Shahih Muslim no.277-278 – Ahli Surga Yang Paling Rendah Derajatnya (2/7)

صحيح مسلم ٢٧٧: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ بْنِ نُمَيْرٍ حَدَّثَنَا أَبِيْ حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ عَنْ الْمَعْرُوْرِ بْنِ سُوَيْدٍ عَنْ أَبِيْ ذَرٍّ قَالَ. قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ إِنِّيْ لَأَعْلَمُ آخِرَ أَهْلِ الْجَنَّةِ دُخُوْلًا الْجَنَّةَ وَ آخِرَ أَهْلِ النَّارِ خُرُوْجًا مِنْهَا رَجُلٌ يُؤْتَى بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيُقَالُ اعْرِضُوْا عَلَيْهِ صِغَارَ ذُنُوْبِهِ وَ ارْفَعُوْا عَنْهُ كِبَارَهَا فَتُعْرَضُ عَلَيْهِ صِغَارُ ذُنُوْبِهِ فَيُقَالُ عَمِلْتَ يَوْمَ كَذَا وَ كَذَا كَذَا وَ كَذَا وَ عَمِلْتَ يَوْمَ كَذَا وَ كَذَا كَذَا وَ كَذَا فَيَقُوْلُ نَعَمْ لَا يَسْتَطِيْعُ أَنْ يُنْكِرَ وَ هُوَ مُشْفِقٌ مِنْ كِبَارِ ذُنُوْبِهِ أَنْ تُعْرَضَ عَلَيْهِ فَيُقَالُ لَهُ فَإِنَّ لَكَ مَكَانَ كُلِّ سَيِّئَةٍ حَسَنَةً فَيَقُوْلُ رَبِّ قَدْ عَمِلْتُ أَشْيَاءَ لَا أَرَاهَا هَا هُنَا فَلَقَدْ رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ ضَحِكَ حَتَّى بَدَتْ نَوَاجِذُهُ.وَ حَدَّثَنَا ابْنُ نُمَيْرٍ حَدَّثَنَا أَبُوْ مُعَاوِيَةَ وَ وَكِيْعٌ ح وَ حَدَّثَنَا أَبُوْ بَكْرِ بْنُ أَبِيْ شَيْبَةَ حَدَّثَنَا وَكِيْعٌ ح وَ حَدَّثَنَا أَبُوْ كُرَيْبٍ حَدَّثَنَا أَبُوْ مُعَاوِيَةَ كِلَاهُمَا عَنِ الْأَعْمَشِ بِهذَا الْإِسْنَادِ.

Shaḥīḥ Muslim 277: Telah menceritakan kepada kami Muḥammad bin ‘Abdillāh bin Numair telah menceritakan kepada kami bapakku telah menceritakan kepada kami al-A‘masy dari al-Ma‘rūr bin Suwaid dari Abū Dzarr dia berkata: “Rasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya aku mengetahui penduduk surga yang terakhir kali masuk dan penduduk neraka yang terakhir kali keluar darinya, yaitu seorang laki-laki didatangkan pada hari kiamat (ke hadapan Rabb), lalu dikatakan kepadanya: “Tampakkanlah kepadanya dosa-dosanya yang kecil dan hapuskan dosa-dosanya yang besar.” Lalu ditampakkanlah dosa-dosanya yang kecil. Lalu dikatakan kepadanya: “Kamu telah melakukan demikian, demikian, dan demikian. Dan kamu telah melakukan demikian, demikian, dan demikian pada suatu hari.” Lalu dia menjawab: “Ya.”

Dia tidak bisa mengingkari, dan dia meminta belas kasihan dari dosa-dosa besarnya untuk diungkapkan atasnya. Lalu dikatakan kepadanya: “Sesungguhnya kamu mendapatkan tempat kejelekan menjadi kebaikan.” Lalu dia berkata: “Wahai Rabbku, sungguh aku telah melakukan sesuatu yang mana aku tidak melihatnya dalam catatan ‘amal di sini.

Perawi berkata: “Sungguh aku telah melihat Rasūlullāh tertawa hingga terlihat gigi gerahamnya”. Dan telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair telah menceritakan kepada kami Abū Mu‘āwiyah dan Wakī‘ (dalam riwayat lain disebutkan) Dan telah menceritakan kepada kami Abū Bakar bin Abī Syaibah telah menceritakan kepada kami Wakī‘. (dalam riwayat lain disebutkan) Dan telah menceritakan kepada kami Abū Kuraib telah menceritakan kepada kami Abū Mu‘āwiyah keduanya meriwayatkan dari al-A’masy dengan isnad ini.”

Derajat: Ijma‘ ‘Ulamā’: Shaḥīḥ.

Pembanding: SB: 6086, 6957; ST: 2521; MA: 20517.

