa (Imam) yang tersesat, dan juga menyesatkan manusia.” (2087).

Selain itu, Rasulullah s.a.w. juga pernah bersabda:

مَنِ ازْدَادَ عِلْمًا وَ لَمْ يَزْدَدْ هُدَى لَمْ يَزْدَدْ مِنَ اللهِ إِلَّا بُعْدًا.

Siapa saja yang ilmunya bertambah, akan tetapi petunjuk pada diri maupun jiwanya tidak ikut bertambah, berarti ia semakin jauh dari cahaya petunjuk Allah.” (2098).

Nabi ‘Isa a.s. pernah mengatakan: “Bagaimana mungkin engkau akan memberi petunjuk ke jalan yang benar kepada para penempuh jalan menuju cahaya Allah, padahal engkau sendiri merasa kebingungan disebabkan kegelapan yang mendera jiwamu?”

Beberapa riwayat yang saya sampaikan di atas, dan masih terdapat sejumlah lainnya memperlihatkan tentang betapa bahaya penyakit yang menempel pada ilmu. Hingga orang yang berilmu selalu berhadapan dengan dua kemungkinan, yaitu: kebinasaan, dan atau kebahagiaan.

Adapun atsar (ucapan sahabat) yang ada di seputar bahaya penyakit yang menempel pada ilmu, dapat saya sebutkan berikut ini. Sayyidina ‘Utsman bin ‘Affan r.a. pernah berkata: “Yang paling aku takutkan pada umat ini adalah orang berilmu yang bersikap munafik.” Mendengar pernyataan ‘Utsman, sahabat lainnya segera mengajukan pertanyaan: “Bagaimana mungkin orang yang berilmu terjebak ke dalam sikap munafik?” ‘Utsman menjawa: “Apabila ilmu yang dimilikinya hanya menjadi penghias lisannya semata, sedangkan jiwa dan amalannya tanpa didasari ilmu yang benar.”

Al-Hasan al-Bashri raḥimahullāh juga pernah berkata: “Jangan sampai orang-orang yang berilmu di antara kalian, seperti para ahli hukum dan para ulama, dalam beramal (mengaplikasikan ilmu yang dimiliki) mereka lebih mirip seperti orang-orang jahil yang tidak berilmu.”

Seorang laki-laki datang kepada Abu Hurairah r.a., kemudian mengajukan pernyataan: “Sebenarnya aku sangat ingin mempelajari ilmu agama, namun aku takut tidak sanggup mengamalkannya dengan baik setelah aku mendapatkannya.” Abu Hurairah r.a. pun berkata kepadanya: “Dengan meninggalkannya saja atau tidak berkeinginan menuntut ilmu, sudah cukup bukti bahwa anda telah menyia-nyiakannya (ilmu agama).”

Seseorang mengajukan pertanyaan kepada Ibrahim bin ‘Uyainah: “Manusia seperti apakah yang sangat menderita dalam penyesalan atas dirinya?” Ibrahim bin ‘Uyainah menjawab: “Penyesalan terberat atas mereka di alam dunia ini seperti, jika seseorang mendapati orang lain yang tidak pandai berterima kasih, padahal ia telah berbuat sangat baik (maksimal) kepada orang tersebut dengan tulus. Sedangkan penyesalan terberat atas mereka di alam akhirat kelak seperti, apa yang menimpa diri seorang ulama, namun pada saat di dunia ia enggan mengamalkan ilmu yang dimilikinya.”

Khalil bin Ahmad juga pernah berkata: “Ada empat jenis manusia. Pertama, orang yang memiliki ilmu, dan ia mengetahui bahwa dirinya memiliki ilmu, lalu mengamalkannya. Terhadap jenis manusia seperti ini, maka ikuti atau contohlah ia. Kedua, orang yang mempunyai ilmu, namun ia tidak mengetahui bahwa dirinya memiliki ilmu, hingga ia tidak beramal dengan ilmu yang dimilikinya itu. Terhadap jenis manusia seperti ini, berhati-hatilah kalian dari pengaruh buruk yang bisa saja ditimbulkannya. Ketiga, orang yang tidak memiliki ilmu, dan ia mengetahui bahwa dirinya tidak memiliki ilmu. Hingga ia ingin memiliki ilmu, namun tidak mampu mengetahui harus memulai segala sesuatunya dari mana. Terhadap jenis manusia seperti ini, selayaknya diberikan bimbing yang dibutuhkannya. Dan yang keempat, orang yang tidak memiliki ilmu, namun ia tidak mengetahui bahwa dirinya tidak memiliki ilmu. Hingga muncul kesombongan yang selalu menghiasi setiap langkah dan amalnya. Terhadap jenis manusia seperti ini, sebaiknya menjauhkan diri dari sisinya, atau tinggalkanlah ia.”

Sufyan ats-Tsauri raḥimahullāh juga pernah berkata: “Pasangan sejati bagi ilmu adalah mengamalkannya. Dengan mengamalkan ilmu, maka ia menjadi semakin kekal berada pada qalbu manusia. Sebaliknya, jika tidak segera diamalkan dan membiarkannya berlama-lama sia-sia, maka ilmu akan lenyap bersamaan dengan berjalannya waktu (masa).”

Ibn-ul-Mubarak pernah berkata: “Pada saat seseorang merasa belum cukup berilmu, hingga ia terus mencari dan menuntutnya (ilmu), maka selama itu pula akan bertambah ilmu yang telah dimilikinya. Sebab, pada saat seseorang merasa dirinya telah memiliki cukup ilmu, maka bersiap-siaplah menjadi manusia yang tidak mengetahui apa pun, atau tertinggal oleh perkembangan masa (waktu).”

Al-Fudhail bin ‘Iyadh raḥimahullāh pernah mengatakan: “Aku menaruh perhatian yang khusus kepada tiga jenis manusia, yaitu: orang mulia yang dihinakan oleh kaumnya yang jahil, orang kaya yang mendadak jatuh miskin, dan orang berilmu yang direndahkan (dianggap bodoh) oleh masyarakat di mana ia tinggal (menetap).”

Al-Hasan al-Bashri raḥimahullāh juga pernah mengatakan: “Kebinasaan jiwa manusia merupakan siksaan terberat bagi orang yang berilmu. Sebab, kebinasaan jiwa berarti memburu (mengejar berlebihan) dunia dengan mengorbankan amalan akhirat.”

Seorang penya‘ir mengatakan:

Aku merasa heran melihat orang yang sudi membeli kesesatan dengan petunjuk.

Yang lebih mengherankan lagi, aku menyaksikan orang yang mau membeli urusan dunia dengan menggadaikan nilai akhiratnya.

Yang lebih mengherankan lagi, aku menyaksikan orang menukar keduanya petunjuk dan agamanya demi kepentingan dunia yang fana’.

Rasulullah s.a.w. pernah bersabda mengenai orang berilmu yang zhalim:

إِنَّ الْعَالِمَ لِيُعَذَّبُ عَذَابًا يَطِيْفُ بِهِ أَهْلُ النَّارِ اسْتِعْظَامًا لِشِدَّةِ عَذَابِهِ.

Sebagian orang yang memiliki ilmu akan mengalami penderitaan yang demikian dahsyat akibat adzab Allah, sehingga para penduduk neraka pun mencari perlindungan karena menyaksikan kepedihan adzab atas mereka.” (2109).

Usamah bin Zain r.a. mengatakan, aku mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda:

يُؤْتَى بِالْعَالِمِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيُلْقَى فِي النَّارِ فَتَنْدَلِقُ أَقْتَابُهُ فَيَدُوْرُ بِهَا كَمَا يَدُوْرُ الْحِمَارُ بِالرَّحَى فَيَطَيْفُ بِهِ أَهْلُ النَّارِ فَيَقُوْلُوْنَ: مَا لَكَ؟ فَيَقُوْلُ: كُنْتُ آمُرُ بِالْخَيْرِ وَ لَا آتِيْهِ وَ أَنْهَى عَنِ الشَّرِّ وَ آتِيْهِ.

