Hati Senang

الرِّوَايَةُ

AR-RIWĀYAT

Riwāyat artinya: Menceritakan, mengkhabarkan, cerita, khabaran.

Yang dimaksudkan ialah: “Khabaran yang berisi omongan, kelakuan atau lain-lain yang dikatakan dari shahabat (11) Nabi s.a.w. maupun khabaran itu benar atau teranggap tidak benar dari shahabat tersebut”.

Khabaran yang menurut pemeriksaan, tidak benar atau belum tentu betul datangnya dari shahabat Nabi s.a.w., dikatakan Riwāyat Dha‘īf.

Contoh yang “Shaḥīḥ”:

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: كُنْتُ أُرَجِّلُ رَأْسَ رَسُوْلِ اللهِ (ص) وَ أَنَا حَائِضٌ. (البخاري)

Artinya: Dari ‘Ā’isyah, ia berkata: “Aku pernah menyisir (rambut) Rasūlullāh s.a.w., padahal aku sedang haidh.” (Bukhārī). (22)

Khabaran ini, kita namakan Riwāyat, karena ia mengandung perjalanan seorang shahabat (istri) Nabi s.a.w., yaitu: ‘Ā’isyah.

Riwāyat ini, menurut pemeriksaan, benar dari ‘Ā’isyah, karena orang-orang yang menceritakannya sehingga tercatat dalam kitab Bukhārī, semua orang-orang kepercayaan, tidak ada di antara mereka seorang pun yang tercela.

Contoh yang “Dha‘īf”:

عَنْ أَبِي الرَّبِيْعِ قَالَ: كُنْتُ مَعَ ابْنِ عُمَرَ فِيْ جَنَازَةٍ فَسَمِعْتُ صَوْتَ إِنْسَانٍ يَصِيْحُ فَبَعَثَ إِلَيْهِ فَأَسْكَتَهُ. قُلْتُ: يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمنِ، لِمَ أَسْكَتَّهُ؟ قَالَ: إِنَّهُ يَتَأَذَّى بِهِ الْمَيِّتُ حَتَّى يُدْخِلَ قَبْرَهُ. (أحمد).

Artinya: Dari Abir-Rabī‘ ia berkata: “Aku pernah hadir bersama Ibnu ‘Umar pada satu jenazah, lalu aku dengar suara orang berteriak”. Maka Ibnu ‘Umar mengutus orang kepadanya. Ia suruh diam orang itu. Aku bertanya kepada Ibnu ‘Umar: “Ya Abā ‘Abd-ir-Raḥmān! Mengapakah engkau suruh orang itu diam?” Ia menjawab: “Sesungguhnya dengan teriakan itu, si maiyit berasa sakit, hingga dimasukkan dia ke dalam quburnya.” (Aḥmad). (33).

Yang tersebut ini, kita namakan Riwāyat, karena ada cerita atau pembicaraan yang dikatakan dari seorang shahabat Nabi s.a.w., yaitu Ibnu ‘Umar.

Tetapi Riwāyat ini lemah, dha‘īf, tidak benar datangnya dari Ibnu ‘Umar, sebab di antara orang-orang yang menceritakannya, ada seorang yang ceritanya tidak diterima oleh ‘Ulama’-‘ulama’, namanya Abū Syu‘bah ath-Thaḥḥān. (44)

Sungguhpun demikian, tetap khabaran itu disebut Riwāyat, tetapi Riwāyat Dha‘īf.

Catatan:


  1. 1). Sering juga, Hadits Nabi disebut Riwāyat. 
  2. 2). Lihat “Shaḥīḥ Bukhārī”, Bāb-ul-Libās. 
  3. 3). Lihat Majma‘-uz-Zawā’id 3: 16. 
  4. 4). Lihat Lisān-ul-Mīzān 6: 394. 

Bagikan:

الْحَدِيْثُ

AL-ḤADĪTS

Ḥadīts artinya: yang baru, khabaran.