صحيح مسلم ٢٧٨: حَدَّثَنِيْ عُبَيْدُ اللهِ بْنُ سَعِيْدٍ وَ إِسْحَاقُ بْنُ مَنْصُوْرٍ كِلَاهُمَا عَنْ رَوْحٍ قَالَ عُبَيْدُ اللهِ حَدَّثَنَا رَوْحُ بْنُ عُبَادَةَ الْقَيْسِيُّ حَدَّثَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ قَالَ أَخْبَرَنِيْ أَبُو الزُّبَيْرِ أَنَّهُ سَمِعَ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللهِ. يُسْأَلُ عَنِ الْوُرُوْدِ فَقَالَ نَجِيْءُ نَحْنُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَنْ كَذَا وَ كَذَا انْظُرْ أَيْ ذلِكَ فَوْقَ النَّاسِ قَالَ فَتُدْعَى الْأُمَمُ بِأَوْثَانِهَا وَ مَا كَانَتْ تَعْبُدُ الْأَوَّلُ فَالْأَوَّلُ ثُمَّ يَأْتِينَا رَبُّنَا بَعْدَ ذلِكَ فَيَقُوْلُ مَنْ تَنْظُرُوْنَ فَيَقُوْلُوْنَ نَنْظُرُ رَبَّنَا فَيَقُوْلُ أَنَا رَبُّكُمْ فَيَقُوْلُوْنَ حَتَّى نَنْظُرَ إِلَيْكَ فَيَتَجَلَّى لَهُمْ يَضْحَكُ قَالَ فَيَنْطَلِقُ بِهِمْ وَ يَتَّبِعُوْنَهُ وَ يُعْطَى كُلُّ إِنْسَانٍ مِنْهُمْ مُنَافِقٍ أَوْ مُؤْمِنٍ نُوْرًا ثُمَّ يَتَّبِعُوْنَهُ وَ عَلَى جِسْرِ جَهَنَّمَ كَلَالِيْبُ وَ حَسَكٌ تَأْخُذُ مَنْ شَاءَ اللهُ ثُمَّ يُطْفَأُ نُوْرُ الْمُنَافِقِيْنَ ثُمَّ يَنْجُو الْمُؤْمِنُوْنَ فَتَنْجُوْ أَوَّلُ زُمْرَةٍ وُجُوْهُهُمْ كَالْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ سَبْعُوْنَ أَلْفًا لَا يُحَاسَبُوْنَ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ كَأَضْوَإِ نَجْمٍ فِي السَّمَاءِ ثُمَّ كَذلِكَ ثُمَّ تَحِلُّ الشَّفَاعَةُ وَ يَشْفَعُوْنَ حَتَّى يَخْرُجَ مِنَ النَّارِ مَنْ قَالَ لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَ كَانَ فِيْ قَلْبِهِ مِنَ الْخَيْرِ مَا يَزِنُ شَعِيْرَةً فَيُجْعَلُوْنَ بِفِنَاءِ الْجَنَّةِ وَ يَجْعَلُ أَهْلُ الْجَنَّةِ يَرُشُّوْنَ عَلَيْهِمُ الْمَاءَ حَتَّى يَنْبُتُوْا نَبَاتَ الشَّيْءِ فِي السَّيْلِ وَ يَذْهَبُ حُرَاقُهُ ثُمَّ يَسْأَلُ حَتَّى تُجْعَلَ لَهُ الدُّنْيَا وَ عَشَرَةُ أَمْثَالِهَا مَعَهَا.

Shaḥīḥ Muslim 278: Telah menceritakan kepadaku ‘Ubaidullāh bin Sa‘īd dan Isḥāq bin Manshūr keduanya meriwayatkan dari Rauḥ ‘Ubaidullāh berkata: Telah menceritakan kepada kami Rauḥ bin ‘Ubādah al-Qaisī telah menceritakan kepada kami Ibnu Juraij dia berkata: Telah mengabarkan kepadaku Abū-z-Zubair bahwasanya dia mendengar Jābir bin ‘Abdullāh ditanya tentang kebangkitan di akhirat. Maka dia menjawab: “Kita dibangkitkan pada Hari Kiamat begini dan begini. Lihatlah! Apa itu di atas manusia? Lalu dipanggillah umat-umat dengan berhalanya, dan sesuatu yang mereka sembah dahulu, secara berturutan. Setelah itu, Rabb kita datang kepada kita lalu berfirman: “Siapakah yang kalian tunggu?” Maka mereka pun menjawab: “Kami menunggu Rabb kami.” Allah berfirman: “Akulah Rabb kamu”. Mereka berkata: “Sehingga kami melihat-Mu dulu”. Tampaklah pada mereka Rabb tertawa. Jābir melanjutkan: “Lalu Allah membawa mereka, dan mereka pun mengikuti-Nya. Setiap seorang di antara mereka baik munāfiq atau mu’min akan diberi Cahaya.

Kemudian mereka mengikuti cahaya tersebut melalui jembatan Neraka Jahannam. Di atasnya terdapat besi-besi pengait dan berduri yang merenggut siapa saja yang dikehendaki oleh Allah. Kemudian cahaya orang-orang munāfiq padam, sedangkan orang-orang mu’min selamat. Selamatlah rombongan pertama yang terpancar pada wajah mereka bagaikan bulan purnama sejumlah tujuh puluh ribu orang tanpa dihisab. Kemudian orang-orang berikutnya seperti terangnya bintang-bintang di langit, kemudian demikianlah seterusnya.

Kemudian syafā‘at diizinkan. Mereka pun meminta syafā‘at, sehingga mereka dapat keluar dari Neraka, yaitu orang yang mengucapkan: “Lā Ilāha Illā Allāh (Tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Allah)”, dan dahulu di hatinya terdapat kebaikan seberat biji gandum. Mereka akan ditempatkan di halaman Surga, lalu Ahli Surga akan memercikkan mereka dengan air sehingga daging mereka tumbuh bagaikan tumbuhnya sesuatu tumbuhan selepas banjir, dan hilanglah hangusnya. Kemudian dia (orang terakhir meminta), sehingga diberikan kepadanya dunia dan sepuluh kali lipatnya.”

Derajat: Ijma‘ ‘Ulamā’: Shaḥīḥ.

Pembanding: Tidak ada.