Pada Hari Berbangkit kelak, akan diseret orang yang berilmu, lalu dilemparkan ke dalam api neraka. Isi perutnya akan terburai dan ia akan berputar-putar bersama isi perutnya, seperti seekor keledai mengelilingi gilingan gandum. Para penduduk neraka bergerak mengitarinya sambil bertanya: “Mengapa engkau bisa sampai seperti ini?” Jawabnya: “Saat di dunia, aku menyuruh manusia melakukan kebaikan, akan tetapi justru aku sendiri tidak mengerjakannya. Aku juga melarang kejahatan, akan tetapi aku sendiri melakukannya.” (21110).

Dilipatgandakan siksa atas mereka yang berilmu (ulama) atas tindakan maksiat yang telah mereka lakukan. Sebab, kejahilan telah membelenggu ilmu yang mereka miliki. Sebagaimana Allah s.w.t. juga berfirman dalam al-Qur’an:

إِنَّ الْمُنَافِقِيْنَ فِي الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ.

Sesungguhnya orang-orang munafik itu ditempatkan pada tingkatan yang paling bawah (kerak) dari neraka.” (an-Nisā’ [4]: 145)

Semua itu disebabkan mereka (orang-orang munafik) menolak menerima kebenaran setelah mereka memperoleh pengetahuan dan kebenaran tentangnya. Orang-orang Yahudi dinyatakan oleh Allah s.w.t. lebih buruk dibandingkan orang-orang Nashrani yang menyatakan bahwa Allah itu terangkai dalam trinitas (tiga dalam satu, dan satu dalam tiga), disebabkan mereka (orang-orang Yahudi) mengingkari Allah setelah mereka memiliki ilmu tentang-Nya. Sebagaimana Allah s.w.t. telah sebutkan di dalam firman-Nya berikut ini:

يَعْرِفُوْنَهُ كَمَا يَعْرِفُوْنَ أَبْنَاءَهُمْ.

[Mereka] mengenal Muhammad (utusan Allah) seperti mereka mengenal anak-anak mereka sendiri.” (al-Baqarah [2]: 146) (21211).

Juga pada firman Allah s.w.t.:

فَلَمَّا جَاءَهُمْ مَا عَرَفُوْا بِهِ فَلَعْنَةُ اللهِ عَلَى الْكَافِرِيْنَ.

Mana setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Oleh itu, laknat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar.” (al-Baqarah [2]: 89).

Allah s.w.t. juga telah berfirman mengenai sebuah kisah tentang Bal‘am Ibnu Ba‘ura’ yang termuat di dalam al-Qur’an:

وَ اتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِيْ آتَيْنَاهُ آيَاتِنَا فَانْسَلَخَ مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطَانُ فَكَانَ مِنَ الْغَاوِيْنَ. وَ لَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَ لكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الأَرْضِ وَ اتَّبَعَ هَوَاهُ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْ ذّلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِيْنَ كَذَّبُوْا بِآيَاتِنَا فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُوْنَ

Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi al-Kitab), kemudian ia melepaskan diri dari ayat-ayat itu, lalu ia diikuti oleh setan, sampai ia tergoda. Maka jadilah ia termasuk orang-orang yang tersesat. Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan derajatnya dengan ayat-ayat itu. Akan tetapi, ia cenderung kepada dunia dan memperturutkan hawa nafsunya yang rendah. Maka perumpamaannya seperti seekor anjing, jika engkau menghalaunya, segera diulurkannya lidahnya. Dan jika engkau membiarkannya, ia pun mengulurkan lidahnya. Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah kepada mereka kisah-kisah itu agar mereka berpikir.” (al-A‘rāf [7]: 175-176).

Kedua ayat ini difirmankan oleh Allah s.w.t. berkenaan dengan ulama (ahli ilmu) yang buruk. Bal‘am juga mengetahui dan mengerti Kitabullāh (al-Qur’an), akan tetapi tetap saja menyibukkan diri dalam urusan duniawi. Disebabkan perilakunya itu, Bal‘am disamakan dengan seekor anjing.

Nabi ‘Isa a.s. pernah mengatakan: “Orang berilmu yang berperilaku buruk laksana sebutir batu yang jatuh ke dasar sungai. Batu itu tidak mampu menyerap air setetes pun, dan tidak pula menghalangi aliran air yang berjalan, apalagi menumbuhkan pohon yang darinya. Orang berilmu yang berperilaku buruk juga seperti saluran air kotor yang mengalir dari sebuah kebun yang dipenuhi bau busuk menyengat, karena membawa tanah bekas kuburan manusia. Permukaannya ditumbuhi tanaman, tetapi lapisan di bawahnya sarat dengan tulang-belulang orang yang sudah meninggal dunia.”

Beberapa riwayat, atsar dan kisah sejarah di atas menunjukkan bahwa orang berilmu atau ulama yang tergoda oleh nafsu serta lebih mendahulukan cinta kepada urusan dunia akan dihinakan oleh Allah s.w.t., dan akan ditimpa siksa yang kekal di akhirat kelak. Adapun orang-orang berilmu atau ulama yang lebih mencintai urusan akhirat, mereka pasti akan mendapatkan keselamatan dan menemukan kedekatan dengan Allah ‘azza wa jalla.

Adapun mengenai tanda-tanda ulama yang lebih cenderung terhadap urusan akhirat, terdapat pada sisi mereka beberapa tanda berikut ini. Tanda pertama, mereka tidak menukar kepentingan dunia dengan ilmu dan pengetahuan agama yang mereka miliki. Mereka memandang urusan dunia ini kecil, sedangkan kepentingan negeri akhirat nanti jauh lebih besar dan kekal. Mereka menganggap bahwa dunia ini dan akhirat nanti berlawanan secara kasat mata, satu dengan lainnya; seperti layaknya dua orang yang saling bermusuhan. Atau, seperti layaknya dua orang istri yang menjadi madu seorang suami. Jika salah seorang atau salah satu istri merasakan gembira dan ridha, maka istri lainnya atau madunya merasakan cemburu dan tidak ridha.

Dunia dan akhirat laksana timbangan. Jika satu sisi timbangan naik, maka sisi lainnya pasti akan berada di bawah (turun). Atau, laksana wilayah Timur dan Barat, yang tidak mungkin dipertemukan pada titik yang sama. Makin ke Timur kita berjalan, maka akan semakin jauh jarak kita dengan wilayah Barat. Dunia dan akhirat itu juga ibarat dua wadah, yang satu penuh dan yang lain masih kosong. Makin banyak air dituangkan dari wadah yang penuh, maka akan semakin banyak air mengisi wadah yang kosong. Sehingga wadah yang pertama menjadi kosong, dan wadah yang kedua penuh terisi. Ada kerusakan tertentu pada akhlak manusia yang tidak juga mau menyadari bahwa kesenangan dunia ini akan segera berlalu (fana’). Sebab, kebenaran masalah ini telah terbukti dan diakui berdasarkan pengalaman serta pemahaman yang teruji atas kebenarannya. Siapa saja yang tidak mengakui nilai penting dan kepastian negeri akhirat, maka ia bisa dianggap sebagai orang yang menentang (kafir), yang keimanannya patut diragukan. Siapa saja yang tidak memandang bahwa urusan dunia saat ini dan kepentingan akhirat nanti bertentangan satu dengan lainnya, maka berarti ia tidak memahami agama yang telah disampaikan oleh para Nabi, serta tidak percaya kepada kebenaran kandungan al-Qur’an sejak awal hingga akhir. Orang-orang yang berilmu (ulama), namun bertentangan antara ilmu dengan keimanan yang dimiliki, maka mereka tidak termasuk dalam kelompok atau golongan ulama akhirat.