Ḥadīts dalam istilah ahli Ḥadīts, ditujukan kepada: “khabaran yang berisi ucapan, perbuatan, kelakuan, sifat atau kebenaran, yang orang katakan dari Nabi s.a.w., maupun khabaran itu sah dari Nabi s.a.w. atau tidak.”

Ḥadīts disebut juga: “Sunnah”, “Khabar”, dan “Atsar”.

Tetapi acapkali, yang mengandung sabda Rasūlullāh s.a.w. saja yang dikatakan Ḥadīts.

Ḥadīts yang menurut pemeriksaan, benar datangnya dari Nabi s.a.w., ‘ulama namakan “Shaḥīḥ” atau “Sah”.

Ḥadīts yang menurut pemeriksaan, tidak betul atau belum nyata benarnya dari Nabi s.a.w., ‘ulama sebut “Dha‘īf” atau “Lemah”.

Contoh yang “Shaḥīḥ”:

قَالَ النَّبِيُّ (ص): تَجِدُ مِنْ شَرِّ النَّاسِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عِنْدَ اللهِ ذَا الْوَجْهَيْنِ الَّذِيْ يَأْتِيْ هؤُلَاءِ بِوَجْهٍ وَ هؤُلَاءِ بِوَجْهٍ. (البخاري)

Artinya: Telah bersabda Nabi s.a.w.: “Engkau akan dapati sejahat-jahat manusia pada hari Qiyāmat di sisi Allah, ialah orang bermuka dua, yaitu orang yang datang kepada satu golongan dengan satu muka, dan kepada golongan lain dengan satu muka (lain).” (Bukhārī) (11).

Ḥadīts ini, kita katakan “Shaḥīḥ” atau benar ucapan Rasūlullāh s.a.w., karena orang-orang yang menceritakannya semua kepercayaan, tidak ada yang tercela.

Contoh yang “Dha‘īf”:

عَنْ جَابِرٍ عَنِ النَّبِيِّ (ص) قَالَ: لَا يَقْرَإِ الْحَائِضُ وَ لَا النُّفَسَاءُ مِنَ الْقُرْآنِ شَيْئًا. (الدارقطني)

Artinya: Dari Jābir, dari Nabi s.a.w., Beliau bersabda: “Tidak boleh perempuan yang berhaidh, dan tidak boleh (juga) perempuan yang bernifas (22), membaca satupun Ayat dari Qur’ān. (Dāraquthnī) (33).

Khabaran ini, kita namakan Ḥadīts, karena ada ucapan yang disandarkan kepada Nabi.

Ḥadīts ini, sesudah diperiksa, terdapat “Dha‘īf” atau “Lemah”, yakni bukan sabda Nabi, karena di antara orang-orang yang membawa omongan tersebut ada seorang tukang cerita yang oleh ‘ulama’ Ḥadīts dianggap suka memalsu Ḥadīts, namanya: Muḥammad bin al-Fadhl. (44).

Jelasnya: Dalam Ilmu Ḥadīts, tetap khabaran tersebut boleh dinamakan Ḥadīts, walaupun lemah.

Jadi, yang sebenarnya lemah itu, bukan sabda Rasūlullāh s.a.w., tetapi sabda yang orang katakan dari Nabi kita, padahal tidak dari Nabi s.a.w., atau belum tentu timbulnya dari Junjungan kita.

Catatan:


  1. 1). Shaḥīḥ Bukhārī 4: 37. 
  2.  2). Bernifas: Baru habis melahirkan anak. 
  3.  3). Lihat Nail-ul-Authār 1: 198, Dāraquthnī 43. 
  4.  4). Lihat Tahdzīb-ut-Tahdzīb 9: 401. 

Bagikan:

ILMU ḤADĪTS

Ilmu Ḥadīts itu, ialah: Satu Ilmu yang dengannya dapat diketahui betul tidaknya ucapan, perbuatan, keadaan atau lain-lainnya, yang orang katakan dari Nabi Muḥammad s.a.w.

 

NAMA-NAMA ILMU ḤADĪTS

Ilmu Ḥadīts, adalah salah satu dari Ilmu-ilmu Agama kita.