Siapa saja yang mengetahui masalah ini, namun tetap tidak lebih mencintai urusan akhirat daripada kepentingan dunia, maka ia termasuk manusia yang telah terpedaya oleh setan. Allah s.w.t. telah berfirman dalam kitab (Zabur) yang telah diturunkan-Nya kepada Nabi Daud a.s.: “Jika seorang yang berilmu (ulama) lebih mencintai nafsu keduniaan daripada cintanya kepada-Ku, maka ketetapan-Ku atasnya adalah, Aku (Allah) akan mencabut darinya kelezatan bermunajat (ibadah) kepada-Ku. Wahai Daud, janganlah engkau amanahkan pesan Allah (firman-Nya) kepada orang berilmu (ulama) yang berperilaku buruk. Dunia telah memperdayainya, dan ia sanggup memalingkan engkau dari kecintaan-Ku kepadamu. Manusia semacam itu laksana penyamun yang siap mempengaruhi keimanan hamba-hamba Allah s.w.t. yang taat. Dan, jika engkau mendapati seorang hamba yang bergegas mencaci Aku (Allah), maka pastikan bahwa ia adalah hamba-Ku yang sejati. Wahai Daud, Aku menulis orang yang berlari menuju Aku sebagai manusia yang mengetahui kebenaran, dan Aku tidak akan pernah menyiksanya.”

Karena itu, al-Hasan al-Bashri raḥimahullāh pernah berkata: “Matinya jiwa adalah hukuman atau azab bagi orang yang berilmu. Sedangkan penyebab dari matinya jiwa adalah menukar amalan akhirat demi menggapai kepentingan dunia.”

Yahya bin Mu‘adz pernah mengatakan: “Ketika urusan dunia ini sudah dicari dan dibeli oleh manusia dengan menggunakan ilmu serta hikmah, maka cahaya ilmu dan hikmah berangsur-angsur akan lenyap dari permukaan bumi.”

Sa‘id Ibn-ul-Musayyab raḥimahullāh berkata: “Apabila kalian menyaksikan seorang ulama sering mendatangi kediaman seorang penguasa negeri, maka hakikatnya ia adalah seorang perampok.”

Sayyidina ‘Umar r.a. pernah mengatakan: “Jika kalian menyaksikan orang berilmu (ulama) dimabukkan dengan urusan dunia ini, maka jangan pernah hiraukan apa pun yang ia sampaikan dan bersikaplah waspada terhadap setiap tindak-tanduknya. Semua itu, demi menjaga keutuhan agama kalian. Sebab, setiap orang yang terlanjur mencintai sesuatu, maka pasti akan tenggelam (larut) dalam apa yang dicintainya.”

Malik bin Dinar raḥimahullāh pernah berkata: “Aku telah membaca dalam beberapa kitab terdahalu bahwa Allah s.w.t. berfirman: “Yang paling mudah Aku perbuat terhadap orang yang berilmu apabila ia lebih mencintai urusan dunia adalah, Aku keluarkan dari jiwanya kemampuan merasakan kelezatan bermunajat kepada-Ku.”

Seorang lelaki menulis surat kepada saudaranya yang berada di kejauhan (negeri lain). Isi surat yang ditulisnya berbunyi: “Wahai saudaraku, engkau telah diberi oleh Allah s.w.t. karunia berupa ilmu, maka janganlah sampai engkau memadamkan karunia yang sangat berharga itu dengan kegelapan dosa-dosamu. Sebab, selamanya nanti engkau akan kekal di dalam kegelapan bersamanya (dosa-dosa yang telah engkau perbuat), pada hari seluruh ahli ilmu (ulama) berjalan di bawah naungan cahaya ilmu mereka.”

Yahya bin Mu‘adz ar-Razi raḥimahullāh pernah berpesan kepada para ulama dunia: “Wahai para pemilik ilmu, istana kalian laksana istana Kaisar, rumah kalian laksana rumah Kisra’, pintu kalian laksana pintu kaum zhahiriyyah, sepatu kalian laksana sepatu Jalut, kendaraan kalian laksana kendaraan Qarun, bejana kalian laksana bejana Fir‘aun, upacara yang kalian lakukan laksana upacara kaum Jahiliyyah, dan madzhab kalian laksana madzhab setan. Lalu, di mana syari‘at Muhammad kalian letakkan?”

Ia lalu melantunkan sya‘ir berikut ini:

Seorang penggembala bertugas melindungi domba gembalaannya dari serangan srigala.

Lalu bagaimana jika si penggembala itu sendiri sebagai srigalanya?

Seorang penya‘ir lain mengatakan:

Wahai para pembaca al-Qur’an, kalian laksana garam bagi negeri,

Yang tidak membawa manfaat apa-apa jika garam telah rusak.

Ketahuilah, bahwa sesungguhnya yang pantas disandarkan kepada diri seorang ‘alim (ulama) yang taat beragama itu ialah, makanan, pakaian, tempat tinggal, dan semua yang berhubungan dengan kehidupannya di dunia ini, haruslah sewajarnya. Artinya, tidak condong kepada kemewahan, dan tidak pula terlalu kekurangan. Jika ia tidak mampu untuk mencapai tingkatan zuhud, maka sedapat mungkin jangan sampai ia berkolusi dengan para penguasa dan pendamba dunia. Karena, dikhawatirkan hal itu bisa menimbulkan fitnah bagi diri dan agamanya. Sebagaimana Allah s.w.t. telah berfirman:

وَ لَوْ لَا أَنْ ثَبَّتْنَاكَ لَقَدْ كِدْتَ تَرْكَنُ إِلَيْهِمْ شَيْئًا قَلِيْلًا.

Dan kalau Kami tidak memperkuat qalbumu, niscaya engkau hampir-hampir condong sedikit kepada mereka.” (al-Isrā’ [17]: 74).

Ahli hikmah Sahal at-Tustari raḥimahullāh pernah berkata: “Setiap cabang ilmu itu bersifat duniawiah, kecuali ilmu agama yang jika diamalkan, maka ia baru bersifat ukhrawiah. Dan, setiap perbuatan yang dilakukan tanpa keikhlasan, maka ia hampa tanpa makna.”

Sahal at-Tustari raḥimahullāh juga pernah berkata: “Semua orang mati (tidak ada), kecuali orang-orang yang berilmu. Semua orang yang berilmu laksana pemabuk, kecuali mereka yang mau mengamalkan ilmunya. Semua orang yang mengamalkan ilmunya tersesat, kecuali mereka yang bersikap ikhlas. Semua orang yang ikhlas dalam mengamalkan ilmunya akan merasakan kekhawatiran, kecuali mereka yang mengetahui tujuan atas puncak kebaikan yang telah dilakukannya itu.”

Nabi ‘Isa a.s. pernah mengatakan: “Bagaimana mungkin seseorang dipandang sebagai orang berilmu apabila ia tetap asyik dalam perjalanan menggapai urusan dunia, meskipun ia mengaku berjalan menuju titian akhirat?”

Telah diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., bahwa Rasulullah s.a.w. sendiri pernah bersabda:

مَنْ طَلَبَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَ بِهِ وَجْهُ اللهِ تَعَالَى لِيُصِيْبَ بِهِ عَرْضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ.

Siapa saja yang menuntut ilmu yang diridhai oleh Allah, akan tetapi ia juga mencari kekayaan dunia menggunakan ilmu itu, maka ia tidak akan mencium bau surga pada Hari Berbangkit nanti.” (21312).

Allah s.w.t. menyebut tentang ulama yang buruk sebagai orang yang mencari dunia dengan menggunakan ilmunya, dan melukiskan ulama akhirat sebagai orang yang bertakwa serta bersikap zuhud terhadap urusan dunia. Allah s.w.t. berfirman tentang ulama duniawiah, di mana Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi al-Kitab:

وَ إِذْ أَخَذَ اللهُ مِيْثَاقَ الَّذِيْنَ أُوْتُوا الْكِتَابَ لَتُبَيِّنُنَّهُ لِلنَّاسِ وَ لَا تَكْتُمُوْنَهُ فَنَبَذُوْهُ وَرَاءَ ظُهُوُرِهِمْ وَ اشْتَرَوْا بِهِ ثَمَنًا قَلِيْلًا.

Dan ingatlah ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi al-Kitab, yaitu: “Hendaklah kalian menerangkan isi Kitab itu kepada manusia, dan janganlah kalian menyembunyikannya dari manusia.” Akan tetapi, mereka melemparkan janji itu ke belakang punggung mereka, (21413) dan mereka menukarnya dengan harga yang sedikit.” (Āli ‘Imrān [3]: 187).

Allah s.w.t. juga telah berfirman mengenai ulama ukhrawi:

وَ إِنَّ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَمَنْ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ وَ مَا أُنْزِلَ إِلَيْهِمْ خَاشِعِيْنَ للهِ لاَ يَشْتَرُوْنَ بِآيَاتِ اللهِ ثَمَنًا قَلِيْلاً أُولئِكَ لَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ

Dan sesungguhnya di antara Ahli Kitab itu ada orang yang beriman kepada Allah, juga kepada apa yang diturunkan kepada kalian, serta apa yang diturunkan kepada mereka. Mereka tidak menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit. Mereka memperoleh pahala di sisi Allah, Rabb mereka,” (Āli ‘Imrān [3]: 199).

Sebagian dari ulama salaf mengatakan: “Para ulama akan dibangkitkan di Mahsyar nanti bersama para Nabi, sedangkan para ahli hukum (hakim) akan dibangkitkan bersama para penguasa mereka.” Yang dimaksudkan dengan para ahli hukum di sini termasuk para ahli fikih yang menjadikan ilmu mereka sebagai sarana meraih kemilaunya dunia.

Diriwayatkan dari Abu-Darda’, bahwa Nabi s.a.w. pernah bersabda: “Allah s.w.t. menurunkan wahyu kepada para Nabi. Isi wahyu tersebut berbunyi: “Mereka yang mempelajari ilmu fikih untuk tujuan selain agama, dan mereka yang mencari kekayaan dunia dengan amalan akhirat, laksana orang yang mengenakan kulit domba akan tetapi berjiwa seperti srigala di hadapan manusia. Lidah mereka lebih manis daripada madu, namun qalbu mereka lebih pahit daripada empedu. Mereka menipu dan mempermainkan Aku (Allah s.w.t.). Aku akan menimpakan fitnah kepada mereka yang bahkan membuat orang sabar pun merasa heran dengan fitnah itu.” (21514).

Diriwayatkan pula dari adh-Dhahhak, dari Ibnu ‘Abbas r.a., bahwa Rasulullah s.a.w. pernah bersabda: “Ada dua golongan ulama dari umatku ini. Golongan yang pertama merupakan ulama yang diberi ilmu oleh Allah s.w.t., yang kemudian dengan ilmu itu mereka sebarkan kepada orang lain, dan mereka tidak mengharapkan apa pun dari dunia, tidak pula menjualnya dengan harga yang sedikit. Ulama seperti ini akan dido‘akan oleh burung-burung di angkasa, ikan-ikan di lautan, semua binatang di permukaan bumi, dan para malaikat pun mendo‘akan keberkahan bagi mereka. Mereka akan datang menghadap Allah s.w.t. pada Hari Berbangkit nanti sebagai orang yang mulia, dan mereka akan menjadi sahabat para Rasul. Adapun golongan yang kedua adalah ulama yang diberi ilmu oleh Allah s.w.t., namun mereka tidak mau menyebarkannya kepada orang lain. Mereka mengharapkan imbalan dunia, dan menukarnya dengan harga sangat murah. Ulama seperti ini akan datang ke hadapan Allah ‘azza wa jalla pada Hari Berbangkit nanti dengan terbelit tali kekang yang terbuat dari api neraka di mulutnya, dan mereka akan tampil di hadapan semua makhluk, lalu akan diserukan kepada makhluk-makhluk itu: “Mereka ini adalah anak si Fulan dan si Fulan, Allah s.w.t. telah mengaruniai mereka ilmu, akan tetapi mereka enggan memberikannya kepada sesama manusia, dan menukarnya dengan harga yang sangat sedikit, serta mengharapkan imbalan kekayaan dunia. Maka mereka akan mendapatkan adzab, hingga Allah ‘azza wa jalla selesai menghitung amalan manusia seluruhnya.” (21615).

Siksaan yang lebih dahsyat telah ditimpakan kepada jenis manusia berikut ini. Yaitu, seperti peristiwa yang pernah menimpa seorang pria yang pernah diminta secara khusus oleh Nabi Musa a.s. untuk menyampaikan, bahwa Nabi Musa, manusia pilihan Allah s.w.t., telah menceritakan kejadian ini kepadaku. Nabi Musa, manusia kepercayaan Allah s.w.t., telah mengisahkan ini kepadaku. Nabi Musa, manusia sekaligus sahabat dekat Allah s.w.t., telah mengatakan ini dan itu kepadaku. Sehingga dengan menyampaikan semua itu, ia menjadi kaya-raya. Akan tetapi, beberapa saat kemudian ia menghilang dari pandangan manusia. Nabi Musa pun berusaha mencarinya ke banyak tempat, akan tetapi tidak juga ditemukan. Suatu hari, datang seorang laki-laki dengan membawa seekor babi yang pada lehernya terlilit seutas tali. Nabi Musa bertanya kepada laki-laki tadi: “Tahukah engkau tentang kondisi si Fulan? Belakangan ini aku sangat sulit menjumpainya.” Laki-laki itu menjawab: “Aku tahu, wahai Nabi Allah. Seekor babi yang aku bawa ini adalah dirinya.” Kemudian Nabi Musa berdo‘a: “Ya Allah, kembalikanlah ia ke keadaannya semula, agar aku dapat bertanya mengapa keadaan ini sampai menimpanya.” Lalu Allah s.w.t. menurunkan wahyu kepada Nabi Musa: “Sekiranya engkau memohon kepada-Ku, sebagaimana apa yang pernah dilakukan oleh Nabi Adam a.s. dan para penerusnya, Aku tidak akan menerima permohonanmu dalam masalah ini. Namun demikian, Aku (Allah) akan mengabarkan kepadamu mengapa ia sampai berubah menjadi seperti saat ini. Itu semua diakibatkan ia mencari dunia dengan agama.”

Kisah yang lebih berat pernah pula diriwayatkan dari Mu‘adz bin Jabal r.a. secara mauqūf, dan atau secara marfū‘. Dalam kisah itu diriwayatkan, bahwa Rasulullah s.a.w. pernah bersabda: “Salah satu penyakit yang sering menghinggapi seorang yang berilmu adalah, ia lebih suka berbicara daripada mendengar.” (21716).