Di dalamnya ada beberapa bagian dan cabang sebagaimana yang akan ternyata dari pasal-pasal yang akan saya terangkan. Maka sebagian daripada bagian-bagian dan cabang-cabang itu, teranggap sebagai satu pokok yang tersendiri.

Oleh karena itu, timbullah beberapa nama bagi Ilmu Ḥadīts, di antaranya:

1. Ilmu Mushthalaḥ Ḥadīts.

Mushthalah ma‘nanya: Kebiasaan yang terpakai dalam satu-satu ilmu.

Maksud nama tersebut: Ilmu yang menerangkan kebiasaan-kebiasaan yang terpakai bagi Ḥadīts-ḥadīts.

2. Ilmu Isnād

Isnad artinya: Menyandarkan.

Maksudnya: Ilmu yang membicarakan Ḥadīts-ḥadīts yang disandarkan kepada Nabi s.a.w.

3. Ilmu Riwāyat-il-Ḥadīts.

Maksudnya: Ilmu meriwayatkan atau menceritakan Ḥadīts-ḥadīts.

4. Ilmu Dirāyat-il-Ḥadīts

Dirayah ma‘nanya: Mengetahui.

Maksudnya: Ilmu untuk mengetahui bagaimana kedudukan Ḥadīts-ḥadīts.

5. Ilmu Atsar.

Karena perkataan “atsar” itu ma‘nanya: Ḥadīts, maka Ilm-ul-Atsar, ialah Ilmu Ḥadīts.

6. Ilmu Mushthalaḥ Ahl-il-Atsar.

Maksudnya: Ilmu yang memperbincangkan kebiasaan-kebiasaan yang dipakai oleh ahli Ḥadīts.

 

PENGATUR ILMU ḤADĪTS

Yang mula-mula menyusun atau mengatur Ilmu Ḥadīts itu, ialah:

Al-Qādhī Abū Muḥammad ar-Rāma-Hurmuzy, seorang alim negeri Khuzustān (Persi); wafat tahun 260 Ḥijriyyah. (11).

Nama lengkapnya: Abū Muḥammad Ḥasan bin ‘Abd-ir-Raḥmān bin Khallād ar-Rāma-Hurmuzy.

 

BAGIAN ILMU ḤADĪTS

Ilmu Ḥadīts itu, terbagi dua:

Pertama: Ilmu Ḥadīts Dirāyatan.

Kedua: Ilmu Ḥadīts Riwāyatan.

 

Ilmu Ḥadīts Dirāyatan

Dirāyatan artinya: Mengetahui. Maksudnya: Ilmu Ḥadīts tentang mengetahui, yakni, satu ilmu mempunyai beberapa qā’idah (patokan), yang dengan qā’idah-qā’idah itu dapat diketahui:

a. hal sanad (jalan Ḥadīts dari pencatatnya sampai kepada Nabi s.a.w.), yakni sah atau tidaknya, tinggi martabatnya atau tidaknya; (22)

b. hal matan (lafazh-lafazh Ḥadīts), yakni sah atau tidaknya, dari Nabi s.a.w. atau bukan;

c. cara tukang cerita menerima dari seseorang;

d. cara tukang cerita menyampaikan apa-apa yang ia telah dengar;

e. sifat-sifat tukang cerita, yakni adakah ia seorang yang boleh dipercaya atau tidak.

f. dan lain-lain yang berhubung dengan itu, yang mana kebanyakannya akan tersebut di pasal “Macam-macam” dari kitab ini.

Ilmu untuk mengetahui apa yang tersebut itulah yang biasa dinamakan: Ilmu Mushthalaḥ Ḥadīts.

 

Ilmu Ḥadīts Riwāyatan

Artinya Ilmu Ḥadīts tentang meriwayatkan, yaitu, satu Ilmu yang mengandung pembicaraan tentang mengkhabarkan sabda-sabda Nabi s.a.w., perbuatan-perbuatan Beliau, hal-hal yang Beliau benarkan, atau sifat-sifat Beliau sendiri. (33)

Ringkasnya: Ilmu Ḥadīts Dirāyatan itu untuk menetapkan sah atau tidaknya sesuatu yang orang katakan dari Nabi s.a.w., sedang Ilmu Ḥadīts Riwāyatan, ialah menceritakan apa yang sudah kita tetapkan dari jalan Dirāyatan tadi.