Dalam pembicaraan yang disampaikan sering kali terdapat banyak sekali bias dan tambahan. Seorang pembicara tidak mungkin terhindar dari kekeliruan. Sedangkan dalam sikap diam (mendengar) terdapat keselamatan dan kebijaksanaan. Di antara orang-orang berilmu ada pula mereka yang suka menyimpan saja ilmunya rapat-rapat, dan tidak mau menyampaikannya kepada orang lain. Orang semacam ini justru akan menempati lapisan pertama di dasar neraka. Ada pula di antara orang-orang yang berilmu bersikap seperti raja terhadap ilmu yang dimilikinya. Dengan kata lain, jika ada yang mengkritik ilmunya, maka ia pun segera marah. Orang semacam ini akan menempati lapisan kedua dari dasar neraka. Ada pula di antara orang-orang berilmu yang menyampaikan ilmu, dan sekaligus menceritakan hadits hanya kepada orang yang berada (kaya), namun tidak kepada orang miskin yang membutuhkan. Maka, orang yang semacam ini akan menempati lapisan ketiga dari dasar neraka. Ada di antara orang-orang berilmu yang sibuk memberikan fatwa (putusan hukum), akan tetapi kerap keliru, dan merasa puas hanya dengan orang lain yang mengikutinya dalam melakukan ibadah. Orang yang seperti ini akan berada di lapisan keempat dari dasar neraka. Ada lagi di antara orang-orang berilmu yang menyampaikan materi dakwahnya dengan banyak mengutip ucapan orang-orang Yahudi maupun Nashrani, demi memamerkan ketinggian ilmunya. Maka, orang yang berilmu semacam ini akan ditempatkan di lapisan kelima dari dasar neraka. Ada pula di antara orang-orang berilmu yang menyampaikan materi dakwahnya demi kemegahan, kehormatan dan kemuliaan diri, lalu menganggap bahwa ucapannya adalah segala-galanya. Maka orang seperti ini akan menempati lapisan keenam dari dasar neraka. Di antara orang-orang berilmu ada juga yang menyampaikan materi dakwahnya dengan sombong dan angkuh. Sedangkan pada saat orang lain menyampaikan khutbah, ia pun melecehkan materi yang disampaikannya. Orang seperti ini akan ditempatkan di lapisan ketujuh dari dasar neraka.”

Dalam hadits lain Rasulullah s.a.w. juga pernah bersabda: “Ada seseorang yang demikian dipuji karena ilmu yang dimilikinya, sehingga pujian itu memenuhi ruang yang berada di antara belahan Timur dan Barat bumi. Akan tetapi, semua pujian itu tidak berharga bagi Allah s.w.t., bahkan tidak sebanding jika diukur dengan seberat sayap lalat pun.” (21817).

Rasulullah s.a.w. juga pernah bersabda: “Janganlah kalian duduk dengan seorang yang berilmu, kecuali ia mengajak kepada lima perkara berikut ini: Pertama, mengajak kepada keyakinan, bukan keraguan. Kedua, mengajak kepada sikap ikhlas, bukan riya’. Ketiga, mengajak kepada kesederhanaan, bukan kemegahan dunia. Keempat, mengajak kepada cinta, bukan permusuhan. Dan yang kelima, mengajak kepada sikap zuhud terhadap urusan dunia, bukan justru menggemarkan dengannya (urusan dunia).” (21918)

Sebagaimana Allah s.w.t. berfirman:

فَخَرَجَ عَلَى قَوْمِهِ فِيْ زِيْنَتِهِ قَالَ الَّذِيْنَ يُرِيْدُوْنَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا يَا لَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَا أُوْتِيَ قَارُوْنُ إِنَّهُ لَذُوْ حَظٍّ عَظِيْمٍ. وَ قَالَ الَّذِيْنَ أُوْتُوا الْعِلْمَ وَيْلَكُمْ ثَوَابُ اللهِ خَيْرٌ لِّمَنْ آمَنَ وَ عَمِلَ صَالِحًا وَ لَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الصَّابِرُوْنَ

Maka keluarlah Qarun kepada kaumnya dalam kemegahannya. (22019) Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia: “Semoga kiranya kita mempunyai seperti apa yang diberikan kepada Qarun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar.” Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu: “Kecelakaan yang besarlah bagi kalian, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal shalih. Juga tidak didapat pahala itu, kecuali oleh orang-orang yang sabar.” (al-Qashash [28]: 79-80).

Dengannya, ahli ilmu akan memahami kondisi yang ada, dan lebih memilih kepentingan akhirat ketimbang urusan dunia.

Catatan:


  1.  202). Takhrīj atas riwayat ini telah disebutkan pada pembahasan terdahulu – penerj. 
  2.  203). Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam kitab Raudhat-ul-‘Aqillā’. Diriwayatkan pula oleh Imam al-Baihaqi dalam al-Madkhal secara mauqūf pada Abid-Darda’ r.a., dan tidak sampai berstatus marfū‘. 
  3.  204). Diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi, Imam al-Hakim dalam an-Nawadir, dan Ibnu ‘Abd-il-Barr, dari hadits al-Hasan secara mursal, dengan isnād shaḥīḥ. Imam al-Khathib juga menyebutkan riwayat ini dalam at-Tārīkh dari hadits al-Hasan, dari Jabir r.a., dengan isnād baik (jayyid). Demikian pula yang disampaikan oleh Ibn-ul-Jauzi raḥimahullāh. 
  4.  205). Diriwayatkan oleh Imam al-Hakim dari hadits Anas bin Malik r.a., dengan status lemah (dha‘īf). 
  5.  206). Diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah dari hadits Jabir bin ‘Abdullah r.a., dengan isnād shaḥīḥ. 
  6.  207). Takhrīj atas riwayat ini telah disebutkan pada pembahasan terdahulu – penerj. 
  7.  208). Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Abu Dzarr al-Ghiffari r.a., dengan isnād baik (jayyid). 
  8.  209). Diriwayatkan oleh Abu Manshur ad-Dailami dalam Musnad al-Firdaus, dari hadits ‘Ali bin Abi Thalib r.a., dengan isnād lemah (dha‘īf). Namun, riwayat ini memiliki saksi yang menguatkan. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Hibban dalam Raudhat-ul-‘Aqillā’ secara mauqūf pada al-Hasan, dengan redaksi yang berbeda, namun kandungan maknanya serupa yaitu: “Siapa saja yang pemahamannya tentang Allah bertambah, namun kemudian kecintaanya kepada dunia meningkat, maka tidak semakin bertambah kedekatannya kepada Allah kecuali semakin menjauh.” Sebagaimana diriwayatkan pula oleh Abul-Fath al-Azdi dalam ad-Dhu‘afā’, dari hadits ‘Ali bin Abi Thalib dengan redaksi: “Siapa saja yang pemahamannya tentang Allah bertambah, namun kemudian bertambah pula kecintaannya kepada dunia, maka murka dan kemarahan Allah bertambah kepadanya.” 
  9.  210). Tidak ditemukan takhrīj-nya menggunakan redaksi ini. Redaksi ini justru merupakan makna penjelas dari hadits Usamah bin Zaid r.a. yang akan disebutkan setelah ini. 
  10.  211). Diriwayatkan dari Imam Bukhari dan Imam Muslim (Muttafaqun ‘alaih), dari Usamah bin Zaid r.a., dengan redaksi: “orang berilmu” diganti dengan “seorang lelaki”. 
  11.  212). Mereka mengenal Muhammad s.a.w. seperti mereka mengenal sifat-sifatnya dengan baik, sebagaimana yang tersebut dan mereka baca dalam Taurat dan Injil – penerj. 
  12.  213). Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dan Imam Ibnu Majah dengan isnād jayyid (baik). Saya (muḥaqqiq) berpendapat, bahwa status riwayat ini adalah shaḥīḥ. Syaikh al-Albani menyebutkan riwayat ini dalam Shaḥīḥ Ibnu Mājah, hadits nomor 204. Maka kata ‘arfal jannati adalah dalam makna rīḥuhā (terhalang olehnya), terhalang lantaran dosa yang menyelimutinya. 
  13.  214). Di antara keterangan yang disembunyikan itu ialah tentang kedatangan Nabi Muhammad s.a.w. sebagai Rasul Allah – penerj. 
  14.  215). Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abd-il-Barr dengan isnād lemah (dha‘īf). 
  15.  216). Diriwayatkan oleh Imam ath-Thabrani dalam al-Ausath dengan isnād lemah (dha‘īf). 
  16.  217). Diriwayatkan oleh Abu Nu‘aim dan Ibn-ul-Jauzi raḥimahumāllāh dalam al-Maudhū‘āt. 
  17.  218). Redaksi seperti ini tidak pernah ditemukan. Dalam kitab ash-Shaḥīḥain dari hadits Abu Hurairah r.a. terdapat riwayat serupa dengan redaksi: “Sesungguhnya akan dihadapkan seorang lali-laki – pada Hari Berbangkit nanti – yang agung dan pernah dipuja oleh banyak orang saat di alam dunia, pada saat itu ia merasa tidak berharga sama sekali di hadapan-Nya, bahkan jika harus diukur dengan sayap seekor lalat.” 
  18.  219). Diriwayatkan oleh Abu Nu‘aim dalam al-Hilyah. Juga oleh Ibn-ul-Jauzi dalam al-Maudhū‘āt. 
  19.  220). Menurut ahli tafsir, ayat ini menggambarkan peristiwa Qarun yang saat itu tengah keluar dari istana megahnya dalam satu iring-iringan yang lengkap dengan sejumlah pengawal, hamba sahaya dan para pengasuh untuk memperlihatkan kemegahan yang ia miliki kepada kaumnya – penerj. 

Bagikan:

Bab Kelima
Adab (Aturan) Guru dan Murid

Mengenai adab (aturan) yang semestinya dijalankan oleh seorang guru dan juga muridnya.


Adab Seorang Guru

Ketahuilah, bahwa ada empat macam kondisi manusia dalam hubungannya dengan kekayaan. Pertama, orang yang kaya karena menghasilkan harta benda duniawi yang sangat banyak. Kedua, orang yang melakukan aktivitas produktif dan tidak membutuhkan bantuan orang lain. Ketiga, orang yang mampu membiayai dan mencukupi kebutuhan dirinya sendiri, serta cukup puas dengan kekayaan yang sudah dimilikinya. Keempat, orang yang membelanjakan sebagian kekayaannya untuk orang lain, sehingga menjadi seorang yang pemurah dan dermawan.

Tentu saja, kelompok manusia yang terkahir inilah yang terbaik. Seperti itu pulalah kondisi ilmu. Ia dapat diperoleh seperti kita mendapatkan harta benda. Ada empat macam kondisi manusia dalam hubungannya dengan ilmu. Pertama, kondisi orang yang tengah mencari ilmu. Kedua, kondisi seseorang setelah memperoleh ilmu. Ketiga, kondisi seseorang di mana ia bisa berkontemplasi dan menikmati ilmu yang telah diraihnya. Dan yang keempat, kondisi seseorang di mana ia bisa menyebarkan ilmu yang telah didapatnya kepada orang lain. Dan, kondisi yang terakhir inilah yang terbaik.

Perilaku terbaik dari seorang guru ialah, sebagaimana dikatakan: “Siapa yang mempelajari suatu ilmu, kemudian mengamalkannya, dan setelah itu mengajarkannya kepada orang lain, maka ia termasuk kelompok yang disebut sebagai “pembesar” pada kerajaan langit.” Orang yang dikaruniai ilmu yang banyak, lalu beramal dengannya, dan juga mengajarkannya kepada orang lain, maka ia dipandang lebih mulia daripada para malaikat langit maupun malaikat yang bertugas di bumi.

Manusia demikian dapat diibaratkan matahari yang menyinari diri sendiri, dan sekaligus mendistribusikan sinarnya kepada benda lainnya. Orang yang seperti itu laksana wangi kasturi, ia sendiri harum, dan sekaligus menebarkan semerbak keharumannya kepada yang lain. Orang yang mengajarkan ilmu kepada orang lain (guru), namun tidak beramal dengannya adalah laksana buku cetak yang tidak bermanfaat bagi dirinya sendiri, akan tetapi sungguh bermanfaat bagi pembacanya. Atau, laksana batu asah yang mampu menajamkan pisau yang diasah di atasnya, akan tetapi ia sendiri tidak mampu memotong apa pun. Atau ibarat jarum yang tetap telanjang, meskipun ia sendiri dapat menjahit pakaian bagi kebutuhan manusia. Atau ibarat lilin yang memberikan cahaya penerangan bagi benda lain di sekitarnya, akan tetapi ia sendiri habis terbakar. Diungkapkan dalam sebuah sya‘ir:

Seolah-olah aku menjadi sumbu yang disulut api,

Aku menerangi sekitarku, sementara aku sendiri habis terbakar.

Dengan kata lain, keberadaan ilmu tanpa amal laksana sumbu lampu yang menebari sinar ke sekitarnya, namun ia sendiri habis terbakar oleh nyala apinya. Orang yang menetapkan diri dan bertekad untuk mengambil pekerjaan sebagai guru, ia harus menjalankan tugas dan kewajiban berikut ini. Adab yang pertama, seorang guru harus memperlihatkan kebaikan, simpati dan bahkan empati kepada para muridnya, serta memperlakukan mereka laksana anaknya sendiri. Rasulullah s.a.w. pernah bersabda:

إِنَّمَا أَنَا لَكُمْ كَالْوَالِدِ لِوَلَدِهِ.

Sesungguhnya posisiku terhadap kalian, laksana seorang ayah terhadap anak-anaknya.” (1961).

Sudah sepantasnya seorang guru dalam mengajarkan ilmunya mempunyai niat dan tujuan untuk melindungi para muridnya dari siksa api neraka. Sementara tugas kedua orangtua menyelamatkan anak-anaknya dari kesengsaraan hidup di alam dunia ini. Tugas seorang guru lebih berat daripada kedua orangtua. Bahkan, seorang guru adalah ayah yang sejati bagi murid-muridnya. Jika seorang ayah menjadi sebab atas keberadaan anak-anaknya pada kehidupan dunia yang fana’ ini, maka seorang guru justru menjadi sebab bagi bekal kehidupan murid-muridnya yang kekal di akhirat nanti. Dengan demikian, menjadi wajar apabila seorang murid tidak dibenarkan untuk membeda-bedakan antara hak guru dan hak kedua orangtuanya. Sebab, lantaran ajaran para guru ruhanilah seorang murid mengetahui dan ingat akan kehidupan akhirat.

Guru yang saya maksudkan di sini adalah guru yang mengajarkan ilmu-ilmu tentang akhirat (ukhrawi), atau ilmu-ilmu tentang dunia (duniawi) dengan tujuan keabadian negeri akhirat. Seorang guru dinilai membinasakan diri sendiri dan juga murid-muridnya jika ia mengajar hanya demi kepentingan dunia ini semata. Karena itu, seorang guru yang berorientasi pada kepentingan akhirat akan senantiasa menempuh perjalanan hidupnya di dunia ini untuk tujuan menggapai kebahagiaan negeri akhirat nanti. Juga, senantiasa bertujuan kepada Allah s.w.t. dengan tidak terikat kepada tipudaya dunia. Jika sedemikian posisi keduanya, maka para murid dengan guru sangat dianjurkan untuk saling mencintai. Sebab, pada hakikatnya ulama dan putra-putra akhirat itu laksana musafir yang sedang bepergian bersama-sama menuju Allah s.w.t.

Bulan dan tahun dalam kehidupan dunia ini hanyalah persinggahan sementara dalam perjalanan mereka. Tidak ada rasa benci dalam perjalanan menuju akhirat nanti, dan dengan demikian tidak ada pula rasa iri serta dengki di antara mereka. Di antara para musafir yang sedang menempuh perjalanan dari satu negeri ke negeri yang lain saja biasanya saling menyayangi, memiliki keperdulian yang sangat tinggi, dan saling membantu jika mendapatkan kesulitan. Apalagi dalam perjalanan menuju Allah s.w.t. dan surga Firdaus yang amat luas, seharusnya dihindari sikap saling bersaing dan menjatuhkan. Mereka seharusnya berpegang pada firman Allah s.w.t. berikut ini:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ إِخْوَةٌ.

Sesungguhnya orang-orang Mu’min itu bersaudara.” (al-Hujurāt [49]: 10).