Catatan:


  1. 1). Lihat kitab “Ma‘rifat ‘Ulūm-il-Ḥadīts”. 
  2.  2). Lihat “Minhat-ul-Mugīts.” 
  3.  3). Ibid

Bagikan:

MUQADDIMAH

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

Qur’an, sebuah kitab Agama yang diturunkan oleh Allah s.w.t. untuk seluruh ummat manusia yang ada dalam alam ini, merupakan sebuah kitab yang bersifat sumber hukum bagi setiap Mu’min dan Muslim, yang dengannya si Mu’min dan Muslim itu hendak hidup dan mati.

Dengan dia setiap Muslim dapat mencapai hidup bahagia yang sempurna di dunia untuk bekal akhiratnya kelak. Dan dengan dia pula setiap Muslim menentukan jalan hidupnya yang berlainan dari yang lain, demi untuk mencapai keridhaan Allah s.w.t., semata-mata.

Jalan dan cara untuk mencapai mardhatillah tersebut, serta perinciannya, telah diunjukkan, diterangkan dan dijelaskan oleh Pembawa Qur’ān tersebut, yaitu Nabi Muhammad s.a.w.

Penjelasan dan penerangan Nabi s.a.w. itu, ada kalanya digambarkan dalam perbuatan Beliau, ada kalanya diutarakan dalam sabda-sabdanya dan terkadang berbentuk pengakuan Beliau terhadap sahabat-sahabatnya. Semua ini, diistilahkan dengan Ḥadīts Nabi s.a.w.

Untuk mengetahui mana sebenarnya Ḥadīts yang dari Nabi s.a.w., mana yang meragu-ragukan dan mana yang tidak benar atau dipalsukan orang, diadakanlah oleh ‘ulama’-‘ulama’ semacam ilmu dengan nama Ilmu Ḥadīts.

Ilmu ini, tertulis dalam bahasa ‘Arab. Orang dapat menyalinnya ke dalam bahasa Indonesia atau lainnya, tetapi untuk mengamalkannya (= mempraktekkannya) sedikit-banyak perlu ada pengertian bahasa ‘Arab.

Kitab Ilmu Ḥadīts ini, mudah-mudahan dapat menolong pembaca yang berminat, ke jurusan tersebut.

Dalam kitab ini, saya bentangkan tidak kurang dari 144 macam yang berhubung dengan Ilmu Ḥadīts. Macam-macam ini saya bagi dalam 10 pokok, yaitu:

  1. Pasal Ḥadīts Shaḥīḥ.
  2. Pasal Ḥadīts Ḥasan.
  3. Pasal Ḥadīts Dha‘īf.
  4. Pasal Ḥadīts yang dapat dimasukkan dalam bagian Shaḥīḥ dan Ḥasan
  5. Pasal Ḥadīts yang dapat dimasukkan dalam bagian Shaḥīḥ, Ḥasan dan Dha‘īf.
  6. Pasal Isnād atau sanad.
  7. Pasal Matan.
  8. Pasal Rāwī.
  9. Nama-nama Imām dan Ahli Ḥadīts yang masyhur-masyhur.
  10. Pasal al-Jarḥu wat-Ta‘dīl, yaitu pasal untuk mengenal seseorang Rāwī itu tercela atau tidak.

Masing-masing pasal itu mengandung beberapa banyak pembicaraan yang berhubungan dengannya.

Sesudah itu, saya adakan beberapa macam fihrasat (= isi kitab) untuk memudahkan pembaca.

Segala tegur-sapa akan saya sambut dengan senang.

Kepada Allah-lah saya memohon, mudah-mudahan kita diberinya taufiq dalam sesuatu yang akan mendatangkan kebaikan.

 

Was-Salam,

Abdul-Qadir Hassan.

Bangil, 1944/1966.

Bagikan:

Lewat ke baris perkakas