Juga pada firman Allah s.w.t.:

الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِيْنَ.

Teman-teman akrab pada hari itu sebagaimana menjadi musuh bagi sebagian yang lain; kecuali orang-orang yang bertakwa.” (az-Zukhruf [43]: 67).

Kewajiban dan adab yang kedua, dari seorang guru adalah, mengikuti teladan dan contoh dari akhlak Rasulullah s.a.w. Dengan perkataan lain, seorang guru tidak diperkenankan menuntut imbalan atau upah bagi aktivitas mengajarnya; selain mengharapkan kedekatan diri kepada Allah s.w.t. semata. Sebab, Allah s.w.t. sendiri yang telah mengajarkan kepada kita untuk berkata, sebagaimana dijelaskan dalam firman-Nya berikut ini:

وَ يَا قَوْمِ لَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مَالًا إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَى اللهِ.

Katakanlah: “Aku tidak menginginkan upah darimu untuk seruanku ini. Upah yang aku harapkan hanyalah di sisi Allah.” (Hūd [11]: 29).

Harta dan kekayaan hanyalah pelayan bagi tubuh kita, yang menjadi kendaraan atau tunggangan bagi jiwa, yang pada hakikatnya adalah ilmu. Dan, hanya karena ilmu jiwa seseorang menjadi mulia. Orang yang mencari harta dengan menggadaikan ilmunya ibarat seseorang yang mukanya kotor, namun badannya yang dibersihkan. Dalam hal ini, tuan menjadi hamba, dan hamba menjadi tuan. Kendati seorang pengajar (guru) berjasa atas ilmu yang didapat oleh para muridnya, namun mereka (para murid) juga memiliki jasa atas diri sang guru. Karena, para murid-lah yang menjadi sebab ia (guru) bisa dekat kepada Allah s.w.t., dengan cara menanamkan ilmu serta keimanan di dalam qalbu mereka (para murid).

Kewajiban dan adab yang ketiga dari seorang guru adalah, tidak boleh menyembunyikan nasihat atau ajaran untuk diberikan kepada murid-muridnya. Setelah selesai menyampaikan ilmu-ilmu lahiriah, ia harus mengajarkan ilmu-ilmu batiniah kepada murid-muridnya. Seorang guru harus mengatakan, bahwa tujuan pendidikan adalah dekat kepada Allah s.w.t., bukan kekuasaan atau kekayaan. Juga menyampaikan, bahwa Allah s.w.t. menciptakan ambisi sebagai sarana untuk melestarikan ilmu yang merupakan hakikat bagi ilmu-ilmu yang tengah dipelajari. Contohnya, dengan melarang para murid mencari kedudukan sebelum mereka layak untuk mendapatkannya. Juga melarang mereka menekuni ilmu yang tersembunyi (batin), sebelum menyempurnakan ilmu yang nyata (zhahir).

Kewajiban dan adab yang keempat dari seorang guru adalah, berusaha mencegah murid-muridnya dari memiliki watak serta perilaku jahat dengan penuh kehati-hatian; atau, melalui cara-cara yang halus seperti, sindiran. Dengan simpati, bukan keras dan kasar. Karena, jika sikap semacam itu yang dikedepankan, maka sama artinya dengan guru tersebut melenyapkan rasa takut dan mendorong ketidakpatuhan pada diri murid-muridnya. Sebagaimana Nabi s.a.w. sebagai pembimbing para guru pernah bersabda:

لَوْ مُنِعَ النَّاسُ عَنْ فَتِّ الْبَعْرِ لَفَتُّوْهُ وَ قَالُوْا مَا نُهِيْنَا عَنْهُ إِلَّا وَ فِيْهِ شَيْءٌ.

Jika manusia dilarang menyingkirkan kotoran unta, maka mereka akan tetap melakukan hal itu sambil mengatakan, bahwa mereka tidak dilarang melakukannya apabila tidak terdapat sejumlah kebaikan di dalam pelaksanaannya.” (1972).

Kewajiban dan adab kelima dari seorang guru adalah, tidak boleh merendahkan ilmu lain di hadapan para muridnya. Guru yang mengajarkan bahasa biasanya memandang rendah ilmu fikih, dan guru ilmu fikih melecehkan ilmu hadis, demikian seterusnya. Tindakan-tindakan semacam ini sungguh sangat tercela jika sampai dilakukan oleh seorang guru. Seharusnya, seorang guru dari satu disiplin ilmu tertentu harus turut mempersiapkan murid-muridnya untuk mampu mempelajari ilmu-ilmu lainnya. Selanjutnya, seorang guru sebaiknya menyampaikan materi pengajaran sesuai dengan aturan yang ada secara bertahap atau berjenjang, tidak sekaligus. Sebab, semua itu bisa membebani pemahaman murid-muridnya.

Kewajiban dan adab keenam yang harus dipenuhi oleh seorang guru adalah, mengajar murid-muridnya hingga mencapai batas kemampuan pemahaman mereka. Tidak diperkenankan seorang guru menyampaikan materi pelajaran di luar batas kapasitas pemahaman para muridnya. Dalam hal ini, seorang guru yang baik harus bisa mencontoh Rasulullah s.a.w., sebagaimana beliau pernah bersabda:

نَحْنُ مَعَاشِرَ الْأَنْبِيَاءِ أُمِرْنَا أَنْ نُنْزِلَ النَّاسَ مَنَازِلَهُمْ وَ نُكَلِّمَهُمْ عَلَى قَدْرِ عُقُوْلِهِمْ.

Kami para Nabi adalah satu kaum. Kami diperintahkan – oleh Allah s.w.t. – untuk mendudukkan setiap orang pada tempat (porsi kemampuan)-nya yang tepat, dan berbicara kepada manusia sesuai dengan tingkat pemahaman atau kapasitas pemikirannya.” (1983).

Pelajaran yang disampaikan kepada para murid hendaknya disajikan dengan cara-cara yang mudah dimengerti. Sekaligus membubuhkan penjelasan yang dibutuhkan dalam konteks kekinian, atau contoh nyata yang terjadi di kehidupan sehari-hari. Semua itu demi tujuan mengembangkan pemahaman yang didapat oleh seorang murid, agar bisa lebih mudah untuk diamalkan. Sebagaimana Rasulullah s.a.w. pernah bersabda:

مَا أَحَدٌ يُحَدِّثُ قَوْمًا بِحَدِيْثٍ لَا تَبْلُغُهُ عُقُوْلِهِمْ إِلَّا كَانَ فِتْنَةً عَلَى بَعْضِهِمْ.

Apabila seseorang berbicara sepenggal kalimat kepada suatu kaum yang pemahaman mereka belum sampai ke sana, maka kalimat tersebut berpotensi menjadi bahaya (fitnah) bagi sebagian orang lainnya.” (1994).

Sayyidina ‘Ali r.a. pernah berkata sambil menunjuk ke arah dadanya: “Di dalam sini terkumpul cukup banyak ilmu. Sekiranya mungkin saya dapati sejumlah orang yang mau dan mampu memahaminya?”

Dada orang-orang yang shalih berbentuk seperti muara bagi ilmu yang tersembunyi di dalamnya. Dari sini kita dapat memahami, bahwa apa yang diketahui oleh seorang guru tidak mesti semuanya disampaikan kepada murid-muridnya sekaligus.

Nabi ‘Isa a.s. pernah mengatakan: “Janganlah kalian mengalungkan mutiara ke leher babi.” Artinya, akan sangat tidak bermanfaat barang berharga yang disematkan pada diri yang sama sekali tidak mengetahui manfaat serta kegunaannya. Dan, sikap bijaksana jauh lebih berharga nilainya daripada sebuah permata. Siapa yang tidak suka kepada ilmu dan hikmah, maka kondisinya jauh lebih buruk dan lebih tidak bermanfaat daripada seekor babi.

Suatu hari, seorang ‘alim ditanya mengenai suatu persoalan, akan tetapi ia tidak menjawab: “Si penanya akhirnya berkata: bukanlah anda mendengar bahwa Nabi s.a.w. pernah bersabda:

مَنْ كَتَمَ عِلْمًا نَافِعًا جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مُلْجَمًا بِلِجَامٍ مِنْ نَارٍ.

Siapa saja yang menyembunyikan ilmu yang bermanfaat, maka ia akan datang pada Hari Berbangkit nanti dengan mulut yang terbelenggu (dipenuhi) oleh api neraka?” (2005).

Orang ‘alim itu pun akhirnya angkat bicara: “Tinggalkan belenggu itu, dan segera pergilah dari sini! Sebab, jika aku tidak menyampaikan ilmu yang engkau maksudkan itu hanya kepada siapa yang mampu memahaminya, maka aku siap jika harus engkau letakkan belenggu api neraka pada mulutku; aku akan menerimanya dengan terbuka.” Sebab, Allah s.w.t. telah berfirman:

وَ لَا تُؤْتُوا السُّفَهَاءَ أَمْوَالَكُمْ.

Dan janganlah engkau serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya (2016), harta [mereka yang berada dalam kekuasaanmu].” (an-Nisā’ [4]: 5).

Ada peringatan yang tersirat dalam makna ayat di atas, bahwa lebih baik kita menjaga ilmu (tidak memberikan) atas orang-orang yang bisa menjadikan mereka hancur jika memiliki ilmu dimaksud. Memberikan sesuatu kepada orang yang tidak berhak atau tidak memberikan sesuatu kepada yang berhak sama-sama dianggap sebagai tindakan zhalim. Seorang penya‘ir pernah berkata:

Apakah aku harus menghambur-hamburkan mutiara,

Ke hadapan para penggembala yang terbatas kemampuan akalnya.

Mereka tidak akan mengerti nilainya,

Juga tidak akan pernah tahu manfaat serta kegunaannya.

Jika Allah dengan ilmu-Nya yang serba meliputi,

Memberikan setitik ilmu-Nya kepada seorang hamba,

Maka saya akan mempersembahkan seluruh kekayaan saya kepada hamba tersebut,

Dan berusaha mendapatkan cintanya.

Namun sayang, sang hamba tadi menyia-nyiakan ilmunya,

Dengan memberikannya kepada orang yang tidak layak menerima.

Hingga ia dianggap berdosa,

Dengan menahan ilmu dari orang yang tidak pantas mendapatkannya.

Kewajiban dan adab ketujuh yang harus dipenuhi oleh seorang guru adalah, mengajarkan kepada para murid yang berkemampuan terbatas hanya sesuatu yang jelas, lugas, dan yang sesuai dengan tingkat pemahamannya yang terbatas. Orang yang awam acapkali menilai, bahwa kebijaksanaan yang ditempuh seorang guru dalam cara-cara mengajar yang digunakan dianggap menyalahi aturan umum yang berlaku. Mereka baru merasa puas jika pengetahuan yang disampaikan seorang guru, mereka anggap update (up to date,) sesuai dengan perkembangan kemajuan zaman. Jika sebaliknya, maka guru dimaksud akan mendapat label bodoh, tidak mampu mengajar, atau – yang terburuk – pelit dalam menyebarkan ilmu yang dimilikinya. Dengan kalimat lain yang lebih urai dapat disampaikan di sini, bahwa pintu perdebatan tidak boleh dibuka di hadapan orang awam.

Kewajiban dan adab kedelapan yang harus dipenuhi oleh seorang guru adalah, bahwa guru sendiri harus melakukan terlebih dahulu apa yang diajarkannya, dan tidak boleh  berbohong dengan apa yang disampaikannya. Ilmu dapat diserap dengan mata batin, dan amal dapat disaksikan melalui pandangan mata lahir. Banyak yang memiliki mata lahir, namun sangat sedikit yang memiliki dan mau memanfaatkan mata batin. Oleh karena itu, jika perbuatan seorang guru bertentangan dengan apa yang dianjurkannya, berarti ia tidak sedang membantu memberi petunjuk dan tuntunan, melainkan justru racun atau bencana. Seorang guru dapat diibaratkan stempel yang dibuat di atas tanah liat, dan murid seperti tanah liatnya. Apabila stempel tidak memiliki karakter yang mantap, maka tidak ada suatu tapak pun yang membekas pada tanah liat atau medianya.

Jadi, seorang guru dapat diibaratkan sebatang tongkat, dan murid adalah bayangan dari tongkat itu sendiri. Bagaimana mungkin bayangan dari sebatang tongkat diharapkan tegak lurus jika tongkatnya sendiri bengkok? Seorang penya‘ir pernah mengungkapkan:

Janganlah engkau melarang suatu perbuatan tercela,

Sedangkan engkau sendiri melakukannya.

Berkalang malu kepada diri luar biasa,

Disaksikan orang engkau sendiri mengerjakannya.

Allah s.w.t. berfirman:

أَتَأْمُرُوْنَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَ تَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ.

Mengapa engkau suruh orang lain mengerjakan kebaikan, sedang engkau melupakan diri (kewajiban) mu sendiri?” (al-Baqarah [2]: 44).

Imam ‘Ali karramallāhu wajhah pernah berkata: “Dua golongan manusia yang potensial mendatangkan bencana bagi kita adalah, orang berilmu yang tidak menjaga kehormatan diri dengan ilmu yang telah disandangnya, dan orang jahil yang menempuh jalan zuhud, dengan beribadah tanpa ilmu. Orang yang berilmu menyesatkan manusia dengan kelalaiannya, sedangkan orang yang jahil menyesatkan manusia melalui perbuatan bodohnya yang tidak didasari ilmu dalam beramal.” Wallāhu A‘lam (hanya Allah Yang Maha Tahu).

Catatan:


  1. 196). Diriwayatkan oleh Abu Dawud, Imam an-Nasa’i, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban, dari hadits Abu Hurairah r.a. 
  2. 197). Riwayat hadis ini tidak saya (muḥaqqiq) temukan. Syaikh kami, Nashiruddin al-Albani mengatakan, statusnya lemah (dha‘īf). Lihat lebih lanjut dalam adh-Dha‘īfah hadis nomor 1894. 
  3. 198). Kami sarikan hadis ini dari sebuah buku yang ditulis oleh Abu Bakar bin asy-Syukhair dari hadis ‘Umar ibn-ul-Khaththab r.a. Diriwayatkan pula oleh Abu Dawud dari hadis ‘A’isyah r.a., dengan redaksi yang sedikit berbeda, namun maknanya hampir sama. Demikian, Wallāhu A‘lam. 
  4. 199). Takhrīj atas riwayat ini tidak tersedia dalam edisi berbahasa ‘Arab yang saya terjemahkan. Di dalam karya al-Hafizh al-‘Iraqi, saya dapati disebutkan, bahwa riwayat ini merupakan rangkaian dari kalimat yang disarikan dari beberapa sumber riwayat. Seperti, dari apa yang pernah disampaikan oleh Imam al-‘Uqaili, Abu Nu‘aim dan Ibnu ‘Abbas – semoga Allah s.w.t. menyayangi mereka semua – penerj. 
  5. 200). Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari hadis Abu Sa‘id al-Khudri r.a., dengan isnād lemah (dha‘īf). Pernah pula dijelaskan mengenai riwayat (redaksi) yang hampir sama pada pembahasan terdahulu, dari jalur Abu Hurairah r.a. 
  6. 201). Dalam hal ini, yang dimaksud adalah orang yang belum sempurna pemahamannya. Yaitu, mereka yang belum memenuhi  kriteria, atau belum mampu memahami apa yang akan diberikan kepadanya – penerj. 

Bagikan:

Lewat ke baris perkakas